Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

BUTA WARNA

Disusun oleh:
Ainun Nasikah

13304241008

Pendidikan Biologi A

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
April, 2015

BUTAWARNA
A. Tujuan : mengetahui cara melakukan pengujian test butawarna
B. Latar Belakang
Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel
kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu yang disebabkan oleh
faktor genetis. Buta warna merupakan kelainan genetika yang diturunkan dari orang
tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebut sex linked, karena kelainan ini
dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna.

Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki-laki dan
perempuan. Seorang perempuan terdapat istilah 'pembawa sifat', hal ini menunjukkan
ada satu kromosom X yang membawa sifat buta warna. Perempuan dengan pembawa
sifat, secara fisik tidak mengalami kelainan buta warna sebagaimana wanita normal
pada umumnya, tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor
buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X mengandung
faktor buta warna maka seorang wanita tersebut menderita buta warna.
Pada praktikum ini praktikan diuji satu persatu untuk mengetahui apakah ada
yang mengalami kelainan butawarna atau tidak. Tes buta warna saat ini sangat
dibutuhkan bagi dunia industri, pendidikan, maupun pemerintahan. Hal ini di
sebabkan oleh ketergantungan manusia dalam pekerjaan atau pendidikan yang erat
sekali berhubungan dengan warna.
Tes Ishihara adalah sebuah metode pengetesan buta warna yang dikembangkan
oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1917 di
Jepang. Sejak saat itu, tes ini terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang. Tes
buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan
berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk
lingkaran. Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak
akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal.

C. Dasar Teori
Menurut Ganong (2003) Buta warna merupakan penyakit keturunan yang terekspresi
pada para pria, tetapi tidak pada wanita. Wanita secara genitis sebagai carrier. Istilah buta
warna atau colour blind sebetulnya salah pengertian dan menyesatkan, karena seorang
penderita buta warna tidak buta terhadap seluruh warna. Akan lebih tepat bila disebut gejala
defisiensi daya melihat warna tertentu saja atau colour vision difiency.
Orang yang mengalami buta warna tidak hanya melihat warna hitam putih saja, tetapi
yang terjadi adalah kelemahan/penurunan pada penglihatan warna-warna tertentu misalnya
kelemahan pada warna merah, hijau, kuning, dan biru. Buta warna permanen biasanya terjadi
karena faktor keturunan. Sedangkan orang yang tidak mengalami buta warna dapat

mengalami

buta

warna

apabila

terjadi

faktor-faktor

tertentu

seperti

kecelakaan

(Widyaningsih, Ratri dkk.2010)


