Anda di halaman 1dari 11

6

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Terong (Solanum melongena)
Famili Solanaceae memiliki lebih kurang 90 genera dan diperkirakan
memiliki spesies antara 3,000-4,000 (Knapp et al. 2004). Solanaceae merupakan
famili yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan terutama di daerah
tropik dan subtropik. Solanaceae secara umum terkonsentrasi di daerah Amazon,
dan Andez di Amerika Selatan yang disebut Dunia Baru (Daunay et al. 2001;
Knapp et al. 2004), kecuali terong berasal dari Asia dan Afrika yang dikenal
sebagai Dunia Lama atau Old World Origin (Daunay et al. 2001, Doganlar et
al. 2002).
Terong merupakan salah satu spesies dalam famili Solanaceae dengan
jumlah kromosom 2n=24, dan termasuk genus Solanum.

Terong merupakan

spesies asli India, semula merupakan tanaman liar (Lester 1998, Daunay et al.
2001, Lester dan Daunay 2003; Frary et al. 2007), kemudian mengalami
domistikasi dalam waktu beberapa ratus abad yang lalu. India merupakan negara
yang memiliki keragaman genetika dan spesies terong yang paling tinggi di Asia,
disusul oleh China dan Indonesia (Lawande dan Chavan 1998; Lester 1998;
Doganlar et al. 2002; Economic Research Service, USDA 2006 dan Collonnier et
al. 2001). Terdapat sekitar 1,500 spesies terong yang tersebar di negara tropik
dan subtropik.
Terong seringkali diidentikkan dengan tingkat kemiskinan, karena tanaman
ini banyak ditemukan di daerah-daerah yang penduduknya miskin, misalnya India
dan China (Simmonds 1984), pendapat ini dikuatkan dengan data yang diperoleh
di Afrika (Grubben dan Denton 2004), serta tidak berkembangnya budidaya
terong di negara Eropa dan Amerika Serikat.

Terong merupakan salah satu

komoditas yang mudah tumbuh dan mudah perawatannya dibandingkan dengan


komoditas lainnya, serta memiliki toleransi yang cukup tinggi di daerah marginal
sehingga tidak memerlukan biaya tinggi dalam budidaya. Simonsma dan Piluek
(1994) mengemukan bahwa spesies-spesies asli terong yang ditemukan di
Indonesia meliputi Solanum melongena, Solanum macrocarpon, Solanum
khasianum (terong perat), Solanum americanum, Solanum torvum, Solanum ferox

7
yang tersebar luas di seluruh kepulauan yang juga ditemukan di daerah asalnya
(Lester 1998, Daunay, et al. 2001). Hal ini dapat dilihat dari nama-nama daerah
yang ada, misalnya:

terong atau terung untuk menyebutkan genus Solanum,

terong pipit untuk Solanum torvum (Kalimantan), terong perat (Madura), terong
asam (Dayak), tekokak (Solanum torvum), leunca untuk Solanum americanum
atau Solanum nigrum (Jawa Barat), cung bulu (Sulawesi Selatan). Terong atau
Solanum melongena merupakan spesies yang paling dikenal dibandingkan dengan
spesies lainnya karena paling banyak dikonsumsi (Lester 1998).
Penggunaan terong di beberapa negara berbeda-beda, misalnya terong asam
di Kalimantan dibuat campuran sayur asam, di Thailand digunakan dalam menu
nam prek.

Cara mengkonsumsi terong di beberapa wilayah Indonesia

bervariasi, mulai dari dimakan mentah sebagai lalab, atau dimasak dalam
beberapa hidangan, serta diolah menjadi manisan terong.

Biji terong secara

tradisional dapat digunakan untuk pengobatan sakit gigi (Grubben dan Denton
2004). Terong dapat juga digunakan sebagai bahan baku farmasi (Hanson 2003).
Kandungan gizi dari 100 gram buah terong terdiri dari 92 gram air, 1.6 gram
protein, 0.2 gram lemak, 4 gram karbohidrat, 1 gram serat, 22 mg kalsium serta
vitamin (Lawande dan Chavan 1998; Collonnier, et al. 2001).

Dari potensi

kandungan gizi yang dimiliki oleh terong, beberapa orang menggunakan terong
sebagai diet untuk menurunkan kadar kolesterol darah, diabetes (gula darah),
disurea dan hemoroid disamping untuk kosmetik (Mueller 2005).
Genus Solanum belum teridentifikasi dengan baik. Terdapat keragaman
morfologi yang tinggi baik dalam tingkat interspesifik maupun intraspesifik
(Furini dan Wunder 2004; Karihaloo dan Gottlieb 1995). Keragaman morfologi
ini bisa dengan mudah dibedakan secara individu dalam suatu kultivar ataupun
sebagai spesies liar (Isshiki et al. 1994), namun karena penyebaran yang luas
kontaminasi dengan kultivar lokal serta perbedaan kultivasi tanaman menjadikan
kesulitan dalam klasifikasi (Lester dan Daunay 2003).
2.2 Keragaman dan Konservasi Plasmanutfah
Indonesia

merupakan

salah

satu

negara

terbesar

yang

memiliki

keanekaragaman hayati atau mega biodiversity karena keragaman genetika,


keragaman spesies dan keragaman ekosistem yang sangat tinggi.

Meskipun

8
Indonesia hanya memiliki luas daratan sebesar 1.3% dibandingkan luas total
daratan di dunia, namun tercatat ada 10% spesies berbunga, 12% mamalia, 17%
burung, termasuk 400 spesies palem dan 25,000 jenis tumbuhan berbunga. Selain
itu karena Indonesia merupakan wilayah dengan berbagai bioekologi spesifik
yang masing-masing sangat kondusif bagi timbulnya keragaman genetika
tanaman, hewan dan mikroba, disamping peran manusia yang tinggal di wilayah
tersebut (Sutoro 2006).
Sebagai salah satu komoditas tertua di Indonesia, keragaman plasmanutfah
terong dapat dengan mudah dilihat secara visual dari bentuk, ukuran dan warna
buah, selain dari karakter organ tanaman (Doganlar et al. 2002; Collonnier 2001;
Kasyhap 2003; Frary et al. 2007). Keragaman yang tinggi ini terkait dengan sifat
menyerbuk silang dari beberapa spesies terong serta interaksinya dengan
lingkungan tumbuh (Nothmann 1986; Lawande dan Chavan 1998; Kashyap
2003). Namun demikian kekerabatan genetika memerlukan analisis molekuler
dilihat dari peta DNA masing-masing plasmanutfah. Peta keragaman genetika
dan kekerabatan dapat digambarkan secara sistematika dalam klaster dendrogram
atau phylogenic systematic (Westhead et al. 2002). Keragaman genetika memiliki
bentuk berbeda dengan keragaman genotip, yang terjadi sebagai akibat dari
perubahan struktur genetika dan merupakan potensi yang khas dalam jangka
panjang terkait dengan proses evolusi (Raven et al. 1999). Keragaman komposisi
genetika ini merupakan dasar dalam meningkatkan keberlangsungan kehidupan
individu dan populasi selama seleksi alam. Komponen ini dibentuk oleh DNA dan
protein serta interaksinya dalam klasifikasi (Lie 1997).
Daunay et al. (2001), Grubben dan Denton (2004) mengemukakan bahwa
keragaman genetika (genetic diversity) merupakan modal yang besar dalam
pengembangan varietas baru. Keragaman ini terkait dengan karakter ketahanan
terhadap organisme pengganggu tanaman terutama di daerah tropis yang sangat
tinggi, disamping potensi adaptasi secara geografis. Beberapa perusahaan yang
berbasis pemuliaan tanaman di Asia telah memanfaatkan keragaman genetik pada
terong dalam menghasilkan varietas hibrida yang beradaptasi luas di daerah tropis
dengan ketahanan terhadap layu bakteri yang tinggi. AVRDC sebagai lembaga
penelitian dan pengembangan di Asia telah melakukan konservasi plasmanutfah

9
dari beberapa negara, serta memberikan informasi, teknologi dan menyumbang
materi genetika, mulai dari bentuk plasmanutfah sampai galur-galur hasil
pengembangan sebagai bahan baku pengembangan varietas (Gniffke 2006)
Penelitian dan pengembangan varietas atau galur transgenik juga sudah mulai
dilakukan di beberapa negara terutama untuk ketahanan terhadap serangga,
misalnya penggerek buah dan batang (fruit and shoot borer) dan ketahanan
terhadap kondisi abiotik.
Behera dan Singh (2002) mengemukakan bahwa keragaman genetika pada
terong banyak dimanfaatkan untuk memperbaiki karakter ketahanan terhadap
organisme pengganggu, terutama plasmanutfah dari species liar. Seperti yang
diungkapkan oleh Daunay et al. (2001) penggunaan species liar memerlukan
teknis khusus, yakni dengan perkawinan interspesifik yang dilanjutkan dengan
kultur embrio untuk mendapatkan benih F1.

Solanum khasianum sering

digunakan dalam perkawinan interspesifik karena memiliki karakter ketahanan


terhadap organisme pengganggu tanaman. Solanum torvum, yang lebih dikenal
dengan nama lokal tekokak di Jawa Barat atau terong pipit di Kalimantan
disebutkan merupakan plasmanutfah terong liar yang memiliki banyak karakter
positif dalam ketahanan terhadap organisme tanaman, seperti: ketahanan terhadap
bakteri layu Ralstonia solanacearum, Phomopsis vexans, dan Phytopthora
capsici. Species ini memiliki sifat incompatibilitas dalam penyerbukan, sehingga
sulit untuk mendapatkan galur rekombinasi terkait dengan bunga yang mandul
pada setiap keturunannya.
Daunay et al (2001), Grubben dan Denton (2004) mengemukakan bahwa
sumber keragaman genetika pada terong dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

Genepool kultivar terong lokal dan terong modern (Solanum melongena);


keragaman ini penting terkait dengan ukuran buah (10 gram sampai 1000
gram), warna buah (putih, hijau, ungu, bergaris atau lurik, coklat, hitam
atau merah muda), dan bentuk buah (dari bulat/globe sampai mengular,
permukaan kulit halus atau bergerigi).

Genepool dari 20 species yang mudah melakukan kawin silang dengan


terong kelompok pertama dan menghasilkan tanaman fertil, sebagai contoh
Solanum aethiopicum.

10

Genepool dari 20 species yang dapat melakukan kawin silang dengan


prosedur khusus, baik dengan kultur embrio maupun perlakuan colchicin
dengan interspecific cross, sebagai contoh adalah Solanum macrocarpon.
Usaha pertanian yang intensif serta tuntutan permintaan pasar yang beragam

memicu petani untuk beralih menggunakan varietas hibrida dari varietas


tradisional atau plasmanutfah lokal. Hal ini berimplikasi terhadap kepunahan
plasmanutfah lokal karena sifat seragam dari varietas hibrida dan keragaman
genetika yang rendah, sehingga perlu dilakukan konservasi plasmanutfah (Sutoro
2006; Daunay et al 2001).

Selanjutnya dikemukakan bahwa konservasi

plasmanutfah dapat dilakukan baik secara in situ maupun ex situ bergantung pada
sifat dari perbanyakan dari masing-masing komoditas (Sutoro 2006 dan Engle
2008), namun untuk komoditas sayuran lebih diutamakan secara ex situ terkait
dengan segi kemudahan. Konservasi ex situ memerlukan biaya besar di awal
untuk pembangunan infrastruktur serta selama proses penyimpanan. Konservasi
plasmanutfah ini harus dilakukan sejalan dengan ratifikasi Convention on
Biological Diversity (CBD) sebagai pengakuan hak National Sovereignity Right of
Plant Genetics Resources di Indonesia.
2.3 Varietas Hibrida
Varietas hibrida dibuat untuk mengambil manfaat dari munculnya
kombinasi yang baik dari tetua-tetua yang dipakai atau sifat heterosis yang
dihasilkan (Groot 2002). Tetua yang digunakan dalam pengembangan varietas
hibrida harus memiliki sifat yang seragam dan homozigot, sehingga varietas yang
dihasilkan memiliki sifat yang seragam dan stabil. Hibrida merupakan turunan
pertama dari persilangan dua tetua induk atau lebih yang memiliki sifat genetika
berbeda dengan tetuanya. Hibrida ini dapat menunjukkan penampilan fisik yang
lebih kuat dan memiliki potensi hasil yang melebihi kedua tetuanya. Gejala ini
dikenal sebagai heterosis (Bos 1999) dan merupakan dasar bagi produksi berbagai
kultivar hibrida, seperti jagung, padi, kelapa sawit, kakao, tomat, terong,
mentimun, dan cabai. Heterosis membuat kultivar hibrida memiliki daya tumbuh
(vigor) yang lebih tinggi, relatif lebih tahan penyakit, dan potensi hasil lebih
tinggi. Heterosis akan muncul kuat apabila kedua tetua relatif homozigot dan

11
memiliki latar belakang genetika yang relatif jauh (tidak banyak memiliki
kesamaan alel). Khusus dalam pembuatan kelapa hibrida, gejala heterosis tidak
dimanfaatkan, tetapi lebih memanfaatkan dua sifat baik dari kedua tetua yang
tergabung pada keturunannya.
Varietas hibrida merupakan salah satu teknologi pertanian dalam
meningkatkan produksi tanaman atau program intensifikasi tanaman.

