Anda di halaman 1dari 18

Kompetensi, Independensi,

Motivasi dan Kualitas Audit


APIP
Oleh :
1. Herman
2. Eka Susilawati
3. Ardian Kalbuadi
4. Marlina

Kompetensi Audit APIP


Berdasar pada arti estimologi kompetensi diartikan
sebagai
kemampuan
yang
dibutuhkan
untuk
melakukan atau melaksanakan pekerjaan yang
dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap
kerja.
Kompetensi
auditor
adalah
kualifikasi
yang
dibutuhkan oleh auditor untuk melaksanakan audit
dengan benar. Untuk memperoleh kompetensi
tersebut, dibutuhkan pendidikan dan pelatihan bagi
auditor yang dikenal dengan nama pendidikan
professional berkelanjutan (continuing professional
education).

Beberapa Komponen dalam Kompetensi Auditor :

1.Mutu personal,
2.Pengetahuan umum, dan
3.Keahlian khusus.

Pernyataan standar umum pertama


dalam SPKN adalah: Pemeriksa
secara kolektif harus memiliki
kecakapan profesional yang memadai
untuk melaksanakan tugas
pemeriksaan.

Dengan Pernyataan Standar Pemeriksaan ini


semua organisasi pemeriksa bertanggung
jawab untuk memastikan bahwa setiap
pemeriksaan
dilaksanakan
oleh
para
pemeriksa yang secara kolektif memiliki
pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang
dibutuhkan
untuk
melaksanakan
tugas
tersebut.
Oleh
karena
itu,
organisasi
pemeriksa
harus
memiliki
prosedur
rekrutmen, pengangkatan, pengembangan
berkelanjutan, dan evaluasi atas pemeriksa
untuk membantu organisasi pemeriksa dalam
mempertahankan pemeriksa yang memiliki
kompetensi yang memadai.

Dalam lampiran 2 SPKN disebutkan bahwa:


Pemeriksa yang ditugasi untuk melaksanakan
pemeriksaan menurut Standar Pemeriksaan harus
secara kolektif memiliki: Pengetahuan tentang
Standar Pemeriksaan yang dapat diterapkan
terhadap jenis pemeriksaan yang ditugaskan serta
memiliki latar belakang pendidikan, keahlian dan
pengalaman
untuk
menerapkan
pengetahuan
tersebut dalam pemeriksaan yang dilaksanakan;
Pengetahuan umum tentang lingkungan entitas,
program, dan kegiatan yang diperiksa (obyek
pemeriksaan) (paragraf 10) dan
Pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan
keuangan harus memiliki keahlian di bidang
akuntansi dan auditing, serta memahami prinsip
akuntansi yang berlaku umum yang berkaitan
dengan entitas yang diperiksa (paragraf 11).

Independensi Audit APIP


Independensi adalah keadaan bebas dari
pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain,
tidak tergantung pada orang lain (Mulyadi
dan Puradireja, 2002: 26).
Dalam SPAP (IAI, 2001: 220.1) auditor
diharuskan bersikap independen, artinya
tidak
mudah
dipengaruhi,
karena
ia
melaksanakan
pekerjaannya
untuk
kepentingan umum (dibedakan di dalam hal
ia berpraktik sebagai auditor intern).

Pernyataan standar umum kedua dalam SPKN


adalah:
Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan
pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa
harus bebas dalam sikap mental dan penampilan
dari gangguan pribadi, ekstern, dan organisasi yang
dapat mempengaruhi independensinya.
Dengan pernyataan standar umum kedua ini,
organisasi pemeriksa dan para pemeriksanya
bertanggung jawab untuk dapat mempertahankan
independensinya
sedemikian
rupa,
sehingga
pendapat,
simpulan,
pertimbangan
atau
rekomendasi
dari
hasil
pemeriksaan
yang
dilaksanakan tidak memihak dan dipandang tidak
memihak oleh pihak manapun.

Dalam lampiran 2 SPKN disebutkan bahwa:

Gangguan pribadi yang disebabkan


oleh suatu hubungan dan pandangan
pribadi
mungkin
mengakibatkan
pemeriksa membatasi lingkup pertanyaan
dan pengungkapan atau melemahkan
temuan
dalam
segala
bentuknya.
Pemeriksa bertanggung jawab untuk
memberitahukan kepada pejabat yang
berwenang
dalam
organisasi
pemeriksanya apabila memiliki gangguan
pribadi terhadap independensi. Gangguan
pribadi dari pemeriksa secara individu
meliputi antara lain:

a. Memiliki hubungan pertalian darah ke atas,


ke bawah, atau semenda sampai dengan
derajat kedua dengan jajaran manajemen
entitas atau program yang diperiksa atau
sebagai pegawai dari entitas yang diperiksa,
dalam posisi yang dapat memberikan
pengaruh langsung dan signifikan terhadap
entitas atau program yang diperiksa.
b. Memiliki kepentingan keuangan baik secara
langsung maupun tidak langsung pada entitas
atau program yang diperiksa.
c. Pernah bekerja atau memberikan jasa kepada
entitas atau program yang diperiksa dalam
kurun waktu dua tahun terakhir.

d. Mempunyai hubungan kerjasama dengan

entitas atau program yang diperiksa.


e. Terlibat baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam kegiatan obyek
pemeriksaan, seperti memberikan asistensi,
jasa konsultasi, pengembangan sistem,
menyusun dan/atau mereviu laporan
keuangan entitas atau program yang
diperiksa.
f. Adanya prasangka terhadap perorangan,
kelompok, organisasi atau tujuan suatu
program, yang dapat membuat pelaksanaan
pemeriksaan menjadi berat sebelah

Terdapat tiga aspek independensi seorang


auditor, yaitu sebagai berikut :
(1) Independence in fact (independensi dalam
fakta)
Artinya auditor harus mempunyai kejujuran yang
tinggi, keterkaitan yang erat dengan objektivitas.
(2) Independence in appearance (independensi
dalam penampilan)
Artinya pandangan pihak lain terhadap diri auditor
sehubungan dengan pelaksanaan audit.
(3)Independence in competence (independensi
dari sudut keahliannya)
Independensi dari sudut pandang keahlian terkait
erat dengan kecakapan profesional auditor.

Motivasi Audit APIP


Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang
menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan
untuk mencapai tujuan tertentu.
Kualitas audit akan tinggi apabila keinginan dan
kebutuhan auditor yang menjadikan motivasi kerjanya
dapat terpenuhi. Kompensasi dari organisasi berupa
penghargaan (reward) sesuai profesinya, akan
menimbulkan kualitas audit karena mereka merasa
bahwa organisasi telah memperhatikan kebutuhan dan
pengharapan kerja mereka. Dengan demikian, apabila
seseorang atau auditor mempunyai kompetensi,
independensi
dan
akuntanbilitas
maka
akan
mengarahkan atau menimbulkan motivasi secara
profesional dengan adanya motivasi yang tinggi maka
akan menambah kualitas audit.

Sebagaimana dikatakan oleh Goleman


(2001), hanya motivasi yang akan membuat
seseorang mempunyai semangat juang yang
tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi
standar yang ada. Dengan kata lain,
motivasi akan mendorong seseorang,
termasuk auditor, untuk berprestasi,
komitmen terhadap kelompok serta memiliki
inisiatif dan optimisme yang tinggi. Respon
atau tindak lanjut yang tidak tepat terhadap
laporan audit dan rekomendasi yang
dihasilkan akan dapat menurunkan motivasi
aparat untuk menjaga kualitas audit.

Kualitas Audit APIP


Kualitas auditor adalah kemampuan profesional
individu auditor dalam melakukan pekerjaannya.
De Angelo (1981) dalam Nizarul dkk (2007)
mendefinisikan kualitas audit sebagai probabilitas
bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan
pelanggaran pada sistem akuntansi klien.
Adapun kemampuan untuk menemukan salah
saji yang material dalam laporan keuangan
perusahaan tergantung dari kompetensi auditor
sedangkan kemauan untuk melaporkan temuan
salah
saji
tersebut
tergantung
pada
independensinya.

Kompetensi, Independensi, dan Motivasi


secara
bersama-sama
berpengaruh
terhadap kualitas audit adalah signifikan.
Hal ini menunjukkan bahwa naik
turunnya kualitas audit dipengaruhi oleh
tingkat kompetensi, independensi, dan
motivasi yang dimiliki oleh auditor.
Kemampuan dan keterampilan yang
ditunjang dengan pengalaman yang
dimiliki auditor merupakan dasar yang
dibutuhkan seorang auditor dalam proses
audit.

Kesimpulan
:
Kompetensi auditor

adalah kualifikasi yang


dibutuhkan oleh auditor untuk melaksanakan
audit dengan benar (Rai, 2008). Dalam
melakukan audit, seorang auditor harus memiliki
mutu personal yang baik, pengetahuan yang
memadai, serta keahlian khusus di bidangnya.
Kompetensi
berkaitan
dengan
keahlian
profesional yang dimiliki oleh auditor sebagai
hasil dari pendidikan formal, ujian profesional
maupun
keikutsertaan
dalam
pelatihan,
seminar, simposium (Suraida, 2005). Jadi
Kompetensi
berpengaruh
positif
terhadap
kualitas audit.

Auditor yang independen adalah auditor yang


tidak memihak atau tidak dapat diduga memihak,
sehingga
tidak
merugikan
pihak
manapun
(Pusdiklatwas BPKP, 2005). Dalam Arens dkk.
(2004)
menyatakan
nilai
auditing
sangat
bergantung
pada
persepsi
publik
akan
independensi yang dimiliki auditor. Independensi
juga berpengaruh positif terhadap kualitas Audit.
Motivasi dalam pengauditan merupakan derajat
seberapa besar dorongan yang dimiliki auditor
untuk melaksanakan audit secara berkualitas.
Motivasi berpengaruh positif terhadap kualitas
audit, sehingga semakin baik tingkat motivasi,
maka akan semakin baik kualitas audit yang
dilakukannya.

Terimakasih