Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang
berkaitan erat dengan produk dan pelayanan produk untuk kesehatan.
Dalam bidang industri farmasi, perkembangan teknologi farmasi sangat
berperan aktif dalam peningkatan kualitas produksi obat-obatan. Hal ini
banyak

ditunjukan

dengan

banyaknya

sediaan

obat-obatan

yang

disesuaikan dengan karakteristik dari zat aktif obat, kondisi pasien dan
peningkatan kualitas obat dengan meminimalkan efek samping obat tanpa
harus mengurangi atau mengganggu dari efek farmakologis zat aktif obat.
Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi,
perkembangan di dunia farmasi pun tidak ketinggalan. Semakin hari
semakin banyak jenis dan ragam penyakit yang muncul. Perkembangan
pengobatan pun terus dikembangkan. Berbagai macam bentuk sediaan
obat, baik itu liquid, solid dan semisolid telah dikembangkan oleh ahli
farmasi dan industry.
Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan kebutuhan
masyarakat, yang bertujuan untuk memberikan efek terapi obat, dosis yang
sesuai untuk di konsumsi oleh masyarakat.
Berbagai macam bentuk sediaan obat memiliki kekurangan, salah
satu diantaranya yaitu mudah di tumbuhi mikroba. Untuk meminimalisir
kekurangan tersebut, para ahli farmasis harus bisa memformulasikan dan
memproduksi sediaan secara tepat. Dengan demikian, farmasis harus
mengetahui langkah-langkah yang tepat untuk meminimalisir kejadian
yang tidak diinginkan. Dengan cara melakukan, menentukan formulasi
dengan benar dan memperhatikan konsentrasi serta karakteristik bahan
yang digunakan dan dikombinasikan dengan baik dan benar.
Dalam perkembangan kefarmasian banyak produk obat yang
sediaannya di buat beragam, khususnnya untuk menarik perhatian dari

masyarakat untuk mengonsumsi obat tersebut, macam-macam sediaan


obat yaitu serbuk, kapsul,tablet, pil, emulsi, sirup, dan supositoria.
Dalam percobaan ini

kami membuat sediaan obat berupa

suppositoria, yaitu suatu bentuk sediaan padat yang pemakaiannya dengan


cara memasukkan kedalam lubang atau celah dalam tubuh dimana ia akan
melebur, melunak atau melarut dan memberikan efek lokal atau sistemik
(Ansel, 576).
I.2

Maksud Percobaan
Membuat sediaan suppositoria yang memenuhi standar dan
disyaratkan untuk menghasilkan sediaan yang baik.

I.3

Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mampu
untuk membuat sediaan suppositoria yang memenuhi standar yang
disyaratkan untuk menghasilkan sediaan yang baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Teori Umum

II.1.1 Pengertian Serbuk


Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur,
umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada
suhu tubuh (Dirjen POM, 1979).
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk,
yang diberikan melalui rectal, vagina dan uretra. Umumnya meleleh,
melunak atau melarut pada suhu tubuh (Dirjen POM, 1995).
Jadi, suppositoria dapat didefinisikan sebagai suatu sediaan padat
yang berbentuk torpedo yang biasanya digunakan melalui rectum dan
dapat juga melalui lubang di area tubuh, sediaan ini ditujukan pada
pasien yang mudah muntah, tidak sadar atau butuh penanganan cepat.
II.1.2 Keuntungan dan Kerugian Suppositoria
a. Keuntungan suppositoria (Ansel, 578)
1. Obat

yang

merangsang

lambung

dapat

diberikan

tanpa

menimbulkan rangsangan
2. Obat yang dirusak atau dibuat tidak aktif oleh pH atau aktivitas
enzim dari lambung atau usus tidak perlu dibawa atau masuk ke
dalam lingkungan yang merusak.
3. Obat yang dirusak dalam sirkulasi portal, dapat tidak melewati
hati setelah diabsorpsi pada rectum.
4. Dapat digunakan oleh pasien dewasa dan anak-anak yang tidak
dapat atau tidak mau menelan obat.
5. Cara yang efektif dalam perawatan pasien yang juga muntah.
b. Kerugian suppositoria
1. Dosis obat yang melalui rectum mungkin lebih besar atau lebih
kecil daripada yang dipakai secara oral tergantung dari

