Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum KI2241

Energetika kimia
Percobaan B-2
Kelarutan Sebagai Fungsi Suhu
Nama

: Ranis Sinar Ruminten

NIM

: 10513084

Kelompok / Shift

: 09 / kamis pagi

Tanggal Praktikum

: 12 Maret 2015

Tanggal Pengumpulan : 19 Maret 2015


Asisten

: Berlian F (10511081)
Fareka K (20513308)

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

I.

Judul

Kelarutan sebagai fungsi suhu


II.

Tujuan
Menentukan kelarutan sampel di berbagai suhu dan menentukan
entalpi/ kalor perlarutan differensial

III.

Teori Dasar
Kelarutan dimaksudkan sebagai seberapa banyak dalam bentuk
massa suatu zat menyatu dengan pelarut yang bergantung pada
suhunya. Kondisi jenuh dapat terjadi pada saat reaksi berada pada
kesetimbangan
solute undissolved solute dissolved
Selama tempreatur konstan, konsentrasi zat terlarut pada
larutannya akan sama. Namun jika tempreatur berubah maka
kelarutan akan berubah dan akan bergantung pada kesetimbangan.
Untuk menganalisis bagaimana tempreatur mempengaruhi
kelarutan suatu zat, kita dapat gunakan prinsip Le Chateliers.
Prinsip Le Chateliers mengatakan bahwa kesetimbangan sistem
dapat diganggu dengan merubah komposisi suatu zat. Ketika pada
kesetimbangan reaktan dikurangi jumlahnya maka reaksi akan
mengarap pada reaktan, begitu juga sebaliknya. Untuk menaikkan
tempreatur dari suatu larutan maka larutan tersebut harus
diberikan energy. Ketika zat terlarut dilarutkan dalam pelarut,
sistem tersebut pasti melepaskan energy atau menerima energy
yang berbentuk kalor. Sehingga dari sana pula kita dapat
mengetahui apakah reaksi tersebut endoterm atau eksoterm
dengan menghitung kalor pelarutan differensial dari larutan
tersebut. Kalor pelarutan diferensial adalah kalor yang dilepaskan
atau diserap ketika satu mol zat dilarutkan dalam tak hingga pelarut
sehingga penambahan 1 mol terlarut tidak akan lagi mempengaruhi
konsentrasinya. Untuk mencari kalor pelarutan differensial, dapat
digunakan persamaan berikut
M (Tf ) Hds Tf Ti
log
=
x
M (Ti) 2.303 R Tf x Ti
Adapun faktor dalam kelarutan suatu zat yaitu suhu, pada
umumnya kelarutan suatu zat padat akan semakin besar seiring
dengan kenaikan suhu, namun pada gas, kelarutan akan semakin
menurun seiring dengan kenaikan suhu pada kondisi tersebut.
Sebagai contoh ketika melarutkan gula dalam air panas, padatan
gula akan semakin larut seiring dengan suhu yang bertambah

IV.

tinggi, namun sebaliknya pada gas dengan dibuktikan oleh


banyaknya gelembung-gelembung gas saat memanaskan air
tersebut.
Data Pengamatan
Suhu ruang : 25,7 C
kg
air pada suhu 25,7 C = 997,8663
m3
Molaritas NaOH=0.4950 M
Mr oksalat = 90 g/mol

N
o

Suh
u
(C)

1
2
3
4

20
30
40
50

N
o
1
2
3
4
V.

Wpikn
Wpikno
Wpikn
o
+
o + air
koson
oksalat
(g)
g (g)
(g)
20.22
46.3
46.44
20.22
46.3
46.46
28.62
60.02
60.69
28.62
60.02
60.43

Suhu
larutan V
oksalat titrasi
(C)
1 (mL)
20
11.1
30
14.82
40
24
50
30.51

volume
V
titrasi
2 (mL)
10.3
15
24
31

V rata
rata
(mL)
10.7
14.91
24
30.755

Pengolahan Data
1. Penentuan volume piknometer

air pada suhu 25,7 C = 997,8663

Vpikno = Vair =
V pikno=

g
L

massa air
air

M pikno airM pikno kosong


air ( 25.7 C )

dari perhitungan diatas didapatkan data sebagai berikut

V
pikno
(L)
0.0261
1
20
36
0.0261
2
30
36
0.0314
3
40
67
0.0314
4
50
67

2. Penentuan
larutan oksalat
N
o

Suhu
(C)

oksalat x C=

massa oksalat x C
volume oksalat x C

oksalat x C=

m pikno oksalat x Cm pikno


V pikno

dari perhitungan diatas didapatkan tabel seperti berikut


N
o

Suhu
(C)

