Anda di halaman 1dari 31

KEBIJAKAN OBAT

TRADISIONAL
Nissa Anggastya Fentami, M.Farm, Apt
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

KEBIJAKAN OBAT TRADISIONAL


di INDONESIA

KOTRANAS

Kebijakan Obat Tradisional Nasional


Dasar Hukum:
UU 23 1992 ttg Kesehatan
Kepmenkes 131/Menkes/SK/II/2004 Sistem
Kesehtan Nasional (SKN)

Kepmenkes 381/Menkes/SK/III/2007
Tanggal 27 Maret 2007

Tujuan Kotranas
1. Mendorong pemanfaatan sumber daya alam (SDA) & ramuan tradisional
scr berkelanjutan untuk digunakan sbg OT dlm upaya peningkatan
yankes.
2. Menjamin pengelolaan potensi alam Indonesia scr lintas sektor agar
mempunyai daya saing sbg sumber ekonomi masyarakat dan devisa
negara yang berkelanjutan
3. Tersedianya OT yang terjamin mutu khasiat dan keamanannya, teruji
secara ilmiah & dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri
maupun dalam yankes formal

4. Menjadikan OT sbg komoditi unggul yg memberikan multi manfaat yaitu


meningkatkan ekonomi masyarakat, memberikan peluang kesempatan
kerja & mengurangi kemiskinan

Ruang lingkup Kotranas:


Pembangunan bidang OT untuk mendukung pembangunan
kesehatan & ekonomi SDM berkualitas

OT pada Kotranas :
Bahan atau ramuan bahan tumbuhan, hewan mineral
termasuk biota laut atau sediaan galenik yg telah digunakan
secara turun temurun yg telah uji pra klinik/klinikseperti obat
herbal terstandar & fitofarmaka untuk menjembatani
pengembangan OT kearah pemanfaatan dalam yankes formal
& pemanfaatan sumber daya alam Indonesia

Defenisi Kotranas
Kebijakan tentang obat tradisonal secara menyeluruh
dari hulu ke hilir meliputi budidaya & konservasi
sumber daya obat kemananan & khasiat OT, mutu
aksebilitas, penggunaan yg tepat, pengawasan,
penelitian & pengembangan SDM serta pemantauan
& evaluasi

Obat Tradisional sbg warisan budaya


bangsa
400 suku bangsa (etnis & sub etnis ) mempunyai pengetahuan
tradisional di bidang pengobatan dan OT contoh :

Jawa, Madura jamu, Sunda, di Riau suku melayu tradisional( suku


talang mamak, anak dalam )Bali, NTB, Bugis-Makasar, maluku,
Papua

Sumber daya alam bahan obat & OT


aset nasional

Analisis situasi dan kecenderungan


(SWOT) Kostranas:

60 % negara maju menggunakan pengobatan tradisional


(WHO)
Upaya tingkat global & regional menuju harmonisasi bidang
standar & mutu OT :
1. WHO pembuatan pedoman: strategi pengembangan OT, monografi
tumbuhan obat, pedoman mengenai mutu dan keamanan OT,
CPOTB, cara budidaya & pengumpulan tumbuhan , Pedoman
Monitoring efek yg tidak diinginkan.
2. Regional ASEAN dilaksanakan pertemuan pembahasan harmonisasi
standar dan regulasiOT

Kekuatan :
1. Indonesia mega senter keanekaragaman hayati
urutan kedua dunia setelah Brazilia (jika dihitung
biota laut urutan pertama di dunia)
2. Negara agraris hutan, area belum banyak
termanfaatkan untuk bahan obat alam
3. 1036 perusahaan OT yg memiliki izin usaha industri
:129 IOT dan 907 IKOT
4. Penduduk 220 juta jiwa pasar yg sangat prospektif

Kelemahan:
1. Kurang ketersediaan standar & metode evaluasi mutu.
2. Belum dikelola scr optimal & profesional, iklim usaha tidak kondusif, tak
ada jaminan pasar & harga
3. Eksploitasi jenis tumbuhan OT tanpa budidaya
4. Mutu simplisia kurang memenuhi syarat
5. Kurang koordinasi unsur pemerintah, industri pendidikan & penelitian,
petani, provider kesehatan
6. Belum terakomodasi dlm kurikulum FK
7. Pembiayaan kurang untuk penelitian ilmiah
8. Produksi industri bahan baku kurang
9. IKOT dengan fasilitas dan Sumber daya minimal & hanya 69 dari 129
yang bersertifikat CPOTB
10.Industri OT kurang memanfaatkan hasil penelitian
11.Pasar Industri menekankan promosi dibanding dukungan ilmiah

Peluang
1.
2.
3.
4.
5.