faktor-faktor

fisiologis

untuk

diabsorpsi

dan

sifat

basis

supositoria yang dimaksudkan untuk obat-obat sistemik. Efek


lokal umumnya terjadi dengan bentuk/waktu setengah jam
sampai sedikit 4 jam.
2. Cara pemakaian untuk basis PEG harus dicelupkan terlebih
dahulu ke dalam air sebelum dipakai karena dapat menimbulkan
iritasi.
II.1.3 Basis-Basis Suppositoria
1. Minyak Cokelat (Minyak Theobroma)
Minyak cokelat merupakan basis supositoria yang paling banyak
digunakan, minyak cokelat seringkali digunakan dalam resep-resep
pencampuran bahan-bahan obat bila basisnya tidak dinyatakan
apa-apa. Sebagian besar sifat minyak cokelat memenuhi persyaratan
basis ideal, karena minyak ini tidak berbahaya, lunak dan tidak
reaktif, serta meleleh pada temperatur tubuh (Lachman, 1168)
2. Polietilenglikol
PEG memiliki kelarutan dalam air, higroskopisitas dan tekanan
uapnya berkurang dengan meningkatnya bobot molekul rata-rata.
Beberapa kombinasi PEG telah disiapkan untuk basis supositoria
dengan karakteristik fisika yang berbeda-beda. PEG dapat dibuat
dengan metode pencetakan maupun metode kompresi dingin
(Lachman, 1168).
3. Gliserin Gelatin
Supositoria gelatin yang mengandung gliserin tidak mencair pada
temperatur tubuh, tetapi agak larut dalam sekresi lubang tubuh
dimana

supositoria

dimasukkan.

Supositoria

gelatin

yang

mengandung gliserin membantu pertumbuhan bakteri atau jamur


(Lachman, 1168).
II.1.4 Syarat-Syarat Basis yang Ideal

Adapun syarat-syarat basis supositoria yang ideal yaitu (Voight,


282-283):
a) Secara fisiologis netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus)
b) Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat)
c) Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil)
d) Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku
e) Interval yang rendah antara titik lebur mengalir dan titik lebur jernih
II.1.5 Metode Pembuatan Suppositoria
1. Pembuatan dengan cara mencetak
Pertama melebur basis, mencampurkan bahan obat yang
diinginkan, menuang hasil leburan ke dalam cetakan, membiarkan
leburan menjadi dingin dan mengental menjadi supositoria dan
melepaskan supositoria dengan oleum cacao, gelatin gliserin, PEG
dan banyak basis supositoria lainnya yang cocok dibuat dengan cara
mencetak (Ansel, 585).
2. Pembuatan dengan cara kompresi
Supositoria dapat juga dibuat dengan menekan massa yang terdiri
dari campuran basis dengan bahan obatnya dalam cetakan khusus
memakai alat/mesin pembuat supositoria (Ansel, 585).
3. Pembuatan secara menggulung dan membentuk dengan tangan
Dengan terdapatnya cetakan supositoria dalam macam-macam
ukuran dan bentuk, pengolahan supositoria dengan tangan oleh ahli
farmasi sekarang rasanya hampir tidak pernah dilakukan. Namun
demikian membuat supositoria dengan tangan merupakan bagian dari
sejarah seni para ahli farmasi (Ansel, 585).
II.2

