Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

LIMBAH INDUSTRI KELAPA SAWIT

Disusun oleh :
Kelompok

:1&2

Nama kelompok

: 1. Uci Agustin

(06101281320001)

2. Citra Oktasari

(06101281320002)

3. Shinta Suci Ningrum

(06101281320003)

4. Oktie Diyah N

(06101281320006)

5. Desy Rachmawaati

(06101281320010)

6. Siti Ayu Rahma

(06101281320012)

7. M. Adlan Rasyidi

(06101281320013)

8. Eza Okta Novianis

(06101281320018)

Dosen pengampu

: Rodi Edi, S.Pd., M.Si.

Mata kuliah

: Kimia Lingkungan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS


KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
SRIWIJAYA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan baik.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia Lingkungan, Program
Studi Pendidikan Kimia S1. Adapun cakupan pembahasan dalam makalah ini yakni
mengenai Limbah Industri Kelapa Sawit.
Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu, kritik dan saran penulis harapkan demi penyajian yang lebih baik di masa
mendatang. Keberadaan makalah ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak.Oleh karena itu,penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Penulis mengharapkan
pembaca dapat mengambil manfaat dan mendapat ilmu sehingga akan membuka
wawasan baru dari makalah ini.

Palembang, April 2015


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelapa sawit merupakan tanaman dengan nilaiekonomis yang cukup tinggi karena
merupakan salahsatu tanaman penghasil minyak nabati. Produksiminyak kelapa sawit
Indonesia saat ini mencapai 6,5juta ton pertahun dan diperkirakan pada tahun 2012akan
meningkat menjadi 15 juta ton pertahun, kerenaterjadinya pengembangan lahan.Limbah
pabrik kelapa sawit yang mengandungsejumlah padatan tersuspensi, terlarut
danmengambang merupakan bahan-bahan organic dengankonsentrasi tinggi (Kasnawati,
2011).
Definisi limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen penyebab
pencemaran terdiri dari zat atau bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi
masyarakat. Limbah industri kebanyakan menghasilkan limbah yang bersifat cair atau padat
yang masih kaya dengan zat organik yang mudah mengalami peruraian. Kebanyakan
industri yang ada membuang limbahnya ke perairan terbuka, sehingga dalam waktu yang
relatif singkat akan terjadi bau busuk sebagai akibat terjadinya fermentasi limbah. Dalam
10 tahun terakhir ini PabrikKelapa Sawit (PKS) di Indonesiaberkembang dengan sangat
pesat.Sebagian besar lahan-lahan perkebunan nonkelapa sawit di seluruh Indonesia
berangsur-angsurberalih atau diubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.Sebagai
contoh ialah lahan perkebunantebu milik Pabrik Gula di KabupatenPelaihari, Kalimantan
Selatan, telah beralihfungsi menjadi lahan perkebunan KelapaSawit dan masih banyak
lahan-lahan milikkehutanan atau milik masyarakat yang telahdisulap menjadi areal kebun
kelapa sawityang besar.
Dengan meningkatnya pabrik pabrik pengolahan kelapa sawit, tidak dipungkiri
maka akan menyebabkan peningkatan produksi CPO (Crude Palm Oil). Hal ini berarti
Indonesia telah menjadi negara dengan volume eksport CPO yang tinggi. Menurut
Kurniawan (2007), pada tahun 2006, Indonesia memproduksi 15,9 juta ton CPO, dan 11,6
juta ton diantaranya diekspor. Sampai Oktober 2007, produksi CPO sudah mencapai 16,9
juta ton, dan diprediksi bisa mencapai 17,2 ton tahun ini. Dengan lahan tanaman 6 juta
hektar, Indonesia melaju melewati angka produksi Malaysia.

