Anda di halaman 1dari 22

SMF/Lab Ilmu Bedah

Mini Cex

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Pneumotoraks Spontan

Disusun Oleh
Rahayu Asmarani
0910015017

Pembimbing
dr.Ivan Joalshen, Sp.B,TKV

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


SMF Ilmu Bedah
RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Paru-paru merupakan unsur elastis yang akan mengempis seperti balon dan
mengeluarkan semua udaranya melalui trakea bila tidak ada kekuatan untuk
mempertahankan pengembangannya. Paru-paru sebenarnya mengapung dalam rongga
toraks, dikelilingi oleh suatu lapisan tipis cairan pleura yang menjadi pelumas bagi
gerakan paru-paru di dalam rongga. Jadi pada keadaan normal rongga pleura berisi
sedikit cairan dengan tekanan negatif yang ringan.1
Pneumotoraks didefinisikan sebagai adanya udara atau gas dalam rongga
pleura, yaitu, di ruang potensial antara pleura viseral dan parietal paru-paru. Hasilnya
adalah kolaps dari paru-paru pada sisi yang terkena. Udara bisa masuk ruang
intrapleural melalui komunikasi dari dinding dada (seperti trauma) atau melalui
parenkim paru-paru di pleura viceralis. Dengan adanya udara dalam rongga pleura
tersebut, maka akan menimbulkan penekanan terhadap paru-paru sehingga paru-paru
tidak dapat mengembang dengan maksimal sebagaimana biasanya ketika bernapas.2
Pneumotoraks dapat diklasifikasikan menjadi pneumotoraks spontan dan
traumatik. Pneumotoraks spontan merupakan pneumotoraks yang terjadi tiba-tiba
tanpa atau dengan adanya penyakit paru yang mendasari. Pneumotoraks jenis ini
dibagi lagi menjadi pneumotoraks primer (tanpa adanya riwayat penyakit paru yang
mendasari) maupun sekunder (terdapat riwayat penyakit paru sebelumnya).
Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat bersifat iatrogenik dan non iatrogenik.
Pneumothorax iatrogenik merupakan tipe pneumothorax yang sangat sering terjadi.2
Insidensi pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak yang tidak
diketahui. Laki-laki lebih sering daripada wanita, dengan perbandingan 5 : 1, banyak
dijumpai pada dekade 3 dan 4. Pneumothorax spontan sering juga dijumpai pada
individu sehat, tanpa riwayat paru sebelumnya.2

1.2 Tujuan
2

1. Menambah ilmu dan pengetahuan mengenai penyakit pneumotoraks


2. Membandingkan informasi yang terdapat pada literatur dengan kenyataan pada
kasus.
3. Melatih mahasiswa dalam melaporkan dengan baik suatu kasus yang didapat dari
anamnesa hingga penatalaksanaan dan follow up

BAB II
LAPORAN KASUS
A. Anamnesis
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 9 Februari 2015 di ruang perawatan paru
Seruni RSUD AW Sjahranie, Samarinda.
Identitas Pasien:
- Nama
- Jenis Kelamin
- Umur
- Status
- Pekerjaan
- Pendidikan Terakhir

: Ny. MS
: Perempuan
: 56 tahun
: Menikah
: Ibu Rumah Tangga
: SD
3

- Alamat
- Masuk Rumah Sakit
- Tanggal pemeriksaan

: Jln. Bayur RT.019


: 6 Februari 2015
: 9 Februari 2015

Keluhan Utama
Sesak napas
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merasakan sesak napas sejak 4 hari sebelum masuk rumah
sakit. Sebelumnya pasien mengaku sering mengalami sesak napas namun hilang
jika pasien beristirahat. Sesak biasanya muncul saat pasien berjalan kurang lebih
15 meter dan jika pasien kelelahan juga bila cuaca dingin. Sesak napas yang
dialami membaik saat pasien beristirahat. Namum 4 hari belakangan, sesak
bertambah parah sehingga mengganggu aktivitas pasien. Selain sesak pasein juga
mengeluhkan batuk berdahak. Batuk disertai lendir berwarna putih kental. Pasien
mengaku pernah menajalani pengobataan TB paru 6 bulan dan telah selesai
pengobatan dan dinyatakan sembuh kira- kira setahun yang lalu. BAB dan BAK
dalam batas normal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat batuk lama dan pernah menjalani pengobatan TB

paru selama 6 bulan dan sekarang telah selesai.


