Anda di halaman 1dari 31

ILMU

KESEHATAN
ANAK
Nama : An. N

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

ANAMNESIS

NO RM : 3

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Ruang : Melati
Kelas : III-21

: An. N

Jenis Kelamin

Tempat dan tanggal lahir

: Karanganyar, 12 / 07 / 2014 Umur

: 21 bulan

Nama Ayah

: Tn. Y.

Umur

: 28 tahun

Pekerjaan ayah

: Buruh serabutan

Pendidikan ayah

: SMK

Nama ibu

: Ny. S.

Umur

: 24 tahun

Pekerjaan ibu

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan ibu

: SMP

Alamat

: Titang, Pandeyan, Karanganyar


: 18-04-2015

Dokter: dr. A. Septiarko, Sp.A,

Jam : 10.32

Umur : 21 bulan

Nama lengkap

Masuk RS tanggal

: Laki-Laki

Diagnosis masuk : Bronkiolitis

Ko Asisten : Ririh Rahadian S, S.Ked

Tanggal : 19 Juli 2015 (Alloanamnesis) di Bangsal Melati


KELUHAN UTAMA

: batuk, sesak

KELUHAN TAMBAHAN

: Panas, pilek

1. Riwayat penyakit sekarang


1 Hari SMRS Pasien mengeluh batuk saat siang hari. Batuk dirasakan ngiklik. Batuk tidak
dapat mengeluarkan dahak. Batuk diderita tidak mengenal waktu baik pagi, siang maupun malam.
Batuk tidak dipicu debu, keadaan dingin, makanan maupun alergi lainnya. Pasien juga mengeluh
demam dan pilek. Demam dirasakan dari hari jumat pagi. Demam dirasakan sepanjang hari dan
demam tidak tinggi. Pada sore hari pasien diperiksakan kebidan dan diberi obat. Saat malam hari
demam turun akibat diberi obat oleh bidan, tetapi keluhan batuk tidak membaik. Pasien mengeluh
sulit bernafas (sesak). Sesak nafas diikuti bunyi ngik-ngik. Nafsu makan menurun, minum susu
menurun dan rewel. Keluhan lain seperti muntah/mual (-), BAK/BAK (+) dalam batasan normal,
kejang (-), perut kembung (-), penurunan kesadaran (-), mimisan (-).
HMRS pasien datang dari IGD kiriman Poli anak dengan keadaan umum lemas, rewel, batuk
tidak berdahak, sesak nafas. Keluhan tersebut disertai nafsu makan masih belum membaik,
mual/muntah (-), kejang (-), perut kembung (-), penurunan kesadaran (-), mimisan(-).

2. Riwayat penyakit dahulu


1

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Riwayat panas : diakui

Riwayat batuk pilek : diakui

Riwayat batuk lama : disangkal

Riwayat kejang demam : disangkal

Riwayat kejang tanpa demam : disangkal

Riwayat asma : disangkal

Riwayat alergi : disangkal

NO RM : 3

Kesan : Terdapat riwayat penyakit dahulu dengan riwayat penyakit sekarang


3. Riwayat Penyakit Pada Keluarga Yang Diturunkan:
Riwayat asma : disangkal
Riwayat Alergi : disangkal
Kesan : Tidak terdapat riwayat penyakit keluarga yang diturunkan
4. Riwayat Penyakit Lingkungan
Riwayat penyakit batuk dan pilek: disangkal
Riwayat penyakit TB : disangkal
Kesan : Tidak terdapat riwayat penyakit lingkungan yang berhubungan dengan penyakit sekarang.
5. Pohon keluarga

Keterangan:
Laki-laki

Perempuan :
Pasien

Meninggal :
RIWAYAT PRIBADI
1. Riwayat kehamilan dan persalinan
2

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM : 3

a. Riwayat kehamilan ibu pasien


Ibu P2A1 Hamil yang ke tiga saat usia 23 tahun. Ibu memeriksakan kehamilannya rutin ke
bidan, Ibu tidak pernah mual dan muntah berlebihan, tidak ada riwayat trauma maupun
infeksi saat hamil, sesak saat hamil (-), Merokok saat hamil (-), kejang saat hamil (-). Ibu
hanya minum obat penambah darah dan vitamin dari bidan. Tekanan darah ibu dinyatakan
normal. Berat badan ibu dinyatakan normal dan mengalami kenaikan berat badan selama
kehamilan. Perkembangan kehamilan dinyatakan normal.
b. Riwayat persalinan ibu pasien
Ibu melahirkan pasien dibantu oleh bidan, umur kehamilan 38 minggu, persalinan normal,
presentasi kepala, bayi langsung menangis dengan berat lahir 2600 gram dan panjang 50cm,
tidak ditemukan cacat bawaan saat lahir.
c. Riwayat paska lahir pasien
Bayi laki-laki BB 2600 gr, setelah lahir langsung menangis, gerak aktif, warna kulit
kemerahan, tidak ada demam atau kejang. ASI keluar, bayi minum asi dari hari pertama lahir.
Kesan

: Riwayat ANC baik, riwayat persalinan baik, riwayat PNC baik.

2. Riwayat makanan
0-6 bulan
: ASI, susu formula, bubur susu
6-12 bulan
: ASI, susu formula, bubur susu, nasi lembek
12-21 bulan : susu formula, nasi, lauk, sayur, buah buahan (pisang, jeruk)
Kesan : Pasien mendapat ASI, susu formula dan, kualitas makanan cukup.
3. Perkembangan dan kepandaian :
Motorik Kasar

Motorik Halus

Tengkurap
(4bulan)

Memegang
benda (4 bulan)

Bahasa
Menoleh ke
sumber suara
(5 bulan)

Personal Sosial
Tersenyum
(2 bulan)

Menaruh benda
Duduk sendiri
(8bulan)

di mulut (5
bulan)

Mengucap kata
(8 bulan)

Memegang
Berdiri tanpa

makanan dan

bantuan (10

mainan sendiri

bulan)

(12 bulan)

Berbicara lancar
(18bulan)

Bermain bersama
anggota keluarga
(9 bulan)

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Berjalan merambat
(12bulan)

NO RM : 3

Kesan : Motorik kasar, motorik halus, bahasa, personal sosial sesuai usia
4. Vaksinasi
Vaksin
Hepatitis B
BCG
DPT +

I
0hari
1 bulan

II
2bulan
-

III
IV
4bulan 6 bulan
-

V
-

VI
-

hepatitis

2 bulan

4 bulan

6 bulan

(combo )
Polio
Campak

1 bulan
9 bulan

2 bulan

4bulan
-

6bulan
-

Kesan : Imunisasi dasar lengkap.