Dengan meningkatnya jumlah ekspor CPO Indonesia, maka timbul permasalahan


lain mengenai CPO, yaitu permasalahan limbah PKS. Pada umumnya, hampir semua PKS
memiliki permasalahan mengenai pengelolaan limbah PKS, baik limbah padat maupun
limbah cairnya. Pada umumnya, Effluent (hasil akhir yang dibuang ke alam) oleh PKS yang
terdapat di Indonesia belum memenuhi kriteria yang berlaku misalnya, BOD (> 100 ppm),
COD (> 150 ppm), pH(< 5), amoniak bebas (> 1,0 ppm), padatan terlarut (> 350 ppm),
padatan tersuspensi (> 100 ppm).
Seiring dengan bertambahnya laju pertumbuhan tanaman kelapa sawit maka industri
pengolahan kelapa sawit juga mengalami peningkatan. Selain menghasilkan minyak kelapa
sawit yang tinggi maka juga menghasilkan limbah yang terdiri atas limbah padat dan limbah
cair. Limbah padat pabrik kelapa sawit berasal dari proses pengolahan tandan kosong kelapa
sawit (TKKS), cangkang atau tempurung, serabut atau serat, lumpur dan bungkil.
Sedangkan limbah cair dari pabrik kelapa sawit berasal dari unit proses pengukusan
(sterilisasi), proses klarifikasi dan buangan hidrosiklon.
Pada umumnya, limbah cair industri kelapa sawit ini berpotensi mencemari air
tanah dan badan air. Namun, limbah ini masih banyak mengandung unsur hara yang
dibutuhkan oleh tanaman dan tanah. Limbah cair ini biasanya digunakan sebagai alternatif
pupuk di lahan perkebunan kelapa sawit. Namun, sebelumnya limbah cair perlu diolah
terlebih dahulu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan limbah industri kelapa sawit?
2. Apa saja jenis atau golongan dari limbah industri kelapa sawit?
3. Apa saja dampak positif dan negatif dari limbah industri kelapa sawit?
4. Bagaimana pengelolaan limbah industri kelapa sawit agar bermanfaat bagi
lingkungan?
C. Tujuan
1.

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan limbah dan sawit

2.

Untuk mengetahui dampak positif dan negatif yang di sebabkan oleh limbah
sawit.

3.

Untuk memahami bagaimana cara pemanfaatan limbah sawit.

4.

Untuk mengetahui bagaimana cara pengelolaan limbah sawit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KELAPA SAWIT DI INDONESIA


Kelapa sawit adalah salah satu komoditi andalan Indonesia yang
perkembangannya demikian pesat. Selain produksi minyak kelapa sawit yang tinggi,
produk samping atau limbah pabrik kelapa sawit juga tinggi. Secara umum limbah dari
pabrik kelapa sawit terdiri atas tiga macam yaitu limbah cair, padat dan gas. Limbah
cair pabrik kelapa sawit berasal dari unit proses pengukusan (sterilisasi), proses
klarifikasi dan buangan dari hidrosiklon. Pada umumnya, limbah cair industri kelapa
sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga potensial mencemari air tanah
dan badan air. Sedangkan limbah padat pabrik kelapa sawit dikelompokan menjadi dua
yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dan yang berasal dari basis
pengolahan limbah cair. Limbah padat yang berasal dari proses pengolahan berupa
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), cangkang atau tempurung, serabut atau serat,
sludge atau lumpur, dan bungkil. TKKS dan lumpur yang tidak tertangani menyebabkan
bau busuk, tempat bersarangnya serangga lalat dan potensial menghasilkan air lindi
(leachate). Limbah padat yang berasal dari pengolahan limbah cair berupa lumpur aktif
yang terbawa oleh hasil pengolahan air limbah.
A. Produksi dan luas areal kelapa sawit
Peningkatan produksi CPO didorong oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit di
Indonesia secara signifikan dari tahun ke tahun. Perluasan perkebunan kelapa sawit
pada periode 2003-2009 berasal dari petani kecil atau pertanian rakyat dengan
pertumbuhan rata-rata 7,19% per tahun. Setelah itu, diikuti oleh perusahaan swasta yang
tumbuh 4,98% per tahun. Sementara itu, kepemilikan pemerintah atas perkebunan
kelapa sawit menurunk 0,63% per tahun dalam periode 2003-2009.
Produksi CPO nasional dapat mengalami peningkatan yang sangat signifikan,
pada thn 1964 produksi sebesar 157.000 MT dalam kurun waktu 10 tahun (thn 1974)
sudah meningkat menjadi 411.000 MT naik sebesar 162% atau rata-rata kenaikan
sebesar 16,2% per tahun. Sedangkan untuk dasawarsa berikutnya produksi CPO
mengalami kenaikan rata-rata 18,9% per 10 tahun, hal ini dapat dilihat dari