Riwayat asma (+).
Riwayat Hipertensi disangkal.
Riwayat Diabetes Mellitus, alergi disangkal.
Riwayat penyakit jantung tidak diketahui pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga


Ibu pasien memiliki keluhan serupa yaitu sesak napas namun tidak periksa ke
dokter.
Riwayat Diabetes Mellitus, hipertensi, dan alergi disangkal.
B. Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata : dialkukan pada tanggal 09-02-2015
1. Keadaan Umum

: Sakit berat
4

2. Kesadaran
: Compos Mentis
3. Tanda vital
:
- Tekanan Darah : 120/80 mmHg
- Nadi
: 98 x/menit, reguler, kuat angkat
- Frekuensi napas : 28 x/menit
- Temperatur
: 36,6oC
4. Kepala-Leher :
Normocephal, Konjungtiva anemis (-/-), ikterik (-/-), bibir sianosis (-), faring
hiperemis (-), tonsil hiperemis (-), pembesaran KGB (-).
5. Thoraks :
- Paru :
a. Inspeksi : Pergerakan dada simetris D=S, retraksi suprasternal (+),
retraksi dinding dada (-)
b. Palpasi
: fremitus raba simetris D=S
c. Perkusi
: Hipersonor di lapangan paru dekstra
d. Auskultasi : Vesikuler (+), rhonki (-/+), wheezing (+/-).
- Jantung :
a. Inspeksi
b. Palpasi
c. Perkusi

: Ictus Cordis tampak (-)


: Ictus Cordis teraba (+) di ICS V Midclavicula Line Sinistra
: Batas kanan jantung di Parasternal Line Dextra, batas kiri

di ICS V Midclavicula Line Sinistra


d. Auskultasi : S1 dan S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
6. Abdomen
:
a. Inspeksi : Datar, Distensi (-)
b. Palpasi
: Nyeri tekan epigastrium (+), massa (-), hepar dan lien tidak
teraba
c. Perkusi
: Timpani, ascites (-), nyeri ketok hepar (-)
d. Auskultasi : Bising usus normal
7. Ekstremitas
: Akral hangat, edema (-)
C. Pemeriksaan Penunjang
Hasil laboratorium
Laboratorium
Hb
Hct
Leukosit
Trombosit
GDS
SGOT
SGPT
Alkali Phospatase
Gama GT
Bilirubin total

06-02-2015
14,6 gr/dl
40,9 %
11.300
357.000
121 mg/dl
20 U.I
11 U.I
-

09-02-2015
12,1 gr/dl
35,7 %
10.900
310.000
91 mg/dl
37U.I
34 U.I
0,5 mg/dl
5

Bilirubin direct
Bilirubon indirect
Protein total
Albumin
Ureum
Creatinin
AB HIV
HbsAg
Na
K
Cl

40,8 mg/dl
0,6 mg/dl
NR
NR
140
3,7
103

0,1 mg/dl
0,4 mg/dl
7,3 mg/dl
4,0 g/dl

D. Diagnosis Kerja
- Pneumotoraks Dextra
- SOPT Eksaserbasi akut
E. Penatalaksanaan
- Pemasangan Chest Tube
- Rawat luka GV tiap 2 hari
- Nacl 0,9% 20 tetes/menit
- Drip Tramadol 3x100 mg
- Inj. Ranitidin 3x50 mg IV
- Tiap balon 3x3 biji
F. Prognosis
Dubia et bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi

Pneumothorax adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam


rongga pleura, sehingga menyebabkan pendesakan terhadap jaringan paru
yang menimbulkan gangguan dalam pengembangannya terhadap rongga dada
saat proses respirasi. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara,
supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap rongga dada.2
Pneumothorax dapat terjadi secara spontan atau traumatik.
Pneumothorax Pneumotoraks spontan itu sendiri dapat bersifat primer dan
sekunder. Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat bersifat iatrogenik dan
non iatrogenik.2

Gambar 1 pneumothorax
3.2 Epidemiologi
Insidensi pneumotoraks sulit diketahui karena episodenya banyak yang
tidak diketahui. Laki-laki lebih sering daripada wanita, dengan perbandingan 5
: 1, banyak dijumpai pada dekade 3 dan 4. 2
Pneumotoraks spontan primer biasanya terjadi pada anak laki-laki yang
tinggi, kurus dan usia 10-30 tahun. Incidens pada usia tertentu: 7,4-18 kasus
per 100.000 orang per tahun pada laki-laki 1,2-6 kasus per 100.000 orang per
tahun pada perempuan. Sedangkan pneumotoraks spontan sekunder Puncak
kejadian di usia 60-65 tahun insidensi 6,3 kasus per 100.000 orang per tahun
pada laki-laki 2,0 kasus per 100.000 orang per tahun pada perempuan 26 per
100.000 pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik per tahun. 3
Sementara itu, pneumotoraks traumatik dapat disebabkan oleh trauma
langsung maupun tidak langsung pada dinding dada. Pneumothorax traumatik
di perkirakan 40% dari semua kasus pneumothoraks. Diklasifikasikan
menjadi

iatrogenik

maupun

non-iatrogenik.

Pneumotoraks

iatrogenik

merupakan tipe pneumotoraks yang sangat sering terjadi. 2,4


Rekurensi akan terjadi pada sekitar 30% dari 45% primer dan sekunder
pneumotoraks. Hal ini sering terjadi dalam 6 bulan, dan biasanya dalam waktu
3 tahun. 5
3.3. Klasifikasi
1. Klasifikasi Pneumotoraks Berdasarkan Mekanisme Kejadian
a) Pneumotoraks spontan

Pneumotoraks Spontan Primer


Pneumotoraks ini merupakan pneumotoraks yang terjadi pada paruparu yang sehat dan tidak ada pengaruh dari penyakit yang mendasari.
Umumnya, kejadian ini terjadi pada individu bertubuh sehat, dewasa
muda, tidak berhubungan dengan aktifitas fisik yang berat dan sampai

sekarang belum diketahui penyebabnya. 2


Pneumotoraks Spontan Sekunder
PSS merupakan pneumotoraks yang terjadi pada pasien dengan
penyakit paru yang mendasari. Umumnya PSS terjadi sebagai
komplikasi COPD, fibrosis kistik, asma bronkial, tuberkulosis,
pneumocystits pneumonia, tumor paru. Secara umum udara pada PSS
memasuki rongga pleura melalui alveoli yang melebar atau rusak.
8

Perburukan klinis dan sequelae biasanya terjadi akibat adanya kondisi


komorbid. 2,6
b) Pneumotoraks Traumatik
Pneumothoraks traumatik adalah pneumothorak yang terjadi akibat trauma,
baik trauma penetrasi maupun buka yang menyebabkan robeknya pleura,
dinding dada maupun paru. 2
Pneumotoraks Traumatik Iatrogenik
Pneumotoraks iatrogenik merupakan pneumotoraks yang terjadi akibat
komplikasi dari tindakan medis. Tindakan seperti thoracocentesis,
biopsi pleura, pemasangan kateter vena sentral, biopsi paru perkutan,
bronkoskopi dengan biopsi transbronkial, aspiasi transtoracic, dan
ventilasi tekanan positif dapat menjadi etiologinya. 2
Pneumotoraks jenis ini pun masih dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Pneumotoraks traumatik iatrogenik aksidental adalah suatu
pneumotoraks yang terjadi akibat tindakan medis karena
kesalahan atau komplikasi dari tindakan tersebut, misalnya
pada parasentesis dada, biopsi pleura.
2) Pneumotoraks traumatik iatrogenik artifisial (deliberate) Adalah
suatu pneumotoraks yang sengaja dilakukan dengan cara
mengisikan udara ke dalam rongga pleura. Biasanya tindakan
ini dilakukan untuk tujuan pengobatan, misalnya pada
pengobatan tuberkulosis sebelum era antibiotik, maupun untuk
menilai permukaan paru. 2,6
Pneumotoraks Traumatik Non Iatrogenik
Pneumotoraks jenis ini terjadi akibat trauma tumpul atau tajam yang
merusak pleura viseralis atau parietalis. Pneumotoraks traumatik non
iatrogenik juga dapat terjadi akibat barotrauma. 2
2. Klasifikasi Pneumotoraks Berdasarkan Jenis Fistulanya
a) Pneumotoraks Tertutup (Simple Pneumothorax)
Pada tipe ini, pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka pada
dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar. Tekanan di
dalam rongga pleura awalnya mungkin positif, namun lambat laun berubah
menjadi negatif karena diserap oleh jaringan paru disekitarnya. Pada
kondisi tersebut paru belum mengalami reekspansi, sehingga masih ada
rongga pleura, meskipun tekanan di dalamnya sudah kembali negatif. Pada
waktu terjadi gerakan pernapasan, tekanan udara di rongga pleura tetap
negatif. Misal terdapat robekan pada pleura viseralis dan paru atau jalan
9

nafas atau esofagus, sehingga masuk kavum pleura karena tekanan kavum
pleura negatif. 2,6
b) Pneumotoraks Terbuka (Open Pneumothorax)
Pneumotoraks terbuka yaitu pneumotoraks dimana terdapat hubungan
antara rongga pleura dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia
luar karena terdapat luka terbuka pada dada. Dalam keadaan ini tekanan
intrapleura sama dengan tekanan udara luar. Pada pneumotoraks terbuka
tekanan intrapleura sekitar nol. Perubahan tekanan ini sesuai dengan
perubahan tekanan yang disebabkan oleh gerakan pernapasan. Pada saat
inspirasi tekanan menjadi negatif dan pada waktu ekspirasi tekanan menjadi
positif. Selain itu, pada saat inspirasi mediastinum dalam keadaan normal,
tetapi pada saat ekspirasi mediastinum bergeser ke arah sisi dinding dada
yang terluka (sucking wound). 6
c) Pneumotoraks Ventil (Tension Pneumothorax)
Pneumotoraks ventil adalah pneumotoraks dengan tekanan intrapleura yang
positif dan makin lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura
viseralis yang bersifat ventil. Pada waktu inspirasi udara masuk melalui
trakea, bronkus serta percabangannya dan selanjutnya terus menuju pleura
melalui fistel yang terbuka. Waktu ekspirasi udara di dalam rongga pleura
tidak dapat keluar. Akibatnya tekanan di dalam rongga pleura makin lama
makin tinggi dan melebihi tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul dalam
rongga pleura ini dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal
napas. 4,6
3.4. Patofisiologi
Pneumotorak spontan, closed pneumotorak, simple pneumotorak,
tension pneumotorak, dan open pneumotorak. Pneumotorak spontan terjadi
karena lemahnya dinding alveolus dan pleura visceralis. Apabila dinding
alveolus dan pleura viceralis yang lemah ini pecah, maka akan ada fistel yang
menyebabkan udara masuk ke dalam cavum pleura. Mekanismenya pada saat
inspirasi rongga dada mengembang, disertai pengembangan cavum pleura
yang kemudian menyebabkan paru dipaksa ikut mengembang, seperti balon
yang dihisap. Pengembangan paru menyebabkan tekanan intraalveolar
menjadi negatif sehingga udara luar masuk. Pada pneumotorak spontan, paruparu

kolpas, udara inspirasi ini bocor masuk ke cavum pleura sehingga

tekanan intrapleura tidak negatif. Pada saat inspirasi akan terjadi hiperekspansi
cavum pleura akibatnya menekan mediastinal ke sisi yang sehat. Pada saat
10

