Anda di halaman 1dari 2

SEMUA AGAMA ITU BENAR

Dengan demikian semua hakikat atau tujuan agama itu sama untuk melalukan sesuatu hal
yang lebih baik, walaupun berbeda dari penampilan, tetapi secara keseluruhan bangunan agama
itu nampak sama atau serupa, banyak yang beranggapan bahwa tiap agama itu berbeda dan
beranggap agama kita yang paling benar. Tetapi seharusnya terjadi adalah menerima peredaan
agama yang ada sehingga kita dapat hidup rukan dengan sesama kita
Mantan Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina, punya persepsi berbeda mengenai
agama. Sedangkan MSA lebih menekankan pandangan mengenai perbedaan agama-agama atau
pluralitas agama-agama sebagai premis paham pluralisme agama. Sementara BMR sebaliknya; ia
menganut paham pluralisme berdasarkan pandangan bahwa semua agama itu sama-sama baik
dan benar.
Pertama, pernyataan bahwa semua agama itu baik dan benar perlu dijelaskan dengan
keterangan bagi para pemeluknya. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa setiap pemeluk agama
akan berkeyakinan bahwa agama merekalah yang paling baik dan benar. Konsili Vatikan
mengakui bahwa keselamatan itu juga terdapat (bisa melalui) agama-agama lain, sebagai
pandangan baru atau qaul jadid. Bahkan secara khusus, Vatikan sangat menghargai iman Islam.
Namun tetap boleh saja dilakukan klaim bahwa agama tertentulah yang benar, tetapi bagi
pemeluknya masing-masing.
Kedua, kebenaran dan keselamatan (salvation) agama itu ada dua macam. Yang satu
kebenaran eksklusif, yang lain kebenaran inklusif. Kebenaran eksklusif adalah kebenaran
tertentu yang hanya diyakini dalam agama tertentu. Misalnya mengenai doktrin Trinitas Umat
Islam tidak mungkin menerima doktrin itu, namun doktrin itu bersifat fundamental bagi umat
Kristen. Sedangkan ajaran cinta kasih dalam agama Kristen adalah kebenaran inklusif yang bisa
diterima oleh pemeluk semua agama.
Ketiga, semua agama itu sama, dalam arti semua agama itu, dalam perspektif masingmasing, pada hakikatnya merupakan jalan menuju kebenaran dan kebajikan. Tidak ada agama
yang mengajarkan kesalahan atau keburukan dan kejahatan. Namun memang, substansi dari
kebenaran dan kebaikan itu berbeda dari satu agama ke agama yang lain.
Keempat, setiap agama mengandung kebenaran, bukan saja bagi pemeluk agama yang
bersangkutan, tetapi juga bisa dilihat begitu oleh pemeluk agama lain. Sebagai contoh, umat
Islam atau Kristen bisa memetik kebenaran dari Kitab Baghawatgita atau buku-buku Taoisme
dan Konfusianisme. Itulah sebabnya Raja Penyair Pujangga Baru, yang juga dianggap sebagai
seorang penyair sufi
Kelima, terdapat kesamaan antara agama-agama. Misalnya ajaran the Ten
Commantments atau Sepuluh Perintah Tuhan dari agama Yahudi, dapat ditemui juga pada agamaagama lain. Ajaran puasa juga dapat ditemui pada agama-agama lain, walau tidak semua

pemeluk agama bisa melestarikan tradisi itu pada zaman modern ini. Namun para pemeluk
agama lain bisa menganggap bahwa ajaran puasa itu adalah suatu ajaran yang benar, karena
tujuannya adalah mendidik kemampuan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu (takwa).
Keenam, semua agama itu pada lahir atau detailnya, atau pada tingkat syariat memang
bervariasi, karena pada tingkat itu sudah berperan pemikiran dan perumusan manusia yang
dipengaruhi oleh kondisi dan sejarah. Namun pada tingkat yang lebih tinggi (tarekat dan
makrifat) akan dijumpai persamaan-persamaan dan akhirnya mencapai titik temu pada tingkat
trensenden (hakikat). Ini adalah teori yang disebut transcendent unityyang dikembangkan baik
oleh teolog Kristen
Ketujuh, semua agama dipandang sama dan benar dimaksudkan sebagai pandangan yang
harus diambil oleh negara atau pemerintah. Sebab, negara yang harus bersikap adil terhadap
setiap individu dan kelompok, tidak boleh berpandangan bahwa hanya suatu agama saja yang
baik dan benar, sedangkan yang lain salah. Inilah sebenarnya salah satu unsur dari sekularisme
yang dianut dalam sebuah negara yang demokraris, termasuk di Indonesia.
Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa semua agama itu pada hakikatnya
sama, dan hanya penampilannya saja yang berbeda-beda. Tapi secara keseluruhan, bangunan
agama itu nampak sama atau serupa, atau dapat diabsraksikan menjadi sesuatu yang sama.
Misalnya, Swidler bisa merumuskan bahwa semua agama itu terdiri dari empat aspek yang
disebut 4C, yaitu creed (akidah), cult (peribadatan), code (pedoman perilaku atau akhlak),
dan community structure (struktur kemasyarakatan).