Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dalam agama Islam, terdapat dua sumber hukum
yang utama yakni Al-Quran dan As-Sunnah atau Al-Hadis, di
samping terdapat sumber-sumber hukum yang lain. Yang
mana kedua sumber hukum utama tersebut sangat berkaitan
satu sama lain. Dan salah satu dari beberapa fungsi hadis
adalah sebagai penjelasan daripada hal-hal yang telah
disebutkan dalam Al-Quran. Dari keduanya, ajaran Islam
diambil dan dan dijadikan pedoman utama.1
Dengan berkembangnya zaman, semakin kompleks
pula

permasalahan

dalam

kehidupan

manusia,

tidak

terkecuali dengan permasalahan keagamaan bagi umat Islam


dunia. Hal ini juga menjadi latar belakang akan urgensi
daripada metodologi syarah hadis hingga saat ini.
Walaupun sebenarnya syarah hadis bukanlah hal baru
dalam dunia ilmu hadis. Karena pada dasarnya embrio
munculnya syarah hadis sudah muncul di zaman Rasulullah
SAW, meski belum secara formal dipakai istilah fiqh al-hadits,
fahm al-hadits, dan syarh al-hadits dan sebagainya.2 Namun
hingga saat ini syarah hadis masih terus dilakukan untuk
mendapatkan pemahaman akan hadis-hadis tertentu yang

1 Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis,


sebagaimana dikutip oleh Alif Rodiana Firdausi, dkk, Studi Pendekatan Islam Metode
Hadis dalam Buku: Metodologi Penelitian Hadis oleh Prof. Dr. Suryadi, MA dan Dr.
Muhammad Alfatih Suryadilaga, M.Ag. (makalah), program studi Magister Pendidikan
Agama Islam, Sekolah Pascasarjana, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, hal. 1

2 Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis, (Yogyakarta: SUKA-Press


UIN Sunan Kalijaga, 2012) hal. 5

-1-

kerap diperlukan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan


dalam kehidupan umat Islam.
Untuk itu, sangat penting kiranya dalam makalah ini
dibahas metode syarah hadis yang mana akan dijelaskan
berbagai macam cara memahami sebuah hadis dengan
berbagai

pendekatan

serta

metode-metode

yang

telah

banyak dilaksanakan oleh para pakar hadis baik pada era


klasik maupun kontemporer.
B. Rumusan Masalah
Dengan latar belakang yang telah dipaparkan di atas,
maka dapat dirumuskan masalah-masalah yang akan dibahas
sebagai berikut:
1. Apa pengertian syarah hadis baik secara etimologi dan
terminologi?
2. Bagaimana pendekatan, metode, dan pola syarah hadis?
3. Bagaimana contoh aplikasi syarah hadis?
C. Tujuan Pembahasan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan
pembahasan pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian syarah hadis baik secara etimologi
dan terminologi
2. Menjelaskan pendekatan, metode, dan pola syarah hadis
3. Memaparkan beberapa contoh aplikasi syarah hadis

-2-

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Syarah Hadis


Secara bahasa, syarah hadis terdiri dari dua kata, yakni
syarah dan hadis. Kata syarah sendiri berasal dari bahasa
-
-
yang
Arab, yakni isim mashdar dari kata



berarti menjelaskan. Dengan demikian, kata syarah dapat
pula

diartikan

sebagai

penafsiran,

sebagaimana

telah

dijelaskan oleh Muhammad Alfatih Suryadilaga, ...syarah


sebetulnya bisa dianalogikan dengan tafsir.3
Penggunaan kata syarah lebih cenderung pada hadis, sedangkan tafsir
lebih cenderung digunakan pada level Al-Quran. Hai ini juga telah dijelaskan
oleh Alfatih, Kalau syarah, biasanya berada pada hadis, sedangkan tafsir
berada pada level al-Quran. Akan tetapi definisi atau penganalogian tersebut
bisa mengalami perkembangan bahkan mungkin mempunyai perbedaan yang
sangat jauh dari di atas.4
Dengan pengertian secara etimologi di atas, maka pengertian syarah
hadis adalah usaha yang dilakukan untuk menafsirkan atau memahami sebuah
hadis. Syarah hadis dalam istilah lain disebut juga degan fiqh al-hadis, fahm
al-hadis, dan hermeneutika hadis. Ketiganya memiliki penyebutan yang
berbeda, namun di antara ketiganya hampir mempunyai tujuan yang serupa
yaitu berupaya untuk memahami satu redaksi hadis Nabi.
B. Pendekatan, Metode, dan Pola Syarah Hadis
1. Pendekatan Syarah Hadis
Upaya untuk memahami hadis dapat

dilakukan

dengan berbagai pendekatan, di antaranya:


