Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Demam typoid menjadi masalah kesehatan, yang umumnya terjadi dinegara


yang sedang berkembang karena akibat kemiskinan, kriminalitas dan
kekurangan air bersing yang dapat diminum. Diagnose dari pelubangan penyakiit
typoid dapat sangat berbahaya apa bila terjadi selama kehamilan atau pada
periode setelah melahirkan. Kebanyakan penyebaran penyakit demam typoid ini
tertular pada manusia pada daerah-daerah berkembang, ini dikarenakan
pelayanan kesehatan yang belum baik, hygiene personal yang buruk. Salah satu
contoh di negara Nigeria, dimana terdapat 467 kasus dari tahun 1996 sampai
dengan 2000.
Dalam lingkungan kita menjadi endemic di selatan dan Amerika Utara, Timur
Tengah, Tenggara dan hampir seluruh Asia termasuk India. Di seluruh dunia
tercatat sekitar 33 juta kasus dari demam typoid dan menyebabkan lebih dari
500.000 kematian.

1.2

Rumusan Masalah

1.

Apa yang disebut dengan thypoid?

2.

Apa penyebab terjadinya thypoid?

3.

Apa tanda dan gejala thypooid?

4.

Menjelaskan manifestasi klinis thypoid?

5.

Menjelaskan patofisiologi thypoid?

6.

Menjelaskan pemeriksaan penunjang thypoid?

7.

Menjelaskan penatalaksanaan thypoid?

8.

Menjelaskan komplikasi thypoid?

1.3

Tujuan Penulisan

Tujuan Umum :
Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan demam thypiod.
Tujuan Khusus :

Untuk mengidentifikasi pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi,


komplikasi, penatalaksanaan, dan pemeriksaan penunjang tentang thypoid.

1.4

Manfaat Penulisan

1.

Mengetahui apa yang dimaksud dengan thypoid

2.

Mengerti apa yang menyebabkan thypoid

3.

Mengetahui proses dari thypoid

4.

Mengetahui pemeriksaan yang harus dilakukan pada penyakit thypoid

5.

Mengetahui patofisologi thypoid

6.

Mengetahui manifestasi klinis thypoid

7.

Mengetahui pemeriksaan penunjang thypoid

8.

Mengetahui penatalaksanaan thypoid

BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP TEORITIS
2.1

Definisi

Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella
Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah
terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman
salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini
adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga
paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis
(.Seoparman, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala
sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C.
penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid
adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type
A, B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang
terkontaminasi.

2.2

Etiologi

Etiologi demam typoid adalah salmonella thypi. Bergerak dengan rambut


getar,tidak berspora. Mempunyai sekurangnya empat macam antigen, yaitu
antigen O (somatic) , H (flagella), VI, dan protein memberan Hialin sedangkan
demam parathypoid disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies
salmonella enteritidis, yaitu S. Enteritidis Bioserotipe Parathypi A, S. Enteritidis
Biosereotipe Parathypi B, S. Enteritidis Biosereotipe Parathipi C. kuman- kuman
ini lebih sering dikenal dengan nama S. Parathypi A, S. shottmuelery dan S
Hirschfeldi.

2.3

Manifestasi Klinis

Gejala- gejala yang timbul bervariasi. Dalam minggu pertama, keluhan dan
gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam, nyeri
kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare,
perasaan tidak enak diperut, batuk, dan epitaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya
didapatkan peningkatan suhu badan.
Dalam minggu kedua gejala- gejala menjadi lebih jelas berupa demam,
bradikardi relative, lidah thypoit (kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan
tremor), hepatomegali,Splenomegali, Meteorismus, Ganggua kesadaran berupa
samnolen sampai koma, sedangkan roseolae jarang ditemukan pada orang
Indonesia.

2.4

Patofisiologi

Salmonella thypi masuk dalam tubuh manusia melalui makanan dan


makanan yang tercemar sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan
sebagian lagi masuk ke usus halus dan sebagian kejaringan limfoid plakpayeri
terminalis yang hipertropi. Bila terjadi komplikasi perdarahan dan perforasi
intestinal, kuman menembus lamina propia, masuk aliran limpe mencapai
kelenjar limpe mesenterial, dan masuk aliran darah melalui ductus torasikus.
Salmonella thypi lain dapat mencapai hati melallui sirkulasi portal dari usus.
Salmonella Thipy bersarang di plak payori, limpa, hati, dan bagian, bagian lain
system retikuloendetorial. Endoktoksin salmonella thypi berperan dalam proses
inflamasi local pada jaringan tempat kuman tersebut berrkembang biak.
Salmonella thypi dan endotoksinya merangsang sintesis dan pelepasan zat
pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang sehingga terjadi demam.

2.5

Penatalaksanaan
Sampai saat ini masih dianut trilogy penatalaksanaan demam thypoid

yaitu :
pemberian antibiotic, untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran
kuman. Antibiotk yang dapat digunakan :

kloranfenikol dosis hari pertama 4X250 mg, hari ke dua 4 X 500 mg diberikan
selama demam dilanjutkan 2 hari sampai bebas demam, kemudian dosis
diturunkan menjadi 4X250 mg selama 5 hari kemudian. Penelitian terakhir
(Nelwan, dkk di RSUP persahabatan) ,penggunan klortamfenikol masih
memperlihatkan hasil penurunan suhu 4 hari, sama seperti obat terbaru dari
jenis kuinolen.
Ampisilin/ amoksilin dosis 50- 150 mg/kg BB, diberikan selama 2 minggu
Kotrimoksazol 2X2 tablet (1 tablet mengandung 400mg sulfametroktazol 80 mg
trimitropin, diberikan selama 2 minggu pula.
Istirahat dan perawatan professional mencegah komplikasi dan mempercepat
penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolute sampai minimal 7 hari bebas
demam atau kurang dari selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan secara bertahap
sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Dalam perawatan perlu sekali dijaga
higine perorangan kebersihan, tempat tidur, pakaian, dan peralatan yang dipakai
oleh pasien. Pasien dengan kesadaran menurun, posisinya perlu diubah- ubah
untuk mencegah dekubitus dan pneumonia hipostastik. Defekasi dan buang air
kecil harus diperhatikan, karena kadang- kadang terjadi obstipasi dan retensi
urin.
Diet dan terapi penunjang (simtomatis dan suportif)
pertama pasien diberikan diet bubur saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya
nasi sesuai tingkat kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitian menunjukan
bahwa pemberian makanan pada dini, yaitu nasi dengan lauk pauk rendah
selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikandengan aman.
Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral yang cukup untuk mendukung
keadan umum pasien. Diharapkan dengan menjaga keseimbangan dan
homeostasis system imum akan berfungsi secara optimal.

2.6

Pemerikasaan Diagnostik

Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan


laboratorium, yang terdiri dari :
Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat
leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah
sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada
sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang
terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh
karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam
typhoid.
b.

Pemeriksaan SGOT DAN SGPT

SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali
normal setelah sembuhnya typhoid.
c.

Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan
darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini
dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :
1. Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal
ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu
pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat
bakteremia berlangsung.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama
dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan
darah dapat positif kembali.
d.

Uji Widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien
dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen
yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan
dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan
adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat
infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel
kuman).
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai
kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya
untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.

2.7

Komplikasi

a. Komplikasi intestinal
1)

Perdarahan usus

2)

Perporasi usus

3)

Ilius paralitik

b. Komplikasi extra intestinal


1)
Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis),
miokarditis, trombosis, tromboplebitis.
2)
Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia
hemolitik.
3)

Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.

4)

Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.

5)

Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.

6)
Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan
arthritis.
7)
Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis,
polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.

2.8

WOC

Infeksi ( S. Typhi)

Usus halus

Pembuluh limfe

Peredaran darah

Zat pirogen
(panas meningkat)

Berkembang biak

Organ organ (hati, limpha)

Hypertermia

Peredaran darah/bakterimia

Ggn pemenuhan nutrisi

Lidah kotor

Kelenjar limphoid usus halus

Diare

(tukak pd mukosa usus/plak)

Bibir kering
Mual/muntah
Ggn kebutuhan cairan

Bedrest (Kelemahan)

Intolerasi Aktivitas

Sumber: Depkes RI, 1993

Perdarahan (perforasi peritonitis)

2.9
2.9.1

Konsep Asuhan Keperawatan


Pengkajian

a.

Pengumpulan data

1)

Identitas klien

Meliputi nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama,


status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa
medik.
2)

Keluhan utama

Keluhan utama demam tifoid adalah panas atau demam yang tidak turun-turun,
nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diare serta penurunan
kesadaran.
3)

Riwayat penyakit sekarang

Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke dalam


tubuh.
4)

Riwayat penyakit dahulu

Apakah sebelumnya pernah sakit demam thypoid.


5)

Riwayat penyakit keluarga

Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.


