Anda di halaman 1dari 5

Inflamasi Kronik

Inflamasi kronik adalah inflamasi dalam jangka waktu yang lama


(minggu atau tahun) dimana proses inflamasi dan kerusakan dan
perbaikan jaringan berlangsung secara simultan.Inflamasi kronik ini
dapat terjadi ketika respon inflamasi akut tidak dapat berhenti atau
ketika tubuh medapatkan jejas berat yang menimbulkan respon
inflamasi kronik sejak awal. Inflamasi kronik dapat dianggap sebagai
respon imun adaptif. Inflamasi kronik dicirikan dengan reaksi-reaksi
sebagai berikut:
1. Inflitrasi leukosit mononukleus (makrofag, limfosit, dan sel
plasma)
2. Kerusakan jaringan
3. Perbaikan jaringan, mencakup fibrosis dan angiogenesis
(proliferasi pembuluh darah baru)
Inflamasi kronik timbul akibat kejadian-kejadia berikut :
a. Infeksi terus menerus oleh mikroba yang sulit disingkirkan dari

b. Penyakit hipersensitivitas (penyakit inflamatori yang dimediasi


sistem imun). Hipersensitivitas ini mencakup dua jenis, yaitu
penyakit autoimun dan alergi.
Penyakit autoimun adalah kondisi dimana autoantigen
mengaktifkan reaksi imun yang menyerang jaringan tubuh
sendiri sehingga menimbulkan kerusakan jaringan dan
inflamasi berkepanjangan. Contohnya adalah arthritis
rheumatoid dan psoriasis.
Alergi adalah hipersensitivitas terhadap substansi yang
umum tedapat di lingkungan, contohnya asthma.
c. Paparan berkepajangan terhadap agen toksik, meliputi material
eksogen yang tidak terdegradasi (partikulat silika yang
terhirup silikosis ) dalam tubuh dan agen endogen seperti
kristal kolesterol.
Sel dan Mediator Inflamasi Kronik
Makrofag
Adalah sel jaringan yang merupakan hasil diferensiasi monosit

tubuh sehingga menimbulkan respon imun adaptif yang

setelah bermigrasi dari aliran darah. Makrofag berfungsi sebagai

dimediasi limfosit T atau disebut delayed-type hypersensitivity.

filter yang mendeteksi materi partikulat, mikroba, dan sel tua.

Agen mikroba penyebabnya diantaranya Mycobacterium

Makrofag juga berfungsi sebagai sel efektor yang mengeliminasi

tuberculosis, Treponema pallidum,dan virus tertentu.

mikroba pada respon imun adaptif seluler dan humoral.

Makrofag terdapat menyebar pada berbagai jaringan ikat dan


juga terdapat pada berbagai organ dengan nama khusus seperti

Sitokin yang menstimulasi inflamasi


Jadi, makrofag yang teraktivasi oleh jalur klasik berfungsi

pada SSP (sel mikroglial), liver (sel kuppfer), paru-paru

untuk pertahanan./mematikan mikroba yang telah

(makrofag alveolar), limpa dan nodus limfe (sinus histiosit) yang


semuanya menyusun sistem fagosit mononuclear (nama lamanya
adalah sistem retikuloendotelial).
Monosit bermigrasi dari peredaran darah menuju situs terjadinya
luka dalam jangka waktu 1-2 hari setelah timbul inflamasi akut.
Monosit mengalami transformasi menjadi makrofag setelah
mencapai jaringan ekstravaskuler sehingga menjadi sel yang
berukuran lebih besar,kemampuan fagositosis yang lebih baik,
dan waktu hidup yang lebih lama.
Makrofag diaktivasi oleh dua jalur aktivasi utama yaitu aktivasi
klasik dan aktivasi alternatif.
1. Aktivasi klasik diinduksi oleh stimulus diantaranya;
o Produk mikroba (e.g endotoksin)
o Sinyal dari subset/hasil diferensiasi sel T (terutama
sitokin IFN-
o Substansi asing (e.g kristal dan partikulat)
Makrofag yang diaktivasi dengan jalur aktivasi klasik
memproduksi;
Enzim lisosomal, NO, dan reactive oxygen species (ROS)
yang menunjang kemampuan makrofag dalam
membunuh mikroba yang telah difagositosis.

difagositosis dan memicu reaksi inflamasi kronik.


2. Aktivasi alternatif diinduksi oleh sitokin yang disekresikan
limfosit T, sel mast, dan eosinofil selain daripada IFN-.
Makrofag yang diaktivasi lewa jalur alternatif memiliki
fungsi utama dalam regenerasi jaringan, meliputi:
o Sekresi growth factor yang menstimulasi
angiogenesis (pembentukan pembuluh darah
baru)
o Aktivasi fibroblast
o Stimulasi sintesis kolagen
Overall, makrofag memiliki peran penting dalam mekanisme
pertahanan dan respon inflamasi sebagai berikut:
Makrofag menelan dan mengeliminasi mikroba dan sel nekrotik (as
neutrophil does). Makrofag adalah fagosit tepenting dalam respon
imun adaptif yang dimediasi sel.
Makrofag menginisiasi proses regenerasi jaringan dan terlibat dalam
pembentukan bekas luka (scar) dan fibrosis
Makrofag mensekresi mediator inflamasi meliputi sitokin (TNF, IL1,kemokin,dll) dan eikosanoid sehingga makrofag menjadi sel yang
paling penting dalam inisiasi dan penghantaran reaksi inflamasi.
Makrofag mempresentasikan antigen kepada limfosit T dan
merespon sinyal darinya sehingga memunculkan feedback loop yang

krusial untuk pertahanan terhadap berbagai mikroba dengan respon

Limfosit dapat dimobilisasi akibat adanya stimulus imun spesifik (i.e

yang dimediasi sel. Interaksi dua arah ini juga berperan dalam

infeksi) mapupun karena inflamasi yang tidak dimediasi sistem imun

tmbulnya penyakit inflamasi kronik.