3 Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis,
(https://suryadilaga.wordpress.com/2012/06/06/metodologi-syarah-hadis/ diakses pada
10 Maret 2015, pukul 09.23 WIB)

4 Ibid.

-3-

a. Pendekatan Histori
Memahami hadis dengan pendekatan histori ini
dengan

memperhatikan

kesejarahan

terhadap

dan

mengkaji

munculnya

aspek

satu

hadis.

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Said Agil


Husin Al-Munawar:
Yang dimaksud dengan pendekatan historis dalam
memahami hadis di sini adalah memahami hadis
dengan cara memperhatikan dan mengkaji situasi
atau peristiwa yang terkait latar belakang
munculnya hadis5
Pendekatan
munculnya

ilmu

menerangkan

ini

biasanya

Asbabul

ditandai

Wurud.

sebab-sebab

Yaitu

mengapa

dengan

ilmu

yang

Rasullah

mengeluarkan satu hadis. Namun tidak semua hadis


dapat dipahami dengan pendekatan ini, sebab terdapat
beberapa hadis yang tidak memiliki sebab khusus
mengapa Nabi menyabdakan hadis tersebut.
Dengan memahami segala hal yang berkaitan
dengan pendekatan historis akan mempertanyakan
mengapa

nabi

bersabda.

Dengan

kata

lain

tujuan

pendekatan ini adalah menemukan generalisasi yang berguna dalam


upaya memahami gejala problem masa kini.6 Sehingga suatu hadis
dipahami tidak secara tekstual, melainkan dipahami berdasarkan latar
belakang kemunculan suatu hadis.
b. Pendekatan Sosiologi
Pendekatan sosiologi

dalam

memahami

hadis

adalah cara untuk memahami hadis Nabi SAW dengan


5 Said Agil Husin Al-Munawar, Asbabul Wurud, sebagaimana dikutip Muhammad Alfatih
Suryadilaga, Metodologi... Op. Cit., hal. 66

6 Musthofa M Thoha, Hermeneutika Hadis (Memahami Hadis dengan Pendekatan


Historis, Sosiologis, dan Antropologis), (dikutip dari laman:
http://katabelantara.blogspot.com/2011/09/hermeneutika-hadist-memahamihadist.html diakses pada 10 Maret 2014 pukul 10.54 WIB)

-4-

memperhatikan dan mengkaji kaitannya dengan kondisi


dan situasi masyarakat pada saat munculnya hadis 7
sesuai dengan tugas sosiologi yang interpretative
understanding of social conduct. Dengan demikian,
bisa dikatakan bahwa pendekatan sosiologi terhadap hadis
adalah mencari uraian dan alasan tentang posisi masyarakat sosial yang
berhubungan dengan ketentuan-ketentuan dalam hadis. Penguasaan
konsep-konsep sosiologi dapat memberikan kemampuan untuk
mengadakan analisis terhadap efektivitas hadis dalam masyarakat,
sebagai sarana untuk mengubah masyarakat agar mencapai keadaankeadaan sosial tertentu yang lebih baik.8
Sebagaimana contoh sabda Nabi berikut ini:

( ) .
Guntinglah kumis dan panjangkanlah jenggot9
Hadis di atas biasanya dipahami secara tekstual
oleh masyarakat pada umumnya. Mereka berpendapat
bahwa Nabi telah memerintahkan untuk mengguntung
kumis

dan

memelihara

memanjangkannya.
menganggap
merupakan

Masyarakat

bahwasanya
salah

jenggot

satu

pada

dengan
umumnya

ketentuan
kesempurnaan

tersebut
dalam

mengamalkan ajaran Islam.


