Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

AKUNTANSI PERPAJAKAN
KELAS B

Disusun Oleh:

1. Anisah Nur Imani

12030112140091

(20%)

2. Shely Praska Yosida

12030112140116

(20%)

3. Ivani Roro P

12030112140137

(20%)

4. Sheila Aviolanda

12030112140152

(20%)

5. Yohanna Bregiba L.P

12030112140153

(20%)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

Akuntansi Pajak Penghasilan PSAK 46


PSAK 46 adalah PSAK yang mengatur bagaimana entitas melaporan pajak penghasilan dalam
laporan keuangan baik dalam laporan posisi keuangan maupun dalam laporan laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain. Seringkali praktisi akuntan meremehkan keberadaan
informasi pajak dalam laporan keuangan. Atau seringkali beranggapan antara administrasi
perpajakan dan akuntansi tidak memiliki kaitan.
PSAK 46 menggunakan konsep akrual dalam mengakui beba, aset dan kewajiban
perpajakan. Sehingga setiap penghasilan menurut akuntansi harus tetap diperhitungkan
dampak pajak yang harus dibayarkan di masa mendatang atau telah dibayarkan pada masa
sekarang. Untuk itulah timbul istilah aset dan pajak tangguhan.
PSAK No.46 merupakan standar yang mengatur perlakuan akuntansi pajak penghasilan
dengan menerapkan pendekatan neraca. Pendekatan neraca mengakui adanya kewajiban
dan aktiva pajak tangguhan terhadap konsekuensi fiskal masa depan sebagai akibat adanya
perbedaan waktu dan sisa kerugian yang belum dikompensasikan.
Apabila ada perusahaan belum menerapkan PSAK No.46 sehingga perubahan penerapan
kebijakan yang baru menyebabkan laporan keuangan harus disajikan kembali. Dari hasil
penyajian kembali tersebut diketahui bahwa penerapan PSAK No.46 mengakibatkan
munculnya akun baru yaitu aktiva pajak tangguhan yang menambah jumlah aktiva
perusahaan sebagai akibat dari adanya manfaat pajak tangguhan yang mengurangi beban
pajak perusahaan.
Adanya manfaat pajak tangguhan juga mengakibatkan bertambahnya laba perusahaan
sehingga meningkatkan ekuitas perusahaan.
1. Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liabiliies)
Kewajiban pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang terutang untuk
periode mendatang sebagai akibat perbedaan temporer kena pajak (taxable temporary
differences).
Perbedaan temporer timbul sebagai konsekuensi logis dari adanya perbedaan standar
atau ketentuan yang berkaitan dengan pengakuan (kriteria dan periode), dan pengukuran
atau penilaian elemen-elemen laporan keuangan yang berlaku dalam disiplin akuntansi
perpajakan (ketentuan perpajakan) disatu pihak dengan standar atau ketentuan yang
berlaku dalam disiplin akuntansi keuangan dipihak yang lain.
Penyajian Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liabiliies) dalam neraca harus
disajikan terpisah dari kewajiban pajak kini, disajikan dalam kewajiban tidak lancar.
Pengukuran Kewajiban pajak tangguhan (Deferred Tax Assets) didasarkan pajak peraturan
yang berlaku, efek perubahan peraturan perpajakan yang terjadi di kemudian hari tidak
boleh diantisipasi atau diestimasikan.
Pajak Tangguhan 15,508,943,161

2. Aset dan Liabilitas Pajak Tangguhan


Pajak penghasilan kini dihitung dengan menggunakan tarif pajak dan undangundang perpajakan yang berlaku pada tanggal pelaporan. Aset dan liabilitas pajak kini
diukur sebesar nilai yang diharapkan dapat terpulihkan atau dibayar.
Pajak penghasilan tangguhan diakui dengan menggunakan balance sheet liability
method, untuk rugi fiskal belum dikompensasi dan untuk semua perbedaan temporer
antara dasar pengenaan pajak atas aset dan liabilitas dengan nilai tercatatnya di
masing-masing perusahaan. Semua perbedaan temporer kena pajak diakui sebagai
pajak tangguhan, kecuali perbedaan temporer kena pajak yang berasal dari pengakuan
awal goodwill, pengakuan awal aset atau liabilitas dari transaksi yang bukan kombinasi
bisnis serta pengakuan awal aset atau liabilitas pada waktu transaksi tidak
mempengaruhi laba akuntansi dan laba kena pajak.
Pajak penghasilan tangguhan ditentukan dengan menggunakan tarif pajak yang
berlaku atau secara substansi telah diberlakukan pada tanggal pelaporan dan
diharapkan berlaku pada saat aset pajak tangguhan direalisasi atau liabilitas pajak
tangguhan diselesaikan.
Aset pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan yang dapat dipulihkan
pada periode masa depan sebagai akibat adanya:
1. Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan
2. Akumulasi rugi pajak belum dikompensasi.
3. Akumulasi kredit pajak belum dimanfaatkan, dalam hal peraturan perpajakan
mengizinkan.
Aset (Liabilitas) Pajak Tangguhan 46,743,565,105
Utang Pajak 36,331,253,057

Dalam laporan keuangan konsolidasian ini, jumlah penghasilan kena pajak untuk tahun
yang berakhir 31 Desember 2013, didasarkan atas perhitungan sementara. Sampai dengan
tanggal laporan keuangan diterbitkan, Perusahaan belum menyampaikan Surat
Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPT) untuk tahun pajak 2013. Namun demikian, penghasilan
pajak tersebut di atas menjadi dasar dalam pengisian SPT Tahun 2013.
Perusahaan telah melaporkan SPT pajak penghasilan badan untuk tahun fiskal 2012 pada
bulan April 2013. Tidak terdapat perbedaan signifikan laba kena pajak yang diakui
sebelumnya dengan jumlah yang dilaporkan dalam SPT pada tahun berjalan.

Rekonsiliasi antara laba sebelum taksiran pajak dengan beban pajak adalah sebagai berikut: