Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II

condensing vapor

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kondensor

merupakan

alat

penukar

kalor

pada

sistem

refrigerasi

yang berfungsi untuk melepaskan kalor kelingkungan. Kondensor banyak digunakan


dalam kehidupan kehidupan sehari-hari baik itu dalam industri rumah tangga,
industri otomotif, maupun dalam industri farmasi dan obat-obatan. Di Indonesia
sendiri, kondensor bukanlah hal yang asing. Kondensor banyak kita jumpai dalam
perangkat pendingin pada mobil, maupun Air Conditioner yang terpasang pada
gedung-gedung, instalasi perkantoran atau fasilitas umum seperti mall dan
supermarket.
Prinsip kerja dari percobaan ini adalah proses perpindahan panas yang
mengakibatkan adanya perubahan fasa yaitu dari fasa uap menjadi fasa cair.
Percobaan dilakukan dengan cara menguapkan air dalam tangki pemanas yang
selanjutnya uap tersebut ditampung dalam tangki penampung sampai tercapai
tekanan yang diinginkan. Bila telah tercapai tekanan yang diinginkan uap dapat
dialirkan kedalam pipa - pipa pengembunan. Pengaliran uap panas harus dilakukan
secara bersama - sama dengan air pendingin. Pengukuran suhu dilakukan pada uap
masuk, kondensat keluar dan air pendingin keluar.
Berdasarkan uraian diatas, untuk dapat mengetahui hal-hal yang dapat
mempengaruhi pada proses terjadinya kondensasi serta untuk menentukan koefisien
perpindahan panas yang terjadi didalamnya maka dilaksanakan praktikum tentang
condensing vapor. Praktikum ini sangat penting dilakukan untuk mendukung dalam
menganalisa proses yang terjadi sebelumnya diterapkan pada ukuran dan skala yang
lebih besar, terutama yang berurusan langsung dengan OTK. Karena hal-hal tersebut
berhubungan dan berkenaan langsung dengan proses pada peristiwa kimia.
1.2 Tujuan Percobaan
a. Praktikan dapat mengetahui tentang proses kondensasi.

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

b. Praktikan dapat mengenal dan memahami alat-alat yang dipergunakan,


ditinjau dari segi bentuk, fungsi dan kegunaan.
c. Untuk menetukan koefisien perpindahan panas koefisien pengembunan dari
uap panas pada pipa pengembunan

vertikal dan horizontal dengan

menggunakan persamaan Nusselt.


1.3 Manfaat Percobaan
a. Praktikan dapat mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi proses
kondensasi.
b. Praktikan dapat memahami prinsip dan cara kerja kondensor.
c. Praktikan dapat mengetahui macam-macam proses kondensasi

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Pengertian Kondensor
Kondensor

merupakan

alat

penukar

kalor

pada

sistem

refrigerasi

yang berfungsi untuk melepaskan kalor kelingkungan. Kondensor banyak digunakan


dalam kehidupan kehidupan sehari-hari baik itu dalam industri rumah tangga,industri
otomotif, maupun dalam industri farmasi dan obat-obatan. Di Indonesia sendiri,
kondensor bukanlah hal yang asing. Kondensor banyak kita jumpai dalam perangkat
pendingin pada mobil, maupun Air Conditioner yang terpasang pada gedung-gedung,
instalasi perkantoran atau fasilitas umum seperti mall dan supermarket.
Didalam sistem kompresi uap (vapor compression) kondensor adalah suatu
komponen yang berfungsi untuk merubah fase refrigerant dari uap bertekanan tinggi
menjadi cairan bertekanan tinggi atau dengan kata lain pada kondensor ini terjadi
proses kondensasi. Refrigerant yang telah berubah menjadi cair tersebut kemudian
dialirkan ke evaporator melalui pompa.
II.2 Pengertian Kondensasi
Kondensasi berasal dari bahasa latin yaitu condensare yang berarti membuat
tertutup. Kondensasi merupakan perubahan wujud zat dari gas atau uap menjadi zat
cair. Kondensasi terjadi pada pemampatan atau pendinginan jika tercapai tekanan
maksimum dan suhu di bawah suhu kritis. Kondensasi terjadi ketika uap didinginkan
menjadi cairan, tetapi dapat juga terjadi bila sebuah uap dikompresi (yaitu tekanan
ditingkatkan) menjadi cairan, atau mengalami kombinasi dari pendinginan dan
kompresi.
Contoh bentuk kondensasi dilingkungan sekitar adalah uap air di udara yang
terkondensasi secara alami pada permukaan yang dingin dinamakan embun. Uap air
hanya akan terkondensasi pada suatu permukaan ketika permukaan tersebut lebih
dingin dari titik embunnya atau uap air telah mencapai kesetimbangan di udara,
seperti kelembapan jenuh.
Titik embun udara adalah temperatur yang harus dicapai agar mulai terjadi
kondensasi diudara. Molekul air mengambil sebagian panas dari udara. Akibatnya
LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

temperatur air akan sedikit turun. Di atmosfer, kondensasi uap airlah yang
menyebabkan terjadinya awan. Molekul kecil air dalam jumlah banyak akan menjadi
butiran air karena pengaruh suhu, dan tapat turun ke bumi menjadi hujan. Inilah yang
disebutsiklus air.
Pengendapan atau sublimasi juga merupakan salah satu bentuk kondensasi.
Pengendapan adalah pembentukan langsung es dari uap air,contohnya salju. Cairan
yang telah terkondensasi dari uap disebut kondensat. Sebuah alat yang digunakan
untuk mengkondensasi uap menjadi cairan disebut kondensor. Kondensor umumnya
adalah sebuah pendingin atau penukar panas yang digunakan untuk berbagai tujuan,
memiliki rancangan yang bervariasi,dan banyak ukurannya dari yang dapat di
genggam sampai yang sangat besar. Kondensasi uap menjadi cairan adalah lawan
dari penguapan (evaporasi)dan merupakan proses eksothermik (melepas panas).
II.3 Cara Kerja Kondensor
Uap panas yang masuk ke kondensor dengan temperatur yang tinggi dan
bertekanan yang merupakan hasil proses dari turbin. Kemudian uap panas masuk ke
dalam Suction Pipe dan kemudian mengalir dalam tube. Dalam tube, uap panas
didinginkan dengan media pendingin air yang dialirkan melewati sisiluar tube,
kemudian keluar melalui Discharge Pipe dengan temperatur yang sudah turun.
Prinsip

kondensasi

di

kondensor

adalah

menjaga

tekanan

uap

Superheat Refrigerant yang masuk ke kondensor pada tekanan tertentu kemudian


suhu Refrigerantnya diturunkan dengan membuang sebagian kalornya ke
medium pendingin yang digunakan di kondensor. Sebagai medium pendingin
digunakan udara dan air atau gabungan keduanya. Dalam perancangan ini akan
digunakan air sebagai media pendingin.
Pada proses pendinginan (cooling) cairan refrigerant yang menguap didalam
pipa-pipa Cooling Coil (evaporator) telah menyerap panas sehingga berubah
wujudnya menjadi gas dingin dengan kondisi superheat pada saat meninggalkan
Cooling Coil . Panas yang telah diserap oleh refrigerant ini harus dibuang atau di
pindahkan ke suatu medium lain sebelum ia dapat kembali diubah wujudnya menjadi
cair untuk dapat mengulang siklusnya kembali.
LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

( Faisal , 2013 )
II.4 Macam Macam Kondensor Berdasarkan Klasifikasi Umum
a. Surface Condenser
Prinsip kerja surface Condenser Steam masuk ke dalam shell kondensor
melalui steam inlet connection pada bagian atas kondensor. Steam kemudian
bersinggungan dengan tube kondensor yang bertemperatur rendah sehingga
temperatur steam turun dan terkondensasi, menghasilkan kondensat yang terkumpul
pada hotwell. Temperatur rendah pada tube dijaga dengan cara mensirkulasikan air
yang menyerap kalor dari steam pada proses kondensasi. Kalor yang dimaksud disini
disebut kalor laten penguapan dan terkadang disebut juga kalor kondensasi (heat
of condensation) dalam lingkup bahasan kondensor. Kondensat yang terkumpul di
hotwell kemudian dipindahkan dari kondensor dengan menggunakan pompa
kondensat ke exhaust kondensat.
Ketika

