Anda di halaman 1dari 17

KEPANITERAAN KLINIK ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROK

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROF. W.Z. JOHANNES

LAPORAN KASUS:
OTITIS EKSTERNA DIFUSA

OLEH:
Patricia Gloria Fernandez
1008012009

PEMBIMBING:
dr. M. A. SRI WAHYUNINGSIH, Sp.THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA


KUPANG
2015

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikannya laporan kasus dengan
judul Otitis Eksterna Difusa. Penulisan laporan kasus ini dibuat dengan tujuan untuk
memenuhi salah satu tugas kepaniteraan Ilmu Telinga Hidung Tenggorok di RSUD Prof. W.
Z. Johannes.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. M. A. Sri Wahyuningsih, Sp.THT-KL
selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberi saran, arahan dan kritik
dalam penyusunan makalah ini, dan kepada semua pihak yang turun serta membantu
penyusunan makalah ini. Akhir kata dengan segala kekurangan yang penulis miliki, segala
saran dan kritik yang bersifat membangun akan penulis terima untuk perbaikan selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak..

Kupang, April 2015

Penulis

LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 2

Presentasi laporan kasus dengan judul


Otitis Eksterna Difusa
Oleh :

Nama : Patricia Gloria Fernandez


NIM

: 1008012009

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk mengikuti ujian
komprehensif dalam rangka

menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Telinga Hidung

Tenggorok di RSUD Prof. W. Z. Johannes.

Mengetahui Pembimbing Klinik

1.

dr. M.A.Sri Wahyuningsih, Sp.THT-KL


Pembimbing Klinik

......................................................

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................................

Lembar Persetujuan ..........................................................................................................

Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 3

Daftar Isi ...........................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................

A. Definisi ............................................................................................................

B. Epidemiologi ...................................................................................................

C. Etiologi ............................................................................................................

D. Klasifikasi ........................................................................................................

E. Patofisilogi .......................................................................................................

F. Gejala Klinis .....................................................................................................

G. Diagnosis .........................................................................................................

10

H. Penatalaksanaan................................................................................................

10

BAB III LAPORAN KASUS ......................................................................................

12

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Identitas Pasien.
Anamnesis.
Pemeriksaan Fisik.
Resume.
Diagnosa..
Penatalaksanaan..
Prognosis..

12
12
13
14
15
15
15

BAB IV - PEMBAHASAN .

16

BAB V- PENUTUP..........................................................................................................

17

Daftar Pustaka ..................................................................................................................

18

BAB I
PENDAHULUAN
Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh
bakteri dapat terlogalisir atau difus. Faktor penyebab timbulnya otitis eksterna diantaranya,
kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Hal tersebut menyebabkan
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 4

berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel skuamosa dan
menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan
menimbulkan eksudat. Bakteri patogen pada otitis eksterna akut adalah pseudomonas (41 %),
strepokokus (22%), stafilokokus aureus (15%) dan bakteroides (11%). 1 Istilah otitis eksterna
akut meliputi adanya kondisi inflasi kulit dari liang telinga bagian luar. 2,3
Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang dapat
menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang telinga
terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggap pembentukan lokal otitis
eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeksi bakteri patogen yang paling umum
disebabkan oleh pseudomonas, stafilokokus dan proteus, atau jamur.4
Penyakit ini ditemukan di seluruh wilayah Amerika Serikat, terjadi pada 4 dari setiap
1.000 orang setiap tahunnya. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah-daerah yang panas dan
lembab dan jarang pada perubahan musim antara sejuk dan kering. Frekuensi internasional
otitis eksterna belum sepenuhnya ditentukan; Namun, insiden meningkat di negara-negara
tropis. Meskipun infeksi dapat mempengaruhi semua kelompok usia, puncak insidensi terjadi
pada anak usia 7-12 tahun. Sebuah studi epidemiologi tunggal dari Inggris menemukan
prevalensi yang sama untuk individu yang berusia 5-64 tahun dan sedikit peningkatan
prevalensi bagi mereka yang lebih tua dari 65 tahun. Otitis eksterna akut difusa adalah
penyakit yang terutama timbul pada musim panas dan merupakan bentuk otitis eksterna yang
paling umum. Terjadinya kelembaban yang berlebihan karena berenang atau mandi
menambah maserasi kulit liang telinga dan menciptakan kondisi yang cocok bagi
pertumbuhan bakteri.5
dari laporan kasus ini sendiri adalah untuk mempermudah menegakkan diagnosis
otitis eksterna, serta dapat memahami apa saja penatalaksanaan, patogenesis serta pencegahan
juga prognosis dari penyakit ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Otitis Eksterna

Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 5

Otitis eksterna difus adalah infeksi / radang pada liang telinga akut maupun kronik
akibat infeksi bakteri yang menyebabkan pembengkakan stratum korneum kulit sehingga
menyumbat saluran folikel. Terjadinya kelembaban yang berlebihan karena berenang atau
mandi menambah maserasi kulit liang telinga dan menciptakan kondisi yang cocok bagi
pertumbuhan bakteri. Perubahan ini dapat juga menyebabkan rasa gatal di liang telinga
sehingga menambah kemungkinan trauma karena garukan 3,6 .
B. Epidemiologi
Penyakit ini ditemukan di seluruh wilayah Amerika Serikat, terjadi pada 4 dari setiap
1.000 orang setiap tahunnya. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah-daerah yang panas dan
lembab dan jarang pada perubahan musim antara sejuk dan kering. Frekuensi internasional
otitis eksterna belum sepenuhnya ditentukan; Namun, insiden meningkat di negara-negara
tropis. Meskipun infeksi dapat mempengaruhi semua kelompok usia, puncak insidensi terjadi
pada anak usia 7-12 tahun. Sebuah studi epidemiologi tunggal dari Inggris menemukan
prevalensi yang sama untuk individu yang berusia 5-64 tahun dan sedikit peningkatan
prevalensi bagi mereka yang lebih tua dari 65 tahun.5
Insidensi penyakit ini sama bagi semua jenis kelamin. Tidak ada predileksi rasial telah
ditetapkan, meskipun orang-orang di beberapa kelompok ras memiliki kanal telinga kecil,
yang mungkin mempengaruhi mereka untuk obstruksi dan infeksi.5
C. Etiologi
Otitis eksterna dapat disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Pseudomonas aeruginosa,
Proteus mirabilis, Staphylococcus, Streptococcus, dan beberapa bakteri gram negatif. Serta
dapat juga disebabkan oleh jamur sereti Jamur golongan Aspergillus atau Candida sp. Otitis
eksterna difusa dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis 4,7.
Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya otitis eksterna, yaitu : 5,7
1. Derajat keasaman (pH)
Ph pada liang telinga biasanya normal atau asam, pH asam berfungsi sebagai
protektor terhadap kuman. Bila terjadi perubahan

pH menjadi basa maka akan

mempermudah terjadinya otitis eksterna yang disebabkan oleh karena proteksi


terhadap infeksi menurun.
2. Udara
Udara yang hangat dan lembab lebih memudahkan kuman dan jamur mudah
tumbuh.
3. Trauma
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 6

