Anda di halaman 1dari 37

N

A
U
L
U
H
A
D
N
E
N
P
A
U
L
U
H
A
D
PEN

N
A
U
L
U
H
PENDA

Latar
Latar Belakang
Belakang

Masalah kesehatan masyarakat, terutama


lingkungan
Rumah Sakit harus berfungsi sebagaimana
mestinya, yaitu sebagai tempat pelayanan
kesehatan yang memberikan dampak positif
bagi kesehatan masyarakat, bukan dampak
negatif.
Perlu ditingkatkan lagi upaya petugas
kesehatan
dan
pemerintah
dalam
menangani pengolahan limbah di Rumah
Sakit.

Rumusan
Rumusan Masalah
Masalah

Apa sajakah dampak pencemaran


limbah cair rumah sakit yaitu darah
bagi kesehatan?
Bagaimana cara pengolahan yang
tepat untuk limbah darah rumah
sakit tersebut?

Tujuan
Tujuan

Untuk mengidentifikasi mekanisme


dampak limbah darah terhadap
lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Untuk mengidentifikasi cara pencegahan
dan pengelolahan limbah darah tersebut.
Untuk mengidentifikasi teknologi apa saja
yang bias dugunakan untuk mengelolah
limdah darah dari rumah sakit.

Manfaat

Mahasiswa
dapat
mengumpulkan
data,
memanfaatkan informasi dan mengidentifikasi
dampak limbah cair (darah) bagi kesehatan.
Mahasiswa
dapat
menganalisis
dan
menyimpulkan solusi apa saja yang bisa
direkomendasikan untuk menangani masalah
dalam hal ini adalah dampak limbah cair
(darah) rumah sakit.
Makalah dapat dimanfaatkan sebagai bahan
untuk dipelajari mengenai dampak limbah cair
(darah) bagi kesehatan di beberapa rumah sakit
di Indonesia.

TINJAUAN
TINJAUAN PUSTAKA
PUSTAKA

Pengertian Limbah Rumah Sakit


Limbah rumah Sakit adalah semua limbah yang
dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan
kegiatan penunjang lainnya.

Limbah cair Rumah Sakit adalah cairan yang


dianggap tidak lagi bermanfaat bagi pengguna
dan dibuang kembali ke lingkungan air. Limbah
cair tersebut merupakan hasil dari kegiatan
Rumah Sakit dan kegiatan penunjang lain di
Rumah Sakit.

Klasifikasi
Klasifikasi Rumah
Rumah
Sakit
Sakit
Rumah Sakit Klas A
Rumah Sakit Klas A
Klasifikasi Rumah
Sakit menurut
(Anonimous, 1989) :

Rumah Sakit Klas B


Rumah Sakit Klas B
Rumah Sakit Klas C
Rumah Sakit Klas C
Rumah Sakit Klas D
Rumah Sakit Klas D

Pengelompokkan
PengelompokkanLimbah
LimbahRumah
Rumah
Sakit
Sakit
a.
b.
c.
d.
e.
f.

g.
h.

Limbah Umum
Limbah Patologis
Limbah Radioaktif
Limbah Kimiawi
Limbah Infectious
Benda-benda tajam yang digunakan
dalam kegiatan Rumah sakit
Limbah Farmasi
Limbah Citotoksik

Jenis Spesifik Limbah


Infectious :

Limbah human anatomical


Limbah tubuh hewan
Limbah laboratorium mikrobiologi
Limbah-limbah benda tajam

Sumber
Sumber Limbah
Limbah Cair
Cair Rumah
Rumah Sakit
Sakit
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ruang
Ruang
Ruang
Ruang
Ruang
Ruang
Ruang
Ruang

Laboratorium
Perawatan
Poliklinik
Radiologi
Bedah
Dapur
Bersalin
Pencucian

Karakteristik
Karakteristik Limbah
Limbah Cair
Cair
1.

2.

Limbah Cair Tidak Beracun


(nontoksik)
Limbah Cair Beracun (toksik)

Dampak Limbah Cair

Gangguan
Gangguan
Gangguan
Gangguan

Terhadap
Terhadap
Terhadap
Terhadap

Kesehatan
Kehidupan Biotik
Keindahan
Kerusakan Benda

Teknologi Pengelolaan Limbah


Cair Rumah Sakit

Ozonisasi
Proses ozonisasi telah dikenal lebih dari seratus
tahun yang lalu. Proses ozonisasi atau proses
dengan menggunakan ozon pertama kali
diperkenalkan Nies dari Prancis sebagai metode
sterilisasi pada air minum pada tahun 1906.
Penggunaan
proses
ozonisasi
kemudian
berkembang sangat pesat. Dalam kurun waktu
kurang dari 20 tahun terdapat kurang lebih 300
lokasi pengolahan air minum menggunakan
ozonisasi untuk proses sterilisasinya di Amerika
(Berlanga, 1998).

Ozonisasi Limbah cair rumah


sakit Menurut (Harper, 1986) :

Limbah cair dikumpulkan


Equalisasi
Dicampur dengan koagulan
Sedimentasi
Filtrasi
Adsorpsi
Dibuang ke sungai

PEMBAHASAN
PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

Dampak Limbah Darah bagi kesehatan

Jenis Infeksi

Organisme
Penyebab

AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Septikemia

Staphylococcus spp.

Bakteriemia

Hepatitis B dan C

Staphylococcus spp., koagulasi


negative, Staphylococcus
aureus, Enterobacter,
Enterococcus, Klebsiella,
Streptococcus spp.
Virus Hepatitis B dan Hepatitis
C

Pengelolaan Limbah Medis

Pengolahan
Pengolahan Limbah
Limbah Darah
Darah di
di
Rumah
Rumah sakit
sakit
Point penting dalam pengelolaan limbah medis
adalah sterilisasi, kemudian pengurangan (reduce)
dalam volume, penggunaan kembali (reuse) dengan
sterilisasi, daur ulang (recycle), dan pengolahan
(treatment).
Sebelum diolah, limbah darah harus dipisahkan
antara yang terinfeksi dan tidak terinfeksi.
Adapun tahap pengolahan limbah darah, antara
lain :

1.
2.
3.
4.
5.

Pemisahan
Penyimpanan
Pengangkutan
Penanganan
Pembuangan

Pemisahan Limbah Darah


Limbah medis yang akan dibuang dipisahkan
menggunakan kantong plastik berwarna yang
berlabel. Berikut adalah contoh warna kantong
menurut DepKes RI:
Kantong hitam : limbah umum
Kantong kuning : limbah yang harus diinsinerasi
Kantong kuning strip hitam : limbah yang
sebaiknya diinsinerasi, tetapi dapat dibuang ke
landfill
Kantong biru muda : limbah yang harus
disterilisasi
Limbah infectious dan patologis berupa darah
merupakan limbah yang harus dipisahkan tersendiri.

Penyimpanan Limbah
darah

Dibeberapa Negara kantung plastik


cukup mahal sehingga sebagai gantinya
dapat digunkanan kantung kertas yang
tahan bocor (dibuat secara lokal
sehingga dapat diperloleh dengan
mudah) kantung kertas ini dapat
ditempeli dengan strip berwarna,
kemudian ditempatkan ditong dengan
kode warna dibangsal dan unit-unit lain.

Penanganan Limbah Darah

Limbah darah merupakan Limbah yang tidak dapat didaur


ulang dan kantong-kantong pembungkus limbah darah,
sehingga akan dibakar (insinerasi)
Kantung-kantung darah harus dibuang jika telah terisi 2/3
bagian. Kemudian diikiat bagian atasnya dan diberik label yang
jelas
Kantung harus diangkut dengan memegang lehernya,
sehingga jika dibawa mengayun menjauhi badan, dan
diletakkan ditempat-tempat tertentu untuk dikumpulkan
Petugas pengumpul limbah harus memastikan kantungkantung dengan warna yang sama telah dijadikan satu dan
dikirimkan ketempat yang sesuai
Kantung harus disimpan pada kotak-kotak yang kedap
terhadap kutu dan hewan perusak sebelum diangkut ketempat
pembuangan.

Pengangkutan Limbah
Darah

Limbah medis diangkut dengan kontainer


tertutup.
Untuk
keamanan,
pengangkutan
limbah
radioaktif
sebaiknya dipisahkan dengan limbah
kimia yang bersifat reaktif, mudah
terbakar, korosif.
Alat pengangkutan harus dirawat dan
dibersihkan secara rutin untuk mencegah
adanya limbah yang tercecer akibat
pengangkutan dan mengurangi resiko
kecelakaan saat pengiriman limbah.

Sterilisasi limbah dengan


rotoclave

Rotoclave
(
http://tempico.gostrategic.com/n
ewsIm/
HopkinsP1010465.jpg)

Skema Alternatif Reuse & Recycle Limbah Medis

Insinerator
Kriteria yang ditentukan oleh Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) yang diantaranya adalah sebagai
berikut:
Pengurangan sampah yang efektif
Lokasi jauh dari area penduduk
Adanya sistem pemisahan sampah
Desain yang bagus
Pembakaran sampah mencapai suhu 1000 derajat
Emisi gas buang memenuhi standar baku mutu.
Perawatan yang teratur/periodik
Ada Pelatihan Staf dan Manajemen

Insinerator Maxpell

Teknologi Ramah Lingkungan pada


incinerator Maxpell : pada tungku Maxpell
limbah ditempatkan dalam ruangan yang
kedap, lalu disuntikkan bahan bakar yang
sudah dicampur oksigen dan terbakar
dengan suhu yang tinggi. Asap hasil
pembakaran direaksikan dengan molekul
air sehingga asap yang keluar menjadi
hidrokarbon yang akan terbakar habis
pada
secondary
chamber.
Dengan
demikian asap akan bersih dan ramah
lingkungan.

Insinerator Maxpell
Insinerator Maxpell adalah alat penghancur limbah berupa
tungku pembakaran yang didesain secara sempurna dalam
sistem pembakaran dengan menggunakan berbagai media
bahan bakar yang terus dikembangkan baik dari sisi teknologi
maupun kapasitas. Insinerator Maxpell dirancang mudah
dioperasikan. Beberapa keunggulan insinerator ini adalah:
Tidak membutuhkan tempat luas;
Bisa membakar sampah kering hingga sampah basah;
Daya musnah sistem pembakaran mencapai suhu diatas 1000 C;
Bekerja efektif dan irit bahan bakar;
Tingkat dari pencemaran rendah. Dalam operasional dibeberapa tempat
terbukti asap hasil pembakaran yang keluar dari cerobong hampir tidak
kelihatan dan tidak mengeluarkan bau yang menganggu;
Suhu pembuangan udara panas pada cerobong asap terkendali secara
konstan;
Suhu dinding luar tetap dingin sama dengan suhu udara luar;
Perawatan yang mudah dan murah;
Abu sisa pembakaran bisa diolah menjadi beragam produk bahan

S 512 - Mini Incinerator


Spesifikasi Teknis Dimensi : 1260 x 940 x
1270
Volume Reaktor: 120 liter
Tipe : Cross draft
Lining Material: Refractory Cement 1 70
0oC
Insulation: Insulation Cement 1400 o C
Cover: Steel / Stainless Steel
Kapasitas: 40 kg sampah / jam
Temperatur kerja: > 1000 o C
Bahan Bakar : Gas LPG
Keterangan Produk : Pemusnah sampah
medis dan non medis jenis padat (basah
dan kering)

Skema Pengolahan Limbah Medis


dengan Insinerator Maxpell

Pembuangan limbah

Setelah dimanfaatkan dengan konpaktor,


limbah bukan klinik dapat dibuang
ditempat penimbunan sampah (Land-fill
site), limbah
klinik harus dibakar
(insenerasi), jika tidak mungkin harus
ditimbun dengan kapur dan ditanam
limbah dapur sebaiknya dibuang pada
hari yang sama sehingga tidak sampai
membusuk.(Bambang Heruhadi, 2000).

Cont.

Jika fasilitas insinerasi tidak tersedia, limbah klinik


dapat ditimbun dengan kapur dan ditanam. Langkahlangkah pengapuran (Liming) tersebut meliputi
sebagai berikut :
Menggali lubang, dengan kedalaman sekitar 2,5
meter
Tebarkan limbah klinik didasar lubang samapi
setinggi 75 cm
Tambahkan lapisan kapur
Lapisan limbah yang ditimbun lapisan kapur masih
bisa ditanamkan samapai ketinggian 0,5 meter
dibawah permukaan tanah
Akhirnya lubang tersebut harus ditutup dengan tanah

Cont.

Kesimpulan

Limbah Darah Rumah Sakit sangat berbahaya


yang harus dikelola dalam pembuangannya
karena mengandung mikroorganisme yang
bersifat pathogen.
Ozonisasi merupakan teknologi yang dapat
digunakan dalam pengelolaan limbah cair di
Rumah Sakit secara efektif.
Cara pengolahan dari limbah darah tersebut
dapat dilakukan dengan cara sterilisasi,
insinerasi dilanjutkan dengan landfilling
menurut kelompok kami merupakan cara yang
efektif yang dalam pengelolaan limbah darah
tersebut.

Saran
Sebaiknya rumah sakit mengelola limbahnya terutama
limbah cair berupa darah dengan benar. Karena
pengelolaan yang tidak tepat dapat menimbulkan
berbagai macam kerugian.
Rumah sakit sebaiknya memiliki tempat pembuangan
terutama produk darah sendiri. Sehingga tidak dibuang
di sembarangan tempat yang dapat memberikan
dampak negatif pada lingkungansekitar masyarakat.
Rumah sakit hendaknya memilih system dan teknologi
pengelolaan limbah cair berupa darah yang baik dan
sesuai dengan lingkungan agar tercipta keseimbangan
antara host, agent, dan lingkungansekitar rumah sakit.

Thanks For Your


Attention
Thanks For Your Attention

Thanks For Your Attention


Thanks
For
Your
Attention
Thanks For Your Attention

Any
Any Question??
Question??