Anda di halaman 1dari 3

Kian maraknya perilaku menyimpang dikalangan remaja seperti tawuran antar pelajar ,

hubungan seks pranikah dan pengkonsumsian obat-obatan terlarang. Membuat resah bagi
berbagai pihak , entah dari pihak Keluarga,Sekolah,Pemerintah dan pihak Kepolisian.
Dalam mengatasi perilaku-perilaku menyimpang pada remaja tersebut di perlukan
adanya suatu pengendalian sosial dalam diri remaja . Apabila perilaku-perilaku menyimpang
pada remaja tidak dapat di kendalikan secepat mungkin , kemungkinan besar dapat
menimbulkan bertambahnya korban lagi ataupun bertambahnya lagi remaja-remaja yang
putus bersekolah. Bila sudah begini siapakah yang patut dipersalahkan ? apakah pihak
pemerintah ,pihak keluarga , pihak sekolah atau aparat keamanan .
Pada saat ini tidak diperlukan untuk saling menyalahkan satu sama lainnya, yang
diperlukan sekarang ini hanyalah sebuah penyelesaian agar perilaku menyimpang dalam
remaja semakin berkurang .
Pengendalian sosial untuk mengatasi perilaku menyimpang pada remaja Indonesia,
sampai sekarang masih cenderung bersifat Represif , yang artinya pengendalian ini dilakukan
apabila sudah terjadinya suatu penyimpangan sosial . Seperti halnya sesudah terjadinya
tawuran antar sekolah , yang mengakibatkan adanya korban jiwa barulah berbagai pihak
mulai bertindak untuk melakukan penyeselesaian masalah .
Yang diperlukan dalam mengatasi perilaku menyimpang pada remaja saya fikir perlu
adanya tindakan persuasif . Tindakan Persuasif yaitu cara yang menekankan pada usaha
untuk mengajak atau membimbing para remaja agar bertindak sesuai dengan aturan-aturan
yang berlaku pada masyarakat.

Sekolah-sekolah di Indonesia perlu melakukan tindakan-tindakan persuasif untuk


mengajak dan membimbing para siswanya agar mematuhi aturan-aturan yang berlaku
sehingga para siswa tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang negatif.
Bukan hanya sekolah saja yang perlu melakukan tindakan persuasif tetapi setiap
keluarga juga harus melakukan tindakan itu . Yang kita ketahui Keluarga merupakan agen
sosial yang pertama bagi para remaja, karena dikeluarga lah para remaja mulai bersosialisasi
serta dibimbing . Jadi setiap keluarga perlulah membimbing serta berbicara langsung kepada
anaknya untuk melakukan sesuatu yang baik di mata keluarga dan masyarakat.
Sementara itu pengendalian melalui tindakan persuasif juga dapat dilakukan antara lain
melalui tulisan-tulisan, spanduk serta iklan layanan masyarakat . Contohnya dapat berupa
penyuluhan-penyuluhan dari pihak polisi kepada para remaja tentang bahayanya penggunaan
obat terlarang atau Narkoba, serta ajakan para pemuka agama dalam ceramah ceramahnya
kepada remaja-remaja di Indonesia agar menjauhi tindakan-tindakan yang berbau
kriminalitas dan juga diperlukan spanduk-spanduk ataupun poster-poster yang mengajak
para remaja untuk menjauhi tindakan yang berbau kekerasan untuk menjaga persatuan dan
kesatuan .
Apabila upaya upaya untuk memerangi dan mengurangi terjadinya perilaku
menyimpang pada kalangan remaja tidak berkesan , perlulah menggunakan cara
pengendalian secara koersif. Cara pengendalian secara koersif yaitu cara yang menekankan
pada tindakan atau ancaman yang menggunakan kekerasan ataupun kekuatan fisik . Tujuan
tindakan atau ancaman ini dilakukan agar para pelaku jera dan tidak melakukan perbuatannya
lagi. Namun cara koersif sebaiknya dilakukan sebagai upaya terakhir sesudah dilakukannya
cara-cara persuasif .

Bagaimana pun cara-cara yang ingin dilakukan untuk mengendalikan dan mengurangi
perilaku menyimpang pada remaja , saya fikir sangat diperlukan juga sifat keterbukaan para
remaja untuk menginstropeksi dirinya serta menerima masukan-masukan yang positif dari
berbagai pihak.
Para remaja merupakan cerminan bangsa kita pada masa yang akan datang . Karena
para remaja-remaja sekarang ini merupakan Generasi penerus bangsa kita pada masa yang
akan datang. Maka dari pada itu ayo para remaja-remaja Indonesia , kalian bisa membangun
Negara kita pada masa yang akan datang menjadi Negara yang maju dan makmur.