Anda di halaman 1dari 10

Elektrolit adalah suatu zat yang larut atau terurai ke dalam bentuk ionion

dan
selanjutnya larutan menjadi konduktor elektrik,
ion-ion
merupakan atom-atom bermuatan elektrik. Elektrolit bisa berupa air,
asam, basa atau berupa senyawa kimia lainnya. Elektrolit umumnya
berbentuk asam, basa atau garam. Beberapa gas tertentu dapat berfungsi
sebagai elektrolit pada kondisi tertentu misalnya pada suhu tinggi atau
tekanan
rendah.
Elektrolit
kuat
identik
dengan asam, basa,
dan garam kuat. Elektrolit merupakan senyawa yang berikatan ion dan
kovalen polar. Sebagian besar senyawa yang berikatan ion merupakan
elektrolit sebagai contoh ikatan ion NaCl yang merupakan salah satu jenis
garam yakni garam dapur. NaCl dapat menjadi elektrolit dalm bentuk
larutan dan lelehan. atau bentuk liquid dan aqueous. sedangkan dalam
bentuk solid atau padatan senyawa ion tidak dapat berfungsi sebagai
elektrolit.
Elektrolit yang terdapat pada cairan tubuh akan berada dalam
bentuk ion bebas (free ions). Secara umum elektrolit dapat diklasifikasikan
menjadi 2 jenis yaitu kation dan anion. Jika elektrolit mempunyai muatan
positif (+) maka elektrolit tersebut disebut sebagai kation sedangkan jika
elektrolit tersebut mempunyai muatan negatif (-) maka elektrolit tersebut
disebut sebagai anion. Contoh dari kation adalah natrium (Na +) dan
nalium (K+) & contoh dari anion adalah klorida (Cl - ) dan bikarbonat
(HCO3- ). Elektrolit - elektrolit yang terdapat dalam jumlah besar di dalam
tubuh antara lain adalah natrium (Na+), kalium (K+ ), kalsium (Ca+),
magnesium (Mg+), klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-) dan
sulfat (SO42-). Di dalam tubuh manusia, kesetimbangan antara air (H2O) elektrolit diatur secara ketat agar sel-sel dan organ tubuh dapat berfungsi
dengan baik. Pada tubuh manusia, elektrolit-elektrolit ini akan memiliki
fungsi antara lain dalam menjaga tekanan osmotik tubuh, mengatur
pendistribusian cairan ke dalam kompartemen badan air (bodys fluid
compartement), menjaga pH tubuh dan juga akan terlibat dalam setiap
reaksi oksidasi dan reduksi serta ikut berperan dalam setiap proses
metabolisme.
Natrium (Na+)
Di dalam produk pangan atau di dalam tubuh, natrium biasanya
berada dalam bentuk garam seperti natrium klorida (NaCl). Di dalam
molekul ini, natrium berada dalam bentuk ion sebagai Na.
Diperkirakan hampir 100 gram dari ion natrium (Na+ ) atau ekivalen
dengan 250 gr NaCl terkandung di dalam tubuh manusia. Garam natrium
merupakan garam yang dapat secara cepat diserap oleh tubuh dengan
minimum kebutuhan untuk orang dewasa berkisar antara 1.3-1.6 gr/hari
(ekivalen dengan 3.3-4.0 gr NaCl/hari). Setiap kelebihan natrium yang

