Anda di halaman 1dari 4

Maryland Bridge :

Gigi tiruan cekat berbasis ikatan resin atau lebih dikenal denga Maryland Bridge
merupakan gigi tiruan yang membutuhkan preparasi minimal pada prosedurnya dan
menggunakan bahan semen resin komposit untuk perlekatan.
Pada preparasi yang dilakukan untuk maryland bridge beberapa persyaratan harus
dipenuhi untuk mendapatkan resistensi dan rentensi dari gigi tiruan yang akan dibuat.
Preparasi yang dilakukan idealnya hanya melibatkan bagian enamel saja untuk mendapatkan
hasil optimal.
Berikut prosedur yang dilakukan pada pembuatan preparasi gigi tiruan maryland
bridge :
1. Establish lingual clerance
Menentukan daerah preparasi lingual dan kedalaman dari preparasi yang akan
dilakukan

2. Reduce lingual height of contour


Pengurangan daerah lingual menggunakan football diamond bur dengan
kedalaman 0,6-1 mm pada daerah pertemuan interinsisisal, lateral dan area
gerakan prostrusif. Kemudian pada daerah singulum juga dilakukan pengurangan
sedalam 0,3-0,4 mm.
3. Create incisal finishing line
Incisal finishing line merupakan daerah akhir preparasi bagian insisal dari
preparasi lingual restorasi gigi tiruan. Jarak tepi preparasi insisal kurang lebih 2
mm dari insisal. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya bayangan yang nampak
dari logam.
4. Develop Cingulum rest seat
Pembuatan Cingulum rest seat bertujuan untuk :
- Memberikan ketahanan retainer pada posisinya
- Menambah retensi dari hasil penanaman
5. Establishing Interproximal finish line
Membuat garis akhir pada daerah proksimal. Membawa garis akhir finis preparasi
sejauh mungkun dari permukaan labial, hal ini untuk meningkatkan esthetic yang
nampak dari labial
6. Place proximal retenstive grooves

Membuat groove pada daerah proksimal untuk menambah retenasi dari gigi
tiruan. Selain itu juga untuk menambah resistensi dari pergeseran ke arah lingual
dari gigi tiruan.

Selain dari segi preparasi yang harus diperhatikan, pada pembuatan Maryland bridge
juga harus diperhatikan untuk desain dari Bridgenya. Beberapa yang harus diperhatikan
diantara lain :
1. Ketebalan retainer kurang lebih 0,7 mm
2. Perluasan dari retainer untuk mendapatkan retensi dan resistensi tanpa
mengesampingkan dari segi estetik
3. Minimal kontak pada posisi intercusp
4. Mengevaluasi kontak pada pontik agar tekanan pada pontik bisa disalurkan
dengan baik
5. Bisa menggunakan pontik ridge flap ataupun ovate pontik

Tekhnik pembuatan pada gigi tiruan berbasis ikatan resin (Maryland Bridge) :

1. Lakukan restorasi pada gigi yang digunakan untuk penyangga terlebih dahulu
apabila terdapat karies
2. Memastikan ratio dari panjang mahkota dan panjang akar dari gigi penyangga
untuk meningkatkan daerah bonding, retensi dan resistensi
3. Melakukan preparasi pada gigi penyangga sesuai dengan prinsip preparasi yang
telah dijelaskan di atas. Gunakan preparasi minimal, pada gigi yang telah
direstorasi, lakukan perluasan pada daerah restorai jika gigi pernah direstorasi

4. Prosedur laboratoraium dilakukan setelah dilakukan pencetakan dari hasil


preparasi
5. Sebelum dilakukan penyemenan dari gigi tiruan yang telah dikirim dari
laboratorium, dilakukan pengecekan ulang. Baik itu dari gigi tiruannya dan juga
sement opaque dan kemungkinan bayangan abu-abu yang bisa muncul pada saat
gigi tiruan sudah terpasang
6. Pada saat proses penyemenan, sisa- sisa semen yang berlebih bisa dibersihkan
terlebih dahulu sebelum dihaluskan
7. Setelah gigi tiruan jadi, intruksi perawatan untuk pasien harus diberikan agar
memberikan hasil perwawatan yang optimal

Daftar pustaka :

1. Durey K A. Nixon P J. Robinson S. Chan M F M Y. 2011. Resin Bonded Bridges:


Techniques for Succes. British Dental Journal Vol. 211 No. 3 Aug 13 2011