20

30

40

50

V
pikno
(L)
0.0261
36
0.0261
36
0.0314
67
0.0314
67

oksalat
xC
(g/L)
1003.2
23
1003.9
88
1019.1
58
1010.8
96

3. Penentuan konsentrasi larutan jenuh


A. Larutan jenuh oksalat
H2C2O4 + 2NaOH Na2C2O4 + 2H2O
Mol H2C2O4 = mol NaOH
VNaOH x [ NaOH ]
10 2 x VH 2 C 2O 4

[ H 2 C 2 O 4 ] std x C= 100

dari persamaan diatas didapatkan data


N
o

Suhu
(C)

20

30

40

50

V
pikno
(L)
0.0261
36
0.0261
36
0.0314
67
0.0314
67

konsentr
oksala
asi
t xC
oksalat
(g/L)
(M)
1003.2
23
1.0593
1003.9
88 1.47609
1019.1
58
2.376
1010.8 3.04474
96
5

B. Massa 100 mL larutan oksalat


massa oksalat =100 mL x larutan
dari persamaan diatas didapatkan tabel

N
o

Suhu
(C)

20

30

40

50

V pikno
(L)

oksalat
xC
(g/L)

0.0261
36
0.0261
36
0.0314
67
0.0314
67

1003.2
23
1003.9
88
1019.1
58
1010.8
96

C. Massa 90 mL air
L
1L
g/x
1000 mL
massa 90 mLair=90 mL x

Massa
100mL
larutan
(g)
oksalat
100.3222
94
100.3988
18
101.9158
35
101.0895
76

L
1L
1000 mL
massa 90 mL air=90 mL x 997,8663
g/ x

massa 90 mL air=89,80797 g

D. Massa 10mL larutan oksalat jenuh


massa 10 mL oksalat jenuh=massa100 mL oksalatmassa 90 mL air
dari persamaan diatas, didapatkan tabel

N
o

Suhu
(C)

20

30

40

50

Massa
100mL
larutan
(g)
oksala
t
100.32
23
100.39
88
101.91
58
101.08
96

massa
90 mL
air (g)

massa
10mL
larutan
oksalat
jenuh (g)

89.807
97
89.807
97
89.807
97
89.807
97

10.5143
274
10.5908
509
12.1078
682
11.2816
094

E. Massa asam oksalat dalam 10 mL lar.jenuh untuk larutan pada


suhu XC
10
massa H 2 C 2 O 4=
x [ H 2 C 2 O 4 ] std x Mr H 2C 2 O 4
1000
dari persamaan diatas,didapatkan tabel

N
o

Suhu
(C)

20

30

40

V
pikno
(L)
0.0261
36
0.0261
36
0.0314
67

konsentr
oksalat
asi
xC
oksalat
(g/L)
(M)
1003.2
23
1003.9
88
1019.1
58

massa
H2C2O4
dalam
10mL
lar.jenuh
(g)

2.64825
3.69022
5

0.9538

5.94

2.1393

1.3290

50

0.0314
67

1010.8
96

7.61186
25

2.7414

F. Massa pelarut dalam 10mL larutan jenuh


Massa pelarut dalam 10 mLlar . jenuh=DE
D=massa 10 mL lar . oksalat jenuh

E=massa oksalat dalam10 mL larutan jenuh


dari persamaan tersebut maka didapatkan tabel

N
o

Suhu
(C)

20

30

40

50

Massa
pelarut
dalam 10
mL lar
jenuh (g)
9.5605337
05
9.2617794
78
9.9685177
62
8.5401210
45

G. Molalitas (m)
10
1000
m=
x [ H 2C 2O 4 ] std x
100
massa pelarut
dari persamaan diatas, didapatkan tabel
N
o

Suhu
(C)

molalit
as

1
2
3
4

20
30
40
50

1.1079
1.5937
2.3835
3.5652

4. Penentuan Entalpi Pelarutan (Hps)


m(Tf )
Hs
Tf Ti
log
=
x
m(Ti) 2.303 R Tf x Ti
dari persamaan diatas,didapatkan tabel

