Anda di halaman 1dari 4

Femmi Anwar

260110130097
Tugas Bahari

Potensi Mangrove Bidang Farmasi


Achmad ( 2004) menyatakan bahwa seperempat dari hutan mangrove dunia terdapat di
Indonesia dengan luas 4.251.000 hektar dan memiliki keanekaragaman hayati yang beragam dengan
89 jenis tumbuhan mangrove (Harwoko dan Esti, 2010). Pemanfaatan sumber alam bahari selama ini
belum optimal. Padahal, potensi farmasi dan kosmetika olahan dari hayati laut Indonesia mencapai 9
triliun dollar AS atau setara dengan Rp 81.000 triliun per tahun (Ero, 2014).
Untuk Jawa tengah laut Cilacap memiliki potensi yang paling besar untuk mengembangkan
komoditi pangan dan obat dari potensi kelautan (Ero, 2014). Hadiyati T (2000), menyatakan bahwa
hutan mangrove di pantai Cilacap mencapai 15.145 hektar dengan 17 jenis tumbuhan mangrove
(Harwoko dan Esti, 2010). Dengan hutan mangrove yang luas di Cilacap, sebenarnya juga potensi
alam kelautan yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku farmasi antara lain dari rumput laut,
mikroba laut, alga, tanaman bakau (mangrove), minyak ikan, ikan sidat, dan beberapa jenis tanaman
yang berada di pesisir pantai Cilacap lainnya (Ero, 2014).
Menutut Soetarno (2000) tumbuhan mangrove mengandung senyawa bioaktif golongan tanin,
saponin, terpenoid, alkaloid dan steroid dengan aktivitas sebagai anti mikroba, antifungi, antivirus,
antitumor, insektisida dan antileukemia. Warsinah dan Yulia (2007) telah membuktikan bahwa ekstrak
metanol kulit batang R. mucronata mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan
IC50 sebesar 308 g/mL (Harwoko dan Esti, 2010).
Rhizopora mucronata (bakau) potensial untuk dikembangkan sebagai antikanker melalui
penelitian dengan mengetahui aktivitas sitotoksik fraksi n-heksana : kloroform dari ekstrak metanol
kulit batang Rhizopora mucronata pada sel Myeloma secara in vitro dan menentukan nilai.Harwoko
dan Esti, 2010 telah membuktikan bahwa Fraksi n-heksana : kloroform dari ekstrak metanol kulit
batang Rhizopora mucronata memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker myeloma dengan nilai IC 50
sebesar 15 g/mL serta kandungan kimia dalam fraksi tersebut adalah senyawa flavonoid dan
terpenoid IC50 (Harwoko dan Esti, 2010).
Menurut kamiso (2004) Berbagai upaya untuk menanggulangi penyakit bakterial antara lain
penggunaan antibiotik, vaksin, imunostimulan dan penggunaan biokontrol serta aplikasi ekstrak
tumbuhan tidak lepas dari dampak merugikan yang bisa ditimbulkan utamanya penggunaan
antibiotic(Darminto, 2011). Zat-zat antibiotik tersebut dapat meningkatkan resistensi hama yang ingin
ditanggulangi sehingga semakin tidak mempan atau dosis yang digunakan akan terus meningkat.
Salah satu alternatif untuk memecahkan masalah ini adalah dengan menggunakan produk alam
misalnya mangrove (Trianto, 2004).
Di Indonesia Bahan baku pembuatan antibiotik bahan lokal yang lebih murah, mudah didapat
dan terutama ramah lingkungan belum digunakan dalam budidaya perikanan. Eksplorasi sumberdaya
hayati laut (flora dan fauna) dalam bidang pengobatan masih kurang. Terutama pada potensi senyawa
pada tumbuhan mangrove sebagai kandidat fitofarmaka budidaya perairan yang kemungkinan
memiliki potensi farmakologik sebagai antimikrobia belum banyak dikaji (Darminto, 2011).

Menurut Leswara (1987) dalam Kokpol (1987), ekstrak dari beberapa jenis tumbuhan
mangrove seperti : Rhizophora stylosa, Soneratia griffithii, Kandelia candel, Aegiceras floridum dan
Excoecaria agallocha, telah diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphyloccoccus
aureus karena menghasilkan senyawa metabolik sekunder yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroba bahkan dapat membunuh mikroorganisme. Senyawa inilah yang dapat mengendalikan
populasi mikroorganisme patogen pada perairan sekitar hutan mangrove (Trianto, 2004).
Salah satu yang menjadi sumber antibiotik alami adalah tumbuhan mangrove, yang
merupakan kekayaan alam potensial, kurang lebih 27% populasi mangrove dunia tumbuh di
Indonesia. Di Indonesia hutan mangrove tersebar di sepanjang pantai Sumatera, Kalimantan dan Irian
Jaya. Jenis yang sering ditemukan di Indonesia dan merupakan ciri-ciri utama dari hutan mangrove
adalah genera Avicennia, Sonneratia, Ceriops, Brugueira, dan beberapa spesies dari genera
Rhizophora (Nobbs, and McGuinness, 1999).
Kajian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa senyawa pada tanaman mangrove memiliki
potensi sebagai antibakteri A.hydropila penyebab kematian pada ikan budidaya (Darminto, 2011).
Kulit batang tumbuhan Avecennia spp digunakan oleh Darminto (2011) untuk mengetahui potensi
menghambat pertumbuhan bakteri pada ikan budidaya. Pengujian tersebut dilakukan dengan empat
tahapan, yaitu ekstraksi dan fraksinasi, pengujian aktivitas antibakteri (uji in vitro), penentuan IC50
senyawa bioaktif dan uji efektifitas kandidat fitofarmaka secara In Vivo. Penelitian ini difokuskan
pada komponen yang memiliki aktivitas lebih tinggi yaitu pada kelompok senyawa yang memiliki
polaritas rendah (Darminto, 2011).
Berdasarkan hasil fraksinasi, maka diperoleh 14 fraksi yang selanjutnya fraksi 3 dan 4 yang
memiliki aktivitas antibakteri digabung menjadi satu yang diberi kode 3-4. Gabungan fraksi 3-4,
difraksinasi lebih lanjut sehingga diperoleh fraksi 3-4.1 dan 3-4.2 yang aktif menghambat bakteri uji.
Selanjutnya komponen fraksi ini yang digunakan sebagai senyawa kandidat fitofarmaka. Fraksi yang
dianggap paling tinggi aktivitasnya digunakan sebagai agen antibakteri (Darminto, 2011).
Kemampuan menghambat bakteri uji dari komponen bioaktif tersebut berpotensi membunuh
atau mengganggu jika diaplikasi pada ikan budidaya. Untuk mengetahui sejauhmana komponen
tersebut tidak menimbulkan efek yang merugikan, maka dilakukan pengujian IC50 terhadap sel
normal (vero). Hasil pengujian menunjukkan semua komponen yang diuji tidak ada satupun yang
berpotensi sebagai senyawa yang merugikan sel normal (Darminto, 2011).
Selanjutnya pengujian viabilitas ikan uji terhadap bakteri uji menunjukkan bahwa perlakuan
D, E, F dan KTR tidak berbeda nyata pada uji Beda Nyata Terkecil pada taraf kepercayaan 1%. Hasil
menunjukkan bahwa semakin sedikit jumlah senyawa bioaktif, maka populasi bakteri patogen makin
tinggi, sehingga mempengaruhi kesehatan ikan uji (Darminto, 2011).
Menurut Dawes (1981) dan Dropkin (1985) Aegiceras corniculatum termasuk dalam famili
Aegicerateceae adalah salah satu jenis mangrove yang telah diketahui mengandung bahan antibiotik.
Tanaman ini berupa semak atau pohon kecil yang tersebar secara luas di rawa-rawa mangrove di Asia
dan Australia (Trianto, 2004).
Untuk mengetahui kandungan antibiotic pada daun Aegiceras corniculatum Trianto (2004)
melakukan penelitian. Metoda penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris,
selanjutnya data dianalisa secara deskriptif. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi;
sampling, ekstraksi, persiapan kultur bakteri dan uji anti bakteri (Trianto, 2004).
Ekstraksi daun Aegiceras corniculatum dengan metanol menghasilkan ekstrak kasar yang
berupa pasta yang berwarna coklat kehitaman sebanyak 53 gram atau 13,25 % dari berat basah
sampel. Bakteri yang digunakan adalah bakteri Vibrio harveyi dan Vibrio parahaemolyticu yang
dikulturkan dengan berbagai tahap dengan tahap terakhir di kulturkan pada media Nutrient Broth.
Dalam pengujian anti bakteri ini, digunakan kontrol negatif yang merupakan methanol yang juga

sebagai pelarut, kontrol positif yang antibiotik Amoxilin sebesar 5 mg dilarutkan dalam 10 ml
aquadest, sehingga kadarnya menjadi 500 ppm.
Hasil uji anti bakteri menunjukan bahwa ekstrak A. Corniculatum mampu menghambat
pertumbuhan Vibrio parahaemolyticus dengan zona hambatan 0,275-0,55 mm, namun tidak dapat
menghambat V. harveyi. Adanya zona hambatan pada cakram yang terendam ekstrak, membuktikan
bahwa senyawa bioaktif dalam ekstrak daun mangrove Aegiceras corniculatum bekerja efektif dan
bukan dari pengaruh metanol karena pada kontrol negatif, dalam hal ini metanol tidak terbentuk zona
hambatan. Sedangkan hasil pengujian pada ekstrak daun mangrove Aegiceras corniculatum
menunjukkan zona hambatan yang lebih kecil dibandingkan dengan zona hambatan yang terbentuk
oleh amoxilin (Trianto, 2004).
Menurut Margaretha et al Jeruju (1999) dan Manilal et al (2009) (Acanthus ilicifolius) adalah
tumbuhan bakau yang mempunyai senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri. Wostmann
dan Liebezeid menyatakan (2008 )tumbuhan jeruju yang berasal dari Pulau Sumatera bagian timur
mempunyai kandungan metabolit, dengan komposisi kimia alkaloid, flavonoid, asam lemak, steroid,
lignan dan komponen phenol, dan terpenoid.
Saptiani, dkk (2012) melakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas antibakterial pada
tumbuhan jeruju dilakukan uji in vitro dengan menggunakan (metode uji daya hambat) agar disc
diffusion method. Metode tersebut digunakan untuk mengetahui aktivitas ataupun potensi bahan
untuk menghambat pertumbuhan suatu bakteri. Hasilnya, ekstrak jeruju mempunyai aktivitas
menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi secara in vitro. Ekstrak daun jeruju mempunyai daya
hambat yang paling baik, diikuti oleh buah, bunga, dan batang Saptiani, dkk (2012).

Daftar Pustaka

Achmad, S. A., 2004, Kimia Bahan Alam, Suatu Pendekatan untuk Memahami Potensi
Keanekaragaman Hayati dalam Bioindustri, Prosiding Seminar Nasional, Universitas
Airlangga, Surabaya, 5 September 2004, 1- 25.
Darminto, 2011. Skrining Senyawa Bioaktif pada Tumbuhan Mangrove yang Dapat Menghambat
Pertumbuhan Bakteri Penyebab Penyakit Red Spot Disease. Tersedia online di :
http://webcache.googleusercontent.com/search?
q=cache:CrXxXw8Wr9sJ:ojs.unm.ac.id/index.php/chemica/article/download/137/pdf+&cd=
3&hl=en&ct=clnk&gl=id (diakses 23 april 2015)
Ero,

2014. Cilacap Potensi Bahan Baku Farmasi. Tersedia online di:


http://krjogja.com/read/239529/cilacap-potensi-bahan-baku-farmasi.kr
(diakses 23 April 2015)

Hadiyati, T., 2000, Zonasi Mangrove Pada Daerah Akresi dan Non Akresi di
Segara Anakan Cilacap, Biosfera, A Scientific Journal. Vol 17

Harwoko dan Esti, 2010. AKTIVITAS SITOTOKSIK FRAKSI n-HEKSANA :


KLOROFORM DARI EKSTRAK METANOL KULIT BATANG MANGROVE
(Rhizopora mucronata) PADA SEL KANKER MYELOMA. Tersedia online di:
http://mot.farmasi.ugm.ac.id/files/961.%20harwoko.pdf (diakses 23 April
2015)

Kamiso,H.N, 2004. Status Penyakit Ikan dan Pengendaliannya. Makalah


Seminar Nasional Penyakit Ikan dan Udang IV, Purwekerto.
Kokpol, U. 1987. Procedings of UNESCO Regional Seminar on The Chemistry of
Mangrove Plants. Chualalongkorn University. Bangkok
Manilal A, Sujith IS, Kiran GS, Selvin J, Shakir C. 2009. Biopotentials of Mangroves
Collected from the Southwest Coast of India. Global J of Biotech &
Biochem. 4 (1): 59- 65
Margaretha D, Soetarno S, Ruslan K, E Yulinah S. 1999. Telaah Fitokimia dan Uji
Aktivitas Antimikroba Daun dan Batang Jeruju (Acanthus ilicifolius Linn.,
Acanthaceae). Penelitian obat bahan alam. Bandung Depart. Farmasi ITB.
http:// bahan-alam.fa.itb.ac.id (28 April 2009) (diakses 23 April 2015).
Nobbs, M and McGuinness, K.A. 1999. Developing methods for quantifying the
apparent abundance of fiddler crabs (Ocypodidae: Uca) in mangrove
habitats. Australian Journal of Ecology 24:43-49.
Saptiani. dkk, 2012. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Jeruju (Acanthus ilicifolius)
terhadap Pertumbuhan Vibrio harveyi Secara in vitro. Tersedia online di :
http://ojs.unud.ac.id/index.php/jvet/article/viewFile/6013/4491
(diakses
23 April 2015)
Soetarno, S., 2000, Potensi dan Manfaat Tumbuhan Mangrove sebagai Sumber
Bahan Bioaktif, Acta Pharmaceutica Indonesia, 12 (4): 84- 103.
Trianto, 2004. Ekstrak Daun Mangrove Aegiceras corniculatum sebagai
Antibakteri Vibrio harveyi dan Vibrio parahaemolyticus. Tersedia online
di : http://ejournal.undip.ac.id/index.php/ijms/article/viewFile/2336/2058
(diakses 23 April 2015)