Anda di halaman 1dari 10

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

Pertemuan

Minggu ke 9

Waktu

50 menit

Pokok bahasan

1. Plasma Darah

Subpokok bahsan

a. Komponen protein.
b. Komponen non protein plasma darah.
c. Kepentingan pemeriksaan komponen plasma
darah dalam diagnosa penyakit.

Tujuan khusus

1. Mahasiswa memahami dan mampu menjelaskan


semua komponen protein dalam plasma darah serta
cara pengukurannya.
2. Mahasiswa memahami dan mampu menjelaskan
komponen non protein dalam plasma darah serta
kepentingan pemeriksaan komponen - komponen di
atas dalam diagnosa penyakit.

Metode

Kuliah dan diskusi

Media

OHP

Universitas Gadjah Mada

PLASMA DARAH

PROTEIN PLASMA
Plasma mengandung sangat banyak protein terpisah dari susunan kimia yang
berbeda misalnya urutan dan komposisi asam amino. Sehingga mereka juga berbeda dalam
sifat-sifat fisik seperti berat molekul, berat jenis, kelarutan dan muatan listrik, serta dalam
identitas imunologik. Dengan alat elektroforese telah dapat diidentifikasi kurang lebih 22
macam protein plasma yang berbeda.
Plasma protein menducfuki posisi utama dan dominan dalam metabolisme protein
karena erat hubungannya dengan proses metabolisme dalam organ hati dan interaksinya
dengan jaringan di seluruh bagian tubuh. Oleh karena begitu eratnya hubungan protein
plasma dengan jaringan tubuh, maka dan sini dapat diambil sejumlah informasi tentang
status umum metabolisme protein dalam tubuh pasien berdasarkan hasil pemeriksaan
protein plasma.
Plasma protein merupakan kelompok senyawa kimia yang heterogen dan
kehetenogenan

ini

telah

dapat

diperlihatkan

dengan

analisa

menggunakan

alat

ultrasentnifus. Dengan mengevaluasi berdasarkan berat molekul dan variasi komponen


protein plasma telah menyokong kekarakteristikan mereka. Macam protein plasma dan berat
molekulnya adalah:
-

albumin : sekitar 69.000

globulin misalnya

alpha () globulin: 200.000-300.000


beta () globulin : 150.000-350.000
gamma () globulin: 150.000-300.000

fibninogen : 400.000
Dari sejumlah macam protein plasma yang berfungsi dalam memelihara tekanan

osmotik, maka albumin merupakan protein plasma yang paling terlibat. Oleh karena albumin
mempunyai berat molekul yang paling kecil maka Ia yang pertama kali dapat lolos dari aliran
darah apabila terjadi peningkatan permeabilitas dinding kapiler, misalnya pada kondisi
keradangan.
Dengan alat elektroforese identifikasi fraksi-fraksi albumin dan globulin dan protein
plasma dapat ditelusuri, misalnya alpha 1, alpha 2, beta dan gamma globulin.

Albumin
Dalam plasma hewan normal, albumin merupakan 40-60% dari protein plasma total,
walaupun konsentrasi rata-rata albumin tergantung pada pada spesies hewan dan factorfaktor lain seperti adanya dehidrasi. Sehubungan dengan fungsi albumin dalam dalam
tekanan osmotik, maka albumin berfungsi sebagai sumber asam amino bagi protein jaringan.
Universitas Gadjah Mada

Albumin juga mempunyai kemampuan mengadakan ikatan dengan macam- macam


substansi. Albumin bertanggung jawab bagi pengangkutan kebanyakan bilirubin dan kalsium
yang terikat protein (tak terionisasi) di dalam plasma. Albumin mengikat zat warna yang
dimasukkan ke dalam sirkulasi (misalnya bromsulftalein; biru Evans) dan banyak obatobatan (misalnya salisilat), metabolit (misalnya asam lemak bebas) dan hormon (misalnya
hormon tiroidea). Kemampuan ini dapat mencegah cepatnya ekskresi obat-obatan dan
membantu dalam proses detoksifikasi dan inaktivasi terhadap bahan-bahan tertentu yang
dapat menyebabkan toksis terhadap tubuh hewan. Albumin juga memegang peranan
penting dalam transportasi asam-asam lemak. Disamping itu albumin mempunyai kerja
penstabilisasi atas sitem koloid (seperti yang dipergunakan untuk tes fungsi hati flokulasi dan
atas kecepatan sedimentasi darah).
Albumin disintesa di dalam hati dan mempunyai masa paruh (half life) sekitar 15 hari.
Albumin yang bersirkulasi di dalam plasma mungkin tidak mempunyai nilai nutritif jaringan
secara langsung.

