Anda di halaman 1dari 3

Aktivitas Air (AW)

Aktivitas air sangat dipengaruhi oleh kelembaban relatif (Hall, 1980). Aktivitas air
merupakan jumlah air didalam bahan yang tersedia untuk pertumbuhan mikroba (Winarno,
1991). Aktivitas air yang tinggi berdampak pada semakin meningkatnya jumlah mikroorganisme
yang tumbuh pada bahan selama penyimpanan. Aktivitas air diatas 0,8, laju kerusakan
mikrobiologis kimiawi dan enzimatik berjalan dengan cepat (Alamsyah, 2004)
Aktivitas air bahan pakan meningkat seiring dengan lama penyimpanan. Penambahan
zeolit pada jagung dapat menghambat peningkatan aktivitas ai). Peningkatan suhu juga
berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas air pada kadar air yang sama, juga meningkatkan
laju reaksi kerusakan yang terjadi (Yusawisana, 2002).
Alamsyah, A.T. 2004. Perubahan Bilangan Peroksida Tepung Tulang Kaki Ayam Broiler
Selama Penyimpanan Dalam Bahan Pengemas Yang Berbeda. Skripsi, Program Studi Teknologi
Hasil Ternak. Fakultas Peternakan. Institu Pertanian Bogor. Bogor.
Daftar pustaka:
Hall, C. W. 1980. Drying. Handling and Storage of food Grain in Tropical and Subtropical Areas.
FAO. Rome.
Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi Edisi Kelima. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Yusawisana, S. 2002. Uji Kerusakan Lemak Ransum Ayam Broiler yang Menggunakan CPO
(Crude Palm Oil) dengan Penambahan Antioksidan Alami Bawang Putih (Allium sativum)
Selama Penyimpanan. Skripsi. Program Studi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas
Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Water Activity (Aw)
Water Activity (Aw) merupakan ukuran air biologis dalam produk bahan makanan dan
bahan pakan yang mampu mendukung pertumbuhan mikroba (Divakaran, 2003). Water Activity
memberikan data stabilitas mikroba suatu produk yang disimpan. Air murni mempunyai Aw
sama dengan satu dan produk-produk yang mengandung air mempunyai Aw berkisar antara 0.2
sampai 0.99 (DRINC, 2003).
DRINC. 2003. Water activity in food. Dairy Research
http://www.drinc.ucdavis.edu/html/water activity in Food.html

and

Information

Center.

Air berfungsi sebagai media glutein dengan karbohidrat, larutan garam dan
membentuk sifat kenyal glutein. Air yang digunakan sebaiknya memiliki pH 6 9, makin
tinggi pH air maka adonan yang dihasilkan baik karena absorbsi air meningkat dengan
meningkatnya pH. Selain pH, air yang digunakan harus air yang memenuhi persyaratan
sebagai air minum, diantaranya tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa (Effendi,
H. 2003).

Kadar air mempunyai pengaruh terhadap hampir semua karakteristik bahan baku seperti bentuk,
tekstur, warna dan rasa. Kadar air dalam jumlah yang bervariasi dapat menjadi suatu masalah
bagi bahan baku. Kadar air bahan baku yang tinggi dapat mendukung pertumbuhhan jamur yang
menghasilkan beberapa jenis mixotoksin, sehingga dapat mempengaruhi lama penyimpanan.
Hubungan antara kadar air, suhu, dan lama penyimpanan butiran-butiran dapat dilihat pada tabel.
Makin tinggi kadar air bahan baku, makin berkurang daya tahan baku terhadap kerusakan.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Aktivasi air pada bahan pakan:
Secara umum, bahan baku yang akan dinyatakanbaik secara fisik apabila apabila memenuhi
bebrapa criteria, antara lainkering (kadar air <12% sampai 14%), bebas kutu atau insekta lain,
tidakpecah atau rusak (utuh), bau atau rasa sesuai, penampilan luar tetap tidak berubah, dan tidak
terdapat atau sedikit dijumpai bahan pemalsu. Beberapabahan pemalsu yang paling sering
digunakan adalah dedak padi halus,ekskreta ayam dan urea (bahan pemalsu yang mengandung
nutrien) danserbuk gergaji, tepung arang, pasir halus, dan batu bata giling (bahan pemalsu yang
tidak mengandung nutrien (Agus, 2007).
Dedak padi
Dedak padi merupakan komponen sampingan padi yang berasal dari pemisahan endosperma
beras pada proses penggilingan padi. Dedak padi sebagai produk samping dari penggilingan padi
dapat digunakan sebagai pakan ternak dan potensial digunakan untuk komposisi makanan dan
sumber minyak (Mc Caskill dan Zhang, 1999). Oleh karena itu, harus stabil produksinya
terutama kandungan lipase, enzim yang menghidrolisis dengan cepat lemak/minyak dalam
bentuk FFA dan gliserol yang dapat menurunkan kualitas dedak padi secara drastis (Enochain et.
al, 1981). Kestabilan dedak padi dapat dilakukan dengan cara penonaktifan enzim melalui
perlakuan panas seperti ekstruksi atau pemanasan menggunakan mikrowave (Randall et. al,
1985;Sayre et. al, 1985;Ramezanzadeh et. al, 2000). Penelitian yang dilaporkan Lakkakula et. al
(2003) menyatakan bahwa penyimpanan dedak padi yang sebelumnya dilakukan pemanasan
ohmik (pemanasan secara elektrik) dapat menurunkan kadar FFA cukup tinggi sedangkan dengan
pemanasan mikrowave kadar FFA menurun lebih tinggi dalam hal ini juga dipengaruhi oleh
kadar air pada awal perlakuan. Penyimpanan dilakukan dengan waktu yang sama antara kedua
perlakuan sedangkan kestabilan dedak padi dapat terlihat setelah suhu mencapai 1000C.
Untuk pakan olahan berupa pellet aneka bentuk mulai dari yang besar, sedang dan
kecil memiliki kadar air antara 11,0-14,7%.

Semakin tinggi kadar sekam pada dedak padi akan mempengaruhi kandungan nutrisi
terutama pada meningkatnya kadar abu dan serat kasar dan akan menurunkan kadar protein kasar
dan lemak kasar, sedangkan pada kadar air tidak ada perubahan yang signifikan.Dedak padi yang
dapat diterima sebagai bahan pakan sesuai dengan persyaratan minimal SNI adalah dedak padi
dengan kisaran campuran sekam antara 15-20%.