terjadi di dalam tubuh dapat dikeluarkan melalui urin & keringat. Hampir
semua natrium yang terdapat di dalam tubuh akan tersimpan di
dalam soft body tissue dan cairan tubuh. Ion natrium (Na+ ) merupakan
kation utama di dalam cairan ekstrasellular (ECF) dengan konsentrasi
berkisar antara 135-145 mmol/L. Ion natrium juga akan berada pada
cairan intrasellular (ICF) namun dengan konsentrasi yang lebih kecil yaitu
3 mmol/L. Sebagai kation utama dalam cairan ekstrasellular, natrium
akan berfungsi untuk menjaga keseimbangan
cairan di dalam tubuh, menjaga aktivitas saraf , kontraksi otot dan juga
akan berperan dalam proses absorpsi glukosa. Pada keadaan normal,
natrium (Na+ ) bersama dengan pasangan (terutama klorida, Cl - ) akan
memberikan kontribusi lebih dari 90% terhadap efektif osmolalitas di
dalam cairan ekstrasellular.
Nilai normal dalam serum :
Dewasa
135 145 mEq/L
Anak
135 145 mEq/L
Bayi
134 150 mEq/L
Nilai normal dalam urin :
40 - 220 mEq/L/24 jam
Penurunan Na terjadi pada diare, muntah, cedera jaringan, bilas lambung,
diet rendah garam, gagal ginjal, luka bakar, penggunaan obat diuretik
(obat untuk darah tinggi yang fungsinya mengeluarkan air dalam tubuh).
Peningkatan Na terjadi pada pasien diare, gangguan jantung kronis,
dehidrasi, asupan Na dari makanan tinggi, gagal hepatik (kegagalan
fungsi hati), dan penggunaan obat antibiotika, obat batuk, obat golongan
laksansia (obat pencahar). Sumber garam Na yaitu: garam dapur, produk
awetan (cornedbeef, ikan kaleng, terasi, dan Iain-Iain.), keju,/.buah ceri,
saus tomat, acar, dan Iain-Iain.
Kalium (K+)
Merupakan ion bermuatan positif (kation) utama yang terdapat di
dalam cairan intrasellular (ICF) dengan konsentrasi 150 mmol/L. Sekitar
90% dari total kalium tubuh akan berada di dalam kompartemen ini.
Sekitar 0.4% dari total kalium tubuh akan terdistribusi ke dalam
ruangan vascular yang terdapat pada cairan ekstraselular dengan
konsentrasi antara 3.5-5.0 mmol/L. Konsentrasi total kalium di dalam
tubuh diperkirakan sebanyak 2g/kg berat badan. Namun jumlah ini dapat
bervariasi bergantung terhadap beberapa faktor seperti jenis kelamin,
umur dan massa otot (muscle mass). Kebutuhan minimum kalium
diperkirakan sebesar 782 mg/hari. Di dalam tubuh kalium akan

mempunyai fungsi dalam menjaga keseimbangan cairan-elektrolit


dan keseimbangan asam basa. Selain itu, bersama dengan kalsium (Ca + )
dan natrium (Na+ ), kalium akan berperan dalam transmisi saraf,
pengaturan enzim dan kontraksi otot. Hampir sama dengan natrium,
kalium juga merupakan garam yang dapat secara cepat diserap oleh
tubuh. Setiap kelebihan kalium yang terdapat di dalam tubuh akan
dikeluarkan melalui urin serta keringat.
Nilai normal :
Dewasa

