Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
Konsep diri memiliki peranan penting dalam menentukan perilaku individu sebagai
cermin bagi individu dalam memandang dirinya. Pembentukan konsep diri memudahkan
interaksi sosial sehingga individu yang bersangkutan dapat mengantisipasi reaksi orang lain. Pola
kepribadian yang dasarnya telah diletakkan pada masa bayi, mulai terbentuk dalam awal masa
kanak-kanak. Orang tua, saudara kandung, dan sanak keluarga lainnya merupakan dunia sosial
bagi anak-anak, maka bagaimana perasaan mereka kepada anak-anak dan bagaimana perlakuan
mereka merupakan faktor penting dalam pembentukan konsep diri, yaitu inti pola kepribadian.
Individu memberi respon terhadap dirinya sendiri dan mengembangkan sikap diri yang
konsisten dengan apa-apa yang diekspresikan oleh orang lain di dalam dunianya. Hasilnya,
individu tersebut memahami dirinya sendiri mempunyai sifat-sifat dan nilai-nilai yang orang lain
dengan dirinya.
Konsep diri merupakan produk sosial, yang dibentuk melalui proses internalisasi dan
organisasi

pengalaman-pengalaman

psikologis.

Pengalaman-pengalaman

psikologis

ini

merupakan hasil eksplorasi individu terhadap lingkungan fisik dan refleksi dari dirinya yang
diterima dari orang-orang penting di sekitarnya. Oleh karena itu banyak faktor yang
mempengaruhi konsep diri seseorang, beberapa di antaranya adalah faktor-faktor internal :
intelegensi, kompetensi personal, kreativitas, status kesehatan, usia, penampilan fisik, prestasi,
jenis kelamin, aktualisasi diri, dan religiusitas. Faktor-faktor eksternal: orangtua, teman sebaya,
peran pendidik, kebudayaan, status sosial, keterbatasan ekonomi, dan pengalaman interpersonal.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Konsep Diri


Konsep diri merupakan rujukan utama bagi hidup seseorang, sebagaimana asal kata
konsep (Bahasa Latin concepere = gambaran atau kesan). Konsep diri adalah gambaran
tentang diri seseorang, mengenai apa yang dipikirkan dan rasakan. (Toto Tasmara, Spiritual
Centered Leadership)
Konsep diri merupakan cara seseorang memikirkan dirinya terhadap penilaian orang
lain. (Unit 5 Health Promotion). Konsep diri terbentuk atau merupakan kumpulan dari
berbagai pengalaman dan utamanya dalam hubungannya dengan orang lain (interaction with
others). Sehingga konsep diri merupakan hasil dari cara seseorang memikirkan mengenai
penilaian orang lain. membandingkan hubungannya dengan orang lain. (Toto Tasmara,
Spiritual Centered Leadership)
B. Perkembangan Konsep Diri
Proses pembentukan diri dimulai sejak anak masih kecil. Masa kritis pembentukan
konsep diri adalah saat anak masuk Sekolah Dasar (SD). Glasser, seorang pakar pendidikan
dari Amerika, menyatakan lima tahun pertama di SD akan menentukan nasib anak
selanjutnya. (Kesalahan fatal dalam mengejar impian, Adi W. Gunawan).
Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang
dipelajari dan terbentuk melalui pengalaman individu dalam berhubungan dengan orang lain.
Dalam berinteraksi, setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diterima
akan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri, terutama
didasarkan tanggapan orang penting dalam hidup anak, yaitu orang tua, guru dan teman

sebaya mereka. Jadi, konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan balik dari individu
lain. Bila anak yakin bahwa orang-orang yang penting baginya menyenangi mereka, maka
akan berpikir positif tentang diri mereka begitu pula sebaliknya.
Perkembangan konsep diri sifatnya hirarkis, yang paling dasar terbentuk adalah konsep
primer. Konsep diri primer ini didasarkan pengalaman anak di rumah dan dibentuk dari berbagai
konsep terpisah yang masing-masing merupakan hasil dari pengalamannya dengan anggota
keluarga lain.
Konsep diri primer mencakup citra fisik dan psikologis diri, yang pertama biasanya
berkembang lebih awal dibandingkan dengan yang kedua. Citra psikologis diri yang pertama
terbentuk didasarkan atas hubungan anak dengan saudara kandungnya dan perbandingan dirinya
dengan saudara kandung. Begitu pula konsep awal mengenai perannya dalam hidup, aspirasi dan
tanggung jawabnya terhadap orang lain didasarkan atas ajaran dan tekanan orang tua.
Meningkatnya pergaulan dengan orang lain di luar rumah (bukan keluarga) anak memperoleh
konsep lain tentang diri mereka. Hal ini akan membentuk konsep diri sekunder. Konsep diri
sekunder berhubungan dengan bagaimana anak melihat dirinya melalui kacamata orang lain.
Konsep diri primer seringkali menentukan di mana konsep diri sekunder akan terbentuk. Sebagai
contoh, seorang anak yang mengembangkan konsep diri primer sebagai anak jagoan, maka ia
akan memilih teman-teman yang takut akan dia atau menganggap dirinya jagoan pula.
Konsep diri sekunder seperti halnya konsep diri primer, mencakup citra fisik dan psikologis
diri. Anak-anak berpikir tentang struktur fisik mereka sebagaimana orang lain di luar rumah
menanggapi

mereka.

Selanjutnya

mereka

menilai

citra

psikologis

mereka

dengan

membandingkan citra diri mereka yang dibentuk di rumah dengan apa yang mereka pikirkan

tentang pikiran orang lain, seperti guru dan teman sebayanya mengenai diri mereka.(Konsep
Diri)
Dalam kehidupan sehari-hari, individu akan menempuh berbagai interaksi dengan
sekitarnya. Hasil interaksi yang berlaku akan membentuk konsep diri seseorang. Konsep diri
juga dapat terbentuk apabila seorang membayangkan dan mengambil nilai-nilai orang lain agar
dijadikan sebagai nilai dirinya sendiri. (Psikologi Pendidikan, Maharani Razali, dkk)
Dengan kata lain, konsep diri merupakan hasil belajar melalui hubungan individu dengan
orang lain. Hal ini sejalan dengan istilah looking glass self yaitu ketika individu memandang
dirinya berdasarkan interpretasi dari pandangan orang lain terhadap dirinya. (International
Handbook of Physicology in Education)
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
1. Internal
a Intelegensi
Berbeda dengan intelektual, sikap intelegensia digunakan untuk mempengaruhi
dan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan sosialnya, orang lain, dan
dirinya sendiri. Semakin tinggi taraf intelegensianya, maka semakin baik
penyesuaian dirinya dan lebih mampu berinteraksi terhadap rangsangan
lingkungan atau orang lain dengan cara yang dapat diterima. Seseorang yang
memiliki intelegensi yang tinggi, ia akan melakukan kebaikan secara spontan tanpa pamrih
apapun, seperti juga orang jahat, melakukan keburukan secara spontan tanpa mempertimbangkan
akibat bagi dirinya maupun bagi orang yang dijahati.
b

Kompetensi personal
Kemampuan untuk melakukan suatu tugas ataupun hal dengan memiliki suatu
kemampuan yang dapat dibanggakan seseorang yang akan memandang dirinya

positif. Kecenderungan menilai diri merupakan komponen utama dari persepsi


diri. Penilaian positif terhadap dirinya menyebabkan diri seseorang menjadi
c

positif. (Andreas Setiawan, UI 2008)


Kreativitas
Seseorang yang semasa kanak-kanak didorong agar kreatif dalam bermain dan
dalam tugas-tugas akademis, mengembangkan perasaan individualitas dan

identitas yang memberi pengaruh baik pada konsep dirinya. (jambi.bkkbn.go.id)


d Status kesehatan
e Usia
Perkembangan usia sangat mempengaruhi proses konsep diri pada
seseorang. Pada beberapa orang, konsep diri dapat meningkat dan menurun sesuai
kondisi atau pengalaman dari diri sendiri.
Pada anak yang usia lebih muda, konsep diri yang dimiliki terhadap
hubungan dengan orang tuanya tentu akan sangat berbeda. Ada kecenderungan
bahwa anak dengan usia yang lebih muda, memiliki konsep diri yang positif pada
tipe hubungan yang berisi unsure protektif antara orang tua dengan anaknya. Pada
selang usia ini, peranan orang tua masih cukup besar masuk ke dalam diri anak.
Di lain pihak, anak dengan usia yang lebih dewasa memiliki deskripsi diri yang
akan berbeda antara hubungan dirinya dengan orang tuanya sehingga tingkat intervensi
orang tua terhadap anak menjadi terbatas. (Amaryllia Puspasari, Mengukur Konsep Diri
Anak).
f

Penampilan fisik
Aspek ini meliputi sejumlah konsep yang dimiliki seseorang mengenai penampilan,
kesesuaian dengan jenis kelamin, arti penting tubuh, dan perasaan gengsi di hadapan
orang lain disebabkan oleh keadaan fisiknya. Hal penting yang berkaitan dengan keadaan
fisik adalah daya tarik dan penampilan tubuh di hadapan orang lain. Seseorang dengan

penampilan yang menarik, cenderung mendapatkan sikap sosial yang menyenangkan dan
penerimaan sosial dari lingkungan sekitar. (Psycologi : Menuju Aplikasi Pendidikan,
g

Muhammad Anas)
Prestasi
Proses pengajaran keterampilan secara langsung sering meningkatkan prestasi, kemudian
akan meningkatkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri meningkat karena tahu tugastugas apa yang penting untuk mencapai tujuannya telah dilakukan sebelumanya.
Penekanan dari pentingnya prestasi dalam meningkatkan rasa percaya diri yang
merupakan keyakinan individu bahwa dirinya dapat menguasai suatu situasi dan

menghasilkan suatu yang positif. (Aldolesence, Edisi 6).


Jenis kelamin
Di dalam keluarga, lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat yang
lebih luas akan berkembang bermacam-macam tuntutan peran yang berbeda berdasarkan
perbedaan jenis kelamin. Tuntutan ini bedasarkan tiga macam kekuatan yang berbeda:
biologis, lingkungan keluarga dan kebudayaan.
Dorongan biologis menyebabkan seseorang secara bawaan bertingkah laku,
berpikir, dan berperasaan yang berbeda antar jenis kelamin. Suatu hasil penelitian
menyatakan bahwa perbedaan antara pria dan wanita (dalam hal berperasaan, bertindak,
dan berpikir) sudah ada sebelum seseorang mampu untuk menerima latihan dari
lingkungannya untuk berperan secara berbeda berdasarkan jenis kelaminnya. (Psikologi

Perkembangan Anak dan Remaja, Singgih D.)


Aktualisasi diri
Kecenderungan untuk mengembangkan bakat yang ada pada dirinya. Mengaktualisasikan
dirinya, individu akan merasa lebih mampu berinteraksi dengan dunianya. Tindakannya
akan lebih terarah dan bertujuan serta kecemasan dirinya akan menghilang. Keadaan ini

akan menyebabkan individu memandang dirinya lebih positif.


Religiusitas

Sikap religiusitas merupakan kecenderungan untuk bertingkahlaku sesuai dengan kadar


ketaatannya pada agama. Sikap religiusitas terbentuk karena adanya konsistensi antara
kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif, pemahaman dan penghayatan
terhadap agama sebagai komponen afektif, dan perilaku terhadap agama sebagai
komponen konatif.
Keyakinan beragama menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang yang
akan mengawasi segala tindakan, perkataan, bahkan pikirannya. Pada saat seseorang
tertarik pada sesuatu yang tampaknya menyenangkan, maka keimanannya akan
bertindak, menimbang, dan meneliti apakah hal tersebut boleh atau tidak untuk
dilakukan. Agama mempunyai peran penting dalam membina moral karena nilai-nilai
moral yang datang dari agama bersifat tetap dan universal. Apabila seseorang dihadapkan
pada suatu dilema, ia akan menggunakan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan nilainilai moral yang datang dari agama. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki sikap
religiusitas tinggi, walaupun berada di manapun dan bagaimanapun, ia akan tetap
memegang prinsip moral yang telah tertanam dalam hati nuraninya. Jadi, peran agama
dalam hal ini adalah sebagai pendorong dan penggerak serta pengontrol dari tindakantindakan setiap individu untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan
ajaran agama, sehingga akan dapat meminimalisir segala jenis perilaku menyimpang. (ejournal Undiksa Jurusan Bimbingan Konseling Volume: 2 No 1, Tahun 2014).
k Tingkat stress seseorang
1. Eksternal
a Orang tua
Orang tua adalah kontak sosial yang paling awal dialami dan yang paling berpengaruh.
Orang tua sangat penting bagi anak, sehingga apa yang mereka komunikasikan akan lebih
berpengaruh daripada informasi lain yang diterima anak sepanjang hidupnya. Orang tua
memberikan arus informasi yang konstan mengenai diri anak. Orang tua juga membantu

dalam menetapkan pengharapan serta mengajarkan anak bagaimana menilai dirinya sendiri.
b

