Anda di halaman 1dari 27

SIKLUS AKUNTANSI DAN SIKLUS AKUNTANSI

KEUANGAN DAERAH
Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Daerah
Dosen Pengampu : Nurhayati Soleha, SE., M.Si

Disusun Oleh Kelompok 4 , Kelas IV C :


Dhera Agung D.

NIM 5552131620

Rahma Sari Kharunisa

NIM 5552131662

Hanifah Rahmani

NIM 5552141956

Fajar Ray Stevenson

NIM 5552143292

Irfan Fahrurozi

NIM 5552111734

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam penulisan
selanjutnya.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Serang, 1 April 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Judul makalah . i
Kata pengantar .ii
BAB I

PENDAHULUAN..I

1.1

Latar belakang ..4

1.2

Rumusan Masalah............................................4

1.3

Tujuan 4

BAB II

PEMBAHASAN...II

2.1

Siklus Akuntansi.. ...5

2.2

Siklus akuntansi Keuangan Daerah14

BAB III

PENUTUP.III

3.1

Kesimpulan....26

3.2

Daftar Pustaka.28

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akuntansi keuangan daerah merupakan suatu proses pengidentifikasian, pengukuran,
pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari entitas pemerintah daerah
Pemda (kabupaten, kota, atau provinsi) yang dijadikan sebagai informasi dalam ranka
pengambilan keputusan ekonomi yang diperlukan oleh pihak-pihak eksternal entitas pemda.
Pihak-pihak eksternal entitas pemda yang memerlukan informasi yang dihasilkan oleh
akuntansi keuangan daerah tersebut antara lain adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD); badan pengawas keuangan; investor, kreditur, dan donatur; analisis ekonomi dan
pemerhati pemda; rakyat; pemda lain; dan pemerintah pusat yang seluruhnya berada dalam
lingkungan akuntansi keuangan daerah.
Akuntansi keuangan daerah menggunakan sistem pencatatan dan dasar akuntansi
tertentu pada era pra dan pasca reformasi. Selain itu, dasar atau basis akuntansi merupakan
salah satu asumsi dasar yang penting dalam akuntansi. Hal ini disebabkan karena asumsi ini
menentukan kapan pencatatan suatu transaksi dilakukan, yang dikenal dalam tata buku
keuangan daerah selama era pra reformasi keuangan daerah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sebenarnya siklus akuntansi?
2. Bagaimana sebenarnya siklus akuntansi keuangan daerah?

1.3 Tujuan
Dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa mampu memahami
materi tentang Akuntansi Keuangan Daerah. Dan dapat menjadi acuan untuk penulisan
makalah-makalah yang sejenis selanjutnya.
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Siklus Akuntansi
Akuntansi adalah suatu sistem, yaitu suatu kesatuan yang terdiri atas subsistemsubsistem atau kesatuan lebih kecil yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan tertentu.
Suatu sistem mengolah input menjadi output. Input sistem akuntansi adalah bukti-bukti
transaksi dalam bentuk dokumen atau formulir. Outputnya adalah laporan keuangan. Dalam
proses akuntansi, terdapat beberapa catatan yang dibuat, yaitu jurnal, buku besar, dan buku
pembantu. Apabila digambarkan, sistem akuntansi tersebut akan tampak seperti yang
ditunjukkan pada tampilan berikut.
TAMPILAN 1
Sistem Akuntansi
INPUT
bukti

OUTPUT
jurn
al

BB

Lap. keuangan

BP

Dalam konteks akuntansi keuangan daerah juga terdapat sistem akuntansi


pemerintahan daerah. Konsep sistem akuntansi keuangan daerah sejalan dengan konsep
sistem akuntansi diatas dan sistem akuntansi pemerintah dalam SAP. hal ini tercantum dalam
pasal 1 ayat (11) PP nomor 71 tahun 2010 tentang SAP yang menyebutkan dalam sistem
akuntansi pemerintahan adalah rangkaian sistematik dari prosedur, penyelenggara, peralatan,
dan elemen lain untuk mewujudkan fungsi akuntansi sejak analisis transaksi sampai dengan
pelaporan keuangan di lingkungan organisasi pemerintahan.

Sistem akuntansi keuangan daerah memiliki contoh input berupa bukti memorial,
surat tanda setoran dan surat perintah pencairan dana. Proses sistem akuntansi keuangan
daerah dilakukan dengan menggunakan catatan seperti buku jurnal umum dan buku anggaran,
buku besar dan buku besar pembantu. Output sistem akuntansi keuangan daerah berupa
laporan keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran, laporan perubahan sal, neraca,
laporan operasional, laporan perubahana ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan
keuangan (Permendagri Nomor 71 tahun 2010 kerangka konseptual akuntansi pemerintahan
paragraph 28).

System akuntansi diatas dapat dijelaskan secara rinci melalui siklus akuntansi, yaitu tahaptahap yang terdapat dalam system akuntansi, seperti (Sugiri, 2001: 13) :
1. Mendokumentasikan transaksi keuangan dalam bukti dan melakukan analisis
transaksi keuangan tersebut.
2. Mencatat transaksi keuangan dalam buku jurnal, tahapan ini disebut menjurnal.
3. Meringkas, dalam buku besar, transaksi-transaksi keuangan yang sudah dijurnal.
Tahapan ini disebut posting atau mengakunkan.
4. Menentukan saldo-saldo buku besar diakhir periode dan menuangkannya dalam
neraca saldo.
5. Menyesuaikan buku besar berdasarkan pada informasi yang paling up-to-date
(mutakhir)
6. Menentukan saldo-saldo buku besar setelah penyesuaian dan menuangkannya dalam
neraca saldo setelah penyesuaian (NSSP).
7. Menyusun laporan keuangan berdasarkan pada NSSP.
8. Menutup buku besar.
9. Menentukan saldo-saldo buku besar dan menuangkannya dalam neraca saldo setelah
tutup buku.

Siklus Akuntansi

1. Analisis
keuangan

transaksi

9. neraca saldo setelah


tutup buku

2. jurnal transaksi

8. jurnal penutup

3. posting ke buku besar

7. laporan keuangan:
a. laporan realisasi anggaran
4. neraca saldo
Analisis Transaksi
b. laporan perubahan sal
c. neraca
Untuk dapat memahami yang dimaksud dengan analisis transaksi, terlebih dahulu
d. laporan operasional
5. Jurnal penyesuaian
akan
e.laporan
diulangperubhan
kembaliekuitas
penjelasan tentang system (tata buku) berpasangan
dan persamaan
f. lap. Aliran kas

dasar akuntansi. Akuntansi menggunakan system pencatatan berpasangan (double entry


6. neraca saldo
setelahmembayar sewa garasi. Terhadap
system). Sebagai contoh, pemda mengeluarkan
kas untuk
penyesuaian

transaksi ini, akuntansi mencatat tidak hanya pengeluaran kas, tetapi juga tujuan
dikeluarkannya kas tersebut. Analisis transaksi juga tunduk pada system berpasangan
tersebut. Untuk memahami analisis transaksi demikian, kita akan menggunakan alat bantu
persamaan dasar akuntansi.
Pada saat pembentukan suatu entitas, para pemilik menyetorkan sejumlah uang atau
barang pada entitas tersebut. Kontribusi para pemilik menyebabkan entitas tersebut memiliki
harta atau aktiva. Kesepakatan akuntansi menghendaki kontribusi para pemilik (dalam hal ini
rakyat) secara nyata menjadi aktiva pemda yang dipisahkan dari kekayaan pemiliknya, yaitu
rakyat. Kesepakatan akuntansi menghendaki pula pencatatan yang jelas di mana aktiva
pemda diperoleh. Sumber diperolehnya aktiva dicatat pada sisi yang bersebrangan dengan sisi
pencatatan aktiva pemda, sehingga selalu terpelihara keseimbangan antara aktiva dan
sumbernya.
Secara matematis, posisi keseimbangan antara aktiva (sarana) dan sumbernya dinyatakan
dengan identitas (persamaan) sebagai berikut:
AKTIVA = PASIVA
Dalam perjalanan hidup selanjutnya, bisa jadi pemda menerima aktiva dari para pihak
kreditur. Jadi, terdapat dua pihak yang menjadi sumber diperolehnya aktiva, yaitu pemilik
(rakyat) dan kreditur. Agar dapat dibedakan dengan jelas antara hak pemilik dan hak kreditur,
7

maka hak para kreditur disebut utang atau kewajiban sedangkan hak para pemilik (rakyat)
disebut ekuitas dana. Dengan demikian, persamaan akuntansinya menjadi:
AKTIVA = UTANG + EKUITAS
Jadi, aktiva adalah sumber-sumber ekonomi yang dikuasai oleh suatu entitas dan
masih memberikan kemanfaatan di masa yang akan datang. Utang merupakan pengorbananpengorbanan ekonomi untuk menyerahkan aktiva atau jasa kepada entitas lain di masa yang
akan datang. Ekuitas dana adalah hak residu atas aktiva setelah dikurangi utang.
Jika entitas berupa perusahaan, maka dalam rangka mencari laba perusahaan menjual
produknya (barang atau jasa). Aktivitas penjualan barang atau penyerahan jasa akan diikuti
dengan penerimaan aktiva, baik berupa uang maupun piutang. Dalam konteks keuangan
daerah, pemda juga menerima aktiva. Contoh pendapatan pemda adalah pendapatan asli
daerah (PAD) dan dana perimbangan. Jadi, pendapatan-LO adalah semua penerimaan daerah
dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang mempengaruhi kekayaan daerah.

Disamping itu, jika entitas berupa perusahaan, dalam rangka mencari laba, perusahaan
perlu mengeluarkan harta/aktivanya untuk membiayai berbagai pengeluaran, yang disebut
dengan biaya. Jadi, biaya adalah semua pengorbanaan ekonomi yang dikeluarkan untuk
memperoleh pendapatan. Pemda, sebagai suatu entitas, juga melakukan pengorbanan
ekonomi, baik untuk melaksanakan pelayanan public maupun melaksanakan kegiatankegiatan lainya. Pengorbanan ekonomi tersebut disebut beban dan belanja. Jadi, belanja
adalah semua pengeluaran pemda pada suatu periode anggaran. Contohnya biaya atau belanja
tersebut adalah belanja pegawai, belanja bunga, belanja bagi hasil dan bantuan keuangan, dan
belanja tak terduga.
Baik pendapatan maupun biaya atau belanja akan menyebabkan perubahan pada
ekuitas dana. Pendapatan pemda akan menyebabkan naiknya ekuitas dana, sedangkan biaya
atau belanja akan menurunkan ekuitas dana. Dengan adanya pendapatan dan biaya atau
belanja tersebut, maka persamaan dasar akuntansi di asta menjadi:
AKTIVA = UTANG + EKUITAS DANA + PENDAPATAN-LO BELANJA
Atau, jika rekening biaya dipindah ke ruas kiri sebelum tanda sama dengan, maka persamaan
akuntansi dasar di atas akan menjadi
8

AKTIVA + BELANJA = UTANG + EKUITAS + PENDAPATAN-LO


Karena pada dasarnya rekening-rekening pendapatan dan biaya/belanja merupakan
subbagian dari rekening ekuitas dana, maka pada akhir periode akuntansi atau akhir tahun
anggaran saldo-saldonya akan ditransfer ke rekening ekuitas dana memalui proses tutup
buku. Rekening pendapatan dan biaya tersebut disebut dengan rekening temporer (nominal)
karena bersifat sementara. Di pihak lain, kelompok rekening aktiva, utang, dan ekuitas dana
disebut rekening permanen (riil) karena bersifat permanen.

Jurnal Transaksi
Jurnal dirancang sedemikian rupa sehingga menampung transaksi beserta keteranganketerangan beserta kondisi-kondisi yang menyertainya. Keberadaan jurnal dalam proses
akuntansi tidak menggantikan peran rekening dalam mencatat transaksi, tetapi merupakan
sumber pencatatan ke rekening. Oleh karena itu, jurnal sering disebut sebagai the books of
original entry (catatan akuntansi permanen yang pertama). Dengan adanya jurnal, pencatatan
ke rekening menjadi lebih mudah, sebab jurnal sudah memilah-milah transaksi dengan
pendebitan dan pengkreditan ysng sesuai dengan rekening yang bersangkutan.
Jurnal dibedakan menjadi dua, yaitu jurnal umum dan jurnal khusus. Jurnal umum
adalah jurnal yang digunakan untuk mencatatan semua jenis transaksi, sedangkan jurnal
khusus adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat hanya satu jenis transaksi. Contoh
jurnal khusus adalah jurnal penerimaan kas dan pengeluaran kas.

Posting ke Buku Besar


Transaksi keuangan pertama kali dicatat dalam buku jurnal, kemudian diringkas
dalam buku besar. Buku besar adalah sebuah buku yang berisi kumpulan rekening perkiraan/
akun (account). Rekening-rekening digunakan untuk mencatat secara terpisah pendapatan,
belanja, pembiayaan, aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Dengan demikian rekening
merupakan kumpulan informasi dalam suatu sistem akuntansi.
Proses pemasukan rekening-rekening dari jurnal ke dalam buku besar inilah yang
disebut dengan posting. Posting ke buku besar sekaligus merupakan penggolongan dan
9

peringkasan transaksi sebab tiap-tiap data transaksi dibawa ke masing-masing rekening yang
sesuai. Posting dapat di lakukan secara kronologi sebagaimana halnya penjurnalan, tetapi
dapat juga secara periodic (mingguan atau bulanan). Buku besar merupakan catatan akuntansi
permanen yang terakhir, sehingga dikenal dengan the books of final entry.
Dalam permendagri nomor 13 tahun 2006, pemerintah telah menetapkan formatformat jurnal umum, jurnal penerimaan kas, jurnal pengeluaran kas, buku besar, buku besar
pembantu, dan neraca. Oleh Karena itu, semua pemda wajib mengikuti format tersebut
Neraca Saldo
Prosedur penjurnalan dan posting dilakukan selama satu periode akuntansi.prosedur
berikutnya adalah menyusun neraca saldo pada akhir periode akuntansi. Neraca saldo adalah
daftar rekening-rekening beserta saldo yang menyertainya. Adapun saldo rekening diambil
angkatanya dari saldo terakhir yang ada disetiap rekening. Saldo rekening buku besar dengan
menggunakan format bukan T diketahui dari kode D (Debit) atau K (kredit) pada kolom
saldo. Saldo rekening dengan menggunakan format T diketahui dengan cara menjumlahkan
sisi debit dan sisi kredit. Bila jumlah debit melebihi jumlah kredit, maka selisihnya adalah
saldo debit. Apabila sebaliknya, maka selisihnya adalah saldo kredit.
Neraca saldo yang benar menuntut kesamaan keseluruhan jumlah pendebitan dengan
keseluruhan jumlah pengkreditan. Neraca saldo akan benar jika proses pemindahan transaksi
dari jurnal ke rekening juga benar.

Jurnal Penyesuaian
Tahap kelima dari siklus akuntansi diatas adalah penyusunan jurnal penyesuaian.
Jurnal penyesuaian perlu dibuat karena dalam akuntansi dikenal prosedur penyesuaian.
Prosedur penyesuaian perlu dilakukan karena akuntansi didasari asumsi dasar bahwa suatu
umur entitas ekonomi dapat dipenggal-penggal menjadi periode-periode yang sifatnya
buatan. Asumsi ini disebut Asumsi Periodisasi yang mengharuskan kita untuk membuat
jurnal penyesuaian.

10

Sehubungan dengan asumsi periodisasi, pendapatan dan biaya harus diakui pada
periode akuntansi tertentu. Pengakuan pendapatan dan biaya pada periode akuntansi tertentu
merupakan hal yang sulit. Untuk itu, dalam akuntansi dikembangkan dua prinsip umum yang
membantu penentuan pendapatan dan biaya tersebut. Prinsip yang pertama adalah prinsip
pengakuan pendapatan yang menyatakan bahwa pendapatan diakui pada periode
diperolehnya pendapatan tersebut. Pendapatan dianggap telah diperoleh jika jasa diserahkan
kepada konsumen, meskipun kasnya belum diterima. Dalam kasus ini, tagihan dilaporkan
sebagai aktiva. Sebalikanya, jika kas telah diterima sebelum jasa diserahkan kepada pihak
lain, maka penerimaan kas tidak boleh diakui sebagai pendapatan periode sekarang. Dalam
kasus ini, penerimaan uang muka dilaporkan sebagai utang. Pengakuan seperti inilah yang
disebut dengan konsep akrual (accrual) seperti telah diuraikan di muka.
Dalam mengakui biaya, akuntansi mengikuti pendekatan biarkan biaya mengikuti
pendapatan. Misalnya, upah buruh pabri diakui sebagai biaya, bukan pada saat upah tersebut
dibayar tetapi pada saat upah itu terjadi. Biaya dianggap terjadi pada waktu kerja atau jasa
buruh benar-benar telah memberikan sumbangan terhadap pendapatan, yaitu saat barang yang
dibuat oleh buruh tersebut telah terjual. Prinsip ini disebut dengan prinsip penandingan.
Sehubungan dengan kedua prinsip di atas, perlu dibuat jurnal penyesuaian pada akhir
periode akuntansi untuk memastikan bahwa pendapatan diakui pada periode diperolehnya
pendapatan tersebut dan biaya diakui pada periode terjadinya. Dengan kata lain, penyesuaian
diperlukan untuk menyakinkan bahwa prinsip-prinsip pengakuan pendapatan atau biaya telah
ditaati.

Penyesuaian memunginkan untuk melaporkan posisi aktiva, utang, dan ekuitas dana
dalam neraca pada tanggal neraca dan untuk melaporkan jumlah surplus atau defisit yang
wajar dalam Laporan Perhitungan APBD. Neraca saldo di atas mungkin belum memuat data
laporan keuangan yang up-to-date, karena alasan-alasan berikut:
1. Kejadian-kejadian tertentu, seperti pemakaian bahan pakai habis, tidak dijurnal setiap
hari karena penjurnalan demikian tidak praktis.
11

2. Biaya yang terjadi karena berlalunya waktu, seperti berkurangnya manfaat gedung,
persekot sewa dan asuransi, tidak dijurnal selama periode akuntansi.
3. Beberapa pos, seperti biaya listrik, mungkin belum dicatat karena tagihan dari PLN
belum diterima.

Jurnal penyesuaian disusun untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:


1. Melaporkan semua pendapatan yang diperoleh selama periode akuntansi.
2. Melaporkan semua belanja yang terjadi selama periode akuntansi.
3. Melaporkan dengan akurat nilai aktiva pada tanggal neraca. Sebagian nilai aktiva
pada awal periode telah terpakai selama satu periode akuntansi yang dilaporkan.
4. Melaporkan secara akurat kewajiban (utang) pada tanggal neraca. Dalam hal ini
pembiayaan sebenarnya sudah terjadi, tetapi belum dibayar.
Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
Setelah jurnal penyesuaian dibuat, langkah berikutnya adalah memostingnya ke buku
besar, sesuai dengan rekening-rekeningnya. Setelah posting dilakukan, maka rekeningrekening akan menunjukkan saldonya yang terbaru. Prosedur akuntansi berikutnya adalah
penyusunan neraca saldo setelah penyesuaian, yaitu neraca saldo yang disusun setelah
membuat jurnal-jurnal penyesuaian. Dengan demikian, saldo-saldo rekening yang terdapat
dalam neraca saldo setelah penyesuaian adalah saldo rekening-rekening setelah baru ini juga
dimasukkan dalam neraca saldo setelah penyesuaian.

Laporan Keuangan
Sesuai dengan siklus akuntansi, setelah menyusun neraca saldo setelah penyesuaian,
disusunlah laporan-laporan keuangan dengan mengambil data dari neraca saldo setelah
penyesuaian. Berdasarkan Paragraf 28 Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan SAP
Berbasi Akrual dalam PP No. 70 Tahun 2010, laporan keuangan pemda terdiri atas:
1. Laporan realisasi anggaran
12

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Laporan perubahan saldo anggaran lebih


Neraca
Laporan Operasional
Laporan perubahan ekuitas
Laporan arus kas
Catatan atas laporan keuangan

Jurnal Penutup
Rekeing pendapatan dan beban disebut rekening temporer karena saldo kedua
rekening tersebut pada akhir periode akuntansi akan ditransfer kedalam rekening ekuitas.
Proses penutupan rekening temporer terdiri atas tiga tahap; tahap pertama menutup rekening
pendapatan ke rekening ikhtisar surplus defisit-LO, tahap kedua menutup rekening beban ke
rekening ikhtisar surplus deficit-LO atau surplus/deficit-LO, dan tahap ketiga menutup
rekening ikhtisar surplus deficit-LO ke rekening ekuitas .
Neraca Saldo Setelah Tutup Buku
Tahap terakhir dari siklus akuntansi adalah penyusunan neraca saldo setelah
penutupan. Seperti halnya neraca saldo yang lain, neraca saldo setelah tutup buku juga berisi
ringkasan saldo rekening-rekening, hanya saja saldo tersebut adalah setelah pembuatan jurnal
penutup. Karena proses penutupan rekening temporer mentransfer saldo rekening-rekening
pendapatan dan biaya ke rekening ekuitas dana, maka dalam neraca saldo setelah tutup buku
tidak akan dijumpai rekening-rekening temporer tersebut. Kalaupun ada, saldonya akan
bernilai nol.
Dengan disusunnya neraca saldo setelah tutup buku ini, akan tampak bahwa rekeningrekening pemda atau satuan kerja sudah siap untuk digunakan kembali pada periode
akuntansi berikutnya. Rekening-rekening nominal sudah kembali nol, sedangkan rekeningrekening riil menyajikan jumlah yang benar-benar menjadi aset/aktiva, utang, dan ekuitas.
2.2 Siklus Akuntansi Keuangan Daerah
Pada dasarnya siklus akuntansi keuangan daerah mengikuti siklus akuntansi yang
telah dijelaskan diatas. Perbedaan yang ada adalah pada proses penyusunan laporan keuangan
pemda. Setelah menyusun neraca saldo setelah penyesuaian, dapat disusun laporan
perhitungan APBD. Namun demikian, untuk lebih mempermudah penyusunan laporan
keuangan yang lain, yaitu Laporan Perubahan Ekuitas Dana atau R/K Pemda, laporan Aliran
Kas dan Neraca, biasanya terlebih dahulu dilakukan proses tutup buku dengan membuat
13

jurnal penutup. Kemudian, setelah jurnal penutup itu diposting, barulah disusun ketiga
laporan dimaksud. Selain itu, perlu diketahui bahwa siklus tersebut didasari pula dengan
konsep artikulasi. Sebenarnya, sangat mungkin dalam lingkup sektor public ini diterapkan
konsep nonartikulasi, mulai dari proses dan siklus akuntansi hingga tersusunnya laporan
keuangan. Pendekatan articulated artinya laporan laba rugi itu dianggap sebagai
subklasifikasis dari pos modal. Sementara pendekatan non articulated artinya neraca dan
laporan laba rugi ini secara matematis independen satu sama lain.

SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH BERDASARKAN


PERMENDAGRI NOMOR 13 TAHUN 2006 YANG DISESUAIKAN DENGAN SAP
BERBASIS AKRUAL PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 71 TAHUN 2010
Sistem akuntansi pemerintah daerah menurut Pasal 232 ayat (3) Permendagri Nomor 13
Tahun 2006, meliputi serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan,
penggolongan dan peringkasan atas transaksi dan/atau kejadian keuangan serta pelaporan
keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan
secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. Kepala daerah menetapkan sistem
akuntansi pemerintahan daerah dengan mengacu pada peraturan daerah tentang pokok-pokok
pengelolaan keuangan daerah, disusun dengan berpedoman pada prinsip pengendalian intern
dan standar akuntansi pemerintahan.
Sistem akuntansi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh pejabat pengelola keuangan daerah
(PPKD) pada satuan kerja pengelola keuangan daerah (SKPKD) dan sistem akuntansi satuan
kerja perangkat daerah (SKPD) dilaksanakan oleh pejabat penatausahaan keuangan (PPK)SKPD. Sistem akuntansi pemerintahan daerah secara garis besar terdiri atas empat prosedur
akuntansi, yaitu: prosedur akuntansi penerimaan kas, prosedur akuntansi pengeluaran kas,
prosedur akuntansi selain kas, prosedur akuntansi aset.

Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas


Prosedur akuntansi penerimaan kas meliputi serangkaian proses, baik manual maupun
terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan/atau
kejadian keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD yang berkaitan dengan peneriamaan kas pada SKPD dan/atau SKPKD.
1. Fungsi terkait
Dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada pejabat penatausahaan keuangan SKPD (PPK-SKPD). Sedangkan,
pada SKPKD dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD.
14

2. Dokumen yang digunakan


a. Surat Keterangan Pajak Daerah (SKP-Daerah), digunakan untuk menetapkan
pajak daerah atas wajib pajak yang dibuat oleh PPKD.
b. Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD), digunakan untuk menetapkan retribusi
daerah atas wajib retribusi yang dibuat oleh pengguna anggaran.
c. Surat Tanda Bukti Penerimaan (STBP), digunakan untuk mencatat setiap
penerimaan pembayaran dari pihak ketiga yang diselenggarakan oleh bendahara
penerimaan.
d. Surat Tanda Setoran (STS), digunakan untuk menyetorkan penerimaan daerah
yang diselenggarakan oleh bendahara penerimaan pada SKPD.
e. Bukti Transfer, merupakan dokumen atau bukti atas transfer penerimaan daerah.
f. Nota Kredit Bank, dokumen atau bukti dari bank yang menunjukan adanya
transfer uang masuk ke transaksi kas.
g. Buku jurnal penerimaan kas, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi
akuntansi untuk mencatat dan menggolongkan semua transaksi atau kejadian yang
berhubungan dengan penerimaan kas.
h. Buku besar, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi untuk
mem-posting semua transaksi atau kejadian selain kas dari jurnal penerimaan kas
ke buku besar untuk setiap rekening aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan
beban.
i. Buku besar pembantu, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi
akuntansi untuk mencatat semua transaksi atau kejadian yang berisi rincian akun
buku besar untuk setiap transaksi yang dianggap perlu.
3. Laporan yang dihasilkan
Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD terdiri
atas berikut ini:
a. Laporan realiasasi anggaran (LRA)
b. Neraca
c. Laporan operasional
d. Laporan perubahan ekuitas
e. Catatan atas laporan keuangan (CaLK)
Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD
terdiri atas berikut ini:
a. Laporan realisasi anggaran (LRA)
b. Laporan perubahan saldo anggaran lebih
c. Neraca
d. Laporan operasional
e. Laporan perubahan ekuitas
f. Laporan arus kas
15

g. Catatan atas laporan keuangan (CaLK)


4. Uraian prosedur
a. Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada PPK-SKPD. Sedangkan, pada SKPKD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada SKPKD.
b. Fungsi akuntansi pada PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi penerimaan kas
melakukan pencatatan ke dalam jurnal penerimaan kas, disertai rekening-lawan
asal penerimaan kas tersebut.
c. Bukti transaksi penerimaan kas mencakup
1) Surat Tanda Bukti Pembayaran (STBP)
2) Surat Tanda Setoran (STS)
3) Bukti transfer
4) Nota kredit
5) Bukti penerimaan lainnya
d. Fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD secara
periodik atau berkala melakukan posting ke buku besar.
e. Jika dianggap perlu, fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi
pada SKPKD dapat membuat buku besar pembantu yang berfungsi sebagai rincian
buku besar dan berlaku sebagai kontrol.
f. Pencatatan ke dalam jurnal penerimaan kas, buku besar, dan buku besar pembantu
dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi
pada SKPKD sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang telah ditetapkan dalam
ketentuan yang berlaku.
g. Pada akhir periode, fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi
pada SKPKD menyusun laporan keuangan.

Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas


1. Fungsi terkait
Fungsi yang terkait dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD
dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD, sedangkan pada SKPKD
dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD.
2. Dokumen yang digunakan
a) Surat Penyediaan Dana (SPD), merupakan dokumen yang dibuat oleh Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) sebagai media atau surat yang
menunjukkan tersediannya dana untuk diserap/direalisasi.
b) Surat Perintah Membayar (SPM), merupakan dokumen yang dibuat oleh
pengguna anggaran untuk mengajukan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)

16

yang akan diterbitkan oleh Bendahara Umum Daerah (BUD) atau Kuasa
BUD.
c) Kuitansi pembayaran dan bukti pembayaran lainnya, merupakan dokumen
sebagai tanda bukti pembayaran.
d) SP2D, merupakan dokumen yang diterbitkan oleh BUD atau Kuasa BUD
untuk mencairkan uang pada bank yang telah ditunjuk.
e) Bukti transfer, merupakan dokumen atau bukti atas transfer pengeluaran
daerah.
f) Nota debit bank, merupakan dokumen atas bukti dari bank yang menunjukkan
adanya transfer uang keluar dari rekening kas umum daerah.
g) Buku jurnal pengeluaran kas, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh
fungsi akuntansi untuk mencatat, dan menggolongkan semua transaksi atau
kejadian yang berhubungan dengan pengeluaran kas.
h) Buku besar, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi
untuk memosting semua transaksi atau kejadian selain kas dari jurnal
pengeluaran kas ke buku besar untuk setiap rekening aset, kewajiban, ekuitas
dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
i) Buku besar pembantu, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi
akuntansi untuk mencatat semua transaksi atau kejadian yang berisi rincian
akun buku besar untuk setiap rekening yang dianggap perlu.

3. Laporan yang dihasilkan


Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD terdiri
atas berikut ini:

Laporan realiasasi anggaran (LRA)


Neraca
Laporan operasional
Laporan perubahan ekuitas
Catatan atas laporan keuangan (CaLK)

Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD
terdiri atas berikut ini:
a. Laporan realisasi anggaran (LRA)
b. Laporan perubahan saldo anggaran lebih
c. Neraca
d. Laporan operasional
e. Laporan perubahan ekuitas
f. Laporan arus kas
g. Catatan atas laporan keuangan (CaLK)
17

4. Uraian prosedur
A. Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada PPK-SKPD. Sedangkan, pada SKPKD dilaksanakan oleh
fungsi akuntansi pada SKPKD.
B. Fungsi akuntansi pada PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi penerimaan kas
melakukan pencatatan ke dalam jurnal penerimaan kas, disertai rekeninglawan asal penerimaan kas tersebut.
C. Bukti transaksi penerimaan kas mencakup
Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)
Bukti transfer
Nota kredit
Bukti penerimaan lainnya
D. Fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD
secara periodik atau berkala melakukan posting ke buku besar.
E. Jika dianggap perlu, fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi
akuntansi pada SKPKD dapat membuat buku besar pembantu yang berfungsi
sebagai rincian buku besar dan berlaku sebagai kontrol.
F. Pencatatan ke dalam jurnal penerimaan kas, buku besar, dan buku besar
pembantu dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau
fungsi akuntansi pada SKPKD sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang
telah ditetapkan dalam ketentuan yang berlaku.
G. Pada akhir periode, fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi
akuntansi pada SKPKD menyusun laporan keuangan.

Prosedur Akuntansi Selain Kas


Prosedur akuntansi selain kas meliputi transaksi dan/atau kejadian yang berupa:
1. Pengesahan pertanggungjawaban (SPJ) pengeluaran dana yang merupakan
pengesahan atas pengeluaran / belanja melalui mekanisme uang persediaan / ganti
uang/tambahan.
2. Koreksi kesalahan pencatatan yang merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam
membuat jurnal yang telah diposting ke buku besar.
3. Penerimaan hibah selain kas yang merupakan penerimaan sumber ekonomi nonkas
yang bukan merupakan pelaksanaan APBD, tetapi mengandung konsekuensi ekonomi
bagi pemerintah daerah.
4. Pembelian secara kredit yang merupakan transaksi pembelian aset tetap yang
pembayarannya dilakukan di masa yang akan datang
18

5. Retur pembelian kredit yang merupakan pengembalian aset tetap/barang milik daerah
tanpa konsekuensi kas yang merupakan pemindahtanganan aset tetap kepada pihak
ketiga karena suatu hal tanpa ada penggantian berupa kas.
6. Penerimaan aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas yang merupakan
perolehan aset tetap akibat adanya tukar-menukar (ruislaag) dengan pihak ketiga.

