Anda di halaman 1dari 25

KONSTELASI BISNIS MEDIA CETAK (KORAN) DI KOTA SEMARANG

Abstrak
Di tahun 2012 dan 2014 telah terbit lima koran lokal baru di Kota Semarang,
Jawa
Tengah,
diantaranya Tribun
Jateng, Harian
Semarang, Jateng
Pos, Barometer dan harian Rakyat Jateng. Kemunculan koran cetak lokal ini
bersamaan dengan berkembangnya pengguna internet di Indonesia dan Kota
Semarang. Di Amerika dan Eropa kenaikan pengguna internet ini menyababkan
turunnya tiras media cetak dan berkurangnya keuntungan perusahaan bahkan
beberapa harus gulung tikar. Lucy Kung et al (2008:18) menyatakan bahwa media
massa yang ingin bertahan perlu mengadopsi teknologi yang ada agar tidak keluar
dari bisnis (creative destruction). Selain itu, sebagai industri, media perlu
mengusahakan laba sebanyak-banyaknya dengan menarik pengiklan. Sementara
pengiklan akan mengutamakan efektifitas jangkauan (reach) dan efisiensi biaya iklan
dengan memperhatikan banyak sedikitnya audiens yang dimiliki suatu media massa
tersebut (Burton , 2008; Shimp, 2007). Alih alih mengambil potensi pasar pengguna
internet yang terus meningkat perusahaan media cetak tersebut di atas justru
menerbitkan koran lokal baru di Kota Semarang. Tujuan penelitian ini ingin
mengetahui apakah Kota Semarang sangat potensial sehingga menerbitkan koran
baru. Bagaimana peta persingan koran di Kota Semarang, media habit (kebiasan
mengkonsumsi media) masyarakat Kota Semarang dalam mengkonsumsi koran.
Penelitian ini dilakukan dengan metode studi kasus dengan teknik
pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, survey dan rekaman
arsip yang dilakukan pada pembeli koran-koran tersebut diatas, agen koran besar di
Kota Semarang, bagian pemasaran dari koran Tribun Jateng, Jateng Pos, Harian
Semarang, Rakyat Jateng dan Barometer serta data pendukung lainnya. Teori yang
digunakan sebagai landasan teoritis adalah konsep audiens media massa
dari Graeme Burton (2008), generasi digital natives dan digital immigrants dari
Prensky (2001), dan Teori Niche dari Dimmick (2003).
Hasil penelitian menunjukan bahwa Kota Semarang memiliki Niche Breath
yang luas sebagai lingkungan hidup koran lokal. Media baru bukan ancaman bagi
koran lokal di Kota Semarang dan keduanya dapat hidup saling berdampingan
(coexistence) bukan saling meniadakan. Audiens koran masih didominasi oleh lakilaki (95%) dengan jenis profesi yang lebih beragam tidak hanya kalangan terdidik
dan pekerja menengah atas tetapi juga kalangan blue collar dan pekerja menengah
ke bawah (60%). Harga murah menjadi pertimbangan utama audiens dalam
membeli koran. Pemberitaan politik tentang isu pemerintahan lokal dan nasional
menjadi tema besar yang paling disukai oleh audiens. Tingkat kepercayaan dan
loyalitas terhadap brand koran juga mempengaruhi audiens dalam memilih koran
yang ingin dibaca. Berdasarkan hasil penelitian, Tribun Jateng menjadi brand koran
yang paling banyak dijual di agen besar dan paling banyak dibeli oleh audiens.
Kata kunci : koran, audiens, Kota Semarang

PENDAHULUAN
Di tahun 2012 hingga 2014 telah terbit beberapa koran cetak lokal baru di Kota
Semarang, Jawa Tengah. Beberapa dari koran cetak lokal ini merupakan bagian
dari media group besar di lokal Jawa Tengah, maupun Nasional, seperti misalnya
koran cetak Tribun Jateng dari Kompas Gramedia Group yang terbit pertama kali 29
April 2013. Suara Merdeka Group (SMNetwork) sebagai media group terbesar di
Jawa

Tengah

juga

menerbitkan

koran

lokal

baru

dengan brand

Harian

Semarang yang diakuisis dari PT Semesta Media Pratama, tahun 2012. Jawa Pos
National Network (JPNN) juga menerbitkan koran cetak lokal Jateng Pos pada tahun
2013 dan koran politik Harian Rakyat Jateng, anak perusahaan dari Rakyat
Merdeka, pada tahun 2014. Di dalam harian ini disisipkan koran Meteor, yang
pernah terbit secara terpisah dari Jateng Pos. Selain koran cetak lokal dari media
group besar, terdapat

juga

koran

lokal

regional

yang

berdiri

sendiri

seperti Barometer yang terbit pertama kali di tahun 2013. Seperti yang tampak pada
tabel berikut ini.
Tabel 1.1 Koran Cetak Lokal Kota Semarang
Brand Koran

Pemilik

Tahun
Terbit

Harga
(Rp)

Harian
Semarang

Suara
Merdeka
(SMNetwork)

Group 2012

1.000

Tiras
(ekslempar
)
12.000

Jateng Pos

Jawa Pos National Network 2013


(JPNN)

2.500

25.000

Tribun Jateng

Kompas Gramedia Group

2013

1.000

63.000

Barometer
Rakyat Jateng

Barometer
Rakyat Merdeka

2013
2014

1.000
2.500

8.000
15.000

(Sumber
:
hariansemarangbanget.blogspot.com;
www.tribunjateng.com; www.jatengpos.co.id; manajemen: koran Barometer, Tribun
Jateng, Jateng Pos, Rakyat Jateng)

Dari tabel tersebut di atas diketahui bahwa tiga brand koran cetak lokal di Kota
Semarang, Harian Semarang, Jateng Pos dan Barometer, dijual dengan harga Rp.
1.000 (seribu rupiah). Oplah koran Barometer merupakan yang terkecil yaitu sebesar
8.000 (delapan ribu) ekslempar, dan yang terbanyak adalah Tribun Jateng dengan
63.000 ekslempar. Sementara JPNN mengeluarkan dua brand koran terbarunya
yaitu Jateng Pos ditahun 2013 dan Rakyat Jateng di tahun 2014. Keduanya memiliki
segmentasi yang berbeda, Jateng Pos ditujukan untuk kelompok audiens menengah
yang merupakan harian umum lokal daerah sementara harian Rakyat Jateng adalah
koran politik yang memposisikan diri sebagai koran referensi politik Jawa
Tengah. Pemasaran kelima produk tersebut berfokus di Kota Semarang dan
sekitarnya, serta beberapa daerah di Pantura dan Solo Raya. Sumber berita koran
cetak lokal tersebut juga didominasi oleh pemberitaan dari Kota Semarang.
Kemunculan kelima koran cetak lokal di Kota Semarang ini justru di saat
pengguna internet mengalami perkembangan yang pesat baik nasional maupun
internasional dan saat tren global media cetak beralih ke media online. Di Indonesia,
pengguna internet mengalami kenaikan secara signifikan dari 1998 (500.000 orang)
hingga 2012 (63 juta orang) (APJII 2012, BPS 2012). Data statistik terakhir tanggal
30 Juni 2012 juga menunjukkan Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai negara
dengan pengguna internet terbanyak di Asia versi Miniwatts Marketing Group (20012012) yang mencapai 63,000,000 dengan penetrasi 24 persen dari 260 juta populasi
(APJII 2012, BPS 2012). Sementara berdasarkan survey yang dilakukan
oleh MarkPlus Insight Agustus September 2013 di 10 kota besar di Indonesia
(Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Pekanbaru,
Denpasar, Banjarmasin dan Makassar) menunjukan bahwa jumlah pengguna
internet tumbuh signifikan hingga 22 persen dari 62 juta di tahun 2012 menjadi 74,57
juta di tahun 2013. Saat ini Indonesia juga memiliki 31,7 juta orang masyarakat
internet/netizen (orang yang mengakses internet lebih dari tiga jam perhari), naik
dari 24,2 juta tahun lalu (2012), yang berarti penetrasinya naik sebesar tiga persen.
Peningkatan pengguna internet ini juga berlaku secara internasional, terutama
di Amerika dan Eropa, hingga berakibat pada turunnya tiras media cetak dan
keuntungan perusahaan, bahkan beberapa harus menutup usahanya tersebut.
Salah satu contohnya adalah harian cetak tertua di Arizona, Amerika Serikat, Tucson