meninggalkan

kondensor,

hampir

keseluruhan

steam

telah

terkondensasi kecuali bagian yang jenuh dari udara yang ada di dalam sistem. Udara
yang ada di dalam sistem secara umum timbul akibat adanya kebocoran pada
perpipaan, shaft seal, katup-katup, dan sebagainya. Udara ini masuk ke dalam
kondensor bersama dengan steam. Udara dijenuhkan oleh uap air, kemudian
melewati air cooling section dimana campuran antara uap dan udara didinginkan
untuk selanjutnya dibuang dari kondensor dengan menggunakan air ejectors yang
berfungsi untuk mempertahankan vacuum dikondensor. Untuk menghilangkan udara
yang terlarut dalm kondensatakibat adanya udara di kondensor, dilakukan deaeration.
De-aerationdilakukan di kondensor dengan memanaskan kondensat dengansteam
agar udara yang terlalut pada kondensat akan menguap. Udara kemudian ditarik ke
air cooling section dengan memanfaatkantekanan rendah yang terjadi pada air
cooling section. Air ejector kemudian akan memindahkan udara dari sistem. Surface
Condenser dibedakan menjadi dua jenis lagi, yaitu :
a) Horizontal Condenser
Air pendingin masuk konddensor melalui bagian bawah, kemudian masuk ke
dalam pipa-pipa pendingin dan keluar pada bagian atas Sedangkan arus panas masuk
LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

lewat bagian tengah kondenser dan keluar sebagai kondensat pada bagian bawah
kondensor.

Kelebihan Kondensor horizontal adalah :


1. Dapat dibuat dengan pipa pendingin bersirip sehingga relaif berukuran kecil
dan ringan
2. Pipa pendingin dapat dibuat dengan mudah.
3. Bentuk sederhana dan mudah pemasangannya.
4. Pipa pendingin mudah dibersihkan
b) Vertical Condenser
Air pendingin masuk kondensor melalui bagian bawah, kemudian masuk ke
dalam pipa-pipa pendingin dan keluar pada bagian atas sedangkan arus panas masuk
lewat bagian atas kondensor dan keluar sebagai kondensat pada bagian bawah
kondensor.

Kelebihan Kondensor vertical adalah :


LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

1. Harganya murah karena mudah pembuatannya.


2. Kompak karena posisinya yang vertikal dan mudah pemasangan.
3. Bisa dikatakan tidak mungkin mengganti pipa pendingin, pembersihan harus
dilakukan dengan menggunakan deterjen.
( Bagas,2014 )
II.5 Cara Menghitung Koefisien Kondensasi Pada Pipa Horizontal dan Vertikal
Harga dari koefisien kondensasi lapisan untuk sejumlah uap pada suatu
permukaan tergantung pada posisi kondensor.
Sesuai dengan cara peletakan kondensor dapat dibagi menjadi :
A. Pipa Vertikal
Untuk mencatat harga h, dapat digunakan penurunan rumus pada pipa
vetikal dengan berdasarkan pada persamaan Nusselt. Rate yang dibutuhkan pada
perubahan dari uap melewati kondensat film liquid dan ke dalam permukaan
pendingin per satuan luas, dirumuskan :
Q k (t t )
A
y

= ` = h (t`- t)

(2 1)

dimana :
k (t t )
y

(2 2)

jika gaya resultan akan melewati tube di design dengan , kemudian gaya respektif

adalah

+
dan

Differensial tangensial akibat gaya gravitasi ke bawah adalah :


(d . dy ) (+d . dy)

=d
dy
dy
pada unit area dx.dz = 1
LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

(2 3)

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

= - d / dy

.d
g dy

(2 4)
.d y
=
g dy

dt=

(2 5)

dimana / konstan
d y .g
=
dy

. gy

+C 1 y +C 2

(2 6)

