Anda di halaman 1dari 6

Tugas Mid-Semester IV (SFAP-BN)

KONSEP AKHLAK MENURUT AL-GHZALI:


Suatu Prinsip Moral Menuju Kebahagiaan Jiwa dalam
Ranah Filsafat Islam
Adi Budi Kristianto, msc
Semester IV/ STF Seminari Pineleng

Abstract:
Al-Ghazli is well known as a rebellious philosopher because he tries to progress Islamic theology
as a principle of ethic. In the history of the philosophy of Islam, a principle of ethic also influenced
by Greek Philosophy and makes impact on the orthodoxy. According to al-Ghazli, principle of
ethic is not different with the pattern of tasawuf. There is a concept of akhlaq. Akhlaq explores the
happiness of the soul. To aim this goal, al-Ghazli stresses 4 powers on akhlaq as the moral values.
He believes that the perfection of this in our life gets some capability to reach the relationship with
God. So, what is akhlaq? How it can be learnt in our daily life? Can we reach the happiness of the
soul with God as the ultimate goal? Then, what is the final destination of akhlaq? Is it still relevant?
Keywords: akhlak (akhlq), daya/kekuatan (quwwah), nafsu (syahwah), amarah (ghadaab),
pengetahuan (marifah), keadilan (adl), latihan rohani, ibadat, kebahagiaan jiwa.
Pendahuluan
Secara prinsipil perbuatan moral dalam pola pikir orang Islam tak bisa dipisahkan dengan
pandangan agama, unsur teologi bernuansa religius. Hal itulah yang menjadi karakteristik khas dari
filsafat Islam sejak semula. Inti pemikiran Islam yang diajarkan adalah Allah yang Esa dan sosok
Nabi Muhammad sebagai teladan hidup sempurna bagi manusia (insan alkamil).1 Berlandaskan
teologi yang terbentuk, prinsip akhlak diajarkan guna menjelaskan cara hidup dan sikap moral yang
sesuai dengan kehendak Yang Ilahi dalam Kitab Suci. Namun lebih dari itu, akhlak merupakan
sarana untuk mencapai kebahagiaan jiwa di dunia dan di akhirat.
Prinsip akhlak (akhlaq) yang bercorak teleologis dan mistik tersebut berasal dari pemikiran
filsuf Islam, al-Ghazli. Dalam artikel ini pandangan al-Ghazli mengenai akhlak disusun secara
teratur dan ditampilkan bagaimana pembelajaran moral yang terkandung di dalamnya. Manusia
1 Bdk. Battista Mondin. A History of Mediaeval Philosophy. (Roma: Urbaniana
University Press, 1991), hlm. 222.

Tugas Mid-Semester IV (SFAP-BN)

pada hakikatnya dimampukan untuk membina serta memiliki integritas moral yang tinggi seperti
figur Muhammad dalam Islam. Praktisnya, hidup dengan keutamaan mesti diterapkan pada
pelaksanaan ibadat dan mengontrol hawa nafsu dari hal-hal material.
Tulisan ini hendak menghantar pembaca untuk 1) mengenal biografi singkat al-Ghazli, 2)
hakikat akhlak dalam pandangannya, 3) pembelajaran akhlak sebagai prinsip moral, 4) orientasi
akhir dari akhlak, dan 5) sebuah tinjauan kritis atas konsep akhlak al-Ghazli.
1. Al-Ghazli: Hidup dan Konteks Zamannya
Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ts Ahmad al-Tsi al-Shfii atau
biasa dikenal dengan al-Ghazli (1058-1111 M) berasal dari kota Tabaran-Tus, Khursn, Iran (Persia).
Dalam filsafat Barat namanya disebut Algazel. 2 Al-Ghazli sebagai filsuf terkenal dengan pemikirannya yang
terpusat pada usaha untuk mengkritik filsafat. Baginya, filsafat merupakan cara penyesatan yang
membimbing kepada kekafiran.3 Di kalangan Islam Sunni al-Ghazli menjadi filsuf terbesar karena justru
dalam kritik filsafatnya ia mengemukakan argumen-argumen dan refleksi filsafati yang tinggi.
Al-Ghazli hidup pada zaman keemasan Islam, masa kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di
Baghdad (750-1258 M).4 Selama empat tahun al-Ghazli mengajar sebagai mahaguru di Baghdad. Bertitik
tolak pada ortodoksi dan mistisisme Islam Sunni ia mengkritisi ajaran dari filsuf al-Farabi dan ibn Sinna
(Avicenna) di dalam karyanya, Intentiones Philosophorum. Pengaruhnya amat luas karena berargumen
melawan aliran Falsafa, pemikir Arab yang menganut filsafat Aristotelian di buku Tahfut al-falsifa serta
berselisih pandangan dengan aliran Mutazilah yang memandang moralitas adalah sebuah tindakan

rasional manusia dalam melihat mana yang baik dan mana yang buruk, tidak semata ditentukan oleh
tuntutan agama.5
Karya terbesarnya, Revival of the Religious Sciences (Ihy ulm al-dn) menjabarkan pandangannya yang
bercorak tasawuf bahwa prinsip moral sejauh kemampuannya harus melaksanakan sifat-sifat Allah dan sifatsifat yang disukai Allah. Untuk itu, pemurnian rohani hanya bisa didapat dan dipelihara melalui pelaksanaan
ibadat. Pengontrolan hawa nafsu terhadap hal material juga diperlukan supaya seseorang tidak melupakan
rohaninya. Buku itu ditulis al-Ghazli saat berusia lanjut meninggalkan Baghdad dan hidup di Syria. Di
2 Bdk. Frederick Copleston. A History of Medieval Philosophy. (London: Methuen & Co
Ltd, 1972), hlm. 115-116.
3 Bdk. JWM Bakker. Sejarah Filsafat dalam Islam. (Yogyakarta: Kanisius, 1978), hlm.63.
4 Lih. Heru Prakosa, Al-Ghazli dan Thomas Aquinas: Hidup Harmoni sebagai Buah
Ketaqwaan, dalam BASIS No.11-12 (2012), hlm. 53.
5 Bdk. Battista Mondin. A History of Mediaeval Philosophy. (Roma: Urbaniana
University Press, 1991), hlm. 220.

Tugas Mid-Semester IV (SFAP-BN)


sanalah ia mendirikan sebuah sekolah institut sufisme dan secara pribadi menjalankan hidup askese dan
kontemplasi. Sisa hidupnya dibaktikan pada usaha pembaharuan spiritual.

2. Hakikat Akhlak Berdasarkan Etika Al-Ghazli


Secara etimologis akhlak berasal dari kata akhlaq dalam bahasa Arab, yang berarti alsajiyah (perangai), at-tabiah (kelakuan), al-adat (kebiasaan), al-muruah (peradaban yang baik),
dan ad-din (agama). Dari pengertian itu, beberapa ahli bahasa berpendapat bahwa kata akhlaq
diartikan sebagai budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, atau segala hal yang menjadi tabiat. 6
Kemudian, definisi akhlak dalam buku Ihy ulm al-dn al-Ghazli diterangkan sebagai:
"Suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan atau pengamalan dengan mudah, tanpa
harus direnungkan dan disengaja. Jika kemantapan itu sudah melekat kuat, sehingga menghasilkan
amal-amal yang baik, maka ini disebut akhlaq yang baik. Jika amal-amal yang tercelalah yang
muncul dari keadaan itu, maka itu dinamakan akhlaq yang buruk."7
Ternyata, al-Ghazli dengan cermat melihat bahwa esensi akhlak bukanlah pengetahuan (ma'rifah)
tentang baik dan jahat maupun kodrat (qudrah) untuk baik dan buruk, bukan pula pengamalan (fi'il)
yang baik dan jelek, melainkan suatu keadaan jiwa yang mantap (hay'a rasikha fi-n-nafs). Dari
kedua pengertian tersebut, al-Ghazli mengajarkan konsep bahwa manusia sejak lahir telah
memiliki akhlak, lalu seiring perjalanan hidupnya akhlak itu berkembang dalam pengalamannya
maupun pengaruh lingkungan tempat tinggalnya. Dengan demikian akhlak menurut al-Ghazli
mengacu pada suatu keadaan batin manusia. Entah, akhlak itu muncul baik atau buruk.
Pada prinsipnya, akhlak manusia menuju pengamalan akhlak yang baik agar mengalami
kebahagiaan jiwa. Menurut al-Ghazli, manusia berakhlak baik dilengkapi dengan empat daya
dalam diri, yakni: nafsu, amarah, pengetahuan, dan keadilan. Karena kodrat untuk baik dan buruk
melekat di manusia, daya dari akhlak baik itu perlu diatur akal dengan doktrin jalan tengah. Dari
keempat daya hanya keadilan yang memiliki 2 kutub. Ketidakadilan (jawr) merupakan lawannya.
Keadilan dalam arti ini dimaknai sebagai motif/dorongan keagamaan. Jika keempat daya mampu
ditempatkan dalam keseimbangan (jalan keutamaan) secara intens, maka manusia sampai pada daya
yang melampaui akal manusia dan hal inderawi, yaitu dzawq sebagaimana dimiliki oleh para nabi,
termasuk Muhammad dan kaum sufi. Daya tertinggi akhlak ini mengantar manusia menuju
kebahagiaan jiwa sepenuh-penuhnya di dunia dan kelak di akhirat.
6 Bdk. M. Abul Quasem dan Kamil. Etika Al-Ghazali: Etika Majemuk di dalam Islam, terj.
J. Mahyudin. (Bandung: Pustaka, 1988), hlm. 78-79.
7 Bdk. al-Ghazli. Ihy ulm al-dn, 10 vols. (Revival of the Religious Sciences).
Translated by Sabih Ahmad Kamali. (Cairo: Muassasat al-Halab wa-Shurakhu, 1968),
hlm. 96. Lihat juga M. Abul Quasem dan Kamil. Etika Al-Ghazali: Etika Majemuk di
dalam Islam, terj. J. Mahyudin. (Bandung: Pustaka, 1988), hlm. 81-82.

Tugas Mid-Semester IV (SFAP-BN)

3. Metode Mendidik Akhlak


Al-Ghazli dalam usahanya untuk menjelaskan pembelajaran akhlak mengacu pada prinsip kaum
sufi. Prinsip etis yang dimaksud adalah latihan rohani, hidup asketis. Maka, al-Ghazli
berkeyakinan bahwa akhlak bisa diubah dan dididik ke arah yang baik. Ia menuturkan adanya tiga
metode untuk mendapatkan akhlak yang baik. Pertama, karena mendapatkan rahmat dari Allah.
Maksudnya, ada beberapa orang memiliki akhlak yang baik secara alamiah (bi al-thab' wa alfithrah) karena telah diberi oleh Allah. Mereka diciptakan dengan semua daya jiwa mereka dalam
keadaan seimbang. Pembawaan nafsu dan amarah mereka mematuhi perintah akal dan prinsip
Islam, sehingga mereka adalah baik secara alamiah. Contohnya ialah para nabi.
Kedua, dengan metode mujahadah (menahan diri) dan riyadhah (melatih diri). Metode ini
dilakukan dengan berusaha keras melakukan dan membiasakan perbuatan yang bersumberkan
akhlak yang baik. Harus ada ketekunan yang tetap dalam amal perbuatan yang disengaja, sebab
kalau tidak, tidak ada manfaat yang dihasilkannya di dalam jiwa. Ketiga, dengan metode peniruan
(taqlid). Akhlak yang baik dapat diperoleh dengan memperhatikan orang-orang yang baik dan
bergaul dengan mereka. Menurut al-Ghazli, secara alamiah manusia adalah peniru. Tabiat
seseorang tanpa sadar, bisa mendapat mendapatkan kebaikan dan keburukan dari tabiat orang lain.
Oleh karena itu, seseorang dibiasakan untuk mau membaca riwayat hidup orang-orang mulia,
seperti para nabi dan sahabatnya sehingga menuntun akalnya.
Itulah ketiga metode untuk mendidik akhlak baik. 8 Lewat latihan rohani yang dijalankan
secara konsisten, nilai-nilai moral yang terkandung dalam prinsip akhlak akan menjadi keutamaan
hidup. Satu hal yang penting juga, yakni latihan rohani itu hanya bisa dipelihara melalui
pelaksanaan ibadat. Dengan demikian, aspek-aspek metodik pendidikan akhlak yang baik
membantu manusia mencapai tujuan akhirnya.
4. Tujuan Akhir Akhlak
Lantas, apa tujuan akhir tersebut? Secara eksplisit filsuf al-Ghazli menerangkan:
"Dan tujuan akhir dari akhlak, yaitu memutuskan diri kita dari cinta kepada dunia, dan
menancapkan dalam diri kita cinta kepada Allah SWT. Maka, tidak ada lagi sesuatu yang dicintai
selain berjumpa dengan dzat ilahi rabbi, dan tidak menggunakan semua hartanya kecuali
karenanya".9
Jelaslah, al-Ghazli menempatkan kebahagiaan jiwa manusia sebagai tujuan akhir dan
kesempurnaan dari akhlak. Kebahagiaan tertinggi dari jiwa berarti mengenal adanya Allah tanpa
8 Bdk. M. Abul Quasem dan Kamil. Etika Al-Ghazali: Etika Majemuk di dalam Islam, terj.
J. Mahyudin. (Bandung: Pustaka, 1988), hlm. 93-94.

Tugas Mid-Semester IV (SFAP-BN)

keraguan (marifatullah).10 Allah merupakan sumber cinta dalam manusia dan kebenaran yang
memuaskan rohani. Implikasi etisnya, jiwa manusia meninggalkan segala hal duniawi supaya
mengalami kebahagiaan jiwa. Manusia yang berpegang pada prinsip akhlak akan mengupayakan
hidupnya secara bijak. Semua perbuatannya/amalnya diyakini keterarahan kepada Allah yang telah
menanamkan segala yang baik dalam ciptaan. Dengan keseimbangan jiwanya, ia tidak membiarkan
diri hanyut akan hal-hal bersifat material sejauh hal itu bisa menambah kesempurnaan akhlak.
Kesimpulan: Observasi Kritis
Dalam ranah filsafat Islam,11 al-Ghazli menjelaskan konsep akhlak merupakan suatu
stabilitas keadaan jiwa dan tindakan otomatis yang dibiasakan (tabiat).
Akhlak sebagai prinsip terdalam dari manusia yang membuahkan aktivitas moral dan
sekaligus modal menuju kebahagiaan jiwa. Di dalam pengamalan akhlak yang baik, manusia
dimampukan oleh Yang Ilahi dengan empat daya dalam diri, yakni: nafsu, amarah, pengetahuan,
dan keadilan. Akhlak bisa diajarkan melalui latihan rohani guna pemurnian jiwa serta pelaksanaan
ibadat. Adapun metode latihan rohani supaya akhlak terarah baik seperti: pemberian rahmat dari
Allah, laku tapa mujahadah dan pembiasaan riyadhah serta dengan metode peniruan (taqlid). Hal
tersebut diupayakan karena tujuan akhir akhlak terletak pada kebahagiaan jiwa untuk mengalami
Allah, sumber hidup tertinggi.
Menurut penulis, secara positif etika al-Ghazli memandang kebahagiaan jiwa sebagai
pemberian anugerah Tuhan. Kebahagiaan itu diyakini mampu diwujudkan dalam keutamaankeutamaan hidup. Jalan keutamaan itu sendiri perlu dilatihkan dan diterangi dengan prinsip akhlak
di mana terjadi perpaduan anugerah Tuhan dan rasionalitas manusia untuk terarah pada kebaikan
moral. Bahkan, dalam daya jiwa difokuskan suatu perbuatan mesti diorientasikan pada tindakanyang mengarah pada keadilan dan memandang kebebasan mutlak setiap individu. Hal ini tampak
nyata pada pola pendidikan pesantren-pesantren di Indonesia yang dominan kaum Sunni.
Berkenaan dengan itu, kritik yang sekiranya bisa dikenakan kepada al-Ghazli adalah bahwa
dia terlalu optimis dengan menawarkan prinsip akhlak sebagai suatu prinsip moral. Akibatnya unsur
9 Transliterasi dari buku al-Ghazli. Ihy ulm al-dn, 10 vols. (Revival of the
Religious Sciences). Translated by Sabih Ahmad Kamali. (Cairo: Muassasat al-Halab
wa-Shurakhu, 1968), hlm. 127.
10 Bdk. Johanis Ohoitimur. Sejarah Filsafat Abad Pertengahan (Traktat Kuliah STF
Seminari Pineleng, 2009), hlm. 98.
11 Bdk. Frederick Copleston. A History of Philosophy: Volume 2. Mediaeval Philosophy
part I.( Maryland: The Newman Press, 1962), hlm. 221.

Tugas Mid-Semester IV (SFAP-BN)

teologi Islam dicampuradukkan dengan peran rasio (reduksionisme teologis). Ketika hal ini
cenderung bertumpu pada wahyu, intervensi akal ditinggalkan untuk membuat pertimbangan moral.
Ada bahaya bahwa rumusan prinsip universal kemanusiaan dijabarkan menurut petunjuk agama
melulu. Optimisme lain dari al-Ghazli adalah pandangannya bahwa unsur mistisisme dalam
pendidikan akhlak perlu dengan cara hidup asketis sebagai jalan mencapai kebahagiaan jiwa. Sama
seperti paham Neoplatonisme, peran jiwa ternyata lebih diutamakan untuk usaha spiritual. Hal ini
berarti menyepelekan tubuh. Pertanyaan kritis: di mana letak peran akhlak yang dinyatakan untuk
menyeimbangkan gerak tubuh dan jiwa? Pokok kritik ketiga, yakni dari segi kebahagiaan jiwa tidak
tampak adanya pengangkatan martabat manusia pada keilahian. Manusia diposisikan secara pasif
menerima dan mengelola jiwa. Sangat berbeda dengan pemahaman filsafat Kristen. Kebahagiaan
jiwa yang dikejar seolah dikungkung pada aturan pemurnian rohani belaka. Persoalannya adalah
sejauh mana keselamatan manusia diperjuangkan dalam latihan rohani dan ibadat. Tampaknya hal
ini kurang dibahas secara mendalam oleh al-Ghazli. *
Sumber Referensi:
AL-GHAZLI. Ihy ulm al-dn, 10 vols. (Revival of the Religious Sciences).
Translated by Sabih Ahmad Kamali. Cairo: Muassasat al-Halab waShurakhu, 1968.
BAKKER, JWM. Sejarah Filsafat dalam Islam. Yogyakarta: Kanisius, 1978.
COPLESTON, FREDERICK. A History of Philosophy: Volume 2. Mediaeval
Philosophy part I. Maryland: The Newman Press, 1962.
COPLESTON, FREDERICK. A History of Medieval Philosophy. London: Methuen &
Co Ltd, 1972.
MONDIN, BATTISTA. A History of Mediaeval Philosophy. Roma: Urbaniana
University Press, 1991.
OHOITIMUR, JOHANIS. Sejarah Filsafat Abad Pertengahan (Traktat Kuliah STF
Seminari Pineleng, 2009).
QUASEM, M. ABUL dan KAMIL. Etika Al-Ghazali: Etika Majemuk di dalam Islam,
terj. J. Mahyudin. Bandung: Pustaka, 1988.