Ekspor tumbuhan obat meningkat (APETO=asosiasi pengusaha


eksportir tanaman obat indonesia & Infromasi Gabngan pengusaha
jamu & OT (GP Jamu)serta Koperasi jamu Indonesia.
Hasil penelitian ilmiah
Rekomendasi WHO melalui World asembly penggunaan OT untuk
pencegahan & pengobatan terutama penyakit kronis, degenaratif &
kanker
Potensi pasar (220 juta jiwa)
Terbentuk perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang kesehatan
Tradisional Timur & perhimpunan kedokteran & Alternatif Indonesia.

Ancaman dan Tantangan:


1. Biopiracy oleh pihak asing, jenis tumbuhan
obat terancam kepunahan belum sempat
diteliti.
2. Perlu ada regulasi yg mengatur pertukaran &
pemanfaatan sumber daya alam OT melalui
pembagian keuntungan yg ideal.
3. Sebagian OT untuk penyembuhan penyakit
degeneratif tapi harga lebih mahal dari obat
konvesional belum kompetitif rasio biaya &
manfaat

Landasan kebijakan (penjabaran prinsip


SKN)
1. Sumber daya alam (SDA) Indonesia harus dimanfaatkan scr
optimal perlu upaya peningkatan pemanfaatan SDA OT untuk
peningkatan yankes & ekonomi
2. Pemerintah melaksanakan BINDALWAS scr profesional,
pelaku usaha bertanggung jawab atas mutu &keamanan.
3. Pemerintah perlu memberikan pengarahan & iklim usaha
kondusif untuk OT yang bermutu aman berkhasita,
dimanfaatkan masyrakat dan yankes formal & mendapat
informasi yg benar, lengkap & tidak menyesatkan

1. Mendorong pemanfaatan SDA Indonesia scr berkelanjutan


untuk digunakan sbgai OT demi peningkatan yankes &
ekonomi
2. Menjamin OT yg aman, bermutu & bermanfaat serta
melindungi masyarakat dari penggunaan OT yg tidak tepat.
3. Tersedianya OT yg memiliki khasiat nyata yg teruji scr ilmiah
& dimanfaatkan scr luas baik untuk pengobatan sendiri dlm
yankes formal
4. Mendorong perkembangan dunia usaha di bidang OT yg
bertanggung jawab agar mampu menjadi tuan rumah di
negeri sendiri & diterima negara lain

Pokok pokok dan langkah-langkah


kebijakan
1. Budidaya & Konservasi sumber daya obat tradisional
2. Keamanan & Khasiat Obat Tradisional
3. Mutu Obat Tradisional
4. Aksesibilitas
5. Penggunaan yang tepat
6. Pengawasan
7. Penelitian dan pengembangan
8. Industrilisasi OT
9. Dokumentasi & Data base
10. Pengembangan SDM
11. Pemantauan & Evaluasi

1.Budidaya & Konservasi sumber daya OT

Sasaran
tersedianya scr berkesinambungan bahan baku OT yg
memenuhi standar mutu yg dapat dimanfaatkan untuk
yankes & kesejahteraan masyarakat

Langkah kebijakan:
1.
2.