Dimana C1 dan C2 adalah konstanta V = 0 pada y = 0, C2 dibuat sama dengan


nol. Pada permukaan kondesat dimana tak ada tangensial stress dan
dV
dy

ketika y = y`

|dvdy| = y =0= gy +C 1
v

C 1=

V=

(2 7 )

gy

(2 8 )

g
y
yy

= u dy =
y

gy
3x

(2 9 )

dengan menentukan nilai untuk dari persamaan (2 9) dikalikan dengan y` dan


didefferensialkan dengan respect ke x ke peningkatan dari x ke x + dx
d( y`) = d

g y g y
=
dy
3

d( y`) = ` dx

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

(2 10)

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

dimana : adalah aliran kondensat uap keluar dari posisi normal ke kondensat yang
jatuh per unit area. Dari persamaan (2 2) :
k (t t )
y

` =

subtitusi ` pada persamaan (2 10) ke persamaan (2 11) :


k
g y
(t t )dx =
dy

y (t t )dx =

y=

g
4 k = ( t`- t ) x

4 k ( t t) x
g

4 k ( t t) x
g

y=

(2 11)

(2 12)

(2 13)

Koefisien head transfer melewati kondensat pada jarak x dari per unit area dari
persamaan ( 2 1) :
hx=

Qx/ Ax k
=
t t
y

(2 14)

subtitusikan y`dari persamaan (2 13) :


hx=

k g
1

x
4 (t t )

Total panas melewati kondensat dari 0 ke x :


Qx = hx ( t`- t ) dx

k g
dx
= hx= 4(t t ) (t t ) x

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

(2 15)

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

[ ]

4 k g
3

[(t t) x ]

(2 16)

Jika koefisien rata-rata diantara 2 point adalah :


= (Qx)x L = (4/3)[ kf g / f ] ( t`- t )
( t` - t ) L
( t` - t ) L
=0,943

k f f g
f L t f

(2

17)
Dimana :
tf = ( t`- t ) = ( u + w )

(2 18)

dan
tf = tf - tw
subtitusi dari ` persamann (2 11) menjadi :
k( t`- t ) r d = g d( y`sin )
x y`
3
3 k ( t`- t ) r d = y` dx ( y`sin )
g
m = 3 k ( t`- t ) r

g
m d = ( 3 y` sin dy` + y` cos dt )
= 3 y` sin dy` + y`4 cos d)
Dimana :
d( y`) = U y` dy`
3 y`dy` = dy`
subtitusi persamaan hingga menjadi :
LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

(2 19)

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

d = m sin dy`4 + y`4/m cos d

( 2 - 20 )

dimana :
y`4/m = w` = z
dz = sin dz + z cos d

(2 21)

sin dz/d + z cos - 1 = 0

(2 22)

z 1/sin 4/3 (4/3 sin d + C3 )

(2 23)

saat = 0 dan C3 = 0
z 1/sin 4/3 (sin 1/3 d

(2 24)

subtitusikan persamaan (2 27) :


y` = w m = w 3 k ( t`- t ) r
g
seperti dirumuskan persamaan (2 14) :

(2 25)

hx = k / y`

3 k (t t) r
k 1
hx= = =
y w
3( t t) r

h=

k
d
w
m (21)

(2 27)

k g
h|=0,860
Do t f
h=0,589

k g
Do t f

(2 26)

1/ 4

1/ 4

sehingga :

k f f g
h = 0,725 Do t f

1/ 4

B. Pipa Horizontal

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

(2 28)

Laporan Praktikum Operasi Teknik Kimia II


condensing vapor

Penurunan rumus untuk mencari harga h pada pipa horizontal dengan


menggunakan persamaan Nusselt, yaitu : Aliran massa uap ke dalam kondensat film
melewati r dx dan dengan ketebalan film adalah y` diberikan ke dalam persamaan
konduksi
w` = k ( t`- t ) r dx
y`
Dari persamaan (2 10)
D ( s y`) = g d ( y` sin ) = w` dx
3
(Mc CABE , 1992 )

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur