Anda di halaman 1dari 4

Pendapat Kritis Buku “Eksposisi Surat Filemon Dan Yakobus

Penulis : Mary Hartanti


Penerbit: Yayasan ANDI, yogyakarta

Pendahuluan:
Pertama saya melihat buku ini dipikiran saya telah terbayang bahwa isi dari buku
ini sangat terbatas. Hal ini karena sosok buku yang kecil atau pocket dan tipisnya buku
tersebut, yang hanya 108 halaman untuk eksposisi dua surat yaitu surat Filemon dan surat
Yakobus.
Penulis dari buku ini juga agak kurang meyakinkan Karena tidak terlalu terkenal
di dalam catatan penulis-penulis buku-buku eksposisi Alkitab. Penulis adalah seorang
pendeta evangelis yang tidak mencatat gelar akademisnya. Padahal didalam menulis buku
gelar akademis sangat menentukan berbobot tidaknya buku yang ditulisnya.
Yayasan percetakan memang cukup meyakinkan yaitu Yayasan ANDI. Sepak
terjang yayasan ini telah dikenal masyarakat luas dalam mencetak buku-buku rohani yang
cukup bermutu, namun yayasan ini tidak dapat dibandingkan dengan BPK gunung mulia,
ataupun Gandum Mas yang merupakan pemain lama dalam mencetak dan menulis buku-
buku rohani yang Theologis.

Isi:
Untuk lebih jelas lagi didalam melihat dan mengkritisi buku ini maka saya akan
mengomentari buku ini bab per bab.

Bab 1 Sekilas Penjelasan Tentang Surat Filemon


Mengenai ulasan mengenai surat Filemon, penulis buku menguraikan
pendahuluan tentang surat Filemon dengan sangat baik. Istilah ”Kartu Pos” untuk
menjelaskan singkatnya surat ini dibanding dengan surat Paulus yang lain memberikan
keunikan tersendiri didalam penjelasan latar belakang dari surat ini.
Dalam menjelaskan siapa penulis surat ini, penulis buku menerangkan bahwa ini
adalah tulisan rasul Paulus, semakin diperjelas lagi dengan bukti-bukti otentik dari orang-
orang seperti Jerom dan Chrysostom. Hal ini semakin diperkuat dengan tidak adanya
tentangan hingga abad ke-19.
Dalam menjelaskan saat dan waktu penulisan surat Filemon, penulis buku
menjelaskannya dengan baik yaitu pada saat pemerintahan Romawi. Penulis memakai
ayat-ayat Alkitab secara topikal untuk menjelaskan saat dan waktu penulisan surat ini,
namun penulis buku tidak menyertakan waktu atau tahun penulisan sehingga memberikan
nilai minus dalam otentiknya bukti-bukti yang dapat dipercaya di dalam menjelaskan saat
dan waktu penulisan surat Filemon tersebut.
Dalam bab ini penulis buku juga menyertakan penggambaran pengampunan
Tuhan Yesus Kristus dalam Kisah kekeluargaan antara Onesimus dan Filemon. Penulis
buku lebih menafsirkan bahwa Kasih Tuhan sama dengan Kisah Onesimus yang bersalah
dengan melakukan pelanggaran yang besar. Akan tetapi, karena didorong oleh kasihnya
yang besar, Rasul Paulus bersedia untuk menjadi pengantara yang memohonkan
pengampunan bagi Onesimus. Onesimus terhukum menurut undang-undang, tetapi
diselamatkan oleh anugerah atau kasih karunia. Penulis juga menyertakan ayat-ayat yang
menjadi pendukung didalam menjelaskan gambaran kasih dan pengampunan Tuhan
Yesus Kristus dalam Kisah kekeluargaan antara Onesimus dan Filemon.
Dalam menjelaskan kunci-kunci Surat Filemon, penulis buku ini memberikan
tema besar surat ini yaitu ”Pengampunan dari perbudakan”. Surat Filemon
mengembangkan hubungan dari perbudakan menjadi persaudaraan yang disebabkan oleh
kasih Kristiani dan pengampunan. Surat Filemon 1 : 16-17 merupakan ayat kunci untuk
menjelaskan tema besar ini. Penulis lebih melihat bahwa surat ini juga ditujukan kepada
orang-orang Kristen lainnya yang ada di lingkungan Filemon, sebab Rasul Paulus ingin
agar hal ini mempunyai dampak kepada orang-orang atau jemaat di Kolose. Penjelasan
mengenai tema besar yang dibahas dalam surat ini memberikan nilai tambah dalam
membahas eksposisi surat Filemon. Namun sayangnya penulis tidak menjelaskan dengan
baik alasan perbudakan tersebut dan mengapa harus ada jalan pengampunan dari
perbudakan, padahal onesimus ada dalam status yang salah secara hukum kepada
Filemon.
Dalam bab ini juga penulis buku menyertakan ringkasan surat Filemon. Penulis
menjelaskan bahwa surat Filemon adalah surat rasul Paulus yang paling pendek. Surat ini
adalah surat yang berisi kesopansantunan, perhatian, dan keprihatinan untuk mengampuni
seseorang, yang jika tidak diampuni, orang tersebut dapat menghadapi hukuman mati.
Dalam buku ini penulis membagi surat Filemon dalam 3 bagian atau komponen, yaitu:
1. Doa ucapan syukur bagi Filemon (ayat 1 -7).
2. Permohonan anugerah Rasul Paulus bagi Onesimus (Ayat 8 – 16).
3. Janji Rasul Paulus kepada Filemon (Ayat 17 – 25).
Penulis membagi surat ini dengan tidak memakai perikop pembagian Lembaga Alkitab
Indonesia. Penulis membagi surat ini sesuai dengan pokok pikiran yang bersangkutan
antara ayat-ayat dalam surat ini. Hal ini memberikan kemudahan untuk menggali surat ini
sesuai dengan pokok-pokok pikiran yang telah dibagi dengan baik.

Bab II Studi Surat Filemon


Dalam studi eksposisi surat Filemon, kembali penulis buku ini memakai outline
yang penulis telah buat untuk menggali ayat-ayat dalam surat Filemon dengan baik.
Penggalian surat ini dapat dijabarkan menjadi:
A. Doa Ucapan Syukur bagi Filemon (Ayat 1-7)
Dalam point pertama ini penulis buku membagi menjadi 6 outline pembahasan kecil
yaitu:
1. Asal Surat (ayat 1, 2)
Penulis buku melihat bahwa jika melihat dari ayat 1, 2 maka terlihat jelas surat ini
ditulis Rasul Paulus dan ditujukan kepada Filemon, Apfia, Arkhipus, serta jemaat
yang ada di rumah Filemon. Sangat disayangkan bahwa penulis buku tidak
menjabarkan dengan begitu komprehensif tentang asal surat, pengaruh penulisan
surat-surat paulus, mengapa harus ada penyertaan nama pengirim dan mengapa
yang ditekankan hanya Timotius, Filemon, Apfia, dan Arkhipus saja didalam
surat ini. Ekposisinya juga terasa kering karena tidak disertainya studi kasus
bahasa yunani didalam menggali bagian ini. Kebanyakan penulis juga
menafsirkan dengan tidak melihat dari buku-buku Theologia yang dapat
mendukung sehingga penjelasan masih terlihat kurang di bagian ini misalnya
mengapa Apfia dapat disebut sebagai isteri Filemon dan mengapa Akhipus
disebut sebagai anak laki-laki Filemon padahal tidak ada keterangan yang
mendukung kebenarannya.

2. Ucapan salam dan berkat (ayat 3)


Hal yang sama juga dilakukan oleh penulis buku ini dalam point penjelasan
Ucapan salam dan berkat. Penulis tidak menyertakan studi konteks jaman
penulisan surat sebagai perbandingan, penulis juga tidak menjelaskan mengapa
surat Paulus identik dengan Ucapan salam dan berkat. Penulis hanya menjelaskan
secara singkat bahwa ucapan salam ini adalah suatu ucapan salam yang
dikirimkan seorang hamba Tuhan kepada saudara seiman, atau surat cara Kristen,
bukanlah sekadar kata basa-basi, pemanis, atau ucapan-ucapan duniawi yang bisa
menjerat atau mengakibatkan orang yang menerimanya tergelincir.
3. Ucapan syukur untuk Filemon (ayat 4)
Dalam point ini penulis buku hanya menjelaskan dengan singkat bahwa Paulus
selalu mengucap syukur bila mengingat Filemon dalam doanya. Setelah
penjelasan tersebut penulis langsung memberikan implikasi praktis yaitu, kita pun
perlu mengucap syukur untuk orang-orang yang kita ingat di dalam doa-doa kita.
Penjelsan ini masih terasa sangat dangkal dan kurang, karena masih perlu banyak
penjelasan mengenai kebiasaan paulus didalam mengawali suratnya dengan
ucapan syukur bukan hanya kepada Filemon saja namun juga kepada jemaat-
jemaat Tuhan.
4. Alasan mengapa mengucap syukur (ayat 5)

5.
6.