1. Fungsi yang terkait


Fungsi yang terkait dalam prosedur akuntansi selain kas pada SKPD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada PPK-SKPD. Sedangkan, pada SKPKD dilaksanakan oleh fungsi akuntansi
pada SKPKD.
2. Dokumen yang digunakan
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Berita acara penerimaan barang.


Surat keputusan penghapusan barang.
Surat pengiriman barang.
Surat keputusan mutasi barang.
Berita acara pemusnahan barang.
Berita acara serah terima barang.
Berita acara penilaian.
Bukti memorial, merupakan dokumen untuk mencatat transaksi dan/atau

kejadian keuangan selain kas sebagai dasar pencatatan ke jurnal umum.


i) Buku jurnal umum, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi
akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD untuk
mencatat dan menggolongkan semua transaksi dan/atau kejadian yang tidak
dicatat dalam jurnal enerimaan kas dan jurnal pengeluaran kas.
j) Buku besar, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi
pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD untuk memposting
semua transaksi atau kejadian selain kas dari jurnal umum ke dalam buku
besar untuk setiap rekening aset, kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja,
dan pembiayaan.
k) Buku besar pembantu, untuk mencatat semua transaksi atau kejadian yang
berisi rincian akun buku besar untuk setiap rekening yang dianggap perlu.

19

3. Laporan yang dihasilkan


Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi selain kas pada SKPD terdiri atas berikut
ini:

Laporan realiasasi anggaran (LRA)

Neraca

Laporan operasional

Laporan perubahan ekuitas

Catatan atas laporan keuangan (CaLK)

Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD terdiri atas
berikut ini:
a. Laporan realisasi anggaran (LRA)
b. Laporan perubahan saldo anggaran lebih
c. Neraca
d. Laporan operasional
e. Laporan perubahan ekuitas
f. Laporan arus kas
g. Catatan atas laporan keuangan (CaLK)

20

Prosedur Akuntansi Aset


1. Fungsi yang terkait
Fungsi yang terkait dalam prosedur akuntansi selain kas pada SKPD dilaksanakan oleh fungsi
akuntansi pada PPK-SKPD. Sedangkan, pada SKPKD dilaksanakan oleh fungsi akuntansi
pada SKPKD.
2. Dokumen yang digunakan
a.
b.
c.
d.

Berita acara penerimaan barang.


Berita acara serah terima barang.
Berita acara penyelesaian kerja.
Bukti memorial, merupakan dokumen untuk mencatat transaksi
dan/atau kejadian keuangan selain kas sebagai dasar pencatatan ke

jurnal umum.
e. Buku jurnal umum, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh
fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada
SKPKD untuk mencatat dan menggolongkan semua transaksi dan/atau
kejadian yang tidak dicatat dalam jurnal enerimaan kas dan jurnal
pengeluaran kas.
f. Buku besar, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi
akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD
untuk memposting semua transaksi atau kejadian selain kas dari jurnal
umum ke dalam buku besar untuk setiap rekening aset, kewajiban,
ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
g. Buku besar pembantu, untuk mencatat semua transaksi atau kejadian
yang berisi rincian akun buku besar untuk setiap rekening yang
dianggap perlu.

21

Bukti transaksi dan/atau kejadian akuntansi aset terdiri atas:


a.

Berita acara penerimaan barang.

b.

Surat keputusan penghapusan barang.

c.

Surat keputusan mutasi barang.

d.

Berita acara pemusnahan barang.

e.

Berita acara serah terima barang.

f.

Berita acara penilaian.

g.

Berita acara penyelesaian pekerjaan.

h.

Bukti memorial, merupakan dokumen untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian

keuangan selain kas sebagai dasar pencatatan ke jurnal umum.


i.

Buku jurnal umum, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi pada

PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD untuk mencatat dan menggolongkan
semua transaksi dan/atau kejadian yang tidak dicatat dalam jurnal enerimaan kas dan jurnal
pengeluaran kas.
j.

Buku besar, merupakan catatan yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi pada PPK-

SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD untuk memposting semua transaksi atau
kejadian selain kas dari jurnal umum ke dalam buku besar untuk setiap rekening aset,
kewajiban, ekuitas dana, pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
k.

Buku besar pembantu, untuk mencatat semua transaksi atau kejadian yang berisi

rincian akun buku besar untuk setiap rekening yang dianggap perlu.

22

3. Laporan yang dihasilkan


Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi asset pada SKPD terdiri atas berikut ini:

Laporan realiasasi anggaran (LRA)

Neraca

Laporan operasional

Laporan perubahan ekuitas

Catatan atas laporan keuangan (CaLK)

Laporan yang dihasilkan dalam prosedur akuntansi asset pada SKPKD terdiri atas berikut ini:
a. Laporan realisasi anggaran (LRA)
b. Laporan perubahan saldo anggaran lebih
c. Neraca
d. Laporan operasional
e. Laporan perubahan ekuitas
f. Laporan arus kas
g. Catatan atas laporan keuangan (CaLK)

23

4. Uraian prosedur
1. Prosedur akuntansi aset pada SKPD dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada PPKSKPD serta pejabat, pengurus, dan penyimpan barang. Sedangkan pada SKPKD
dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD.
2. Bukti transaksi dan/atau kejadian akuntansi aset terdiri atas:
a.

Berita acara penerimaan barang.

b.

Surat keputusan penghapusan barang.

c.

Surat pengiriman barang.

d.

Surat keputusan mutasi barang.

e.

Berita acara pemusnahan barang.

f.

Berita acara serah terima barang.

g.

Berita acara penilaian.

h.

Berita acara penyelesaian pekerjaan.


3. Fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD
berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian melakukan pencatatan ke bukti
memorial.
4. Fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD
berdasarkan bukti memorian mencatat ke dalam buku jurnal umum.
5. Fungsi akuntansi pada PPK-SKPD dan/atau fungsi akuntansi pada SKPKD secara
periodik melakukan posting ke buku besar.

24

6. Setiap akhir periode, semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan laporan
keuangan SKPD dan/atau SKPKD.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan

Akuntansi keuangan daerah menggunakan sistem pencatatan berpasangan (double


entry). Artinya, setiap transaksi ekonomi dicatat dua kali dan disebut juga dengan proses
menjurnal. Dalam menjurnal, encatat harus menjaga persamaan dasar akuntansi, di mana
kedua sisi persamaan tersebut harus selalu seimbang.

Unsur yang menyusun persamaan dasar akuntansi adalah elemen-elemen laporan


keuangan. Elemen-elemen tersebut terdiri atas aktiva, utang, ekuitas dana atau rekening koran
pemda, pendapatan, dan belanja. Aktiva/aset adalah sarana (kekayaan) yang dimiliki entitas.
Utang adalah sumber sarana entitas yang berasal dari bukan milik entitas. Ekuitas adalah
sumber sarana entitas yang berasal dari pemilik entitas. Pendapatan adalah bertambahnya
aktiva atau penurunan utang karena aktivitas entitas. Belanja adalah berkurangnya aktiva
karena aktivitas entitas. Persamaan dasar akuntansi menyatakan bahwa aktiva ditambah
belanja sama dengan utang ditambah ekuitas dana dan pendapatan.
Karena masing-masing elemen laporan keuangan (rekening) tersebut dapat bertambah
dan berkurang, maka masing-masing rekening memiliki dua sisi, yakni sisi debit dan kredit.
Apabila aktiva dan belanja bertambah, maka kedua rekening tersebut masuk ke dalam kolom
debit, sedangkan apabila utang, ekuitas dana dan pendapatan bertambah, maka ketiga
kelompok rekening tersebut masuk dalam kolom kredit.
Dalam akuntansi, dikenal suatu istilah proses pengakuan, yaitu penentuan saat
dicatatnya suatu transaksi. Terdapat dua dasar pengakuan yang pokok, yaitu dasar kas dan
dasar akrual. Antara dua dasar tersebut terdapat dasar pengakuan yang merupakan transisi,
yaitu dasar kas modofikasian dan dasar akrual modofikasian. Basis akrual menuntut
dilakukannya pencatatan saat transaksi dilakukan. Basis inilah yang digariskan oleh Pasal 70
25

UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Namun demikian, basis yang
paling tepat diterapkan dalam akuntansi keuangan daerah saat ini adalah basis kas
modifikasian, di mana menurut basis ini, selama tahun anggaran berjalan, pencatatan
dilakukan dengan dasar kas, sedang pada akhir tahun anggaran dilakukan penyesuaian sesuai
dengan dasar akrual. Basis ini paling tepat digunakan pada kondisi negara saat ini mengingat
pemda telah terbiasa menggunakan basis kas dalam tata bukunya sehingga perlu proses
pembelajaran dan pentahapan dalam usaha penerapan basis akrual melalui penggunaan basis
kas modifikasian.
Akuntansi adalah suatu sistem, yang tujuannya adalah menghasilkan informasi dalam
bentuk laporan keuangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Akuntansi terdiri atas tahaptahap tertentu dan setelah selesainya tahap-tahap tersebut, kegiatan berulang kembali sesuai
dengan urutan tersebut. Tahap-tahap yang terdapat dalam siklus akuntansi adalah analisis
transaksi, jurnal, posting, neraca saldo, penyesuaian, neraca saldo setelah penyesuaian,
laporan keuangan, penutupan, dan neraca saldo setelah penutupan.
Siklus akuntansi keuangan daerah mengikuti tahap-tahap yang ada dalam siklus
akuntansi tersebut. Perbedaan yang ada adalah pada pembuatan jurnal penutup sebelum
penyusunan laporan perubahan ekuitas laporan aliran kas, dan neraca dengan tujuan
mempermudah penyusunan ketiga laporan tersebut.
Sistem Akuntansi Keuangan Pemda berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006
merupakan suatu sistem yang secara komprehensif mengatur prosedur-prosedur akuntansi
penerimaan dan pengeluaran kas, prosedur akuntansi selain kas, dan prosedur akuntansi aset.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam setiap prosedur tersebut adalah fungsi yang
terkait, dokumen yang digunakan, laporan yang dihasilkan, dan uraian teknis prosedur.

26

DAFTAR PUSTAKA
Halim, Abdul., 2007. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi
3. Penerbit Salemba Empat.Jakarta.

Halim, Abdul dan Kusufi, Muhammad Syam., 2012.Akuntansi Sektor Publik


Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi 4. Penerbit Salemba Empat.Jakarta.

27