perbandingan produksi thn 1984 sebesar 1.185.000 MT dengan produksi tahun 1974
sebesar 411.000 MT. Produksi pada thn 1994 sebesar 4.250.000 MT atau kenaikan
sebesar 3.065.000 MT selama 10 Thn atau rata-rata 306.500 MT/tahun (25,9%/thn).
Produksi tahun 2004 sebesar 13.560.000 (kenaikan rata-rata 21,9%) sedangkan
dibanding produksi tahun 2010 sebesar 23.600.000 MT maka terjadi kenaikan sebesar
10.040.000 MT untuk periode 6 tahun terakhir (rata-rata 12,34%/tahun).
Adapun data produksi CPO Indonesia dari tahun 1964 sampai dengan tahun 2010
dapat kami sampaikan pada tabel dan grafik sebagai berikut :
Tabel : Produksi CPO Indonesia dan Pertumbuhan

Sumber: Departemen Pertanian Amerika Serikat

B. Limbah Kelapa Sawit


Limbah industri kelapa sawit adalah limbah yang dihasilkan pada saat proses
pengolahan kelapa sawit. Limbah jenis ini digolongkan dalam tiga jenis yaitu limbah
padat, limbah cair, dan limbah gas.
1. Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan oleh PKS pada umumnya berupa janjang kosong
(tandan kosong), cangkang dan lain-lain yang masih dapat bermanfaat. Sebagai sumber
energi ketel pabrik dapat digunakan serat, janjang kosong dan cangkangnya. Sedangkan
untuk pupuk dapat digunakan janjang kosong, abu janjang, limbah padat dan cair. Selain itu,
limbah padat yang dihasilkan oleh PKS ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan
ternak yang karena berserat tinggi, nitrogen dan fosfor yang cukup tinggi yang baik bagi
ternak. Diketahui pula bahwa serat janjang kosong ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan
dasar pembuatan pulp karena TBS mengandung 20% lebih crude fiber (serat kasar) yang
dapat diperoleh melalui proses kimia. Batang kelapa sawir sendiri juga dapat dimanfaatkan
sebagai bahan dasar pembuatan perabot rumah, kayu rumah yang berkualitas cukup baik.
Industri kelapa sawit menghasilkan limbah yang berpotensi sebagai pakan, seperti bungkil
inti sawit, serat perasan buah, tandan buah kosong, dan solid (Aritonang, 1986; Pasaribu, et
al., 1998 ; Utomo, et al., 1999) . Bungkil inti sawit mempunyai nilai nutrisi yang lebih
tinggi dibanding Iimbah lainnya dengan kandungan protein kasar 15% dan energi kasar
4.230 Kkal/kg (Ketaren, 1986) sehingga dapat berperan sebagai pakan penguat (konsentrat).

