Anda di halaman 1dari 10

PERCOBAAN V

EFEK ION BERSAMAAN

A. Tujuan Percobaan
1. Memahami kelarutan garam kalsium oksalat
2. Memahami pengaruh ion sejenis pada kelarutan
3. Dapat menentukan harga tetapan hasil kali kelarutan garam kalsium oksalat

B. Dasar Teori
1. Efek Ion Sekutu dan Hasil kali kelarutan
Konsentrasi ion tertentu dalam suatu reaksi ion dapat dinaikan dengan
menambahkan suatu senyawa yang menghasilkan ion tersebut bila
terdisosiasi. Jadi ion tertentu itu dihasilkan dari senyawaan yang telah ada
dalam larutan dan juga dari reagensia yang ditambahkan, maka diberi nama
ion sekutu.

Untuk garam yang sedikit larut (yakni yang kelarutannya kurang dari
0.01 mol per liter), adalah suatu fakta eksperimen bahwa perkalian
konsentrasi-konsentrasi molecular total ion-ion adalah konstan pada
temperature konstan. Hasil kali K1 ini disebut disebut hasil kali kelarutan.
Untuk suatu elektrolit biner :

AB A + B
Ks(AB) = A+ x B-

Secara umum, untuk elektrolit ApBq terionkan menjadi ion-ion pAq+ dan qBp- :

ApBq pA + qB

Ks(AB) = Aq+p x Bp-q

Suatu kesimpulan yang masuk akal dari hubungan hasil kali kelarutan
adalah sebagai berikut. Bila suatu elektrolit yang sedikit larut yang berlebih,
katakan perak klorida, dikocok dengan air, beberapa akan menuju larutan
untuk membentuk larutan jenuh dari garam itu dan reaksi itu nampaknya
berhenti. Sebenarnya terdapat kesetimbangan berikut ini (perak klorida
terionkan sempurna dalam larutan) :

AgCl Ag+ + Cl-

Dalam larutan yang sangat encer yang menjadi perhatian, aktivitas


dapat praktis di samakan dengan konsentrasi, sehingga Ag+ x Cl- =
konst.

2. Titrasi dengan KMnO4


Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan
reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi
oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu.
Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan
titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti
Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion
logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan
permanganometri seperti: (1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat
diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan
dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif.
Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung
banyaknya ion logam yang bersangkutan. (2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula
diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci, dan dilarutkan
dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+
dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan banyaknya
dengan menitrasinya dengan KMnO4.

Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain


terletak pada:

Larutan pentiter KMnO4¬ pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam


waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai
menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan
presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa.
Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4
Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah
ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi
antara MnO4- dengan Mn2+¬. MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+

Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4


Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah
ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan
oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air.
H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2CO2↑

H2O2 ↔ H2O + O2↑

Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang


diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi
permanganometri yang dilaksanakan.

C. Bahan dan Alat


C.1. Bahan
1. Kalsium oksalat padat
2. Larutan Natrium Oksalat
3. Larutan KMnO4 0.02 M

C.2. Alat
1. 1 buah gelas beker 250mL
2. 1 buah buret 50 mL
3. 1 buah pipet gondok 10mL
4. 1 buah Erlenmeyer 250mL
5. 1 buah pipet ukur 10mL
6. 1 buah corong gelas
7. 5 buah tabung reaksi besar
8. 1 buah sendok dan pengaduk
D. Prosedur Kerja
D.1. Standarisasi larutan KMnO4 0.02M
1. Ditimbang 0.63 gram asam oksalat H2C2O4. 2H2O dan dilarutkan dalam labu
takar 100mL, diencerkan dengan akuades.
2. Diambil 5 mL larutan asam oksalat tersebut, dan ditempatkan dalam
Erlenmeyer. Ditambahkan 20mL H2SO4 2.5 M, dan dititrasi dengan larutan
standar KMnO4 yang akan distandarisasi dari buret.
3. Titrasi diulangi dua kali dan dihitung molaritas rata-ratalarutan standar
KMnO4.
D.2. Penentuan konstanta hasil kali kelarutan
1. Dibuat larutan jenuh CaC2O4 sebanyak 100mL dengan cara menambah sedikit
demi sedikit CaC2O4 padat ke dalam 100mL akuades sambil diaduk sampai
ada sedikit padatan yang tidak larut.
2. Disiapkan buret dengan larutan standar KMnO4 0.02 M. kemudian ambil
larutan jenuh kalsium oksalat yang telah dibuat pada langkah 1 sebanyak 10
mL dengan pipet gondok, dituangkan ke dalam Erlenmeyer dan dititrasi
dengan larutan standar KMnO4 sampai titik ekivalen.
3. Ditentukan konstanta hasil kali kelarutan kalsium oksalat.
D.3. Pengaruh C2O4= terhadap kelarutan CaC2O4
1. Disiapkan lima buah tabung reaksi besar yang bersih dan kering. Masing-
masing diisi dengan 10mL larutan jenuh sisa ditambah berturut-turut 2, 4, 6, 8
dan 10mL Na2C2O4 dengan dan tanpa H2SO4 10mL, kemudian diaduk sampai
terjadi pengendapan sempurna.
2. Diambil 5 mL supernatant dari masing-masing larutan tersebut untuk dititasi
dengan larutan standar KMnO4 setelah diencerkan dengan akuades menjadi
10 mL.
3. Dihitung kelarutan kalsium oksalat pada masing-masing eksperimen dan
dibuat kurva hubungan antara kelarutan dan konsentrasi ion oksalat.
E. Hasil Percobaan dan Pembahasan
E.1. Hasil Percobaan
1. Standarisasi Larutan KMnO4 0.02 M
Hasil percobaan adalah sebagai berikut (perhitungan terlampir):
No V KMnO4(mL) (I) V H2C2O4(mL).2 H2O KMnO4(2/5(II
x0.05/I)
1 5.2 5 0.0192
2 5.2 5 0.0192
3 5.2 5 0.0196

KMnO4rata-rata = 0.0193 M

2. Penentuan Konstanta Hasil kali kelarutan CaC2O4


a. Tanpa Penambahan H2SO4
Ksp = 5.83 x 10-6

b. Dengan Penambahan H2SO4


Ksp = 1.14 x 10-5

3. Pengaruh C2O42- terhadap kelarutan CaC2O4


a. menggunakan Ksp tanpa penambahan asam

V Na2C2O4 (mL) C2O42- Kelarutan(S)(g/mL)


2 0.00627 0.000925
4 0.0082 0.000707
6 0.01 0.000583
8 0.0106 0.00055
10 0.012 0.000485
Grafik Hubungan C2O42- (x) dan kelarutan(S) (y)

0.001
0.0009
0.0008
0.0007
0.0006
0.0005
0.0004
0.0003
0.0002
0.0001
0
0 0.002 0.004 0.006 0.008 0.01 0.012 0.014

b. menggunakan Ksp dengan penambahan asam

V Na2C2O4 (mL) C2O42- Kelarutan(S)(g/mL)


2 0.00627 0.0018
4 0.0082 0.0014
6 0.01 0.00114
8 0.0106 0.001075
10 0.012 0.00095

Grafik Hubungan C2O42- (x) dan kelarutan(S) (y)


0.002
0.0018
0.0016
0.0014
0.0012
0.001
0.0008
0.0006
0.0004
0.0002
0
0 0.002 0.004 0.006 0.008 0.01 0.012 0.014

E.2. Pembahasan
Awal dari percobaan adalah dilakukannya standardisasi larutan KMnO4
dengan asam oksalat, standarisasi diperlukan karena KMnO4 berada dalam
campuran dengan senyawa tingkat oksidasi Mn lainnya seperti MnO2, Mn2O3
yang berada bersama-sama di dalam larutan sehingga menurunkan
kemurniannya. kristal asam oksalat dibuat menjad larutan standar yang
diketahui secara tepat konsentrasinya sehingga konsentrasi KMnO4 dapat
diketahui. Pada titrasi yang dilakukan terdapat beberapa kesalahan (error)
yang mungkin terjadi dan menyebabkan perhitungan konsentrasi tidak
sedemikian tepat. Kesalahan-kesalahan tersebut diantaranya sebagai berikut :