3,5 5,0 mEq/L

Anak

3,6 5,8 mEq/L

Bayi

3,6 5,8 mEq/L

Peningkatan kalium (hiperkalemia) terjadi jika terdapat gangguan ginjal,


penggunaan obat terutama golongan sefalosporin, histamine, epinefrin,
dan Iain-Iain. Penurunan kalium (hipokalemia) terjadi jika pemasukan
kalium dari makanan rendah, pengeluaran lewat urin meningkat, diare,
muntah, dehidrasi, luka pembedahan. Garam adalah suatu senyawa kimia
sederhana
yang
terdiri
dari atom-atom yang
membawa ion
positifmaupun ion negatif. Misalnya garam meja (natrium klorida) terdiri
dari
ion
positif
natrium
dan
ion
negatif
klorida. Natrium
klorida membentuk kristal pada keadaan kering, tetapi seperti garam
lainnya dalam tubuh, mudah dilarutkan dalam air. Jika garam larut dalam
air, komponennya terpisah sebagai partikel yang disebut ion. Partikel ion
terlarut ini dikenal sebagai elektrolit. Kadar (konsentrasi) setiap elektrolit
dalam larutan dari garam terlarut dapat diukur dan biasanya dihitung
dalam
satuan miliekuivalen dalam
setiap
volume
larutan
(mEq/L). Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis, dll.
Klorida (Cl-)
Elektrolit utama yang berada di dalam cairan ekstraselular (ECF)
adalah elektrolit bermuatan negatif yaitu klorida (Cl - ). Jumlah ion klorida
(Cl- ) yang terdapat di dalam jaringan tubuh diperkirakan sebanyak 1.1
g/Kg berat badan dengan konsentrasi antara 98-106 mmol/L. Konsentrasi
ion klorida tertinggi terdapat pada cairan serebrospinal seperti otak atau
sumsum tulang belakang, lambung dan juga pankreas. Sebagai anion
utama dalam cairan ekstraselullar, ion klorida juga akan berperan dalam
menjaga keseimbangan cairan-elektrolit. Selain itu, ion klorida juga
mempunyai fungsi fisiologis penting yaitu sebagai pengatur derajat
keasaman lambung dan ikut berperan dalam menjaga keseimbangan

asam-basa tubuh. Bersama dengan ion natrium (Na +), ion klorida juga
merupakan ion dengan konsentrasi terbesar yang keluar melalui keringat.
Calcium (Ca2+)
Fungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot,
deposit utamanya berada di tulang dan gigi, apabila diperlukan, kalsium
ini dapat berpindah ke dalam darah. Sumber : susu dengan kalsium
tinggi, ikan dengan tulang, sayuran, dll.
Magnesium (Mg+)
Berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur
pergerakan Ca2+ ke dalam otot serta memelihara kekuatan kontraksi
jantung dan kekuatan pembuluh darah tubuh.
Elektrolit terlarut dalam tiga bagian utama dari cairan tubuh:
Cairan dalam sel
Cairan dalam ruang di sekeliling sel
Darah (elektrolit terlarut dalam serum, yang merupakan bagian cair
dari darah).
Kadar normal elektrolit dalam cairan tersebut bervariasi. Beberapa sel
ditemukan dalam konsentrasi tinggi di dalam sel dan dalam konsentrasi
rendah di luar sel. Elektrolit lainnya ditemukan dalam konsentrasi rendah
di dalam sel dan dalam konsentrasi tinggi di luar sel. Untuk dapat
berfungsi secara baik, tubuh harus menjaga konsentrasi elektrolit pada
masing-masing bagian tubuh tersebut dalam rentang yang sangat
terbatas. Hal itu dilakukan dengan cara memindahkan elektrolit ke dalam
atau keluar sel. Ginjal menyaring elektrolit dalam darah dan membuang
elektrolit secukupnya ke dalam air kemih untuk mempertahankan
keseimbangan antara asupan dan pembuangan elektrolit harian.
Konsentrasi elektrolit dapat diukur dalam contoh darah atau air kemih di
laboratorium. Pengukuran konsentrasi elektrolit darah dilakukan untuk
menemukan adanya kelainan atau untuk mengetahui respon terhadap
pengobatan. Elektrolit yang paling sering terlibat dalam gangguan
keseimbangan garam adalah natrium, kalium, kalsium, fosfat dan
magnesium. Kadar klorida dan bikarbonat juga biasa diukur. Konsentrasi
klorida darah biasanya sejalan dengan konsentrasi natrium darah dan
bikarbonat terlibat pada gangguan keseimbangan asam basa.
Elektrolit utama dalam tubuh:
Ion positif
: Natrium (Na+); Kalium (K+); Kalsium (Ca2+); Magnesium
(Mg+).
Ion negatif

: Klorida (Cl-); Fosfat (HPO4- dan H2PO4-); Bikarbonat (HCO3-).

Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan


elektrolit tubuh antara lain :
a)
Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan
berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan.
Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan
cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan
keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
b)
Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban
udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan
elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di
lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per
hari.
c)
Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika
intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan
lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun
padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan
sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
d)
Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan
pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium
dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume
darah.
e)
Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan
dan elektrolit tubuh Misalnya :
Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL
(Insensible Water Loss).
Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan
pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk
memenuhinya secara mandiri.
f)
Tindakan Medis
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.
g)
Pengobatan

Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh


pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh.
h)
Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan
kehilangan darah selama pembedahan.
Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh
Ketidakseimbangan cairan
Ketidakseimbangan cairan meliputi dua kelompok dasar, yaitu
gangguan keseimbangan isotonis dan osmolar. Ketidakseimbangan
isotonis terjadi ketika sejumlah cairan dan elektrolit hilang bersamaan
dalam proporsi yang seimbang. Sedangkan ketidakseimbangan osmolar
terjadi ketika kehilangan cairan tidak diimbangi dengan perubahan kadar
elektrolit dalam proporsi yang seimbang sehingga menyebabkan
perubahan pada konsentrasi dan osmolalitas serum. Berdasarkan hal
tersebut, terdapat empat kategori ketidakseimbangan cairan, yaitu :
a.
Kehilangan cairan dan elektrolit isotonik.
b.
Kehilangan cairan (hanya air yang berkurang).
c.
Penigkatan cairan dan elektrolit isotonis, dan;
d.
Penigkatan osmolal (hanya air yang meningkat).
Defisit Volume Cairan
Defisit volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan
elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi
seperti ini disebut juga hipovolemia. Umumnya, gangguan ini diawali
dengan kehilangan cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan
cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga menyebabkan
penurunan cairan ekstraseluler. Untuk untuk mengkompensasi kondisi ini,
tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler. Secara umum, defisit
volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan cairan
abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan
pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan
tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi
cairan ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi
intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium,
perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu, seperti
terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat
obstruksi saluran pencernaan.

Defisit Cairan
Faktor Resiko

1.
Kehilangan cairan
berlebih
a.
Muntah
b.
Diare
c.
Pengisapan lambung
d.
Drainase/ sekresi dari luka/
Fistula
e.
Keringat berlebih

2.
Asupan
cairan
yang

mengandung natrium dari diet


atau obat- obatan.

3.
Nilai Laboratorium
Penurunan hematokrit

Penurunan hemoglobin
Penurunan BUN

Peningkatan CVP
4.
Gangguan sirkulasi

a.
Gagal jantung
b.
Gagal ginjal

c.
Sirosis hati

Tanda klinis
Kehilangan berat badan
(mungkin juga penambahan
berat
badan
pada
kasus
perpindahan cairan ke lokasi
ketiga)
2% (ringan)
5% (sedang)
8% (berat)
Edema perifer
Nadi kuat dan frekuensi
nadi meningkat
Peningkatan
CVP
dan
tekanan darah
Bunyi
nafas
rales,
dispnea, nafas pendek
Pengeluaran
cairan
melebihi asupan
Kemungkinan
terjadi
oliguria dan penurunan berat
jenis urine (< 1,003)
Vena leher terdistensi
dan kencang
Lambatnya pengosongan
vena
pada
saat
tangan
diangkat
Konfusi mental

Edema
Pada kasus kelebihan cairan, jumlah cairan dan natrium yang
berlebihan dalam kompartemen ekstraseluler meningkatkan tekanan
osmotik. Akibatnya, cairan keluar dari sel sehingga menimbulkan
penumpukan cairan dalm ruang interstitial (Edema).Edema yang sering
terlihat disekitar mata, kaki dan tangan. Edema dapat bersifat lokal atau
menyeluruh, tergantung pada kelebihan cairan yang terjadi. Edema dapat
terjadi ketika adapeningkatan produksi cairan interstisial/ gangguan
perpindahan cairan interstisial. Hal ini dapat terjadi ketika:
a.
Permeabilitas kapilermeningkat (mis., karena luka bakar, alergi yang
menyebabkan perpindahan cairan dari kapiler menuju ruang
interstisial).
b.
Peningkatan hidrostatik kapiler meningkat (mis., hipervolemia,
obstruksi