Citizen yang telah tutup dan beroperasi hanya secara online. Juni 2009, Tribune
Co menjadi

konglomerat

media

cetak

pertama

yang

menyatakan

diri

bangkrut. Gannett, penerbit koran terbesar di Amerika Serikat dan perusahaan induk
dari USA Today, memecat lebih dari enam ratus karyawannya di tahun yang
sama. The New York Times, bahkan telah melakukan pemecatan sejak tahun 2008,
memotong gaji hingga lima persen dan meminjam US$ 225 juta untuk meredakan
tekanan terhadap arus kas perusahaan. Selain itu, koran terbesar di San
Francisco, The San Francisco Chronicle, pada 2008 merugi hingga Rp. 600 miliar
(http://classically.wordpress. com/2010/02/24/167/).
Berdasarkan catatan Audit Bureau of Circulations, sirkulasi 507 harian di
Amerika Serikat anjlok 4,64 persen dalam enam bulan yang berakhir pada
September 2009. Gannett Co yang menerbitkan USA Today dan 84 surat kabar
lainnya, mengumumkan pemangkasan 1.000 tenaga kerja pada Agustus 2009.
Koran Wall Street Journal membuat daftar surat kabar besar yang kemungkinan
menutup edisi cetaknya dan hanya terbit dalam edisi online. The Philadelphia Daily
News, milik Philadelphia Newspapers LLC, dan The Minneapolis Star Tribune,
mengajukan

kebangkrutan

(http://jurnalis.wordpress.com

/2009/09/01/1408/).

Beberapa pihak dan ahli memprediksi fenomena ini disebabkan oleh beralihnya
pembaca media cetak ke media online.
Kemunculan fenomena tersebut di atas tentu berkaitan erat dengan
perkembangan teknologi. Teknologi baru (internet) mengembangkan media baru,
yaitu media yang menyalurkan pesan melalui media yang didistribusikan dengan
internet (Flew, 2005 : 83). Sisi lain dari konsep media baru adalah dalam
pemahaman tentang arti baru (new). Pengertian ini tidak dapat disederhanakan
sebagai suatu kebaruan dari penemuan atau pengembangan suatu teknologi belaka
tetapi bagaimana perubahan yang terjadi karena perkembangan teknologi ini,
membawa perubahan juga pada sisi-sisi lain kehidupan, seperti terkait penggunaan
teknologi,

kegiatan

dan

praktek

komunikasi

yang

dilakukan

yang

juga

mempengaruhi nilai-nilai sosial dan sistem pengorganisasiannya (Utari, 2011:51).


Perubahan perubahan tersebut tentu akan mempengaruhi media konvensional
seperti koran harian cetak. Perlu berbagai macam strategi, baik dalam hal bisnis,
manajemen, kreativitas dan bentuk isi media maupun komunikasi pemasarannya

agar dapat bertahan hidup. Berbagai ahli media massa merekomendasikan agar
media cetak turut berubah menggunakan bentuk digital dalam menampilkan
produknya maupun memberikan pelayanan kepada pengiklan atau pembacanya.
Lucy Kung et al (2008:18), menyatakan bahwa perkembangan teknologi akan
mempengaruhi industri media cetak secara langsung. Perkembangan teknologi ini
akan membawa dampak pada kompetisi dan perkembangan ekonomi yang diberi
label Creative Destruction . Creative Destruction adalah suatu istilah dimana
perusahaan media yang tidak mengadopsi teknologi baru akan keluar dari bisnis.
Berdasarkan

teori

ini,

media

yang

ingin

bertahan

dapat

memanfaatkan

perkembangan teknologi yang ada, baik memperbarui mesin dan teknologi yang
digunakan, atau bahkan memanfaatkan media baru (internet) untuk mendukung
media cetak utamannya. Beberapa industri media cetak mengembangkan diri
dengan membuat portal berita online, atau koran elektronik dalam bentuk pdf, atau
aplikasi lain untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang ada.
Konsep Creative Destruction banyak diaplikasikan dalam bisnis media cetak
dan industri cetak di Amerika dan negara maju lain seperti negara-negara Eropa.
Penggunaan teknologi yang sedang berkembang ini berkaitan dengan pandangan
bisnis media di masa depan. Sebagai sebuah industri, media cetak harus
memperhatikan tren pasar di masa datang agar dapat bertahan bahkan
berkembang, salah satunya melayani pangsa pasar terbesar atau pasar yang
sedang berkembang. John Dimmick dan Eric Rohtenbuhler mengenalkan konsep
Ekologi Media yang berlaku pada industri media massa. Seperti konsep pemikiran
Ekologi dalam Ilmu Biologi, Ekologi Media memandang bahwa media selayaknya
individu, perlu bertahan hidup dengan mencari audiens dan pengiklan (sumber
kehidupan), serta memenangkan kompetesi dengan media lain baik sejenis (sesama
media cetak) atau media jenis lain (online, elektronik dan lain sebagainya) dalam
suatu lingkungan tertentu (Budi, 2011 : 77). Dari konsep sederhana ini, ada baiknya
media massa cetak memanfaatkan teknologi internet bahkan beralih ke media online
untuk

mendapatkan

sumber

kehidupan

(audiens

dan

pengiklan)

serta

memenangkan kompetisi yang ada dengan media lain mengingat tren pengguna
internet terus berkembang.

Media massa juga perlu mengidentifikasi audiens yang potensial agar dapat
melihat kemungkinan- kemungkinan dan pasar yang dapat menguntungkan media
massa. Media sebagai sebuah industri mengusahakan untuk mendapatkan laba
sebesar-besarnya yang didapatkan dari pengiklan (Burton , 2008: 211-212). Menurut
Terence A Shimp (2007: 370-371) ada 6 hal yang perlu dipertimbangan pengiklan
dalam

memilih

media

beriklan

yaitu

jangkauan

(reach),

frekuensi, weight,

continuity, recency dan cost. Pengiklan juga perlu mempertimbangkan efektifitas dan
efisiensi penggunaan dana iklan. Jangkauan dan weight menjadi persyaratan yang
berkaitan erat dengan audiens. Jangkauan atau reach berkaitan dengan keharusan
iklan didengar atau dilihat oleh target audiens yang sudah ditargetkan oleh pengiklan
tersebut. Reach diartikan sebagai daya jangkau suatu media terhadap khalayak
sasaran. Daya jangkau ini dapat dinyatakan dalam angka mutlak (jumlah orang) atau
untuk

keperluan

penghitungan

duplikasi

dinyatakan

dalam

persen.

Sementara weight berkaitan dengan rating. Rating ini adalah opportunity to see atau
seberapa besar kesempatan untuk dilihat audiens jika iklan ditempatkan di suatu
media atau program acara tertentu.
Salah satu pemilihan media dan vehicle yang tepat dalam hal jangkauan
dan weight adalah memperhatikan banyak sedikitnya audiens yang dimiliki media
dan vehicle yang dipilih oleh pengiklan. Pemilihan media ini juga perlu
memperhatikan efektivitas jangkauan dan efisiensi dari segi budget yang dapat
diukur melalui CPM (cost per thousand miles) yaitu biaya yang dibayarkan untuk
menjangkau setiap 1000 audiens. CPM adalah suatu ukuran untuk melihat
perbandingan tingkat efisiensi antar media dan harga yang dibutuhkan untuk
menjangkau seribu pembaca/pemirsa. Dalam mengukur besar kecilnya CPM sangat
dipengaruhi oleh jumlah audiens yang mengakses media massa tersebut, semakin
besar jumlah audiensnya semakin efektif dan efisien jangkauannya.

Kemunculan beberapa koran lokal baru di Kota Semarang tahun 2012 dan
2013 ini, sangat mengejutkan terlebih tiga koran lokal baru tersebut dimiliki oleh grup
media (Kompas Gramedia, SMNetwork dan JPNN) yang telah memiliki media cetak
lain (Kompas, Jawa Pos dan Suara Merdeka) yang beredar di Kota Semarang. Di
saat audiens media internet terus mengalami peningkatan, alih- alih memanfaatkan

teknologi internet dengan menfokuskan diri membuat situs berita online atau koran
versi elektronik, grup ini justru membuat koran cetak baru. Sebagai industri, media
massa cetak, tentu membutuhkan pengiklan dan pembaca agar mendapatkan
keuntungan. Jumlah pembaca yang melimpah akan memudahkannya menjual ruang
di medianya kepada pengiklan. Apakah benar Kota Semarang menjadi wilayah yang
potensial untuk menerbitkan koran cetak lokal yang baru? Bagaimana peta
persaingan

koran

di

Kota

Semarang?

Bagaimana media

habit (kebiasan

mengkonsumsi media) masyarakat Kota Semarang dalam mengkonsumsi koran?


TINJAUAN TEORI/KONSEP
Teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep-konsep
tentang audiens media massa, konsep audiens era digital dan era tradisional untuk
mengetahui gambaran dan karaktersitik audiens serta Teori Niche yang digunakan
untuk menerangkan potensi Kota Semarang bagi industri media cetak (koran),
berikut penjabarannya.
Audiens Media Massa
Media memiliki dua konsumen sekaligus yang harus dilayani, yaitu pengiklan
dan audiens. Audiens didefiniskan Burton (2008, 210-213) sebagai semuanya, baik
yang mengkonsumsi media atau yang bekerja dan membuat isi media itu sendiri.
Audiens saat ini lebih besifat spesifik. Ada beberapa kategori yang bisa digunakan
untuk mengelompokan audiens ini, yaitu mendefinisikan audiens berdasarkan media
yang mereka konsumsi (majalah, rekaman, film dll; membagi audiens berdasarkan
pada suatu tipe produk tertentu yang dikonsumsi (film komedi, musik jazz dll); dan
yang ketiga menspesifikasikan audiens berdasarkan pada profile audiens dengan
membaginya berdasarkan demografi, psikografi, lifestyle dan lain sebagainya
(Burton, 2008: 210-213).
Dalam bisnis media audiens ini digunakan media sebagai layaknya sebuah
produk yang dijual kepada pemasang iklan. Para pemasang iklan saat ini tidak
hanya menginginkan sekadar kuantitas audiens saja, melainkan menginginkan tipe
audiens yang spesifik dan jelas. Pengiklan menginginkan pesan komersilnya

dikonsumsi audiens dalam jumlah besar sesuai dengan pasar mereka (Burton,
2008:217-218).
Pada era digital ini jenis audiens dibagi menjadi dua, Digital Native atau
disebut juga dengan Now Generation (Generasi Sekarang) atau Generasi Digital
dan Generasi Lama atau Generasi Tradisional (Digital Immigrant).
Digital Native VS Digital Immigrant
Generasi Digital

Natives (Now

Generation atau

Generasi

Digital) adalah

sebuah generasi yg tumbuh dengan teknologi baru di era dunia digital. Mereka
tinggal

dan

hidup

dikelilingi

oleh

perangkat

teknologi

canggih

seperti

komputer, video games, digital music players, video cams, telepon seluler, mainan
dan alat canggih lainnya dan menggunakananya dalam kehidupan seharihari. Digital Natives adalah native speaker dari perangkat digital dan generasi asli
pengguna digital yang sangat memahami komputer, video game dan internet.
Mereka lebih mengusahakan pemenuhan kebutuhan media yang cepat dan lebih
condong ke 'future' content yaitu isi dalam bentuk digital dan bersifat teknologi
(Prensky, 2001:1-3). Digital natives lebih condong menghindari penggunaan media
konvensional

yang

cenderung

kuno

dan

merepotkan. Digital

Natives juga

merupakan generasi manusia yang lahir setelah tahun 1980, dan akan terus
mengalami pertumbuhan pesat.
Sementara oposisinya adalah Digital Immigrants, (beberapa menyebutnya
sebagai generasi tradisional) dimana mereka tidak lahir di era digital tetapi perlu
mengadopsi dan menggunakan teknologi dalam kehidupannya. Seperti 'imigran'
mereka masih memiliki 'logat' asal mereka, dimana menggunakan internet bukan
sebagai sumber pertama melainkan kedua, atau lebih banyak membaca buku
manual sebuah program dibandingkan memilih belajar dari program itu sendiri.
Contoh lain logat asli mereka adalah, mencetak email, bahkan melakukan untuk
melakukan proses editing dengan mencetaknya dokumennya terlebih dahulu
dibandingkan edit dari layar. Generasi ini lebih memilih 'legacy' content yaitu isi
yang membutuhkan treatment seperti membaca dan menulis (Prensky, 2001:1-3).
Mereka inilah yang lebih banyak menjadi konsumen dari media cetak (koran).

Teori Niche
Teori Niche adalah sebuah teori yang dapat digunakan untuk melihat
seberapa besar potensi suatu lingkungan dalam menyediakan sumber-sumber
kehidupan bagi sebuah media. Teori Niche mengadapsi konsep dari ekologi-biologi
yang didesain untuk menjelaskan bagaimana unit (media) mengkonsumsi sumber
sumber yang sama dan menjalankan fungsi serupa dalam sebuah lingkungan yang
di dalamnya terdapat kompetisi dan hidup saling berdampingan (coexistence). Ada
tiga

konsep

penting

dalam

teori Niche ini

yaitu

(1) space (pasar

komunitas), (2) Niche-Breadth dan Niche Overlap, dan (3) competitive

dan

superiority.

