Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar

rongga uterus, Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik


berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun, frekwensi kehamilan
ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi
atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi si
penderita. (Winkjosastro, 2005)
Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba
dan

peristiwa

ini

disebut

sebagai

Kehamilan

Ektopik

Terganggu.

Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%) terutama di


ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun
uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik
adalah penyakit radang panggul, pemakaian antibiotika pada penyakit radang
panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim IUD (Intra Uterine Device),
riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas, kontrasepsi yang memakai
progestin dan tindakan aborsi. Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik
terganggu tergantung lokasi dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat
meningkatkan vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial menimbulkan
ruptur organ, terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat
mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak
mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat. (Marten,2009)
Menurut SKDI tahun 2010, proporsi kematian Ibu di Indonesia mencapai
11534 kematian. 50% kematian terjadi di 5 propinsi, 15% kematian terjadi di 14
propinsi. Kematian maternal disebabkan karena perdarahan dan eklampsia. Angka
kematian ibu menurun dari 307 per 100.000 KH pada tahun 2002 menjadi 228 per
100.000 KH pada tahun 2007 (SDKI) . Target tahun 2014 adalah 110 per 100.000
KH. (Yasir, 2011).

Kehamilan ektopik merupakan salah satu kehamilan yang berakhir


abortus, dan sekitar 16 % kematian oleh sebab perdarahan dalam kehamilan
dilaporkan disebabkan oleh kehamilan ektopik yang pecah. Kehamilan ektopik
terjadi apabila hasil konsepsi berimplantasi, tumbuh dan berkembang di luar
endometrium normal. Kehamilan ektopik ini merupakan kehamilan yang
berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubung dengan besarnya
kemungkinan terjadi keadaan gawat. Keadaan gawat ini dapat terjadi apabila
Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) dimana terjadi abortus maupun ruptur tuba.
Abortus dan ruptur tuba menimbulkan perdarahan ke dalam kavum abdominalis
yang bila cukup banyak dapat menyebabkan hipotensi berat atau syok. Bila tidak
atau terlambat mendapat penanganan yang tepat penderita akan meninggal akibat
kehilangan darah yang sangat banyak. (Admin,2008)
1.2 Rumusan masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa yang dimaksud dengan kehamilan ektopik?


Apa penyebab dari kehamilan ektopik?
Apa tanda dan gejala dari kehamilan ektopik?
Apa patofisiologi dari kehamilan ektopik?
Apa komplikasi dari kehamilan ektopik?
Apa saja pemeriksaan penunjang dari kehamilan ektopik?
Apa saja penanganan dari kehamilan ektopik?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari kehamilan ektopik
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk mengetahui penyebab dari kehamilan ektopik


Untuk mengetahui tanda dan gejala dari kehamilan ektopik
Untuk mengetahui patofisiologi dari kehamilan ektopik
Untuk mengetahui komplikasi dari kehamilan ektopik
Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari kehamilan ektopik
Untuk mengetahui penanganan dari kehamilan ektopik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi kehamilan ektopik terganggu

Kehamilan ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan


tumbuh di luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sama
dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pada pars interstisialis tuba dan
kanalis serviks masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba. Sangat jarang
terjadi implantasi pada ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk
uterus yang rudimenter, dan divertikel pada uterus. Berdasarkan implantasi
hasil konsepsi pada tuba, terdapat kehamilan pars interstisialis tuba, kehamilan
pars ismika tuba, kehamilan pars ampularis tuba, dan kehamilan infundibulum
tuba.1
Kehamilan

di

luar

tuba

ialah

kehamilan

ovarial,

kehamilan

intraligamenter, kehamilan servikal, dan kehamilan adominal yang bisa primer


atau sekunder.1
Kehamilan intrauterine dapat ditemukan bersamaan dengan
kehamilan ekstrauterin. Dalam hal ini dibedakan dua jenis, yaitu combined
ectopic pregnancy dimana kehamilan intaruterin terdapat pada waktu yang
sama dengan kehamilan ekstrauterin dan compound ectopic pregnancy yang
merupakan kehamilan intrauterin pada wanita dengan kehamilan ekstrauterin
lebih dahulu dengan janin sudah mati dan menjadi litopedion.

2.2 Epidemiologi kehamilan ektopik terganggu


Telah terjadi peningkatan nyata jumlah absolut dan angka kematian
ektopik di Amerika Serikat selama dua dekade belakangan. Jumlah sebenarnya
telah meningkat melampaui proporsi pertumbuhan penduduk. 2
Insiden kehamilan ektopik pada wanita bukan kulit putih lebih tinggi
pada setiap kategori usia dibanding pada wanita kulit putih, dan perbedaan ini
meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Secara keseluruhan, pada tahun
1989 seorang wanita bukan kulit putih memiliki peningkatan resiko kehamilan
ektopik sebesar 1,4 kali dibanding dengan seorang wanita kulit putih.
Gabungan faktor ras dan peningkatan usia sekurang-kurangnya merupakan
faktor tambahan. Sebagai contoh, wanita bukan kulit putih berusia 35 sampai
44 tahun lima kali lebih mungkin mengalami kehamilan ektopik daripada
wanita kulit putih berusia 15 sampai 24 tahun.2
Angka kehamilan ektopik per 1000 kehamilan yang dilaporkan
meningkat empat kali lipat dari tahun 1970 sampai 1992. Peningkatan ini lebih
besar pada wanita bukan kulit putih dibanding pada wanita kulit putih dan
untuk keduanya, insiden meningkat seiring dengan pertambahan usia. Dengan
kata lain, pada tahun 1992 hampir 2 persen dari seluruh kehamilan adalah
kehamilan ektopik. Yang penting, kehamilan ektopik bertanggung jawab
terhadap 10 persen dari semua kematian yang disebabkan oleh kehamilan.2
Peningkatan angka KET adalah disebabkan oleh :
1. Meningkatnya prevalensi infeksi tuba akibat penularan seksual
2. Diagnosis lebih dini dengan pemeriksaan gonadotropin korionik yang
sensitif dan ultrasonografi transvaginal pada beberapa kasus terjadi
resorpsi sebelum dilakukan diagnosis pada masa lalu.
3. Popularitas kontrasepsi yang mencegah kehamilan intrauterine tetapi
tidak untuk kehamilan ekstrauterine.
4. Sterilisasi tuba yang gagal
5. Induksi aborsi yang diikuti dengan infeksi

6. Meningkatnya penggunaan teknik reproduksi dengan bantuan.


7. Bedah tuba, termasuk riwayat salpingotomi serta tuboplasti untuk
kehamilan tuba
2.3 Etiologi kehamilan ektopik terganggu
Sebagian besar penyebab kehamilan ektopik tidak diketahui. Tiap
kehamilan dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba, dan dalam
perjalanan ke uterus telur mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi
masih di tuba, atau nidasinya di tuba dipermudah.

1-6

Faktor faktor yang

memegang peranan dalam hal ini ialah sebagai berikut :


1.