Namun bila dipahami seksama, perintah tersebut
relevan untuk masyarakat Arab yang secara alamiah
mereka memiliki rambut yang subur, termasuk pada
bagian kumis dan jenggot. Hal ini yang tidak dimiliki
7 Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi; Metode dan Pendekatan, sebagaimana dikutip
Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi ...., Op. Cit., hal. 78

8 Musthofa M Thoha, Hermeneutika Hadis (Memahami Hadis dengan Pendekatan


Historis, Sosiologis, dan Antropologis), Loc. Cit.

9 Kurdi dkk, Hermeneutika Al Quran dan Hadist, sebagaimana dikutip Musthofa M


Thoha, Ibid.,

-5-

oleh masyarakat Indonesia. Sehingga jika dipaksakan


untuk orang Indonesia, justru akan menjadi tidak enak
dipandang.
Dengan realitas tersebut, maka hadis di atas perlu
dipahami tidak secara tekstual, melainkan dipahami
secara kontekstual. Sebab, kandungan hadis tersebut
bersifat lokal dan dilatarbelakangi oleh kondisi sosiologis
masyarakat Timur Tengah.10
c. Pendekatan Antropologi
Antropologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu
antropos dan logo. Antropos berarti manusia atau orang.
Sedangkan

logos

mempelajari

bermakna

manusia

sebagai

ilmu.

Antropologi

makhluk

biologis

sekaligus sebagai makhluk sosial. Dari definisi tersebut,


dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu
sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi
keanekaragaman

fisik

serta

kebudayaan

(cara-cara

berperilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan


sehingga

setiap

manusia

yang

satu

dan

lainnya

berbeda.11
Objek dari antropologi adalah manusia di dalam
masyarakat suku bangsa, kebudayaan dan perilakunya.
Jika budaya tersebut dikaitkan dengan agama, maka
agama

yang

dipelajari

adalah

sebuah

fenomena

budaya, bukan sebagai ajaran agama yang datang


dengan perantara Rasul dan sebagainya.
Pendekatan antropologi dalam memahami hadis
adalah memahami hadis dengan melihat wujud praktek
10 Ibid
11 Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis, Op. Cit., hal. 87-89

-6-

keagamaan

yang

tumbuh

dan

berkembang

dalam

masyarakat, tradisi dan budaya yang berkembang


dalam

masyarakat

pada

saat

hadis

tersebut

disabdakan.12
Dengan demikian, jika pendekatan antropologi
budaya tersebut dikaitkan dengan hadis Nabi, maka
hadis Nabi yang dipelajari di sini adalah sebagai
fenomena budaya. Dan pendekatan antropologi tidaklah
membahasa salah dan benar suatu hadis baik Sand
maupun matannya. Melainkan hanya membahas kajian
terhadap

fenomena

yang

berkaitan

dengan

hadis

tersebut. Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh


Muhammad Alfatih Suryadilaga:
Jika antropologi budaya .... dikaitkan dengan
hadis, maka hadis hadis yang dipelajari adalah
hadis sebagai fenomena budaya. Pendekatan
antropologi tidak membahas salah benarnya suatu
hadis
dan
segenap
perangkatnya,
seperti
kesahihan Sand dan matan dll, wilayah pendekatan
ini hanya terbatas pada kajian fenomena yang
muncul yang ada kaitannya dengan hadis
tersebut.13
Berikut adalah contoh hadis yang dipahami dengan
pendekatan antropologi:





14

12 Muhammad Khoirul Anam, Hadis-hadis tentang Menyemir Rambut (Studi Studi


Maani al-Hadis), skripsi, Jurusan Tafsir dan Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas
Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009, hal. 43