Peningkatan pengembangan lintas program untuk penetapan komoditas &


pengembangan tumbuhan obat unggulan
peningkatan SDM dgn pendidikan &pelatihan untuk menyediakan SDM
kompeten dlm penyediaan bahan alam untuk bahan baku OT

Lanjutan langkah kebijakan Budidaya & Konservasi sumber


daya obat tradisional(2)
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Peningkatan produksi mutu & daya saing komoditas tumbuhan


unggulan melalui Good Agriculture Practices(GAP) , Good Agriculture
Collecting Practices (GACP) & (SOP) masing2 komoditas.
Pelaksanaan survei & evaluasi scr menyeluruh tumbuhan obat yg
dimanfaatkan
Pemetaan kesesuaian lahan, yg menunjukkan daerah 2 potensial untuk
pengembangan tumbuhan obat.
Pelaksanaan konservasi untuk mencegah kepunahan akibat eksplotasi
berlebihan maupun biopiracy melalui regulasi ,penelitian &
pengembangan.
Pemberdayaan masyarakat dalam keg budidaya & konservasi SDA.
Pembentukan Bank Plasma Nuftah/sumber genetik tumbuhan obat.

2. Keamanan & Khasiat OT


Sasaran:
OT yg beredar memenuhi persyaratan keamanan & khasiat.
Langkah kebijakan:
1. Pengembangan inventarisasi data uji praklinik
2. Penapisan berdasarkan data uji praklinik & data ekonomi.
3. Pengembangan uji klinik thdp tumb obat /ramuan hasil
penapisan.
4. Pembentukan forum komunikasi lintas sektor & program
antara pemerintah pusat, propinsi , kabupaten kota dan
institusi terkait.

3. Mutu Obat Tradisional


Sasaran:
OT & bahan OT yg beredar memenuhi persyaratan mutu.
Langkah kebijakan:
1.Penyusunan spesifikasi tumbuhan obat.
2.Penyusunan spesifikasi & standar bahan baku/revisi materia
Medika Indonesia.
3. Penyusunan spesifikasi & standar sediaan galenik
4. Penyusunan & penerapan sistem mutu untuk penanganan
pasca panen & pengolahan produk
5. Penyusunan Farmakope OT Indonesia

4. Aksesibilitas
Sasaran:
Sarana pelayanan kesehatan & masyarakat dapat memperoleh OT yg telah
memenuhi keamanan & mutu seta terbukti khasitanya sesuai kebutuhan
dgn harga yg terjangkau.
Langkah kebijakan:
1.Pengembangan industri OT dalam negeri
2.Pengupayaan akses khusus (Special Acces) OT yg dilindungi penyakit , krn obat
konvensional yg ada belum terbukti efektif.
3. Pengembangan , perlindungan & pelestarian ramuan tradisional yg terbukti
manfaat dgn memperhatikan hak 2 masyarakat asli/masyrakat lokal sbg pemilik
ramuan tsb.
4. Pemanfaatan Taman Obat Keluarga (TOGA) dlm upaya pemeliharaan kesehtan,
pencegahan penyakit & pengobatan penyakit yg sederhana

5. Penggunaan yang tepat


Sasaran:
penggunaan OT dlm jumlah jenis, bentuk sediaan, dosis, indikasi &
komposisi yg tepat disertai informasi yg benar, lengkap & tidak
menyesatkan.
Langkah kebijakan:
1.Penyediaan infromasi OT yg benar, lengkap & tidak menyesatkan.
2.Pendidikan & pemberdayakan masyarakat untuk penggunaan OT scr
tepat & benar.
3.Penyusunan peraturan untuk menunjang penerapan berbagai langkah
kebijakan penggunaan OT yg tepat.
4. Pelaksanaan komunikasi, informasi & edukasi untuk menunjang
penggunaan OT yang tepat

6. Pengawasan
Sasaran : masyarakat terlindungi dr OT yg tidak memenuhi
persyaratan.
Langkah Kebijakan:
1.Pelaksanaan penilaian & pendaftaran OT
2.Pelaksanaan perizinan & sertifikasi sarana produksi
3.Pengujian mutu dgn laboratorium yg terakreditasi.
4.Pemantauan penandaan & promosi OT
5.Peningkatan surveilan & vijilan pasca pemasaran OT yg
diintregasikan dgn obat.

Lanjutan Langkah kebijakan Pengawasan:


6. Penilaian kembali thdp OT yg beredar
7. Peningkatan sarana & prasarana pengawasan OT serta
pengembangan tenaga dlm jumlah & mutu sesuai dengan
standar kompentensi
8. Peningkatan kerjasama regional maupun internasional di
bidang pengawasan
9. Pengawasan untuk mencegah peredaran OT berbahan kimia
& selundupan
10. Pengembangan Peran Serta Masyarakat (PSM) untuk
melindungi dirinya sendiri thd OT sub standar melalui KIE

7. Penelitian dan pengembangan


Sasaran:
Peningkatan penelitian di bidang OT untuk menunjang penerapan
KOTRANAS.

Langkah kebijakan:
1.Pelaksanaan identifikasi penelitian yg relevan & Penyusunan
prioritas dgn mekanisme kerja yg erat antara penyelenggara upaya
Pengembangan OT dan yankes formal dgn penyelenggara penelitian &
pengembangan.
2. Peningkatan koordinasi & sinkronisasi penyelenggaraan penelitian
tmsk penetapan penelitian antar berbagai lembaga penelitian
3.Peningkatan kerjasama internasional di bidang penelitian &
pengembangan OT

Lanjutan langkah kebijakan Penelitian dan


pengembangan
4. Pembinaan penyelenggaraan penelitian yg
relevan & diperlukan dlm pengembangan OT
mulai dr teknologi konvensioanl sampai dgn
teknologi terkini.
5. Peningkatan pembagian hasil (benefit sharing)
atas perolehan HKI thdp kearifan lokal.
6. Perlu regulasi pertkaran SDA alam OT &
pemanfaatan hasil penelitian & pengembagan
OT di tingkat nasional & regional

8. Penelitian & pengembangan

Sasaran:
Pengembangan industri OT sbg bagian intregal dari pertumbuhan ekonomi
nasional

Langkah Kebijakan:
1.Pembentukan aliansi strategis dlm pengembangan OT.
2.Penciptaan iklim yg kondusif bg investasi di bidang industri obat tradisional
melalaui pemberian instensif kebijakan perpajakan & perbangkan serta
kepastian proses perizinan.
3.Penyiapan peraturan yg tepat untuk menjamin perkembangan dunia usaha OT.
4. Peningkatan promosi OT melalui pameran & ekspor di tingkat nasional dan
internasional

9. Dokumentasi & data base


Sasaran:
Tersedianya database yg terkini & lengkap guna menunjang OT
Langkah kebijakan:
1.Pengumpulan & pengolahan data yg meliputi berbagai jenis data
yg berkaitan dgn pengembangan OT.
2.Pengkajian & analisis data ilmiah & empiris mengenai khasiat &
keamanan OT.
3.Pembuatan Bank data yg mencakup seluruh aspek OT Indonesia
4. Pertukaran informasi scr elektronik & bentuk cetakan.
5.Pelayanan informasi termasuk informasi & konsultasi usaha

10. Pengembangan SDM


Sasaran: tersedianya SDM yg menunjang pencapaian tujuan
Kontranas
Langkah kebijakan:
1.Pengintregasian Kontranas & berbagai aspek obat
tradisional kedalam kurikulum pendidikan & pelatihan tenaga
terkait terutama pd pendidikan kedokteran.
2.Pengintregasian kedalam kurikulum pendidikan
berkelanjutan organisasi profesi terkait.
3.Peningkatan kerjasama nasional & internasional untuk
pengembangan SDM.

11. Pemantauan & evaluasi


Evaluasi kebijakan : informasi ttg penyelenggraan melaporkan
luaran(output), mengukur dampak (outcome), mengevaluasi
pengaru (impact) pd kelompok sasaran, memberikan
rekomendasi & penyempurnaan kebijakan
Sasaran:
Menunjang penerapan Kotranas melalui pembentukan
mekanisme pematauan & evaluasi kinerja serta dampak
kebijakan guna mengetahui hambatan & penerapan strategi
yg efektif

Pemantauan & evaluasi


Langkah kebijakan:
1. Pemantauan & evaluasi dilakukan secara berkalan paling
lama setiap 5 tahun
2. Pelaksanaan & indikator pemantauan mengikuti pedoman
yg ditetapkan & dapat bekerjasama dgn pihak lain
3. Pemanfatan hasil pemantauan & evaluasi untuk tindak lanjut
berupa penyesuaian kebijakan

TERIMA KASIH