Globulin
Globulin merupakan kelompok protein yang tidak larut dalam air tetapi dapat larut
dalam larutan asam, basa, dan larutan garam dengan konsentrasi rendah. Seperti yang telah
disebutkan di muka bahwa globulin plasma terdiri dan alpha, beta dan gamma globulin
danmasing-masing globulin tersebut masih dapat digolongkan dalam fraksi-fraksi yang lebih
kecil. Kadar alpha dan beta globulin adalah tergantung pada macam spesies hewan. Fungsi
utama alpha dan beta globulin adalah sebagai pembawa (carrier) macam-macam lipida,
hormonhormon yang larut dalam lipida, vitamin dan lain-lain substansi yang mirip dengan
lipida. Lipida-lipida ini tidak secara bebas dalam plasma selama transportasi, akan tetapi
terikat oleh globulin dan disebut lipoprotein.
Alpha globulin lain termasuk komponen glikoprotein yaitu ceruloplasmin, berfungsi
sebagai pembawa ion tembaga (Cu). Contoh lain yang termasuk alpha globulin yaitu
haptoglobulin yang berfungsi sebagai pembawa Hb yang kemudian akan mengedarkannya
dalam plasma.
Pengangkutan besi (Fe) rupanya berhubungan erat dengan beta globulin. Suatu
glikoprotein yang terlibat dalam pengangkutan Fe ini disebut transferin atau sideropilin.
Pengangkutan pertama terjadi pada tempat-tempat absorpsi Fe pada traktus intestinal ke
tempat-tempat penyimpanan dalam tubuh termasuk organ hati dan limpa.
Gamma globulin atau imunoglobulin terutama berhubungan erat dengan antibodi.
Pada umumnya kenaikan kadar gamma globulin selalu diikuti oleh kenaikan titer antibodi,
akan tetapi hal ini tidak selalu berlaku.

Universitas Gadjah Mada

Fibrinogen
Fibrinogen merupakan protein plasma yang mempunyai fungsi utama dalam proses
pembekuan darah. Fibrinogen disintesa oleh organ hati dimana diproduksi oleh mikrosom
dalam sel-sel hati atau hepatosit. Penyimpanan fibrinogen terjadi pada sel-sel parenkim hati
sampai nanti dibutuhkan oleh tubuh. Fibrinogen mempunyai turn over time lebih cepat
daripada protein plasma yang lain yaitu sekitar 50 jam. Turn over time yang cepat ini
diperlukan untuk mensuplai fibrinogen baru untuk melindungi endotel pembuluh darah. Ada
kemungkinan fibrinogen diperlukan dalam suatu proses metabolisme tertentu akan tetapi hal
ini belum dapat dibuktikan secara eksperimental.

Glikoprotein
Senyawa ini merupakan protein alami yang mengandung sejumlah komponen
karbohidrat, misalnya hexose, hexosamine, asam sialic dan sejumlah kecil fucose. Ikatan
dengan komponen karbohidrat ditemukan pada semua protein plasma, akan tetapi alpha
globulin terikat lebih banyak dengan karbohidrat.
Glikoprotein nampaknya diproduksi oleh hati, namun protein ini diduga dihasilkan
pula atau dibebaskan langsung ke dalam darah oleh jaringan-jaringan yang mengalami
perubahan. Ada kemungkinan juga glikoprotein plasma disintesa sebagai respon kerusakan
jaringan karena terjadi proses proliferasi. Jaringan yang mengalami proliferasi tersebut
memerlukan protein yang mengandung karbohidrat rendah, sehingga protein yang
mengandung karbohidrat yang lain dibebaskan ke peredaran darah.
Haptoglobulin
Haptoglobulin