13 Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis, Op. Cit., hal. 90

-7-

Al Humaidi telah bercerita kepada kami (al Bukhari), Sufyan telah


bercerita kepada kami, al Amasy telah bercerita kepada kami, dari
Muslim dia berkata: Kami dulu bersama Masruq di rumah Yasar bin
Numair, maka Masruq melihat di halaman depan rumah Yasar, ada
patung-patung. Maka dia berkata: Saya mendengar Abdullah
berkata Saya mendengar Nabi Bersabda: sesungguhnya orang yang
paling keras siksanya di sisi Allah adalah para pelukis. (Muttafaqun
Alaihi)
Jika dicermati dengan pendekatan antropologis,
maka

hadis

itu

sangat

terkait

dengan

praktisi

keagamaan masyarakat yang saat itu belum lama


terlepas

dari

animisme

dan

dinamisme,

yaitu

penyembahan patung dan sebagainya, sehingga perlu


adanya pelarangan keras, agar tidak terjerumus dalam
kemusyrikan. Hadis ini secara antropologi disabdakan
dalam situasi masyarakat transisi dari kepercayaan
animisme dan politeisme ke kepercayaan monoteisme
oleh karena itu pelarangan tersebut sangat relevan.15
d. Pendekatan Sains
Pendekatan sains

adalah

suatu

cara

untuk

memperoleh pengetahuan yang sistematis sehingga


memunculkan suatu hal yang baru dengan melakukan
suatu

penelitian

eksperimen.

yang

Dengan

bersifat
pendekatan

observasi

dan

melalui

ilmu

pengetahuan (sains) dapat membentuk nalar ilmiah


yang

berbeda

dengan

nalar

awam

atau

khurafat

(mitologis).16
14 Shahih Muslim, sebagaimana dikutip Musthofa M Thoha, Loc. Cit.
15 Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi; Metode dan Pendekatan, sebagaimana dikutip
Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi ...., Op. Cit., hal. 92

16 Anonim, Metode Syarah Hadis Kontemporer, (diakses dari


https://syahmi2.wordpress.com/2013/02/03/metode-syarah-hadis-kontemporer/ pada
tanggal 10 Maret 2015, pukul 15.23 WIB)

-8-

Nalar ilmiah ini tidak mau menerima kesimpulan


tanpa menguji premis-premisnya, hanya tunduk kepada
argumen

dan

pembuktian

yang kuat,

tidak

sekedar

mengikuti emosi dan dugaan semata. Bentuk itu pula


kiranya dalam memahami kontekstual hadis diperlukan
pendekatan seperti ini agar tidak terjadi kekeliruan untuk
memahaminya.17
Dengan pendekatan melalui sains, pemahaman

hadis yaitu dengan memperhatikan dan mengkaji hadis


sesuai dengan konteks zaman sekarang di mana ilmu
pengetahuan sudah semakin berkembang dan teknologi
sudah semakin maju. Mengingat banyaknya temuantemuan di bidang sains dan teknologi saat ini, akan
sangat memungkinkan untuk menggunakan teori-teori
atau fakta-fakta ilmiah dalam kajian kontekstual hadis.18
Berikut ini adalah contoh hadis yang dipahami
menggunakan pendekatan sains:
1) Hadis Bukhari, on. 1909








Telah menceritakan kepada kami Adam, telah
menceritakan kepada kami Syubah, telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad ia
berkata, aku mendengar Abu Hurairah ra berkata,
Nabi SAW bersabda, atau bersabda Abu al-Qasim
SAW:Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan
lebaranlah kalian karena melihat bulan, maka jika
17 Yusuf Qardawi, As-Sunnah sebagai Sumber IPTEK dan Peradaban, sebagaimana
dikutip Anonim, Ibid.

18 Ibid

-9-

kalian tidak bisa melihatnya karena terhalang oleh


mega, maka sempurnakanlah bilangan bulan
Syaban 30 hari.
2) Hadis Muslim no. 2567 dan no. 2568







.



Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Ziyad,
telah menceritakan kepada kami bapaku, telah
menceritakan kepada kami Syubah dari Muhammad
bin Ziyad ia berkata, aku mendengar Abu Hurairah ra
berkata, Rasulullah SAW bersabda: Berpuasalah
kalian karena melihat bulan dan lebaranlah kalian
karena melihat bulan, maka jika kalian tidak bisa
melihat bulan karena terhalang oleh mega, maka
hitunglah (sempurnakan) bilangannya 30 hari.








.


Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Ziyad,
telah menceritakan kepada kami bapaku, telah
menceritakan kepada kami Syubah dari Muhammad
bin Ziyad ia berkata, aku mendengar Abu Hurairah ra
berkata, Rasulullah SAW bersabda: Berpuasalah
kalian karena melihat bulan dan lebaranlah kalian
karena melihat bulan, maka jika kalian tidak bisa
melihat bulan karena terhalang oleh mega, maka
hitunglah (sempurnakan) bilangannya 30 hari.
2. Metode Syarah Hadis
Dalam memahami sebuah hadis, diperlukan tata cara
atau disebut juga dengan metode syarah hadis. Di dalam

-10-

kitab hadis, dikenal ada 3 metode yang biasa digunakan


ulama dalam memahami hadis, yakni sebagai berikut:
a. Metode Tahlili (Analisis)
Tahlil berasal dari bahasa Arab yakni
yang berarti menguraikan, menganalisis.19 Yang
dimaksud dengan tahlil di sini adalah menguraikan dan
menganalisis makna-makna yang terkandung dalam
hadis Nabi SAW dengan memaparkan aspek-aspek yang
terkandung di dalamnya sesuai dengan kecenderungan
pensyarah.20
Ciri-ciri kitab syarah yang menggunakan metode
tahlili adalah sebagai berikut:
1) Pensyarahan dilakukan dengan

pola

penjelasan

makna yang terkandung di dalam hadis secara


komprehensif dan menyeluruh
2) Dalam pensyarahan, hadis dijelaskan kata demi kata,
kalimat demi kalimat secara berurutan serta tidak
terlewatkan juga menerangkan asbabul wurud dari
hadis yang dipahami jika hadis tersebut memiliki
asbabul wurud
3) Diuraikan
pula

pemahaman-pemahaman

yang

pernah disampaikan oleh para sahabat, tabiin, dan


para ahli syarah hadis lainnya dari berbagai disiplin
ilmu
4) Di samping

itu

sudah

ada

usaha

muhasabah

(hubungan) antara satu hadis dengan hadis lain


5) Selain itu, kadang kala syarah dengan metode ini
diwarnai kecenderungan pensyarah pada salah satu
mazhab tertentu, sehingga timbul berbagai corak
19 Al-Munawwir
20 Nizar Ali, (Ringkasan Disertasi) Kontribusi Imam Nawawi dalam Penulisan Syarah
Hadis, sebagaimana dikutip Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi ..., Op. Cit.,
hal. 19-20.

-11-

pensyarahan, seperti corak fiqhy, dan corak lain yang


dikenal dalam bidang pemikiran Islam.21
Beberapa contoh kitab yang menggunakan metode
tahlili ini antara lain Fath al-Bari bi Syarhi Shahih alBukhari karya Ibn Hajar al-Atsqlanai, Ibanatul Ahkam bi
Syarhi

al-Bulughul

Maram,

Subulus

Salam

karya

Shanani, Al-Kawakib al-Dairari fi Syarhi Shahih alBukhari karya Syamsudin Muhammad bin Yusuf bin Ali
al-Kirmani, kitab Al-Irsyad al-Syari li Syarhi Shahih alBukhari karya Ibnu Abbas Syihab al-Din Ahmad bin
Muhammad al-Qastalani atau kitab Syarah al-Zarqani
ala Mutawatha ala Imam Malik karya Muhammad bin
Abdul Baqi bin Yusuf al-Zarqani, dan lain-lain.22
Berikut ini beberapa kelebihan dari penggunaan
metode tahlili, antara lain:23
ruang lingkup pembahasan yang sangat luas
Metode ini mempunya ruang lingkup yang luas,
metode ini dapat digunakan dengan dua sisi yakni
bilmatsur atau bilrayi, yang mana keduanya masih
dapat dikembangkan lagi ke dalam berbagai corak
sesuai dengan keahlian pensyarah masing-masing.
memuat berbagai ide dan gagasan
Metode ini memberikan cukup raung kepada
pensyarah untuk mengembangkan penjelasannya
dengan berbagai ide dan gagasan dari masing-

21 Nizar Ali, (Ringkasan Disertasi), Kontribusi Imam Nawawi dalam Penuliasan Syarah
Hadis, sebagaimana Dikti Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi ..., Ibid., hal. 2021

22 Muhammmad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Syarah Hadis Era Klasik hingga


Kontemporer Potret Konstruksi Metodologi Syarah Hadis, sebagaimana dikutip
Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi ..., Loc. Cit., hal. 19-20

23 Ibid., hal. 26-18

-12-

masing pensyarah dalam mensyarah hadis yang


dibahas.
Di samping beberapa kelebihan di atas, terdapat
pula kekurangan pada penggunaan metode tahlili ini
dalam mensyarah hadis Nabi, di antaranya:
petunjuk hadis bersifat parsial atau terpecah-pecah
Metode tahlili seolah-olah memberikan pedoman
secara

tidak

utuh

dan

tidak

konsisten

yang

disebabkan oleh syarah yang diberikan pada sebuah


hadis berbeda dengan syarah yang diberikan pada
hadits

lain

yang

sama,

karena

kurang

memperhatikan hadis lain yang mirip atau sama


redaksinya dengannya.24
melahirkan syarah yang subjektif
Dalam metode ini, pensyarah bebas memasukkan
ide-ide dan gagasan-gagasan dari pensyarah itu
sendiri. Sehingga disadari atau tidak, hal ini telah
menimbulkan penjelasan sesuai dengan kemauan
pensyarah. Dengan demikian subjektivitas pun akan
muncul sesuai dengan perspektif pensyarah hadis.
Contoh syarah hadis dengan menggunakan
metode tahlili dalam kitab Fath Bari bab Fadhl Wudhu
juz 1, sebagai berikut:

: ) ( :

.
. : ) ( :
) ( :
24 Joko Wahyono, Metode Syarah Hadis, makalah, (diakses dari http://joko-

document.blogspot.com/2014/02/metode-syarah-hadits.html pada 10 Maret 2015 pukul


10.29 WIB)

-13-




- -
:

.
) : (


.







:

. " "
: .


;

.
) : (
.
) :
-14-

( : .



.

" "
:


.

.

:
. . . -
-


.

:
.


.
:
- -

.



-15-

.

-
-



. - .
;




25
. .
b. Metode Ijmali (Global)
Metode ijmali dalam memahami hadis Nabi adalah
dengan cara menjelaskan hadis-hadis dengan urutan
dalam kitab hadis (kutub as-sittah) secara ringkas
namun dapat merepresentasikan makna literal hadis
dengan bahasa yang mudah dipahami.26
Metode ini mempunyai kemiripan dengan metode
tahlili dalam segi sistematika pembahasannya. Hanya
saja,

perbedaannya

terletak

pada

keterperincian

penjelasan, yakini pada metode tahlili hadis disyarah


secara detail dan penjelasnanya secara panjang lebar
sehingga

lebih

banyak

mengemukakan

pendapat-

pendapat ide-ide pensyarahnya. Sedangkan metode


ijmali,

penjelasannya

sehingga

metode

lebih

ini

tidak

ringkas
banyak

dan

memaparkan

25 Ibnu Hajar Al-Atsqolani, Fathul Bari, Juz 1, pdf,


26 Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi ..., Loc. Cit., hal., hal. 30

-16-

general,

pendapat-pendapat serta ide-ide pensyarahnya. Meski


demikian tidak menutup kemungkinan pula suatu hadis
memerlukan penjelasan yang mendetail dengan metode
ini, namun penjelasannya tidak seluas metode tahlili.
Sebagaimana metode tahlili, metode ijmali juga
memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Berikut
ini beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode
ini:27
1) Kelebihan
ringkas dan padat
Dengan metode ijmali, maka pensyarah hadis
akan

mensyarah

suatu

hadis

secara

global.

Sehingga penjelasannya pun tidak terlalu berteletele dan mudah untuk dipahami oleh pembaca.
Metode memang sangat tepat jika pembaca
memerlukan suatu penjelasan dari sebuah hadis
secara cepat, sebab waktu yang diperlukan untuk
memperoleh penjelasan cukup singkat.
bahasa mudah dipahami
Bahasa yang digunakan pensyarah pada metode
ijmali ini cukup mudah untuk dipahami oleh
pembaca. Sebab pensyarah tidak menjelaskan
hadis

secara

panjang

lebar

mencantumkan analisis pensyarah.

27 Ibid., hal. 43-44

-17-

dan

tidak