Pelepah Kelapa Sawit


Pelepah kelapa sawit juga mempunyai kandungan nutrisi walaupun dalam
jumlah kecil. Setiap pelepah kelapa sawit yang terpotong mempunyai kandungan
125 Kg N, 23 kg P2O5, 176 kg K2O dan 25 Kg MgO dalam tiap hektarnya selama
setahun. Kandungan nutrisinya dalam persen adalah 0,5% N, 0,1% P2O5, 0,8%
K2O dan 0,1% MgO. Susunan pelepah yang rapi dan berbentuk L pada lahan datar
akan merangsang pertumbuhan akar serabut pada tumpukan pelepah tersebut.
Serat (Fiber)
Pemanfaatan lain dari ampas serabut yakni sebagai mulsa di pembibitan
kelapa sawit terutama di Main Nursery (MN). Ampas serabut diaplikasikan secara
tipis di permukaan atas untuk mengurangi evaporasi tanah sehingga kelembaban
tanah terjaga dan mengurangi pertumbuhan gulma di permukaan tanah polibag.
Janjangan Kosong
Janjangan kosong atau yang biasa disebut EFB (empty fresh bunch)
merupakan bekas TBS (tandan buah segar) yang berondolannya sudah lepas pada
saat pengolahan di pabrik kelapa sawit. Dari setiap TBS yang diolah akan dihasilkan
20% janjangan kosong dari setiap berat TBS yang diolah.

Janjangan kosong mempunyai rasio C/N sangat tinggi sehingga proses dekomposisi
dan mineralisasi janjangan kosong dilapangan oleh mikroorganisme relatif lambat.
Lamanya proses dekomposisi dan mineralisasi janjangan kosong seperti yang terlihat pada
Tabel. Walaupun demikian janjangan kosong sangat kuat menyerap dan menyimpan air.
Janjangan kosong dapat dijadikan sebagai mulsa untuk menahan air agar ketersediaan air
bagi tanaman lebih terjamin terutama untuk kelapa sawit TBM (tanaman belum
menghasilkan). Janjangan kosong juga mengandung nutrisi utama yang dibutuhkan kelapa
sawit walaupun dalam jumlah yang sedikit. Kandungan nutrisi janjangan kosong seperti
yang terdapat pada Tabel.

Tabel. Kandungan Nutrisi Dalam Janjangan Kosong (JJK)

Dried Decanter Solid


Dried Decanter solid atau sering disebut dengan solid merupakan limbah
padat pabrik kelapa sawit. Solid sebenarnya berasal dari mesocarp atau serabut
berondolan sawit yang telah mengalami pengolahan di pabrik kelapa sawit.
Produksi basah solid sekitar 5% dan produksi solid kering sekitar 2 % dari berat
total TBS yang diolah.

Tabel. Kandungan Nutrisi Dalam Solid

Tidak seperti janjangan kosong, decanter solid lebih mudah terurai dilapangan. Secara
umum solid akan melapuk dalam waktu 6 minggu. Solid basah harus segera diaplikasikan
dalam waktu 1 minggu, karena solid basah tidak dapat disimpan lama. Dibandingkan
dengan janjangan kosong, kandungan persentase nutrisi solid lebih tinggi. Persentase nutrisi
solid sangat dipengaruhi oleh kadar air solid itu sendiri. Kandungan nutrisi solid seperti
yang terdapat pada Tabel.

Pakan Ternak
Pemanfaatan solid sebagai pakan ternak diharapkan dapat membantu
mengatasi masalah ketersediaan pakan terutama pada musim kemarau, serta
meningkatkan produktivitas ternak. Rata-rata pertambahan bobot badan harian
(PBBH) sapi milik petani di KabupatenKotawaringin Barat yang tidak diberi pakan
solid jauh di bawah PBBH ternak yang diberi solid, yaitu hanya 250 g/ekor/ hari
(Zulbardi et al. 1995). Hal ini disebabkan kualitas dan kuantitas pakan yang
diberikan, dalam hal ini rumput alam, relatif rendah. Sapi hanya dilepas di padang
penggembalaan yang umumnya hanya ditumbuhi alang-alang tanpa diberi pakan
tambahan (konsentrat). Solid sangat berpotensi sebagai sumber pakan lokal
mengingat kandungan nutrisinya cukup memadai, jumlahnya melimpah, kontinuitas
terjamin, terpusat pada satu tempat, murah karena dapat diminta secara cuma-cuma,
dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Berdasarkan pertimbangan tersebut,
solid memungkinkan untuk menjadi titik tolak agroindustri pakan di Kalimantan
Tengah.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa solid berpotensi


sebagai sumber nutrisi baru untuk ternak dengan kandungan bahan kering 81,56%, protein
kasar 12,63%, serat kasar 9,98%, lemak kasar 7,12%, kalsium 0,03%, fosfor 0,003%, dan
energi 154 kal/100 g (Utomo et al.1999). Pada uji preferensi terhadap 25 ekor sapi Madura,
solid pada akhirnya sangat disukai, namun perlu waktu adaptasi 45 hari.

