Anda di halaman 1dari 17

SINOPSIS NOVEL SENGSARA

MEMBAWA NIKMAT

Identitas Novel
Judul : Sengsara Membawa Nikmat
Pengarang : Tulis Sutan Sati
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan : 1929
Tebal Buku : 192 Halaman

Seorang pemuda bernama Kacak, karena merasa Mamaknya adalah seorang Kepala Desa
yang dikuti, selalu bertingkah angkuh dan sombong. Dia suka ingin menang sendiri. Kacak
paling tidak senang melihat orang bahagia atau yang melebihi dirinya. Kacak kurang disukai
orang-orang kampungnya karena sifatnya yang demikian. Beda dengan Midun, walaupun
anak orang miskin, namun sangat disukai oleh orang-orang kampungnya. Sebab Midun
mempunyai perangai yang baik, sopan, taat agama, ramah serta pintar silat. Midun tidak
sombong seperti Kacak.
Karena Midun banyak disukai orang, maka Kacak begitu iri dan dengki pada Midun. Kacak
sangat benci pada Midun. Sering dia mencari kesempatan untuk bisa mencelakakan Midun,
namun tidak pernah berhasil. Dia sering mencari gara-gara agar Midun marah padanya,
namun Midun tak pernah mau menanggapinya. Midun selalu menghindar ketika diajak Kacak
untuk berkelahi. Midun bukan takut kalah dalam berkelahi dengan Kacak, karena dia tidak
senang berkelahi saja. Ilmu silat yang dia miliki dari hasil belajarnya pada Haji Abbas bukan
untuk dipergunakan berkelahi dan mencari musuh tapi untuk membela diri dan mencari
teman.
Suatu hari istri Kacak terjatuh dalam sungai. Dia hampir lenyap dibawa arus. Untung waktu
itu Midun sedang berada dekat tempat kejadian itu. Midun dengan sigap menolong istri

Kacak itu. Istri Kacak selamat berkat pertolongan Midun. Kacak malah balik menuduh
Midun bahwa Midun hendak memperkosa istrinya. Air susu dibalas dengan air tuba.
Begitulah Kacak berterima kasih pada Midun. Waktu itu Midun menanggapi tantangan itu.
Dalam perkelahian itu Midun yang menang. Karena kalah, Kacak menjadi semakin marah
pada Midun. Kacak melaporkan semuanya pada Tuanku Laras. Kacak memfitnah Midun
waktu itu, rupanya Tuanku Laras percaya dengan tuduhan Kacak itu. Midun mendapat
hukuman dari Tuanku Laras.
Midun diganjar hukuman oleh Tuanku Laras, yaitu harus bekerja di rumah Tuanku Laras
tanpa mendapat gaji. Sedangkan orang yang ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengwasi
Midun selama menjalani hukuman itu adalah Kacak. Mendapat tugas itu, Kacak demikian
bahagia. Kacak memanfaatkan untuk menyiksa Midun. Hampir tiap hari Midun diperlakukan
secara kasar. Pukulan dan tendangan Kacak hampir tiap hari menghantam Midun. Juga segala
macam kata-kata hinaan dari Kacak tiap hari mampir di telinga Midun. Namun semua
perlakuan itu Midun terima dengan penuh kepasrahan.
Walaupun Midun telah mendapat hukuman dari Mamaknya itu, namun Kacak rupanya belum
puas juga. Dia belum puas sebab Midun masih dengan bebas berkeliaran di kampung utu. Dia
tidak rela dan ikhlas kalau Midun masih berada di kampung itu. Kalau Midun masih berada
di kampung mereka, itu berarti masih menjadi semacam penghalang utama bagi Kacak untuk
bisa berbuat seenaknya di kampung itu. Untuk itulah dia hendak melenyapkan Midun dari
kampung mereka untuk selama-lamanya.
Untuk melaksanakan niatnya itu, Kacak membayar beberapa orang pembunuh bayaran untuk
melenyapkan Midun. Usaha untuk melenyapkan Midun itu mereka laksanakan ketika di
kampung itu diadakan suatu perlombaan kuda. Sewaktu Midun dan Maun sedang membeli
makanan di warung kopi di pinggir gelanggang pacuan kuda itu, orang-orang sewaan Kacak
itu menyerang Midun dengan sebelah Midun pisau.
Tapi untung Midun berhasil mengelaknya. Namun perkelahian antar mereka tidak bisa
dihindari. Maka terjadilah keributan di dalam acar pacuan kuda itu. Perkelahian itu berhenti
ketika polisi datang. Midun dan Maun langsung ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.
Setelah diperiksa, Maun dibebaskan. Sedangkan Midun dinyatakan bersalah dan wajib
mendekam dalam penjara. Mendengar kabar itu, betapa senangnya hati Kacak. Dengan

Midun masuk penjara, maka dia bisa dengan bebas berbuat di kampung itu tanpa ada orang
yang berani menjadi penghalangnya.
Selama di penjara itu, Midun mengalami berbagai siksaan. Dia di siksa oleh Para sipir
penjara ataupun oleh Para tahanan yang ada dalam penjara itu. Para tahanan itu baru tidak
berani mengganggu Midun ketika Midun suatu hari berhasil mengalahkan si jago Para
tahanan.
Karena yang paling dianggap jago oleh Para tahanan itu kalah, mereka kemudian pada takut
dengan Midun. Midun sejak itu sangat dihormati oleh para tahanan lainnya. Midun menjadi
sahabat mereka.
Suatu hari, ketika Midun sedang bertugas menyapu jalan, Midun Melihat seorang wanita
cantik sedang duduk duduk melamun di bawah pohon kenari. Ketika gadis itu pergi, ternyata
kalung yang dikenakan gadis itu tertinggal di bawah pohon itu. Kalung itu kemudian
dikembalikan oleh Midun ke rumah si gadis. Betapa senang hati gadis itu. Gadis itu sampai
jatuh hati sama Midun. Midun juga temyata jatuh hati juga sama si gadis. Nama gadis itu
adalah Halimah.
Setelah pertemuan itu, mereka berdua saling bertemu dekat jalan dulu itu. Mereka saling
cerita pengalaman hidup, Halimah bercerita bahwa dia tinggal dengan seorang ayah tiri. Dia
merasa tidak bebas tinggal dengan ayah tirinya. Dia hendak pergi dari rumah. Dia sangat
mengharapkan suatu saat dia bisa tinggal dengan ayahnya yang waktu itu tinggal di Bogor.
Keluar dari penjara, Midun membawa lari Halimah dari rumah ayah tirinya itu. Usaha Midun
itu dibantu oleh Pak Karto seorang sipir penjara yang baik hati. Midun membawa Halimah ke
Bogor ke rumah orang tua Halimah.
Ayah Halimah orangnya baik. Dia sangat senang kalau Midun bersedia tinggal bersama
mereka. Kurang lebih dua bulan Midun bersama ayah Halimah. Midun merasa tidak enak
selama tinggal dengan keluarga Halimah itu hanya tinggal makan minum saja. Dia mulai
hendak mencari penghasilan. Dia kemudian pergi ke Jakarta mencari kerja. Dalam Perjalanan
ke Jakarta. Midun berkenalan dengan saudagar kaya keturunan arab. Nama saudagar ini
sebenarnya seorang rentenir. Dengan tanpa pikiran yang jelek-jelek, Midun mau menerima
uang pinjaman Syehk itu.

Sesuai dengan saran Syehk itu, Midun membuka usaha dagang di Jakarta. Usaha Midun
makin lama makin besar. Usahanya maju pesat. Melihat kemajuan usaha dagang yang dijalani
Midun, rupanya membuat Syehk Abdullah Al-Hadramut iri hati. Dia menagih hutangnya
Midun dengan jumlah yang jauh sekali dari jumlah pinjaman Midun. Tentu saja Midun tidak
bersedia membayarnya dengan jumlah yang berlipat lipat itu. Setelah gagal mendesak Midun
dengan cara demikian, rupanya Syehk menagih dengan cara lain. Dia bersedia uangnya tidak
dibayar atau dianggap lunas, asal Midun bersedia menyerahkan Halimah untuk dia jadikan
sebagai istrinya. Jelas tawaran itu membuat Midun marah besar pada Syehk . Halimah juga
sangat marah pada Syehk.
Karena gagal lagi akhirnya Syehk mengajukan Midun ke meja hijau. Midun diadili dengan
tuntutan hutang. Dalam persidangan itu Midun dinyatakan bersalah oleh pihak pengadilan.
Midun masuk penjara lagi.
Di hari Midun bebas itu, Midun jalan jalan dulu ke Pasar Baru. Sampai di pasar itu, tiba tiba
Midun melihat suatu keributan. Ada seorang pribumi sedang mengamuk menyerang seorang
Sinyo Belanda. Tanpa pikir panjang Midun yang suka menolong orang itu, langsung
menyelamatkan Si Sinyo Belanda.itu. Sinyo Belanda itu sangat berterima kasih pada Midun
yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
Oleh Sinyo Belanda itu, Midun kemudian diperkenalkan kepada orang tua Sinyo itu. Orang
tua Sinyo Belanda itu ternyata seorang Kepala Komisaris, yang dikenal sebagai Tuan
Hoofdcommissaris. Sebagai ucapan terima kasihnya pada Midun yang telah menyelamatkan
anaknya itu, Midun langsung diberinya pekerjaan. Pekerjaan Midun sebagai seorang juru
Tulis.
Setelah mendapat pekerjaan itu, Midun pun melamar Halimah. Dan mereka pun menikah di
Bogor di rumah orang tua Halimah. Prestasi kerja Midun begitu baik di mata pimpinannya.
Midun kemudian diangkat menjadi Kepala Mantri Polisi di Tanjung Priok. Dia langsung
ditugaskan menumpas para penyeludup di Medan. Selama di Medan itu, Midun, bertemu
dengan adiknya, yaitu Manjau. Manjau bercerita banyak tentang kampung halamannya.
Midun begitu sedih rnendengar kabar keluarganya di kampung yang hidup menderita. Oleh
karena itu ketika dia pulang ke Jakarta, Midun langsung minta ditugaskan di Kampung
halamannya. Permintaan Midun itu dipenuhi oleh pimpinannya.