Buta warna adalah penyakit keturunan yang disebabkan oleh gen resesif c (asal dari
perkataan Inggris color blind). Karena gennya terdapat dalam kromosom X sedangkan
perempuan memilki 2 kromosom-X, maka seorang perempuan dapat normal homozigotik
(CC), normal heterozigotik (Cc) atau yang amat jarang homozigotik (cc) sehingga buta
warna. Laki-laki hanya memilki sebuah kromosom X saja, sehingga ia hanya dapat normal
(C-) atau buta warna (c-) saja. Seorang perempuan normal (homozigotik CC) yang kawin
dengan seorang laki-laki buta warna (c-) akan mempunyai anak normal, baik laki-laki
maupun perempuan (Suryo, 2005).
Buta warna adalah mutasi genetik yang menjadikan penglihatan subjek penderita
berkurang kepekaannya terhadap panjang gelombang warna tertentu, yang terjadi secara
alami dalam sebuah populasi. Penyakit buta warna ini berpotensi menyebabkan kesulitan bagi
penderita dalam kehidupannya. Dengan penyakit semacam ini, penderita akan mengalami
kesulitan dalam mengenali warna yang banyak digunakan sebagai penanda dalam kehidupan
modern, seperti warna lampu lalu lintas, atau dalam lingkup yang lebih khusus, warna zat
kimia, warna penanda dalam komponen elektronik dan lain sebagainya (Poret, S, Jony, R.D
& Gregory, S. 2009)
Sistem penglihatan manusia di dalam mata memiliki 2 jenis reseptor, yakni sel-sel
batang (rods) dan sel-sel kerucut (cones). Sel-sel batang merupakan reseptor yang peka
terhadap rangsangan cahaya dengan intensitas rendah, dan tidak dapat membedakan warna.
Sel-sel kerucut merupakan sel-sel yang sensitif terhadap intensitas cahaya yang terang dan
memiliki kemampuan membedakan warna. Warna yang dimengerti oleh manusia sendiri
merupakan hasil pengolahan sel-sel kerucut. Sel-sel kerucut tersebut dibagi menjadi tiga jenis
yakni sel kerucut dengan panjang gelombang panjang, menengah, dan pendek.ketiga panjang
gelombang tersebut berkaitan dengan tiga warna utama, yakni merah (gelombang panjang),
hijau (gelombang menengah)dan biru (gelombang pendek) (Poret, S, Jony, R.D & Gregory,
S.2009).
Untuk mengetahui jenis buta warna yang di derita, salah satu metode yang populer
adalah menggunakan tes warna ishihara. Metode ini dinamakan sesuai penemunya Dr
Shinobu Ishihara dari University of Tokyo. Metode ini menggunakan piringan-piringan yang
di dalamnya terdapat lingkaran-lingkaran dengan ukuran dan warna yang tersebar secara
acak. Di dalam sebaran lingkaran-lingkaran tersebut dibentuk sebuah angka atau benda

tertentu yang akan terlihat oleh mata normal, tetapi tidak terlihat bagi penderita buta warna
(Poret, S, Jony, R.D & Gregory, S.2009)

Tipe buta warna ada 3 yaitu monokromat/buta warna total (monochomacy),


dikromat/buta warna parsial (dichromacy) dan anomaly trikromat (anomalous trichromacy).
TINGKATAN BUTA WARNA
Ada tiga jenis gangguan penglihatan terhadap warna, yaitu:
1. Monochromacy
Monochromacy adalah keadaan dimana seseorang hanya memiliki sebuah sel
pigmen cones atau tidak berfungsinya semua sel cones . Monochromacy ada dua
jenis, yaitu rod monochromacy dan cone monochromacy .
a. Rod monochromacy (typical) adalah jenis buta warna yang sangat jarang
terjadi, yaitu ketidakmampuan dalam membedakan warna sebagai akibat dari
tidak berfungsinya semua cones retina . Penderita rod monochromacy tidak
dapat membedakan warna sehingga yang terlihat hanya hitam, putih dan abuabu.
b. Cone monochromacy (atypical) adalah tipe monochromacy yang sangat jarang
terjadi yang disebabkan oleh tidak berfungsinya dua sel cones. Penderita cone
monochromy masih dapat melihat warna tertentu, karena masih memiliki satu
sel cones yang berfungsi (Kurnia, Rahmadi.2009).
2. Dichromacy

Dichromacy adalah jenis

buta warna dimana salah satu

dari tiga sel cone tidak ada

atau tidak berfungsi. Akibat

dari disfungsi salah satu

sel

seseorang yang menderita

dikromatis akan mengalami

gangguan

penglihatan

terhadap

tertentu.

Dichromacy

pigmen

pada

cone,

warna-warna

dibagi menjadi tiga bagian

berdasarkan sel pigmen yang rusak].


a. Protanopia adalah salah satu tipe dichromacy yang disebabkan oleh tidak
adanya photoreseptor retina merah . Pada penderita protanopia, penglihatan
terhadap warna merah tidak ada. Dichromacy tipe ini terjadi pada 1% dari
seluruh pria. Protanopia juga dikenal dengan buta warna merah-hijau seperti
terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Perubahan sensitivitas panjang gelombang warna merah


b.

Deutanopia adalah
warna

yang

gangguan penglihatan terhadap


disebabkan

tidak

adanya

photoreseptor retina

hijau . Hal ini menimbulkan

kesulitan

membedakan hue pada warna

merah

dalam
dan

discrimination).

hijau

(red-green

hue

Gambar 2. Perubahan sensitivitas panjang gelombang warna hijau


c. Tritanopia adalah keadaan dimana seseorang tidak memiliki short-wavelength
cone . Seseorang yang menderita tritanopia akan kesulitan dalam
membedakan warna biru dan kuning dari spektrum cahaya tampak. Tritanopia
disebut juga buta warna biru-kuning dan merupakan tipe dichromacy yang
sangat jarang dijumpai.
3. Anomalous trichromacy Anomalous trichromacy adalah gangguan penglihatan
warna yang dapat disebabkan oleh faktor keturunan atau kerusakan pada mata
setelah dewasa. Penderita anomalous trichromacy memiliki tiga sel cones yang
lengkap, namun terjadi kerusakan mekanisme sensitivitas terhadap salah satu dari
tiga sel reseptor warna tersebut .
a. Protanomaly adalah tipe anomalous trichromacy dimana terjadi kelainan
terhadap long-wavelength (red) pigment, sehingga menyebabkan rendahnya
sensitifitas terhadap cahaya merah . Artinya penderita protanomaly tidak akan
mampu membedakan warna dan melihat campuran warna yang dapat dilihat
oleh mata normal.

Gambar 3. Pergeseran panjang gelombang warna merah

Penderita juga akan mengalami penglihatan yang buram terhadap warna


spektrum merah. Hal ini mengakibatkan mereka dapat salah membedakan
warna merah dan hitam.
b.

Deuteranomaly disebabkan oleh kelainan pada bentuk pigemen middlewavelenght (green)

Sama halnya dengan protanomaly, deuteranomaly tidak mampu melihat


perbedaan kecil pada nilai hue dalam area spektrum untuk warna merah,
orange, kuning, dan hijau. Penderita salah dalam menafsirkan hue dalam
region warna tersebut karena hue-nya lebih mendekati warna merah..
Perbedaan antara keduanya yaitu penderita deuteranomaly tidak memiliki
masalah dalam hilangnya penglihatan terhadap kecerahan (brigthness).
Seperti terlihat pada gambar 4
c.

Tritanomaly adalah tipe anomolous trichromacy yang sangat jarang terjadi,


baik pada pria maupun wanita. Pada tritanomaly, kelainan terdapat pada
shortwavelength pigment (blue). Pigmen biru ini bergeser ke area hijau dari
spektrum warna. Tidak seperti protanomaly dan deuteranomaly, tritanomaly
diwariskan oleh kromosom 7. Inilah alasan mengapa penderita tritanomaly
sangat jarang ditemui (Kurnia, Rahmadi.2009).

D. Metode Percobaan
a. Alat dan Bahan
- Buku Test butawarna (Ishiharas Test )
- Alat tulis
b. Cara kerja

Menguji masing-masing praktikan untuk melihat kemampuannya


membedakan warna dengan menulis apa yang terlihat pada buku test
butawarna pada kolom-kolom yang telah disediakan.

Mencocokkan hasil yang diperoleh masing-masing praktikan dengan


angka atau gambar yang sebenarnya
Menghitung berapa persen kesalahan yang dibuat dalam test tersebut

E. Hasil dan Pembahasan


No.

Angka/Gambar

Gamba

yang terlihat

r
1
2
3
4
5

12
8
5
29
71

Mata normal

Buta warna

12
8
5
29
74

12
3
2
70
21

6
7
8
9
10
11
12
13
14

7
45
2
Pola
16
Pola
35
96
pola

7
45
2
Pola
16
Pola
35
96
pola

X
X
X
2
X
X
protan
strong
5
6
ungu

mild
(3) 5
9 (6)
Ungu
(merah
)

deutan
strong
3
9
merah

Mild
3 (5)
9 (6)
Mera
h
(ungu
)

Praktikum yang berjudul Butawarna ini dilakukan pada tanggal 14 April 2015,
praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara melakukan pengujian tes butawarna.
Langakah-langkah yang dilakukan pada praktikum ini yaitu menguji masing-masing
praktikan untuk melihat kemampuannya membedakan warna dengan menulis apa
yang terlihat pada buku test butawarna pada kolom-kolom yang telah disediakan di
buku petunjuk praktikum, kemudian mencocokkan hasil yang diperoleh dengan
angka/gambar yang sebenarnya lalu langkah yang terakhir yaitu menghitung berapa
persen kesalahan yang dibuat dalam tes tersebut. Alat dan bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah buku test butawarna (ishiharas test).
Tes Ishihara adalah sebuah metode pengetesan buta warna yang dikembangkan
oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1917 di
Jepang. Sejak saat itu, tes ini terus digunakan di seluruh dunia, sampai sekarang. Tes
buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan
berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk
lingkaran. Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak
akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal.
Buku test butawarna ini berupa lembaran-lembaran, pengguanaan media ini
hanya dapat dilakukan pada ruangan bercahaya putih dengan intensitas penerangan
yang cukup, sehingga melakukan tes butawarna ini tidak bisa di sembarang
tempat/ruangan dengan bercahaya redup dan menggunakan cahaya kemerahan atau
lampu pijar. Jika penerangan ruangan tidak sesuai dengan ketentuan standar, maka
warna pada media tes pun akan berubah.

Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel


kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu yang disebabkan oleh
faktor genetis. Buta warna merupakan kelainan genetika yang diturunkan dari orang
tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebut sex linked, karena kelainan ini
dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna.
Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki-laki dan
perempuan. Seorang perempuan terdapat istilah 'pembawa sifat', hal ini menunjukkan
ada satu kromosom X yang membawa sifat buta warna. Perempuan dengan pembawa
sifat, secara fisik tidak mengalami kelainan buta warna sebagaimana wanita normal
pada umumnya, tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor
buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X mengandung
faktor buta warna maka seorang wanita tersebut menderita buta warna.
Berdasarkan dari tes yang telah dilakukan, praktikan dapat membaca semua
angka dan gambar yang tampak pada lembar uji pada Buku Tes Buta Warna Ishihara
dengan benar kecuali nomer 5 dari 14 uji. Pada uji nomor tersebut, hasil sebenarnya
menunjukkan angka 74 tetapi yang saya lihat adalah angka 71, sehingga persentase
kesalahan yang dilakukan adalah sebesar 7,14%. Nilai tersebut tidak terlalu besar, dan
praktikan dapat membedakan dengan jelas antara warna merah dengan hijau sehingga
diperoleh hasil bahwa praktikan tidak menderita buta warna. Apabila persen
kesalahan masih dibawah 50%, praktikan dinyatakan masih normal. Dan apabila
persen kesalahan lebih dari 50%, praktikan dinyatakan memiliki penyakit buta warna
Angka atau gambar yang sebenarnya pada buku tes diantaranya adalah angka
12, 8, 5, 29, 74, 7, 45, 2, pola, 16, pola, 35, 96, dan yang terakhir adalah pola.
Jika diturut dari silsilah keluarga, tidaka keluarga dari paraktikan yang
menderita kelainan buta warna. Kemudian kesalahan yang dilakukan praktikan dalam
membaca buku Ishihara test disebabkan karena krang jelinya pengamatan praktikan.
Gen buta warna selalu terpaut pada kromosom X, akibatnya, terkait buta
warna, seorang perempuan mempunyai tiga kemungkinan: normal dan tidak
menurunkan sifat buta warna untuk semua anaknya, normal tapi mampu menurunkan
sifat buta warna pada anak laki-lakinya, serta kemungkinan ketiga ia mengalami buta
warna dan menurunkannya kepada anak laki-lakinya. Seorang perempuan yang buta
warna bisa dipastikan akan memiliki anak laki-laki yang buta warna.
Sementara seorang laki-laki hanya ada dua kemungkinan, yaitu normal dan
tidak menurunkan sifat buta warna kepada anak-anaknya, atau kemungkinan kedua ia
mengalami buta warna dan menurunkan sifat buta warnanya kepada anak

Probabilitas buta warna


1. Perempuan Normal dengan Laki-laki Normal
a. P1 :

XX

(Normal)

XY
(Normal)

F1 :

XX
XX

XY
XY

100% perempuan normal(XX)


100% laki-laki normal (XY)

X
X

2. Perempuan karier dengan Laki-laki Normal


XXcb

b. P1 :

XCY

(karier)

(Normal)

F1 :

25% perempuan normal(XX)

25% perempuan karier buta warna (XXcb)

X
Xcb

XX
XXcb

XY
XcbY

25% laki-laki normal (XY)


25% laki-laki buta warna (XcbY)

3. Perempuan Buta Warna dengan Laki-laki Normal


XcbXcb

c. P1 :

(buta warna)

XY
(Normal)

F1 :

Xcb
Xcb

100% perempuan karier buta warna (XXcb)

100% laki-laki buta warna (XcbY)


cb

XX
XXcb

cb

X Y
XcbY

4. Perempuan Normal dengan Laki-laki buta warna


d. P1 :

XX
(normal)

XcbY
(buta warna)

F1 :

Xcb

100% perempuan karier buta warna (XXcb)

100% laki-laki normal (XY)

X
X

cb

XX
XXcb

XY
XY

5. Perempuan Karier dengan laki-laki Buta Warna


XXcb

P1 :

XcbY

(karier)

(buta warna)

F1 :

Xcb

25% perempuan buta warna (XcbXcb)

25% perempuan karier buta warna (XXcb)

X
Xcb

XXcb
XcbXcb

XY
XcbY

25% laki-laki normal (XY)


25% laki-laki buta warna (XcbY)

6. Perempuan Buta Warna dengan Laki-Laki Buta Warna


XcbXcb

e. P1 :

(buta warna)

XcbY
(buta warna)

F1 :

Xcb
Xcb

Xcb

100% perempuan buta warna (XcbXcb)


100% laki-laki buta warna (XcbY)

XcbXcb
XcbXcb

XcbY
XcbY

F. Kesimpulan
Test buta warna dilakukan dengan melihat angka atau pola yang tertera pada
lembar halaman Ishihara test book. Orang yang menderita buta warna tidak dapat
membedakan warna merah dan hijau, sehingga orang tersebut tidak melihat
angka/pola atau menunjukkan hasil yang berbeda dari hasil yang sebenarnya.
Pada percobaan buta warna, dapat disimpulkan bahwa praktikan (Ainun) tidak
mengalami buta warna, karena persen kesalahan masih dibawah 50%, praktikan
dinyatakan masih normal. Dan apabila persen kesalahan lebih dari 50%, praktikan
dinyatakan memiliki penyakit buta warna.

DAFTAR PUSTAKA

Agusta, Sofiar, Tony Mulia, M. Sidik. 2012. Instrumen Pengujia Buta Warna Otomatis.
Departemen Ilmu Kesehatan Mata, Kedokteran UI. Vol. 3 No.1.
Ganong, W. F. 2003. Buku Ajar Kedokteran, Edisi Duapuluh. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
J.Case, Betsy.2003. Color Blindness.USA : pearson Education.
Kurnia, Rahmadi.2009. Penentuan Tingkat Butawarna Berbasis HIS pada Citra Ishihara. FT
Universitas Andalas.
Poret, S, Jony, R.D & Gregory, S. 2009. Imagae Processing for colour Blindness Correction.
Sciene and Technology for Humanity, 2009 IEEE Toronto International Conference.
Toronto, Canada, 26-27 september 2009.
Ratri, widyaningsih dkk.2010. Aplikasi Tes Buta Warna Dengan Metode Ishihara Berbasis
Komputer. FMIPA Universitas Mulawarman.Vol. 5 No.1
Suryo.2005. Genetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Wicaksana, Burhan Adi.2011. Implementasi sistem Bantuan Penderiata Buta Warna :
Pendeteksian Warna dan Tampilan Informasi Warna dengan Platform NET dan
Emgucvy Library. Depok : Universitas Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai