Anda di halaman 1dari 18

Definisi gempabumi menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang

Penanggulangan Bencana merupakan adalah getaran atau guncangan yang terjadi


di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan
aktif, akitivitas gunung api atau runtuhan batuan.

Makalah PROSES TERJADINYA GEMPA BUMI DAN UPAYA MITIGASI GEMPA


BUMI
ABSTRAK
Gempa bumi merupakan peristiwa alam yang ditandai dengan berguncangnya
bumi secara tiba-tiba. Gempa bumi dapat menimbulkan bencana yang cukup parah
bagi wilayah-wilayah yang mengalaminya. Gempa bumi yang besar dapat
mengguncang tanah permukaan bumi dengan hebat, bahkan retak yang timbul
dipermukaan dapat membuat mobil dan motor terperosok kedalamnya. Banyak
rumah dan bangunan besar lainnya yang menjadi rusak. Gempa bumi ini berbahaya,
apalagi jika terjadi pada malam hari ketika orang-orang sedang tertidur lelap. Tentu
saja akan menyebabkan korban jiwa.
Gempa bumi terjadi begitu cepat. Getaran pertama ( 2 menit) dapat
menimbulkan kerusakan paling banyak. Gempa bumi yang besar datang tiba-tiba
dapat menghancurkan apa saja yang ada dipermukaan bumi ini. Tidak terkecuali
bangunan, pepohonan, binatang dan juga manusia.
Gempa bumi terjadi pada retakan dalam kerak bumi yang disebut patahan.
Patahan terbentuk karena batuan rapuh dan pecahan yang disebabkan oleh tekanan
besar (meregang, menekan, atau memilin) yang mendesaknya tekanan yang timbul
didaerah kerak ini disebabkan oleh gerakan perlahan-lahan lempeng-lempeng bumi.
Gempa bumi terjadi ketika tekanan telah semakin meningkat didaerah batuan
sampai pada tingkat tertentu sehingga terjadi pergerakan mendadak. Pergerakan ini
dapat menciptakan patahan baru ketika batuan pecahan pada titik terlemah atau
pergerakan menyebabkan batuan menggelincir disepanjang patahan yang ada.
Ketika ini terjadi, sejumlah besar energi dilepaskan bersamaan dengan dilepasnya
tekanan.
Energi yang dilepaskan menyebabkan batuan disekitarnya bergetar, sehingga terjadi
gempa bumi.
Fenomena alam gempa bumi ini dapat meluluhlantahkan daerah dengan
menimbulkan kerugian harta benda dan menelan korban yang tidak sedikit
jumlahnya. Untuk mencegah terjadinya gempa bumi sebagai fenomena alam
1
memang mustahil, namun paling tidak kita harus berupaya mengurangi dampak
yang ditimbulkannya. Untuk mengurangi dan meredam timbulnya korban dan
kerugian harta benda akibat fenomena alam yang berasal dari proses geologi yang
menyebabkan terjadinya gempa bumi, perlu dilakukan upaya mitigasi.
Mitigasi adalah suatu tindakan yang dilakukan sebelum munculnya suatu
benda (tindakan-tindakan prabencana) yang meliputi kesiapan dan tindakantindakan pengurangnan dampak yang ditimbulkan.

BAB I
PENDAHULUAN
Bencana alam selalu menyisikan duka dan kerugian bagi masyarakat,
termasuk kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Bencana alam yang terjadi
tidak sepenuhnya menjadi otoritas Tuhan, tetapi terdapat juga bencana-bencana
alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Manusia membakar hutan, membuat
hutan beton diatas resapan air, hutan ditebang dan digunduli secara tidak terkendali,
ekosistem laut musnah dengan cara di bom, adalah contoh serentetan perilaku
manusia yang dapat menjadi pemicu terjadinya bencana alam.
Salah satu bencana alam yang disebabkan perilaku buruk manusia terhadap
alam adalah bencana gema bumi (seisme). Bencana alam gempa bumi ini biasanya
terjadi tiba-tiba dan sulit diprediksi atau diramalkan sebelumnya. Tiba-tiba bumi
bergetar dengan skala ringan sampai skala besar. Gempa bumi terjadi karena
lempengan dan patahan bumi biasanya mengalami pergeseran (gempa tektonik)
atau disebabkan adanya letusan atau tenaga dari dalam bumi (magma) yang
menggetarkan permukaan bumi (gempa vulkanik).
Wilayah indonesia termasuk salah satu wilayah didunia yang paling rentan
terjadinya gempa bumi dalam beberapa tahun terakhir, kita mengetahui terjadinya
berbagai genpa bumi yang melanda berbagai daerah di indonesia, seperti di Niasm
Sumatra Barat, Yogyakarta dan Jawa Barat bagian selatan (Tasikmalaya, Ciamis,
Cianjur, Sukabumi)

Di dalam makalah yang berjudul PROSES TERJADINYA GEMPA BUMI DAN


UPAYA MITIGASI GEMPA BUMI ini, penulis menjelaskan tentang terjadinya gempa
bumi, penyebab terjadinya gempa bumi, sampai bagaimana cara mengatasi gempa
bumi.
2
Diharapkan dengan hadirnya makalah ini dapat menggugah kesadaran
manusia akan arti pentingnya perlidungan/ pemeliharaan alam dan dapat
mendorong masyarakat untuk lebih terlibat dalam proses pengulangan kerusakan
alam. Kerusakan alam yang mengakibatkan timbulnya berbagai bencana alam yang
kerapkali melanda negara kita harus terus-menerus dievaluasi dan menjadi
pelajaran bagi kita semua yang selama ini telah mengabaikam alam, tempat kita
hidup dan pijak

Gerakan peduli terhadap alam dan lingkungan, ,mutlak perlu terus dilakukan
agar bumi ini terselamatkan dari bencana alam yang dahsyat lagi.

A.

BAB II
PEMBAHASAN
Tipe-Tipe Gempa Bumi dan Proses Terjadinya
Gempa bumi atau seisme adalah getaran pada permukaan bumi yang
disebabkan oleh tenaga dari dalam bumi. Menurut para ahli seismologi, terjadinya
gempa bumi dapat dibedakan atas 3 macam yaitu, gempa vulkanik, gempa
runtuhan, dan gempa tektonik.

1.

Pengertian dan Proses Terjadinya Gempa Vulkanik


Gempa vulkanik yaitu gempa bumi sebagai akibat letusan gunung api.
Gunung api yang akan meletus selalu diiringi dengan gempa yang menggetarkan
permukaan bumi disekitarnya, hal ini disebabkan oleh pergerakan magma yang
akan keluar dari perut bumi ketika gunung akan meletus. Ketika magma bergerak
kepermukaan gunung api, ia akan bergerak dan memecahkan bebatuan gunung api.
Hal ini dapat menyebabkan terjadinya getaran yang cukup kuat dan berkepanjangan
sehingga menimbulkan gempa bumi.
Gempa vulkanik yaitu gempa bumi sebagai akibat letusan gunung api.
Gunung api yang akan meletus selalu diiringi dengan gempa yang menggetarkan
permukaan bumi disekitarnya, hal ini disebabkan oleh pergerakan magma yang
akan keluar dari perut bumi ketika gunung akan meletus. Ketika magma bergerak
kepermukaan gunung api, ia akan bergerak dan memecahkan bebatuan gunung api.
Hal ini dapat menyebabkan terjadinya getaran yang cukup kuat dan berkepanjangan
sehingga menimbulkan gempa bumi.

Disamping akibat dari tumbukan antara magma dengan dinding-dinding


gunung api, gempa vulkanik juga dapat disebabkan oleh tekanan gas pada letusan
yang sangat kuat dan perpindahan magma didalam dapur magma. Pada umumya
getaran yang kuat hanya ada disekitar gunung api itu saja. Gempa vulkanik terjadi
sebelum dan selama letusan gunung api terjadi. Gempa vulkanik hanya sekitar 7%
dari jumlah gempa yang terjadi didunia.
3
2. Pengertian dan Proses Terjadinya Gempa Reruntuhan
Gempa runtuhan disebut juga tanah terban. Gempa ini terjadi di daerah yang
terdapat banyak rongga-rongga dibawah tanah, seperti :
a. Daerah kapur yang banyak terdapat sungai atau gua dibawah tanah tidak dapat
menahan menahan atap gua
b. Daerah pertambangan yang banyak terdapat rongga-rongga dibawah tanah untuk
mengambil bahan tambang. Gempa runtuhan atau tanah terban ini jarang terjadi.

3. Pengertian dan Proses Terjadinya Tektonik


Sampai saat ini yang dianggap sebagi fenomena alam gempa bumi yangs
ebenarnya adalah gempa tektonik.
Gempa tektonik adalah gempa bumi yang terjadi karena adanya pergeseran
antara lempeng-lempeng tektonik yang berada jauh dibawah kulit permukaan bumi.
Pergeseran lempeng-lempeng tektonik itu menimbulkan energi yang luar
biasa besarnya, sehingga menimbulkan goncangan yang dapat kita rasakan
dipermukaan bumi.
B. Skala Kekuatan Gempa Bumi
Pada setiap peristiwa gempa bumi yang terjadi, tentu kita pernah mendengar
istilah skala richter. Semakin besar kekuatan gempa (magnitudo), semakin besar
pula kekuatan gempa yang terjadi. Ukuran skala gempa (magnitudo) berdasarkan
yang dibuat richter dapat kita lihat pada tabel berikut.
Skala Richter
No
Magnitudo
Ciri-Ciri/ Alibat
1
2,0 3,4
Tidak dapat dirasakan oleh manusia, tetapi
dapat direkam oleh seismograf
2
3,5 4,2
Hanya dapat dirasakan oleh sebagian kecil
orang
3
4,3 4,8
Getaran dapat dirasakan oleh banyak
orang
4
4,9 5,4
Dapat dirasakan oleh semua orang
5
5,5 6,1
Terdapat sejumlah kecil bangunan yang
rusak
6
6,2 6,9
Bangunan banyak yang rusak
7
7,0 7,9
Kerusakan bangunan lebih besar,
bangunan runtuh, rel KA bengkok
8
7,4 7,9
Terjadi kerusakan yang hebat
9
> 8,0
Terjadi kerusakan total, semua bangunan
runtuh, peristiwanya tergolong bencana
besar
Gempa bumi terkuat yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia adalh
gempa bumi di chile, yang terjadi pada tahun 1960 dengan kekuatan 9.5 skala
richter. Sementara gempa bumi diwilayah Indonesia yang tergolong besar pernah
terjadi di Aceh yang menimbulkan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004
berkekuatan 8,9 skala Richter, gempa di kepulauan Nias pada tanggal 28 mei 2005
berkekuatan 8,7 skala Richter, dan gempa bumi Yogyakarta mei 2006 dengan
4
kekuatamn 5,9 skal Richter.
Sebenarnya skala yang dibuat oleh Richter bukan satu-satunya ukuran yang
digunakan untukmengetahui kekuatan gempa. Disamping skala kekuatan gempa
(magnitudo) yang dibuat Richter, ada skala lain yang bernama skala Intensitas.

Ukuran skala intensitas ini didasarkan pada getaran yang tersisa dipermukaan bumi,

C.

1.
2.
3.
D.

1.
2.

3.

4.

1.

2.

E.

misalnya dari akibat gempa itu sendiri terhadap manusia dan alam sekitarnya. Skala
intensitas ini disebut juga skala kekuatan relatif. Skala kekuatan relatif disusun oleh
Mercalli dan Cancani terdiri dari tingkat atau intensitas I sampai dengan VII. Namun
Van Bemmelen membuat penyesuaian pengukuran yang sesuai dengan kondisi di
Indonesia.
Pembagian Gempa Berdasarkan Kedalaman Hiposentrum
Disamping skala kekuatan gempa berdasarkan intensitasnya, perlu kita
ketahui kekuatan gempa disatu daerah selain di pengaruhi oleh jaraknya dari pusat
gempa diatas itu sendiri dan kedalaman pusat gempa di dalam bumi (hiposentum).
Makin dangkal hiposentrumnya, makin kuat gempa yang dirasakan dipermukaan
bumi. Oleh karena itu berdasarkan kedalam hiposentrumnya gempa bumi dapat
dibedakan menjadi 3 yaitu :
Gempa dangkal, dengan kedalaman hiposentrumnya kurang dari 60 Km
Gempa menengah, dengan kedalaman hiposentrumnya antara 60-300 Km.
Gempa dalam, dengan kedalaman hiposentrumnya lebih dari 300 Km.
Kerusakan-kerusakan Yang Terjadi Akibat Gempa Bumi
Peristiwa-peristiwa bencana bumi selalu menimbulkan kerugian, baik berupa
kerusakan infrastruktur, maupun korban jiwa. Dari catatan sejarah gempa bumi yang
pernah terjadi di sleuruh dunia sejak 4.000 tahun yang lalu hingga kini, telah
memakan korban jiwa lebih dari 13 juta orang. Sedangkan kerusakan-kerusakan
yang umumnya terjadi sebagai gempa bumi antara lain :
Kerusakan jalan karena terjadi keretakan, patah, terpotong, mengalami
keamblasan, longsor dipinggir jalan, aspal terkelupas dan sebagainya.
Kerusakan jembatan akibat terpotongnya konstruksi jembatan dengan jalan. Jalan
yang menghubungkan jembatan mengalami ambles, konstruksi jembaran rusak
(patah, bengkok, miring, putus), pondasi jembatan ambles kedalam tanah, dll.
Kerusakan bangunan dipusat perekonomian dan pemerintahan seperti perkotaan,
pusat perdagangan dan perkantoran. Bangunan-bangunan hancur berantakan
akibat guncangan gempa.
Turun atau amblesnya permukaan tanah hingga mengakibatkan permukaan tanah
tersebut lebih rendah dari permukaan air laut dan menjadi tergenang oleh air laut.
Contoh fenomena ini adalah guncangan gempa bumi di pulau Nias pada tanggal 28
Maret 2005 yang menyebabkan Desa Bozihena turun kurang lebih dari 1 meter.
Selain kerusakan fisik dan banyaknya korban jiwa, pengaruh khusus lainnya
yang merugikan sebagai akibat dari gempa bumi, antara lain :
Menimbulkan dampak terhadap kesehatan umum : luka karena retak tulang
merupakan masalah yang menyebar secara luas. Rusaknya kondisi-kondisi
sanitas
5
yang mengakibatkan terjadinya wabah penyakit.
Tidak tersedianya cadangan air : kemungkinan terjadinya masalah serius yang
disebabkan karena rusaknya sistem-sistem air, pencemaran air sumber mata air
yang terbuka, dan perubahan skema air.
Faktor-fakor yang mempengaruhi Besarnya kerusakan dan Banyaknya
Korban Akibat Gempa

1.
2.
3.
4.
5.
6.
F.

G.

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Banyaknya korban jiwa yang diakibatkan gempa bumi terjadi karena pusat-pusat
kepadatan diperkotaan besar dan daerah industri. Kebanyakan terjadi akibat dari
besarnya getaran yang menyebabkan runtuh Nya bangunan dengan struktur yang
lemah.
Faktor lain yang mempengaruhi kerusakan akibat gempa adalah lokasi, misalnya
longsoran, batuan/tanah yang mengembang, struktur geologi, goncangan air
didanau/waduk, patahan dan likuifaksi. Gempa yang besar ini dapat menimbulkan
terjadinya longsoran, retakan, patahan, likuifaksi, serta tsunami yang dahsyat pula
dan banyak memakan korban.
Disamping faktor-faktor yang disebutkan diatas, banyaknya kerusakan dan
kerugian akibat gempa juga ditentukan oleh beberapa hal berikut ini :
Skala atau magnitudo gempa
Durasi dan kekuatan getaran
Jarak dan sumber gempa terhadap perkotaan.
Kedalaman sumber gempa.
Kualitas tanah dan bangunan
Lokasi bangunan terhadap perbukitan dan pantai
Upaya Dalam Mitigasi Gempa Bumi
Untuk mengurangi dan meredam korban dan kerugian harta benda akibat
fenomena alam yang berasal dari proses geologi yang menyebabkan terjadinya
gempa bumi, perlu dilakukan upaya Mitigasi. Mitigasi adalah istilah gabungan yang
digunakan untuk semua tindakan yang dilakukan sebelum munculnya suatu
bencana (tindakan-tindakan pra-bencana) yang meliputi kesiapan, dan tindakantindakan pengurangan resiko.
Penanggulangan Sesudah Terjadi Bencana Gempa Bumi
Dalam tahapan penanggulangan bencana, pemulihan merupakan salah satu
komponen penting setelah terjadinya bencana. Sesudah bencana terjadi, biasanya
korban perlu ditangani dengan cepat.
Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan pada tahap pemulihan bencana gempa,
adalah sebagai berikut :
Melakukan evakuasi dan mendirikan tenda-tenta pengungsian bagi korban.
Melakukan penyelamatan
Menyediakan bantuan medis
Menyediakan MCK, air minum dan makanan
Menyediakan pendidikan darurat
Melakukan upaya pemulihan psikologis para korban
Memperbaiki dan membanun kembali gedung, sarana dan6 failitas lainnya.

BAB III
SIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut :

a.
Gempa bumi adalah getaran pada permukaan bumi yang disebabkan oleh
tenaga dari dalam bumi. Gempa bumi dibedakan menjadi 3 macam, yaitu gempa
Vulkanik, gempa runtuhan dan gempa tektonik.
b.
Skala untuk mengukur kekuatan gempa (Magnitudo) adalah Skala Richter.
Skala yang dibuat oleh Richter bukan satu-satunya ukuran yang digunaakn untuk
mengetahui kekuatan gempa. Disamping skala kekuatan gempa yang dibuat
Richterm ada skala yang bernama skala intensitas.
c.
Berdasarkan kedalaman hiposentrumnya, gempa bumi dpat dibedakan
menjadi 3 yaitu :
1.
2.
3.

Gempa dangkal, dengan kedalam hiposentrumnya <60 km="" span="">


Gempa menengah, dengan kedalaman hiposentrumnya antara 60-300 Km.
Gempa dalam, dengan kedalaman hiposentrumnya > 300 Km
d.
Kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi bukan hanya kerusakan fisik
saja, tetapi juga menimbulkan dampak terhadap kesehatan umum misalnya luka
karena retak tulang dan terjadinya wabah penyakit
e.
Faktor yang mempengaruhi kerusakan akibat gempa bumi adala lokasi,
misalnya longsoran, batuan/tanah yang mengembang, struktur geologi, goncangan
air danau/waduk, patahan dan likuifaksi.

f.

g.
Mitigasi adalah istilah gabungan yang digunakan untuk semua tindakan yang
dilakukan sebelum munculnya suatu bencana (tindakan-tindakan pra-bencana) yang
meliputi kesiapan dan tindakan-tindakan penanggulangan resiko.
h.
Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan pada tahap pemulihan bencana
gempa bumi adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Melakukan evakuasi dan mendirikan tenda-tenda pengungsian bagi korban


Melakukan penyelamatan
Menyediakan bantuan medis
7
Menyediakan MCK, air minum dan makan
Menyediakan upaya pemulihan psikologis para korban
Menyediakan pendidikan darurat
Memperbaiki dan membanun kembali gedung, sarana dan fasilitas lainnya.

Geologi dalam Mitigasi Bencana Gempabumi


Geologi gempabumi (earthquake geology) merupakan suatu studi tentang
sesar-sesaraktif dengan tujuan memahami potensi gempanya (Pantosti, Schwartz &
Okumura, 2000). Sasaran utama geologi gempabumi adalah untuk memeri sumber
gempa dari kacamata geologi dan geomorfologi serta melacaknya sampai beberapa
ribu tahun ke belakang guna memperoleh karate gempabumi di dalam rekaman
geologi.
Pelacakan sejarah aktivitas sesar aktif ini selain melalui rekaman geologi juga
denganmenelusuri sejarah kegempaan yang terekam oleh seismometer. Dari studi
geologi gempabumi dapat diperoleh gambaran sklus gempabumi pada suatu sesar.
Di satu pihak bisa memberikan kontribusi pemahaman proses / genesa gempabumi
dan waktu ulang gempabumi besar di suatu daerah; di lain pihak studi geologi
gempabumi akan memberikan dampak sosial berkaitan dengan aplikasinya di dalam
mitigasi bencana gempabumi. Geologi gempabumi seringdisamakan dengan studi
tektonika aktif, studi tentang gerak tektonik yang diperkirakan akanterjadi di masa
mendatang yang menjadi concern bagi masyarakat (Wallace, 1986). Studigeologi
gempabumi merupakan ilmu multi disiplin yang melibatkan geologi, geomorfologi,
geodesi, geofisika (termasuk di dalamnya: seismik pantul dan seimik bias, gaya
berat,
kemagnetan,
dan
aliran
panas), geologi
struktur
dan
seismotektonika, stratigrafi Kuarter beserta cara pentarikhan umurnya (Yeats, Sieh &
Allen, 1997).
Secara
deterministik, geologi
bisa memberikan
gambaran
tentang
gempabumi yang telah terjadi termasuk di dalamnya besaran maksimum dan selang
waktu ulangnya, sebaran sesar(aktif)nya beserta peristiwa pengikut gempabumi
(liquefaction, tanah longsor), kecepatan geser sesarnya. Berdasar pengetahuan
penulis, di Indonesia, usaha mitigasi bencana gempabumi telah banyak dilakukan,
antara lain dapat dilihat dari penerbitan berbagai instansi. Pusat
Penelitian
dan
Pengembangan
Geologi
telah menerbitkan
Peta
Seismotektonik. Kerjasama ilmiah Indonesia-Perancis telah meneliti secara geodesi
dengan menggunakan GPSuntuk menghitung pergeseran sesar Sumatra (Sebrier
dkk., 1993). Pengamatan sebaran sesar aktif berdasarkan analisa citra di sepanjang
sesar Sumatra, sesar Palu-Koro, dan dugaan sesar aktif di Semarang (Bellier dkk.,
1994). Usaha memahami karakter gempabumi Sesar Sumatra dengan pendekatan
seismologi danfraktal (Sukmono dkk., 2001), gayaberat (Kadir dkk., 2001).
Kerjasama Geoteknologi LIPI dengan California Institute of Technology juga meneliti
gempabumi purba berdasar terumbu karang (Sieh dkk., 2000) dan masih banyak
8
lagi penelitian yang tersebar di berbagai instansi dan di berbagai
daerah tentang
parameter bencana gempa (Harjono dkk., 1994). Di laboratorium juga dilakukan
pemodelan dan simulasi (Triatmojo dan Pramumijoyo, 1994). Masih banyak lagi
penelitian geologi gempabumi yang belum disebut di sini, tetapi dari paparan di atas
telah banyak yang dilakukan ahli geologi di Indonesia di dalam mitigasi bencana
geologi.

DAFTAR PUSTAKA
Syafrezani, sampaguita. (2010). Tanggap Bencana Alam Gempa Bumi.
Bandung:Angkasa.
Watt, Fiona.(2009). Gempa Bumi Dan Gunung Api.Bandung:Felicity Brooks.
ww.google.com

Mitigasi Bencana Gempabumi


1. Pendahuluan
Bencana alam di Indonesia sering kali mengakibatkan kerusakan baik
materiil maupun non materiil. Salah satu bencana alam yang sering kali terjadi
di Indonesia adalah gempabumi. Secara geografis Indonesia terletak di
daerah katulistiwa dengan morfologi yang beragam dari daratan sampai
pegunungan tinggi. Keragaman morfologi ini banyak dipengaruhi oleh
faktor geologi terutama dengan adanya aktivitas pergerakan lempeng
tektonik aktif di sekitar perairan Indonesia diantaranya adalah lempeng
Eurasia, Australia dan lempeng Dasar Samudera Pasifik. Pergerakan
lempeng-lempeng tektonik
tersebut menyebabkan terbentuknya jalur
gempabumi, rangkaian gunung api aktif serta patahan patahan yang dapat
berpotensi menjadi sumber gempa. Selain itu Indonesia merupakan wilayah
yang rawan bencana karena ternyata selain pertemuan lempeng benua,
wilayah ini juga merupakan zona pertemuan dua jalur gempa yaitu jalur
Sirkum Pasifik dan jalur gempa Alpide Transasiatic yang menyebabkan
kerawanan terhadap aktivitas gempabumi yang cukup tinggi dan tsunami
apabila gempa tersebut terjadi dalam kekuatan yang besar dan pusat
gempanya berada dalam jarak yang tidak jauh dari dasar laut.
2.1.1 Ancaman Gempabumi

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng
9 bagian utara dan
Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Euro-Asia di
Lempeng Pasifik di bagian Timur. Ketiga lempeng tersebut bergerak dan
saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke
bawah lempeng Euro-Asia. Penunjaman lempeng Indo-Australia yang
bergerak ke utara dengan lempeng Euro- Asia yang bergerak ke selatan
menimbulkan jalur gempabumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang
Pulau Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, belok ke utara ke Maluku
dan Sulawesi Utara, sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng.

Gambar 2.1. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia


(Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG, 2008).

Daerah rawan gempabumi di Indonesia tersebar pada daerah yang


terletak dekat zona penunjaman maupun sesar aktif. Daerah yang
terletak dekat zona penunjaman adalah pantai barat Sumatra, pantai selatan
Jawa, pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, Maluku Utara,
pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua. Sedangkan daerah di
Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang
Bukit Barisan di Pulau Sumatra, Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah
Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara
Timur, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Pulau Papua. Beberapa sesar
aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar Sumatra,
Cimandiri, Lembang, Baribis, Opak, Busur Belakang Flores, Palu-Koro, Sorong,
Ransiki, sesar aktif di daerah Banten, Bali, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku
dan sistem sesar aktif lainnya yang belum terungkap. Tabel 12.1. menyajikan data
beberapa kejadian gempabumi di Indonesia dengan jumlah
0 korban jiwa yang
besar.

Tabel 2.1. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia


(Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG, 2008)

No.
1.
2.
3.

Tahun Magnitudo
(Mw)
1896
1926
7,8
1943
-

4.
5.
6.
7.

1994
2000
2005
2006

7
7,
8,
6,
2

MMI
VIII
I
I
I
X
VII
VII
I

Korban
Daerah
Jiwa (org)
25
Pulau Timor
35
Sumatra Barat
21
Yogyakarta
Jawa Tengah
l.207
Liwa,
100
Bengkulu
> 1.000 Pulau Nias
> 5.700 Yogyakarta
Jawa Tengah

2. Mitigasi
Gempabumi sampai saat ini belum dapat diperkirakan saat
kejadiannya kapan, dimana dan berapa besarannya. Dapat terjadi siang
hari pada saat kita bekerja ataupun malam pada saat sedang tidur lelap,
sehingga tidak dapat menyelamatkan diri karena kejadiannya berlangsung
sangat cepat tertimpa runtuhan bangunan,longsoran bukit ataupun tersapu
badai tsunami.
Upaya untuk mengurangi ke h i l a n g a n n ya wa d a n h a rt a b e n d a
d e n g a n me m p e rke ci l dampak bencana sering kali disebut sebagai
Mitigasi Bencana sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 24 Tahun
2007 Tentang Penanggulangan Bencana untuk menghadapi kemungkinan
bencana yang akan datang. Salah satu bentuk mitigasi untuk meminimisasi
dampak korban gempabumi yaitu dengan mengetahui karakteristik setiap
wilayah untuk mengetahui tingkat kerawanannya terhadap bencana, sebagai
pedoman penataan ruang kawasan rawan bencana gempabumi
sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 26 Tahun 2007 Tentang
Penataan Ruang.
3. Peran PJ dan SIG dalam mitigasi bencana

1
1

Bencana yang sering kali menimpa Indonesia dan tidak sedikit


mengakibatkan dampak yang kerugian serta korban jiwa yang besar, semakin
meningkatkan kesadaran akan perlunya suatu sistim informasi kebencanaan yang
berbasis data spasial. Sistim informasi spasial ini sangat diperlukan pada segala
tahapan manajemen bencana, dari mulai aktifitas pra-bencana seperti studi tentang
resiko suatu daerah terhadap suatu bencana dan penyusunan berbagai scenario

bencana; aktifitas sesaat setelah bencana terjadi seperti pemetaan sebaran


kerusakan dan kebutuhan pengungsi yang sangat diperlukan oleh para petugas dan
relawan pemberi bantuan; sampai ke aktifitas rehabilitasi dan rekonstruksi suatu
daerah pasca bencana. Dengan adanya sistim informasi spasial ini, maka keputusan
akan dapat diambil lebih tahapan pada segala tahapan tersebut (Bakosurtanal,
2010).
Data spasial memiliki peran besar dalam manajemen bencana, baik sebelum,
pada saat maupun setelah bencana-bencana tersebut terjadi. Sumber utama data
spasial tersebut salah satunya berasal dari data PJ untuk kemudian diintegrasikan
dengan data spasial lainnya menggunakan SIG untuk kegiatan analisis wilayah
kerentanan bencana di Indonesia. Integrasi Penginderaan Jauh dan SIG melalui
analisis dan pemodelan data bisa menghasikan informasi baru dalam bidang
geospasial dan diaplikasikan untuk tujuan tertentu seperti dalam managemen
bencana. Kemampuan dan aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis dalam manajemen bencana secara mendasar adalah :
3.1. Satelit-satelit dapat mendeteksi tahap awal kejadian-kejadian sebagai
keganjilan/ anomali pada suatu periode waktu
Banyak jenis dari bencana-bencana, seperti banjir, musim kering, angin
topan, letusan volkanis, dan lainnya akan memiliki tanda-tanda pendahuluan
tertentu. Satelit-satelit itu dapat mendeteksi tahap awal dari kejadian ini sebagai
keganjilan-keganjilan/anomali di suatu periode waktu. Gambaran-gambaran ada
tersedia pada interval waktu pendek yang reguler, dan dapat yang digunakan untuk
ramalan atau memprediksi bencana-bencana lambat dan yang cepat (Gambar 2).

1
2

Gambar 2. Prediksi angin topan (Hurricane) dengan data Penginderaan Jauh


(NOAA)

Citra satelit memberikan gambaran


synoptic yang menyeluruh dan
menyediakan informasi lingkungan yang sangat baik mulai dari daerah yang sangat
luas (benua) sampai yang sempit dalam
beberapa meter persegi saja.
Penginderaan jauh dan SIG menyediakan suatu database dari bukti yang
ditinggalkan oleh bencana-bencana dan dapat ditafsirkan, dikombinasikan dengan
informasi yang lain untuk membuat peta rawan bencana, dengan menandakan
daerah-daerah yang berpotensi berbahaya.
Data penginderaan jauh, seperti citra satelit dan foto udara dapat
memberikan informasi dan peta dengan bermacam variabel medan seperti :
vegetasi, air, dan geologi, baik dalam aspek ruang dan waktu. Zonasi resiko dapat
digunakan sebagai dasar dalam setiap manajemen bencana yang digunakan oleh
perencana dan pengambil keputusan.

3.2.
Satelit-satelit membuat kemungkinan untuk memonitor kejadian dari
bencana
Ketika suatu bencana terjadi, kecepatan pengumpulan informasi dari wahana
udara dan wahana ruang angkasa dapat digunakan merekam dan diperoleh
informasi wilayah bencana dengan cepat tanpa kendala sehingga dapat digunakan
untuk memonitor kejadian dari bencana. Banyak bencana mempengaruhi daerah
yang luas dan tidak ada sistem atau teknologi yang se-efektif teknlogi penginderaan
jauh untuk merekam secara spasial liputan daerah bencana. Data penginderaan
jauh dapat untuk monitoring peristiwa selama waktu kejadian bencana (Gambar 3).
Kemarau 1994
Kemarau 1997
Penghujan 2002
Kemarau 2002

1
3

Gambar 3. Monitoring Tutupan Lahan di sekitar D. Tempe (LAPAN)

Posisi satelit-satelit memberi keuntungan dalam perencanaan, operasional,


dan monitoring peristiwa bencana. Penginderaan Jauh dan SIG dapat digunakan

untuk perencanaan rute evakuasi, perancangan pusat-pusat untuk operasi darurat.


Integrasi data satelit dengan data yang relevan dapat digunakan dalam perencanaan
sistem peringatan dini bencana (Disaster Warning System). Sebagai contoh dari
data penginderaan jauh untuk monitoring wilayah yang mengalami kekeringan pada
suatu periode ditunjukkan pada gambar 4 di bawah ini.
3.3. Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dapat membantu di
dalam penilaian kerusakan (damage assessment)
Pada tahap tanggap darurat, data PJ dan SIG di kombinasi dengan Global
Positioning System (GPS) bermanfaat di dalam operasi pencarian dan pertolongan
pada daerah-daerah yang sulit dijangkau. Dampak setelah terjadinya bencana
mengakibatkan kerusakan infrastruktur. Penginderaan jauh dapat membantu di
dalam penilaian kerusakan dan pemantauan akibat bencana dan memberikan dasar
kuantitatif dalam operasi penanggulangan bencana.
Di dalam tahap rehabilitasi bencana SIG digunakan untuk mengorganisir
informasi kerusakan berdasarkan informasi sensus, dan dapat digunakan dalama
evaluasi tapak untuk proses rekonstruksi. Penginderaan jauh digunakan untuk
memetakan situasi baru dari kejadian bencana dan membaharui database untuk
rekonstruksi daerah, dan dapat digunakan dalam membantu proses pencegahan jika
terjadi bencana lagi.

O Rusak Berat
O Rusak Sedang
O Rusak Ringan

Gambar 4. Penginderaan Jauh dan SIG untuk penilaian


4 kerusakan

3.4. Penginderaan jauh dapat digunakan untuk memetakan situasi terbaru


dan membaharui database (update the databases) untuk rekonstruksi

Data sangat diperlukan perlu untuk manajemen bencana, terutama sekali


dalam konteks pengembangan dan perencanaan yang terintegrasi, dengan
basisdata yang baik akan membuat penanganan bencana menjadi lebih hemat
waktu dan efisien. Sebagai contoh setelah bencana dilaporkan gedung-gedung
rusak dan jumlahnya ribuan. Masing-masing gedung perlu dievaluasi secara terpisah
untuk memutuskan bangunan dengan tingkat kerusakan tak terbaiki (berat) atau bisa
diperbaiki. Setelah itu dapat dikombinasikan dengan data lain untuk menurunkan
zona rekonstruksi. Satu keuntungan utama dalam integrasi penginderaan jauh dan
Sistem Informasi Geografis adalah dapat dimodelkan zona rawan bahaya bencana
sehingga dapat digunakan pengambil keputusan untuk pembangunan kedepan
dengan wawasan kebencanaan.
Data penginderaan jauh yang diperoleh dari satelit adalah teknik yang baik
dalam pemetaan daerah bencana yang menggambarkan distribusi spasial pada
suatu periode tertentu. Banyak satelit dengan perbedaan sistem sekarang ini,
dengan karakteristik resolusi spasial, temporal, dan spektral tertentu. Data
penginderaan jauh dapat direlasikan dengan data lain, sehingga dapat juga
digunakan untuk penyajian data bencana. Metode perolehan data dapat dengan 2
cara, yaitu dengan interpretasi visual dan pengolahan citra digital seperti teknik
klasifikasi.
Managemen bencana memerlukan disiplin pengetahuan lain dan perlu
integrasi. Melalui integrasi data dan disiplin bidang tertentu akan memperkuat SIG.
Contoh aplikasi hasil integrasi tersebut antara lain :
-

Data fenomena bencana seperti: tanah longsor,


gempabumi, dengan informasi lokasi kejadian, frekuensi, dan besarnya

banjir,

Data lingkungan di mana kejadian bencana terjadi : topografi,


geologi, geomorfologi, tanah, hidrologi, penggunaan lahan, vegetasi, dan
sebagainya

Data elemen yang hancur karena bencana : infrastruktur,


permukiman, penduduk, sosial ekonomi dan sebagainya

Data sumber-sumber pertolongan seperti rumah sakit, pemadam


kebakaran, kantor pemerintahan, dan sebagainya.
Penggunaan data satelit untuk managemen bencana banyak mengunakan
satelit sumberdaya (Earth Resource Satellites) dan satelit cuaca/meteorologi
(meteorological satellites). Satelit sumberdaya dengan sistem 1orbit polar yang dapat
digunakan, yaitu :
5

a.

Satelit dengan sensor optik, yang tidak dapat menembus awan


dengan resolusi rendah (AVHRR), menengah (LANDSAT, SPOT, IRS), dan
resolusi spasial tinggi (IKONOS)
b.
Satelit dengan gelombang mikro, yang dapat menembus awan,
dengan resolusi tinggi seperti Synthetic Aperture Radar (SAR) (RADARSAT, ERS,
JERS) dan sensor pasif resolusi rendah (SSMI) .

Sedangkan satelit meteorologi yang sering digunakan untuk aplikasi kebencanaan


antara lain:
a.

Orbit geostasioner (GOES: METEOSAT, GMS, INSAT, GOMS)


menghasilkan citra gelombang tampak (VIS) dan inframerah (IR) setiap setengah
jam
b.
Orbit polar (POES: NOAA and SSM/I), memutari bumi dua kali
satu hari dan menyediakan citra VIS dan IR, serta gelombang mikro.
Dengan kemampuan merekam kejadian dan wilayah dengan tingkat kerincian dan
kemampuan tertentu serta periode ulang tertentu maka data penginderaan jauh
dapat digunakan dalam managemen bencana.
Berdasar beberapa kemampuan penginderaan jauh dan SIG di atas yang
digunakan dalam managemen bencana atau penanggulangan bencana, beberapa
hal yang mendasar yang dapat disimpulkan dari integrasi tersebut, adalah :
a. Data bencana alam (natural disaster) dapat di spasialkan
-

Mayoritas informasi adalah spasial/ruang dan dapat direkam dan dipetakan

Data yang dihasilkan berbagai organisasi pada dasarnya dapat digunakan dan
dibagi bersama.

b.

Integrasi Penginderaan Jauh dan SIG dapat digunakan dalam mengelola dan
visualisasi data
-

Data dapat dikumpulkan, ditata, dianalisa, dan ditayangkan

Visualisasi situasi darurat atau bencana secara efektif

Membawa banyak sumber informasi pada suatu fokus (konsolidasi data).

c. Integrasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dapat digunakan


dalam analisis dan modeling spasial
-

Analisa dan mengestimasi kondisi (sebelum, selama, setelah) bencana alam

Mengetahui di mana dan bagaimana caranya menanggapi bencana

Mengetahui dengan baik lokasi yang merupakan daerah berbahaya melalui


proses analisis dan modeling.

Mitigasi bencana gempabumi adalah hal yang paling sulit diatasi, hal ini
dikarenakan berbagai faktor yang sangat komplek seperti: 1
6

i. Interval kejadian yang tidak pasti. Karena interval kejadian gempa yang
tidak pasti disepanjang suatu patahan sehingga menyulitkan dalam
perencanaan. Data yang sangat minim akan menyulitkan dalam
penyesuaian peruntukan lahan secara spesifik serta dalam pembuatan
aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan di sekitar dan di

sepanjang suatu patahan. Peraturan yang dibuat dengan data yang


sangat minim secara politis akan sulit memperoleh dukungan.
ii. Penetapan lebar zona patahan. Di perbagai instansi, data tentang lebar
suatu zona patahan dapat berbeda beda. Tanpa suatu dasar yang pasti
maka untuk memprediksi patahan mana yang berikutnya yang akan
bergerak/patah sangat sulit dilakukan, sehingga penyesuaian peruntukan
lahan dan penyusunan aturan yang berkaitan dengan lahan juga menjadi sulit
dipertahankan.
iii. Bangunan yang sudah terlanjur ada. Pembangunan yang dilaksanakan di
tempat tempat yang berdekatan dengan zona patahan dan disepanjang
jalur patahan akan sulit dilarang dan untuk menyadarkan masyarakat agar
tidak melakukan pembangunan di tempat tempat tersebut akan menjadi
sia-sia, hal ini disebabkan karena pemerintah / lembaga yang berwenang
tidak memiliki data yang memadai dan akurat terhadap kemungkinan
bencana yang mungkin terjadi.
Berkaitan dengan ketidak pastian dan waktu terjadinya gempa, maka
bencana gempa harus diposisikan dalam perhitungan dan pengambilan
keputusan yang tepat didasarkan atas data-data yang tersedia. Oleh karena
itu untuk bangunan bangunan, seperti perumahan, rumah sakit, sekolahan
dilarang dibangun di zona patahan. Untuk itu diperlukan suatu peraturan yang
melarang warga masyarakat membangun bangunan di tempat tempat yang
berada di zona patahan aktif.
Mitigasi bencana geologi pada hakekatnya adalah mengurangi resiko
bencana geologi terhadap harta benda maupun jiwa manusia. Mitigasi
merupakan suatu upaya kerjasama antara ahli- ahli teknik dan para pembuat
kebijakan dan menghasilkan peraturan peraturan pembangunan untuk suatu
wilayah yang rentan bahaya geologi. Usaha-usaha dalam penanggulangan
bencana untuk meminimalkan kerugian, baik kerugian harta benda ataupun
jiwa manusia yang disebabkan oleh gempabumi dapat dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain adalah:
1
7

1. Melakukan pemetaan penyebaran lokasi-lokasi gempa yang disajikan


dalam bentuk Peta Rawan Bencana Gempabumi / Seismik.
2. Membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan desain struktur
bangunan tahan gempa guna mencegah runtuhnya bangunan ketika
terjadi gempa.
3. Tidak membangun bangunan di wilayah-wilayah yang rawan bencana

gempa.

1
8