Anda di halaman 1dari 3

Nama : Ilham Khaqiqi Oktaviawan

Prodi : Pendidikan Teknik Bangunan offering B


NIM : 110521428533

1. Teori Behaviorisme
Implikasi teori ini dalam pembelajaran tergantung tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran,
karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.Teori ini sangat sesuai untuk
pengetahuan yang bersifat obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Dalam hal ini pengetahuan telah
terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar
Menurut teori behaviorisme apa saja yang diberikan guru (stimulus) dan apa saja yang dihasilkan
siswa (respons) semua harus bisa diamati, diukur, dan tidak boleh hanya implisit (tersirat). Faktor lain
yang juga penting adalah faktor penguat (reinforcement). Penguat adalah apa saja yang dapat
memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambah (positive reinforcement) maka respons akan
semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) responspun akan tetap
dikuatkan.. Misalnya bila seorang anak bertambah giat belajar apabila uang sakunya ditambah maka
penambahan uang saku ini disebut sebagai positive reinforcement. Sebaliknya jika uang saku anak itu
dikurangi dan pengurangan ini membuat ia makin giat belajar, maka pengurangan ini disebut negative
reinforcement.
Konsep evaluasi pendidikan sudah sangat jelas dalam teori ini yaitu melalui pengukuran, pengamatan.
Sebab seseorang dikatakan belajar bila telah mengalami perubahan perilaku. Akan tetapi perlu
diketahui bahwa tidak semua hasil belajar bisa diamati dan diukur, paling tidak dalam tempo seketika.
Semua aspek materi juga tidak bisa diukur dengan teori ini. Evaluasi dilakukan untuk menilai hasil
akhir dari penggunaan teori ini yaitu perubahan perilaku.
2. Teori Kognitivisme
Teori kognitivisme dalam kegiatan pembelajaran lebih memusatkan perhatian kepada cara
berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Selain itu, peran siswa sangat
diharapkan untuk berinisiatif dan terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar. Teori ini juga
memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan per- kembangan. Oleh karena itu
guru harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu
individu ke dalam bentuk kelompok kelompok kecil siswa daripada aktivitas dalam bentuk klasikal.
Teori ini juga mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran
gagasan gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak
dapat diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimulasi.
Implikasi dalam konsep evaluasi bahwa evaluasi dilakukan selama proses belajar bukan hanya semata
dinilai dari hasil belajar. Jadi, teori ini menitikberatkan pada proses daripada hasil yang dicapai oleh
siswa.
Bagi para penganut aliran kognitifisme, pembelajaran dipandang sebagai upaya memberikan
bantuan kepada siswa untuk memperoleh informasi atau pengetahuan baru melalui proses discovery
dan internalisasi. Agar discovery dan internalisasi dapat berlangsung secara benar maka perlu
diperhatikan beberapa prinsip pembelajaran yang perlu sebagai berikut:

Setiap siswa perlu dimotivasi oleh guru agar merasa bahwa belajar merupakan suatu
kebutuhan, dan bukan sebaliknya sebagai beban

Pembelajaran hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkrit ke hal-hal yang abstrak.

Setiap usaha mengkonseptualisasikan matari pembelajaran hendaknya diatur sedemikian rupa


sehingga memudahkan siswa belajar.

Pembelajaran hendaknya dirancang sesuai dengan pengalaman belajar siswa dengan


memperhatikan tahap-tahap perkembangannya.

Materi pelajaran hendaknya dirancang dengan memperhatikan sequencing penyajian secara


logis.
3. Teori Konstruktivisme
Konstruktivisme berpandangan bahwa belajar merupakan proses yang aktif dan konstruktif. Siswa
sebagai pembagun informasi. Manusia aktif membangun pemahaman subjektifnya dari kenyataan
yang objektif. Informasi baru dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya, sehingga
pemahamannya bersifat subjektif.
1) Dalam hal ini guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk
mengidentifikasi, mengeksplorasi, membandingkan, menggeneralisasi, dan mencari tahu
dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan sehimgga siswa
dituntut mampu untuk membuat solusi dari masalah mereka sendiri berdasarkan pengalaman
yang mereka alami.
2) Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya, tidak melalui
pemberitahuan oleh guru.
Praktek dan kebijakan pembelajaran yang akan mampu untuk mendukung teori pembelajaran
konstruktivisme ini:
1) Kurikulumpenghapusan kurikulum yang distandarkan. Sebaiknya kurikulum disesuaikan
dengan pengetahuan awal siswa dan menekankan kepada hands-on problem solving.
2) Pengajaranguru menekankan pada pembuatan hubungan antara kenyataan dan pemahaman
baru (making connections between facts and fostering new understanding). Guru mendorong
siswa untuk menganalisa, menginterpretasi, dan memprediksi informasi. Guru menanyakan
sesuatu yang jawabannya bisa panjang lebar (open-ended questions) dan merangsang dialog
antar siswa.
3) Penilaian/Assessmentmenyarankan untuk mengesampingkan penilaian dengan angka
(grades) dan ujian terstandar. Diharapkan, assessment merupakan bagian dari proses belajar
sehingga siswa bisa ambil bagian dlam menilai dirinya sendiri.
Konstruktivisme meletakkan pembelajaran sebagai proses sosial dan pengetahuan sebagai sesuai
yang eksternal dimana proses beajar terjadi melalai interaksi sosial dan pengetahuan dibentuk
melalaui interaksi sosial.

4. Teori Humanisme
Kepercayaan bahwa belajar merupakan tindakan individu untuk memenui kebutuhan dirinya
sesuai dengan potensinya. Sistem pembelajaran ini berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai
fasilitator. Kebutuhan mental/sikap dan otak (berfikir) sangat penting dan perlu lingkungan yang
mendukung. Tujuan utama dari humanisme dapat dijelaskan sebagai pengembangan aktualisasi
otonomi diri