sirkulasi vena) yang menyebabkan cairann dalam pembuluh darahter


dorong ke ruang interstisial.
c.
Perpindahan cairan dari ruangan interstisial terhambat (mis., pada
blokade
limfatik).
Edema pitting adalah edema yang meninggalkan sedikit depresi atau
cekungan setelah dilakukan penekanan pada area yang bengkak.
Cekungan terjadi akibat pergerakan cairan dari daerah yang ditekan
menuju jaringan sekitar (menjauhi lokasi tekanan). Umumnya, edema
jenis ini adalah edema yang disebabkan oleh gangguan natrium. Adapun
edema yang disebabkan oleh retensi cairan hanya menimbulkan
edema non pitting.
Dehidrasi
Dehidrasi disebut juga ketidakseimbangan hiper osmolar, terjadi
akibat kehilangan cairan yang tidak diimbangi dengan kehilangan
elektrolit dalam jumlah proporsional, terutama natrium. Kehilangan cairan
menyebabkan peningkatan kadar natrium, peningkatan osmolalitas, serta
dehidrasi intraseluler. Air berpindah dari sel dan kompartemen interstitial
menuju ruang vascular. Kondisi ini menybabkan gangguan fungsi sel dan
kolaps sirkulasi. Orang yang beresiko mengalami dehidrasi salah satunya
adalah individu lansia. Mereka mengalami penurunan respons haus atau
pemekatan urine. Di samping itu lansia memiliki proporsi lemak yang
lebih besar sehingga beresiko tunggi mengalami dehidrasi akibat
cadangan air yang sedikit dalam tubuh. Klien dengan diabetes inspidus
akibat penurunan hormon diuretik sering mengalami kehilangan cairan
tupe hiperosmolar. Pemberian cairan hipertonik juga meningkatkan jumlah
solut dalam aliran darah.
Kelebihan Volume Cairan (Hipervolemia)
Kelebihan volume cairan terjadi apabila tubuh menyimpan cairan
dan elektrolit dalam kompartemen ekstraseluler dalam proporsi yang
seimbang. Karena adanya retensi cairan isotonik, konsentrasi natrium
dalam serum masih normal. Kelebihan cairan tubuh hampir selalu
disebabkan oleh penungkatan jumlah natrium dalam serum. Kelebihan
cairan terjadi akibat overload cairan/ adanya gangguan mekanisme
homeostatispada proses regulasi keseimbangan cairan. Penyebab spesifik
kelebihan cairan, antara lain:
a.
Asupan natrium yang berlebihan
b.
Pemberian infus berisi natrium terlalu cepat dan banyak, terutama
pada klien dengan gangguan mekanisme regulasi cairan.
c.
Penyakit yang mengubah mekanisme regulasi, seperti gangguan
jantung (gagal ginjal kongestif), gagal ginjal, sirosis hati, sindrom Cushing.

d.