Pengharapan dan penilaian tersebut akan terus terbawa sampai anak menjadi dewasa.
Teman sebaya
Pada remaja pertengahan, sering bereksperimen dengan berbagai orang, berganti gaya
pakaian, kelompok teman, dan minat dari bulan ke bulan. Banyak remaja berfilosofi tentang
arti kehidupan dan keingintahuannya, Siapakah saya? dan Mengapa saya berada di sini?.
Perasaan yang sangat tajam dari kekalutan batin dam kesedihan adalah wajar dan mungkin
sulit dibedakan dengan sakit jiwa. Anak-anak gadis mungkin cenderung untuk
menggambarkan dirinya dan sebayanya berdasarkan hubungan antar perorangan yang erat
(Saya adalah seorang gadis yang mempunyai banyak teman dekat). Sedangkan anak lakilaki sebagai kelompok mungkin lebih memusatkan pada kemampuan diri (Saya baik dalam

olahraga). (Ilmu Kesehatan Anak, Behman Klirgman Arvin).


Peran pendidik
Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Guru kelas bukanlah hakim yang
mendakwa anak dengan tuduhan-tuduhan yang mengarah pada tumbuh kembang konsep diri
negatif. Anak yang selalu diberi label negatif di kelas seperti pemalas akan menjadikan anak
sungguh-sungguh malas. Anak akan berperasaan bahwa dirinya malas. Ungkapan negatif
baik lisan maupun tertulis dari guru akan berdampak pada pembentukan kepribadian anak.

(Seri Pustaka: Familia Konsep Diri Positif: Menentukan Prestasi Anak)


Kebudayaan
Budaya-budaya yang berbeda akan memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan
karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Hal ini terjadi karena budaya
merupakan gaya hidup untuk suatu kelompok manusia tertentu. Meskipun mempunyai
persamaan pada aspek-aspek tertentu, misalnya bahasa dan makanan yang diproses, terdapat
aneka ragam perilaku manusia karena manusia tidak mempunyai budaya yang sama.
Dalam kehidupan sehari-hari, budaya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh setiap
faset aktivitas manusia. Konsep diri sebagai persepsi individu terhadap diri sendiri. Persepsi

tersebut dibentuk melalui pengalaman individu dalam lingkungan sosialnya. Konsep diri juga
tergantung pada interaksi seseorang dengan bermacam-macam variabel sosial, diantaranya
keluarga, kultur, serta teman sebaya. Sebagai konsekuensinya, pada individu-individu yang
berbeda lingkungan atau budayanya, akan berbeda pula konsep diri pada individu-individu
e

tersebut. (Journal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No.2, Desember 2006).


Status sosial
Pada ras-ras tertentu, terdapat karakteristik konsep diri yang unik antara satu dengan
yang lainnya. Sebagai contoh pada ras kulit hitam, yang pada masa itu merupakan kelompok
ras minoritas. Karakteristik yang muncul pada kelompok ras ini adalah kecenderungan untuk
agresif, bersikap defensif terhadap kritik, dan mempunyai nilai konsep diri yang rendah.
Sebagai gambaran sederhana, pada kelompok ras minoritas yang mengalami kesulitan
dalam mendapatkan pekerjaan akibat rendahnya pendidikan atau tidak adanya kesempatan
dalam mendapatkan pekerjaan, dapat menimbulkan perasaan tertinggal dari proses ekonomi
dan peradaban, akibatnya mereka cenderung untuk berperilaku melindungi dirinya dalam

mempertahankan haknya. (Mengukur Konsep Diri Anak, Amaryllia Puspasari)


Keterbatasan Ekonomi
Pada lingkungan dengan keterbatasan ekonomi akan menghasilkan permasalahan
perkembangan yang berkaitan dengan proses pertumbuhan aktualisasi diri. Kesulitan hidup
secara finansial maupun ekonomi, akan menghasilkan konsep diri yang rendah. Beberapa
kasus menunjukkan, pada tingkat kesulitan ekonomi yang berat dapat menyebabkan adanya
depresi.
Telah dilakukan penelitian di Amerika pada kelompok sosial negro. Pada masa itu,
kelompok sosial kulit hitam memiliki keterbatasan dalam mendapatkan pendidikan maupun
pekerjaan yang layak. Secara langsung, menimbulkan akibat adanya kelompok sosial yang
mengalami konsep diri rendah. (Mengukur Konsep Diri Anak)

Pengalaman interpersonal.