Faktor dalam lumen tuba 2-3 :


-

endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping,


sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu

pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berlekuk lekuk dan
hal ini sering disertai gangguan fungsi silia endosalping

operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat


menjadi sebab lumen tuba menyempit

2.

Faktor pada dinding tuba 2-3 :


-

endometriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang


dibuahi dalam tuba

divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat


menahan telur yang dibuahi di tempat itu

3.

Faktor di luar dinding tuba 2-3


-

perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat


menghambat perjalanan telur

4.

tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba

Faktor lain 2-3 :


-

migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba


kiri atau sebaliknya dapat memperpanjang perjalanan telur yang
dibuahi ke uterus ; pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat
menyebabkan implantasi prematur

Faktor hormonal

Pada akseptor, pil KB yang hanya mengandung progesteron dapat


mengakibatkan gerakan tuba melambat. Apabila terjadi pembuahan
dapat menyebabkan terjadinya ektopik.
-

pemakai IUD di mana proses peradangan yang dapat timbul pada


endometrium

dan endosalping

dapat

menyebabkan

terjadinya

kehamilan ektopik. Faktor umum penderita yang sudah menua dan


faktor perokok juga sering dihubungkan dengan terjadinya kehamilan
ektopik.
Bedasarkan tingkat resikonya, faktor resiko KET dapat dibagi menjadi 2-3 :
Resiko tinggi
o Rekonstruksi tuba
o Sterilisasi tuba
o Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
o Paparan Dietilstilbestrol (DES) intrauterine
o Alat kehamilan dalam rahim (AKDR)
o Patologi tuba
Resiko sedang
o Infertil
o Riwayat Infeksi genital
o Sering berganti pasangan
Resiko ringan
o Riwayat operasi pelvik atau abdominal sebelumnya
o Merokok
o Douching
o Koitus sebelum umur 18 tahun
2.4 Patofisiologi kehamilan ektopik terganggu
1. Kehamilan Tuba

Fertilisasi dapat terjadi di bagian mana saja di tuba falopi, sekitar


55% terjadi di ampula, 25% di ismus, 17% di fimbria.Oleh karena lapisan
submukosa di tuba falopii tipis, memungkinkan ovum yang telah dibuahi
dapat segera menembus sampai ke epitel, zigot akan segera tertanam di
lapisan muskuler. Trofoblas berproliferasi dengan cepat dan menginvasi
daerah sekitarnya. Secara bersamaan, pembuluh darah ibu terbuka
menyebabkan terjadi perdarahan di ruang antara trofoblas, atau antara
trofoblas dan jaringan di bawahnya. Dinding tuba yang menjadi tempat
implantasi zigot mempunyai ketahanan yang rendah terhadap invasi
trofoblas. Embrio atau janin pada kehamilan ektopik seringkali tidak
ditemukan atau tidak berkembang.1-6

Pada yang pertama telur berimplantasi pada sisi atau ujung jonjot
endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya
vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini kemudian diresorbsi. Pada
nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping.
Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh
lapisan

jaringan

yang

menyerupai

desidua

dan

dinamakan

pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna


malahan kadang

- kadang tidak tampak, dengan mudah vili korialis

menembus endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot otot tuba


dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin
selanjutnya bergantung pada beberapa faktor, seperti tempat implantasi,
tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi
trofoblas. 1-6
Di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus
luteum graviditatis dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek ;
endometrium dapat berubah pula menjadi desidua. Dapat ditemukan pula
perubahan perubahan pada endometrium yang disebut fenomena Arias
Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik,
lobuler dan berbentuk tak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang lubang
atau berbusa, dan kadang kadang ditemukan mitosis. Perubahan tersebut
hanya ditemukan pada sebagian kehamilan ektopik. 1-6
2. Abortus Tuba
Terjadinya abortus tuba bergantung pada lokasi implantasi.
Umumnya terjadi bila implantasi di ampulla, sebaliknya ruptur tuba
terutama

bila

implantasi

di

daerah

ismus.

Adanya

perdarahan

menyebabkan plasenta dan membran terlepas dari dinding tuba. Jika


plasenta terlepas seluruhnya, semua produk konsepsi dapat keluar melalui
fimbria ke rongga abdomen. Saat itu perdarahan dapat berhenti dan gejala
umumnya menghilang. Perdarahan akan tetap terjadi selama produk
konsepsi tetap berada di tuba. Darah akan menetes sedikit-sedikit melalui
tuba dan berkumpul di kavum Douglasi. Jika fimbria mengalami oklusi,
darah akan terkumpul di tuba membentuk hidrosalfing. 1-6
3. Ruptur Tuba
Produk konsepsi yang melakukan invasi dapat menyebabkan tuba
pecah pada beberapa tempat. Jika tuba ruptur pada minggu-minggu
pertama kehamilan, biasanya implantasi terjadi di ismus, jika implantasi
terjadi di pars intertitial, ruptur terjadi agak lebih lambat. Ruptur umumnya

terjadi spontan, tetapi dapat pula disebabkan oleh trauma akibat koitus dan
pemeriksaan bimanual. 1-6
Saat ruptur semua hasil konsepsi keluar dari tuba, atau jika robekan
tuba kecil, perdarahan hebat dapat terjadi tanpa disertai keluarnya hasil
konsepsi dari tuba. Jika hasil konsepsi keluar ke rongga abdomen pada
awal kehamilan, implantasi dapat terjadi di daerah mana saja rongga
abdomen, asal terdapat sirkulasi darah yang cukup sehingga dapat bertahan
dan berkembang. Namun hal tersebut jarang terjadi. Sebagian besar hasil
konsepsi berukuran besar dapat tertahan di kavum Douglasi membentuk
massa yang berkapsul atau mengalami kalsifikasi membentuk lithopedon.
1-6

Beberapa jenis kehamilan lain:


1. Kehamilan Abdominal
Kehamilan abdominal dapat terjadi akibat implantasi langsung
hasil konsepsi di dalam kavum abdomen yang disebut sebagai kehamilan
abdominal primer, atau awalnya dari kehamilan tuba yang ruptur dan hasil

10

konsepsi yang terlepas selanjutnya melakukan

implantasi di kavum

abdomen yang disebut sebagai kehamilan abdominal sekunder. 1-6


Efek kehamilan tuba yang ruptur terhadap kelangsungan kehamilan
bervariasi, tergantung pada luasnya kerusakan plasenta. Janin akan mati
bila plasentanya rusak cukup luas. Akan tetapi, jika sebagian besar
plasenta tertahan di tempat perlekatannya rusak cukup luas. Akan tetapi,
jika sebagian besar plasenta tertahan di tempat perlekatanya di tuba,
perkembangannya lebih lanjut bisa terjadi. Selain itu, plasenta dapat pula
terlepas dari tuba dan mengadakan implantasi dapat struktur panggul,
termasuk uterus, usus, ataupun dinding panggul. 1-6
Keluhan yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen, nausea,
muntah, malaise, dan nyeri saat janin bergerak. Gambaran klinik yang
paling sering ditemukan adalah nyeri tekan abdomen, presentasi janin
abnormal dan lokasi serviks yang berubah. USG merupakan metode
pemeriksaan yang akurat untuk menegakkan diagnosis, tetapi yang dapat
didiagnosis sebelum terjadi perdarahan intraabdominal kurang dari
setengah

kasus.

Pilihan

penanganan

adalah

segera

melakukan

pembedahan, kecuali pada beberapa kasus tertentu, seperti usia kehamilan


mendekati viabel. Jika memungkinkan jaringan plasenta sebaiknya
dikeluarkan, jika tidak, dapat dilakukan pemberian metrotreksat. 1-6
2. Kehamilan Ovarial
Gejala klinik hampir sama dengan kehamilan tuba. Kenyatannya,
kehamilan ovarial seringkali dikacaukan dengan perdarahan korpus luteum
saat pembedahan, diagnosis seringkali dibuat setelah pemeriksaan
histopatologi. Kriteria diagnosis termasuk tuba ipsilateral utuh, jelas
terpisah dari ovarium, kantong gestasi berada di ovarium, kantong
kehamilan berhubungan dengan uterus melalui ligamentum ovarium,
jaringan ovarium di dinding kantong gestasi. 1-6
3. Kehamilan Servikal
Riwayat dilatasi dan kuret merupakan faktor predisposisi
kehamilan serviks, ditemukan pada lebih dari 2/3. Selain itu, tindakan In

11

vitro fertilization (IVF) dan riwayat seksio sesarea sebelumnya juga


meningkatkan risiko. Gejala yang umum ditemukan adalah perdarahan
pervaginam tanpa disertai nyeri. Pada umumnya serviks membesar,
hiperemis atau sianosis. Seringkali diagnosis ditegakkan hanya secara
kebetulan saat melakukan pemeriksaan USG rutin atau saat kuret karena
dugaan abortus inkomplit. Diagnosis awal ditegakkan dengan observasi
kantong kehamilan di sekitar serviks saat melakukan pemeriksaan USG.
Bila

kondisi

hemodinamik

stabil,

penanganan

koservatif

untuk

mempertahankan uterus merupakan pilihan. Pemberian metroteksat


dengan cara lokal dan atau sistemik menunjukkan keberhasilan sekitar
80%. Histerektomi dianjurkan jika kehamilan telah memasuki trimester
kedua akhir ataupun ketiga. 1-6
2.5 Diagnosis dan gejala klinis kehamilan ektopik terganggu
1. Anamnesis
Amenorea
Amenore yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai
beberapa bulan atau hanya haid yang tidak teratur. Kadang kadang
dijumpai keluhan hamil muda dan gejala hamil lainnya. Sekitar
seperempat wanita tidak melaporkan amenore, mereka menyalahkan
perdarahan uterus yang sering terjadi pada kehamilan tuba sebagai
menstruasi

yang

sebenarnya.

Ketika

dukungan

endokrin

untuk

endometrium menurun, perdarahan biasanya sedikit, bewarna coklat tua,


dan dapat intermiten atau kontinu. Meskipun perdarahan per vaginam
yang banyak lebih sugestif untuk abortus inkomplet daripada kehamilan
ektopik, perdarahan semacam itu kadang kala ditemukan pada kehamilan
tuba. 1-6
Nyeri Tekan Abdomen dan Pelvis 97%
Pada abortus tuba keluhan dan gejala kemungkinan tidak begitu
berat, hanya rasa sakit di perut dan perdarahan pervaginam. Hal ini dapat
dikacaukan dengan abortus biasa. Bila tejadi ruptur tuba, maka gejala

12

akan lebih hebat dan dapat membahayakan jiwa si ibu. Perasaan nyeri
dan sakit yang tiba tiba di perut, seperti diiris dengan pisau dan disertai
muntah dan bisa jatuh pingsan. 1-6
Perdarahan pervaginam 79%
Tanda - tanda akut abdomen
Nyeri tekan yang hebat (defiance musculer), muntah, gelisah,
pucat, anemis, nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur
(syok). 1-6
Nyeri bahu
Karena perangsangan subdiafragma karena adanya darah pada
cavum abdominale.1-6
2. Premeriksaan fisik
1.

Pada pemeriksaan fisik


Tekanan darah dan Denyut Nadi
Sebelum ruptur, tanda-tanda vital umumnya normal. Respon dini
terhadap perdarahan sedang dapat berkisar dari tanpa perubahan
tanda vital hingga sedikit peningkatan tekanan darah, atau respon
vasovagal disertai bradikardia dan hipotensi. Tekanan darah akan
turun dan denyut nadi meningkat hanya jika perdarahan berlanjut
dan hipovolemianya menjadi nyata. 1-6
Suhu
Setelah perdarahan akut, suhu dapat normal atau bahkan rendah.
Suhu dapat mencapai 38oC, tetapi suhu yang lebih tinggi jarang
bila tidak ada infeksi. Demam penting untuk membedakan
kehamilan tuba yang mengalami ruptur dengan beberapa kasus
salpingitis akut. 1-6
Palpasi dan Perkusi abdomen
Ada tanda tanda perdarahan intra abdominal (shifting dullness). 1-6

2.

Pemeriksaan ginekologik (periksa dalam) terdapat :


-

Adanya nyeri goyang porsio : dengan menggerakkan porsio dan


serviks ibu akan merasa sakit yang sangat.1-6

13

Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan cavum douglasi.1-6

Kavum Douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah,


begitu pula teraba masa retrouterin (masa pevis).1-6

Massa Pelvis
Massa pelvis dapat diraba pada sekitar 20% wanita. Ukuranya
berkisar antara 5 sampai 15 cm, dan massa seperti ini sering kali
lunak dan elastis. Bila infiltrasi darah ke dalam dinding tuba luas,
massanya mungkin keras. Massa ini hampir selalu terletak di
posterior atau lateral dari uterus. Nyeri dan nyeri tekan sering
menghalangi identifikasi massa tersebut melalui palpasi. 1-6

Pervaginam keluar desidual cast

Kuldosentesis (Douglas pungsi)


Untuk mengetahui adakah darah dalam kavum Douglasi
Bila keluar darah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak
membeku atau hanya berupa bekuan bekuan kecil di atas
kain kasa maka hal ini dikatakan positif (fibrinasi) dan
menunjukkan adanya hematoma retrouterina
Bila darah segar berwarna merah dan dalam beberapa menit
membeku ; hasil negatif karena darah ini berasal dari arteri
atau vena yang kena tusuk

3. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan lab
i.

Hemoglobin, Hematokrit dan Hitung Leukosit


Setelah terjadi perdarahan, volume darah yang berkurang
dipulihkan menjadi normal dengan hemodilusi dalam waktu satu
hari atau lebih. Oleh karena itu, setelah perdarahan banyak
sekalipun, pembacaan nilai hemoglobin atau hemotokrit pada
awalnya mungkin hanya menunjukkan sedikit penurunan.
Untuk beberapa jam pertama setelah perdarahan akut,
penurunan kadar hemoglobin atau hematokrit saat wanita
tersebut sedang diobservasi merupakan petunjuk kekurangan

14

darah observasi merupakan petunjuk kekurangan darah yang


lebih bermanfaat daripada pembacaan awal. 1-6
Derajat leukositosis sangat bervariasi pada kehamilan
ektopik yang mengalami ruptur. Pada sekitar setengah dari para
wanita ini, leukosit normal, tetapi sisanya dapat ditemukan
leukosit dengan berbagai derajat sampai 30.000/l. 1-6
ii.

Pemeriksaan Gonadotropin korionik


Kehamilan ektopik tidak dapat didiagnosis hanya dengan uji
kehamilan positif saja. Namun, masalah kuncinya adalah apakah
wanita tersebut hamil atau tidak. Hampir pada semua kasus
kehamilan ektopik, gonadotropin korionik manusia (hCG) dapat
terdeteksi di dalam serum, tetapi biasanya konsentrasinya jauh
lebih kecil dibandingkan dengan kehamilan normal. 1-6

iii.

Tes Urin untuk kehamilan


Tes urin paling sering menggunakan tes slide inhibisi
aglutinasi dengan sensitivitas untuk gonadotropin korionik
dalam kisaran 500 sampai 800 mlU/ml. Kesederhanaan tes ini
diimbangi oleh kemungkinan untuk positif pada kehamilan
ektopik hanya 50 sampai 60 persen. Kalaupun digunakan tes
jenis tabung, deteksi gonadotropin korionik berkisar antara 150
sampai 250 mlU/ml, dan tes ini hanya positif pada 80 sampai 85
persen kehamilan ektopik. Tes yang menggunakan ELISA
(Enzyme-linked immunosorbent assays) sensitif untuk kadar 10
sampai 50 mIU/ml, dan positif pada 95 % kehamilan ektopik. 1-6

iv.

Pemeriksaan -hCG serum


Radioimmunoassay adalah metode yang paling tepat, dan
hampir semua kehamilan dapat terdeteksi. Bahkan, karena
sensitivitas pemeriksaan ini, suatu kehamilan dapat dipastikan
sebelum terjadi perubahan yang dapat terlihat pada tuba Fallopii.
Tidak adanya kehamilan dapat ditegakkan hanya jika terdapat

15

hasil negatif pada pemeriksaan gonadotropin serum yang


mempunyai sensitivitas 5 sampai 10 mIU/ml.1-6
Karena pemeriksaan serum tunggal yang positif tidak
menyingkirkan kehamilan ektopik, beberapa metode yang
berbeda telah dirancang untuk menggunakan nilai serum
kuantitatif serial dalam menegakkan diagosis. Metode ini dapat
digunakan tersendiri, tetapi lebih sering digunakan bersamaan
dengan sonografi. 1-6
v.

Progesteron Serum
Pengukuran progesteron tunggal sering dapat digunakan
untuk memastikan bahwa terdapat kehamilan yang berkembang
normal. Nilai di atas 25ng/ml menyingkirkan kehamilan ektopik
dengan

sensitivitas

97,5%.

Nilai

kurang

dari

5ng/ml

menunjukkan bahwa janin-embrio sudah mati, tetapi tidak


menunjukkan lokasinya. Kadar progesteron antara 5 sampai 25
ng/ml, sayangnya sering tidak konklusif. 1-6
Menurut DeCherney, 10 persen wanita yang mengalami
kehamilan normal mempunyai nilai progesteron serum kurang
dari 25 ng/ml. Hahlin melaporkan bahwa bahwa tidak ada
wanita dengan kehamilan intrauterine yang mempunyai kadar
progesteron di bawah 10 ng/ml, sedangkan 88 persen diantara
mereka yang hamil ektopik dan 83 persen yang mengalami
abortus spontan mempunyai nilai yang lebih rendah. 1-6
vi.

Pencitraan Ultrasonografi
-

Sonografi abdomen
Identifikasi produk kehamilan tuba falopii sulit
dilakukan dengan menggunakan sonografi abdomen. Jika
kantong gestasi teridentifikasi dengan jelas di dalam rongga
uterus, kecil kemungkinan adanya kehamilan ektopik yang
terjadi bersamaan. Lebih lanjut, bila tidak ditemukan
kehamilan uterus dengan sonografi, hasil tes kehamilan

16

yang positif, adanya kehamilan ektopik hampir dapat


dipastikan. Sayangnya, temuan-temuan ultrasonografi yang
sugestif untuk kehamilan uteri dini dapat tampak pada
beberapa kasus kehamilan ektopik. 2-7

Gambaran ultrasonografi sebuah kantong kecil atau


kantong yang kolaps sebenarnya mungkin adalah bekuan
darah atau massa desidua. Kehamilan uterus biasanya
belum

terlihat

dengan

menggunakan

ultrasonografi

abdomen sampai 5 sampai 6 minggu setelah haid berakhir


atau 28 hari setelah saat ovulasi. Sebaliknya, terlihatnya
massa di adnexa atau cul-de-sac dengan sonografi tidak
begitu membantu. Kista korpus luteum dan usus yang kusut
kadangkala terlihat seperti kehamilan tuba secara sonografi
yang jelas-jelas berada di luar uterus adalah bukti yang kuat
akan adanya kehamilan ektopik. 2-7
-

Sonografi vagina
Sonografi

dengan

transduser

di

vagina

dapat

digunakan untuk mendeteksi kehamilan uteri sejak 1


minggu setelah terlambat menstruasi bila -hCG serum
lebih dari 1500mIU/ml. Dalam penelitian oleh Banhard,
uterus yang kosong dengan konsentrasi -hCG serum

17

1500mIU/ml

atau

lebih,

100

persen

akurat

untuk

mengidentifikasi kehamilan ektopik. 2-7


Sonografi vagina juga digunakan untuk mendeteksi
massa adnexa. Namun, cara ini dapat menyesatkan dan
kehamilan ektopik dapat terlewatkan kalau massa tubanya
kecil atau tertutup oleh usus. /sensitivitas dan spesifisitas
ultrasonografi vagina untuk kehamilan ektopikmasingmasing adalah 96 dan 99 persen, jika teridentifikasi cairan
bebas di peritoneum. Dengan terlihatnya massa tuba,
sensitivitasnya 81 persen dan spesifisitasnya 99 persen. 2-7

Sonografi vagina menghasilkan diagnosis kehamilan


uterus yang lebih dini dan lebih spesifik. Bila kadar -hCG
serum 1000 mIU/ml, 50

persen kantong gestasi dapat

ditemukan. Kriterianya antara lain adalah identifikasi


kantong gestasi berukuran 1 sampai 3 mm ataulebih besar,
terletak eksentrik di uterus dan dikelilingi oleh reaksi
desidua-korion. Kutub janin di dalam kantong bersifat
diagnostik, terutama bila disertai dengan kerja jantung
janin. 2-7
Sonografi vagina, dapat digunakan secara tersendiri
untuk mendiagnosis kehamilan ektopik pada lebih dari 90
persen kasus. Diagnosis klinis yang akurat didasarkan pada
dua kemungkinan :
o Diagnosis klinis yang akurat didasarkan pada dua
kemungkinan :

18

Kehamilan uteri teridentifikasi seperti yang telah


diuraikan
Uterus kosong dan kehamilan ektopik terlihat

bedasarkan dari dua ovarium yang teridentifikasi


secara jelas
Massa tersebut harus kompleks atau mengandung
cincin adnexa yang menyerupai kantong gestasi dengan atau
tanpa kutub janin (bayangan janian atau yolk sac). 2-7
Tanpa kriteria tersebut, pemeriksaan tersebut mungkin
tidak bersifat diagnostik. Kehamilan heterotipik merupakan
pengecualian. Bila pemeriksaan tidak bersifat diagnostik,
sebagian besar klinisi lebih menyukai sonografi serial
bersama dengan pengukuran -hCG serial karena perubahan
konsentrasi penting artinya. 2-7
-

Ultrasonografi Doopler bewarna dan berdenyut pada vagina


Teknik ini terdiri dari identifikasi lokasi warna
vaskular di uterus atau ekstrauterus dengan bentuk plasenta
yang khas, yang disebut pola cincin-api, dan pola aliran
impedansi

rendah

berkecepatan

tinggi

yang

menggambarkan perfusi plasenta. Bila pola ini ditemukan di


luar rongga uterus, yang juga dianggap dingin dalam hal
aliran darahnya,diagnosis kehamilan sudah jelas. 2-7
Teknik ini secara signifikan memperbaiki diagnosis
kehamilan uteri hidup serta kehamilan ektopik atau abortus
inkompletus yang benar. Teknik ini telah berhasil digunakan
untuk mendiagnosis kehamilan serviks untuk memonitor
regresinya setelah pemberian terapi metrotreksat. 2-7
2.6 Diagnosis banding kehamilan ektopik terganggu
-

Infeksi pelvik.

Abortus iminens atau insipiens

19

Ruptur korpus luteum

Apendisitis akut

Salpingitis akut

2.7 Penatalaksanaan kehamilan ektopik terganggu


Penatalaksanaan kehamilan ektopik tergantung pada beberapa hal,
antara lain lokasi

kehamilan

dan tampilan

klinis. Sebagai contoh,

penatalaksanaan kehamilan tuba berbeda dari penatalaksanaan kehamilan


abdominal. Selain itu, perlu dibedakan pula penatalaksanaan kehamilan ektopik
yang

belum terganggu dari

kehamilan ektopik terganggu. Tentunya

penatalaksanaan pasien dengan kehamilan ektopik yang belum terganggu


berbeda dengan penatalaksanaan pasien dengan kehamilan ektopik terganggu
yang menyebabkan syok. Pasien yang mengalami kehamilan ektopik, bisanya :
1. Penderita yang disangka KET harus dirawat inap di rumah sakit untuk
penanggulangannya
2. Bila ibu dalam keadaan syok, perbaiki keadaan umumnya dengan
pemberian cairan secukupnya dan tranfusi darah
3. Setelah diagnosa jelas atau sangat disangka KET, dan keadaan umum baik
atau lumayan, segera lakukan laparotomi untuk menghilangkan sumber
perdarahan

dicari,

diklem,

dan

dieksisi

sebersih

mungkin

(salpingektomi), kemudian diikat sebaik baiknya


4. Sisa sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya
penyembuhan lebih cepat
5. Berikan antibiotika yang cukup dan obat anti inflamasi
Seorang pasien yang terdiagnosis dengan kehamilan tuba dan masih
dalam kondisi baik dan tenang, memiliki 3 pilihan, yaitu penatalaksanaan
ekspektasi

(expectant

management),

penatalaksanaan

medis

dan

penatalaksanaan bedah.4
Pembedahan
Penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-pasien dengan
kehamilan tuba yang belum terganggu maupun yang sudah terganggu. Tentu

20

saja pada kehamilan ektopik terganggu, pembedahan harus dilakukan secepat


mungkin.
Pada dasarnya ada 2 macam pembedahan untuk menterminasi
kehamilan tuba, yaitu pembedahan konservatif, di mana integritas tuba
dipertahankan, dan pembedahan radikal, di mana salpingektomi dilakukan.
Pembedahan konservatif mencakup 2 teknik yang kita kenal sebagai
salpingostomi dan salpingotomi. Selain itu, macam-macam pembedahan
tersebut di atas dapat dilakukan melalui laparotomi maupun laparoskopi.
Namun bila pasien jatuh ke dalam syok atau tidak stabil, maka tidak ada tempat
bagi pembedahan per laparoskopi.8-10

Salpingostomi
Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi
yang berdiameter kurang dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba
fallopii. Pada prosedur ini dibuat insisi linear sepanjang 10-15 mm pada tuba
tepat di atas hasil konsepsi, di perbatasan antimesenterik. Setelah insisi hasil
konsepsi segera terekspos dan kemudian dikeluarkan dengan hati-hati.

21

Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit dan dapat dikendalikan dengan


elektrokauter. Insisi kemudian dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali) untuk
sembuh per sekundam. Prosedur ini dapat dilakukan dengan laparotomi
maupun laparoskopi. Metode per laparoskopi saat ini menjadi gold standard
untuk kehamilan tuba yang belum terganggu. Sebuah penelitian di Israel
membandingkan salpingostomi per laparoskopi dengan injeksi methotrexate per
laparoskopi. Durasi pembedahan pada grup salpingostomi lebih lama daripada
durasi pembedahan pada grup methotrexate, namun grup salpingostomi
menjalani masa rawat inap yang lebih singkat dan insidens aktivitas trofoblastik
persisten pada grup ini lebih rendah. Meskipun demikian angka keberhasilan
terminasi kehamilan tuba dan angka kehamilan intrauterine setelah kehamilan
tuba pada kedua grup tidak berbeda secara bermakna. 8-10
Salpingotomi
Pada dasarnya prosedur ini sama dengan salpingostomi, kecuali bahwa
pada salpingotomi insisi dijahit kembali. Beberapa literatur menyebutkan
bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam hal prognosis, patensi dan
perlekatan tuba pascaoperatif antara salpingostomi dan salpingotomi.
Jika hasil konsepsi masih berada di tuba, masih memungkinkan untuk
mempertahankan tuba dengan mengeluarkan produk konsepsi dan melakukan
rekonstruksi tuba. Hal ini terutama dilakukan bila tuba kontralateral rusak atau
tidak ada. Sekitar 6% kasus membutuhkan pembedahan ulang atau pengobatan
bila jaringan trofoblas masih tertinggal. 1-7
Kesempatan hamil intrauterine untuk kedua tindakan tersebut
menunjukkan angka yang sama, walaupun risiko kehamilan ektopik berulang
lebih besar pada tindakan salpingotomi. Salpingotomi merupakan pilihan
terutama bila tuba ruptur, mengurangi perdarahan dan operasi lebih singkat.
Kedua tindakan tersebut dapat dilakukan dengan laparotomi ataupun
laparoskopi. Keuntungan laparoskopi adalah penyembuhan lebih cepat,
perlengketan yang terbentuk lebih minimal, dam merupakan pilihan bila
kondisi pasien masih baik. 1-7

22

Salpingektomi
Salphingektomi dilakukan jika tuba mengalami kerusakan hebat atau tuba
kontralateral baik. Jika implantasi terjadi di pars intertitial, mungkin dapat
dilakukan reseksi kornu uterus. 1-7
Reseksi tuba dapat dikerjakan baik pada kehamilan tuba yang belum
maupun yang sudah terganggu, dan dapat dilakukan melalui laparotomi
maupun laparoskopi. Salpingektomi diindikasikan pada keadaan-keadaan
berikut ini:
1) kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu),
2) tuba kontralateral baik
3) pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif,
4) terjadi kegagalan sterilisasi,
5) telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya,
6) pasien meminta dilakukan sterilisasi,
7) perdarahan berlanjut pascasalpingotomi,
8) kehamilan tuba berulang,
9) massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm.
Reseksi massa hasil konsepsi dan anastomosis tuba kadang-kadang
dilakukan pada kehamilan pars ismika yang belum terganggu. Metode ini lebih
dipilih daripada salpingostomi, sebab salpingostomi dapat menyebabkan
jaringan parut dan penyempitan lumen pars ismika yang sebenarnya sudah
sempit. Pada kehamilan pars interstitialis, sering kali dilakukan pula
histerektomi untuk menghentikan perdarahan masif yang terjadi. Pada
salpingektomi, bagian tuba antara uterus dan massa hasil konsepsi diklem,
digunting, dan kemudian sisanya (stump) diikat dengan jahitan ligasi. Arteria
tuboovarika diligasi, sedangkan arteria uteroovarika dipertahankan. Tuba yang
direseksi dipisahkan dari mesosalping.
Evakuasi fimbrae dan fimbraektomi
Bila terjadi kehamilan di fimbrae, massa hasil konsepsi dapat dievakuasi
dari fimbrae tanpa melakukan fimbraektomi. Dengan menyemburkan cairan di

23

bawah tekanan dengan alat aquadisektor atau spuit, massa hasil konsepsi dapat
terdorong dan lepas dari implantasinya. Fimbraektomi dikerjakan bila massa
hasil konsepsi berdiameter cukup besar sehingga tidak dapat diekspulsi dengan
cairan bertekanan. 8-10
Medikamentosa
Terapi medikamentosa untuk kehamilan ektopik dengan pemberian
metrotreksat, baik secara sistemik maupun dengan injeksi ke kehamilan ektopik
melalui laparoskopi atau dengan bantuan USG. 1-7
Pada penatalaksanaan medis digunakan zat-zat yang dapat merusak
integritas jaringan dan sel hasil konsepsi. Kandidat-kandidat penerima
tatalaksana medis harus memiliki syarat-syarat berikut ini: keadaan
hemodinamik yang stabil, bebas nyeri perut bawah, tidak ada aktivitas jantung
janin, tidak ada cairan bebas dalam rongga abdomen dan kavum Douglas, harus
teratur menjalani terapi, harus menggunakan kontrasepsi yang efektif selama 34 bulan pascaterapi, tidak memiliki penyakit-penyakit penyerta, sedang tidak
menyusui, tidak ada kehamilan intrauterin yang koeksis, memiliki fungsi ginjal,
hepar dan profil darah yang normal, serta tidak memiliki kontraindikasi
terhadap pemberian methotrexate. Berikut ini akan dibahas beberapa metode
terminasi kehamilan ektopik secara medis. 1-7
1. Methotrexate
Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi
keganasan, termasuk penyakit trofoblastik ganas. Pada penyakit trofoblastik,
methotrexate akan merusak sel-sel trofoblas, dan bila diberikan pada pasien
dengan kehamilan ektopik, methotrexate diharapkan dapat merusak sel-sel
trofoblas sehingga menyebabkan terminasi kehamilan tersebut. Seperti halnya
dengan penatalaksanaan medis untuk kehamilan ektopik pada umumnya,
kandidat-kandidat untuk terapi methotrexate harus stabil secara hemodinamis
dengan fungsi ginjal, hepar dan profil darah yang normal. Harus diketahui
pula bahwa terapi methotrexate maupun medis secara umum mempunyai

24

angka kegagalan sebesar 5-10%, dan angka kegagalan meningkat pada usia
gestasi di atas 6 minggu atau bila massa hasil konsepsi berdiameter lebih dari
4 cm. Pasien harus diinformasikan bahwa bila terjadi kegagalan terapi medis,
pengulangan terapi diperlukan, dan pasien harus dipersiapkan untuk
kemungkinan menjalani pembedahan. Selain itu, tanda-tanda kehamilan
ektopik terganggu harus selalu diwaspadai. Bila hal tersebut terjadi, pasien
harus sesegera mungkin menjalani pembedahan. Senggama dan konsumsi
asam folat juga dilarang.7
Tentunya methotrexate menyebabkan beberapa efek samping yang
harus

diantisipasi,

antara

lain

gangguan

fungsi

hepar,

stomatitis,

gastroenteritis dan depresi sumsum tulang. Beberapa prediktor keberhasilan


terapi dengan methotrexate yang disebutkan dalam literatur antara lain kadar
-hCG, progesterone, aktivitas jantung janin, ukuran massa hasil konsepsi
dan ada/tidaknya cairan bebas dalam rongga peritoneum. Namun disebutkan
dalam sumber lain bahwa hanya kadar -hCG-lah yang bermakna secara
statistik. Untuk memantau keberhasilan terapi, pemeriksaan -hCG serial
dibutuhkan.

Pada

hari-hari

pertama

setelah

dimulainya

pemberian

methotrexate, 65-75% pasien akan mengalami nyeri abdomen yang


diakibatkan pemisahan hasil konsepsi dari tempat implantasinya (separation
pain), dan hematoma yang meregangkan dinding tuba. Nyeri ini dapat diatasi
dengan analgetik nonsteroidal. -hCG umumnya tidak terdeteksi lagidalam
14-21 hari setelah pemberian methotrexate. Pada hari-hari pertama pula
massa hasil konsepsi akan tampak membesar pada pencitraan ultrasonografi
akibat edema dan hematoma, sehingga jangan dianggap sebagai kegagalan
terapi. Setelah terapi berhasil, kadar -hCG masih perlu diawasi setiap
minggunya hingga kadarnya di bawah 5 mIU/mL.7
Methotrexate dapat diberikan dalam dosis tunggal maupun dosis
multipel. Dosis tunggal yang diberikan adalah 50 mg/m2 (intramuskular),
sedangkan dosis multipel yang diberikan adalah sebesar 1 mg/kg
(intramuskular) pada hari pertama, ke-3, 5, dan hari ke-7. Pada terapi dengan
dosis multipel leukovorin ditambahkan ke dalam regimen pengobatan dengan

25

dosis 0.1 mg/kg (intramuskular), dan diberikan pada hari ke-2, 4, 6 dan 8.
Terapi methotrexate dosis multipel tampaknya memberikan efek negatif pada
patensi tuba dibandingkan dengan terapi methotrexate dosis tunggal 9.
Methotrexate dapat pula diberikan melalui injeksi per laparoskopi tepat ke
dalam massa hasil konsepsi. Terapi methotrexate dosis tunggal adalah
modalitas terapeutik paling ekonomis untuk kehamilan ektopik yang belum
terganggu. 7
2. Actinomycin
Neary dan Rose melaporkan bahwa pemberian actinomycin intravena
selama 5 hari berhasil menterminasi kehamilan ektopik pada pasien-pasien
dengan kegagalan terapi methotrexate sebelumnya. 7
3. Larutan glukosa hiperosmolar
Injeksi larutan glukosa hiperosmolar per laparoskopi juga merupakan
alternatif terapi medis kehamilan tuba yang belum terganggu. Yeko dan
kawan-kawan melaporkan keberhasilan injeksi larutan glukosa hiperosmolar
dalam menterminasi kehamilan tuba. Namun pada umumnya injeksi
methotrexate tetap lebih unggul. Selain itu, angka kegagalan dengan terapi
injeksi larutan glukosa tersebut cukup tinggi, sehingga alternatif ini jarang
digunakan. 7,10

2.8 Komplikasi kehamilan ektopik terganggu


1. Pada pengobatan konservatif, yaitu bila ruptur tuba telah lama berlangsung
(4 6 minggu), terjadi perdarahan ulang (reccurent bleeding). Ini
merupakan indikasi operasi
2. Infeksi
3. Pecahnya tuba falopi
4. Sterilitas
2.9 Prognosis kehamilan ektopik terganggu

26

Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun


dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Tetapi, bila
pertolongan terlambat, angka kematian dapat tinggi. (Wiknjosastro, 2005)

27

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS PASIEN


No. Rekam Medik

414498

Tanggal Masuk

16 Maret 2015 pukul 13.54 WIB

Nama Pasien

Ny. S

Umur

33 tahun

Agama

Islam

Pendidikan

SMP

Pekerjaan

IRT

Nama Suami

Tn. S.

Umur

34 tahun

Agama

Islam

Pendidikan

SMP

Pekerjaan

Buruh

Alamat

jl. Suka Bangun No. 421 Rt 9/3 Kec. Plaju

Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada 16 Maret 2015 pukul 15.00
WIB.
3.2 ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Nyeri Abdomen bagian kanan
2. Riwayat Perjalanan Penyakit
-

28

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Os mengaku mempunyai riwayat Hipertensi.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Os mengaku tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular,
keturunan dan kejiwaan.
5. Riwayat Haid
Usia menarche : 14
Siklus haid

: Teratur

Lama haid

:?

Nyeri haid

:?

HPHT

:?

6. Riwayat Pernikahan
Lama pernikahan

: ?

Usia waktu nikah

: ?

7. Riwayat Persalinan
No
.
1.
2.

Tempat
Bersali
n
-

Penolon
g

Tahun Ater
m

Hamil
ini

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


1. Status Generalis
a. Keadaan Umum : Sakit Sedang
b. Kesadaran

: compos mentis

Cara
Persalinan

Jenis
Kelamin

Keadaan
-

29

c. Tanda Vital

Tekanan darah : 120/80 mmHg

Nadi

: 62 x/menit

Pernapasan

: 22 x/menit

Suhu

: 36,2 0C

d. Tinggi Badan

: -

e. Berat Badan

: -

f. Kepala

Mata
Leher

: Normal
: Normal

g. Thoraks

: Normal

h. Abdomen

: Normal

i. Genitalia

Vulva/Vagina : darah (-)


j. Ekstremitas

2.

: Normal

Pemeriksaan Ginekologi
Vulva : Normal
Vagina : Normal
Cervix : Normal
Uterus : Normal
Adnexa : Normal
Rectum : Normal

3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


(Tanggal 16 Maret 2015)
Pencitraan Ultrasonografi :

30

Laboratorium :
HB

: 13,8 g/dl (12-14 g/dl)

Leukosit

: 9.400 (5000-10000/ul)

Trombosit

: 423.000 (150.000-400.000/ul)

Hematokrit

: 41 % (37-43%)

Hitung jenis

Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit

: 0 (0-1%)
: 2 (1-3%)
: 1 (2-6%)
: 66 (50-70%)
: 27 (20-40%)
: 4 (2-8%)

Golongan darah

:O

Rhesus factor

:+

Clooting Time

: 7 (<15 menit )

Bleeding Time

: 2 (1-6 menit )

3.5 DIAGNOSIS KERJA


Kehamilan Ektopik Terganggu

31

3.6 PENATALAKSANAAN
Observasi keadaan umun dan tanda vital
IUFD RL gtt 20 x/m
DC
Rencana Laparatomi

3.7 LAPORAN OPERASI


Dr. Operator

: dr. Kurniawan, Sp.OG

Dr. Anestesi

: dr. Marwan, Sp.An

Jenis Operasi

: Besar

Jenis Anestesi

: Umum

Diagnose pra bedah

: KET

Diagnose pasca bedah

: Post SOD a/i KET

Nama Tindakan Operasi : SOD


Komplikasi Operasi
Tgl
Operasi
17 Maret
2015

:-

Jam Operasi
Mulai
10.00

Selesai
10.30

Lama
Operasi
30 menit

Jam Anateshi
Mulai
09.30

Selesai
10.30

Lama
Anatesi
1 Jam

Laporan Operasi

Penderita dalam posisi telentang dalam keadaan general anestesi.


Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada lapangan operasi dan
sekitarnya.
Lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
Dilakukan insisi mediana inferor/pfannenstiel
Peritonium dibuka
Tampak Durante Operationum (DO)
a. Darah dan bekuan darah
b. Pada eksplorasi didapatkan :
i. Uterus sebesar dan bentuk ?
ii. Tuba kiri dan tuba kanan ?
iii. Ovarium kiri, ovarium kanan ?
Diputuskan untuk melakukan (misalnya salpingectomi sinistra/dextra,
salpingooorectomi tergantung keadaan dan keputusan operator.

32

Setelah diyakini tidak ada pendarahan cuci cavum peritoneum dengan

NaCl 0,9 % sampai bersih.


Setelah diyakini tidak ada perdarahan lagi. Kemudian dilakukan

penutupan dinding abdomen lapis demi lapis.


Setelah diyakini tidak ada perdarahan lagi. Kemudian dilakukan
penutupan dinding abdomen lapis demi lapis.

3.8 PROGNOSIS :
Ad vitam

: Ad bonam

Ad functionam

: Ad bonam

Ad sanationam

: Ad bonam

3.9 FOLLOW UP
Tanggal 16 Maret 2015
S

Keadaan

Baik

Tanda vital

TD : 120/80 mmHg
x/menit

A
P

S: 36,6 c N: 82x/m RR : 22

Kehamilan Ektopik Terganggu


Observasi keadaan umun dan tanda vital
IUFD RL gtt 20 x/m
Dower Cateter
Rencana Laparatomi

Tanggal 17 Maret 2015


S
Os masih merasa lemah
O

Baik
Tanda vital

A
P

TD : -

S: -

N: - RR: -

Post SOD atas indikasi KET


Observasi KU dan Tanda vital
IUFD RL gtt 20 x/menit
Inj. Ceftriaxon 2x1
Inj. Ketorolac 2x1
Metrodinazol fls 2x1
Inj. Kalnex 3x1

33

Pronalges Sup 3x1


Dower Cateter
Hb Post Operasi : 13,8 gr/dl

Tanggal 18 Maret 2015


S O

Keadaan

Baik

Tanda vital

TD : 110/70 mmHg
20 x/menit

S: 36,6 c

N: 80x/m nt RR :

Perdarahan biasa, kontraksi uterus baik, Luka Operasi


Tenang
A
P

Post SOD atas indikasi KET


IUFD RL gtt 20 x/menit
Inj. Ceftriaxone 2x1
Inj. Kalnex 3x1
Inj. Ketorolac 2x1
Metrodinazol Fls 2x1
Pronalges Sup 3x1
Dower cateter up

Tanggal 19 Maret 2015


S O

Keadaan

Baik

Tanda vital

TD : 120/80 mmHg
20 x/menit

S: 36,6 c

N: 80x/m nt RR :

Perdarahan biasa, kontraksi uterus baik, Luka Operasi


Tenang
A
P

Post SOD atas indikasi KET


IUFD RL gtt 20 x/menit
Inj. Ceftriaxone 2x1
Inj. Kalnex 3x1
Inj. Ketorolac 2x1
Metrodinazol Fls 2x1
Pronalges Sup 3x1
Ganti perban
Boleh Pulang

34

Obat Oral:
Ciprofloxacin 3x1
Asam mefenamat 3x1
Metrodinazol 2x1

35

BAB IV
PEMBAHASAN
Telah dilaporkan sebuah kasus dari seorang pasien usia 33 tahun yang
masuk ke kebidanan RSUD Palembang Bari pada tanggal 16 Maret 2015 pukul
13.54 WIB kiriman dari Poliklinik KIA RSUD Palembang Bari dengan keluhan
utama nyeri abdomen bagian kanan.
Dari teori gejala yang timbul pada pasien yang dicurigai KET adalah
Amenore, nyeri tekan abdomen dan pelvis, perdarahan pervaginam, muntah,
gelisah, pucat, anemis, nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur (syok).
sedangkan pada anamnesis kasus ini yang didapatkan hanya nyeri abdomen
bagian kanan sehingga data yang diperoleh kurang akurat. Seharusnya petugas
kesehatan lebih mendalami anamnesis untuk dapat menegakan diagnosis KET.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan semuanya dalam batas normal ini
mengarah terhadap teori pemeriksaan fisik pada KE tidak terganggu sedangkan
pada KET biasanya ibu mengalami syok sehingga pemeriksaan fisik menunjukan
hasil tidak normal.
Pada pemeriksaan ginekologi didapatkan hasil dalam batas normal
sedangkan pada teori pada pemeriksaan ginekologi didapatkan adanya nyeri
goyang porsio, douglas crise, kavum douglasi teraba menonjol, massa Pelvis.
Pada pemeriksaan penunjang USG didapat gambaran tidak ditemukan
kehamilan uterus dan hasil tes kehamilan yang positif, adanya kehamilan ektopik
hampir dapat dipastikan. Tetapi pada pasien ini tidak dilakukan tes kehamilan
sehingga diagnosis kasus ini belum bisa dipastikan.
Diagnosis pada kasus ini kurang tepat karena kurangnya data anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sehingga pembagian lokasi pada
kehamilan ektopik tidak diketahui pada kasus ini.
Sedangkan tindakan laparatomi pada kasus ini sudah tepat karena pada
kasus KET pada umumnya adalah dengan tindakan pembedahan.

36

BAB V
KESIMPULAN
1.

Penegakan diagnosis ini kurang tepat karena


kurangnya data dari identitas pasien, anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan ginekologi, pemeriksaan penunjang sebagai landasan penegak
diagnosis.

2.

Penatalaksanaan yang dilakukan pada kasus ini


sudah tepat karena pada kasus ini dilakukan Laparatomi (SOD) yang

bertujuan untuk keselamatan ibu.


3.
Prognosis

tergantung

dengan

persediaan darah yang cukup dan cepatnya pertolongan.

diagnosa

dini,

37

Daftar Pustaka
1. Sastrawinata S. Obstetri Patologi. Bagian obstetri dan ginekologi fakultas
kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung: Eleman. 1983.
2. Wiknjosastro H. Kehamilan ektopik. Editor Wiknjosastro H, Saifuddin
AB, Rachmihadhi T, dalam Ilmu Kebidanan edisi kedua, cetakan keempat,
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.2005.h.323-8
3. Epidemiologi dan Patofisiologi KET. Diunduh dari www.unsri.ac.id. 20
Maret 2015
4. Hauth. C. John, dkk: Kehamilan ektopik, Obstetri Williams, Ed 21, vol 2,
982 1013, 2006
5. Mochtar. R, Lutan. D. Kelainan letak kehamilan (kehamilan ektopik) :
Sinopsis Obstetri. Edisi kedua. 1998. Halaman 226 237.
6. Manuaba I.B.G, Manuaba I.B. Chandranita. Kehamilan ektopik :
Pengantar Kuliah Obstetri. 2007. Halaman 106-120.
7. Hauth. C. John, dkk. Kehamilan ektopik - Obstetri Williams. Edisi 21. vol
2. 2006.h.982 1013.
8. Sepllan

VP.

Ectopic

Pregnancy.

Edisi

2012.

Diunduh

dari

http://emedicine.medscape.com/article/2041923-overview, 20 Maret 2015


9. Dept. Of Health and Human Sevices office on Womens health. Ectopic
pregnancy.

Edisi

2012.

Diunduh

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ectopicpregnancy.html,

dari
20

Maret

2015
10. Murray H, Bakdah H, Bardell T, Tullandi T. Diagnosis & Treatment of
Ectopic

pregnancy.

Edisi

2011.

Diunduh

dari

http://www.canadianmedicaljournal.ca/content/173/8/905.full, 20 Maret
2015