ekspirasi mediastinal kembali lagi ke posisi semula. Proses yang terjadi ini
dikenal dengan mediastinal flutter.2,6
Pneumotorak ini terjadi biasanya pada satu sisi, sehingga respirasi paru
sisi sebaliknya masih bisa menerima udara secara maksimal dan bekerja
dengan sempurna.
Terjadinya hiperekspansi cavum pleura tanpa disertai gejala pre-shock
atau shock dikenal dengan simple pneumotorak. Berkumpulnya udara pada
cavum pleura dengan tidak adanya hubungan dengan lingkungan luar dikenal
dengan closed pneumotorak. Pada saat ekspirasi, udara juga tidak dipompakan
balik secara maksimal karena elastic recoil dari kerja alveoli tidak bekerja
sempurna. Akibatnya bilamana proses ini semakin berlanjut, hiperekspansi
cavum pleura pada saat inspirasi menekan mediastinal ke sisi yang sehat dan
saat ekspirasi udara terjebak pada paru dan cavum pleura karena luka yang
bersifat katup tertutup terjadilah penekanan vena cava, shunting udara ke paru
yang sehat, dan obstruksi jalan napas. Akibatnya dapat timbulah gejala preshock atau shock oleh karena penekanan vena cava. Kejadian ini dikenal
dengan tension pneumotorak.2,4
Pada open pneumotorak terdapat hubungan antara cavum pleura
dengan lingkunga luar. Open pneumotorak dikarenakan trauma penetrasi.
Perlukaan dapat inkomplit (sebatas pleura parietalis)atau komplit (pleura
parietalis dan visceralis). Bilamana terjadi open pneumotorak inkomplit pada
saat inspirasi udara luar akan masuk ke dalam cavum pleura. Akibatnya paru
tidak dapat mengembang karena tekanan intrapleura tidak negatif. Efeknya
akan terjadi hiperekspansi cavumpleura yang menekan mediastinal ke sisi paru
yang sehat. Saat ekspirasi mediastinal bergeser kemediastinal yang sehat.
Terjadilah mediastinal flutter. Bilamana open pneumotorak komplit maka saat
inspirasi dapat terjadi hiperekspansi cavum pleura mendesak mediastinal ke
sisi paru yang sehat dan saat ekspirasi udara terjebak pada cavum pleura dan
paru karena luka yang bersifat katup tertutup. Selanjutnya terjadilah
penekanan vena cava,shunting udara ke paru yang sehat, dan obstruksi jalan
napas. Akibatnya dapat timbulah gejala pre-shock atau shock oleh karena
penekanan vena cava. Kejadian ini dikenal dengan tension pneumotorak. 2,4
3.5. Diagnosis Pneumotoraks
1. Anamnesa
Berdasarkan anamnesa, gejala-gejala yang sering mucul adalah:

11

Sesak napas, sesak dapat samapai berat, kadang bisa hilang dalam 24
jam, apabila sebagian paru yang kolaps sudah mengembang kembali,

yang didapatkan pada 80-100% pasien


Nyeri dada hebat yang tiba-tiba pada sisi paru terkena khususnya

pada saat bernafas dalam atau batuk.


Batuk-batuk
Warna kulit yang kebiruan disebabkan karena kurangnya oksigen
(cyanosis)
Gejala tersebut dapat berdiri sendiri maupun kombinasi dan menurut
Mills dan Luce derajat gangguanya bisa mulai dari asimtomatik atau
menimbulkan gangguan ringan sampai berat.2
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik sesak nafas dan takikardi yang dapat disertai sianosis
pada pneumotorak ventil atau ada penyakit dasar paru.

Inspeksi : Pada waktu respirasi, bagian yang sakit gerakannya tertinggal,


Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat , deviasi trakhea, ruang

interkostal melebar,
Palpasi : Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau
melebar, Iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat , Fremitus

suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit


Perkusi : Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor, batas jantung terdorong
ke arah toraks yang sehat, apabila tekanan intrapleura tinggi, Pada
tingkat yang berat terdapat gangguan respirasi/sianosis, gangguan

vaskuler/syok.
Auskultasi : Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai

menghilang, Suara vokal melemah. 4,6


3. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto rntgen gambaran radiologis yang tampak pada foto rntgen kasus
pneumotoraks antara lain :
a. Bagian pneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps
akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru
yang kolaps tidak membentuk garis, akan tetapi berbentuk lobuler
sesuai dengan lobus paru.
b. Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa radio
opaque yang berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan
kolaps paru yang luas sekali. Besar kolaps paru tidak selalu
berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.

12

c. Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium


intercostals melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah.
Apabila ada pendorongan jantung atau trakea ke arah paru yang
sehat, kemungkinan besar telah terjadi pneumotoraks ventil dengan
tekanan intra pleura yang tinggi. 5
d. Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan
sebagai berikut :5
1) Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada
tepi jantung, mulai dari basis sampai ke apeks. Hal ini
terjadi apabila pecahnya fistel mengarah mendekati hilus,
sehingga

udara

yang

dihasilkan

akan

terjebak

di

mediastinum.
2) Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam
dibawah kulit. Hal ini biasanya merupakan kelanjutan dari
pneumomediastinum. Udara yang tadinya terjebak di
mediastinum lambat laun akan bergerak menuju daerah
yang lebih tinggi, yaitu daerah leher. Di sekitar leher
terdapat banyak jaringan ikat yang mudah ditembus oleh
udara, sehingga bila jumlah udara yang terjebak cukup
banyak maka dapat mendesak jaringan ikat tersebut,
bahkan sampai ke daerah dada depan dan belakang.
3) Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura, maka
akan tampak permukaan cairan sebagai garis datar di atas
diafragma Foto R pneumotoraks (PA), bagian yang
ditunjukkan dengan anak panah merupakan bagian paru
yang kolaps. 5

13

Gambar 2 pneumothoraks
parsial

14

Gambar 3 pneumothoraks
2. Analisis gas darahtotal
arteri
Dapat memberikan gambaran hipoksemi meskipun pada kebanyakan
pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal napas yang
berat secara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%. 2
15

3. CT-scan thorax
CT-scan toraks diperlukan apabila dengan pemeriksaan foto thorax
diagnosis belum dapat diteakan. Lebih spesifik untuk membedakan
antara emfisema bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara
dengan cairan intra dan ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara
pneumotoraks spontan primer dan sekunder. Sensitivitas pemeriksaan
CT-scan

untuk

mendiagnosa

emfisema

subpleura

yang

bisa

menmbulkan pnemothorax spontan primer. 2


4. Endoskopi
Merupakan pemeriksaan intensiv, memiliki sensitivitas lebih besar di
banding CT-scan. Hasil pemeriksaan endoskopi dibagi menjadi 4
derajat:
Derajat 1 : pneumothoraks dengan gambaran paru yang mendekati
normal (40%)
Derajat II: pneumothoraks dengan perlengketan disertai hemotorak
(12%)
Derajat III : pneumothoraks dengan diameter bleb atau bula <2cm
(31%)
Derajat IV : pneumothoraks dengan banyak bulla yang besar, diameter
> 2cm (17%).2
3.6. Komplikasi Pneumotoraks
Komplikasi yang dapat terjadi pada pneumotoraks antara lain adalah
pneumomediastinum dan emfisema subkutis. Pneumomediastinum dapat
terjadi melalui tiga tahap yang umum disebut dengan efek Macklin. Urutan
kejadiannya adalah terjadinya ruptur alveolar kemudian terjadi diseksi
sepanjang selubung bronkovaskuler menuju daerah hilus dan akhirnya udara
mencapai mediastinum. Pneumomediastinum jarang menyebabkan komplikasi
klinis

yang

signifikan.

Tetapi

pada

beberapa

kasus,

tension

pneumomediastinum dapat menyebabkan peningkatan tekanan mediastinum


sehingga terjadi penekanan langsung terhadap jantung atau menurunkan aliran
darah balik sehingga terjadi penurunan curah jantung. Pneumomediastinum
dapat berkembang menjadi emfiesema subkutis. Apabila udara pada subkutan
dan mediastinum sangat banyak dapat terjadi kompresi jalan napas dan
jantung.3,4

16

Gambar 5 Pneumomediastinum Gambaran pneumomediastinum pada foto thoraks


tampak sebagai daerah radiolusens di sekitar batas jantung kiri.
Emfisema subkutis terjadi akibat udara memasuki daerah-daerah
tersebut dan bermanifestasi sebagai pembengkakan tidak nyeri. Pada palpasi
akan terasa seperti kertas. Gambaran radiologis untuk emfisema subkutis
adalah radiolusen di tepian struktur anatomi terkait.Komplikasi ini dapat
memperparah keadaan pasien dengan pneumotoraks akibat kompresi jalan
napas. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan apabila terjadi distres
adalah insisi kulit dengan pisau pada daerah kulit yang mengalami
pembengkakan. 13
3.7. Penatalaksanaan Pneumotoraks
1.
Penatalaksanaan Pneumothoraks (Umum)
Tujuan utama penatalaksanaan

pneumotoraks

adalah

untuk

mengeluarkan udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk


kambuh lagi. Pada prinsipnya, penatalaksanaan pneumotoraks adalah sebagai
Primary Survey: 6
Airway
Assessment : perhatikan patensi airway, dengar suara napas, perhatikan
adanya retraksi otot pernapasan dan gerakan dinding dada.
Management :
inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh, lakukan chin-lift dan
jaw thrust,
hilangkan benda yang menghalangi jalan napas,
observasi dan Pemberian O2
apabila fistula yang menghubungkan alveoli dan rongga pleura telah
menutup, maka udara yang berada didalam rongga pleura tersebut akan
diresorbsi. Laju resorbsi tersebut akan meningkat apabila diberikan
tambahan O2. Observasi dilakukan dalam beberapa hari dengan foto
toraks serial tiap 12-24 jam pertama selama 2 hari. Tindakan ini
terutama ditujukan untuk pneumotoraks tertutup dan terbuka.
re-posisi kepala, pasang collar-neck
lakukan cricothyroidotomy atau traheostomi atau intubasi (oral / nasal)
Breathing
Assesment : Periksa frekwensi napas, Perhatikan gerakan respirasi,
Palpasi toraks, Auskultasi dan dengarkan bunyi napas

17

Management: Lakukan bantuan ventilasi bila perlu, Lakukan tindakan bedah


emergency

untuk

atasi

tension

pneumotoraks,

open

pneumotoraks,

hemotoraks, flail chest.


Circulation
Assesment : Periksa frekwensi denyut jantung dan denyut nadi, Periksa
tekanan darah, Pemeriksaan pulse oxymetri, Periksa vena leher dan warna
kulit (adanya sianosis)
Management : Resusitasi cairan dengan memasang 2 iv lines, Torakotomi
emergency bila diperlukan, Operasi Eksplorasi vaskular emergency
Tindakan Bedah Emergency (Krikotiroidotomi, Trakheostomi,

Tube

Torakostomi, Torakotomi).
2. Prinsip Penanganan pneumothorak
Observasi dan pemberian oksigen tambahan
Tindakan ini dilakukan apabila luas pneumothoraks <15% dari
hemitoraks. Apabila fistula dari alveoli ke rongga pleura telah menutup,

udara dalam rongga pleura berlahan-lahan akan direabsorpsi.


Tindakan Dekompresi
Hal ini sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus pneumotoraks
yang luasnya >15%. Pada intinya, tindakan ini bertujuan untuk
mengurangi tekanan intra pleura dengan membuat hubungan antara
rongga pleura dengan udara luar dengan cara 2 :
a. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk rongga pleura,
dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan
berubah menjadi negatif karena mengalir ke luar melalui jarum
tersebut.2,6
b. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :
1) Dapat memakai infus set. Jarum ditusukkan ke dinding dada
sampai ke dalam rongga pleura, kemudian infus set yang telah
dipotong pada pangkal saringan tetesan dimasukkan ke botol
yang berisi air. Setelah klem penyumbat dibuka, akan tampak
gelembung udara yang keluar dari ujung infus set yang berada di
dalam botol.6
2) Jarum abbocath Jarum abbocath merupakan alat yang terdiri dari
gabungan jarum dan kanula. Setelah jarum ditusukkan pada
posisi yang tetap di dinding toraks sampai menembus ke rongga
pleura, jarum dicabut dan kanula tetap ditinggal. Kanula ini
kemudian dihubungkan dengan pipa plastik infus set. Pipa infuse
18

ini selanjutnya dimasukkan ke botol yang berisi air. Setelah klem


penyumbat dibuka, akan tampak gelembung udara yang keluar
dari ujung infuse set yang berada di dalam botol. 6
3) Pipa water sealed drainage (WSD) Pipa khusus (toraks kateter)
steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan perantaraan troakar
atau dengan bantuan klem penjepit. Pemasukan troakar dapat
dilakukan melalui celah yang telah dibuat dengan bantuan insisi
kulit di sela iga ke-4 pada linea midaksilaris atau pada linea
aksilaris posterior. Selain itu dapat pula melalui sela iga ke-2 di
garis midklavikula. Setelah troakar masuk, maka toraks kateter
segera dimasukkan ke rongga pleura dan kemudian troakar
dicabut, sehingga hanya kateter toraks yang masih tertinggal di
rongga pleura. Selanjutnya ujung kateter toraks yang ada di dada
dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainnya.
Posisi ujung pipa kaca yang berada di botol sebaiknya berada 2
cm di bawah permukaan air supaya gelembung udara dapat
dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut. 4,5,6
Penghisapan dilakukan terus-menerus apabila tekanan intrapleura
tetap positif. Penghisapan ini dilakukan dengan memberi tekanan
negatif sebesar 10-20 cm H2O, dengan tujuan agar paru cepat
mengembang. Apabila paru telah mengembang maksimal dan
tekanan intra pleura sudah negative kembali, maka sebelum
dicabut dapat dilakukuan ujicoba terlebih dahulu dengan cara
pipa dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila tekanan dalam
rongga pleura kembali menjadi positif maka pipa belum bias
dicabut. Pencabutan WSD dilakukan pada saat pasien dalam
keadaan ekspirasi maksimal. 2
Torakoskopi
Yaitu suatu tindakan untuk melihat langsung ke dalam rongga toraks
dengan alat bantu torakoskop.
Torakotomi
Tindakan bedah
a. Dengan pembukaan dinding toraks melalui operasi, kemudian dicari
lubang yang menyebabkan pneumotoraks kemudian dijahit

19

b. Pada pembedahan, apabila ditemukan penebalan pleura yang


menyebabkan paru tidak bisa mengembang, maka dapat dilakukan
dekortikasi.
c. Dilakukan resesksi bila terdapat bagian paru yang mengalami
robekan atau terdapat fistel dari paru yang rusak
d. Pleurodesis. Masing-masing lapisan pleura yang tebal dibuang,

kemudian kedua pleura dilekatkan satu sama lain di tempat fistel.6


Pengobatan Tambahan
1. Pengobatan terhadap penyebabnya, misalnya pada bronkitis kronis
diberikan antibiotik apabila ada tanda-tanda infeksi, atau pada proses
tuberkulosis paru diberi obat anti tuberkulosis.
2. Istirahat total, penderita dilarang melakukan kerja keras (mengangkat
barang), batuk, bersin terlalu keras, mengejan.6

3.7. Prognosis
Pasien dengan pnemothorax spontan hampir separuhnya mengalami
kekambuhan, setelah sembuh dari observasi atau setelah pemasangan tube
thoracostomy. Kekambuhan jarang terjadi pada thorakostomi terbuka.2
Dengan drainase adekuat, bahkan bila ada penyakit paru, hampir selalu
bisa terjadi resolusi. Setelah pneumotoraks spontan primer, 30% pasien
mengalami episode

kedua dalam waktu 5 tahun. Setelah episode kedua,

tingkat rekurensi meningkat di atas 50% dan oleh karenanya penderita


disarankan untuk menjalani pleurodesis. Setelah pleurodesis jarang terjadi
rekurensi. 5

20

BAB IV
KESIMPULAN

Pneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana rongga pleura terisi oleh


udara, sehingga menyebabkan pendesakan terhadap jaringan paru yang menimbulkan
gangguan dalam pengembangannya terhadap rongga dada saat proses respirasi.2
Berdasarkan penyebabnya, pneumotoraks dapat terjadi baiksecara spontan
maupun traumatik. Pneumotoraks spontan itu sendiri dapat bersifat primer dan
sekunder. Sedangkan pneumotoraks traumatik dapat bersifat iatrogenik dan non
iatrogenik. Dan menurut fistel yang terbentuk, maka pneumotoraks dapat bersifat
terbuka, tertutup dan ventil (tension). 2
Pada prinsipnya, penanganan pneumotoraks berupa observasi dan pemberian
O2 yang dilanjutkan dengan dekompresi. Untuk pneumotoraks yang berat dapat
dilakukan tindakan pembedahan. Sedangkan untuk proses medikasi disesuaikan
dengan penyakit yang mendasarinya. 6

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, Arthur, C. Hall, John, E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Jakarta : EGC; 2006. 2.
2. Hisyam, Barmawi, Eko Budiono. 2009. Pneumotoraks Dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta
3. McCool FD, Rochester DF, et al. 2008. Pneumothorax. http: //
www .harrisonspractice.com/practice/ub/ iew/ Harrisons%20Practice/141278/all/
Pneumothorax. Diakses tanggal Diakses tanggal 1 Oktober 2013.
4. Bowman, Jeffrey, Glenn. Pneumothorax, Tension and Traumatic . Updated: 2010
May cited 2013 October 02. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/827551.
5. Alsagaff H, Mukty HA. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya:
Airlangga Suniversity Press 9.
6. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2005.p..631-7.

22