6)

Pola-pola fungsi kesehatan

a)

Pola nutrisi dan metabolisme

Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan muntah saat
makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali.
b)

Pola eliminasi

Eliminasi alvi. Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama.
Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan, hanya warna urine
menjadi kuning kecoklatan. Klien dengan demam tifoid terjadi peningkatan

suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga
dapat meningkatkan kebutuhan cairantubuh.
c)

Pola aktivitas dan latihan

Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agar tidak terjadi
komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.
d)

Pola tidur dan istirahat

Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu tubuh.


e)

Pola persepsi dan konsep diri

Biasanya terjadi kecemasan pada orang tua terhadap keadaan penyakitanaknya.


f)

Pola sensori dan kognitif

Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan umumnya


tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu waham pada klien.
g)

Pola hubungan dan peran

Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat di rumah


sakit dan klien harus bed rest total.
h)

Pola penanggulangan stress

Biasanya orang tua akan nampak cemas


7)

Pemeriksaan fisik

a)

Keadaan umum

Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat


muka kemerahan.
b)

38 410 C,

Tingkat kesadaran

Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).


c)

Sistem respirasi

Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalam dengan gambaran
seperti bronchitis.
d)

Sistem kardiovaskuler

Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin rendah.


e)

Sistem integumen

Kulit kering, turgor kullit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam
f)

Sistem gastrointestinal

Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas), mual,
muntah, anoreksia, dan konstipasi, nyeri perut, perut terasa tidak enak,
peristaltik usus meningkat.
g)

Sistem muskuloskeletal

Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.


h)

Sistem abdomen

Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak
serta nyeri tekan pada abdomen. Pada perkusi didapatkan perut kembung serta
pada auskultasi peristaltik usus meningkat.

2.9.2 Diagnosa Keperawatan


a.

Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.

b. Resiko tinggi kekurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan


cairan berlebihan melalui muntah dan diare.
c. Resiko tinggi gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
d.

Intoleransi aktivitas b/d kelemahan, immobilisasi.

2.9.3 Intervensi.
Dx 1 Peningkatan suhu tubuh (hypertermia) b/d proses infeksi salmonella typhi.
Intervensi

Rasional

1)
Observasi suhu, N, TD,
RR tiap 2-3 jam

1) Sebagai pengawasan terhadap


adanya perubahan keadaan umum
pasien sehingga dapat diakukan
penanganan dan perawatan secara
cepat dan tepat.

2)
Catat intake dan output
cairan dlm 24 jam

2) Mengetahui keseimbangan
cairan dalam tubuh pasien untuk
membuat perencanaan kebutuhan
cairan yang masuk.

3)
Kaji sejauh mana
pengetahuan keluarga dan
pasien tentang hyperthermia

4)
Anjurkan klien/klg untuk
melaporkan bila tubuh terasa
panas dan keluhan lain.

5)
Jelaskan upaya upaya
untuk mengatasi hypertermia
dan bantu klien/keluarga dlm
upaya tersebut:

3) Mengetahui kebutuhan infomasi


dari pasien dan keluarga mengenai
perawatan pasien dengan
hypertemia.

4)
Penanganan perawatan dan
pengobatan yang tepat diperlukan
untuk megurangi keluhan dan gejala
penyakit pasien sehingga kebutuhan
pasien akan kenyamanan terpenuhi.

5) Upaya upaya tersebut dapat


membantu menurunkan suhu tubuh
pasien serta meningkatkan
kenyamanan pasien.

Tirah baring dan kurangi


aktifitas
-

Banyak minum

Beri kompres hangat

Pakaian tipis dan


menyerap keringat
Ganti pakaian, seprei
bila basah
Lingkungan tenang,
sirkulasi cukup.
6)
Kolaborasi dalam
pemberianantipiretik, cairan
dan pemeriksaan kultur darah.

6) Antipiretik dan pemberian cairan


menurunkan suhu tubuh pasien
serta pemeirksaan kultur darah
membantu penegakan diagnosis
typhoid.

Dx 2 Resiko tinggi kekurang cairan b/d pemasukan cairan kurang, kehilangan


berlebihan melalui muntah dan diare.
Intervensi

Rasional

1)
Observasi masukan dan
keluaran, bandingkan dengan
BB harian. Catat kehilangan
melalui usus, contoh muntah
dan diare.
2)
Kaji tanda vital, nadi
perifer, pengisian kapiler,
turgor kulit dan membran
mukosa.

1) Memberikan informasi tentang


kebutuhan cairan/elektrolit yang hilang.

2) Indikator volume sirkulasi/perfusi.

3)
Berikan pasien minum
air putih sedikit tapi sering.
3) Untuk mencegah dehidrasi pada
pasien.
4)
Jelaskan pada pasien
tentang pentingnya cairan
dalam tubuh.

5)
Kolaborasi dalam
mengawasi nilai laboratorium:
HB, HT, Na albumin.
6)
Kolaborasi dalam
memberikan cairan IVseperti
glukosa dan Ringer laktat.

4) Agar pasien mengerti tentang


pentingnya cairan dalam tubuh.

5) Menunjukkan hidrasi dan


mengidentifikasi retensi natrium/kadar
protein akibat muntah dan diare
berlebihan.
6) Memberikan cairan dan penggantian
elektrolit.

Dx 3 Resiko tinggi gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat, mual muntah, anoreksia.
Intervensi

Rasional

1)
Observasi pemasukan
diet/jumlah kalori.

1) Makan banyak sulit untuk mengatur


bila pasien anoreksi, anoreksi juga
paling buruk selama siang hari,
membuat masukan makanan yang sulit
pada sore hari.

2)

2) Membantu untuk menormalkan

Berikan porsi kecil tapi

sering dan tawarkan makan


pagi dengan porsi paling besar.

3)
Berikan perawatan mulut
sebelum makan.

4)
Dorong pemasukan sari
jeruk, minuman karbonat dan
permen sepanjang hari.

5)
Anjurkan makan dalam
posisi duduk tegak.
6)
Konsul ahli diet,
dukungan tim nutrisi untuk
memberikan diet sesuai
kebutuhan klien.
7)
Kolaborasi dalam
pengawasan glukosa darah.

8)
Kolaborasi dalam
pemberikan obat sesuai
indikasi: antasida, antiemetik,
vitamin B kompleks.

fungsi pencernaan akibat adanya


peningkatan asam lambung oleh karena
mual muntah

3) Menghilangkan rasa tak enak dapat


meningkatkan nafsu makan.

4) Bahan ini merupakan ekstra kalori


dan dapat lebih mudah dicerna/ditoleran
bila makanan lain tidak.

5) Menurunkan rasa penuh pada


abdomen dan dapat meningkatkan
pemasukan.
6) Berguna dalam membuat program
diet untuk memenuhi kebutuhan klien.

7) Hiperglikemia/hipoglikemia dapat
terjadi pada klien dengan anoreksi.

8) Antiemetik diberikan jam sebelum


makan dapat menurunkan mual dan
meningkatkan toleransi pada
makanan.Antasida bekerja pada asam
gaster dapat menurunkan iritasi/resiko
perdarahan. Vitamin B kompleks
memperbaiki kekurangan dan
membantu proses penyembuhan.

Dx 4 Intoleransi aktivitas b/d kelemahan, immobilisasi.


Intervensi

Rasional

1)

1)
Mengetahui keadaan umum
pasien.

Observasi TTV.

2)
Tingkatkan tirah
baring/duduk. Berikan

2)

Meningkatkan istirahat dan

lingkungan tenang, batasi


pengunjung sesuai keperluan.

3)
Ubah posisi dengan
seringdan berikan perawatan
kulit yang baik.

ketenangan. Menyediakan energi yang


digunakan untuk penyembuhan.
Aktifitas dan posisi duduk tegak diyakini
meurunkan aliran darah ke kaki, yang
mencegah sirkulasi optimal ke organ
pencernaan.

3)
Meningkatkan fungsi pernafasan
dan meminimalkan tekanan pada area
tertentu untuk menurunkan resiko
kerusakan jaringan.

4)
Tingkatkan aktifitas
sesuai toleransi, bantu
melakukan latihan rentang
gerak sendi pasif/aktif.

4)
Tirah baring lama dapat
menurunkan kemampuan. Ini dapat
terjadi karena keterbatasan aktifitas
yang mengganggu periode istirahat.

5)
Anjurkan penggunaan
teknik manajemen stres,
contoh: relaksasi progresif,
visualisasi, bimbingan
imajinasi. Berikan aktifitas
hiburan yang tepat contoh:
menonton TV, radio, membaca.

5)
Meningkatkan relaksasi dan
penghematan energi, memusatkan
kembali perhatian dan dapat
meningkatkan koping.

2.9.4 Implementasi
Sesuai dengan intervensi

2.9.5 Evaluasi
Dx 1
1.

Badan terasa nyaman (+), pusing (-), istirahat bisa.

2.

Suhu normal, nadi normal, tekanan darah normal, respirasi normal.

3.

Pucat (-).

Dx 2
1.

Dehidrasi (-).

2.

Turgor kulit elastis.

3.

Membran mukosa lembab.

Dx 3
1.

Mual (-), muntah (-).

2.

Nafsu makan (+).

3.

Berat badan stabil.

Dx 4
1.

Kelemahan (-), Immobilisasi normal.

2.

Aktivitas (+).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh
salmonella type A, B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan
minuman yang terkontaminasi. Etiologi demam typoid adalah salmonella
thypi. Gejala- gejala yang timbul bervariasi.
3.2 Saran
Dengan diberikannya tugas ini penulis dapat lebih memahami dan mengerti
tentang bagaimana penyakit thypoid dan dapat melakukan perawatan yang baik
dan tepat serta menegakkan asuhan keperawatan yang baik. Dengan adanya

hasil tugas ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bacaan untuk menambah
wawasan dari ilmu yang telah didapatkan dan lebih baik lagi dari sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Marjory Gordon, dkk, 2001, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 20012002, NANDA
Kuncara, H.Y, dkk, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddarth,EGC, Jakarta

Doenges M.E. at al., 1992, Nursing Care Plans, F.A. Davis Company, Philadelphia