mempunyai

kemampuan

berikatan

dengan

Hb

yaitu

secara

ektraselluler Hb. Setelah berikatan maka akan menjadi susunan yang kompleks dan
dipindahkan dan sirkulasi oleh sistema retikuloendotelial. Pada kasus dimana terjadi
pembebasan Hb yang berlebihan pada sirkulasi darah, maka akan terjadi ikatan yang lebih
banyak dengan haptoglobulin plasma. Haptoglobulin ini dapat diekskresikan lewa ginjal,
sehingga akibatnya akan terjadi hemoglobinuria. Sebagian besar hemoglobin dalam plasma
mengalami kehancuran dan terbebaskan haem yang kemudian akan teroksidir menjadi
hematin. Hematin akan berikatan pula dengan hemopexin (dijumpai pada beta globulin
zone). Namun terbentuknya hematin yang berlebihan, maka tidak akan seluruhnya berikatan
dengan hemopexin, oleh karenanya sebagian terikat dengan albumin plasma, dan bentuk
kompleks ini disebut ferrihemalbumin atau methemalbumin. Konsentrasi haptoglobulin
dijumpai sangat rendah pada anemia hemolitika. Kemampuan haptoglobulin dalam mengikat
Hb sekitar 100-130 mg/100 mL plasma.

Universitas Gadjah Mada

Lipoprotein
Dua macam fraksi lipoprotein dalam plasma yaitu alpha 1 dan beta 1 globulin.
Senyawa protein ml berfungsi sebagai pembawa hormone-hormon steroid, vitamin-vitamin
yang larut dalam lemak, gliserida, kolesterol dan bentuk esternya, fosfolipida dan bahanbahan yang larut dalam lemak. Alpha dan beta globulin ini terutama disintesa oleh sel-sel
retikuloendotelial.

Metabolisme
Gamma globulin disintesa oleh sel-sel limfoid dan nodus limfatikus, limpa dan
sumsum tulang, yang mana albumin, fibninogen dan pnotrombin dibentuk di hati disamping
itu sebagai tempat pembentukan alpha dan beta globulin.
Status nutnisional dan seekor hewan mempunyai penganuh dalam sintesis protein
plasma. Pengaruh secara langsung adalah sebagai sumber bahan dalam sintesa; pengaruh
secana tidak langsung yaitu apabila tenjadi defisiensi protein maka akan merugikan bagi
hati. Kekurangan diet protein akan sangat mempengaruhi level gamma globulin dan albumin
plasma. Kekunangan albumin plasma yang amat sangat akan menyebabkan tenjadinya
edema. Penununan gamma globulin akan berakibat hambatan resistensi tubuh terhadap
agen-agen infeksius.
Pada anjing normal yang kekurangan protein plasma, diketahui bahwa 90% dan
protein plasma total dapat diregenerasi setiap minggunya. Pada kondisi optimal, meliputi
suplai protein yang cukup dan rangsangan sintesis, protein plasma dapat dibentuk dalam
waktu yang relatif singkat.
Seperti telah diterangkan di muka, protein plasma juga sebagai sumber nutrisi bagi
janingan. Terjadilah keseimbangan dinamis antara protein dari plasma dan dalam jaringan.
Pada peristiwa kehilangan protein, level protein plasma sering mengalami degradasi untuk
menjaga keseimbangan level protein plasma. Sebagai kensekwensinya, kehilangan
sejumlah protein jaringan misalnya, maka akan terjadi erubahan kecil pada konsentrasi
protein plasma. Kejadian hipoproteinemia pada manusia oleh karena semata-mata
kehilangan protein, maka dapat diperhitungkan bahwa penurunan 1 g protein plasma dalam
sirkulasi sejajar dengan kehilangan 30 g protein jaringan.
Pengamatan pada hewan percobaan menunjukkan bahwa ada iatu arus protein
plasma yang berkesinambungan dari plasma cairan ekstraselluler ke dalam limfe atau
sebaliknya
Hal ini telah diperkirakan bahwa rata-rata 50% dari protein asma total melintasi
duktus toraksikus setiap harinya. ejadian secara ekspermmental menunjukkan bahwa protein
plasma intravaskuler adalah dalam keseimbangan dinamik dengan protein plasma
ekstravaskuler. Adanya penurunan protein plasma dan satu kompartemen menghasilkan
Universitas Gadjah Mada

pergeseran protein plasma dan kompartemen yang mengandung lebih tinggi protein plasma
ke kompartemen yang lebih rendah.
Indikasi untuk pemeriksaan protein plasma
Setiap abnormalitas protein plasma merupakan petunjuk adanya perubahan
patologik, fisiologik atau faktor lain yang pengaruhi penyimpangan kadar protein plasma
tersebut meskipun penyimpangan protein plasma tersebut tidak spesifik untuk penyakitpenyakit tertentu, tetapi dalam protein asma total maupun fraksi-fraksmnya dapat merupakan
petunjuk penting untuk diagnosa maupun prognosa suatu penyakit.
Dari status keseimbangan air pada hewan dapat dievaluasi perkiraan kebutuan akan
protein plasma. Tes ini dapat dilakukan dengan penentuan packed cell volume (PCV) atau
Hb atau keduanya adalah bermanfaat dalam menentukan ada tidaknya maupun derajat
dehidrasi,
Perkiraan jumlah protein plasma total (dalam satuan g/dL) sering dibutuhkan dalam
memperkirakan keadaan nutrisional hewan. Keadaan nutrisional bisa tergantung pada
pemasukan bahan-bahan protein yang cukup dan tepat atau bahan-bahan pembentuk
protein. Hal ini dapat merefleksikan perubahan-perubahan dalam proses metabolisme.
Perubahanperubahan konsentrasi protein plasma mungkin dapat digunakan untuk indikasi
penyakit.
Perkiraan jumlah protein plasma total juga dapat merupakan petunjuk akan
metabolisme protein, dalam hubungannya dengan aktivitas organ-organ tertentu misalnya
hati dan ginjal. Perubahan-perubahan protein plasma secara drastis dapat dijumpai pada
penyakit hati, dan perkiraan kadar protein plasma mernpunyai nilai diagnostik dan
prognostik. Pada penyakit hati akut berat atau kronis, sintesa albumin melemah. Penurunan
albumin plasma yang terjadi setelah trauma dan pada penyakit atropi yang lain yang
berlangsung lama serta kontinu, ataupun pada infeksi akut atau kronis dan pada penyakit
sistemik lain, sebagian karena kerusakan hati, sebagian karena kelemahan masukan dan
sebagian karena destruksi protein toksik yang tidak bisa dijelaskan.
Masukan, pencernaan atau absorpsi protein yang tidak adekuat, peningkatan
katabolisme protein dan kehilangan protein, selain menyebabkan defisiensi albumin, juga
menyebabkan keseimbangan nitrogen yang negatif. Penurunan masukan protein tidak
segera menurunkan albumin plasma, protein jaringan terdeplesi sebelum kadar protein
plasma menurun dan penurunan konsentrasi albumin plasma tiap 10 g/L menunjukkan
deplesi sekitar 30 g protein jaringan.
Kehilangan albumin ke dalam cairan edema atau asites dari plasma tidak dengan
sendirinya merubah kandungan albumin tubuh total.

Universitas Gadjah Mada

Penurunan albumin boleh jadi karena gangguan berupa hambatan sintesa albumin
atau kenaikan konsentrasi globulin atau adanya indikasi terhadap kerusakan besar-besaran
atau banyak kehilangan albumin. Perubahan-perubahan terhadap kerusakan globulin
biasanya merupakan refleksi respon dan stema retikuloendotelial terhadap rangsangan
antigenik. Infeksi sehubungan dengan invasi benda-benda asing dalam tubuh apakah itu
berupa bakteria, virus, protozoa, atau sebab parasit biasanya menyebabkan peningkatan
gamma lobulin.
Perkiraan nilai protein plasma total akibat syok, dehidrasi atau hemoragi adalah
sangat bermanfaat sebagai doman pemberian cairan dalam keadaan darurat. Level rotein
total dalam hal mi bervariasi pada beberapa kondisi. Syok dan dehidrasi keduanya
meningkatkan protein plasma total, sedangkan pada hemoragi menyebabkan penurunan
protein plasma total jika keseimbangan air antara intravaskuler dan ekstravaskuler telah
kembali mantap.
Nilai normal
Perbedaan metode pemeriksaan protein plasma kadang - kadang menyebabkan
adanya variasi hasil.

PPT : protein plasma total


Pengukuran protein total
Pemeriksaan nitrogen. Tindakan standar didasarkan atas tehnik Kjeldahl. Protein
dicernakan dan nitrogen dikonversi menjadi amonia yang dapat diukur dengan teliti.
Pengukuran fraksi-fraksi protein dalam serum atau plasma dapat diketahui dengan cara
elektroforesis atau ultra-sentrifus. Dasar dan metode elektroforesis adalah bahwa aliran
listrik yang melalui suatu larutan protein akan menyebabkan fraksi-fraksi protein akan
bergerak ke arah elektroda positif dengan kecepatan yang berbeda-beda.
Universitas Gadjah Mada

Pemeriksaan Biuret. Ini lazim digunakan untuk pekerjaan klinis dan tergantung atas
reaksi warna antara tembaga alkali dan rantai peptida CO-NH. Metode berdasarkan atas
terdapatnya jumlah rantai CO-NH yang tetap per satuan massa protein apapun sifatnya.
Berat jenis. Jika serum diteteskan ke dalam larutan tembaga sulfat yang diketahui
densitasnya, tetesan ini akan terapung atau tenggelam sesuai dengan densitasnya, yang
sangat tergantung atas konsentrasi proteinnya. Metode ini berguna untuk pekerjaan
lapangan.
Metode Refraktometrik. Merupakan metode yang paling inudah dan cepat, sedang
hasilnya diakui sebagai sebanding dengan cara-cara kuantitatif kimiawi. Sebuah alat yang
biasa dipakai adalah TSmeter. Konsentrasi protein tercatat dalam satuan g/dL, dapat
langsung dibaca pada alat tersebut. Pengukuran protein plasma dalam plasma yang lipemik
(banyak mengandung lemak) tidak cocok dengan menggunakan TSmeter.
SUBSTANSI NON PROTEIN DALAM PLASMA
Dalam plasma dikenal adanya nitrogen bukan protein darah (NPN non protein
nitrogen) terdiri dan urea, urat, kreatin dan kreatinin, asam-asam amino dan amonia, dan
substansi non protein non nitrogen misalnya kalsium (Ca), fosfor (P), magnesium (Mg),
natrium (Na), kalium (K) dan kolesterol.

Urea
Hampir seluruh urea dibentuk di dalam hati, dan katabolisme asam-asam amino dan
merupakan produk ekskresi etabolisme protein yang utama. Konsentrasi urea dalam plasma
darah (BUN = blood urea nitrogen) terutama menggambarkan keseimbangan antara
pembentukan urea dan katabolisme protein serta ekskresi urea oleh ginjal, sejumlah urea
dimetabolisme lebih lanjut dari sejumlah kecil hilang dalam keringat dan feses.
Metoda klasik untuk pemeriksaan urea memerlukan konversi menjadi amonia oleh
enzim urease yang spesifik dan engukuran amonia dengan suatu metode kolorimetri
berdasarkan atas reaksi dengan diasetil monoksim yang sekarang banyak dipakai.
Disamping itu ada tes lajur komersial yang cepat (Urastrat: William R. Warner; Azostix:
Ames) berdasarkan atas reaksi urease, karena mendekati pemeniksaan urea plasma.
Adanya gangguan fungsi ginjal maka akan tenjadi pula gangguan ekskresi urea.
Seperti telah diketahui bahwa urea dalam plasma akan disaning oleh glomerulus ginjal dan
dibawah kondisi normal kira-kira 40% dan jumlah urea berada kembali ke dalam sirkulasi
darah. Kegunaan pemeriksaan urea darah mempunyai manfaat dalam mendiagnosa
kelainan ginjal, embantu dalam menentukan diferensial diagnosa, membantu dalam
menentukan prognosa namun pemeriksaan BUN disini harus secara serial, dan dengan
demikian akan dapat diketahui perkembangan suatu penyakit.
Universitas Gadjah Mada

Kenaikan urea darah dapat disebabkan 3 kemungkinan:

Prerenal
Peningkatan katabolisme protein jaringan disertai dengan keseimbangan nitrogen
yang negatif. Misalnya pada keadaan demam, penyakit yang menyebabkan atrofi,
tirotoksikosis, koma diabetika atau setelah trauma ataupun operasi besar. Karena sering
kasus peningkatan katabolisme protein itu kecil, dan tidak ada kerusakan ginjal primer atau
sekunder, maka ekskresi ke urina akan membuang kelebihan urea dan tidak ada kenaikan
bermakna dalam urea plasma.
Pemecahan protein darah yang berlebihan. Pada kasus leukemia, pelepasan protein
leukosit menyokong urea plasma yang tinggi. Hemoglobin eritrosit dan protein plasma dapat
dilepaskan ke dalam usus karena perdarahan dan penyakit gastrointestinalis dan
dicernakan, sering disertai volume darah yang rendah dengan kelemahan fungsi ginjal yang
sekunder.
Pengurangan ekskresi urea. Ini merupakan penyebab yang umum dan terpenting
serta bisa prerenal, renal atau postrenal. Penurunan tekanan darah perifer seperti syok atau
bendung vena pada keadaan payah jantung kongesti atau volume plasma yang rendah dan
hemokonsentrasi seperti pada deplesi natrium oleh sebab apapun termasuk penyakit
Addison, mengurangi aliran darah ke ginjal. Disamping itu hewan dalam keadaan dehidrasi
(misalnya pada keadaan muntah-muntah, diare, diuresis) akan memperlihatkan peningkatan
sedikit kandungan urea darah. Pada penyakit hati juga dapat reningkatkan kadar urea darah
akan tetapi sifatnya ringan, isalnya pada penderita hepatitis infeksiosa anjing yang ana akan
terjadi peningkatan katabolisme protein dan demam yang yang hebat. Peningkatan
katabolisme jelas akan meningkatkan proses pemecahan protein.