Larutan pentiter KMnO4 pada buret


Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada
buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO 2 sehingga pada titik akhir
titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah
larutan berwarna merah rosa.
Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4
Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah
ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi
antara MnO4- dengan Mn2+. MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+
Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4
Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah
ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan
oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air.
H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2CO2↑
H2O2 ↔ H 2O + O 2↑
Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan
untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi yang
dilaksanakan.
Fungsi KMnO4 yaitu sebagai Oksidator dan mengalami reduksi yaitu
dengan mendonorkan electron.
Penambahan asam sulfat (H2SO4) dilakukan untuk membuat larutan
berada pada kondisi asam sehingga reaksi antara KMnO 4 dan asam oksalat
berlangsung seperti yang di kehendaki yaitu MnO4- tereduksi menjadi Mn2+,
pada kondisi basa MnO4- akan tereduksi menjadi MnO2.
Reaksi yang diinginkan terjadi adalah sebagai berikut :
5C2O42- + 2MnO4- + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O

Pada penentuan konstanta hasil kali kelarutan CaC2O4, di peroleh nilai Ksp
yaitu 5.83e-6(tanpa penambahan asam) dan 1.14e-5 (dengan penambahan
asam) sedangkan nilai Ksp standar pada temperature kamar adalah 2.6e-9
(Vogel,1994) , penyimpangan kemungkinan di sebabkan oleh kesalahan pada
saat titrasi dilakukan seperti kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi yang
telah disebutkan diatas, Hal tersebut menyebabkan perhitungan konsentrasi
C2O42- tidak tepat dan perhitungan Ksp mengalami penyimpangan. Di
ketahui bahwa CaC2O4 merupakan garam yang sukar larut dan ion-ionnya
berada pada konsentrasi yang sangat rendah di dalam larutan sehingga perlu
ketelitian pada saat titrasi dilakukan.
Nilai kelarutan yang di peroleh menunjukan bawa semakin banyak jumlah
ion C2O42- (ion senama) yang di tambahkan maka kelarutan akan semakin
menurun, menurut prinsip Le Chatelier, system pada keadaan setimbang
menanggapi salah satu pereaksinya dengan cara menggeser kesetimbangan
ke arah dimana pereaksi tersebut di konsumsi. Untuk reaksi :

CaC2O4 Ca2+ + C2O42-

Apabila ion C2O42- ditambahkan ke dalam larutan, maka reaksi akan


mengarah ke kesetimbangan baru dengan ciri, endapan CaC2O4 bertambah,
konsentrasi ion Ca2+ berkurang, konsentrasi C2O42- lebih besar di banding
dalam kesetimbangan asli. Dapat disimpulkan sebagai berikut : kelarutan
senyawa ion yang sedikit larut semakin rendah kelarutannya dengan
kehadiran senyawa lain yang memberikan ion senama.
Berikut adalah fenomena yang terjadi pada saat percobaan, pada saat
titrasi dengan KMnO4 untuk menentukan Ksp CaC2O4 yaitu titrasi tanpa
penambahan asam, titrasi di lakukan dengan sangat lama karena kemungkin
reaksi sukar terjadi tanpa adanya asam, setelah beberapa saat warna larutan
yang dititrasi berubah menjadi warna coklat, hal tersebut menunjukan
terbentuknya senyawa MnO2 sebagai akibat reaksi dengan Oksigen di udara
dan terkena sinar sehingga MnO4- terurai menjadi MnO2.

F. Kesimpulan

Harga Ksp yang diperoleh dari percobaan adalah :


a. Tanpa Penambahan H2SO4
Ksp = 5.83 x 10-6
b. Dengan Penambahan H2SO4
Ksp = 1.14 x 10-5
Sedangkan Harga Ksp standar pada temperature kamar adalah 2.6 x 10-9

Berdasarkan prinsip Le Chatelier pengaruh ion sejenis adalah sebagai berikut :


kelarutan senyawa ion yang sedikit larut semakin rendah kelarutannya dengan
kehadiran senyawa lain yang memberikan ion senama.

G. Daftar Pustaka
Vogel .(1994). Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Jakarta
Brown,Lemay (1994). Modern Chemistry The central science 9th. Pearson Education.inc.
New Jersey
Anonimous.(2005)."http://id.wikipedia.org/wiki/Permanganometri
Hitam, Ramli. Anonymous (2006). http://institute.ms.utm.may/’ramli/
Petrucci, ralph(1994). Kimia Dasar. Pinsip dan Terapan Modern. Jilid 2. Erlangga.
Jakarta