Anda di halaman 1dari 3

A.

PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia tampaknya ingin meniru kebijakan Pemerintah Singapura dalam mengerek
tarif pajak untuk properti yang tergolong mewah. Bedanya, Singapura menaikkan tarif pajak rumah
mewah untuk meredam spekulasi dan lonjakan harga rumah yang sangat tinggi. Sementara, Pemerintah
Indonesia memperketat pajak penghasilan (PPh) pasal 22 terkait properti yang tergolong mewah demi
menggenjot penerimaan pajak.
Tahun ini pemerintah menargetkan penerimaan perpajakan sebesar Rp 1.143,3 triliun. Untuk
mencapai target itu, pemerintah berencana merivisi berbagai regulasi perpajakan salah satunya ialah
aturan PPh Pasal 22 tentang penjualan barang yang tergolong mewah, sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 253 Tahun 2008. Pemerintah berencana memperluas batasan rumah
yang tergolong sangat mewah yaitu rumah beserta tanah dengan harga jual Rp 2 milyar atau luasnya
400m2. Sebelumnya rumah yang tergolong sangat mewah adalah rumah beserta tanah dengan harga jual
di atas Rp 10 milyar dan luas bangunan lebih dari 500m2.
Perubahan batasan juga akan diberlakukan untuk apartemen ataupun kondominium yang tergolong
sangat mewah. Sebelumnya, dalam PMK 253 Tahun 2008, apartemen yang terkena PPh Pasal 22 adalah
apartemen dengan harga jual Rp 10 milyar atau luas bangunan lebih dari 400m 2. Nantinya, penjualan
apartemen dengan harga jual di atas Rp 2 milyar atau luas bangunan di atas 150m 2 akan termasuk dalam
kelompok barang yang sangat mewah dan terkena PPh Pasal 22.
Pemerintah melalui Direktur Peraturan Perpajakan I Direktorat Jenderal Pajak, Irawan, dalam
wawancaranya kepada Media KONTAN mengatakan bahwa potensi penerimaan pajak dari revisi aturan
pajak ini mencapai Rp 4 triliun. Pemerintah juga mengklaim, revisi aturan mengenai PPh Pasal 22 untuk
rumah dan apartemen yang tergolong barang sangat mewah tidak akan membebani konsumen.
Penyebabnya, setoran PPh Pasal 22 secara otomatis akan mengurangi PPh terutang dalam SPT Tahunan
wajib pajak. Aturan ini dibuat lebih untuk melihat profil dan kepatuhan wajib pajak.
Lalu bagaimana dampak revisi aturan ini terhadap perkembangan bisnis properti di Indonesia? Revisi
aturan ini tentunya akan memberatkan konsumen yang ingin membeli rumah atau apartemen dengan
harga di atas Rp 2 milyar karena konsumen harus menyediakan dana yang lebih besar. Paper ini akan
membahas mengenai pendapat yang mendukung dan menolak revisi aturan ini serta dampak yang timbul
jika revisi aturannya terlaksana baik bagi penerimaan pajak maupun pertumbuhan bisnis properti di
Indonesia. Dalam paper ini juga penulis akan memberi saran terkait alternatif dasar pengenaan PPh Pasal
22 selain harga jual tanah dan bangunan yang digunakan pemerintah saat ini.
B. PEMBAHASAN
1. Perkembangan Bisnis Properti di Indonesia

2. Urgensi Revisi PMK 253 Tahun 2008 (Alasan mendukung, alasan menolak, dampak revisi bagi
penerimaan dan industri properti)
3. Alternatif Dasar Pengenaan PPh Pasal 22 atas Rumah dan Apartemen
Pengenaan PPh Pasal 22 atas barang yang tergolong sangat mewah mulai berlaku pada tahun 2008.
Salah satu barang yang termasuk dalam kategori barang sangat mewah adalah rumah beserta tanahnya
dengan harga jual atau harga pengalihannya lebih dari Rp10 milyar dan luas bangunan lebih dari 500m 2.
Saat ini, berdasarkan PMK 253 tahun 2008, pengenaan PPh Pasal 22 atas rumah yang termasuk
barang yang sangat mewah didasarkan pada nilai jual bangunan beserta tanah yaitu di atas Rp 10 milyar
dan akan direvisi batasannya menjadi di atas Rp 2 milyar. Dasar pengenaan pajak berupa harga jual total
bangunan beserta tanah ini menurut pendapat penulis kurang tepat dan tidak sesuai dengan asas keadilan
(equality) dalam pengenaan pajak.
Kebijakan menggunakan batasan harga jual total tidak tepat karena harga jual rumah ataupun
apartemen di tiap daerah di Indonesia berbeda-beda. Sebagai contoh saja, rumah dengan harga Rp 2
milyar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat atau Pondok Indah, Jakarta Selatan tentunya akan berbeda baik
dari segi luas bangunan maupun kemewahannya dibandingkan rumah di kawasan Jonggol, Jawa Barat.
Rumah senilai Rp 2 milyar di kawasan Pondok Indah Jakarta hanya berupa rumah dengan ukuran kurang
dari 100m2 dan merupakan rumah yang biasa saja. Sementara rumah dengan harga yang sama di kawasan
Jonggol Jawa Barat tentunya sudah sangat besar dan mewah. Hal ini terjadi karena pertumbuhan harga
properti di tiap daerah berbeda-beda, tentunya Jakarta sebagai pusat bisnis dan pemerintahan mengalami
pertumbuhan harga properti yang sangat pesat, dibandingkan pertumbuhan harga properti di Jonggol Jawa
Barat. Sehingga harga rumah atau apartemen senilai Rp 2 milyar di Jakarta sudah tidak termasuk kategori
barang yang sangat mewah.
Perbedaan pertumbuhan harga properti di tiap daerah yang berbeda-beda ini juga berimplikasi pada
perbedaan konsumen rumah seharga Rp 2 milyar atau lebih di Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia.
Konsumen rumah atau apartemen seharga Rp 2 milyar merupakan masyarakat menengah biasa dengan
kemampuan ekonomi menengah tetapi terpaksa membeli rumah tersebut karena harga rumah atau
apartemen yang melambung tinggi. Rumah yang dapat dibeli juga dengan ukuran kurang dari 100m 2 dan
rumah tersebut tidak semewah rumah dengan harga yang sama di daerah lainnya. Tentunya konsumen
rumah atau apartemen seharga Rp 2 milyar di daerah lainnya, seperti Medan merupakan masyarakat
dengan kemampuan ekonomi atas. Dengan kebijakan yang berlaku saat ini, yaitu pengenaan PPh Pasal 22
berdasarkan harga jual total tentunya akan mengakibatkan beban pajak yang tidak sebanding antar wajib
pajak atau konsumen, padahal pajak penghasilan harus dibebankan berdasarkan asas kemampuan
membayar (ability to pay) dan keadilan (equality).

Penulis menyarankan dalam revisi PMK 253 tahun 2008 nanti pemerintah mengubah dasar
pengenaan pajak menjadi harga jual per m 2 bangunan beserta tanahnya dan dibuat berbeda-beda
berdasarkan wilayah. Pembedaan batasan harga per m 2 berdasarkan wilayah ini akan lebih tepat melihat
asas keadilan dan kemampuan membayar wajib pajak sehingga tujuan pengenaan PPh Pasal 22 atas
barang yang sangat mewah ini tepat sasaran yaitu mengenakan pajak kepada masyarakat sesuai dengan
kemampuannya membayar pajak tersebut. Konsep pembedaan harga per m 2 bangunan beserta tanahnya
berdasarkan wilayah dapat mengacu pada mekanisme penentuan harga NJOP tanah dan bangunan untuk
pengenaan PBB. Dengan demikian diharapkan pengenaan PPh Pasal 22 ini sesuai dengan kondisi di
lapangan, tidak menyamaratakan beban pajak terhadap semua wajib pajak yang berbeda-beda
kemampuan membayarnya.
C. PENUTUP