Trauma ringan misalnya setelah mengorek telinga menggunakan benda tajam,


ataupun cotton bud merupakan faktor predisposisi terjadinya otitis eksterna.
4. Kelembapan tinggi
Pada cuaca panas, lembab, dan aktivitas berenang. Terutama jika berenang pada
air yang tercemar. Perubahan warna kulit liang telinga dapat terjadi setelah terkena air.
D. Klasifikasi Otitis Eksterna5,6,7
Melihat bentuk infeksi di liang telinga, penyakit dibagi atas:
1. Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel/bisul).
Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi bermula dari folikel rambut di
liang telinga yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan menimbulkan
furunkel di liang telinga di 1/3 luar. Sering timbul pada seseorang yang menderita
diabetes.
Gejala klinis otitis eksterna sirkumskripta berupa rasa sakit (biasanya dari
ringan sampai berat, dapat sangat mengganggu, rasa nyeri makin hebat bila
mengunyah makanan). Keluhan kurang pendengaran, bila furunkel menutup liang
telinga. Rasa sakit bila daun telinga ketarik atau ditekan. Terdapat tanda infiltrat
atau abses pada 1/3 luar liang telinga.
Penatalaksanaan otitis eksterna sirkumskripta Lokal yakni pada stadium
infiltrat diberikan tampon yang dibasahi dengan 10% ichthamol dalam glycerine,
diganti setiap hari. Pada stadium abses dilakukan insisi pada abses dan tampon
larutan rivanol 0,1%. Terapi sistemik : antibiotika diberikan dengan pertimbangan
infeksi yang cukup berat. Dapat diberikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
2. Otitis eksterna difus
Otitis eksterna difus adalah infeksi pada 2/3 dalam liang telinga akibat
infeksi bakteri. Umumnya bakteri penyebab yaitu Pseudomonas. Bakteri penyebab
lainnya yaitu Staphylococcus albus, Escheria coli, dan sebagainya. Kulit liang
telinga terlihat hiperemis dan udem yang batasnya tidak jelas. Tidak terdapat
furunkel (bisul). Gejalanya sama dengan gejala otitis eksterna sirkumskripta
(furunkel = bisul). Kandang-kadang kita temukan sekret yang berbau namun tidak
bercampur lendir (musin). Lendir (musin) merupakan sekret yang berasal dari
kavum timpani dan kita temukan pada kasus otitis media.

Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 7

Pengobatan otitis eksterna difus ialah dengan memasukkan tampon yang


mengandung antibiotik ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara
obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotika
sistemik
3.

Otomikosis
Infeksi jamur dipermudah oleh kelembapan yang tinggi di daerah tersebut
kuman tersering adalah Pityrosporum, Aspergillus, Candida albicans. Gejala yang
timbul biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga. Pengobatan yang
diberikan berupa : membersihkan telinga dengan tetes telinga seperti otopain, maupun
yang mengandung campuran anti biotik dan steroid. Diperlukan pula obat tetes anti
jamur untuk pengobatan hingga tuntas.
Otitis eksterna kronik adalah otitis eksterna yang berlangsung lama dan ditandai oleh

terbentuknya jaringan parut (sikatriks). Adanya sikatriks menyebabkan liang telinga


menyempit.
E. Patofisiologi
Secara alami, sel-sel kulit yang mati, termasuk serumen, akan dibersihkan dan
dikeluarkan dari gendang telinga melalui liang telinga. Cotton bud (pembersih kapas telinga)
dapat mengganggu mekanisme pembersihan tersebut sehingga sel-sel kulit mati dan serumen
akan menumpuk di sekitar gendang telinga. Masalah ini juga diperberat oleh adanya susunan
anatomis berupa lekukan pada liang telinga, keadaan ini dapat menimbulkan timbunan air
yang masuk ke dalam liang telinga ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah, lembab,
hangat, dan gelap pada liang telinga merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan bakteri
dan jamur.5
Adanya faktor predisposisi otitis eksterna dapat menyebabkan berkurangnya lapisan
protektif yang menimbulkan edema epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal
yang memudahkan bakteri masuk melalui kulit, terjadi inflamasi dan cairan eksudat. Rasa
gatal memicu terjadinya iritasi, berikutnya infeksi lalu terjadi pembengkakan dan akhirnya
menimbulkan rasa nyeri.5,6
Proses infeksi menyebabkan peningkatan suhu lalu menimbulkan perubahan rasa
nyaman dalam telinga. Selain itu, proses infeksi akan mengeluarkan cairan / nanah yang bisa
menumpuk dalam liang telinga (meatus akustikus eksterna) sehingga hantaran suara akan
terhalang dan terjadilah penurunan pendengaran.5,6
Bakteri patogen yang sering menyebabkan otitis eksterna yaitu pseudomonas (41%),
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 8

streptokokus (22%), stafilokokus aureus (15%) dan bakteroides (11%). Infeksi pada liang
telinga luar dapat menyebar ke pinna, periaurikuler dan tulang temporal.2,3,5
Otalgia pada otitis eksterna disebabkan5 :
a. Kulit liang telinga luar beralaskan periostium & perikondrium bukan bantalan
jaringan lemak sehingga memudahkan cedera atau trauma. Selain itu, edema dermis
akan menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat.
b. Kulit dan tulang rawan pada 1/3 luar liang telinga luar bersambung dengan kulit dan
tulang rawan daun telinga sehingga gerakan sedikit saja pada daun telinga akan
dihantarkan ke kulit dan tulang rawan liang telinga luar sehingga mengakibatkan rasa
sakit yang hebat pada penderita otitis eksterna.
F. Gejala Klinik5,6
Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari otitis
eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga.
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa
sakit yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita rasa gatal
disertai rasa penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis
eksterna akuta. Pada otitis eksterna kronik merupakan keluhan utama.
Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak
sedikit, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang
hebat, serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang dominan, keluhan
ini juga sering merupakan gejala sering mengelirukan. Kehebatan rasa sakit bisa agaknya
tidak sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan
bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan
perikondrium, sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit
yang hebat. Lagi pula, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit
dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan
dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar dan mengkibatkan rasa sakit yang
hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.
Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis eksterna akut.
Edema kulit liang telinga, sekret yang sorous atau purulen, penebalan kulit yang progresif
pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan
timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obat-obatan
yang digunakan kedalam telinga bisa menutup lumen yang mengakibatkan peredaman
hantaran suara.
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 9

G. Diagnosis6,7
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan dengan gejala awal berupa gatal. Rasa
gatal berlanjut menjadi nyeri yang sangat. Nyeri terutama ketika daun telinga ditarik, nyeri
tekan tragus, dan ketika mengunyah makanan. Rasa gatal dan nyeri disertai pula keluarnya
sekret encer, bening sampai kental purulen tergantung pada kuman atau jamur yang
menginfeksi. Pada jamur biasanya akan bermanifestasi sekret kental berwarna putih keabuabuan dan berbau.
Pendengaran pasien bisa normal atau sedikit berkurang, tergantung pada besarnya
furunkel atau edema yang terjadi dan telah menyumbat pada liang telinga.
Didapatkan riwayat faktor predisposisi misalnya kebiasaan berenang pada pasien,
ataupun kebiasaan mengorek kuping dengan cotton bud bahkan menggunakan bulu ayam
yang merupakan media penyebaran infeksi.
Pemeriksaan Fisik pada pasien bisanya menunjukkan:
1. Kulit MAE edema, hiperemi merata sampai ke membran timpani dengan liang MAE
penuh dengan sekret. Jika edema hebat, membran timpani dapat tidak tampak.
2. Pada folikulitis akan didaptkan edema, hiperemi pada pars kartilagenous MAE.
3. Nyeri tragus (+)
4. Tidak adanya partikel jamur
5. Adenopati reguler dan terkadang didapatkan nyeri tekan.
H. Penatalaksanaan
Otitis ekseterna difusa harus diobati dalam keadaan dini sehingga dapat
menghilangkan edema yang menyumbat liang telinga. Untuk tujuan ini biasanya perlu
disisipkan tampon berukuran x 5 cm ke dalam liang telinga mengandung obat agar
mencapai kulit yang terkena. Setelah dilumuri obat, tampon kasa disisipkan perlahan-lahan
dengan menggunakan forsep hartmann yang kecil.
Polimiksin B dan colistemethate merupakan antibiotic yang paling efektif terhadap
pseudomonas dan harus menggunakan vehiculum hidroskopik seperti glikol propilen yang
telah diasamkanbahan kimia lain, seperti gentian violet 2% dan perak nitrat 5% bersifat
bakterisid dan bisa diberikan langsung ke kulit liang telinga. Pasien harus diingatkan
mengenai kemungkinan kekambuhan yang mungkin terjadi, sehingga untuk menghindarinya
pasien harus menjaga agar telinganya selalu kering, dan tidak menggaruk/membersihkan
telinga dengan cotton bud.

Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 10

BAB III
LAPORAN KASUS
1. IDENTITAS PASIEN
No. MR
: 0-30-52-63
Nama
: Ny. FN
Umur
: 38 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Agama
: Kristen Protestan
Alamat
: Pasir Panjang
2. ANAMNESIS ( autoanamnesis, tanggal 31 Maret 2015)
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 11

Keluhan Utama: Nyeri pada kedua telinga dan bengkak pada daun telinga kiri.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke Poli THT RSU W.Z Johannes dengan keluhan nyeri kedua
telinga + 3 hari lalu, diawali dengan rasa gatal pada kedua telinga. Telinga terasa
berdengung nada rendah, kurang mendengar, dan merasa telinga tertutup/penuh.
Pasien juga mengeluhkan 1 hari sebelumnya ketika tidur, keluarnya cairan berwarna
putih- kekuningan dan sedikit berbau. Pasien tidak mengeluh pilek, sakit kepala,
batuk, maupun nyeri menelan. Riwayat mengorek telinga menggunakan cotton bud
dan peniti terakhir kali pada hari 5 hari sebelum dating rumah sakit yakni tanggal 26
April 2015.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien tidak pernah memiliki riwayat penyakit berat, riwayat sinusitis (-),
riwayat rinitis (-), hipertensi (-), diabetes mellitus (-), asma (-), riwayat trauma pada
telinga (-), riwayat penyakit pada telinga sebelumnya (-)
Riwayat Kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan mengorek telinga dengan maksud membersihkan,
menggunakan cotton bud, pasien tidak pernah memasukkan benda-benda asing dalam
telinga, merokok (-), alkoholik (-).
Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada riwayat gejala penyakit telinga yang serupa pada anggota keluarga pasien.
Riwayat Alergi:
Pasien mengaku sering bersin berulang, (lebih dari 5 kali) bila terkena debu, tidak ada
riwayat pada obat-obatan dan makanan.
Riwayat Pengobatan :
Pasien pernah mencoba mengobati keluhan yang dirasakannya dengan minyak obat
cina yang diteteskan di telinga namun dirasakan tidak membaik.
3. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal Pemeriksaan : 31 Maret 2015
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital:
Tensi : 120/80 mmHg
Nadi : 100 x/menit
Suhu: 37,0 C
Respirasi : 30x/menit
Status Lokalis:
Telinga:
Bagian
Telinga
Aurikula
Daerah

Telinga kanan

Telinga kiri

Deformitas (-), hiperemis (+), edema

Deformitas (-), hiperemis (+), edema

(+)
Hiperemis (+), edema (+), fistula (-),

(+)
Hiperemis (+), edema (+), fistula (-),

Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 12

abses (-), nyeri tekan tragus

preaurikula

(+),nyeri pada penarikan auricula

Daerah

nyeri tekan os. temporomandibula


Hiperemis (+), edema (-), fistula (-),

abses (-), nyeri tekan (-)

abses (-), nyeri tekan (+)

Sedikit serumen (+), edema (+),

Serumen (-),stenosis (+), edema

hiperemis (+), furunkel (-), sekret

(+), hiperemis (+), furunkel (-),

(+) cair kekuningan


Retraksi (-), bulging (-), perforasi (-),

sekret (+) cair kekuningan

a
Meatus

Membran

nyeri pada penarikan auricula,

Hiperemis (-), edema (-), fistula (-),

retroaurikul

akustikus

abses (-), nyeri tekan tragus (+),

timpani
Audiometri

cone of light (+),


Tidak dilakukan

Sulit di nilai karena stenosis dan di


penuhi secret.
Tidak dilakukan

Hidung:
Pemeriksaan Hidung
Hidung Luar

Hidung Kanan
Hidung Kiri
Bentuk (N), Inflamasi (-), nyeri Bentuk (N), Inflamasi (-), nyeri
tekan (-), deformitas (-).

Rinoskopi Anterior
Vestibulum
Normal
Dasar kavum nasi Bentuk (N), mukosa hiperemi (-).
media
Meatus nasi media

tekan (-), deformitas (-).


Normal
Bentuk (N), mukosa hiperemi (-).

Mukosa hiperemi (-), sekret (-), Mukosa hiperemi (-), sekret (-),
konka nasi media (N), massa (-), konka nasi media (N), massa (-),

Meatus nasi inferior


Konka nasi inferior
Septum nasi

sekret (-).
Mukosa hiperemi (-), edema (-)
Mukosa hiperemi (-), edema (-)
Deviasi (-), benda asing (-),

sekret (-).
Mukosa hiperemi (-), edema (-)
Mukosa hiperemi (-), edema (-)
Deviasi (-), benda asing (-),

perdarahan (-).

perdarahan (-).

Tenggorokan:
Bagian
Mukosa bukal
Mukosa gigi
Palatum durum dan palatu mole
Mukosa faring
Tonsil

Keterangan
hiperemis (-), massa (-)
hiperemis (-), massa (-)
Hiperemis (-), massa (-)
Hiperemis (-), edema (-), massa (-), granul (-), ulkus (-)
Hiperemis (-), ukuran T1-T1, detritus (-)

4. RESUME
Seorang perempuan, 38 tahun,datang Poli THT RSU W.Z. Johannes dengan
keluhan nyeri kedua telinga + 3 hari lalu, diawali dengan rasa gatal pada kedua
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 13

telinga. Telinga terasa berdengung nada rendah, kurang mendengar, dan merasa
telinga tertutup/penuh. Pasien juga mengeluhkan 1 hari sebelumnya ketika tidur,
keluarnya cairan berwarna putih- kekuningan dan sedikit berbau. Pasien tidak
mengeluh pilek, sakit kepala, batuk, maupun nyeri menelan. Riwayat mengorek
telinga menggunakan cotton bud dan peniti terakhir kali pada hari 5 hari sebelum
dating rumah sakit yakni tanggal 26 April 2015. Pasien mengaku sudah mengunakan
minyak cina sebagai obat tetes, namun tidak membaik.
Pada pemeriksaan fisik telinga pasien didapatkan adanya gejala klinis otitis
eksterna diffusa berupa auricula yang hipermeis (+), dan edema (+), adanya nyeri
tekan tragus selain itu terdapat peradangan pada meatus akustikus telinga kiri yaitu
terdapat edema (+), hiperemis (+), secret serous berwarna kuning (+), dan liang
telinga stenosis.
5. DIAGNOSIS
H. 60.3 Otitis Eksterna Diffusa (Auricula dextra et sinistra)
6. PENATALAKSANAAN:
a. Non medikamentosa
1. Pasien diberitahu bahwa pasien mengalami infeksi pada liang telinga.
2. Pasien harus diingatkan mengenai kemungkinan kekambuhan yang mungkin
terjadi pada pasien.
3. Pasien harus menjaga agar telinganya selalu kering dan diajarkan cara
membersihkan telinga dengan tissue.
4. Pasien diingatkan agar tidak menggaruk/membersihkan telinga dengan cotton bud
atau pun benda tajam terlalu sering.
b. Medikamentosa
Lokal

Sebelumnya pada kedua telinga pasien dibersihkan kemudian diberikan tampon


antibiotik otopain dengan kortikosteroid salep (hidrokortison 2,5%)
Sistemik :
Tidak diberikan, karena saat ini pasien sedang hamil 8 bulan
7. PROGNOSIS :
Dubia ad bonam

BAB IV
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 14

PEMBAHASAN
Pada kasus ini diagnosis otitis eksterna diffusa ditegakkan berdasarkan anamnesis
gejala klinis dan pemeriksaan fisik pasien. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien datang
dengan keluhan nyeri kedua telinga + 3 hari lalu, diawali dengan rasa gatal pada kedua
telinga. Telinga terasa berdengung nada rendah, kurang mendengar, dan merasa telinga
tertutup/penuh. Pasien juga mengeluhkan 1 hari sebelumnya ketika tidur, keluarnya cairan
berwarna putih- kekuningan dan sedikit berbau. Pasien tidak mengeluh pilek, sakit kepala,
batuk, maupun nyeri menelan. Riwayat mengorek telinga menggunakan cotton bud dan peniti
terakhir kali pada hari 5 hari sebelum dating rumah sakit yakni tanggal 26 April 2015. Pasien
mengaku sudah mengunakan minyak cina sebagai obat tetes, namun tidak membaik. Dapat
diduga kebiasaan mengkorek-korek telinga menggunakan cotton bud memungkinan trauma
ringan sehingga terjadi perubahan pada kulit liang telinga yang memudahkan terjadinya
infeksi kuman.
Pada pemeriksaan fisik telinga kiri pasien didapatkan adanya gejala klinis otitis
eksterna diffusa berupa nyeri tekan tragus selain itu terdapat peradangan pada meatus
akustikus telinga kiri yaitu terdapat edema, hiperemi, secret serous, dan liang telinga sangat
sempit.
Pada otitis eksterna, pengobatannya amat sederhana tetapi membutuhkan kepatuhan
penderita terutama dalam menjaga kebersihan liang telinga. Pembersihan liang telinga
dengan mengorek-ngorek telinga dengan benda asing seperti cotton bud tidak dianjurkan
karena dapat menyebabkan trauma atau iritasi. Penatalaksanaannya dapat diberikan obat tetes
telinga yang mengandung neomisin, polimiksin B dan korikosteroid juga dapat menjadi
pilihan. Kadang- kadang diperlukan obat antibiotik sistematik, dan analgetik untuk nyeri.

BAB V
PENUTUP
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 15

Demikianlah telah dilaporkan kasus dengan otitis ekstrna difusa yang telah
dibandingkan dengan teori yang ada sehingga dari gejala klinis dan pemeriksaan fisik dapat
ditegakkan diagnosis dan di terapi sesuai teori yang ada. Pada kasus ini, tidak diberikan obat
oral dikarenakan saat ini pasien sedang hamil 8 bulan, serta telah di berikan edukasi sehingga
diharpakan penyakit ini tidak berulang. Pada pasien tidak ditemukan adanya komplikasi ke
orgam sekitar. Demikian laporan kasus ini dibuat, diharapkan laporan ini dapat berguna bagi
penatalaksaan kasus serupa selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 16

1. Abdullah, F. 2003. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi Saring dengan
Salep Ichthyol (Ichthammol) pada Otitis Eksterna Akut. Available from :
www.usudigitallibrary.com. Accessed : 2011, April 16.
2. Ballanger, Jhon. 1996. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala dan Leher
Edisi 13. Jakarta: Binarupa Aksara.
3. Kartika,
Henny.
2008.

Otitis

Eksterna.

Availble

from

http://library.usu.ac.id/modules.php&id. Accessed : April 16th 2011.


4. Ardan, Juliarti, Satwika, et al. 2008, Sinopsis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok. Available from : http://www.THTUB.pdf.co.id . Accessed : 2011 April 16.
5. Ariel A Waitzman, MD, FRCSC. Otitis Externa. Update : Desember 2014. Diakses
dari : http://emedicine.medscape.com/article/994550-overview#a0156
6. Boies. 1997. Buku Ajar Penyakit THT edisi keenam. Jakarta: EGC
7. Sosialisman, Alfian P. hafil, Helmi. 2007. Kelainan Telinga Luar.Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Hal. 59. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.

Laporan Kasus Otitis Eksterna Diffuse-Ilmu Penyakit THT-KL

Page 17