Anda di halaman 1dari 9

SEJARAH KOTA DI INDONESIA

OLEH:
SHARON DEBORA KALIGIS / 110212006
LINTONG DELILA / 110212018
MICHELLE A. M. NANGOY / 110212037
AGNES G. P ROSANG / 110212048

DOSEN PENANGGUNG JAWAB:


DR. IR. LINDA TONDOBALA, DEA

UNIVERSITAS SAM RATULANGI


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN ARSITEKTUR
2013
Tahapan Perkembangan Kota di Indonesia

1. Masa Tradisional - Kolonial


Sejarah perkembangan kota di Indonesia dari masa tradisional sampai kolonial,
secara umum dapat dibagi ke dalam empat periode (berdasarkan pembagian
sejarah pertumbuhan aglomerasi di Asia Tenggara dan Indonesia menurut
Lombard, dalam Sumalyo, 1993):
i.

Periode I, dimulai dari abad III-IX, berdasarkan bukti-bukti Indianisasi,


tulisan-tulisan di batu dan lain-lainnya model India.
Masa kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda muncul di Jawa Barat, masingmasing pada abad ke-4 dan ke-7, sedangkan Kerajaan Medang adalah
kerajaan besar pertama yang berdiri di Jawa Tengah pada awal abad ke-8.
kerajaan ini membangun beberapa candi Hindu yang terawal di Jawa yang
terletak di Dataran Tinggi Dieng. Kerajaan mereka membangun berbagai
candi pada abad ke-9, antara lain Borobudur dan Prambanan di Jawa
Tengah.
Raden Wijaya mendirikan Majapahit, dan kekuasaannya mencapai
puncaknya di masa pemerintahan Hayam Wuruk (m. 1350-1389Majapahit
mengalami kemunduran seiring dengan wafatnya Hayam Wuruk dan mulai
masuknya agama Islam ke Indonesia.

ii.

Periode II, dari abad IX-XV ; berdasarkan bukti-bukti arkeologis seperti


Angkor,
Sekitar abad ke-10, pusat kekuasaan bergeser dari tengah ke timur pulau
Jawa. Di wilayah timur berdirilah kerajaan-kerajaan Kadiri, Singhasari, dan
Majapahit yang terutama mengandalkan pada pertanian padi, namun juga
mengembangkan perdagangan antar kepulauan Indonesia beserta Cina
dan India.
Masa kerajaan Islam
Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui Hindu dan Buddha
sebagai agama dominan di Jawa,. Para penguasa Surabaya dan Cirebon
berhasil ditundukkan di bawah kekuasaan Mataram, sehingga hanya
Mataram dan Banten lah yang kemudian tersisa ketika datangnya bangsa
Belanda pada abad ke-17.

iii.

iv.

Periode III, dari abad XV sampai dengan XVIII ; di Jawa mulai tumbuh kotakota Gresik, Tuban, Banten, Batavia, Aceh, Makassar, sejalan dengan
masuknya Islam.
Periode IV, abad XIX-XX ; kota-kota di Asia Tenggara makin tumbuh dan
berkembang.

Apabila ditinjau lebih jauh morfologi kota-kota tradisional di Indonesia,


bentuk pusat-pusat pemerintahan tradisional pada periode Majapahit merupakan

lingkungan in tra-muros (di dalam dinding/benteng)hanya dengan satu pintu


masuk terletak di utara. Di dalam dinding terdapat Kraton yang terbagi-bagi
menjadi beberapa tempat tinggal: untuk raja, ayah raja, dan berbagai pengawal
kerajaan. Di depan pintu gerbang di sebelah utara Kraton terdapat lapangan luas
yang disebut Lebuh Agung. Keluarga kerajaan bertempat tinggal di sebelah
barat., identik dengan penghunian para aristrokrat di Surakarta dan Yogyakarta.

Tamansari

Alun-alun Kidul

Masjid Kauman

Tugu Jogja

2.

Masa Pra VOC dan Masa Kolonial

Perkembangan kota masa pra-VOC terdiri dari:


I.
Perkembangan kota zaman pra-VOC, kota-kota yang
direncanakan pada masa sebelum kedatangan VOC.
II.
Perkembangan kota zaman VOC, berupa perbentengan yang
berpola kota abad pertengahan di Eropa Barat.
III.

Kota-kota kolonial, terjadi di akhir abad ke-19.

3.

Masa Kolonial Abad ke-20

Merupakan masa yang dilandasi pemikiran perencanaan kota modern pada awal
abad ke-20.
I.
II.

Revolusi industri
Politik kulturstelsel

III.

Politik Etika (Etische Politiek)

IV.

Pengembangan perangkat institusi dan konstitusi baru

Masa kolonial
Hubungan Jawa dengan kekuatan-kekuatan kolonial Eropa dimulai pada tahun
1522, dengan diadakannya perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis di
Malaka. Setelah kegagalan perjanjian tersebut, kehadiran Portugis selanjutnya

hanya terbatas di Malaka dan di pulau-pulau sebelah timur nusantara saja.


Sebuah ekspedisi di bawah pimpinan Cornelis de Houtman yang terdiri dari
empat buah kapal pada tahun 1596, menjadi awal dari hubungan antara Belanda
dan Indonesia.[9] Pada akhir abad ke-18, Belanda telah berhasil memperluas
pengaruh mereka terhadap kesultanan-kesultanan di pedalaman pulau Jawa
(lihat Perusahaan Hindia Timur Belanda di Indonesia). Meskipun orang-orang
Jawa adalah pejuang yang pemberani, konflik internal telah menghalangi mereka
membentuk aliansi yang efektif dalam melawan Belanda. Sisa-sisa Mataram
bertahan sebagai Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Para raja
Jawa mengklaim berkuasa atas kehendak Tuhan, dan Belanda mendukung sisasisa aristokrasi Jawa tersebut dengan cara mengukuhkan kedudukan mereka
sebagai penguasa wilayah atau bupati dalam lingkup administrasi kolonial.

Di awal masa kolonial, Jawa memegang peranan utama sebagai daerah


penghasil beras. Pulau-pulau penghasil rempah-rempah, misalnya kepulauan
Banda, secara teratur mendatangkan beras dari Jawa untuk mencukupi
kebutuhan hidup mereka.[10]

Inggris sempat menaklukkan Jawa pada tahun 1811. Jawa kemudian menjadi
bagian dari Kerajaan Britania Raya, dengan Sir Stamford Raffles sebagai
Gubernur Jenderalnya. Pada tahun 1814, Inggris mengembalikan Jawa kepada
Belanda sebagaimana ketentuan pada Traktat Paris.[11]

Penduduk pulau Jawa kemungkinan sudah mencapai 5 juta orang pada tahun
1815.[12] Pada paruh kedua abad ke-18, mulai terjadi lonjakan jumlah penduduk
di kadipaten-kadipaten sepanjang pantai utara Jawa bagian tengah, dan dalam
abad ke-19 seluruh pulau mengalami pertumbuhan populasi yang cepat.
Berbagai faktor penyebab pertumbuhan penduduk yang besar antara lain
termasuk peranan pemerintahan kolonial Belanda, yaitu dalam menetapkan
berakhirnya perang saudara di Jawa, meningkatkan luas area persawahan, serta
mengenalkan tanaman pangan lainnya seperti singkong dan jagung yang dapat
mendukung ketahanan pangan bagi populasi yang tidak mampu membeli beras.
[13] Pendapat lainnya menyatakan bahwa meningkatnya beban pajak dan
semakin meluasnya perekutan kerja di bawah Sistem Tanam Paksa menyebabkan
para pasangan berusaha memiliki lebih banyak anak dengan harapan dapat
meningkatkan jumlah anggota keluarga yang dapat menolong membayar pajak
dan mencari nafkah.[14] Pada tahun 1820, terjadi wabah kolera di Jawa dengan
korban 100.000 jiwa.[15]

Kehadiran truk dan kereta api sebagai sarana transportasi bagi masyarakat yang
sebelumnya hanya menggunakan kereta dan kerbau, penggunaan sistem
telegraf, dan sistem distribusi yang lebih teratur di bawah pemerintahan kolonial;

semuanya turut mendukung terhapusnya kelaparan di Jawa, yang pada


gilirannya meningkatkan pertumbuhan penduduk. Tidak terjadi bencana
kelaparan yang berarti di Jawa semenjak tahun 1840-an hingga masa
pendudukan Jepang pada tahun 1940-an.[16] Selain itu, menurunnya usia awal
pernikahan selama abad ke-19, menyebabkan bertambahnya jumlah tahun di
mana seorang perempuan dapat mengurus anak.[16]

4.

Kota Dekade 1950-an

Merupakan masa transisi dari masa penjajahan ke masa kemerdekaan yang


menyangkut berbagai bidang pembangunan di Indonesia. Lonjakan jumlah
penduduk di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, dll disebabkan
oleh faktor ekonomi, faktor politik, faktor daya tarik, dan faktor psikologis.

5.

Kota Masa Repelita

Perkembangan wilayah terbangun secara sporadis di pinggiran dalam atau luar


kota merupakan fenomena yang terjadi pada kebanyakan kota-kota besar.
Lingkungan perumahan padat di bagian tengah kota atau kampung merupakan
masalah perumahan yang juga mendapat perhatian khusus.

6. Setelah Era Reformasi Sampai Sekarang


Pemekaran daerah periode 1999-2011.
Sejak era reformasi tahun 1998, potret pembangunan wilayah di Indonesia
mengalami perubahan yang signifikan. Kewenangan kepala daerah (gubernur,
bupati dan wali kota) dalam mengembangkan wilayah tercermin dari berbagai
kebijakan yang tertuang dalam peraturan daerah (perda) sesuai UU Otonomi
Daerah. Pelaksanaan kegiatan pembangunan didasarkan pada rencana
pembangunan daerah dan rencana pembangunan idealnya disusun berdasarkan
rencana tata ruang wilayah. Rencana tata ruang wilayah sebagai pedoman
dalam pengelolaan wilayah disusun berdasarkan keinginan dan harapan rakyat
(seluruh stake holder/pemangku kepentingan), yang secara sederhana disebut
sebagai cerminan visi yang ditetapkan pemerintah daerah. Keadaan kota di
indonesia mulai tertata dan semakin berkembang menjadi kota modern.
Dengan
adanya
kebijakan-kebijakan/aturan
yang
diberlakukan
dalam
pembangunan kota ini, membuat kota menjadi teratur dan lebih terarah. Pada
masa ini industri semakin berkembang dan ditandai dengan kemunculan privat
city dan usaha real estate yang berkembang pesat, banyak lahan yang
digunakan sehingga lama kelamaan pembangunan ke arah vertikal juga semakin
marak

Kawasan Real Estate


Ciputra World Surabaya

KOTA BUKIT TINGGI

KOTA JOGJAKARTA

KOTA JAKARTA