Kepulangan Midun ke kampung halamannya itu membuat Kacak sangat gelisah. Kacak
waktu itu sudah menjadi penghulu di kampung rnereka. Kacak menjadi gelisah sebab dia
takut perbuatannya yang telah menggelapkan kas negara itu akan terbongkar. Dan dia yakin
Midun akan berhasil membongkar perbuatan jeleknya itu. Tidak, lama kemudian, memang
Kacak ditangkap. Dia terbukti telah menggelapkan uang kas negara yang ada di desa mereka.
Akibatnya Kacak masuk penjara atas perbuatannva itu.
Sedangkan Midun hidup berbahagia bersama istri dan seluruh keluarganya di kampung.

Habis Gelap Terbitlah Terang

Sebagai roman yang sumber primernya berasal dari kegiatan surat menyurat Kartini dengan
beberapa teman asingnya. Maka ada baiknya pula kita tahu sedikit mengenai teman-teman
Kartini tersebut. Pertama, Ny. Estelle H. Zeehandelaar, yang kemudian nikah dengan Tn.
Harsthalt, sebelumnya belum pernah bertemu langsung dengan Kartini dan hanya berke-nalan
melalui surat saja. Kedua, Ny. M.C.E. Ovienk-Soer yaitu isteri seorang asisten residen Jepara,
saking dekatnya hubungan mereka, sampai Kartini menyebutnya Ibu.
Ketiga, Tn. Prof. Dr. G.K. Anton dan nyonya di di Jerman. Pernah mengunjungi pulau Jawa
dan sempat berkunjung ke Jepara. Keempat, Dr. N. Adriani, ahli bahasa yang dikirim oleh
Bijbel-genootschap ke daerah Poso, Sulawesi Tengah. Kelima, Tn. H.H. van Kol, se-orang

anggota 2de Kamer tahun 1897 1909 dan pernah berkunjung ke Jawa pada tahun 1902
bersama isterinya Nellie van Kol. Keenam, Mr. J.H. Abendanon, pernah menjadi Directur
Departement Onderwijs, Eredienst en Nijverheid. Isterinya R.M. Abendanon juga begitu
dekatnya dengan Kartini, sehingga menyebutnya pula Ibu. Mereka pernah berkunjung ke
kediaman keluarga Kartini pada tahun 1900.Dan , Tn. E.C. Abendanon yang Kartini sebut
sebagai abang, putera dari Mr. Abendanon.
Selain nama-nama di atas ada pula beberapa orang lain yang pernah berkirim surat dengan
Kartini, tetapi yang disebutkan di atas yaitu yang paling sering berkirim surat dengan Kartini.
Surat-surat tersebut pertama kali diumumkan oleh Mr. Abendanon pada tahun 1911. Di dalam
buku Habis Gelap Terbitlah Terang sendiri, surat-surat Kartini dikelompokkan da-lam 25
bagian. Pengelompokkan tersebut berdasarkan isi surat, waktu surat, dan terutama se-kali
suasana hati dari seorang Kartini saat surat tersebut ditulis. Sekali lagi surat-surat yang
dibukukan tersebut hanyalah sebagian dari surat-surat Kartini.
Bagian surat yang pertama yaitu Berkenelan, setidaknya ada tiga surat yang masuk dalam
bagian ini. Pada intinya ketiga surat tersebut merupakan luapan kekecewaan, penyesa-lan dan
bahkan kesedihan Kartini terhadap apa yang ada dan terjadi di sekitarnya, terutama kondisi
soiso-kultural masyarakat yang menurutnya sangat memprihatinkan. Dari ketiga surat
tersebut ada kalimat yang menarik dari salah satu surat Kartini, surat itu ditujukan untuk Nn.
Zeehandelaar atau yang ia sebut dengan Stella pada tanggal 6 November 1899.
hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu
kali orang mengatakan, beristeri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap
selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Ini menunjukkan bahwa Kartini sangat membenci
prilaku poligami yang dilakukan oleh laki-laki. Menarik karena sebagai seorang keluarga
bangsawan ia tahu persis betapa laki-laki berdarah biru saat itu hampir semuanya
mempraktikkan prilaku poligami. Dimaklumi memang karena saat itu tidak ada undangundang perkawinan seperti saat ini, yang mengatur masalah perkawinan khususnya bagi
pegawai negeri. Sehingga sebagai seorang perempuan ia harus mengadu hal tersebut ke orang
asing ketimbang keluarganya sendiri.
Kelompok surat kedua diberi nama Pada Kakiku Ternganga Jurang, di Atas Diriku
Melengkung Langit Terang Cuaca, yang terdiri dari dua surat. Dalam suratnya tanggal 12
Januari 1900 yang ditujukan untuk Nn. Zeehandelaar, terdapat kutipan kalimat Aku sayang

akan orang Belanda, sayang, amat sayang, dan banyaklah terima kasihku, karena banyaklah
kepunyaannya yang boleh kami rasai sedapnya, dan banyaklah yang kami rasai sedapnya,
oleh karena pertolongannya.
Pernyataan Kartini ini tentu saja bersifat subyektif dan dapat dimaklumi. Karena seba-gai
seorang bangsawan tentu saja pelayanan dan yang didapatkannya dari pemerintah kolo-nial
jauh lebih baik. Apalagi tahun-tahun tersebut merupakan awal dari program Politik Etis yang
memberikan sedikit kemajuan bagi pribumi terutama kaum bangsawan. Tetapi agaknya
seorang Kartini dalam menulis surat tersebut lupa, bahwa yang namanya penjajahan tentu
saja lebih banyak buruk daripada baiknya. Ia mungkin lupa bahwa apa yang ia sebut sebagai
sebagai kepunyaan Belanda tersebut telah mengorbankan jutaan jiwa rakyat Indonesia. Dan
penulis rasa Kartini terlalu berlebih-lebihan dalam hal ini.
Kelompok surat ketiga yaitu Jika Mendapat Izin Dari Bapak, dan terdiri dari satu surat saja.
Surat tersebut ditulis pada awal tahun 1900 yang ditujukan untuk Ny. Ovienk-Soer. Surat
tersebut pada intinya mengungkapkan isi hati Kartini yang ingin sekali pergi ke Eropa untuk
menuntut ilmu. Dalam surat ini jelas memperlihatkan betapa hasrat Kartini untuk maju
terutama di bidang pendidikan sangatlah besar.
Bagian keempat selanjutnya diberi nama Mendapat Karib Timbul Harapan, yang ter- diri dari
dua surat. Tolonglah kami, melawan loba laki-laki yang ganas, yang semata-mata memikirkan dirinya sendiri itu, sifat loba iblis yang sepanjang masa mengazab menindas perempuan., itulah salah satu isi surat yang ditujukan Kartini untuk Ny. Abendanon pada bulan
Agustus 1990.
Jika diperhatikan bahwa Kartini sangat membenci laki-laki terutama karena segala sifat
buruknya yang Kartini sebut dengan sifat loba. Melihat sikap Kartini yang boleh dibi-lang
antipati terhadap laki-laki ini, penulis bertanya-tanya apakah memang saat itu sebegitu
bejatnya kah laki-laki? Sampai-sampai Kartini begitu murkanya. Atau kemurkaan Kartini
justru muncul karena melihat kondisi dalam internal keluarganya sendiri, mengingat saudarasaudara Kartini yang laki-laki juga ada yang berpoligami. Tetapi lepas dari itu, sikap Kartini
jelas menunjukkan sikap perlawanan yang berdampak positif bagi posisi perempuan di masamasa selanjutnya.

Kelompok surat kelima yaitu Hampir Dapat, Lulus Juga. Yang kelima ini juga hanya terdiri
dari satu surat, yang ditujukan juga untuk Ny. Ovienk-Soer dan ditulis pada Agustus 1900.
Dalam beberapa suratnya yang ditujukan untuk Soer, Kartini selalu menyebut Soer de-ngan
sebutan Ibu. Ibuku, adalah lagi yang lebih celaka daripada seorang yang lalai lengah, tiada
minatnya sedikit juapun! Itulah salah satu kalimat yang ditulis Kartini dalam suratnya
tersebut.
Penyebutan Ibu pada Soer memang menjelaskan bahwa Kartini sebagai seorang anak tidak
begitu dekat dengan ibu kandungnya. Dalam beberapa surat bahkan ia sampaikan hal
demikian pada Ibu Soer-nya, bahwa ia sayang dan lebih tenang, dekat, dan damai bersama
bapaknya. Hal ini masih menjadi pertanyaan bagi penulis, mengapa Kartini lebih dekat
dengan bapaknya? Bukankah ia membenci laki-laki? Atau mungkin ia kecewa dengan
ibunya yang nasibnya sama dengan wanita-wanita lain isteri para bupati, entahlah.
Selanjutnya untuk bagian surat keenam yaitu Harapan Baru Berbahagia Pula, dan hanya
terdiri dari satu surat yang ditujukan untuk Ny. Zeehandelaar atau yang biasa dipang- gilnya
dengan Stella, tertanggal 23 Agustus 1900. Inti surat tersebut menggambarkan sedikit
kebahagiaan hati Kartini, karena adanya kunjungan Direktur Pengajaran, Ibadat dan Kerajinan, bersama dengan isteri. Tujuan kedatangan mereka yaitu untuk mendengarkan langsung
dari R.M. Adipati Ario Sosroningrat (ayah Kartini), selaku Bupati Jepara yang mengusulkan
agar di Jepara didirikan sekolah gadis Bumiputra. Dan ternyata usulan tersebut mendapat
tanggapan positif dari direktur, bahkan isteri sang direktur sempat berbincang-bincang
banyak denga Kartini mengenai masalah perempuan.
Terlepas dari itu, ada kalimat menarik dalam surat Kartini tersebut yang menunjukkan bahwa
Kartini merupakan seorang bangsawan yang berani membongkar prilaku buruk para
bangsawan, terutama bangsawan laki-laki dalam memerlakukan perempuan. Seperti yang ia
katakan, Di daerah Gubernemen perempuan itu sudah merasa celaka dengan seorang, dua,
tiga, empat selir suaminya; di sana di daerah Surakarta dan Yogyakarta yang demikian itu baru perkara kecil. Di sana hampir tiada seorang juga laki-laki, yang perempuannya hanya satu,
dalam kalangan bangsawan, terutama dalam lingkungan Susuhanan, laki-laki itu sampai lebih
dari 26 orang perempuannya.
Kelompok surat ketujuh bernama Alangkah Bahagianya Hatiku, Bapak Mufakat, dan terdiri
dari lima surat. Di antara tujuh surat itu, penulis melihat bahwa surat yang ditujukan untuk

Ny. Abendanon tanggal 1 November 1900 merupakan surat yang menunjukkan betapa
senangnya hati Kartini. Memang lima surat itu menunjukkan kegembiraan Kartini, tetapi surat yang keempat itulah yang paling menunjukkan kegembiraannya. Kegembiraan karena
yang dicita-citakannya semakin dekat dan akan diraihnya.Peluklah aku tekankan pada hati
nyonya, tinjaulah ke dalam mataku yang bersinar-sinar ini, tinjaulah melihat rasa bahagia
hatiku! Kekasihku, aku boleh belajar jadi guru! Itu-lah salah satu kalimat yang ditulis
Kartini dalam suratnya untuk Ny. Abendanon.
Yang kedelapan yaitu Selamat Berlayarlah Engkau, Cita-Cita. Kelompok surat yang
kedelapan ini berjumlah tiga surat. Penulis melihat Kartini memanglah seorang yang hebat, ia
merupakan bangsawan perempuan yang pikirannya jauh melampaui zamannya, terlepas dari
beberapa kelemahan yang dimilikinya. Sebagai orang yang bercita-cita sebagai guru, ternyata
ia memiliki gambaran tentang pendidikan yang bagus. Hal tersebut tercermin dalam suratnya
yang ditujukan untuk Ny. Abendanon tertanggal 21 Januari 1901, salah satu isinya berbunyi
Rasa-rasanya kewajiban seorang pendidik belumlah selesai jika ia hanya baru mencerdaskan
pikiran saja, belumlah boleh dikatakan selesai; dia harus juga bekerja mendidik budi meskipun tidak ada hukum yang nyata mewajibkan berbuat demikian, perasaan hatinya yang mewajibkan berbuat demikian.
Kelompok surat yang kesembilan yaitu Kami Merasa Bersyukur Juga, Ya Tuhan, ter-diri dari
dua surat. Menarik, ternyata walaupun Kartini dalam pelbagai suratnya acapkali mengagungagungkan Eropa, tetapi di dalam dirinya tetap merupakan perempuan bangsawan Jawa, yang
mencintai tanah airnya. Boleh jadi seluruh tubuh kami sudah dihinggapi pikiran perasaan
Eropah tetapi darah, darah Jawa itu, yang hidup dan mengalir dengan panasnya di sekujur
badan kami, sekali-kali tiadalah dapat dihilangkan. Itulah salah satu isi surat tanggal 1
Agustus 1901 yang ditujukan untuk Ny. Abendanon. Yang jika dipikir-pikir bahwa sekitar
tiga dasawarsa sebelum Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan hal yang hampir sama
saat dilantik sebagai Raja Yogyakarta, ternyata Kartini telah lebih dulu menunjukkan jiwa
nasionalisme setidaknya sebagai orang Jawa.
Bagian kesepuluh yaitu Mengenangkan Jalan Hidup Setahun, yang terdiri dari satu su-rat
untuk Ny. Abendanon dan ditulis tanggal 8 9 Agustus 1901. Tetapi sesungguhnya tuli-san
Kartini tersebut bukan surat, melainkan karangan kenangan terhadap pertemuan Kartini
dengan Mr. Abendanon dan isteri saat berkunjung ke Jepara satu tahun sebelumnya (1900).
Dan penulis rasa tidak perlu untuk di-review.

Kelompok surat kesebelas bernama Mencari Pelipur dan Ketetapan Hati, yang terdiri dari
empat surat. Memang pantas kiranya jika Kartini digelari sebagai pahlawan Emansipasi
Wanita, sebagai pelopor dan perintis jalan perubahan bagi kaum perempuan. Hal demikian
pula diakui oleh Kartini dalam suratnya bulan Agustus 1901 yang ditujukan untuk Ny. van
Kol. Tujuan usaha kami ada dua maksudnya, ialah turut berusaha memajukan bangsa kami
dan merintis jalan bagi saudara-saudara kami perempuan, menuju arah ke keadaan yang agak
berdasarkan kemanusiaan. Demikan salah satu kalimat dalam suratnya tersebut.
Selanjutnya yang kedua belas yaitu Cita-Cita Mengawang-Awang, di Mana Izin Bapak? Yang
ini hanya terdiri dari satu surat saja yaitu untuk Ny. Abendanon yang ditulis pa-da tanggal 30
September 1901. Dalam suratnya tersebut ada kalimat Akan melakukan cita-cita kami itu
kami hanya menantikan izin Bapak saja lagi. Maafkanlah seorang Bapak, Stella, yang
bimbang melepaskan anak-anaknya kepada nasib yang tiada tentu. Menarik untuk se-dikit
dilihat mengenai sikap bapaknya Kartini.
Penulis nilai setidaknya ada dua hal yang menyebabkan R.M. Sosroningrat merasa berat
untuk melepaskan Kartini dan adik-adik perempuannya. Pertama, sebagai seorang bangsawan ia pasti memiliki sedikit rasa malu jika anak perempuannya berkehendak dan berkeinginan beda dengan putri-putri bangsawan lainnya, walaupun ia mendukung keinginan Kartini untuk maju. Kedua, mungkin sang bapak ini merasa kasihan terhadap putrinya, Kartini,
jika melihat dalam berjuang untuk mencapai citanya, Kartini dan adik-adiknya sendirian tanpa dibantu oleh putrid bangsawan lainnya. Sehingga ia cukup berat untuk membiarkan Kartini melakukan apa yang dicitakannya.
Kelompok ketiga belas yaitu Tenang Berani Terus Berjuang, yang terdiri dari dua su-rat.
Dalam suratnya untuk Ny. Abendanon tanggal 31 Desember 1901, Kartini sekali lagi menegaskan dirinya bahwa ia hanya hendak membuka atau merintis jalan. Seperti yang ia tulis
dalam suratnya, Kami yakin, banyak yang akan menurut, asal ada seorang yang berani memulai. Sungguh usaha itu tiadalah akan sia-sia.
Selanjutnya yang keempat belas yaitu Bertambah Berani, Lawan Jadi Kawan. Untuk judul
yang ini hanya terdiri dari satu surat saja, yang ditujukan untuk Ny. Abendanon tanggal 3
Januari 1902. Memang patut disayangkan apa yang dicita-citakan Kartini untuk mendidik
kaum pribumi tidak pernah mendapat persetujuan atau dukungan dari saudara-saudara pria-

nya secara penuh. Padahal, andaikata para Raden-Raden Mas itu mendukung jalan adiknya,
maka akan sangat mudah bagi Kartini dalam mencapai tujuannya.
Sehingga tidak heran Kartini sangat berharap dapat bertemu dan ingin menjalin kerja sama
dengan laki-laki pribumi lain yang terpelajar, yang mengerti akan cita-citanya atau setidaknya memberikan masukan, nasehat, atau dorongan baginya, seperti misalnya Abdul Rivai.
Hal itu dia tulis dalam suratnya untuk Ny. Abendanon tersebut, Besar cita-cita saya, dapat
kiranya berhubungan dengan semua laki-laki terpelajar dan ingin kemajuan, yang ada di Hindia ini.
Kelompok surat yang kelima belas yaitu Berasa Masygul; Hati Tiga Serangkai Ser-kah
Satu. Kelompok ini terdiri dari lima surat, salah satunya untuk Ny. Abendanon yang ditu-lis
tanggal 28 Februari 1902. Dalam suratnya tersebut ada kalimat seperti ini, Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada mimpi,
apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam. Kalimat-kalimat tersebut sampai
sekarang ini masih terus digunakan oleh beberapa motivator dalam memotivasi orang-orang
untuk mencapai kesuksesan yang diimpikan, dan memang ada beberapa yang merasa berhasil
dengan bermimpi. Tetapi penulis perlu garis bawahi bahwa mimpi tanpa usaha dan doa, akan
menjadi mimpi pepesan belaka.
Dahulu sewaktu ke toko buku, betapa kagetnya penulis melihat sebuah buku yang judulnya
jika tidak salah yaitu Kartini Seorang Yahudi, namun sayang tak sempat waktu itu penulis
membelinya. Tetapi menjadi pertanyaan yaitu kenapa penulis buku tersebut berani memberi
judul yang boleh dibilang kontroversial bahkan provokatif? Akhirnya, setelah mem-baca
Habis Gelap Terbitlah Terang, penulis dapat memahami kalaupun tidak salah mengapa
penulisnya memberikan judul demikian.
Dalam beberapa suratnya memang Kartini menunjukkan sikap yang seperti kecewa terhadap
Tuhan, terutama mengenai posisi perempuan yang saat itu menurutnya diperlakukan sangat
tidak adil. Bahkan isi beberapa suratnya seperti menunjukkan bahwa Kartini sangat
membenci agama, terutama agama Islam. Seperti dalam suratnya untuk Nn. Zeehandelaar
yang tergabung dalam kelompok surat keenam belas yaitu Memenungkan Keadaan Diri
Sendiri. Ia menulis, Pertanyaanku, bilakah gadis Islam, dewasa, jawabnya telah kudapat; ia-

lah: Gadis Islam tiada pernah dewasa, bila dia hendak merdeka haruslah dia kawin dulu,
kemudian bercerai.
Selanjutnya kelompok surat ketujuh belas yaitu Mendapat Izin Bapak, Cahaya Tuhan
Tumbuh Dalam Ruh Kami, dan terdiri tiga surat. Inti ketiga surat tersebut yaitu kebahagiaan
hati Kartini, sebab telah mendapat izin dari ibu bapaknya untuk sekolah ke Negeri Belanda.
Kartini sendiri tidak menyangka jika bapaknya akan semudah itu mengizinkannya, bahkan
ibunya juga demikian. Hal tersebut terungkap dalam salah satu suratnya yang ditulis untuk
Ny. Ovienk-Soer, pada tanggal 12 Juli 1902. Ibu dan Bapak telah mengizinkan sepenuhpenuhnya. Sangka kami hari akan badai dan ribut, kilat akan sabung-menyabung dan guntur
akan gemuruh. Kelompok yang kedelapan belas yaitu Berseru Diri Kepada Tuhan,
Menyelam ke Dalam Lautan Jiwa Bangsa, yang terdiri dari enam surat. Dalam kelompok ini
Kartini masih mengungkapkan kebahagiaannya.
Kelompok kesembilan belas yaitu Betapa Aman Sentosanya Diri Kami, Kami Dilin-dungi
Tuhan, Hati Sanubari Telah Berubah. Di dalam suratnya untuk Tn. E.C. Abendanon tanggal
15 Agustus 1902, yang merupakan satu dari dua belas surat dalam kelompok itu. Ada kalimat
Kartini yang penulis rasa dijadikan dasar oleh Abendanon dan Pane dalam member-kan judul
roman ini.
Habis malam datanglah siang. Habis topan datanglah reda. Habis perang datanglah menang.
Habis duka datanglah suka, tulis Kartini. Dalam kelompok surat ini juga, Kartini
menceriterakan bahwa sekolah perempuan yang ia buka di sekitar pendapa bapaknya, telah
banyak anak-anak yang masuk untuk belajar. Bahkan ada beberapa orang tua dan bupati yang
datang langsung ke tempatnya untuk menyerahkan anak-anak mereka ke Kartini langsung.
Sementara kelompok kedua puluh yaitu Bukan ke Negeri Belanda, ke Betawi Sajalah, yang
terdiri dari delapan surat. Serta kelompok surat ke-21 berjudul Menanti-Nanti Jawaban
Rekes, yang terdiri dari tiga surat. Penulis menggabungkan kedua kelompok surat ini karena
Kartini setelah mendapat nasehat dan merenung sedalam-dalamnya, mengurungkan niatnya
untuk belajar ke Belanda dan biarlah ke Betawi saja. Tetapi ia tetap berharap mendapat rekes
(beasiswa) dari pemerintah Hindia-Belanda walaupun sekolahnya jadi Betawi.
Selanjutnya kelompok ke-22 yaitu Menjalankan Cita-Cita, yang terdiri dari empat surat. Saatsaat itu Kartini mulai sakit-sakitan, tetapi sedikit terobati karena sekolahnya sema-kin banyak

pula peminatnya. Di saat ini juga sebenarnya rekes untuk belajar ke Betawi telah keluar,
namun akhirnya ditolak karena beberapa waktu ke depan, Kartini akan melangsung-kan
perkawinan.
Untuk kelompok surat ke-23 dan ke-24 berjudul Masuk Pelabuhan dan Sebagai Istri, dan
berjumlah 12 surat. Ia menceriterakan suka dukanya sebagai seorang isteri Bupati Rem-bang
R. Adipati Djaja Adiningrat. Walaupun hal yang selalu ia benci selama ini terhadapa lakilaiki, tapi tetap ia rasakan jua menjadi istri yang kesekian, untungnya suami Kartini melek
pendidikan sehingga apa yang diperjuangkan dan dilakukan Kartini selalu ia dukung sekuat
mungkin, sehingga hal itu menjadi pelipur bagi Kartini sendiri.
Kelompok surat yang terakhir yaitu Jika Masa Berkembang Tiba, Jauhkan Masa Kan Laju?
Yang terdiri dari tiga surat dan kesemuanya ditujukan untuk Ny. Abendanon, suratnya yang
terakhir ditulis di Rembang tanggal 7 September 1904. Surat itu berisi tentang ucapan terima
kasih Kartini kepada beliau atas nasehat dan dukungannya selama ini, sekaligus memberitahu bahwa tidak lama lagi, ia akan melahirkan. Akhirnya tanggal 13 September 1904
anak laki-lakinya lahir, dan empat hari kemudian R. Ajeng Kartini berpulang ke rahmatullah.
Dalam catatan sejarah, Kartini memang bukanlah pejuang yang turun langsung di me-dan
perang laiknya Cut Nyak Dien atau Christina M. Tiahahu. Tetapi walaupun demikian,
perjuangan yang ia lakukan tidak dapat dianggap remeh. Sangatlah keliru bagi penulis jika
ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa Kartini tak laik menjadi seorang pahlawan. Ia
tidak berpikir bahwa tanpa Kartini, ibu dan nenek-neneknya tidak akan dapat sekolah, atau
sekolah untuk perempuan akan lama berdiri.
Kartini memang bukanlah pejuang di medan perang, karena sebagai putrid bangsawan itu
sangat tidak mungkin terjadi. Tetapi seperti yang ia katakana sendiri dalam beberapa
suratnya, bahwa ia hendak merintis dan membuka jalan. Jalan baru yang dapat dilewati oleh
perempuan pribumi, jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yaitu mendirikan sekolah putri. Selain daripada itu, ia hendak menjadi penunjuk jalan, penunjuk jalan bahwa perempuan sudah saatnya sejajar dengan laki-laki, dan waktu itu sudah mendekat bahkan telah
tiba.
Sementara itu, Kartini melakukan perjuangan tersebut dengan kekuatan, tenaga, daya, dan
upaya sendiri, terutama secara batin ia sendirian. Bantuan rekes dan dukungan dari adik-

adiknya itu hanyalah penguat semata. Tetapi sesungguhnya jika diperhatikan dalam suratsuratnya, Kartini sendirian dalam memerjuangkan citanya demi kehidupan, harkat, dan martabat perempuan pribumi, barulah pada akhir-akhir hayatnya ada sosok suami yang membantunya, tapi itupun sedikit sekali. Sehingga bagi penulis tidaklah mengherankan dan sangat
pantas jika R.A. Kartini mendapat gelar pahlawan nasional Emansipasi Wanita.

Ringkasan Buku "Habis Gelap Terbitlah Terang"

Buku karangan
R.A.Kartini
"Habis Gelap terbitlah terang"

Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879, jadi bertepatan 131
tahun lalu. Beliau adalah putri dari Bupati Jepara waktu itu bernama Raden Mas Adipati
Sastrodiningrat dan cucu dari Bupati Demak, Tjondronegoro.
Saat Raden Ajeng Kartini menginjak dewasa, beliau menilai kaum wanita penuh dengan
kehampaan, kegelapan, ketiadaan dalam perjuangan yang tidak lebih sebagai perabot kaum
laki-laki yang bekerja secara alamiah hanya mengurus dan mengatur rumah-tangga saja.
RA Kartini tidak bisa menerima keadaan itu, walaupun dirinya berasal dari kaum
bangsawan, namun tidak mau ada perbedaan tingkatan derajat, Kartini sering turun berbaur
dengan masyarakat bawah yang bercita-cita merombak perbedaan status sosial pada waktu
itu, dengan semboyan, Kita Harus Membuat Sejarah, Kita Mesti Menentukan Masa Depan
Kita yang Sesuai Keperluan Kita Sebagai Kaum Wanita dan Harus Mendapat Pendidikan
Yang Cukup Seperti Halnya Kaum Laki-Laki.

RA Kartini mengecap pendidikan tinggi setara dengan pemerintah kolonial Belanda dan
terus memberi semangat kaum perempuan untuk tampil sama dengan kaum laki-laki.
Pernikahan dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyoningrat, lebih meningkatkan
perjuangannya melalui sarana pendidikan dan lain-lain.
RA Kartini wafat pada usia 25 tahun, beliau pergi meninggalkan Bangsa Indonesia dalam
usia sangat muda yang masih penuh cita-cita perjuangan dan daya kreasi yang melimpah.
Perjuangan RA Kartini berhasil menempatkan kaum wanita ditempat yang layak dan
mengangkat derajat kaum wanita dari tempat gelap ke tempat terang benderang sesuai dengan
karya tulis beliau yang terkenal berjudul, Habis Gelap Terbitlah Terang.