5. Sosial, ekonomi, dan lingkungan:
Sosial dan ekonomi
Ayah (28 tahun, buruh serabutan) dan ibu (24 tahun, ibu rumah tangga), penghasilan
keluarga sekitar Rp.1.000.000 /bulan

(keluarga merasa cukup untuk memenuhi

kebutuhan sehari-hari)
Lingkungan
Pasien tinggal bersama Ayah, ibu dan kakak. Rumah dengan 1 kamar tidur, kamar mandi,
ruang tamu dan dapur. WC berada di rumah paling belakag. Sumber air minum berasal
dari sumur. Air minum menggunakan sumber air yang direbus, Atap terbuat dari genteng,
dinding dari semen dan kayu, lantai rumah dari tanah. Ventilasi udara dan penerangan
cukup. Sampah dibuang di penampungan sampah dan dibakar tiap hari.
Kesan : keadaan sosial ekonomi & kondisi lingkungan rumah kurang.
6. Anamnesis sistem :
Cerebrospinal

: kejang (-), delirium (-)

Kardiovaskuler

: sianosis (-), biru (-)

Respiratorius

: batuk (+), pilek (+), nyeri tenggorokan (-), sesak (+)

Gastrointestinal

: muntah (-), BAB dbn

Urogenital

: BAK dbn, bengkak kemaluan (-)

Muskuloskeletal

: kelainan bentuk (-) nyeri sendi (-), nyeri otot (-)

Integumentum

: bintik merah (-), ikterik (-)


4

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Otonomik

: demam (+)

NO RM : 3

Kesan : terdapat masalah pada sistem respiratorius dan otonomik.

PEMERIKSAAN

Nama : An. N

JASMANI

Jenis Kelamin : Laki-Laki

PEMERIKSAAN OLEH : Ririh Rahadian S, S.Ked


PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

: lemah, compos mentis


5

Umur : 21 bulan
Ruang : Melati

Kelas : III-21
Tanggal 18 April 2015
Jam 13.00

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

TANDA VITAL :

NO RM : 3

Nadi : 136 x/menit


RR

: 48 x/menit

Suhu : 36,5C
Status Gizi :
BB/TB
BMI

: 9,8kg/75cm
: 17,42

Z scores :
BMI//U

: -2 < Z-Score < 2

BB//U

: -2 < Z-Score < 2

Kesimpulan status gizi : baik menurut WHO


Kulit

: coklat , pucat(-), sianosis(-), petekie(-),

Kel.limfe

: Tidak terdapat pembesaran limfonodi

Otot

: Kelemahan (-),atrofi(-),nyeri otot (-),

Tulang

: Tidak ada deformitas tulang

Sendi

: Gerakan bebas

Kesan : Kulit, kel limfe, Otot, Tulang dan Sendi dalam batas normal
PEMERIKSAAN KHUSUS
Kepala

: ukuran normocephal, rambut warna hitam, lurus, jumlah cukup.

Bentuk mesocephal. UUB cekung (-)


Mata

: mata cowong (-/-), air mata (-/-), CA (-/-), SI (-/-), reflek

cahaya (+/+), pupil isokor, edema palpebra (-/-)


Hidung

: sekret (+/+), epistaksis (-/-), nafas cuping hidung (-/-)

Mulut

: mukosa bibir dan lidah basah (+), sianosis (-)

Faring

: hiperemis (-), tonsil membesar (-)

Gigi

: caries (-), calculus (-)

Kesan : pada pemeriksaan hidung ditemukan sekret


Leher

: pembesaran limfonodi (-)

Thorak

: simetris,retraksi (-) subcosta,intercosta,dan suprasternal,ketinggalan gerak(-)

Jantung
6

Inspeksi

ILMU
KESEHATAN
: ictus cordis tidak tampak
ANAK

Palpasi

: ictus cordis kuat angkat

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Perkusi

NO RM : 3

batas kanan atas

: SIC II linea parasternalis dextra

batas kanan bawah

: SIC IV linea parasternalis dextra

batas kiri atas

: SIC II linea parasternalis sinistra

batas kiri bawah

: SIC IV linea midclavicula sinistra

Auskultasi

: BJ I-II intensitas reguler (+), bising jantung (-)

Kesan : Tidak terdapat pembesaran kelenjar limfonodi di region sub mandibula dextra dan sinistra,
thorak dan jantung dalam batas normal
Paru :
Kanan

DEPAN

Kiri

Simetris(+),retraksi
subcostae, intercostae
suprasternal

(-)
dan

Inspeksi

Simetris
(+),retraksi
subcosta,
intercosta
suprasternal

(-)
dan

Ketinggalan
fremitus (+)

(-),

Palpasi

Ketinggalan
fremitus (+)

(-),

Perkusi

Sonor

gerak

Sonor
SDV, Rh (-/-), Wh (+/+)

Auskultasi

Kanan

Ketinggalan
fremitus (+)

gerak

Sonor
SDV, Rh (-/-), Whz (-/-)

SDV, Rh (-/-), Wh (+/+)

BELAKANG

Simetris (+),

Kiri

Inspeksi

Simetris (+)

Palpasi

Ketinggalan
fremitus (+)

Perkusi

Sonor

(-),

Auskultasi

gerak

SDV, Rh (-/-), Whz (-/-)