(e.g inflamasi akibat nekrosis atau trauma). Limfosit merupakan sel


utama dalam kondisi penyakit autoimun dan pada inflamasi kronik. Di
dalam jaringan, limfosit B berdiferensiasi menjadi sel plasma yang
mensekresikan antobodi sedangkan limfosit T yang mengekspresikan
protein permukaan CD4+ akan teraktivasi untuk mensekresikan sitokin
yang memicu inflamasi dan mempengaruhi sifat dari reaksi inflamasi.
Ada 3 subset dari sel T helper CD4+ :
Limfosit TH1 mensekresikan sitokin IFN- yang mengaktivasi
makrofag pada jalur klasik
Limfosit TH2 mensekresikan IL-4, IL-5, dan IL-13 yang merekrut
dan mengaktivasi eosinofil dan mengaktivasi makrofag pada jalur

Figures : Macrophage Activation Pathways . Robbins Basic Pathology. 9th ed. p.54.

Pada inflamasi dengan stimulus yang dapat dieliminasi sehingga reaksi

alternatif
Limfosit TH17 yang mensekresikan IL-17 dan sitokin lainnya yang

inflamasi berhenti, makrofag kemudian mati atau beredar dalam

menginduksi sekresi kemokin untuk merekrut neutrofil dan monosit.


Limfosit TH1 dan TH17 berperan dalam pertahanan terhadap mikroba

jaringan limfatik. Akan tetapi, pada area inflamasi kronik, makofag

bakteri gram negatif dan virus serta dalam penyakit autoimun sedangkan

tetap terakumulasi karena rekrutmen monosit dan proliferasi lokal terus

limfosit TH2 berperan dalam pertahanan terhadap bakteri gram positif,

berlangsung. IFN- juga dapat menginduksi beberapa makrofag untuk

cacing parasit, dan fungi serta inflamasi alergi.


Limfosit dan makrofag berinteraksi dalam dua arah (bidireksional) yang

bergabung menjadi sel raksasa multinukleus (multinucleated giant


cells).
Limfosit

berperan dalam penghantaran inflamasi kronik. Makrofag


mepresentasikan antigen kepada limfosit T, mengekspresikan

kostimulator, dan meproduksi sitokin (e.g IL-12) yang menstimulasi

Sel lain yang terlibat dalam inflamasi kronik diantaranya eosinofil,sel

respon limfosit T. Limfosit T akan berdiferensiasi dan mensekresikan

mast, dan neutrofil.


Eosinofil merupakan bagian dari respon imun yang dimediasi oleh

sitokin tertentu yang akan merekrut dan dan mengaktivasi makrofag


lainnya sehingga memicu lebih banyak sel yang mempresentasikan

IgE yang berhubungan dengan alergi. Granula eosinofil

antigen dan sekresi sitokin. Interaksi ini membentuk suatu siklus yang

mengandung MBP (Major Basic Protein) yang merupakan protein

mempertahankan keberlangsungan inflamasi kronik. Pada reaksi

dengan muatan kationik yang tinggi dan bersifat toksik terhadap

inflamasi kronik yang berat dan berkepanjangan, akumulasi limfosit,


APC, dan sel plasma dapat menjadi struktur yang menjadi organ limfoid
menyerupai nodus limfe yang mengandung centrum germinativum. Pola
organogenesis limfoid ini seringkali terjadi pada jaringan synovial
pasien dengan artritis rheumatoid berkepanjangan dan pada tiroid dai
pasien yang menderita tiroiditis autoimun.

parasit, namun juga menimbulkan nekrosis sel epitel.


Sel mast adalah sel penjaga yang banyak terdapat pada jaringan ikat
di seluruh tubuh dan berperan baik itu dalam inflamasi akut maupun
inflamasi kronik. Pada individu yang rentan terhadap reaksi alergi
(atopic), sel mast memiliki IgE spesifik untuk antigen lingkungan
tertentu yang dapat membentuk cross-linking dengan antigen
tersebut sehingga sel mast mensekresikan histamin dan metabolit
asam amino sebagai pemicu perubahan vaskuler pada inflamasi
akut. Sel mast juga dapat melepaskan sitokin sepesrti TNF dan
kemokin yang berperan dalam melawan beberapa jenis infeksi.
Neutrofil merupakan bagian dari inflamasi akut, namun dalam
berbagai inflamasi kronik juga terjadi infiltrasi neutrofil akibat
keberadaan mikroba atau sel nekotik yang tidak dapad dieliminasi
atau akbat mediator yang dilepaskan oleh makrofag. Kondisi ini

Figures : macrophage-lymphocyte interaction. Robbins 9th ed. p55.


Sel Lainnya

disebut inflamasi acute on chronic, contonya pada inflamasi


tulang (Osteomyelitis).

Adopted from Robbins Basic Pathology 9th ed chapter 2.