Kelebihan steroid.
Kelainan Elektrolit
Ada dua macam kelainan elektrolit yang terjadi ; kadarnya terlalu
tinggi (hiper) dan kadarnya terlalu rendah (hipo). Peningkatan kadar
konsentrasi
Natrium
dalam
plasma
darah
atau
disebut hipernatremia akan mengakibatkan kondisi tubuh terganggu
seperti kejang akibat dari gangguan listrik di saraf dan otot tubuh.
Natrium yang juga berfungsi mengikat air juga mengakibatkan
meningkatnya tekanan darah yang akan berbahaya bagi penderita yang
sudah menderita tekanan darah tinggi. Sumber natrium berada dalam
konsumsi makanan sehari-hari kita; garam, sayur-sayuran dan buahbuahan banyak mengandung elektrolit termasuk natrium.
Banyak kondisi yang mengakibatkan meningkatnya kadar natrium
dalam plasma darah. Kondisi dehidrasi akibat kurang minum air, diare,
muntah-muntah, olahraga berat, sauna menyebabkan tubuh kehilangan
banyak air sehingga darah menjadi lebih pekat dan kadar natrium secara
relatif juga meningkat. Adanya gangguan ginjal seperti pada penderita
Diabetes dan Hipertensi juga menyebabkan tubuh tidak bisa membuang
natrium yang berlebihan dalam darah. Makan garam berlebihan serta
penyakit yang menyebabkan peningkatan berkemih (kencing) juga
meningkatkan kadar natrium dalam darah.
Sedangkan hiponatremia atau menurunnya kadar natrium dalam
darah dapat disebabkan oleh kurangnya diet makanan yang mengandung
natrium, sedang menjalankan terapi dengan obat diuretik (mengeluarkan
air kencing dan elektrolit), terapi ini biasanya diberikan dokter kepada
penderita hipertensi dan jantung, terutama yang disertai bengkak akibat
tertimbunnya cairan. Muntah-muntah yang lama dan hebat juga dapat
menurunkan kadar natrium darah, diare apabila akut memang dapat
menyebabkan hipernatremia tapi apabila berlangsung lama dapat
mengakibatkan hiponatremia, kondisi darah yang terlalu asam (asidosis)
baik karena gangguan ginjal maupun kondisi lain misalnya diabetes juga
dapat menjadi penyebab hiponatremia. Akibat dari hiponatremia sendiri
relatif sama dengan kondisi hipernatremia, seperti kejang, gangguan otot
dan gangguan syaraf.
Disamping natrium, elektrolit lain yang penting adalah kalium.
Fungsi kalium sendiri mirip dengan natrium, karena kedua elektrolit ini
ibarat kunci dan anak kunci yang saling bekerja sama baik dalam
mengatur keseimbangan osmosis sel, aktivitas saraf dan otot serta
keseimbangan asam basa.

Kondisi hiperkalemia atau meningkatnya kadar kalium dalam


darah menyebabkan gangguan irama jantung hingga berhentinya denyut
jantung, Kondisi ini merupakan kegawat daruratan yang harus segera
diatasi karena mengancam jiwa. Beberapa hal yang menjadi penyebab
meningkatnya kadar kalium adalah pemberian infus yang mengandung
kalium, dehidrasi, luka bakar berat, kenjang, meningkatnya kadar leukosit
darah, gagal ginjal, serangan jantung dan meningkatnya keasaman darah
karena diabetes. Keadaan hiperkalemia ini biasanya diketahui dari
keluhan berdebar akibat detak jantung yang tidak teratur, yang apabila
dilakukan pemeriksaan rekam jantung menunjukkan gambaran yang khas.
Kondisi yang berkebalikan terjadi pada hipokalemia, penderita
biasanya mengeluhkan badannya lemas dan tak bertenaga. Hal ini terjadi
mengingat fungsi kalium dalam menghantarkan aliran saraf di otot
maupun tempat lain. Penyebab hipokalemia lebih bervariasi, penurunan
konsumsi kalium akibat kelaparan yang lama dan pasca operasi yang
tidak mendapatkan cairan mengandung kalium secara cukup adalah
penyebab hipokalemia. Terapi insulin pada diabet dengan hiperglikemia,
pengambilan glukosa darah ke dalam sel serta kondisi darah yang basa
(alkalosis) menyebabkan kalim berpindah dari luar sel (darah) ke dalam
sel-sel tubuh.Akibatnya kalium dalam darah menjadi menurun.
Kehilangan cairan tubuh yang mengandung kalium seperti muntah
berlebih, diare, terapi diuretik, obat-obatan, dan beberapa penyakit
seperti gangguan ginjal dan sindroma Cushing (penyakit akibat gangguan
hormon) juga menyebabkan penurunan kalium dalam darah. Penanganan
kondisi hipokalemia adalah dengan mengkonsumsi makanan yang
mengandung kalium tinggi seperti buah-buahan, mengobati penyakit
penyebabnya dan apabila kadar kalium darah rendah sekali dapat
dikoreksi dengan memasukkan kalium melalui infus.