N
o

Suhu
(C)

1 20-30

Tf Ti
Tf x Ti
0.000113

2 30-40

0.000105

3 40-50

9.89E-05

m(Tf )
J
Hs
m(Ti) 26837.720
mol K
0.15788 99
31741.395
0.17479 08
33850.784
0.17487 41
log

5. Grafik penentuan kalor pelarutan differensial


No

Suhu
(C)

20

30

40

50

1/T
(K)
0.0034
13
0.0033
0.0031
95
0.0030
96

log
molalit
as
0.0445
37
0.2024
18
0.3772
16
0.5520
87

dari data diatas,didapatkan grafik

grafik log molalitas terhadap 1/T


0.6
0.5
0.4

log molalitas

f(x) = - 1604.38x + 5.51


R = 1
log molalitas

0.3

Linear (log molalitas)

0.2
0.1
0
000000000

1/T

dari persamaan y = -1604.4x +5.51 didaparkan gradiennya


adalah -2268.3

y=mx +c
m=

Hds
2.303 R

Hds=2.303 x 8.314 x 1604.4

Hds=30719,6 J /mol K
Hds=30,7196 kJ /mol K

VI.

Pembahasan

VII.

Kesimpulan
Kelarutan sampel di berbagai suhu tercantum dalam tabel berikut
N
o

Suhu
(C)

1
20
2
30
3
40
4
50
Dan entalpi/ kalor
30,7196 kJ /mol K

molalit
as
1.1079
1.5937
2.3835
3.5652
perlarutan differensial oksalat adalah

VIII.

Daftar Pustaka
1. Lide. David R.CRC Handbook of Chemistry and Physics 85th ed.
P-989. National Institute of Standards and Technology. New York 2003.
2. Brady, James E. Chemistry 6th ed. P-555,593-594,712-714. John
Wiles and Sons. Asia 2012.
3. http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia_dasar/asam_dan_basa/faktor-faktoryang-mempengaruhi-kelarutan/ diakses tanggal 18 Maret 2015
pukul 11.18
4. https://www.scribd.com/doc/23305819/Praktikum-Kimia-FisikaKelarutan-Sebagai-Fungsi-Suhu diakses pada tanggal 18 Maret
2015 pukul 19.54

IX.

Lampiran
A. Jawaban pertanyaan
1. Pencuplikan untuk menentukan kelarutan di sini dilakukan dari
suhu tinggi ke suhu rendah. Bagaimana pendapat anda jika
pencuplikan itu dilakukan dengan arah berlawanan yaitu dari
suhu rendah ke suhu tinggi?
Ketika suhu dinaikkan maka kelarutan senyawa tersebut akan
semakin tinggi, bila kita mengambil dari suhu rendah ke tinggi
bisa jadi senyawa yang kita larutkan belum sepenuhnya

terlarutkan sehingga lebih baik mengambil sampel dari suhu


tinggi ke suhu rendah karena dapat dipastika kelarutannya
tepat sesuai dengan sifat masing-masing senyawa tersebut.
2. Dalam integrasi persamaan Vant Hoff diandaikan bahwa H
tidak bergantung pada suhu. Bagaimana bentuk
persamaannya bila kalor pelarutan merupakan fungsi kuadrat
dari suhu?
H= A +BT +C T 2 dengan A,B,C tetapan
Bentuk persamaannya akan berubah menjadi
Panas pelarutan diferensial dapat dihitung dengan menggunakan persamaaa

n berikut:
d lnmz Hdsmmz
=
1
R
d
T
Dengan menggunakan anggapan terssebut,harga Hds dapat
dihitung dari slope a n t a r a l n m s terhadap . Sedangkan kelarutan
asam oksalat dapat ditulis sebaaiu fungsi temperatur sebagai berikut
S=3,42+0,168 t +0,0048 t 2
Dari persamaan ini terlihat bahwa harga kelarutan asam oksalat
akan
semakin b e s a r s e i r i n g d e n g a n ke n a i k a n t e m p e r a t u r l a r u t a n .
B. Lampiran pustaka