Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PRAKTEK HUKUM PERDATA

Analisis Ganti Rugi Materiil dan Immateriil


(Studi Kasus: Putusan No. 241/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Sel. )

Prasta Pradana
NPM: 1206220434

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA


PROGRAM SARJANA PARALEL
DEPOK
2015

A. KASUS POSISI

Dalam kasus ini penggugat adalah Tn Joyo Soetomo melawan PT.


Bank Danamon Indonesia Tbk selaku tergugat, Metty Harganingtyas
selaku turut tergugat, dan Yuliana M. Taroreh selaku turut tergugat I.
Penggugat merupakan nasabah dan menyimpan uangnya pada
Tergugat dengan noor rekening : 57446353 (IDR) dan nomor rekening
56160997 (U$D) dan Turut Tergugat I dan II adalah karyawati dari
Penggugat. Pengguat mengalami kerugian dikarenakan Tergugat tidak
teliti, lalai dan tidak professional dalam hal keamanan penarikan uang
milik Penggugat. Sehingga Para Turut tergugat menarik dana milik
Penggugat dengan modus pemalsuan tanda tangan Penggugat, sehingga
Penggugat mengalami kerugian sebesar Rp1.298.561.575,- (satu milyar
dua ratus Sembilan puluh delapan juta lima ratus enam puluh satu ribu
lima ratus tujuh puluh lima rupiah).

B. TUNTUTAN GANTI KERUGIAN PENGGUGAT


Bahwa sebagai akibat perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh
Tergugat dan Para Tururt Tergugat. Penggugat

mengalami kerugian

materiil sebesar Rp1.298.561.575,- (satu milyar dua ratus Sembilan puluh


delapan juta lima ratus enam puluh satu ribu lima ratus tujuh puluh lima
rupiah) yaitu dana Penggugat yang diambil oleh Para Turut Tergugat dan
kerugian immaterial sebesar Rp3.000.000.000 (tiga milyar rupiah).
Kerugian Materiil
1. Dana yang diambil dari rekening Penggugat No. 57446353
sejumlah Rp.994.536.575,2. Dana yang idambil dari rekening Penggugat No. 65150997
sejumlah US$4.900, apabila asumsi kurs Rp.10.000,- maka setara
dengan Rp.49.000.000,-

Kerugian Imateriil
Dikarenakan terbuangnya waktu Penggugat untuk untuk mengurus
permasalahan ini yang jika dihitung secara bisnis Penggugat mengalami
kerugian Immaterill mencapai Rp. 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) ;

C. TUNTUTAN GANTI KERUGIAN PARA TERGUGAT


Berdasarkan

gugatan

yang

diajukan

oleh

Penggugat,

Penggugat

mengajukan tuntutan ganti kerugian baik materiil maupun immaterial.


Dalam gugatannya tuntutan materiil dan immaterial penggugat adalah
sebagai berikut:
Kerugian Materiil
Menghukum Tergugat untuk membayar ganti rugi materiil sebesar
Rp. 1.298.561.575,- (satu milyar dua ratus sembilan puluh delapan
juta lima ratus enam puluh satu ribu lima ratus tujuh puluh lima
rupiah), kepada Penggugat dan bunga sebesar 5 % perbulan sejak
bulan Mei 2009 sampai dibayar lunas ;
Kerugian Imateriil
Menghukum Tergugat untuk membayar kerugian Immateril kepada
Penggugat sebesar Rp. 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) ;

D. PERTIMBANGAN HAKIM MENGENAI GANTI KERUGIAN


1. Berdasarkan fakta-fakta persidangan dan bukti-bukti yang diajukan
oleh para pihak, pihak Tergugat tidak melakukan konfirmasi
kepada penggugat sebagai pemilik rekening, maka Tergugat tidak
hati-hati dalam menjalankan tugasnya. Sehingga berdasarkan
pertimbangan majelis hakim, Perbuatan Melawan Hukum yang
dilakukan oleh Pihak Tergugat beralasan untuk dikabulkan.

2. Pertimbangan Majelis hakim terhadap ganti kerugian secara materil


yang diminta oleh Penggugat sebagai akibat dari perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh Para Tergugat yaitu sebesar

Rp. 1.298.561.575,- (satu milyar dua ratus sembilan puluh delapan


juta lima ratus enam puluh satu ribu lima ratus tujuh puluh lima
rupiah), kepada Penggugat dan bunga sebesar 5 % perbulan sejak
bulan Mei 2009 sampai dibayar lunas adalah berdasarkan pasal
1365 KUH Perdata Tiap perbuatan melanggar hukum yang
membawa kerugian kepada orang lain mewajibkan orang yang
karena salahnya menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian
tersebut
Kemudian, berdasarkan bukti-bukti di persidangan dan fakta
persidangan maka ganti rugi materiil yang seharusnya dibayar oleh
Tergugat kepada Penggugat adalah sejumlah Rp.808.640.000,- dan
US$4.900
Mengenai bunga yang harus dibayarkan Tergugat kepada
Penggugat adalah adil dan patut apabila besarnya bunga tersebut
berpedoman pada bunga tabungan bank yang berlaku saat itu yaitu
5% tiap tahunnya terhitung sejak perkara ini didaftarkan.
Oleh karen itu menurut majelis hakim tuntutan ganti rugi materiil
tersebut beralasan untuk diterima.
3. Mengenai gati rugi immaterial yang di tuntut oleh Penggugat
majelis hakim berpendapat bahwa tuntutan tersebut tidak terperinci
dan tidak dapat dibuktikan oleh Penggugat, sehingga ganti rugi
immaterial tersebut haruslah ditolak

E. PUTUSAN PERKARA

Dalam Eksepsi

Menolak eksepsi Tergugat untuk seluruhnya

Dalam pokok perkara

Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

Menyatakan bahwa Tergugat telah melakukan Perbuatan Melawan


Hukum;

Menghukum Tergugat untuk membayar ganti rugi materiil kepada


Penggugat sejumlah Rp.808.640.000,- dan US$ 4,900 serta bunga
sebesar 5% tiap tahun dihitung sejak tanggal 10 Maret 2010 sampai
dengan ganti rugi tersebut dibayar lunas;

Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.


1.241.000,- (satu juta dua ratus empat puluh satu ribu rupiah);

Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya;

F. ANALISIS PUTUSAN MENGENAI GANTI KERUGIAN


1. Perbuatan Melawan Hukum
Pasal 1365 KUHPerdata mencantumkan pengertian perbuatan
melawan hukum yang berbunyi Tiap perbuatan melanggar hukum
yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang
yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti
kerugian tersebut. Berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata, jika
seseorang melanggar suatu perbuatan melawan hukum dan telah
terbukti suatu kejahatannya maka dirinya dapat dilakukan
penuntutan penggantian kerugiann. Untuk dapat menuntu ganti
rugi berdasarkan perbuatan melanggar hukum maka syarat yang
harus dipenuhi adalah :
a. Adanya Perbuatan
Perbuatan tersebut dapat bersifat aktif maupun pasif. Aktif
berarti seseorang secara aktif berbuat sesuatu, sedangkan
pasif dapat diartikan sebagai tidak melakukan perbuatan
apa-apa.
b. Perbuatan Tersebut Melawan Hukum
Melawan hukum secara sempit dapat diartikan sebagai
melanggar Undang-Undang. Pengertian melawan hukum
pun dapat diartikan secara luas, yaitu tidak hanya

melanggar peraturan perundang-undangan tetapi juga dapat


berupa :

i.

Melanggar hak orang lain;

ii.

Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku;

iii.

Bertentangan dengan kesusilaan;

iv.

Bertentangan dengan kepentingan umum.

c. Adanya Kesalahan
Kesalahan

yang

dimaksud

adalah

faktor

yang

menghubungkan antara pelaku dan perbuatannya yang


melawan hukum. Kesalahan dapat berupa kesengajaan
maupun kelalaian.
d. Adanya Kerugian
Yang dapat berupa materil maupun imateriil, yang
seandainya Perbuatan Melawan Hukum itu tidak ada maka
kerugian itu tidak akan terjadi.
e. Adanya Hubungan Kausalitas antara PMH dan kerugian
Hubungan antara PMH dan kerugian yang ditimbulkan
secara

kausalitas

secara

langsung,

kerugian

harus

merupakan akibat dari perbuatan salah dari si pelaku, yang


tanpa perbuatannya itu kerugian tersebut tidak akan
muncul
Apabila dihubungkan dengan kasus diatas, maka Tergugat telah
memenuhi unsur-unsur dari perbuatan melawan hukum dimana
dengan kesalahan perbuatan Tergugat yang tidak melakukan
konfirmasi kepada penggugat sebagai pemilik rekening. Yang
dimana seharusnya Tergugat wajib melakukan konfirmasi kepada
pemilik rekening apabila dalam penarikan dana terdapat kecurigaan
karena ada penebalan tanda tangan, tulisan terbilang di slip
pengambilan dan masalah tanda tangan dan juga penarikan dana
lebih dari Rp100.000.000,-

Dengan terpenuhinya unsur-unsur Pasal 1365 diatas maka


seseorang dapat menuntut ganti kerugian atas dasar Perbuatan
Melawan Hukum.
2. Tuntutan Ganti Kerugian
Kerugian adalah situasi berkurangnya harta kekayaan salah satu
pihak yang ditimbulkan dari suatu perikatan, baik melalui
perjanjian

maupun

melalui

undang-undang

dikarenakan

pelanggaran norma oleh pihak lain. Pasal 1365 KUHPerdata


adalah dasar dimana seseorang yang melakukan perbuatan
melawan hukum dapat diminta ganti kerugian. Namun dengan
berjalannya waktu, Pasal 1371 ayat (2) KUHPerdata dan Pasal
1372 ayat (2) KUHPerdata dijadikan sebagai suatu pedoman untuk
menentukan besar ganti rugi atas perbuatan melawan hukum.
Kedua Pasal

tersebut

menyebutkan

bahwa

Hakim

dalam

menentukan penggantian kerugian harus menitikberatkan dan


menilai berdasarkan kedudukan dan kemampuan kedua belah
pihak, dan menurut keadaan. Menurut Prof Rosa Agustina dalam
bukunya Perbuatan Melawan Hukum menerangkan bahwa
kerugian dalam Perbuatan Melawan Hukum menurut KUHPerdata,
Pemohon dapat meminta kepada si pelaku untuk mengganti
kerugian

yang

nyata

telah

dideritanya

(Materil)

maupun

keuntungan yang akan diperoleh di kemudian hari (Immateril)2.


Kerugian Materil adalah kerugian yang dapat dimintakan suatu
ganti rugi sejumlah kerugian yang diderita. Tuntutan ganti
kerugian materil yang diajukan Penggugat adalah sebesar Rp.
1.298.561.575,- (satu milyar dua ratus sembilan puluh delapan juta
lima ratus enam puluh satu ribu lima ratus tujuh puluh lima
rupiah), kepada Penggugat dan bunga sebesar 5 % perbulan sejak
bulan Mei 2009 sampai dibayar lunas kepada Tergugat karena
1

Merry Tjoanda, Wujud Ganti Rugi Jurnal Sasi Vol. 16 No 4 (Oktober Desember 2010) Hal 48
Rosa Agustina, Perbuatan Melawan Hukum, (Jakarta; Program Pascasarjaana FHUI. 2003), hal
36.
2

perbuatan melawan hukum yang dilakukan yaitu Tergugat tidak


hati-hati dalam menjalankan tugasnya.
Dalam pertimbangan hakim, penggantian kerugian materil
berdasarkan kepada jumlah uang yang diambil oleh para Turut
Tergugat dari rekening-rekening milik Penggugat. Selain hakim
melihat tuntutan yang diajukan oleh penggugat hakim juga melihat
fakta-fakta persidangan yang menunjukkan jumlah tepat dana yang
diambil oleh para Turut Tergugat.
Berdasarkan pertimbangan hakim tersebut penulis merasa putusan
hakim sudah tepat karena tidak hanya melihat tuntutan penggugat
saja namun juga fakta-fakta persidangan.
Kerugian Immateril yang dimintakan oleh Penggugat tidak
berdasarkan rincian yang jelas hanya berdasarkan berdasarkan
waktu penggugat yang tersita diakibatkan mengurusi permasalahan
ini.
Dalam pertimbangan hakim, Majelis berpendapat bahwa tuntutan
tersebut tidak terperinci dan tidak dapat dibuktikan oleh
Penggugat, sehingga ganti rugi immaterial tersebut haruslah ditolak
Bahwa berdasarkan hal diatas, penulis sependapat dengan
pertimbangan Majelis Hakim yang tidak mengabulkan permohonan
ganti rugi imateriil Penggugat. Hal ini berdasarkan Yurisprudensi
Mahkamah Agung No 1186 K / SIP / 1973 tanggal 21 Nopember
1970 yang menegaskan Tuntutan Ganti Kerugian yang tidak
dirinci

dalam

Gugatan

harus

ditolak

dan

Yurisprudensi

Mahkamah Agung No 1720 K / Pdt / 1986 tanggal 18 Agustus


1988 mengamanatkan agar setiap gugatan ganti kerugian haruslah
dengan perinciannya. Sehingga tuntutan ganti rugi immaterial
yang diajukan penggugat haruslah ditolak karena tidak jelas dan
tidak diperinci.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah diuraikan bahwa dapat disimpulan Majelis
Hakim dalam menjatuhkan putusan ganti kerugian sudah tepat yang
didasari dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, KUH
Perdata, serta Jurisprudensi Mahkamah Agung. Majelis Hakim juga sudah
telah menerapkan asas Audi Et Alteram Partem (para pihak harus
didengar) serta Majelis Hakim pun telah memenuhi rasa keadilan untuk
kedua belah pihak.

H. SARAN
Agar gugatan ganti rugi dapat dikabulkan oleh majelis hakim, seharusnya
penggugat menjelaskan dengan rinci kerugian-kerugian yang di derita baik
kerugian materiil maupun immateriil.

LAMPIRAN