Kesan : Paru terdengar suara tambahan yaitu wheezing


Abdomen :
Inspeksi

: distended (-), sikatrik (-), purpura (-)

Auskultasi

: peristaltik dbn

Perkusi

: hipertimpani (-), pekak beralih (-),

Palpasi

: turgor kulit dbn, nyeri tekan (-),

Hepar

: tidak teraba membesar


7

gerak

(-),

Lien

ILMU
KESEHATAN
: tidak teraba membesar
ANAK

Anogenital

: tidak ada kelainan

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Kesan

: Abdomen dalam batas normal

Ekstremitas

: akral hangat, sianosis (-), oedema (-)


tungkai

NO RM : 3

lengan

kanan

kiri

kanan

kiri

Gerakan

bebas

bebas

bebas

bebas

Tonus

normal

normal

normal

normal

Trofi

entrofi

eutrofi

eutrofi

eutrofi

Klonus Tungkai :

(-)

(-)

(-)

Reflek fisiologis :

Reflek patella (+) normal, achiles (+), normal, tricep (+) normal

Refleks patologis

:Babinski (-), chaddock (-), Oppenheim (-), gordon (-)

Meningeal Sign :

Kaku kuduk (-), Brudzinski I (-), Brudzinski II (-), kernig (-)

Sensibilitas

Dalam batas normal

(-)

Kesan : status neurologi dalam batas normal


PEMERIKSAAN LABORATORIUM DARAH RUTIN
( 18 April 2015)
No
1.

Parameter
Leukosit

2.

Eritrosit

3.

Hemoglobin

Jumlah

Satuan
uL

Nilai Rujukan
5000-10000 /uL

uL

4,0-5,0 / uL

gr/dl

12,00-16,00 g/dl

37-47%

femtoliter

82-92 fl

Pikograms

27-31 pg

g/dl

32-37 g/dl

uL

150.000-300.000/uL

25-40%

3-9%

9.320
4,17
8,1
4.

Hematokrit
26,8

5.

MCV
64,3

6.

MCH

7.

MCHC

8.

Trombosit

19,4
30,2
398
9.

Limfosit
13,8

10.

Monosit
3,1

11.

ILMU
KESEHATAN
50-70 %
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA
Granulosit
%
82

NO RM : 3

Kesan : Hb, Hct, MCV, MCHC menurun, dan granulosit meningkat


RINGKASAN ANAMNESIS
1 Hari SMRS pasien batuk tidak berdahak (+), sesak nafas (+), pilek (+), demam (+),
nafsu makan menurun, rewel, BAK (dbn), BAB (dbn), kejang (-).
HMRS pasien datang ke poli anak RSUD karanganyar dengan keadaan umum rewel, batuk
tidak berdahak, pilek, sesak nafas (+). Keluhan pasien disertai dengan nafsu makan menurun,
tidak disertai dengan kejang, penurunan kesadaran (-), mimisan(-).
Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit sekarang,
Tidak terdapat riwayat penyakit pada keluarga yang diturunkan dan penyakit lingkungan
yang ditularkan pada pasien.
Pasien mendapatkan ASI, susu formula, bubur susu, nasi, lauk pauk, sayur dan buah.
Riwayat ANC baik, Persalinan spontan, Riwayat PNC baik.
Perkembangan dan kepandaian sesuai usia
Pasien melakukan imunisasi dasar lengkap sesuai dengan jadwal.
Keadaan sosial ekonomi & kondisi lingkungan rumah kurang
RINGKASAN PEMERIKSAAN FISIK
KU: CM, lemah
Vital sign dalam batas normal
Status gizi baik menurut WHO.
Pada pemeriksaan kepala dan leher dalam batas normal
Pada pemeriksaan paru terdapat suara tambahan yaitu whezing
Abdomen: dalam batas normal
Extremitas superior et inferior, dan Status neurologis dalam batas normal.

LABORATORIUM
Darah Rutin :
Hb, Hct, MCV, MCHC menurun, dan granulosit meningkat
DAFTAR MASALAH AKTIF / INAKTIF
9

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

AKTIF

NO RM : 3

Batuk (+)
Sesak nafas (+)
Pilek (+)
Demam (+)
Pasien minum susu hanya sedikit
Nafsu makan menurun
INAKTIF
DIAGNOSA KERJA
Bronkiolitis
Status Gizi Baik
RENCANA PENGELOLAAN
Rencana Tindakan
Obsevasi KU dan VS
Bed rest
Pemeliharaan hidrasi dan nutrisi
Rencana Terapi
Terapi Suportif dan Simptomatis
Rencana tindakan Tanpa komplikasi
Obsevasi KU dan VS
Bed rest
Cukup intake cairan peroral.
Maintenance inf RL 12 tpm makro
Inj Amoxsan 300 mg/8jam
Inj Dexametason 2mg/8jam
Nebu : Ventolin 0,4 cc / flexotid 0,4 cc / Nacl 0,5cc /8jam
Ottopan Sirup 3 x cth 1
Rencana Edukasi
Informasi mengenai penyakit yang berkaitan dengan penyakit yang diderita
Segera memanggil bantuan atau membawa pasien ke rumah sakit kembali jika didapatkan
sesak napas.
10

ILMU
KESEHATAN NO RM : 3 1 1 8
Cara pencegahan penyakit dan penyebarannya
dengan menghindari anak dari paparan asap
ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

rokok ataupun zat yang mengiritasi lainnya, gunakan masker bila berdekatan dengan orang
yang sedang menderita batuk.
PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad fungsionam

: ad bonam

Quo ad sanam

: ad bonam

11

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Tgl

18
April
2015

Batuk tidak berdahak (+), pilek


(+), sesak (+), BAB dbn, BAK
dbn, makan (-), minum susu
menurun, nafsu makan
menurun, mual muntah (-)

NO RM : 3

Keadaan Umum lemah


TANDA VITAL :
Nadi : 136x/menit
RR : 48x/menit
Suhu : 36,5C
Mata : ca(-/-), si(-/-)
Leher : PKGB (-/-)
Thorax : BJ I/II murni reguler
SDV (+/+), Rh (-/-), Wh (+/+)
Abdomen: distensi (-), kembung (-)
Ekstremitas : akral hangat

A
Bronkiolitis

inf RL 12 tpm

Inj Amoxsan

Inj Dexameta

Nebu : Vento

cc / Nacl 0,5c

Ottopan Siru

inf RL 12 tpm
19
April
2015

Batuk (+) semakin sering, pilek


(+), sesak (+), bisa tidur, nafsu
makan masih belum baik, BAB
dan BAK dbn

Keadaan Umum : lemas


TANDA VITAL :
Nadi : 130x/menit
RR : 44 x/menit
Suhu : 36,5 C
Mata : ca(-/-), si(-/-)
Leher : PKGB (-/-)
Thorax : BJ I/II murni reguler
SDV (+/+), Rh (-/-), Wh (+/+)
Abdomen: distensi (-), kembung (-)
Ekstremitas : akral hangat

Bronkiolitis

Inj Amoxsan

Inj Dexameta

Nebu : Vento

cc / Nacl 0,5c

Ottopan Siru

inf RL 12 tpm

Inj Amoxsan
20
April
2015

Batuk berkurang, sesak nafas


berkurang, demam (-), makan
minum sudah mau, dapat tidur,
BAB dan BAK dbn

Keadaan Umum : compos mentis


TANDA VITAL :
Nadi : 120x/menit
RR
: 36x/menit
Suhu : 36C
Mata : ca(-/-), si(-/-)
Leher : PKGB (-/-)
Thorax : BJ I/II murni reguler
SDV (+/+), Rh (-/-), Wh (+/+)
Abdomen: distensi (-), kembung (+)
Ekstremitas : akral hangat
12

Bronkiolitis

Inj Dexameta

Nebu : Vento

cc / Nacl 0,5c

Ottopan Siru

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

13

NO RM : 3

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bronkiolitis
A. Definisi
Bronkiolitis merupakan penyakit infeksi respiratorius bawah akut
yang ditandai dengan adanya inflamasi pada bronkiolus.. Umumnya,
penyebab infeksi yang paling sering adalah virus yaitu Respiratory
Syncytial Virus (RSV) yang menyerang saluran nafas bawah. Secara
klinis ditandai dengan episode pertama wheezing pada bayi didahului
dengan gejala IRA. Paling sering terjadi pada anak dibawah 2 tahun.
B. Etiologi
Sekitar 95% dari kasus yang ada, secara serologis terbukti
disebabkan oleh invasi RSV. Terdapat penyebab lain seperti
adenovirus, virus influenza, virus parainfluenza-3, rhinovirus, dan
mikoplasma. Meskipun demikian, belum ada bukti kuat bahwa
bronkiolitis disebabkan oleh bakteri.
RSV adalah single stranded RNA virus yang berukuran sedang (80350

nm),termasuk

paramyxovirus.

Terdapat

dua

glikoprotein

permukaan yang merupakan bagian penting dari RSV untuk


menginfeksi sel, yaitu protein G (attachment protein ) yangmengikat
sel dan protein F (fusion protein) yang menghubungkan partikel virus
dengan seltarget dan sel tetangganya. Kedua protein ini merangsang
antibodi neutralisasi protektif pada host. Terdapat dua macam strain
antigen RSV yaitu A dan B. RSV strain Amenyebabkan gejala yang
pernapasan yang lebih berat dan menimbulkan sekuele. Masainkubasi
RSV 2 - 5 hari.

C. Epidemiologi
Bronkiolitis merupakan penyakit infeksi pernapasan tersering pada
bayi. Kejadian tersering terjadi pada usia 2 sampai 24 bulan, dengan
puncak 2 sampai 8 bulan. 95% kasus di antaranya terjadi pada anak

14

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

berusia di bawah 2 tahun, dengan 75% di antaranya terjadi pada usia di


bawah 1 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, bronkiolitis lebih sering
terjadi pada bayi laki-laki berusia 3 sampai 6 bulan yang tidak
mendapatkan ASI, dan hidup di lingkungan pada penduduk.
Bronkiolitis lebih banyak terjadi pada laki-laki, yaitu sekitar 1,25
sampai 1,6 kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan.
Ditemukan juga bahwa 63% kasus bronkiolitis adalah laki-laki.
Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi pada negara-negara
berkembang dibandingkan dengan negara maju. Hal ini mungkin
disebabkan oleh rendahnya status gizi dan ekonomi, kurangnya
tinjauan medis, serta kepadatan penduduk di negara berkembang.
Angka mortalitas di negara berkembang pada anak-anak yang dirawat
adalah 1-3%.
D. Patofisiologi
Virus yang menyerang penderita bronkiolitis kebanyakan golongan
respiratory syncitial virus (RSV), yang termasuk paramyxovirus.
bagian penting dari RSV untuk menginfeksi sel, yaitu protein G
(attachment protein )yang mengikat sel dan protein F (fusion protein)
yang menghubungkan partikel virus dengan sel target dan sel
tetangganya. Kedua protein ini merangsang antibodi neutralisasi
protektif pada host. Terdapat dua macam strain antigen RSV yaitu A
dan B. RSV strain A menyebabkan gejala yang pernapasan yang lebih
berat dan menimbulkan sekuele.
Masa inkubasi RSV 2 - 5 hari. Virus bereplikasi di dalam
nasofaring kemudian menyebar dari saluran nafas atas ke saluran nafas
bawah melalui penyebaran langsung pada epitel saluran nafas dan
melalui aspirasi sekresi nasofaring. RSV mempengaruhi sistem saluran
napas melalui kolonisasi dan replikasi virus pada mukosa bronkus dan
bronkiolus yang memberi gambaran patologi awal berupa nekrosis sel
epitel silia. Nekrosis sel epitel saluran napas menyebabkan terjadi
15

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

edema submukosa dan pelepasan debris dan fibrin kedalam lumen


bronkiolus.
Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus akan memicu respon
inflamasi akut, yang ditandai dengan obstruksi bronkiolus akibat
edema, sekresi mukus, timbunan debris selular/sel-sel mati yang
terkelupas, kemudian diikuti dengan infiltrasi limfoit peribronkial dan
edema submukosa. Karena tahanan aliran udara berbanding terbalik
dengan diameter penampang saluran respiratori, maka sedikit saja
penebalan mukosa akan memberikan hambatan aliran udara yang
besar, terutama pada bayi yang memiliki penampang saluran
respiratori kecil. Resistensi pada bronkiolus meningkat selama fase
inspirasi dan ekspirasi, tetapi karena radius saluran respiratori lebih
kecil selama ekspirasi, maka terjadi air trapping dan hiperinflasi.
Atelektasis dapat terjadi pada saat terjadi obstruksi total dan udara
yang terjebak diabsorbsi.
Proses patologis ini akan mengganggu pertukaran gas normal di
paru.

Penurunan

ketidakseimbangan

kerja

ventilasi

paru

ventilasi-perfusi

mismatching), yang berikutnya

akan

menyebabkan

(ventilation-perfusion

akan menyebabkan terjadinya

hipoksemia dan kemudian terjadi hipoksia jaringan. Retensi


karbondioksida (hiperkapnea) tidak selalu terjadi, kecuali pada
beberapa pasien. Semakin tinggi laju respiratori, maka semakin rendah
tekanan oksigen arteri. Kerja pernapasan (work of breathing) akan
meningkat selama end-expiratory lung volume meningkat dan
compliance paru menurun. Hiperkapnea baru terjadi jika respirasi
mencapai 60 kali per menit.
Pemulihan sel epitel paru tampak setelah 3-4 hari, tetapi silia akan
diganti setelah dua minggu. Jaringan mati (debris) akan dibersihkan
oleh makrofag.

16

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

876

E. Manifestasi Klinis

Bronkiolitis
Ringan
Sedang
Berat
Kemampuan untuk makan Gangguan
pernafasan Tidak dapat untuk makan
pernafasan
normal
sedang dengan beberapa Gangguan

Sedikit atau tidak ada

kontraksi dinding dada dan

berat,

gangguan pernafasan
Tidak kebutuhan akan
oksigen
tambahan

nafas cuping hidung


Hipoksemia ringan

dinding dada yang jelas,

(saturasi O2 > 95 %

oksigen
Mungkin

dapat

dikoreksi

dan

retraksi

nafas cuping hidung dan

dengan

menampakkan

dengkuran.
Hipoksemia

yang

tidak

terkoreksi dengan oksigen

pernafasan yang pendek

dengan

ketika makan
Mungkin memiliki episode
apnoe yang singkat

tambahan
Mungkin

peningkatan frekuensi atau


episode

terdapat

panjang.
Mungkin

apnoe

yang

menampakkan

peningkatan kelelahan.
F. Diagnosis
Penegakkan

diagnosis

bronkiolitis

berdasarkan

anamnesis,

pemeriksaan fisik, dan laboratorium.


1. Anamnesis
- Sering terjadi pada anak berusia < 2tahun. 90 % kasus yang
membuktikan perawatan di rumah sakit terjadi pada bayi
-

berusia < 1tahun. Insiden tertinggi terjadi pada usia 3 6 bulan.


Demam atau riwayat demam, namun demam jarang terjadi

demam tinggi.
Rhnorrhea, nasal discharge (pilek), sering timbul sebelum
gejala lain seperti batuk, takipneu, sesak nafas, dan kesulitan

makan.
Batuk disertai gejala nasal, yaitu gejala pertama muncul pada

bronkolithis. Batuk kering dan mengi khas untuk bronkiolitis.


Poor feeding. Banyak penderita bronkiolitis mengeluh
kesulitan makan yang berhubungan dengan sesak nafas.
17

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Bayi dengan bronkiolitis jarang tampak toksik. Bayi dengan


tampilan toksik : mengantuk, letargis,gelisah, pucat, takikardia

dan membutuhkan penanganan segera.


2. Pemeriksaan Fisik
Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya dispnea dengan
expiratory effort, takipnea, takikardia, dan peningkatan suhu di atas
38,5oC. Usaha-usaha pernapasan yang dilakukan anak untuk
mengatasi obstruksi akan menimbulkan napas cuping hidung dan
retraksi interkostal. Menangis dan makan dapat memperberat tanda
ini. Dapat ditemukan juga konjungtivitis ringan dan faringitis.
Adanya obstruksi pada saluran napas bawah akibat respon
inflamasi akut akan menimbulkan gejala ekpirasi memanjang
hingga wheezing.
Wheezing lebih dominan, namun tidak terdengarnya
wheezing bukan berarti tidak ada obstruksi. Wheezing dan crackles
dapat atau tidak dapat muncul, bergantung pada derajat obstruksi
saluran napas. Pada bayi dengan obstruksi saluran napas berat,
wheezing berkurang seiring dengan berkurangnya aliran udara.
Biasanya fase kritis dari penyakit ini terjadi pada 48 sampai 72
jam. Jika obstruksi hebat, suara napas nyaris tidak terdengar. Selain
itu, dapat juga ditemukan rhonki pada auskultasi paru, yaitu rhonki
basah halus nyaring pada akhir atau awal ekspirasi. Sianosis sekitar
hidung dan mulut dapat terjadi, dan apabila gejala memberat, dapat
terjadi apnea, terutama pada bayi berusia <6 minggu.
3. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan darah tepi tidak khas, jumlah leukosit berkisar
antara 5000-24000 sel/l. Pada keadaan leukositosis, batand
-

dan PMN banyak ditemukan.


Analisis Gas Darah : hiperkapnia sebagai tanda dari air

tapping, asidosis metabolik atau respiratorik.


Analisa gas darah (AGD) diperlukan untuk anak dengan
gangguan pernafasan berat, khususnya yang membutuhkanventilator
mekanik, gejala kelelahan dan hipoksia.