Rancangan Formula
Tiap suppositoria 2 g mengandung:
Bisakodil

10 mg

Cera flava

5%

tokoferol

0,05 %

Oleum cacao
II.3

qs

Alasan Penambahan

II.3.1 Alasan formulasi


Supositoria adalah suatu bentuk sediaan pada yang pemakaiannya
dengan cara memasukkan melalui lubang atau celah pada tubuh. Dimana
ia akan melebur, melunak atau melarut dan memberikan efek lokal atau
sistemik (Ansel, 576).
Supositoria rectal dimaksudkan untuk kerja lokal dan paling sering
digunakan untuk menghilangkan konstipasi dan rasa sakit, iritasi, rasa
gatal dan radang sehubungan dengan wasir atau kondisi anorektal
lainnya (Ansel, 578).
Salah satu zat aktid yang digunakan untuk supositoria rectal yaitu
bisakodil. Bisakodil tersedia sebagai tablet enteric dan supositoria.
Bisakodil digunakan sebagai bahan aktif yang berguna untuk mengatasi
konstipasi. Secara penggunaan oral, kerja bisakodil timbul dalam waktu
6-12 jam dan seperempat sampai satu jam setelah pemberian rectal. Pada
pemberian oral bisakodil diabsorbsi kira-kira 5% dan diekskresi bersama
urin. Ekskresi bisakodil terutama dalam tinja (Farmakologi dan Terapi,
529).
Efek sistemik bisakodil belum pernah dilaporkan, tetapi bisakodil
mempunyai efek lokal (Farmakologi dan Terapi, 529; Ansel 593).
Obat-obat yang dimaksudkan untuk efek lokal umumnya tidak
diabsorbsi, misalnya obat-obat untuk wasir, analgetik lokal dan
antiseptic. Basis-basis yang digunakan untuk obat-obat ini sebenarnya
tidak diabsorbsi, lambat meleleh dan lambat melepaskan obat, berbeda
dengan basis supositoria yang dimaksudkan untuk obat-obat sistemik.
Efek lokal umumnya terjadi dalam waktu setengah jam sampai paling
sedikit 4 jam (Lachman, 1186).
Basis supositoria yang digunakan memberikan pengaruh pada
penglepasan zat aktif yang terdapat di dalamnya. Sedangkan oleum

cacao dengan cepat mencair pada suhu tubuh oleh karena tidak
bercampur dengan cairan tubuh, ia tidak dapat secara langsung
melepaskan obat yang larut dalam lemak (Ansel, 580).
Metode cetak tuang merupakan metode yang paling umum
digunakan untuk membuat supositoria skala kecil dan skala besar.
Dengan mengunakan panas sekecil mungkin, basis supositoria yang telah
ditimbang

dilebur

diatas

penangas

air

karena

biasanya

tidak

membutuhkan panas yang terlalu tinggi. Kemudian bahan aktif


diemulsikan atau disuspensikan ke dalamnya. Akhirnya massa dituang ke
dalam cetakan yang telah diberi pelumas (Ansel, 590; Lachman, 1180).
II.3.2 Alasan penambahan zat tambahan
1. Oleum cacao
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai,
karena pada dasarnya oleum cacao termasuk dalam kelompok ini.
Oleum cacao meleleh antara 30-36C, merupakan basis supositoria
yang idel, yang dapat melumer pada suhu tubuh tapi tetap dapat
bertahan sebagai bentuk padat pada suhu kamar biasa (Lachman,
582).
Dibandingkan dengan basis supositoria yang lain, oleum cacao
merupakan basis yang paling ideal. Gliserin bersifat higroskopik
yang dapat menimbulkan efek iritasi pada permukaan mukosa.
Supositoria

gelatin

yang

mengandung

gliserin

membantu

pertumbuuhan bakteri atau jamur dan sering kali digunakan dalam


supositoria vaginal. Sedangkan basis supositoria PEG, tidak
mengandung air sehingga dapat menimbulkan iritasi. Iritasi atau
rasa menggigit ini disebabkan penarikan air dari mukosa
(Lachman, 1174-1175; Ansel, 595).
2. Cera flava
Cera flava digunakan untuk mengurangi kerapuhan dari oleum
cacao dan untuk meningkatkan titik lebur supositoria. Jika

dibandingkan dengan cera alba, cera alba juga sering digunakan


untuk meningkatkan titik lebur supositoria, umumnya dianggap
sebagai bahan yang tidak beracun dan tidak mengiritasi namun
kadang dapat menyebabkan hipersensitivitas (Excipien, 780).
3. tokoferol
tokoferol atau vitamin E bekerja sebagai antioksidan yang
melindungi asam lemak tak jenuh terhadap oksidasi. Apabila
tokoferol mengalami oksidasi, akan terjadi perubahan warna. Jika
dibandingkan dengan antioksidan lainnya seperti butyl hidroksi
anisol dan butyl hidroksi toluene, kedua bahan tersebut juga sering
digunakan sebagai antioksidan namun butyl hidroksi anisol dapat
mengakibatkan iritasi pada mata dan kulit. Selain itu pada
pemanasan butyl hidroksi anisol akan mengeluarkan asap beracun.
Sedangkan butyl hidroksi toluene, jika mengalami oksidasi akan
menyebabkan kebakaran dan pada pemanasan butyl hidroksi toluene
akan mengeluarkan gas iso butane yang bersifat mudah terbakar
(Excipient, 76-78).
II.4

Uraian Bahan

1. Bisakodil supositoria (FI IV, 155; Anderson, 563)


Nama resmi

: Bisakodil Suppositoria

Nama lain

: Suppositoria bisakodil

RM/BM

: C22H19NO4/361,4

Rumus struktur :

Pemerian

: serbuk hablur, putih sampai hampir putih,


terutama terdiri dari partikel dengan diameter
terpanjang lebih kecil dari 50 qm

Kelarutan

: praktis tidak larut dalam air, larut dalam


kloroform dan dalam benzene, agak sukar larut
dalam etanol dan dalam methanol, sukar larut
dalam eter

Stabilitas

: suppositoria

dan

tablet

salut

enteric

harus

disimpan pada suhu kurang dari 30C


Inkompatibilitas : antasida atau susu dapat melarutkan lapisan
enteric

oral

tablet

bisakodil,

menyebabkan

pelepasan obat dilambung dan iritasi lambung


Kegunaan

: Sebagai zat aktif

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik, pada suhu tidak lebih


dari 30

Dosis

: 5 mg 10 mg

2. Alfa tokoferol (FI IV, 798; Excipient, 31-32)


Nama resmi

: Alpha Tocopherol

Nama lain

: Alfa tokoferol, Vitamin E

RM/BM

: C19H50O2/430,72

Rumus struktur :

Pemerian

: praktis tidak berbau dan tidak berasa. Bentuk alfa


tokoferol dan alfa tokoferol asetat berupa minyak
nabati kental jernih, warna kuning atau kuning

kehijauan. D-alfa tokoferol asetat dapat berbentuk


padat pada suhu dingin. Alfa tokoferol asam
suksinat berupa serbuk warna putih
Kelarutan

: tidak larut dalam air, larut dalam etanol, dapat


bercampur dengan eter, dengan aseton, dengan
minyak nabati dan dengan kloroform

Stabilitas

: tokoferol

teroksidasi

perlahan

oleh

oksigen

atmosfer, produk oksidasi meliputi tokoferil,


tokoferil kuinon dan tokoferol hydroquinone serta
dimer dan trimer. Tokoferol ester yang lebih stabil
untuk oksidasi dari tokoferol bebas tetapi kurang
efektif sebagai anti oksidan. Tokoferol harus
disimpan dalam gas inert, dalam wadah kedap
udara, ditempat sejuk, kering dan terlindung dari
cahaya
Inkompatibilitas : tokoferol tidak kompatibel dengan peroksida dan
ion logam, terutama zat besi, tembaga dan perak.
Tokoferol dapat diserap ke dalam plastik
Kegunaan

: Sebagai antioksidan

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Konsentrasi

: 0,001-0,05%

3. Cera flava ( FI IV, 186-187; Excipient, 781)


Nama resmi

: Cera flava

Nama lain

: Malam kuning

RM/BM

: C19H50O2/430,72

Rumus struktur : Pemerian

: padatan berwarna kuning sampai cokelat keabuan,


berbau enak seperti madu. Agak rapuh bila dingin
dan bila patah membentuk granul, patahan non

10

hablur menjadi lunak oleh suhu tangan. Bobot


jenis lebih kurang 0,95
Kelarutan

: tidak larut dala air, agak sukar larut dalam etanol


dingin. Etanol mendidih melarutkan asam serotat
dan sebagian dari mirisin, yang merupakan
kandungan malam kuning. Larut sempurna dalam
kloroform, dalam eter, dalam minyak lemak dan
dalam minyak atsiri. Larut sebagian dalam
benzene dan karbon disulfide dingin, pada suhu
lebih kurang 30C larut sempurna dalam benzene
dan karbon disulfida

Stabilitas

: ketika lilin dipanaskan di atas 150C, esterifikasi


terjadi dengan akibat penurunan nilai asam dan
elevasi titik lebur. Lilin kuning stabil bila
disimpan dalam wadah yang tertutup, terlindung
dari cahaya

Inkompatibilitas : tidak kompatibel dengan oksidator


Kegunaan

: Sebagai bahan pengeras

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Konsentrasi

: 5-20%

4. Oleum cacao (FI III, 453; Excipient, 725)


Nama resmi

: Oleum cacao

Nama lain

: Lemak cokelat

Pemerian

: lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatic,


rasa khas lemak, agak rapuh

Kelarutan

: sukar larut dalam etanol (95%) mudah larut dalam


kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak
tanah P

Stabilitas

: pemanasan oleum cacao lebih dari 36C selama


persiapan

11

supositoria

dapat

mengakibatkan

penurunan titik pemadatan karena pembentukan


kristal meta stabil, hal ini dapat menyebabkan
kesulitan dalam pengaturan supositoria. Oleum
cacao harus disimpan pada temperatur tidak lebih
dari 25C
Kegunaan

: Sebagai basis

Penyimpanan

: harus disimpan pda temperatur tidak lebih dari


25C

BAB III
METODE KERJA
III.1

Alat yang Digunakan


1. Batang Pengaduk
2. Cawan Porselin
3. Cetakan supositoria
4. Lumpang dan Alu
5. Neraca Analitik
6. Penangas air
7. Sendok Tanduk
8. Sudip

III.2

Bahan yang Digunakan

12

1. tokoferol
2. Bisakodil
3. Cera flava
4. Oleum cacao
III.3

Perhitungan Bahan v

Untuk 1 supositoria 2 g @ 5 suppo

Bisakodil 10 mg
0,01 g x 5

= 0,05 g

Nilai tukar

= 0,7 x 0,05 g = 0,035 g

Bobot supo 2 g

= 2 g x 5 = 10 g

Ditambahkan 10%

Jadi bobot supositoria

= 10 g + 1 g = 11 g

Cera flava 5%

x 11 g = 0,55 g

Alfa tokoferol

x 11 g = 0,0055 g = 5,5 mg

1 kapsul

= 100 iu

1 mg

= 1,49 iu

1 kapsul

x 1 mg = 67,11 mg

x 4 mL caster oil

x 10 g = 1 g

= 0,3278
Jadi alfa tokoferol yang ditambahkan = 0,3278 mL

Oleum cacao

= 11 (0,035 + 0,55 + 0,0055) g


= 11 0,5905 g
= 10,4095 g

III.5

Cara Kerja
1.

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

2.

Ditimbang bisakodil 10 mg

3.

Dilakukan kalibrasi cetakan

4.

Dilebur cera flava pada suhu 60C menggunakan penangas air

5.

Dimasukkan cera flava kedalam oleum cacao, lalu dilebur pada


suhu 30C

13

6.

Diaduk menggunakan batang pengaduk

7.

Ditambahkan bisakodil, diaduk sampai homogeny

8.

Dicampurkan alfa tokoferol hingga homogen

9.

Dituangkan ke dalam cetakan

10. Dimasukkan ke dalam lemari pendingin


11. Dikeluarkan dan dikemas dalam aluminium foil
12. Dimasukkan ke dalam kemasan
13. Diberi etiket dan brosur

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
Masukkan gambar yang sudah
torang seduh digelas aaaaaa

IV.2 Pembahasan

14

Serbuk adalah bentuk sediaan yang paling sederhana yang


merupakan dasar awal dari bentuk sediaan seperti tablet, kapsul, dan
sebagainya (Modul penuntun praktikum tekhnologi sediaan padat.
2014).Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang
diserbukkan (Anief, 1993).
Pada percobaan ini, dilakukan formulasi tentang serbuk efflorescen
dengan zat aktif kafein. Dimana serbuk efloresen adalah adalah zat-zat
yang berbentuk kristal dapat menjadi serbuk dan membebaskan kristal air.
Salah satu penanganan dalam serbuk efloresen ini adalah diatasi dengan
penambahan garam-garam anhidrat. Dimana garam-garam anhidrat, atau
cenderung menyerap kelembaban dari udara.
Dalam pemilihan zat-zat tambahan yang akan digunakan dalam
formulasi, ditinjau dari berbagai aspek. Diantaranya yaitu kelarutan,
inkom dari setiap bahan, kestabilan dan bahan-bahan yang cocok.
Rancangan dari suatu bentuk sediaan yang tepat memerlukan
pertimbangan kriteria fisika, kimia dan biologis dari semua bahan-bahan
obat dan bahan-bahan farmasetik yang akan digunakan dalam membuat
produk tersebut. Obat dan bahan-bahan farmasetik digunakan harus
tercampur satu dengan yang lainnya, untuk menghasilkan suatu produk
obat yang stabil, manjur, menarik, mudah dibuat dan aman (Ansel, 2008).
Langkah awal yang dilakukan adalah menimbang masing-masing
bahan yang akan digunakan yaitu untuk 1 batch atau untuk 5 sachet
diperlukan kafein 0,5 g, Aspartam 0,2 g, Na Benzoat 0,004 gr, dan dextrin
19,296 g. Selanjutnya dimasukkan kafein sitrat kedalam lumpang. Dimana
kafein sitrat ini merupakan pencampuran antara kafein dengan asam sitrat
yang telah digerus homogen.
Setelah itu digerus aspartam sebagai pemanis, dan digerus sampai
homogen. Penggunaan aspartam sebagai pemanis karena aspartam
merupakan material yang tidak toksik, dan memiliki tingkat kemanisan

15

160-200 kali lebih manis dari sukrosa, serta tidak ada kepahitan atau tidak
meninggalkan residu (Excipient, hal 48).
Kemudian aspartam dimasukkan kedalam toples dan ditambahkan
Na Benzoat sebagai pengawet dalam sediaan ini. Tujuan ditambahkan
pengawet dalam sediaan adalah untuk mengetahui expared date dari suatu
sediaan. Selain itu juga pengawet digunakan, untuk mencegah tumbuhnya
mikroba dalam suatu sediaan ( Ansel, 2008).
Langkah selanjutnya digerus dextrin sebagai pengisi. Selain sebagai
pengisi, dextrin juga digunakan sebagai pengering serbuk. Pengisi ini
digunakan sebagai zat tambahan dan mencukupkan bobot dalam suatu
sediaan.
Dimasukkan dextrin kedalam toples yang berisi aspartam dan na
benzoat,

dicampurkan

sampai

merata.

Kemudian

semua

bahan

dimasukkan kedalam lumpang yang berisi kafein sitrat.


Semua bahan yang telah dimasukkan kedalam lumpang tadi,
diatmbahkan wild cherry sebagai perasa. Lalu digerus hingga homogen,
kemudian diayak serbuk yang digerus. Dimasukkan kedalam sachet dan
diberi etiket dan brosur. Setelah dievaluasi kelarutannya, ternyata dengan
kombinasi coffein dengan asam sitrat, sediaan ini lebih cepat larut. Karena
asam sitrat memiliki kelarutan yang sangat mudah larut dalam air.
Adapun sediaan ini, diindikasikan sebagai algesik atau pereda rasa
sakit, perangsang jantung dan meningkatkan produksi urin. Serta
pembangkit stamina dan menghilangkan rasa lelah. Dimana kafein sitrat
merangsang sistem saraf pusat dengan cara menaikkan tingkat
kewaspadaan, sehingga fikiran lebih jelas dan terfokus dan koordinasi
badan menjadi lebih baik.

16

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
serbuk efflorescent adalah adalah zat-zat yang berbentuk kristal dapat
menjadi serbuk dan membebaskan kristal air. Yang dapat diatasi dengan
penambahan garam-garam anhidrat. Kombinasi antara kafein dengan asam

17

sitrat, lebih mudah larut dalam air dan diindikasikan untuk menghilangkan
rasa letih.
V.2 Saran
Diharapkan

kepada

seluruh

praktikan

untuk

lebih

lebih

memperhatikan dan lebih mempelajari rancangan formula, agar dapat


menghasilkan sediaan yang baik.

18