Space adalah pasar dan komunitas. Albarran (1996) mendefinisikan pasar dalam
dua elemen yaitu produk media dan geografi. Di dalam space terdapat sumbersumber yang diperebutkan. Slobodchikoff and Schulz (1980) menyebutnya
dengan macrodimension dan microdimension. Ada enam aspek dalam dimensi
makro

yaitu gratifications

obtained,

gratification

opportunities,

pengeluaran

konsumen, waktu yang dihabiskan konsumen dalam mengkonsumsi media,


pembelanjaan iklan dan isi media. Sementara microdimension (dimensi mikro)
adalah

turunan

atau

bagian

yang

lebih

rinci

dari

masing-

masing macrodimension tersebut (Dimmick, 2003 : 32-33). Enam aspek tersebut


adalah poin-poin yang perlu dianalisis untuk mengetahui Niche Breadth dan Niche
Overlap sebagai indikasi sehat-nya sebuah lingkungan bagi suatu media.
Niche Breadth adalah ukuran dari seberapa banyak sumber-sumber yang
dibutuhkan suatu media untuk bertahan hidup. Niche Overlap mengukur hubungan
antara unit yang memiliki persamaan atau perbedaan dari pola pemanfaatan
sumber, bisa hidup berdampingan atau berkompetisi. Niche yang berbeda maka unit
dapat hidup berdampingan sementara kesamaan niche yang tinggi membuat
persaingan menjadi sengit (Dimmick, 2003 : 37-38). Sementara Competitive
Superiority ditujukan pada media yang paling besar memiliki kekuatan dalam
pemenuhan

kebutuhan

media

audien,

yang

dapat

menggantikan

atau

memusnahkan media lain dalam situasi yang kompetitif (Dimmick, 2003 : 3940). Dalam perseteruan antara koran dan media online, media online dianggap
sebagai Competitive Superiority yang dapat mengancam keberadaan koran (media
cetak).

METODE PENELITIAN
Tipe penelitian ini adalah deskriptif (thick deskriptif) kualitatif dengan metode
studi kasus. Paradigma yang digunakan adalah konstruktivisme. Jenis penelitian
deskriptif bertujuan membuat deskripsi secara sitematis, faktual dan akurat tentang
fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu. Riset ini menggambarkan
realitas yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antarvariabel (Kriyantono,
2006:69).
Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) metodologi penelitian kualitatif adalah
prosedur penelitian yang menghadirkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau
lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan
pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh
mengisolasikan ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya
sebagai bagian dari sesuatu keutuhan.
Metode penelitian kualitatif yang digunakan adalah studi kasus (study
case) dengan kasus tunggal. Robert K. Yin (2000:18) mendifinisikan studi kasus
sebagai suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks
kehidupan nyata, bilamana batas batas antara fenomena dan konteks tak tampak
dengan tegas, dan dimana multisumber bukti dimanfaatkan. Yin juga memberikan
batasan mengenai metode kasus sebagai riset yang menyelidiki fenomena di dalam
konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak
tampak dengan jelas, dan dimana multisumber bukti dimanfaatkan. Multisumber
bukti ini diperoleh dari penggunaan berbagai instrumen pengumpulan data.
Studi kasus memiliki ciri, partikularistik, yaitu studi kasus terfokus pada situasi,
peristiwa, program atau fenomena tertentu. Deskriptif, yaitu hasil akhir metode ini
adalah deskripsi detail dari topik yang diteliti. Heuristik, yaitu metode studi kasus
membantu khalayak memahami apa yang sedang diteliti, interpretasi baru,
perspektif baru, makna baru merupakan tujuan dari studi kasus. Induktif, yaitu studi
kasus berangkat dari fakta-fakta di lapangan, kemudian menyimpulkan ke dalam
tataran konsep atau teori (Kriyantono, 2006:67).

Studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu
penelitian berkenaan dengan how atau why, bila peneliti hanya memiliki sedikit
peluang untuk mengontrol peristiwa - peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana
fokus penelitiannya terletak pada fenomena kotenporer (masa kini) di dalam konteks
kehidupan nyata (Yin, 2006:1). Selain itu, keunikan dari kasus atau suatu fenomena
menjadi alasan yang mendasar dalam pemilihan studi kasus sebagai sebuah
pendekatan penelitian. Pada dasarnya penelitian ini mencari jawaban dari
pertanyaan bagaimana keadaan Kota Semarang sehingga menjadi pilihan banyak
industri

media cetak untuk menerbitkan korannya,

habit (kebiasan

mengkonsumsi

media)

masyarakat

bagaimana
Kota

pula media

Semarang

dalam

mengkonsumsi koran. Sementara keunikan kasus ini antara lain dapat dikatakan
bahwa Kota Semarang satu-satunya daerah dalam tiga tahun belakangan yang
muncul koran baru, dua diantaranya berasal dari kelompok industri media yang
sama. Padahal koran lain melakukan perbaikan dalam hal konten, harga dan lain
sebagainya untuk memenangkan persaingan dengan media baru atau sesama
media cetak di daerah.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam


dengan masyarakat Kota Semarang, agen dan penjual koran, serta pihak media dari
koran yang bersangkutan, observasi media agen penjual koran, dan melalui bukubuku serta artikel pendukung.
KONSTELASI BISNIS MEDIA CETAK (KORAN) DI KOTA SEMARANG
Hal-hal yang dijabarkan dalam penelitian ini antara lain menganalisis Kota
Semarang sebagai sebuah lingkungan koran daerah dengan menggunakan
Teori Niche dari Dimmmick (2003), mendeskripsikan peta persaingan kelima koran
daerah yang baru terbit dalam tiga tahun belakangan di Kota Semarang, serta
kebiasaan audiens di Kota Semarang terkait konsumsi koran lokal.
Analisis Potensi Kota Semarang sebagai Pasar Koran Daerah

Kota Semarang memiliki potensi yang besar untuk dijadikan pasar koran lokal.
Hal ini tampak dari Niche Breath yang luas di Kota Semarang dan Niche
Overlay yang saling berdampingan (Coesixtance) dengan media online, seperti yang
tampak pada penjabaran enam macrodimension yang dibandingkan antara media
online (diposisikan sebagai superior competitive) dan media cetak (koran).
Media online dan media cetak (koran) memberikan pemenuhan kebutuhan dan
keinginan yang berbeda sehingga gratifications obtained yang dimiliki masingmasing media juga berbeda. Koran memudahkan audiens untuk mengatahui apa
yang terjadi dan mengetahui pemberitaan utama dengan melihat agenda media.
Sementara melalui internet, audiens dapat dengan mudah memilih dan mencari
informasi

yang

dibutuhkan.

Berdasarkan

hal

itu,

masingmasing

media

memiliki gratification opportunities untuk memenuhi kepuasan dari jenis audien yang
berbeda pula. Media online yang menampilkan konten dalam versi digital dan
mengutamakan kecepatan yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja, interaktif
dan fleksibel (Sari,2011: 181-183) sangat sesuai dengan pengharapan, keinginan
dan kebutuhan generasi sekarang (now generation) atau digital native. Generasi ini
adalah sebuah generasi yg tumbuh dengan teknologi baru di era dunia digital.
Mereka adalah manusia yang lahir setelah tahun 1980 (dikelilingi alat-alat canggih
dengan teknologi tinggi), menginginkan informasi dengan cepat, menyukai proses
paralel dan multi-task dan memilih 'future' content yaitu isi dalam bentuk digital dan
bersifat teknologi (Prensky, 2001:1-3). Sementara sebaliknya, generasi terdahulu
(generasi

tradisional) yang

lebih

menyukai legacy

content,

isi

yang membutuhkan treatment tertentu seperti membaca dan menulis di atas kertas,
dan menggunakan internet sebagai sumber kedua (Prensky, 2001:1-3), akan lebih
memilih koran untuk memuaskannya, sehingga koran masih memiliki kesempatan
untuk memenuhi keinginan audien (gratification opportunities). Selain itu, koran juga
masih memiliki kesempatan yang tinggi untuk tumbuh dan berkembang karena
jumlah generasi tradisional ini sebesar 105.223.600 jiwa di tahun 2010 (Media
Scene, vol 22: 2010/2011) di seluruh Indonesia dan 745.132 atau setara dengan
47,7 persen dari total populasi Kota Semarang di tahun 2012 (BPS, 2012). Meskipun
jumlah ini lebih sedikit dari jumlah generasi sekarang (usia lebih muda dari 30
tahun), tetapi angka 47,7 persen dari populasi bukanlah angka yang sedikit untuk
dijadikan pangsa pasar sebuah media.

Macrodimension yang

selanjutnya

adalah

pengeluaran

masyarakat.

Pengeluaran ini dapat diketahui dengan melihat pendapatan dari masyarakat itu
sendiri, pendapatan yang rendah memungkinkan masyarakat memiliki keterbatasan
dalam pemenuhan kebutuhan. Besar pendapatan masyarakat Kota Semarang dapat
diketahui dengan melihat profesi pekerjaannya. Badan Pusat Statistik Semarang
data survey tahun 2012 menyatakan bahwa buruh industri adalah profesi terbanyak
yaitu 25,65 persen, PNS/ABRI (13,76 persen) di posisi ke dua, disusul dengan
pedagang dengan 12,51 persen, buruh bangunan di posisi keempat dengan
persentase 12,02 persen, pengusaha 7,72 persen, pensiunan 5,77 persen,
angkutan (supir) 3,71 persen, petani sendiri 3,95 persen, buruh tani 2,69 persen,
nelayan 0,39 persen dan profesi lain sebesar 11,87 persen. Dari data tersebut dapat
diketahui bahwa lebih dari 57 persen masyarakat Kota Semarang memiliki status
ekonomi sosial menengah ke bawah. Posisi ekonomi ini akan menyulitkan mereka
untuk mendapatkan akses internet, seperti misalnya keberatan dalam membayar
tagihan bulanan biaya internet, membeli gadged atau alat penunjang ber-internet
dan bahkan tempat tinggal mereka yang tidak di pusat kota menyulitkan mereka
mendapatkan akses jaringan internet. Selain itu, tingkat pendidikan juga
mempengaruhi penghasilan masyarakat. Kota Semarang hanya memiliki 429.043
jiwa masyarakat yang lulus sekolah menengah atas (BPS Kota Semarang, 2012)
atau setara dengan 29,9 persen dari total populasi. Jumlah ini menunjukan bahwa
masih banyak masyarakat Kota Semarang yang tidak mendapatkan pendidikan
tinggi. Pendidikan yang rendah memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan
pekerjaan seadanya dengan pendapatan yang tidak seberapa. Berdasarkan
analisis ini, koran daerah, terutama koran murah seribu rupiah (Rp.1.000), memiliki
kesempatan untuk mendapatkan audiens tersebut. Koran murah ini dianggap lebih
terjangkau secara fisik, mudah dan nyaman dibaca serta menawarkan informasi
yang hampir cuma-cuma. Selain itu, koran yang mengangkat informasi ringan
dengan bentuk penyajian penulisan yang mudah dipahami dengan menonjolkan sisi
yang menarik sangat sesuai dengan karakteristik audien berpendidikan rendah
hingga menengah. Koran jenis ini akan memiliki peluang di pasar koran lokal di Kota
Semarang.

Karakteristik media online dan koran serta isi dari keduanya yang berbeda
memiliki kekurangan dan kelebihan yang pada hakikatnya tidak bisa dibandingkan
secara langsung dan tidak dapat saling menggantikan. Posisi keduanya saling
berdampingan dan melayani audiens yang berbeda seperti yang telah diungkapkan
sebelumnya. Isi media keduanya baik dalam bentuk format, tema yang diangkat atau
cara penulisannya dan sifatnya juga berbeda. Media online mengutamakan
kecepatan dengan format yang beragam baik teks, gambar, suara hingga video
serta berupa media interaktif, akan tetapi konsekuensi dari kecepatannya membuat
kedalaman informasinya terbatas, syarat-syarat penulisan jurnalistik seperti cover
both side, melakukan proses editing yang panjang serta melakukan pengecekan
ulang tidak dilakukan. Kemudahan orang-orang mem-posting isi di internet
memudahkan rumor dan informasi tidak benar yang anonim mudah berkembang di
dunia maya. Sedangkan koran menawarkan kedalaman informasi, fakta dan sumber
yang dapat dipertanggungjawabkan, kenyamanan dalam membaca serta menjual
informasi bertema lokal dan spesifik. Akan tetapi koran juga memiliki celah yang bisa
diisi oleh internet, sepeti peristiwa yang terjadi hari ini baru dapat diketahui besok,
audiens harus membayar biaya cetak dan kertas, isi hanya terbatas tulisan dan
gambar serta tidak memungkinkan untuk melakukan feedback secara langsung
kepada redaksi atau koran yang bersangkutan. Meskipun demikian, koran masih
berpeluang tinggi selama masih ada audiens yang menginginkan media yang dapat
menyediakan informasi mendalam dan terpercaya serta kenyamanan dalam
membaca teks.
Aspek lain yang perlu dicermati adalah perihal iklan. Pendapatan iklan media
cetak (koran) di Indonesia masih relatif tinggi. Hasil riset pasar Nielsen semester
pertama tahun 2013 di Indonesia menunjukkan bahwa belanja iklan di media
mengalami kenaikan 25 persen atau sekitar Rp 10,3 triliun, dari Rp 40,9 triliun
menjadi Rp 51,2 triliun dibanding periode yang sama tahun 2012. Persentase
belanja iklan tertinggi masih dipegang televisi dengan 68 persen dari total belanja
iklan media, kemudian disusul oleh koran dengan 30 persen dari total belanja iklan
media atau senilai Rp 15,5 triliun. Jumlah ini naik 15 persen dari tahun lalu di
semester yang sama, sementara media online mendapatkan jatah iklan kurang dari
2 persen (Tim Jagad review, 2013).

Berdasarkan uraian tersebut, Niche breadth yang dimiliki oleh koran masih
relatif luas. Meski berada di lingkungan yang sama, media online dan koran
memiliki niche yang berbeda yang tidak saling meniadakan satu sama lain. Hal ini
tampak

dari

jenis

audiens,

karakteristik

dan

isi

media

serta gratification

obtained dan opportunities yang berbeda membuat keduanya dapat hidup saling
berdampingan

(coexistence).

Konsep

yang

menyatakan

media

online

adalah superior tidak terjadi di daerah terutama di Kota Semarang. Ibukota daerah
belum sepenuhnya memiliki masyarakat berpendidikan tinggi dengan tingkat
ekonomi yang baik, selain itu sistem jaringan dan akses internet belum merata
sepenuhnya. Kebutuhan akan alat dan teknologi menjadi penghambat media online
berkembang di daerah. Peluang inilah yang dimanfaatkan para industri media untuk
menerbikan koran lokal di daerah dengan harga terjangkau.
Peta Persaingan Koran di Kota Semarang
Peta persaingan koran di Jawa Tengah padat dan kompetitif. Ada kurang lebih 7
koran lokal (Tribun Jateng, Barometer, Jateng Pos, Harian Semarang, Suara
Merdeka-Semarang Metro, Wawasan, Jawa Pos-Radar Semarang dan Rakyat
Jateng)

dan

koran

nasional

(Kompas,

Koran

Sindo,

Koran

Tempo,

Republika, dan Media Indonesia) yang terbit di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Beberapa diantaranya dibawahi oleh jaringan media cetak terbesar di Jawa Tengah
maupun nasional. Tribun Jateng dimiliki oleh jaringan nasional Kelompok Kompas
Gramedia, Jawa
oleh Jawa Pos

Pos-Radar

Semarang, Jateng

National

Jateng diterbitkan Rakyat

Pos-Meteor dan

Network

Merdeka. Suara

diterbitkan

(JPNN) sedangkan Rakyat


Merdeka,

Wawasan dan Harian

Semarang dimiliki oleh SMNetwork atau Suara Merdeka Group. Selain itu, terdapat
pula koran mandiri yang tidak dipimpin oleh korporat besar seperti Barometer, koran
kriminal dengan harga Rp.1.000 (seribu rupiah) tiap ekslempar, yang terbit pada
tahun

2013

dan

telah

gulung

tikar

di

pertengahan

tahun

2014. Harian

Semarang juga diketahui sejak pertengahan tahun 2013 sudah tidak lagi ditemukan
di

pasar.

Sementara

di

awal

tahun

2014,

koran Wawasan milik SMNetwork mengeluarkan harga promo sebesar Rp. 1.000
(seribu rupiah) dari harga normal Rp. 2.000 (dua ribu rupiah) sampai dengan batas

waktu yang belum ditentukan. Berikut bagan peta persaingan koran lokal dan
nasional di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Gambar 1. Bagan Peta Persaingan Koran Lokal dan Nasional di Kota
Semarang 2014

(Hasil Analisis, 2014)


Dalam bagan tersebut, populasi koran di Kota Semarang dikelompokan peneliti ke
dalam dua kategori yaitu koran nasional dan koran lokal. Diantara kedua kategori
tersebut, terdapat irisan bagian dimana ada dua koran nasional yang juga melayani
masyarakat lokal Kota Semarang dengan suplemen halaman daerah dalam
ekslempar korannya. Koran tersebut adalah Suara Merdeka dan Jawa Pos. Suara
Merdeka yang didirikan tahun 1950 adalah koran terbesar di Kota Semarang, Jawa
Tengah. Koran ini memiliki oplah harian sebesar 121.345 ekslempar setiap harinya
dan mendistribusikan korannya ke 17 area di Jawa Tengah hingga ke Jogjakarta.
Kota Semarang memiliki alokasi persentase oplah tertinggi yang mencapai lebih dari
45 persen atau sebesar 55.000 ekslempar setiap harinya. Target audiens Suara
Merdeka adalah pembaca berpendidikan tinggi dengan SES B hingga A. Pekerja

kantoran (white collar) dan laki-laki menjadi target audiens utama Suara Merdeka.
Koran yang memiliki tagline Perekat komunitas Jawa Tengah ini telah menjadi
market leader koran lokal di Jawa Tengah (Data Media Suara Merdeka, 2013). Hal
ini sesuai dengan data Media Scene Volume 22 : 2010/2011 yang menunjukan
Suara Merdeka menempati rating tertinggi (posisi pertama) dengan 311.000 (11,5
persen) orang pembaca pada tahun 2010 dalam media penetration di Kota
Semarang. Suara Merdeka dibanderol harga Rp.4.000 sudah lebih dulu dikenal dan
memiliki pembaca yang setia. Lokasi dan kepemimpinan yang berpusat di Semarang
membuat koran ini dirasa sebagai korannya orang Jawa Tengah. Isu dan berita
lokal Jawa Tengah disajikan secara lengkap dalam halaman daerahnya. Muatan
lokal Semarang dimasukan dalam lembar Semarang Metro yang berisikan berita dan
informasi dari wilayah eks karesidenan Semarang. Sementara untuk wilayah lain,
Suara Merdeka memiliki Solo Metro untuk eks karesidenan Surakarta, Suara Muria
untuk kawasan ekskaresidenan Pati, Suara Pantura eks karesidenan Pekalongan,
Suara Banyumas untuk wilayah eks karesidenan Banyumas dan Suara Kedu untuk
wilayah eks karesidenan Kedu (Data Media Suara Merdeka, 2013).
Jawa Pos yang juga sebagai koran nasional memiliki halaman Radar
Semarang-nya yang menawarkan berita lokal. Jawa Pos sudah berdiri sejak tahun
1949 dan mengalami beberapa perubahan kepemilikan hingga mengalami
keberhasilan pada masa kepemimpinan Dahlan Iskan. Oplah Jawa Pos-Radar
Semarang sebesar 40.000 per hari yang disebarkan di seluruh kawasan wilayah eks
karesidenan Semarang, eks karesidenan Pekalongan, eks karesidenan Kedu dan
sekitarnya

(http://radarsemarang.com/about/).

Jawa

Pos-Radar

Semarang

dibanderol harga sebesar Rp. 5.000 dengan 28 halaman yang terdiri dari 16
halaman Jawa Pos dan 12 halaman Radar Semarang. Target audiens Jawa Pos
adalah pembaca menengah ke atas dan terdidik. Sementara Jateng Pos (koran lokal
keluaran JJPN) dibanderol harga Rp.2.500 dan memiliki konten berita lokal lebih dari
75 persen. Jateng Pos yang berdiri tahun 2013 ini, memasukan Meteor yang semula
terbit mandiri sebagai koran suplemennya. Koran ini ditujukan untuk segmen
pembaca status ekonomi dan pendidikan yang lebih rendah dibandingkan dengan
Jawa Pos Radar Semarang (Pemasaran Jateng Pos, 2014).

Sedangkan persaingan koran lokal dengan harga Rp.1.000 (seribu rupiah) per
ekslempar di Kota Semarang saat ini diisi oleh koran Tribun Jateng (KKG) dan koran
Wawasan (SMNetwork) dalam harga promo. Tribun Jateng pertama kali diterbitkan
pada tanggal 29 April 2013 dan terbit 7 kali dalam seminggu (setiap hari) di pagi hari.
Sebelum menerbitkan Tribun Jateng, Kelompok Kompas Gramedia pernah
menerbitkan koran Warta Jateng di Kota Semarang, Jawa tengah yang terbit sejak
17 Januari 2011

hingga April 2013 di Kota Semarang. Serupa dengan konsep

Tribun Jateng, Warta Jateng merupakan salah satu koran daerah terbitan KKG
dengan harga Rp.1.000 (seribu rupiah). Pergantian Warta Jateng menjadi Tribun
Jateng disebabkan oleh adanya regrouping yang dilakukan KKG pada tahun 2011.
Regrouping ini juga berdampak pada penggabungan Warta Kota, Berita Kota
(sekarang menjadi SuperBall) dan Surya ke dalam unit bisnis Kelompok Pers
Daerah atau Group of Regional Newspaper. Koran yang terbit dalam 24 halaman ini
memiliki12 halaman berwarna dan 12 halaman hitam putih. Terdapat tiga kategori
tema yaitu sesi umum, sesi halaman kota dan sesi halaman olahraga. Saat ini
Tribun Jateng memiliki oplah harian sebesar 63.000 ekslempar dengan tingkat
keterbacaan (readership) sebesar 3 buah, artinya satu buah koran dibaca oleh tiga
orang.Koran ini sudah didistribusikan ke seluruh wilayah Jawa Tengah hingga
Brebes, Pati, Kota Semarang hingga kawasan Solo Raya. Persentase edar Tribun
Jateng yang terbanyak berada di Kota Semarang yaitu 70%

atau 37.800

ekslempar.Pembaca yang disasar berdasarkan usia adalah mereka yang berumur


24 hingga 45 tahun, dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki dan memiliki
pengeluaran rumah tangga per-bulan pada tingkat B1 hingga A (Data Media Tribun
Jateng, 2013).
Sedangkan koran Wawasan yang terbit sejak 17 Maret 1986 mengalami
perubahan format beberapa kali, awalnya koran ini hadir sebagai koran harian sore,
kemudian

bergeser

menjadi

koran

harian

pagi

di

Januari

2011

(www.koranwawasan.com). Koran yang dibanderol harga Rp.2.000 ini menerbitkan


harga promo Rp. 1.000 di pertengahan tahun 2014, harga promo ini hanya berlaku
untuk pejualan secara ecer di pengecer dan agen pinggir jalan serta di terminal Kota
Semarang, sementara untuk di kedai media cetak atau berlanggaran (di kirim di
rumah/kantor) harga jual koran ini dengar tarif normal Rp.2.000. Koran Wawasan
terbit dalam 24 halaman dengan 10 halaman berwarna dan 14 halaman hitam putih

yang terdiri dari tiga tema besar yang relatif sama dengan Tribun Jateng, yaitu sesi
umum, sesi kota dan sesi olahraga. Koran ini memiliki oplah harian sebanyak 43.800
ekslempar dan memiliki target audiens menengah ke bawah dengan distribusi koran
hingga Rembang, Slawi dan Purwokerto.
Harian Rakyat Jateng, meski masuk dalam kategori koran lokal tetapi, koran ini
adalah satu-satunya koran harian politik dan hukum di Kota Semarang bahkan di
Jawa Tengah. Koran ini menawarkan pemberitaan politik di Kota Semarang dan
keseluruhan daerah di Jawa Tengah. Koran yang terbit pertama kali tanggal 26
Januari 2014 dijual dengan harga eceran Rp. 2.500 (dua ribu lima ratus rupiah) dan
memiliki 16 halaman yang terdiri dari dua sesi yaitu halaman kota (pemberitaan
politik di Jawa tengah) dan halaman Pro Bisnis yaitu tentang informasi ekonomi dan
bisnis serta satu halaman olahraga di halaman 16. Fokus distribusi koran ini meliputi
Kota Semarang, Kendal dan Tegal dengan oplah harian sebesar 15.000 ekslempar.
Target audiens koran ini adalah politisi dan pegawai pemerintahan (Pemasaran
Rakyat Jateng, 2014).
Sementara koran nasional di Kota Semarang antara lain Kompas, Koran Sindo,
Media Indonesia, Republika, dan Koran Tempo. Selain koran Kompas, koran-koran
nasional ini kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat Kota Semarang.
Bahkan tidak semua agen koran dan pengecer menjual koran Koran Sindo, Media
Indonesia, Republika, dan Koran Tempo. Jumlah koran tersebut yang terjual juga
relatif sedikit yaitu satu hingga ekslempar saja setiap harinya, seperti temuan
lapangan yang terjadi di kedai media cetak (penjual koran dan majalah yang
mengutamakan

kelengkapan

berbagai

brand

koran,

majalah

dan

tabloid

dibandingkan kuantitas) di daerah Jalan Kelud Raya Semarang. Sementara jumlah


penjualan koran Kompas baik di agen, pengecer maupun kedai media cetak, dapat
bersaing dengan koran lokal lainnya.
Hasil pengamatan di lapangan, persaingan antar koran ini juga terjadi di ranah
agen besar penjual koran. Untuk agen besar di Jalan Dr Cipto semarang, hanya
koran milik group media besar yang dijual diantaranya Jawa Pos dan Jateng Pos
milik JPNN, Kompas dan Tribun Jateng milik KKG dan koran Wawasan, Suara

Merdeka milik SMNetwork serta Koran Sindo milik MNC Group. Hasil penjualan
masing-masing brand koran tersebut per-harinya tampak dalam grafik berikut ini.
Gambar 2. Grafik Jumlah Ekslempar Koran yang Terjual di Agen Besar

(Hasil Pengamatan 26 Agustus 2014 di agen koran Jl Dr. Cipto Semarang)

Dari data tersebut diketahui bahwa Tribun Jateng terjual hingga 700 ekslempar tiap
harinya, menjadi koran yang paling banyak terjual dibandingkan koran lokal dan
koran nasional lainnya, disusul oleh koran Wawasan dari SMNetwork dengan 150
ekslempar tiap harinya. Kedua koran ini dijual dengan harga Rp. 1.000 (seribu
rupiah) tiap ekslemparnya. Sementara koran Jawa Pos, Kompas dan Suara
Merdeka hanya terjual rata-rata 25 ekslempar tiap harinya. Sedangkan Koran Sindo
dan Jateng Pos rata-rata hanya terjual 20 ekslempar.
Koran Tribun Jateng dijual agen dalam jumlah besar karena sistem
pembayarannya menggijinkan agen untuk membayar setelah penjualan dan
memperbolehkan sistem return. Dalam hal ini agen tidak dirugikan meski koran
Tribun Jateng

tidak laku. Sedangkan, Suara Merdeka yang dianggap sebagai

market leader koran di Kota Semarang, Jawa Tengah tidak mendapatkan porsi yang
besar dalam agen di Jalan Dr Cipto ini. Hal ini disebabkan harga jualnya yang empat
kali lipat harga koran Tribun Jateng dan sistem pembayarannya yang harus bayar
diawal, sebelum barang dijual. Sistem pembayaran ini memberatkan agen karena
agen harus modal dan merugi jika korannya tidak habis (tidak ada sistem return).

Karena sistem inilah, agen tidak berani mengambil koran Suara Merdeka dengan
jumlah yang besar.
Media Habit Audiens Kota Semarang
Kebiasaan konsumsi koran di Kota Semarang ini diperolah dari hasil pengamatan
terhadap 40 pembeli koran di agen besar Jalan Dr Cipto dan wawancara mendalam
yang dilakukan kepada sepuluh orang diantaranya. Kebiasaan konsumsi koran ini
meliputi jenis kelamin dan profesi pembeli, pertimbangan utama dalam memilih
koran bacaannya dan tema besar yang paling sering dibaca di koran. Berikut
penjabarannya.
Gambar 3. Bagan Jenis kelamin Pembeli Koran

Bagan disamping menunjukan bahwa pembeli koran masih didominasi oleh laki-laki
yaitu mencapai 95 persen, sedangkan pembeli koran berjenis kelamin perempuan
hanya mencapai 5 persen saja. Agen dan penjual koran (media cetak) menyatakan
bahwa audiens perempuan lebih banyak membeli tabloid dan majalah wanita, cara
masak - memasak atau infotainment dibandingkan koran harian.
Gambar 4. Profesi Pembeli Koran

Terjadi perubahan tren profesi pembeli koran yang tadinya koran diidentikan pada
kalangan terdidik dan white collar pada hasil temuan lapangan kali ini justru
menunjukan bahwa sejak kemunculan koran seribu berbagai profesi non-formal turut
menjadi pembaca koran. Blue collar atau buruh dan pekerja kasar menjadi pembeli
koran terbesar di agen jalan Dr Cipto ini dengan persentase hingga 28 persen,
disusul dengan supir angkot yang mencapai 25 persen. Pekerja kantoran kelas
menengah mendapatkan porsi 22 persen, dan pekerja kantoran kelas atas ,ditandai
dengan berkendara mobil pribadi, sebesar 18 persen, pedagang juga menjadi
pembeli koran dengan persentase 7 persen. Jenis profesi yang sangat beragam
bahkan mayoritas didominasi pekerja kelas menengah ke bawah, menunjukan
kemunculan koran seribu membawa dampak positif dimana masyarakat dari
kalangan bawah juga bisa mendapatkan akses informasi dan ilmu pengetahuan
dengan harga yang terjangkau.
Gambar 5. Brand Koran yang Paling Banyak Dibeli

Dari pengamatan 40 pembeli koran di agen besar jalan Dr Cipto diketahui bahwa
koran Tribun Jateng menjadi koran yang paling banyak dibeli dengan 63 persen.
Sementara koran Wawasan berada di posisi kedua dengan 20 persen, Suara
Merdeka dengan 12 persen dan Kompas dengan 5 persen. Pembeli koran Kompas
adalah pekerja kelas atas dengan kendaraan mobil mewah, sementara Suara
Merdeka dibeli oleh PNS dan karyawan kelas menengah. Tribun Jateng dan
Wawasan mayoritas dibeli oleh supir angkot dan blue collar, sedangkan pekerja
kelas menengah dan kelas atas diantaranya membeli Tribun Jateng.
Dari hasil wawancara mendalam diketahui tema besar koran yang paling
banyak dibaca atau disukai adalah pemberitaan isu politik (kasus pemerintah lokal
daerah maupun nasional), pemberitaan lokal yang menarik dan ringan serta
halaman olahraga. Beberapa responden juga menyukai halaman iklan kecik yang
menampilkan berbagai macam iklan jual beli. Sedangkan alasan utama dalam
membeli koran didominasi dengan pertimbangan harga. Koran seribu (murah)
menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam membeli koran, informasi yang
lengkap dan mengangkat berita lokal juga menjadi nilai tambah koran seribu ini.
Faktor kepercayaan terhadap koran yang sudah lama dikonsumsi serta nama besar
koran juga menjadi pertmbangan masyarakat dalam memilih koran Suara Merdeka
dan Kompas. Selain itu ada pula responden yang menyatakan bahwa alasan
memilih brand koran tertentu karena jumlah halamannya yang sedikit (tipis) serta
karena beritanya yang penuh dan tidak terdestruksi oleh iklan.
KESIMPULAN
Berdasarkan Teori Niche, Kota Semarang adalah lingkungan yang potensial sebagai
pasar koran cetak lokal. Hal ini disebabkan Niche Breath koran lokal yang masih
luas, posisi media baru yang bukan sebagai kompetitor superior dan Niche Overlay
keduanya yang hidup saling berdampingan (coexistence). Sementara peta
persaingan koran di Kota Semarang dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu,
koran nasional, koran nasional dengan halaman lokal dan koran lokal. Untuk koran
nasional, koran Kompas masih menjadi market leader, sementara koran Suara
Merdeka

masih

menjadi

pilihan

audiens

sebagai

koran

terpercaya

yang

menyediakan isu nasional dan isu lokal Jawa Tengah dalam satu kemasan.

Persaingan sengit terjadi antara koran Tribun Jateng dan koran Wawasan dalam
tataran kelompok koran lokal yang sama-sama menjual korannya dengan harga
Rp.1.000 (seribu rupiah). Koran yang paling banyak terjual di agen besar adalah
koran Tribun Jateng. Alasan utama audiens memilih korannya adalah harga yang
terjangkau. Sementara tingkat kepercayaan dan kesetiaan audiens juga menjadi
alasan audiens memilih koran Suara Merdeka dan koran Kompas. Hasil penelitian
juga menunjukan bahwa audiens koran Kota Semarang masih didominasi oleh lakilaki yaitu mencapai persentase hingga 95 persen. Jenis profesi audiens koran jauh
lebih beragam dan tidak lagi didominasi oleh audiens berpendidikan tinggi dan white
collar. Hasil pengamatan menunjukan bahwa sejak terbitnya koran harga seribu
rupiah 60 persen pembeli koran adalah pekerja kelas menengah ke bawah dan blue
collar. Pemberitaan politik tentang isu pemerintahan lokal dan nasional menjadi tema
besar yang paling disukai oleh audiens. Berita olahraga dan halaman iklan baris
dengan informasi jual beli juga menjadi daya tarik audiens dalam memilih suatu
brand koran.
DAFTAR PUSTAKA
Ala-Fossi et al. (2008). The Impact Of The Internet On Business Models In The Media
Industries A Sectors By Sector Analysis. Dalam Lucy Kung, Robert G. Picard dan
Ruth Towse (Ed). The Intternet And The Mass Media. London: Sage
Budi, Setio. (2011).Ekologi Media : Penerapan Teori Niche Dalam Penelitian Kompetisi
Media, Dalam Mix Methodology dalam Penelitian Komunikasi. ASPIKOM
Burton, Graeme. (2008). Yang Bersembunyi Dibalik Media, Pengantar Kepada Kajian
Media. Yogyakarta : Jalasutra
Dimmick, John W. (2003). Media Competition and Coexistence, The Theory of The Niche.
New York : Lawrence Erlbaum
Flew, Terry. (2005). New Media An Introduction 2nd Edition. UK : Oxford University
Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Prenada Media
Group
Kung, Lucy, Robert G. Picard dan Ruth Towse. (2008). Theoretical Perspectives On The
Impact Of Internet On The Mass Media Industries. Dalam The Intternet And The
Mass Media. London: Sage

Prensky, Marc. (2001). Digital Native, Digital Immigrants, Dalam On Horizon MCB
University Press Vol. 9 No. 5 Oktober 2001.
Shimp,Terence A. (2007). Advertising, Promotion And Other Aspects Of Integrated
Marketing Commucations, Seventh Edition. USA : Thomson South-Western
Utari, Prahastiwi. (2011). MediaSosial, New Media, Dan Gender Dalam Pusaran Teori
Komunikasi. Dalam

Fajar

Junaedi, Komunikasi

2.0,

Teoritisasi

dan

Implikasi. ASPIKOM
Yin. Robert K. (2006). Studi Kasus Desain dan Metode. Terj. Djauzi Mudzakir. Jakarta :
Rajagrafindo Persada
THESIS
Sadiyah, Halimatussa. (2014). Strategi Koran Daerah Tribun Jateng di Era Media Baru
(Strategi Komunikasi Pemasaran, Harga/Iklan, Distribusi dnan Isi). Thesis tidak
dipublikasikan, Universitas Diponegoro, Semarang.
INTERNET
Anonim. Sejarah Singkat Koran Wawasan. Diakses pada 25 Agustus 2014, Pukul 20.03
dari http://www.koranwawasan.com/about.html
Anonim.Tentang

Kami. Diakses

pada

25

Agustus

2014,

Pukul

20.05

dari http://jatengpos.co/tentang-kami
Manan, Abdul. (2009). Lilin (Yang) Meredup di Bumi Amerika. Diakses Pada 15 Februari
2013, Pukul 20.00 dari http://classically.wordpress.com/2010/02/24/167/
Nandonurhadi. (2013). Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tahun 1998-2012
versi APJII.

Diakses

pada

15

Februari

2013,

Pukul

20.00

dari

http://nandonurhadi.wordpress.com/2013/02/20/jumlah-pengguna-internet-indonesiatahun-1998-2012-versi-apjii/ /
Rasyida, Agustina. (2013). Statistik Pertumbuhan Internet di Semarang dan Makassar
Melejit. Diakses

Jumat,

20

Desember

2013,

Pukul

10.00 dari http://www.tribunnews.com/iptek/2013/02/18/ statistik-pertumbuhaninternet-di-semarang-dan-makassar-melejit


Wijaya, Lupta. (2010). Kematian Surat Kabar Cetak. Diakses 15 Februari 2013, Pukul
20.00 dari http://jurnalis.wordpress.com/2009/09/01/1408/