18

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Foto Thorak diindikasikan pada :

Pasien

yang

diperkirakan

memerlukan

perawatan lebih

Pasien dengan pemburukan klinis yang tidak


terduga

Pasien dengan penyakit jantung dan paru yang


mendasari.

Rontgen thoraks AP dan lateral dapat terlihat gambaran hiperinflasi


paru dengan diameter anteroposterior membesar pada foto lateral
disertai dengan diafragma datar, penonjolan ruang retrosternal dan
penonjolan ruang interkostal. Dapat terlihat bercak konsolidasi yang
tersebar pada sekitar 30 % penderita dan disebabkan oleh ateletaksis
akibat obstruksi atau karena radang alveolus.
- Identifikasi virus dengan memeriksa sekresi nasal dengan
menggunakan tekhnik imunofluoresens atau enzyme linked
-

immunosorbent assay (ELISA)


Histopatologi: hipertrofi dan timbunan infiltrat meluas ke
peribronkial, destruksi dan deorganisasi jaringan otot dan
elastis dinding mukosa. Terminal bronkiolus tersumbat dan
dilatasi. Alveoli overdistensi, atelektasis dan fibrosis. Sensifitas

pemeriksaan ini adalah 80-90%.


Beratnya penyakit ditentukan berdasarkan skala klinis. Skala klinis
yang digunakan ada beberapa macam, yaitu Respiratory Distress
Assays Instrument (RDAI) atau modifikasinya yang mengukur laju
pernapasan/respiratory rate (RR), usaha napas, beratnya wheezing,
dan oksigenasi.
1. Tabel Respiratory Distress Assays Instrument (RDAI). Bila
skor > 15 Berat, Bila skor < 3 Ringan23

19

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

2. Skala klinis yang digunakan Abdul-Ainine dan Luyr adalah:7


1. RR dihitung manual, baik dengan palpasi dan melihat
gerakan dada, dilakukan selama 1 menit penuh, dua kali
penghitungan dan diambil rata-ratanya.
2. HR diambil dari pulse oksimeter yang dibaca lima kali
selama pengamatan 1 menit, diambil rata-ratanya.
3. Saturasi O2 diambil dari pulse oksimeter yang dibaca lima
kali selama pengamatan 1 menit, diambil rata-ratanya.
4. Respiratory Clinical Status (RDAI) menurut Lowell dkk.
5. Status aktivitas bayi (empat tingkat, yaitu tidur, tenang,
rewel, dan menangis).
3. Sedangkan Shuh, yang diadaptasi oleh Dopson, menilai skor
sebagai berikut:7
1. Keadaan umum: diberi skor 0 (tidur) hingga 4(sangat rewel).
2. Penggunaan otot bantu napas: skor 0 (tidak ada retraksi)
hingga 3 (retraksi berat).
3. Wheezing: skor 0 (tidak ada) hingga 3 (wheezing hebat
inspiratorik dan ekspiratorik)

20

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

G. Diagnosis Banding
Diagnosis
Asma

Gejala
- Riwayat wheezing berulang, kadang

Bronkiolitis

tidak berhubungan
dengan batuk dan pilek
- Hiperinflasi dinding dada
- Ekspirasi memanjang
- Berespons baik terhadap bronkodilator
- Episode pertama wheezing pada anak
umur < 2 tahun
- Hiperinflasi dinding dada
- Ekspirasi memanjang
- Gejala pada pneumonia juga dapat
-

Wheezing

dengan bronkodilator
- Tidak ada riwayat keluarga dengan

berkaitan

dengan - Wheezing selalu


berkaitan

dengan

dijumpai
Respons kurang/tidak ada respons

asma/eksem/hay fever
- Ekspirasi memanjang
Cenderung
lebih

batuk

dan pilek

ringan

dibandingkan dengan wheezing


akibat asma
Berespons
baik
terhadap
bronkodilator
- Riwayat tersedak atau wheezing tiba-

Benda asing

tiba
- Wheezing umumnya unilateral
- Air trapping dengan hipersonor dan
pergeseran
mediastinum
- Tanda kolaps paru
Pneumonia

- Batuk dengan napas cepat


- Tarikan dinding dada bagian bawah
ke dalam
- Demam
- Crackles/ ronki
- Pernapasan cuping hidung
- Merintih/grunting
21

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Bronkopneumonia (p.interstitial)

Bronkhiolitis (p.lobularis)

Kausa = bakteri, virus, jamur,


lainnya

Kausa = respiratory syncytial virus


(50%). Parainfluenza virus, mycoplasma
pneumonia, adenovirus dan beberapa
lainya.

Faktor resiko = malnutrisi,


inflamasi kronik jalan nafas, faktor
trauma pada dada, trakeostomi,
aspirasi,

Faktor resiko = bayi premature,


imunodefisiensi, penyakit jantung
congenital, penyakit kronik saluran nafas
pada neonatus.

Anamnesis :

Anamnesis:

Demam tinggi, batuk, sesak nafas


timbul mendadak

demam ringan/normal. sesak nafas,


mengi, mengenai anak < 2 tahun,tertinggi
usia 6 bulan.

Gejala klinis :

Gejala klinis :

KU : Tampak sesak

KU : tampak sesak

VS :

VS

RR:Takipneu

RR : Takipneu

Suhu : meningkat

Suhu : meningkat sedikit/normal.

Sianosis.

Sianosis

Pulmo

Pulmo

1. Inpeksi = simetris,retraksi,
ekspirasi memanjang

1. Inpeksi = simetris,retraksi (+),


ekspirasi memanjang
(+),ketinggalan gerak (+).

2. (-),ketinggalan gerak (-)


2. palpasi= VK kanan/kiri menurun.
3. palpasi= VK kanan/kiri

22

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

meningkat.

3. perkusi=hipersonor

4. perkusi=redup
5. auskultasi =SD vesikuler
meningkat, RBH (+), seluruh
lapangan paru wheezing
ekspiratoar (-).
Abdomen =hepar teraba tumpul

4. auskultasi =SD vesikuler


menurun, RBH (+), tersebar,
wheezing ekspiratoar (+).
Abdomen =hepar teraba tajam,defleksi
dinding diafragma.
Laboratorium = tidak khas, dapat
normal.

Laboratorium =leukosit meningkat.


Rontgen = infiltrate sampai
konsolidasi.

Rontgen = mungkin masih normal atau


emfisematosa.
Komplikasi =emfisema

Komplikasi =asidosis respiratorik.

H. Tata Laksana
Infeksi virus RSV biasanya sembuh sendiri (self limited) sehingga
sebagian besar tata laksana bronkiolitis pada bayi bersifat suportif,
yaitu pemberian oksigen, minimal handling padabayi, cairan intravena
dan kecukupan cairan, penyesuaian suhu lingkungan agar konsumsi
oksigen minimal, tunjangan respirasi bila perlu, dan nutrisi. Setelah itu
baru diberikan obat-obat medikamentosa seperti :
1. Antivirus

: Bronkiolitis paling banyak disebabkan oleh virus

sehingga ada pendapat untuk mengurangi beratnya penyakit dapat


diberikan antivirus. Ribavirin adalah obat antivirus yang bersifat
virus statik. Tetapi, penggunaan obat ini masih kontroversial
mengenai

efektivitas

dan

keamanannya.Penggunaan

ribavirin

biasanya dengan cara nebulizer aerosol 12-18 jam per hari atau dosis
kecil dengan 2 jam 3 x/hari

23

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

2. Bronkodilator

untuk

terapi

bronkiolitis

telah

lama

diperdebatkanselama hampir 40 tahun.Terapi farmakologis yang


paling sering diberikan untuk

pengobatan bronkiolitis adalah

bronkodilator dan kortiko steroid. Dapat diberikan nebulasi agonis


(salbutamol 0,1mg/kgBB/dosis, 4-6 x/hari) diencerkan dengan salin
normal untuk memperbaiki kebersihan mukosilier.
3. Kortikosteroid : prednison, metilprrednisolon, hidrokortison,dan
deksametason. Untuk penyamaan dilakukan konversi rata-rata dosis
per hari serta rata-rata total paparan obat tersebut dengan ekuivalen
mg/kgBB prednison. Rata-rata dosis per hari berkisar antara 0,6-6,3
mg/kgBB, dan rata-rata total paparan antara 3,0-18,9mg/kgBB. Cara
pemberian adalah secara oral, intramuskular, dan intravena. Tidak
adaefek merugikan yang dilaporkan.
4. Antibiotik : Apabila terdapat napas cepat saja, pasien dapat rawat
jalan dan diberikan kotrimoksazol (4 mg TMP/kgBB/kali) 2 kali
sehari, atau amoksisilin (25 mg/ kgBB/kali), 2 kali sehari, selama 3
hari. Apabila terdapat tanda distres pernapasan tanpa sianosis tetapi
anak masih bisa minum, rawat anak di rumah sakit dan beri
ampisilin/amoksisilin (25-50 mg/ kgBB/kali IV atau IM setiap 6
jam), yang harus dipantau dalam 24 jam selama 72 jam pertama.
Bila anak memberi respons yang baik maka terapi dilanjutkan di
rumah atau di rumah sakit dengan amoksisilin oral (25
mg/kgBB/kali, dua kali sehari) untuk 3 hari berikutnya. Bila keadaan
klinis memburuk sebelum 48 jam, atau terdapat keadaan yang berat
(tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan
semuanya, kejang, letargis atau tidak sadar, sianosis, distres
pernapasan

berat)

maka

ditambahkan

kloramfenikol

(25

mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8 jam) sampai keadaan membaik,


dilanjutkan per oral 4 kali sehari sampai total 10 hari. Bila pasien
datang dalam keadaan klinis berat (pneumonia berat) segera berikan
24

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

oksigen dan pengobatan kombinasi ampilisin-kloramfenikol atau


ampisilin-gentamisin. Sebagai alternatif, beri seftriakson (80-100
mg/kgBB/kali IM atau IV sekali sehari).

5. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari faktor paparan
asap rokok dan polusi udara, membatasi penularan terutama dirumah
25

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

sakit misalnya dengan membiasakan cuci tangan,penggunaan sarung


tangan dan masker, menghindarkan bayi/anak kecil dari tempat
keramaian umum, pemberian ASI, menghindarkan bayi/anak kecil dari
kontak dengan penderita ISPA.
6. Prognosis
Prognosis tergantung berat

ringannya

penyakit,

cepatnya

penanganan, dan penyakit latar belakang. Anak biasanya dapat


mengatasi serangan tersebut sesudah 48 72 jam. Mortalitas kurang
dari 1 %. Anak biasanya meninggal karena jatuh ke dalam apneu yang
lama, asidosis respiratorik yang tidak terkoreksi atau karena dehidrasi
yang disebabkan oleh takipneu dan kurang makan-minum. Tidak dapat
dibuktikan secara jelas bahwa bronkiolitis terjadi pada anak dengan
kecendrungan asma, keberhasilan pengobatan dengan kortikosteroid
mungkin dapat mengurangi prevalens asma pada anak dari kelompok
pengobatan.
7. Kriteria Pulang
Kriteria pulang pada bronkiolitis adalah bila tidak diperlukan
pemberian oksigen selama 10 jam terakhir (ditandai dengan saturasi
oksigen menetap di atas 93% atau stabil selama 4 jam), retraksi dada
minimal, mampu makan/minum, dan perbaikan tanda klinis yang lain.

26

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

BAB III
PEMBAHASAN
Pasien anak laki-laki 21 bulan datang dengan keluhan batuk sejak 1 hari.
Batuk tidak dapat mengeluarkan dahak. Batuk diderita tidak mengenal waktu
baik pagi, siang maupun malam. Batuk tidak dipicu debu, keadaan dingin,
makanan maupun alergi lainnya. Pasien juga mengeluh demam dan pilek.
Demam dirasakan 1 hari. Demam dirasakan sepanjang hari dan demam tidak
tinggi. Pada sore hari pasien diperiksakan kebidan dan diberi obat. Saat malam
hari demam turun akibat diberi obat oleh bidan, tetapi keluhan batuk tidak
membaik. Pasien mengeluh sulit bernafas (sesak). Sesak nafas diikuti bunyi
ngik-ngik. Nafsu makan menurun, minum susu menurun dan rewel. Keluhan
lain seperti muntah/mual (-), BAK/BAK (+) dalam batasan normal, kejang (-),
perut kembung (-), penurunan kesadaran (-), mimisan (-).
Keluhan sesak nafas tersebut menyebabkan anak menjadi rewel atau
gelisah dan menjadikan anak sulit minum dan makan. Dari anamnesis tersebut
terdapat beberapa anamnesis yang masuk dalam penegakan diagnosis
berdasarkan pedoman pelayanan medis Ikatan Dokter Anak Indonesia yaitu
anak berusia < 2tahun, demam atau riwayat demam, namun demam jarang
terjadi demam tinggi, Rhinorrhea, nasal discharge (pilek), sering timbul
sebelum gejala lain seperti batuk, takipneu, sesak nafas, dan kesulitan makan,
Poor feeding yaitu mengeluh kesulitan makan yang berhubungan dengan sesak
nafas.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital yaitu nadi 136x/menit,
frekuensi nafas 48x/menit, suhu 36,5oC. pada pemeriksaan fisik thorak tidak
ditemukan adanya retraksi dinding dada dan perut. Pada pemeriksaan
auskultasi didapatkan suara bronkovesikuler pada kedua lapang paru dan
terdengar adanya wheezing. Adanya wheezing yang lebih dominan daripada
27

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

ronki menandakan adanya obstruksi pada saluran nafas bawah. Dengan


demikian kemungkinan pasien mengalami bronkiolitis.
Pemeriksaan Fisik lain dalam batas normal termasuk ubun-ubun cekung
dan mata cowong tidak ditemukan, bibir tidak kering, turgorkulit normal.
Dengan demikian adanya kecurigaan dehidrasi akibat diare dan muntah dapat
disingkirkan.
Tatalaksana pada pasien ini adalah mengatasi sesak dan menjaga agar
oksigen dalam darah tercukupi. Karena sesak yang terjadi disebabkan oleh
obstruksi akibat inflamasi, maka diberikan kortikosteroid untuk mengurangi
inflamasi yang terjadi sehingga edema pada saluran napas bawah berkurang
dan aliran udara ke alveolus dapat meningkat. Pilihan kortikosteroid pada
pasien adalah deksametason dengan dosis 0,5 mg/kgBB, sehingga dengan berat
badan pasien sebesar 9,8 kg seharusnya diberikan 5 mg. Namun, pada pasien
ini diberikan sebanyak 3x2 mg secara intravena. Kemungkinan pertimbangan
pemberian deksametasone dengan dosis 3x2 mg ini adalah kondisi pasien yang
bersifat gawat darurat, yaitu sesak sehingga pemberian dosis ini diharapkan
dapat mengurangi obstruksi saluran napas yang terjadi.
Pemberian deksametason bertujuan untuk mengurangi edema akibat
inflamasi. Setelah saluran napas ini kembali lagi terbuka, maka CO2 yang
terperangkap dapat keluar. Dengan demikian, diberikan juga O2 melalui nasal
kanul sebanyak 2 liter per menit. Adanya infeksi saluran pernapasan yang
terjadi pada pasien menjadi indikasi pemberian antibiotik,terutama pada pasien
sulit dibedakan apakah pasien mengalami bronkiolitis atau pneumonia. Dengan
demikian diberikan amoxan 3x200 mg secara intravena. .
Pemberian bronkodilatator pada pasien bronkiolitis diantaranya obat
obat beta2 agonis sangat berguna pada penyakit dengan penyempitan saluran
napas karena menyebabkan efek bronkodilatasi, mengurangi pelepasan
mediator sel mast, menurunkan efek tonus kolinergik, mengurangi sembab
mukosa dan meningkatkan pergerakan silia saluran napas sehingga efektivitas

28

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

dari mukosilier akan lebih baik. Dalam hal ini pasien diberikan Ventolin
(Salbutamol) dosis untuk anak 1-2 tahun adalah 2,5 mg 5 mg dengan
pemberian hingga 4 x per hari, sehingga pada pasien ini dapat diberikan 2,5mg
atau 2,5 cc, tetapi dalam kasus ini pasien diberikan salbutamol 0,4 cc dalam
nebulizer dengan pemberian 3 x per hari dengan Flixotide (Fluticasone
propionate) 0,4 cc dan NaCl 0,5 cc.
Status gizi pada pasien termasuk cukup gizi, sehingga tidak diperlukan
terapi nutrisi yang khusus.

29

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

30

876

ILMU
KESEHATAN
NO RM :
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

DAFTAR PUSTAKA
Basir D, Rahajoe NN, Setyanto DB, Setiawati L. Pendekatan diagnostik
respiratorik anak. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. 2012.
Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi pertama. Jakarta: Badan Penerbit IDAI,.
h.51-70.
Hassan, et all., 2007. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Ikatan Dokter Indonesia. 2010. Pedoman Pelayanan medis. Pengurus Pusat Ikatan
Dokter Anak Indonesia
Pawitro U.E., Noorvitry M., Darmowandowo W., 2002. IlmuPenyakitAnak
:DiagnosadanPenatalaksanaanedisi 1. Jakarta :SalembaMedikapp 1-43
Tim Adaptasi Indonesia. 2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.
Gedung Bina Mulia Kuningan : Jakarta
Soedarmo S., Garna H., Hadinegoro S., Satari H., BukuAjar respirologi anak.
Jakarta :BagianIlmuKesehatanAnak FKUI pp 338-346
Zain MS. Bronkiolitis. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. Buku
Ajar Respirologi Anak. Edisi pertama. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2012.
h.333-47

31

876