Anda di halaman 1dari 12

A.

Hasil belajar Siswa


1. Pengertian Hasil belajar Siswa
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak melalui kegiatan
belajar. Benjamin S Bloom dalam Endah Minasari mengemukakan, ada tiga ranah
(domain) hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.1 A.J Romiswki
mengemukakan bahwa, Hasil belajar merupakan keluaran (output) dari suatu
sistem pemrosesan masukan (input).2 John M. Keller mengemukakan bahwa,
Hasil belajar adalah keluaran dari suatu pemprosesan berbagai masukan yang
berupa informasi.3 Hasil belajar merupakan fungsi dari masukan pribadi dan
masukan yang berasal dari lingkungan. Hasil belajar adalah prestasi aktual yang
ditampilkan oleh anak.
Menurut Nana Sudjana dalam bukunya Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar mendefinisikan, Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang
dimilki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. 4 R. Gagne yang
dikutip oleh Sudjana juga mengemukakan bahwa hasil belajar harus didasarkan
pada pengamatan tingkah laku, melalui stimulus respon dan hasil belajar
bersyarat.5
Sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah
terjadinya perubahan perilaku tersebut misalnya dapat berupa; dan tidak tahu
sama sekali menjadi samar-samar, dan kurang mengerti menjadi mengerti, dan

1 Endah Minasari, Implikasi Alat Peraga dengan Hasil Belajar Matematika (Bandung ;
IKIP, 2004), hal. 14.

2Ibid, hal. 14.


3Ibid, hal. 15.

4 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung : Remaja


Rosdakarya, 2004), hal. 134.
5 Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar (Jakarta : Sinar Baru Algesindo, 2003), hal.
213

tidak biasa menjadi terampil dan anak pembangkang menjadi penurut, dan
pembohong menjadi jujur, dan kurang takwa menjadi takwa, dan lain-lain.
Dalam proses pembelajaran, guru memiliki peran utama dalam menentukan
kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Yakni memberikan pengetahuan
(Kognitif), sikap dan nilai (afektif) dan keterampilan (psikomotor). Dengan kata
lain tugas dan peran pendidik yang utama terletak di bidang pengajaran.
Pengajaran merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kemampuan lulusan suatu jenjang pendidikan sesuai dengan tuntutan
penerapan kurikulum tingkat satuan mencakup tiga ranah, yaitu kemampuan
berpikir, keterampilan melakukan pekerjaan, dan perilaku. Setiap siswa memiliki
potensi pada ketiga ranah tersebut, namun tingkatannya satu sama lain berbeda.
Ada siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi dan perilaku amat baik,
namun keterampilannya rendah. Demikian sebaliknya ada siswa yang memiliki
kemampuan berpikir rendah, namun memiliki keterampilan yang tinggi dan
perilaku amat baik. Ada pula siswa yang kemampuan berpikir dan keterampilannya
sedang/biasa, tapi memiliki perilaku baik. Jarang sekali siswa yang kemampuan
berpikirnya rendah, keterampilan rendah, dan perilaku kurang baik. Siswa seperti
itu akan mengalami kesulitan bersosialisasi dengan masyarakat, karena tidak
memiliki potensi untuk hidup di masyarakat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari proses pembelajaran diri sendiri dan
pengaruh lingkungan, baik perubahan kognitif, afektif maupun psikomotor dalam
diri siswa.
Kualitas dari sebuah keluaran sekolah dapat tercermin dari prestasi sekolah,
khususnya hasil belajar siswanya menunjukkan pencapaian yang tinggi berupa

nilai ulangan umum, ujian akhir nasional, dan lain sebagainya. Dengan kata lain,
hasil belajar bertujuan untuk memberikan perubahan sikap kepada siswa dalam
segala aspek yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif. Hasil belajar juga bertujuan
sebagai gambaran umum dari output kegiatan pembelajaran di sekolah.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil belajar Siswa
Untuk mencapai hasil belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka
perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain;
faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari
luar siswa (faktor ekstern).6 Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak
bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain
adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya.
1. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri,
adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu : a) kecerdasan atau
intelegensi, b) bakat, c) minat dan d) motivasi.7
a) Kecerdasan
Kecerdasan

adalah

kemampuan

belajar

disertai

kecakapan

untuk

menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat


ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan
kecakapan

sesuai

dengan

tingkat

perkembangan

sebaya.

Adakalanya

6 Sudjana, Dasar-dasar ,hal. 203


7Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Ed. II (Jakarta : Rhinneka
Cipta, 2000), hal. 55

perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu


anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah
memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan
sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal
yang tidak diabaikan dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Syamsuddin kecerdasan merupakan salah satu aspek yang
penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang
murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau di atas normal maka secara
potensi ia dapat mencapai prestasi yang tinggi.8Slameto mengatakan bahwa
tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai
tingkat intelegensi yang rendah.9
Muhibbin

berpendapat

bahwa

intelegensi

adalah

semakin

tinggi

kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk


meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang
siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.10
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan
yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha
belajar dan memperoleh hasil belajar yang bagus terutama dalam bidang studi
Sejarah Kebudayaan Islam.
b) Bakat
8 Syamsuddin, Psikologi Pendidikan, Ed. III (Bandung : Remaja Rosdakarya,
2001) hal. 5.
9 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor ..., hal. 56.

10 Muhibbin, Hasil belajar, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000), hal. 56.

Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai


kecakapanpembawaan. Syamsuddin menyatakan bahwa bakat adalah potensi
atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui
belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.11 Menurut Syah Muhibbin
mengatakan bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas
tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.12
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada
seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan
bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya hasil belajar bidang-bidang studi
tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang
peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi
seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang
tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.

c) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus
menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel minat adalah
kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada
11 Syamsuddin, Psikologi Pendidikan, Ed. II (Bandung : Remaja Rosdakarya,
2000) hal. 7.
12 Muhibbin, Prestasi, hal. 63.

bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.13


Selanjutnya Slameto mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan yang
tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang
diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.14
Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya
terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih
mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Untuk
menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa
diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat
belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi
terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa
yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
d) Motivasi
Dalam proses belajar motivasi merupakan faktor yang penting karena hal
tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan
belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara
mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar
mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.
Syamsuddinmengatakan motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu.15 Sedangkan Muhibbin mengatakan bahwa motivasi

13 Winkel, Beyond Quantum Teaching, Terj. (Bandung : Nuansa, 2000), hal. 169.

14 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor ..., hal. 64.


15 Syamsuddin, Psikologi ..., hal. 73.

adalah menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan


sesuatu.16
Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam
yaitu (a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi ekstrinsik. 17 Motivasi instrinsik
dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang
atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar.
Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari
luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan
belajar.
Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala
kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran
tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif
dengan alasan mengapa siswa mau menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan
motivasi kepada siswa, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan
kehendak sendiri dan belajar secara aktif.
2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar
yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman,
keadaankeluarga,lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Menurut Slameto faktor
ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah keadaan keluarga, keadaan
sekolah dan lingkungan masyarakat.18
16 Muhibbin, Prestasi ..., hal. 77.

17 Syamsuddin, Psikologi , hal. 74.


18 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor ..., hal. 60.

a) Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat
seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto
bahwa: Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga
yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan
dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.
Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan
seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk
belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong
dari luar yang menambah motivasi untuk belajar.
Dalam hal keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama,
karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan
bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah
sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.
Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai
dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan
pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang
baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil
belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus
menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian
orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar

dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik
untuk belajar.
b) Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat
penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan
sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan
sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alatalat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan
mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.
Menurut Syamsuddin mengemukakan guru dituntut untuk menguasai
bahan pelajaran yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam
mengajar.19 Oleh sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran
yang disajikan, dan memiliki metode yang tepat dalam mengajar.
Metode pembelajaran konstekstual yang menghubungkan pembelajaran
dengan dunia nyata, merupakan salah satu metode yang diyakini mempengaruhi
hasil belajar siswa menjadi lebih baik.
c) Lingkungan
Lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit
pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan.
Karena

lingkungan

alam

sekitar

19 Syamsuddin, Psikologi ..., hal. 76.

sangat

besar

pengaruhnya

terhadap

perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih
banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada.
Dalam hal ini Slameto berpendapat: Lingkungan masyarakat dapat
menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya.
Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka
anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak-anak di
sekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada
menentukan anakpun dapat terpengaruh pula.20
Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian
anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan
dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila
seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar
maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya,
sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya.

3. Upaya Peningkatan Hasil belajar Siswa


Hasil belajar merupakan gambaran dari suatu tingkat keberhasilan siswa
dalam belajar. Banyak faktor yang turut mempengaruhi sekaligus menentukan
keberhasilan dalam belajar ini, yang antara lain telah dijelaskan di atas.
Guru yang sering memberikan latihan-latihan dalam rangka pemahaman
materi matematika akan menghasilkan siswa yang lebih baik bila dibandingkan
dengan guru yang hanya sekedar menjelaskan dan tidak memberi tindak lanjut

20 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor ..., hal. 84.

secara kontinyu. Dengan kata lain, hasil belajar siswa sangat ditentukan oleh cara
mengajar guru matematika yang akan menciptakan kebiasaan belajar pada siswa.21
Pembelajaran dengan pemilihan mode yang sesuai dengan materi
pembelajaran tentu akan membuat hasil belajar yang berbeda. Seorang guru yang
mengandalkan metode ceramah dalam pembelajarannya akan membuat siswa
jenuh dan kemudian timbul rasa tidak berminat terhadap materi yang
disampaikan. Akibatnya hasil belajar akan buruk. Inovasi pembelajaran dirasakan
perlu diterapkan dalam pembelajaran agar minat siswa menjadi lebih baik dan
hasil belajar akan meningkat.
Berkaitan dengan hasil belajar ada tiga tujuan penelitian dalam proses
pembelajaran, yaitu:
a.

Pengambilan keputusan tentang hasil belajar.

b.

Pemahaman tentang peserta didik.

c.

Perbaikan dalam pengembangan program pengajaran.22


Pengambilan keputusan tentang hasil belajar ini merupakan suatu keharusan

yang harus dilakukan oleh guru untuk menentukan tinggi rendahnya hasil belajar
siswa. Di samping itu penilaian terhadap hasil belajar siswa juga untuk memahami
dan mengetahui tentang siap dan bagaimana peserta didik itu. Pemahaman tentang
siswa ini untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan
yang dimilikinya dalam bidang studi matematika, agar mempermudah dan
membantu guru dalam mengembangkan program pengajaran yang harus
diberikan.
Sedangkan untuk menentukan nilai akhir dan mengukur hasil belajar siswa,
maka perlu evaluasi yang bisa berupa tes formatif maupun tes sumatif. Akan tetapi
21http:google/artikelmotivasi.com, online, diakses tanggal 26 Januari 2010
22A.M, Sardiman,Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,(Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2005), hal 204.

sebelum melakukan evaluasi perlu disusun standar penilaian terlebih dahulu untuk
menentukan tinggi rendahnya hasil belajar siswa dengan harapan mendapat data
sebagai bahan informasi guna mempermudah dalam melaksanakan evaluasi
terhadap kegiatan pengajaran.
Oleh karena itu, dengan adanya evaluasi atau tes tersebut maka akan
diketahui sejauh mana kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktivitas dan
juga untuk memotivasi siswa agar lebih giat belajarnya atau dengan kata lain
siswa akan mengetahui hasil belajarnya dalam kurun waktu yang tertentu.