Anda di halaman 1dari 10

LATIHAN SOAL

Revaluation of Intangible Asset


A patent right is acquired July 1, 2009, for 250,000; while it has a legal life of 15
years, due to rapidly changing technology, management estimates a useful life
of only five years. Stright-line amortization will be used. At January 1, 2010,
management is uncertain that the process can actually be made economically
feasible, and decides to write down the patent to an estimated market value of
75,000. Amortization will be taken over three years from that point. On January
1, 2012, having perfected the related production process, the asset is now
appraised at a sound value entries to reflect these events are?

LEASING 1 [LESSEE]
Pada tanggal 1 Januari 20X1, PT ABC melakukan perjanjian sewa untuk menyewa
sebuah peralatan dari PT DEF Leasing.
Syarat-syarat perjanjian mencakup:
1. Masa sewa yang tidak dapat dibatalkan selama 4 tahun, tanpa opsi
perpanjangan atau opsi pembelian, dan
2. Biaya sewa sebesar Rp 10 juta per tahun harus dibayar oleh perusahaan
pada setiap tanggal 31 Desember selama 4 tahun, terhitung mulai 31
Desember 20X1.
Biaya sewa dihitung dan disetujui kedua pihak berdasarkan tingkat
pengembalian 5% bagi PT DEF Leasing.
Peralatan itu merupakan barang baru pada tanggal 1 Januari 20X1, memiliki nilai
pasar wajar Rp 42 juta, dan diperkirakan memiliki umur manfaat lima tahun.
Pada akhir masa sewa, peralatan itu harus dikembalikan kepada PT DEF Leasing.
Tidak disebutkan adanya nilai residu.
Sebagai bagian dari kebijakan akuntansinya, perusahaan menggunakan metode
garis lurus untuk menyusutkan seluruh aset tetapnya (dengan asumsi tanpa
nilai sisa kecuali disebutkan lain) dan metode suku bunga efektifuntuk
mengalokasikan beban keuangan.
Buatlah jurnal yang diperlukan untuk PT ABC?

LEASING 2 [LESSEE]
Berdasarkan contoh diatas, perjanjian sewa antara PT ABC dengan DEF Leasing
mencakup kententuan pemberian opsi kepada perusahaan untuk membeli
peralatan itu pada akhir masa sewa seharga Rp 1 juta, pada awal sewa pada
tanggal 1 Januari 20X1, diestimasi bahwa nilai pasar wajar peralatan kira-kira Rp
5 juta setelah 4 tahun penggunaan.

LEASING 3 [LESSEE]
Diasumsikan bahwa perjanjian sewa antara PT ABC dan PT DEF Leasing dalam
contoh Leasing 1 diatas, perusahaan menjamin kepada PT DEF Leasing bahwa
aset sewaan akan memiliki nilai residu Rp 5 juta pada saat aset itu dikembalikan
pada lessor di akhir sewa pada tanggal 31 Desember 20X4.

LEASING 4 [LESSEE]
Diasumsikan perjanjian sewa antara PT Indonesia Power dengan PT DEF Leasing
dalam skenario 1 diatas, menyebutkan bahwa perusahaan tidak mengetahui
tingkat bunga implisit yang digunakan dalam sewa, sedangkan tingkat bunga
pinjaman incrementalnya adalah 6% per tahun.

LEASING 5 [LESSOR] Sales Type Lease


Diasumsikan bahwa PT S&L bergerak dibidang impor mesin konstruksi dan
menyewakan mesin itu kepada perusahaan-perusahaan pengembahan properti
kecil. Periode keuangannya berakhir pada tanggal 31 Desember.
Mesin itu diimpor dengan biaya Rp100 juta per unit. Umur manfaat mesin itu
lima tahun dan jumlah nilai residu di akhir umur manfaatnya diperkirakan tidak
material. Nilai jual pasar wajar mesin itu sebesar Rp125 juta per unit dan suku
bunga wajar 6% per tahun.
Pada tanggal 1 Januari 20X1, S&L mengadakan perjanjian sewa penjualan
dengan seorang pelanggan. Perjanjian itu mengatur:

Masa sewa: 5 tahun


Pembayaran sewa: 5 pembayaran tahunan masing-masing sebesar Rp
29.675.000 dimulai dari tanggal 31 Desenber 20X1.
(Pembayaran sewa tahunan sebesar Rp29.675.000 diperoleh sebagai
berikut: Rp 125 juta dibagi 4,21236; yang merupakan faktor nilai kini
anuitas biasa untuk lima periode pada tinkat 6%)

LEASING 6 [LESSOR] - Transaksi jual dan sewa balik


PT ABC menghadapi masalah arus kas dan berniat memperbaiki kegiatan
usahanya. Oleh karena itu, pada tanggal 1 Januari 20X6, perusahaan menjual
salah satu peralatannya kepada perusahaan lessor dan kemudian menyewanya
kembali.
Peralatan tersebut awalnya dibeli perusahaan pada bulan Januari 20X1 seharga
Rp 20 miliar. Umur manfaatnya diestimasi selama 20 tahun tanpa nilai residu

material. Perusahaan menetapkan tanggal 31 Desember sebagai akhir tahun


keuangannya dan menggunakan metode penyusutan garis lurus.
Harga jual peralatan tersebut berdasarkan nilai wajarnya pada tanggal 1 januari
20X6, yaitu Rp 18 miliar. Nilai buku pesawat itu Rp 15 miliar ( biaya perolehan Rp
20 miliar dikurangi akumulasi penyusutan Rp 5 miliar).
Perusahaan hendak menyewa kembali peralatan itu selama dua tahun.
Pembayaran sewa tahunan sebesar Rp 2,5 miliar harus dilakukan pada tanggal
31 Desember 20X6 dan 20X7.
Bagaimana pencatatan terkait transaksi diatas?
JAWABAN
Revaluation of Intangible Asset
7/1/09
12/31/09

1/1/10
12/31/10
12/31/11
1/1/12

Patent
Cash
Amortization expense
Patent
[250,000/5 x ]
Loss from asset impairment
Patent
Amortization expense
Patent
Amortization expense
Patent
Patent
Gain on asset value
recovery
Other comprehensive
income

250,000
250,000
25,000
25,000
150,000
150,000
25,000
25,000
25,000
25,000
275,000
100,000
175,000

As of January 1, 2012, the carrying value of the patent is 25,000; had the January 2010
revaluation not been made, the carrying value would have been 125,000 ( 250,000 original
cost, less two-and-one-half years amortization versus an original estimated life of five years). The
new appraised value is 300,000, which will fully recover the earlier write-down and add even
more 100,000 that had been charged to expense should be recognized as profit; the excess will
be recognized in other comprehensive income and increases the revaluation surplus for the asset
in shareholders equity.

Leasing 1 [LESSEE]
Dalam contoh ini, sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan karena
masa sewa selama 4 tahun mencakup sebagian besar (>75%) dari umur
manfaat peralatan yaitu 5 tahun.
Perusahaan harus mengkapitalisasi aset sewaan, mencatat liabilitas terkait,
menyediakan penyusutan, dan mengalokasikan beban bunga selama masa
sewa. Oleh karenanya, tiga perhitungan awal harus dilakukan:
1. Perhitungan nilai kini pembayaran sewa minimum

Pembayaran sewa minimum:


Anuitas biasa sebesar Rp 10 juta untuk 4 periode = Rp 40 juta
Tingkat diskonto 5%
Nilai kini : Rp 10 juta x 3,5459 = Rp 35.459.000
(Tabel 6-4) PVF-OA = 1- 1/
(1+i)^n : i
Oleh karena nilai kini pembayaran sewa minimum kurang dari nilai
wajar peralatan, peralatan sewaan harus dikapitalisasi dan liabilita
terkait dicatat dalam pembukuan perusahaan sebesar Rp 35.459.000
2. Beban penyusutan peralatan sewaan adalah sebesar Rp 8.865.000 (Rp
35.459.000/4 tahun) untuk setiap tahun 20X1 hingga 20X4.
3. Skedul amortisasi beban keuangan Rp 4.541.000 (Rp
35.459.000)
Tanggal
Pembayara
Bunga
Jumlah
n sewa
pokok
Rp
Rp
Rp
1/1/X1
31/12/X1
10.000.000 1.773.000
8.227.000
31/12/X2
10.000.000 1.362.000
8.638.000
31/12/X3
10.000.000
930.000
9.070.000
31/12/X4
10.000.000
476.000
9.524.000

40.000.000 - Rp
Liabilitas
sewa
Rp
35.459.000
27.232.000
18.594.000
9.524.000
nol

Ayat jurnal untuk mecatat sewa setiap tahunnya selama 4 tahun


(dengan asumsi akhir tahun tanggal 31 Desember) adalah sebagai
berikut
1/1/X1
Dr.
Peralatan sewaan
Kr.
Utang sewa
(mencatat sewa pembiayaan)
31/12/X1
Dr.
Utang sewa
Dr.
Beban bunga
Kr.
Kas
(mencatat pembayaran sewa)
Dr.
Beban penyusutan
Kr.
Akumulasi penyusutan
8.865.000
(mencatat beban penyusutan)
31/12/X2
Dr.
Utang sewa
Dr.
Beban bunga
Kr.
Kas
(mencatat pembayaran sewa)
Dr.
Beban penyusutan
Kr.
Akumulasi penyusutan
8.865.000
(mencatat beban penyusutan)

Rp 35.459.000
Rp 35.459.000

Rp 8.227.000
Rp 1.773.000
Rp 10.000.000
Rp 8.865.000
Rp

Rp 8.638.000
Rp 1.362.000

Rp 8.865.000

Rp 10.000.000

Rp

31/12/X3
Dr.
Utang sewa
Dr.
Beban bunga
Kr.
Kas
(mencatat pembayaran sewa)
Dr.
Beban penyusutan
Kr.
Akumulasi penyusutan
8.865.000
(mencatat beban penyusutan)
31/12/X4
Dr.
Utang sewa
Dr.
Beban bunga
Kr.
Kas
(mencatat pembayaran sewa)
Dr.
Beban penyusutan
Kr.
Akumulasi penyusutan
8.865.000
(mencatat beban penyusutan)

Rp 9.070.000
Rp 930.000
Rp 10.000.000
Rp 8.865.000
Rp

Rp 9.524.000
Rp 476.000

Rp 8.865.000

Rp 10.000.000

Rp

Perlu diperhatikan bahwa pada akhir masa sewa yaitu tanggal 31 Desember
20X4, seluruh akun yang berhubungan dengan sewa harus dihapus,
liabilitas sewa dilunasi seluruhnya, dan aset sewaan disusutkan secara
penuh.

LEASING 2 [LESSEE]
Dengan adanya opsi pembelian itu, sewa tersebut diklasifikasikan sebagai
sewa pembiayaan (dan juga memenuhi syarat sebagai sewa pembiayaan
menurut uji umur ekonomis). Pembayaran sewa minimum pun ditambah
dengan harga pelaksanaan menjadi Rp 41 juta. Selain itu, peralatan sewa
disusutkan selama 5 tahun, bukan 4 tahun. Perhitungan yang relevan
ditunjukkan sebagai berikut.
1. Perhitungan nilai kini pembayaran sewa minimum:
Anuitas biasa sebesar Rp 10 juta untuk 4 periode ditambah Rp 1 juta
diakhir periode keempat = Rp 41 juta.
Tingkat diskonto 5%
Nilai kini: Rp 10 juta x 3,5459 + Rp 1 juta x 0,8227 = Rp 36.282.000
(Table 6-4) PVF-OA = 1- 1/
(1+i)^n : i

(Table 6-2)
(1+i)^n

PVF-OA

1/

Perlatan sewaan dikapitalisasi dan liabilitas terkait dicatat dalam


pembukuan perusahaan sebesar Rp 36.282.000 (nilai kini pembayaran
sewa minimum Rp 36.282.000 lebih rendah dari nilai wajar Rp
42.000.000)
2. Beban penyusutan peralatan sewaan adalah sebesar Rp 7.256.400 (Rp
36.282.000/5 tahun) untuk setiap tahun daro 20X1 hingga 20X5
3. Skedul amortisasi beban keuangan Rp 4.718.000 (Rp 41.000.000 - Rp
36.282.000):
Tanggal
Pembayara
Bunga
Jumlah
Liabilitas
n sewa
pokok
sewa
Rp
Rp
Rp
Rp
1/1/X1
36.282.000
31/12/X1
10.000.000 1.814.000 8.186.000 28.096.000
31/12/X2
10.000.000 1.405.000 8.595.000 19.501.000
31/12/X3
10.000.000
975.000 9.025.000 10.476.000
31/12/X4
10.000.000
524.000 9.476.000
1.000.000
Ayat jurnal untuk mencatat sewa sama seperti skenario 1 diatas, kecuali
perubahan pada angka-angka.
Selain itu dalat dilihat bahwa dalam skedul amortisasi terdapat saldo utang
sewa sebesar Rp 1 juta pada akhir sewa. Jumlah ini merupakan jumlah yang
harus dibayar oleh lessee untuk melaksanakan opsi pembelian. Ayat jurnal
untuk mencatat pelaksanaan opsi pembelian pada tanggal 31 Desember
20X4 adalah sebagai berikut
Dr.

Utang sewa
Kr. Kas

Rp 1 juta
Rp 1 juta

(mencatat opsi pelaksanaan opsi pembelian)


Dalam contoh ini, di akhir sewa pada tanggal 31 Desember 20X4, meskipun
liabilitas sewa telah dilunasi seluruhnya, aset sewaan masih memiliki saldo
karena disusutkan selama 5 tahun. Pada tanggal ini juga aset itu
seharusnya dipindah ke akun aset tetap biasa.

LEASING 3 [LESSEE]
Sewa diatas akan diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan karena masa
sewa (4 tahun) mencakup sebagian besar (>75%) dari umur manfaat (5
tahun).
Dalam contoh ini, pembayaran sewa minimum pun ditambah dengan nilai
residu yang menjamin Rp 5 juta menjadi Rp 45 juta. Jumlah yang dapat
disusutkan dari peralatan sewa pun dikurangi dengan nilai residu yang
dijamin. Perhitungan yang relevan ditunjukkan sebagai berikut.

1. Perhitungan nilai kini pembayaran sewa minimum


Anuitas biasa sebesar Rp 10 juta untuk 4 periode ditambah Rp 5 juta
diakhir periode ke 4= Rp 45 juta.
Tingkat diskonto 5%
Nilai kini; Rp 10 juta x 3,5459 + Rp 5 juta x 0,8227 = Rp 39.572.000
Peralatan sewaan dikapitalisasi dan liabilitas terkait dicatat dalam
pembukuan perusahaan sebesar Rp 39.572.000 (nilai kini pembayaran
sewa minimum Rp 39.572.000 lebih rendah dari nilai wajar Rp
42.000.000).
2. Jumlah yang dapat disusutkan dari peralatan sewaan adalah Rp
34.572.000 (Rp 39.572.000 Rp 5.000.000). Beban penyusutan
peralatan sewaan adalah sebesar Rp 8.643.000 (Rp 34.572.000/4
tahun) untuk setiap tahun dari 20X1 hingga 20X4.
3. Skedul amortisasi beban keuangan Rp 5.428.000 (Rp 45.000.000 - Rp
39.572.000):
Tanggal
Pembayara
Bunga
Jumlah
Liabilitas
n sewa
pokok
sewa
Rp
Rp
Rp
Rp
1/1/X1
39.572.000
31/12/X1
10.000.000 1.979.000 8.021.000 31.551.000
31/12/X2
10.000.000 1.578.000 8.442.000 23.129.000
31/12/X3
10.000.000 1.157.000 8.843.000 14.286.000
31/12/X4
10.000.000
714.000 9.286.000
5.000.000
Ayat jurnal untuk mencatat sewa sama seperti skenario 1 diatas, kecuali
perubahan pada angka-angka. Selain itu, dapat dilihat bahwa dalam skedul
amortisasi terdapat saldo utang sewa sebesar Rp 5 juta diakhir sewa.
Jumlah ini merupakan jumlah yang telah dijamin oleh lessee untuk
membayar nilai residu aset sewaan juga dicatat pada nilai buku sebesar Rp
5 juta (jumlah yang dikapitalisasi Rp 39.572.000 dikurangi akumulasi
penyusutan Rp 34.572.000. Dengan asumsi nilai wajar peralaran itu pada
tanggal 31 Desember 20X4 sebesar Rp 5 juta, ayat jurnal untuk menutup
akun-akun yang terkait dengan sewa adalah sebagai berikut
Dr.

Utang sewa

Rp 5.000.000

Dr.

Akumulasi penyusutan

Rp 34.572.000

Kr. Peralatan sewaan


39.572.000

Rp

(menutup akun sewa)

Namun jika nilai wajar peralatan sewaan kurang dari jumlah yang dijamin
pada saat dikembalikian kepada lessor, maka lessee harus membayar

selisih tersebut kepada lessor. Pembayaran tambahan ini dicatat sebagai


kerugian dalam buku lessee.
Misalnya, jika diasumsikan bahwa peralatan sewaan memiliki nilai wajar Rp
3 juta diakhir sewa pada tanggal 31 Desember 20X4, lessee harus
membayar selisih Rp 2 juta kepada lessor. Jurnal penutup dan ayat jurnal
untuk mencatat kerugian itu adalah sebagai berikut.
Dr.

Utang sewa

Dr.

Akumulasi penyusutan

Kr.

Peralatan sewaan

Rp 5.000.000
Rp 34.572.000
Rp 39.572.000

(menutup akun sewa)

Dr.

Kerugian atas sewa pembiayaan

Rp 2.000.000

Kr.
Kas
2.000.000

Rp

(mencatat kerugian atas nilai residu yang dijamin)

Di lain pihak, jika nilai wajar peralatan sewaan lebih besar dari nilai yang
dijamin pada saat dikembalikan kepada lessor, lessee bisa jadi atau tidak
menikmati surplus (atau sebagian dari surplus) itu, tergantung syaratsyarat perjanjian sewa. Jika perjanjian sewa hanya mewajibkan lessee untuk
menjamin jumlah minimum nilai residu tertentu, maka lessee bisa jadi tidak
berhak untuk memperoleh surplus apa pun. Namun, perjanjian sewa
tentunya dapat mengatur secra eksplisit bahwa semua surplus nilai wajar
terhadap nilai yang dijamin akan diberikan seluruhnya kepada lessee atau
kepada lessor, atau dibagi untuk lessee dan lessor. Dalam kasus yang
disebut terakhir, seluruh jumlah yang diterima oleh lessee akan dicatat
sebagai keuntungan (laba).

LEASING 4 [LESSEE]
Dalam contoh ini, sewa masih diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan
karena masa sewa (4 tahun) mencakup sebagian besar (>75%) dari umur
manfaat (5 tahun). Namun perhitungan pembayaran sewa minimum,
tingkat pinjaman bunga inkremental sebesar 6% yang akan digunakan
(bukan tingkat bunga implisit 4%).
1. Perhitungan nilai kini pembayaran sewa minimum
Pembayaran sewa minimum:
Anuitas biasa sebesar Rp 10 juta untuk 4 periode = Rp 40 juta

Tingkat diskonto 6%
Nilai kini; Rp 10 juta x 3,46511 = Rp 34.651.000
Oleh karena nilai kini pembayaran sewa minimum kurang dari nilai
wajar peralatan, peralatan sewaan harus dikapitalisasi dan liabilitas
terkait dicatat dalam pembukuan perusahaan sebesar Rp 34.651.000.
2. Beban penyusutan peralatan sewaan adalah sebesar Rp 8.662.750 (Rp
34.651.000/4 tahun) untuk setiap tahun dari 20X1 hingga 20X4.
3. Skedul amortisasi beban keuangan Rp 5.349.000 (Rp 40.000.000 - Rp
34.651.000):
Tanggal
Pembayara
Bunga
Jumlah
Liabilitas
n sewa
pokok
sewa
Rp
Rp
Rp
Rp
1/1/X1
34.651.000
31/12/X1
10.000.000 2.079.000 7.921.000 26.730.000
31/12/X2
10.000.000 1.604.000 8.396.000 18.334.000
31/12/X3
10.000.000 1.100.000 8.900.000
9.434.000
31/12/X4
10.000.000
566.000 9.434.000
Nol
Ayat jurnal untuk mencatat sewa sama seperti skenario 1 diatas, kecuali
perubahan pada angka-angka.
Diakhir sewa pada tanggal 31 Desember 20X4, seluruh akun yang terkait
dengan sewa telah dihapuskan: utang sewa telah dilunasi seluruhnya dan
aset sewaan disusutkan secara penuh.

LEASING 5 - [LESSOR]
S&L melakukan perhitungan sebagai berikut:
a. Perhitungan investasi bruto dan nilai kininya:
Investasi bruto: anuitas di muka sebesar Rp 29.675.000 untuk
lima periode =Rp148.375.000
Tingkat diskonto = 6%
Nilai kini = Rp29.675.000 x 4,21236 = Rp 125 juta
b. Laba bruto penjualan = 125juta 100juta = Rp 25juta
c. Pendapatan bunga = Rp 148.375.000 Rp 125.000.000 = 23.375.000
d. Skedul amortisasi pembiayaan sebesar Rp 23.375.000

Ayat jurnal untuk mencatat sewa penjualan untuk dua tahun pertama
adalah sebagai berikut:
1/1/X1
Dr Piutang sewa
Dr HPP
Cr Penjualan
Cr Persediaan
Cr Piutang bunga

148.375.000
100.000.000
125.000.000
100.000.000
23.375.000

31/12/X1
Dr Kas
Cr Piutang sewa
Dr Piutang bunga
Cr Pendapatan bunga

29.675.000
29.675.000
7.500.000
7.500.000

31/12/X2
Dr Kas
Cr Piutang sewa
Dr Piutang bunga
Cr Pendapatan bunga

29.675.000
29.675.000
6.169.000
6.169..000

LEASING 6 - [LESSOR] Transaksi jual dan sewa balik


Transaksi diatas akan dicatat sebagai berikut
1/1/X6
Dr. Kas
Dr. Akumulasi penyusutan
Cr. Peralatan
miliar
Cr. Keuntungan penjualan peralatan
3 miliar
(mencatat penjualan peralatan)
31/12/X6
Dr. Beban rental
Cr. Kas
miliar
(pembayaran sewa tahunan)
31/12/X7
Dr. Beban rental
Cr. Kas
miliar
(pembayaran sewa tahunan)

Rp 18 miliar
Rp 5 miliar
Rp

20
Rp

Rp 2,5 miliar

Rp 2,5 miliar

Rp

2,5

Rp

2,5