Anda di halaman 1dari 5

WWW.PERAWATTEGAL.WORDPRESS.

COM

PEMBERIAN OBAT/ MEDIKASI

I. PENDAHULUAN
 Pemberian obat/ medikasi yang aman dan akurat adalah tanggung jawab penting.
 Pemberian obat adalah cara utama terapi yang diprogramkan oleh dokter untuk
mengobati masalah kesehatan klien/pasien (terapi medis).
 Perawat melakukan fungsi kolaboratif dalam memberikan tindakan pengobatan secara
medis.
 Meskipun obat menguntungkan, tapi pemberian obat bukan tanpa reaksi yang merugikan.
 Oleh karena itu, perawat harus :
1. Mengetahui tentang prinsip-prinsip keamanan dalam pemberian obat dan pemantauan
hasilnya.
2. Memberi perhatian yang ketat serta menjaga keakuratan dalam persiapan obat dan
pemberiannya.
3. Memperhatikan ”prinsip lima benar” (enam benar) dalam pemberian obat.
4. Melakukan pendokumentasian.
 Pemberian obat kepada pasien terdapat beberapa cara, yaitu melalui rute :
1. Oral/mulut
2. Parenteral/jaringan
3. Rektal/anus
4. Vagina
5. Kulit
6. Mata
7. Telinga
8. Hidung

II. PEMBERIAN OBAT SECARA PARENTERAL/INJEKSI


 Pemberian obat secara parenteral atau injeksi adalah prosedur invasif yang
melibatkan deposisi obat melalui jarum steril yang dimasukkan (diinsersikan) ke dalam
jaringan tubuh.
 Pemberian obat secara parenteral atau injeksi dapat dilakukan melalui rute :
1. Intrakutan/IC (di dalam jaringan kulit)
2. Subkutan/SC (di bawah jaringan kulit)
3. Intramuskular/IM (di dalam jaringan otot)
4. Intravena/IV (di dalam pembuluh darah vena)
WWW.PERAWATTEGAL.WORDPRESS.COM

III. PRINSIP-PRINSIP PEMBERIAN OBAT


 Prinsip pemberian obat ”lima benar” secara umum, terdiri dari :
1. Benar obat
2. Benar dosis
3. Benar klien
4. Benar rute/ cara
5. Benar waktu
6. Benar dokumentasi (”prinsip enam benar”)
 Prinsip pemberian obat parenteral/injeksi secara khusus :
1. Mempertahankan tehnik aseptik dan steril.
2. Memastikan ketepatan lokasi/area penyuntikan.

IV. MENYIAPKAN OBAT INJEKSI


A. Persiapan Alat :
1. Obat yang dapat tersedia dalam :
 bentuk : serbuk/obat kering ataupun cair
 wadah : ampul maupun vial/flacon
2. Spuit dan jarum sesuai ukuran
3. Kapas alkohol dalam tempatnya
4. Bak spuit
5. Bengkok
6. Gergaji ampul bila perlu
7. Kassa
8. Pelarut/pengencer (air steril/aquabidestilata, salin normal)
9. Buku obat
B. Prosedur Kerja
1. Cuci tangan
2. Cek order/pesanan
3. a. Ampul
o Ayunkan/ketuk bagian atas ampul dengan jari secara perlahan dan cepat
sampai cairan memasuki ruang bawah ampul.
o Tempatkan kassa di leher ampul.
o Patahkan leher ampul ke arah menjauh dari tangan anda.
o Pegang ampul ke arah atas atau miring kanan, masukkan jarum spuit ke
dalam tengah lubang ampul (jangan menyentuhkan ujung atau batang jarum pada
patahan ampul).
WWW.PERAWATTEGAL.WORDPRESS.COM

o Isap obat dengan cepat dengan menggunakan jarum yang cukup panjang
untuk mencapai dasar ampul, ke dalam spuit dengan menarik penghisapnya
(plunger).
o Pertahankan ujung jarum di bawah permukaan cairan, atur ampul agar
semua cairan dalam isapan jarum.
o Bila ada gelembung udara yang teraspirasi (terhisap), jangan
mengeluarkan udara ke dalam ampul. Untuk mengeluarkannya, pegang spuit dan
jarum menghadap ke atas, tarik penghisap perlahan dan dorong ke atas untuk
mengeluarkan gelembung, jangan mengeluarkan cairan.
o Bila ada kelebihan cairan, keluarkan perlahan dengan cara pegang spuit
dan jarum vertikal ke atas sedikit miring ke arah pembuangan.
o Tutup jarum dengan penutup amannya, dan bila perlu ganti jarum.
o Beri identitas pasien yang jelas.

b. Vial
o Lepaskan penutup untuk membuka penutup karet, bila penutup sudah
terbuka usap permukaan tutup karet secara kuat dan cepat dengan kapas alkohol
dan biarkan mengering.
o Tarik penghisap untuk mendapatkan sejumlah udara yang sama dengan
volume obat yang dihisap.
o Letakkan vial pada permukaan datar menghadap ke atas, tusukkan jarum
pada bagian tengah penutup karet.
o Injeksikan/masukkan udara ke dalam vial.
o Balik vial sambil tetap memegang spuit, pegang ujung tabung spuit dan
penghisap dengan ibu jari dan jari tengah dominan.
o Pertahankan ujung jarum di bawah tinggi cairan.
o Biarkan obat masuk ke dalam spuit, tarik penghisap bila perlu.
o Ketuk sisi tabung spuit untuk menghilangkan gelembung udara, keluarkan
udara yang masih ada di atas spuit ke dalam vial.
o Bila volume yang tepat didapatkan, lepaskan jarum dari vial dengan
menarik pada bagian tabung spuit.
o Bila ada kelebihan gelembung udara keluarkan dengan cara pegang spuit
dengan jarum menghadap ke arah atas dan ketuk tabung spuit untuk
menghilangkan gelembung. Tarik penghisap perlahan dan dorong ke atas untuk
mengeluarkan udara, jangan mengeluarkan cairan.
o Tutup jarum dengan penutup amannya, dan ganti jarum dengan yang baru.
WWW.PERAWATTEGAL.WORDPRESS.COM

o Beri identitas pasien yang jelas.

Catatan :
o Bila obat dalam vial berbentuk kering maka harus dilarutkan dulu dengan
pelarut, ataupun bila perlu dilakukan pengenceran pada obat-obat tertentu.
Pelarutan ataupun pengenceran harus dilakukan sesuai dengan perhitungan yang
tepat. Hal ini juga berlaku pada obat dalam ampul.
o Untuk obat yang multidosis, buat lebel yang mencakup tanggal pembukaan,
pencampuran, konsentrasi obat per ml dan paraf perawat.

V. RUMUS PENGHITUNGAN DOSIS OBAT


Contoh sederhana :
1. Obat Ampicillin 1 vial berisi 1000 mg/1 g obat kering diencerkan/dioplos dengan 4 cc
pelarut/air steril, hal ini berarti bahwa :
- Dalam setiap 1 cc obat mengandung 250 mg (1000 mg/4 cc = 250 mg)
- Bila menggunakan spuit 3 cc (1 cc = 10 strip), berarti tiap 1 strip = 25 mg (250mg/10
strip = 25 mg)
- Bila pasien mendapatkan dosis 3 x 500 mg, berarti obat dihisap sampai 2 cc (250mg x 2
cc = 500 mg atau 500 mg/250 mg = 2 cc) setiap kali dilakukan injeksi dalam satu hari 3
kali diberikan dengan interval/jarak pemberian setiap 8 jam (24 jam/3 = 8 jam) secara
IV.
2. Obat Penicillin-G Procain (PP) 1 vial berisi 3 g (3.000.000 units) obat kering
diencerkan/dioplos dengan 10 cc pelarut/air steril, hal ini berarti bahwa :
- Dalam setiap 1 cc obat mengandung 300.000 unit (3.000.000 unit/10 cc =
300.000 unit)
- Bila menggunakan spuit 5 cc (1 cc = 5 strip), berarti tiap 1 strip = 60.000 unit
(300.000 unit/5 strip)
- Bila pasien mendapatkan dosis 2 x 900.000 unit, berarti obat dihisap sampai 3 cc
(300.000 unit x 3 cc = 900.000 unit atau 900.000 unit/300.000 unit = 3 cc) setiap kali
dilakukan injeksi dalam satu hari 2 kali diberikan dengan interval/jarak pemberian
setiap 12 jam (24 jam/2 = 12 jam) secara IM.
- Bila pasien mendapatkan dosis 1.000.000 units (1 g) berarti obat diencerkan
dengan 9 cc pelarut sehingga lebih mudah pembagiannya. (3.000.000 units/9 cc,
sehingga setiap 3 cc berisi 1.000.000 units)
WWW.PERAWATTEGAL.WORDPRESS.COM

Catatan : Pengenceran obat ini dapat disesuaikan dengan prosedur tetap yang ada di RS atau
berdasarkan kebutuhan serta pedoman pelarutan obat yang baku.