2. Limbah Cair
Limbah cair juga dihasilkan pada proses pengolahan kelapa sawit.

Limbah ini berasal dari kondensat, stasiun klarifikasi, dan dari hidrosiklon. Limbah
kelapa sawit memiliki kadar bahan organik yang tinggi. Tingginya kadar tersebut
menimbulkan beban pencemaran yang besar, karena diperlukan degradasi bahan organik
yang lebih besar pula.
Limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan industri pengolahan minyak sawit
merupakan sisa dari proses pembuatan minyak sawit yang berbentuk cair. Limbah ini
masih banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dan tanah.
Limbah cair ini biasanya digunakan sebagai alternatif pupuk di lahan perkebunan kelapa
sawit yang sering disebut dengan land application.

Lumpur (sludge) disebut juga lumpur primer yang berasal dari proses
klarifikasi merupakan salah satu limbah cair yang dihasilkan dalam proses pengolahan
kelapa sawit, sedangkan lumpur yang telah mengalami proses sedimentasi disebut
lumpur sekunder. Kandungan bahan organik lumpur juga tinggi yaitu pH berkisar 3 5.
Limbah cair PKS yang akan keluar dari proses pengolahan harus memiliki kualitas dan
standar yang ditentukan keputusan menteri lingkungan hidup (22 oktober 1995) seperti
berikut:

Limbah cair industri pengolahan kelapa sawit yang akan ditinjau lebih lanjut mempunyai
potensi untuk mencemarkan lingkungan karena mengandung parameter bermakna yang
cukup tinggi. Dimana golongan parameter yang dapat digunakan sebagai tolok ukur
penilaian kualitas air adalah sebagai berikut:
- BOD (Biological Oxygen Demand) yang merupakan kadar senyawa organik yang dapat
dibiodegradasi dalam limbah cair.
- COD (Chemical Oxygen Demand) yang merupakan ukuran untuk senyawa organik yang
dapat dibiodegradasi atau tidak.
- Total suspended solidataupadatantersuspensi total (TSS) adalahresidudaripadatan total
yang tertahanolehsaringandenganukuranpartikelmaksimal 2m
ataulebihbesardariukuranpartikelkoloid,yangtermasuk TSS adalahlumpur, tanahliat,
logamoksida, sulfida, ganggang, bakteridanjamur.
- pH adalah keasaman air atau limbah cair yang menenukan tingkat gangguan atau
kehidupan dalam air.
Limbah cair yang dihasilkan oleh PKS ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk mengingat
kandungan hara yang terkandung di dalamnya dapat digunakan oleh tanaman sebagai
sumber hara. Limbah cair ini mengandung unsur nitrogen, fosfor, kalium, magnesium dan
calsium.

Tekhnik aplikasi lahan telah banyak dikembangkan di beberapa negara. Pemilihan teknik
aplikasi tergantung kepada kondisi topografi areal kebun. Ditjen PPHP, Dit. Pengolahan
hasil Pertanian subdit Pengelolaan lingkungan menganjurkan teknik aplikasi sebagai
berikut:
Teknik penyemprotan/ sprinkler.
Limbah cair yang sudah diolah dengan PBAn dengan WPH selama 75-80 hari diaplikasikan
ke areal tanaman kelapa sawit dengan penyemprotan/ sprinklerberputar atau dengan arah
penyemprotan yang tetap. Sistem ini dipakai untuk lahan yang datar atau sedikit
bergelombang, untuk mengurangi aliran permukaan dari limbah cair yang digunakan.
Setelah penyaringan limbah kemudian dialirkan ke dalam bak air yang dilengkapi dengan
pompa setrifugal yang dapat memompakan lumpur dan mengalirkannya ke areal melalui
pipa PVC diameter 3. Kelemahan sistem ini adalah sering tersumbatnya nozzle sprinkler
oeh lumpur yang dikandung limbah cair tersebut. Disampping itu biaya pembangunan
instalasi sistem sprinkler relatif mahal.
Sistem Flatbed atau teknik parit dan teras
Sistem ini digunakan di lahan berombak-bergelombang dengan membuat konstruksi
diantara baris pohon yang dihubungkan dengan saluran parit yang dapat mengalirkan
limbah dari atas ke bawah dengan kemiringan tertentu. Sistem ini dibangun mengikuti
kemiringan tanah. Teknik aplikasi limbah adalah dengan mengalirkan limbah (kadar BOD
3.500-5.000 mg/l), dari kolam limbah melalui pipa ke bak-bak distribusi, 15
berukuran 4m x 4m x 1m, ke parit sekunder (flatbed) berukuran 2,5m x 1,5m x 0,25m, yang
dibuat setiap 2 baris tanaman.

Gambar 4 Bak Distribusi 4m x 4m x 1m

Gambar 5 Parit Sekunder (flatbed) 2,5m x 1,5m x 0,25m


Sistem ini dapat dibangun secara manual atau dengan mekanis menggunakan back-hoe.
Flatbed dibangun dengan kedalaman yang cukup dangkal. Limbah cair yang akan diaplikasi
dipompakan melalui pipa ke atas atau ke dalam bak distribusi. Setelah penuh, lalu dibiarkan
mengalir ke bawah dan masing-masing teras atau flatbed diisi sampai ke tempat yang paling
rendah. Seperti pada gambar dibawah ini aplikasi tergantung kepada kecepatan alir, dan
dapat dialirkan secara simultan melalui beberapa baris flatbed dalam areal tanaman. Dengan

teknik pengaliran ini, secara periodik lumpur yang tertinggal pada flatbed dikuras agar tidak
tertutup lumpur.

3. Limbah Gas
Limbah udara berasal dari pembakaran solar dari generating set dan pembakaran janjangan
kosong dan cangkang di incenerator. Gas buangan ini dibuang ke udara terbuka. Umumnya
limbah debu dan abu pembakaran janjang kosong dan cangkang sebelum dibuang bebas ke
udara dikendalikan dengan pemasangan dust collector, untuk menangkap debu ikutan dalam
sisa gas pembakaran, kemudian dialirkan melalui cerobong asap setinggi 25 meter dari
permukaan tanah. Debu dari dust collector secara reguler ditampung dan dibuang ke
lapangan untuk penimbunan daerah rendahan sekitar kebun.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a. Limbah dari pabrik kelapa sawit terdiri dari limbah cair, limbah padat dan limbah gas.
Ketiga jenis limbah ini dapat dimanfaatkan kembali guna meningkatkan nilai
ekonomisnya.
b. Limbah padat dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Limbah cair dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk karena memiliki kandungan unsur hara yang cukup tinggi
dan limbah gas dapat dimanfaatkan sebagai debu untuk penimbunan jalan.
c. Pengelolaan limbah kelapa sawit dapat menggunakan konsep zero emissions yang
meminimalisir effluent sehingga menjadi ramah terhadap lingkungan. Salah satu cara
yang dapat digunakan adalah land application atau pengaplikasian lahan yaitu
memanfaatkan limbah cair sebagai pupuk bagi tanaman kelapa sawit itu sendiri.
B. Saran
Dalam pemanfaatan limbah cair kelapa sawit perlu diadakannya kajian dan penelitian lebih
detail agar dalam pemanfaatannya lebih optimal. Selain itu meningkatnya permintaan
produk yang ramah lingkungan seharusnya memacu perusahaan untuk berupaya
meningkatkan kuantitas serta kualitas produk. Oleh karena itu, kepedulian pelaku usaha
untuk tetap menaati Undang-undang serta peraturan yang berlaku menjadi modal penting
selain tetap mengupayakan juga teknologi tepat guna dalam pengelolaan limbah cair kelapa
sawit demi kelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Aritonang, D. 1986 . Perkebunan kelapa sawitsebagai sumber pakan ternak di Indonesia
.Jurnal Penelitian dan PengembanganPertanian 5: 93-99 .
Direktoran Jenderal Pengolahan Hasil Pertanian. 2006. Pedoman Pengelolaan Limbah
Industri Kelapa Sawit. Departemen Pertanian. Jakarta.
Kasnawati. 2011. Penggunaan limbah sabut kelapa sawit sebagaibahan untuk mengolah
limbah cair. Ilmu Teknik 6 : 891-898
Ketaren, P.P. 1986 . Bungkil inti sawit dan ampasminyak sawit sebagai pakan ternak.
WartaPenelitian dan Pengembangan Pertanian 8: 10-11 .
Kurniawan, W. 2007. Urgensi Penerapan Sistem Mutu (Kualitas) dan Produktivitas pada
Pabrik Kelapa Sawit. Prosiding Lokakarya Nsional Rapi V. UMS. Solo.
Pahang, I. 2010. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 412 halaman.
Pamin, K., M. M. Siahaan, dan P. L. Tobing, 1996. Pemanfaatan limbah cair PKS pada
perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Lokakarya Nasional Pemanfaatan Limbah Cair cara
Land Application.
Pasaribu, T., A.P. Sinurat, J . Rosida, T.Purwadaria, dan T. Haryati. 1998. Pengkayaan gizi
bahan pakan inkonvensionalmelalui fermentasi untuk ternak unggas . 2.Peningkatan nilai
gizi lumpur sawit melaluifermentasi . Edisi Khusus Kumpulan Hasil-hasilPenelitian
Peternakan Tahun Anggaran1996/1997 . Buku III : Penelitian TernakUnggas . Balai
Penelitian Temak. Bogor .
Tim PT. SP. 2000. Produksi bersih pengolahan tandan buah segar di pabrik kelapa sawit
(pengalaman PT. Salim Indoplantation di Riau). Makalah Lokakarya Pelaksanaan Produksi
Bersih pada Industri Minyak Sawit. Pekanbaru, 2-3 Maret 2000.
Utomo, B.N., E. Widjaja, S. Mokhtar, S.E. Prabowo, dan H. Winarno. 1999. Laporan Akhir
Pengkajian Pengembangan Ternak Potong pada Sistem Usaha Tani Kelapa Sawit. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Palangkaraya, Palangkaraya.
Widjaja, E., B.N. Utomo, R. Rachmadi, S.E. Prabowo, dan D. Hartono. 2000a. Laporan
Akhir Pengkajian Sistem Usaha Pertanian Domba Berwawasan Agribisnis (tahun kedua).
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Palangkaraya, Palangkaraya.
Widjaja, E., B.N. Utomo, dan R. Ramli. 2000b. Potensi limbah kelapa sawit solid sebagai
pakan suplemen ternak sapi. Prosiding Hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian,
Palangkaraya 10 Oktober 2000. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Palangkaraya,
Palangkaraya. hlm. 145154.
Huan, Lim Kim. 1987. Trial on longterm effects of application of POME on soil properties,
oil palm nutrition and yields. Proc. Of the 1987 International Oil Palm/Palm Oil Conference
PORIM.
Zulbardi, M., M. Sitorus, Maryono, dan L.Affandy. 1995. Potensi dan pemanfaatan pakan
ternak di daerah sulit pakan. Edisi Khusus Kumpulan Hasil-hasil Penelitian Tahun
Anggaran. 1994/1995. Ternak Ruminansia Besar. Balai Penelitian Ternak, Bogor.