Renal
Kerusakan pada nefron ginjal bisa disebabkan oleh terjadinya lesi-lesi di beberapa
tempat misalnya pada glomeruli dan tubuli. Perubahan-perubahan patologik pada jaringan
interstisiel ginjal juga dapat menyebabkan perubahan fungsi nefron.
Penyakit ginjal yang disertal dengan penurunan laju filtrasi glomerulus menyebabkan
urea plasma tinggi. Ini secara khas terlihat pada glomerulonefritis akuta dan pada kegagalan
ginjal destruktif yang berat, kegagalan ginjal akuta atau sindroma hepatorenal. Urea plasma
normal pada sindroma nefrotik yang tak berkomplikasi.
Pada kasus leptospirosis bentuk ikterus, terlihat kadar area darah yang meningkat
jelas, sedang pada leptospirosis bentuk hemoragi, nampaknya kadar urea darah masih
dalam atas normal atau sedikit mengalami kenaikan.

Universitas Gadjah Mada

Post renal
Obstruksi saluran keluar urina (ureter) misalnya oleh elenjar prostata yang membesar
atau adanya neoplasma menyebabkan urea plasma yang tinggi dengan menyebabkan
meningkatan reabsorpsi urea melalui tubulus dan pengurangan filtrasi.
Pada sapi yang mengalami ruptur kandung kencing akibat adanya batu kencing,
akan terjadi kenaikan kadar urea darah yang nyata. Keadaan serupa dijumpai pula pada
obstriksi uretra akibat adanya batu kencing.
Azotemia merupakan istilah yang digunakan untuk onsentrasi urea plasma/darah
yang tinggi. Uremia merupakan rama yang diberikan bagi sindroma klinis yang timbul bila
terdapat retensi nitrogen yang jelas karena kegagalan ginjal.
Kadar urea darah dapat mengalami penurunan tetapi ini jarang terjadi, sekali-sekali
terjadi pada insufisiensi hati, nekrosis hati yang mana asam-asam amino tidak
dimetabolisme lebih lanjut. Pada serosis hepatis, urea plasma yang rendah sebagian
disebabkan oleh pengurangan sintesa dan sebagian karena retensi air, retensi air oleh
sekresi hormon antidiuretika yang tidak sepantasnya merendahkan urea plasma. Urea
plasma turun pada malnutrisi protein jangka panjang. Penggantian kehilangan darah jangka
anjang, dekstran, glukosa atau saline intravena bisa merendahkan urea plasma oleh
pengenceran. Kadang-kadang urea arah terlihat menurun pada akhir suatu kebuntingan, ini
bisa karena peningkatan filtrasi glomerulus, diversi nitrogen ke fetus atau karena retensi air.
Karena begitu banyak alasan mengapa urea plasma bisa meningkat, maka
pemeriksaan mempunyal nilai diagnostik yang kecil jika dilakukan sebagai tindakan acak
tetapi peningkatan urea plasma selalu abnormal. Kepentingan analisa urea plasma dalam
menyelidiki penyakit ginjal primer atau sekunder.
Pemeriksaan urea dalam urina dengan sendirinya mempunyai nilai yang kecil. Jika
masukan nitrogen diketahui, aka bisa didapat petunjuk kasar keseimbangan nitrogen. Jika
urea plasma diketahui, maka Ia dapat berlaku sebagai ukuran fungsi ginjal, dengan
mengkalkulasikan clearance urea.

Universitas Gadjah Mada

10