Dalam

pengembangan varietas hibrida pemulia berusaha melakukan perbaikan karakter


tanaman baik dari segi produktivitas, ketahanan terhadap penyakit dan cekaman
abiotik.

Pengembangan varietas didasarkan pada kebutuhan pasar dan

menggunakan keragaman genetika lokal sehingga memiliki daya adaptasi yang


luas. Untuk mengembangkan galur-galur tetua dibutuhkan variabilitas fenotipik
dan genetika yang cukup luas, serta informasi tentang deskripsi, jarak genetika
yang luas dari plasmanutfah donor, sehingga tetua-tetua yang terbentuk akan
menjadi dua grup besar dengan jarak genetika yang besar dan daya gabung yang
luas (Hadiati et al. 2009).
Pengembangan varietas hibrida sayuran di Indonesia dipelopori oleh industri
benih berbasis breeding, yakni pada tahun 1990. Industri benih melakukan proses
pengembangan varietas hibrida dengan mengumpulkan plasmanutfah lokal dan
introduksi dari luar negeri sebagai bahan mentah.

Proses selanjutnya adalah

proses rekombinasi untuk pengembangan galur-galur murni calon tetua dan


hibridisasi dilanjutkan pengujian multi lokasi untuk melihat nilai heterosis dari
hibrida yang dibentuk di lahan petani, serta menguji tingkat penerimaan pasar.
Varietas hibrida hanya dapat diproduksi kembali dengan menggunakan
galur tetua yang sama, sehingga memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut
(Groot 2002):

Kegenjahan. Secara umum varietas hibrida lebih genjah dibandingkan


dengan varietas lokal, sehingga siklus tanam lebih pendek.

Vigor sebagai efek dari heterosis. Sifat heterosis berhubungan dengan


produktivitas, ketahanan terhadap penyakit, ketahanan terhadap stres
dan pembentukan buah lebih baik.

Adaptasi yang lebih luas. Hibrida dikembangkan untuk daya adaptasi


terhadap iklim mikro yang lebih luas.

12

Keseragaman.

Tetua yang dipakai merupakan galur murni yang

seragam dan stabil.

Kualitas. Kualitas produk hibrida disesuaikan dengan permintaan dan


kebutuhan pasar.

Bos (1999) mengemukakan bahwa ketertarikan petani dan pemulia tanaman


terhadap varietas hibrida disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

Peluang dalam mengeksploitasi fenomena heterosis. Sifat heterosis


ini merupakan nilai tambah dari varietas hibrida terkait dengan
penggabungan beberapa sifat dari masing-masing tetua.

Pengembangan varietas hibrida dengan beberapa ketahananan


terhadap organisme pengganggu tanaman lebih mudah dibandingkan
dengan pengembangan galur murni, terutama yang bersifat dominan.

Varietas hibrida memiliki mekanisme perlindungan varietas secara


genetika, karena hanya bisa diproduksi ulang dengan menggunakan
tetua yang sama.

Tabel 1 menampilkan jenis, tipe dan nama-nama varietas terong hibrida


dan non hibrida yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian sejak tahun 1992
sampai dengan tahun 2010.
Tabel 1. Varietas-varietas yang mendapatkan SK pelepasan Menteri Pertanian
Jenis
Tipe
Nama
Hibrida

Panjang hijau

Fortuna, Milano, Naga Hijau, Gracia, Ratih Hijau 1,


Ratih Hijau 2, Orlando Green, OR Fabian, Hijau 06,
Hijau JTY

Hibrida

Panjang ungu

Benteng, Mustang, Naga Ungu, Sembrani, Lezata,


Raos, Ratih Ungu, Violet, OR Valerie, Texas Blue,
Ungu 05, Yumi, Olala Ungu, Ungu JTY

Hibrida

Panjang ungu-coklat

Antaboga-1, antaboga-2, Antaboga-3, Prince, Jelita 568

Hibrida

Pondoh ungu

Satria

Hibrida

Panjang putih

San Siro, Ratih Putih1, Kania

Non hibrida

Bulat lurik

Kenari, Gelatik*

Non hibrida

Gong

Hibrida

C252, Teho 555, Silila 505, SM211, Pesona, SS110

Sumber: Direktorat Perbenihan Hortikultura, Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian.


2011; * tidak dilepas tetapi dikomersialisasikan.

13
2.4 Usaha Tani Komoditas Sayuran
AVRDC (2004) mengemukakan bahwa usaha tani sayuran dilakukan
dengan beberapa alasan yaitu: sayuran merupakan diet yang sehat, sayuran
membuat hidup lebih produktif, dan sayuran sangat penting dalam menunjang
perekomian yang kuat.

Perekonomian yang kuat terkait dengan peningkatan

pendapatan petani, yang walaupun bervariasi dengan tingkatan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya.
Produksi sayuran total di Asia Tenggara sebesar 30.3 juta ton dari total
produksi di Asia sebesar 124 juta ton pada tahun 2005, yang menurut Weinberger
dan Lumpkin (2008) diperkirakan senilai USD 12.6 milyar. Kenaikan produksi
akan sangat sulit diprediksi pada 25-30 tahun yang akan datang. Usaha tani
sayuran memiliki nilai penting bagi masyarakat pedesaan, sebagai rotasi budidaya
padi. Usaha tani sayuran umumnya dilakukan setelah panen padi di dataran
rendah atau medium, sedangkan di dataran tinggi pada tanah tegalan dilakukan
sepanjang tahun selama ketersediaan air mencukupi. Panca usaha tani merupakan
teknik budidaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, antara
lain penggunaan bibit unggul dan pengendalian hama penyakit tanaman. Kedua
hal tersebut sangat berkaitan, karena varietas-varietas yang beredar dipasar
memiliki ketahanan terhadap organisme pengganggu yang berbeda-beda (Groot
2002).

Hal ini berarti pemilihan varietas yang tepat sangat menentukan

keberhasilan usaha tani.


Ameriana (2008) mengemukaan bahwa penggunaan pestisida kimia di
tingkat petani sudah melebihi ambang batas dan sangat membahayakan kesehatan
manusia, terutama untuk petani tomat di dataran tinggi Jawa Barat. Dikatakan
pula bahwa perilaku petani dalam penggunaan pestisida ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu: persepsi tentang resiko kegagalan panen, persepsi tentang
ketahanan varietas terhadap organisme pengganggu dan pengetahuan petani
terhadap pestisida dan bahayanya, sehingga komponen pestisida merupakan biaya
yang tinggi dalam usaha tani sayuran.
Keberhasilan usaha tani sayuran biasanya diukur dari rasio keuntungan
terhadap biaya (benefit and cost ratio). Sukiyono (2005) dan Bachrein (2006)
mengemukakan bahwa usaha tani bunga krisan, petani dapat menentukan pilihan
jenis, warna bunga, dan asal bibit yang dapat mendukung keberhasilan produksi

14
untuk

menghitung

nilai

keuntungan

ekonomi

yang

diperoleh

dengan

pertimbangan biaya transportasi, biaya pemasaran dan selera konsumen.


Pengalaman petani dalam usaha tani juga menentukan nilai B/C rasio.
Groot (2002) merumuskan nilai manfaat ekonomi usaha tani sayuran
dengan menggunakan Quality Seed Multiplier analysis, merupakan rasio nilai
tambah pendapatan yang diperoleh dengan usaha tani suatu produk dibandingkan
dengan nilai penambahan biaya benih produk tersebut terhadap produk
sebelumnya.

Atau rasio nilai tambah pendapatan yang diperoleh dengan

mengadopsi varietas baru terhadap peningkatan biaya benih dari varietas baru
tersebut.
2.5 Adopsi dan Penetrasi Varietas Hibrida
Inovasi adalah suatu gagasan, praktek atau obyek yang dirasa baru oleh
seseorang untuk melakukan suatu tindakan dan memerlukan proses untuk diadopsi
(Rogers 1983). Proses adopsi inovasi merupakan proses kejiwaan atau mental
dalam mengambil keputusan untuk menerima atau menolak ide baru dan
menegaskan lebih lanjut tentang penerimaan atau penolakan terhadap ide baru
tersebut. Wahyunindyawati et al. (2002) mengemukakan bahwa adopsi dalam
penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai proses perubahan prilaku baik
berupa pengetahuan, sikap, maupun keterampilan pada diri seseorang setelah
menerima inovasi yang disampaikan penyuluh kepada sasarannya. Penerimaan
disini, mengandung arti bukan sekedar tahu, tetapi dengan benar-benar dapat
dilaksanakan atau diterapkan dengan benar dan dihayati. Selanjutnya dikatakan
bahwa penerimaan suatu inovasi dapat diamati secara langsung maupun tidak
langsung oleh orang lain sebagai suatu cerminan dari adanya perubahan sikap,
pengetahuan dan keterampilannya.
Rogers (2003) mengemukan tentang lima tahapan dalam proses adopsi suatu
inovasi, yaitu: awareness (tahu dan sadar), petama kali mendapat suatu ide dan
praktek baru; interest (minat), mencari rintisan informasi; evaluation (evaluasi),
menilai manfaat inovasi dengan menilai keuntungan dan kerugian bila
melaksanakan suatu ide; trial, mencoba menerapkan suatu inovasi pada skala
kecil; dan adoption (adopsi), penerapan inovasi dalam sekala besar. Tingkat
adopsi bagi tiap-tiap petani berbeda-beda, yang menurut Rogers (2003)

15
dipengaruhi oleh lima atribut, yaitu: keuntungan relatif, kecocokan, kompleksitas,
dapat dicoba (trialbility) dan dapat diamati (observability).
Dua kemungkinan yang akan dilakukan oleh setiap individu terhadap suatu
inovasi, yaitu : melanjutkan mengadopsi (continued adoption) atau menghentikan
adopsi (discontinued adoption). Pada kelompok kedua, pencarian informasi lebih
lanjut tetap dilakukan sehingga terlambat dalam mengadopsi (late adoption)
bahkan tetap menolak (continued rejection).

Sesuai dengan kriteria tersebut

Rogers (1983) melakukan pengelompokan menjadi 5 kategori, yaitu:


a) Innovators, merupakan kelompok kosmopolit yang berani dan senang
dengan pembaharuan.
b) Early adopter, merupakan kelompok yang terdiri dari pemimpin
informal yang menjadi panutan bagi adopter selanjutnya.
c) Early majority, merupakan kelompok dari anggota-anggota yang lebih
dulu mengadopsi dibandingkan dengan kelompok lain.
d) Late majority, merupakan kelompok yang menghindari resiko.
e) Laggards, merupakan kelompok tradisional atau konservatif.
Pengetahuan petani sayur sangat beragam yang berimplikasi terhadap
penerimaan suatu varietas tertentu. Pola adopsi suatu varietas mengikuti pola
adopsi tanaman pangan. Benih unggul yang diintroduksikan harus diikuti dengan
penggunaan input usaha tani lainnya seperti pemupukan, pengendalian hama
terpadu, pengairan, perawatan tanaman yang berbeda-beda serta jalur pemasaran
produk segar yang sangat berhubungan erat dengan kondisi sosial ekonomi
masyarakat (Basuki 2008).
Secara umum adopsi varietas baru memiliki proses dan pola yang sama
dengan teknologi lainnya. Adopsi pertama akan dilakukan oleh kelompok petani
dengan tingkat pengetahuan luas, memiliki posisi yang tinggi dalam kelompok,
selalu memiliki keinginan melakukan uji coba hal-hal yang baru, serta mau
menanggung resiko kegagalan. Kelompok ini biasanya memiliki hubungan yang
dekat dengan penyuluh pertanian baik dari pemerintah maupun dari perusahaan.
Jika varietas baru tersebut memiliki nilai tambah atau menguntungkan akan
mendorong petani-petani disekitarnya untuk melakukan adopsi, sementara
adopter yang pertama akan memperluas lahan usaha tani (Evenson dan Gollin

16
2003). Dikatakan pula bahwa adopter awal memiliki nilai tambah lebih tinggi
dibandingkan dengan adopter berikutnya.

Adopsi varietas jagung dan kapas

transgenik memberikan pandangan yang berbeda tentang nilai tambah bagi petani
kecil di negara-negara berkembang (Smale et al. 2006).

Petani-petani mulai

beralih dari varietas tradisional ke varietas modern, yakni varietas transgenik.