Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN

ANALISIS ASPEK BIOLOGI (PERTUMBUHAN DAN


REPRODUKSI) IKAN KOMET (Carassius auratus)
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum
mata kuliah Biologi Perikanan semester genap
Disusun oleh :
Dini Maliha
Rayana Akbar Maulana
Adli Muhammad Adzan
Rury Ratnafuri

230110130036
230110130047
230110130052
230110130228

Kelas:
Perikanan C / Kelompok 1

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2015
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun
laporan akhir praktikum ini tepat pada waktunya. laporan akhir praktikum ini

membahas tentang Analisis Aspek Biologi (Pertumbuhan dan Reproduksi)


Ikan Komet (Carassius Auratus).
Dalam penyusunan laporan akhir praktikum ini, penulis banyak mendapat
tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan
itu bisa teratasi. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga
bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa laporan akhir praktikum ini masih jauh dari
kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif
dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Jatinangor, April 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB

Halaman
DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN
I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan

II

III

IV

vi

1
1

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Komet
2.2 Karakteristik Sperma
2.2.1 Sperma
2.2.2 Morfologi Sperma
2.3 Karakteristik Telur
2.3.1 Morfologi Telur
2.4 Hubungan Panjang Berat
2.5 Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
2.6 Indeks Kematangan Gonad (IKG)
2.7 Fekunditas
2.8 Diameter dan Posisi Telur

2
3
3
3
4
5
6
6
8
9
11

METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
3.2.2 Bahan
3.3 Prosedur Kerja

12
12
12
12
13

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Ratio Kelamin Kelompok
4.1.2 Hasil Pengamatan Reproduksi Kelompok
4.1.3 Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Ratio Kelamin Angkatan
4.1.4 Hasil Regresi Pertumbuhan Angkatan
4.1.5 Hasil Pengamatan Reproduksi Angkatan
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Pertumbuhan dan Ratio Kelamin
4.2.2 Pembahasan Reproduksi

14
14
14
15
22
25
28
28
31

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

32
33

DAFTAR PUSTKA

34

LAMPIRAN

35

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

Data Kelompok Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Kelompok

18

Data Reproduksi Kelompok

18

Data Angkatan Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Ikan Komet

19

Data Interval Rasio Kelamin Ikan Komet

23

Data Angkatan Rasio Kematangan Gonad Ikan Komet

29

Data Angkatan Regresi Pertumbuhan Ikan Komet

33

Data Angkatan Reproduksi Ikan Komet

36

DAFTAR GAMBAR

Nomor
1
2
3
4
5
6
7

Judul
Sperma dan Bagian-bagianya
Sel Telur dan Bagianya
Grafik Jumlah Ikan Komet Per Skala
Diagram Ratio Kelamin Ikan Komet
Grafik Presentase TKG Ikan Komet
Grafik Ratio Panjang dan Berat pada Ikan Komet
Tingkat Kematangan Gonad Ikan Komet

Halaman
2
27
28
32
36
36
36

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Halaman

Mengukur Panjang Ikan komet

57

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Menimbang Ikan Komet


Panjang Gonad
Menimbang Gonad
Hati Ikan Saat Ditimbang
Ikan komet
Kelamin Betina Ikan Komet
Organ Dalam Tubuh Ikan
Hati Ikan Komet
Hati dan Gonad Ikan
Gonad ditambahkan Asetokarmin
Telur Ikan Perkembangan satu

57
57
57
57
57
58
58
58
58
58
58

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Biologi perikanan adalah studi mengenai ikan sebagai sumberdaya yang


dapat dipanen oleh manusia. Melihat besarnya potensi sumberdaya perairan perlu
dilakukan suatu usaha untuk dapat mengetahui berbagai aspek biologi perikanan,
hal tersebut dapat dimulai dengan melakukan praktikum yang membahas
mengenai aspek biologi perikanan tersebut (melakukan penghitungan panjang dan
berat, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas dan posisi
inti telur).

Ikan sebagai mahluk hidup didalam kehidupannya membutuhkan bahan


makanan sebagai sumber energi dan gizi yang diperlukan dalam melakukan
aktifitasnya yang mencakup pertumbuhan dan perkembangan serta reproduksi
yang dilakukannya. Ketersediaan pakan di perairan bebas memungkinkan ikan
untuk memilih dan mencari sumber makanan yang dibutuhkannya tanpa terbatas
ruang dan waktu. Besarnya populasi ikan dalam suatu perairan antara lain
ditentukan oleh makanan yang tersedia. Dari makanan ini ada beberapa faktor
yang berhubungan dengan populasi tersebut yaitu jumlah dan kualitas makanan
yang tersedia (food habits), mudahnya tersedia makanan, lama masa pengambilan
dan cara memakan ikan dalam populasi tersebut (feeding habits).

1.2

Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilaksanakan praktikum ini adalah:

1. Untuk mengetahui kelamin ikan berdasarkan morfologi tubuh.

2. Untuk mengetahui regresi pertumbuhan.

3. Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad (TKG).

4. Untuk mengetahui indeks kematangan gonad (IKG).

5. Untuk mengetahui fekunditas pada suatu ikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Ikan Komet
Ikan komet (Carassius auratus auratus) merupakan salah satu jenis ikan

mas hias, ciri yang membedakan dengan ikan mas hias lainnya adalah caudal fin
atau sirip ekornya lebih panjang dan percabangan di sirip ekornya sangat terlihat
jelas, tidak seperti ikan mas biasa yang percabangan di sirip ekornya tidak begitu
terlihat jelas. Selain itu, ikan komet mempunyai warna oranye yang mencolok
sehingga sangat menarik untuk menjadi ikan hias di dalam ruangan ataupun diluar
ruangan.
Ikan komet memiliki badan yang memanjang dan ramping sehingga di
dalam akuarium ataupun di kolam, ikan ini selalu aktif berenang ke segala
penjuru. Panjang tubuh ikan komet bisa mencapai sekitar 35 cm dari ujung kepala
sampai ujung ekor. Ikan komet mulai bisa memijah pada umur 4 bulan dan bisa
hidup sampai berumur 14 tahun tergantung pemeliharaan. Dari banyaknya

varietas ikan mas hias yang dihasilkan di dunia oleh Cina dan Jepang, ikan komet
ini merupakan satu-satunya hasil seleksi dari ikan common goldfish pada abad 19
di Philadelpia Amerika Serikat oleh Hugo Murket dan secara masal di terjunkan
ke pasaran (Skomal 2007).
Klasifikasi ikan komet berdasarkan ilmu taksonomi (Lingga dan Susanto
2003) adalah sebagai berikut:
Filum
: Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas
: Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo
: Otariphisysoidei
Sub Ordo : Cyprinoidae
Famili
: Cyprinidae
Genus
: Carassius
Spesies
: Carassius auratus
Pada upaya pembenihan, seleksi induk merupakan hal yang penting untuk
dilakukan agar hasil pemijahan ikan menghasilkan keturunan yang berkualitas.
Adapun ciri ikan komet jantan dan ikan komet betina adalah sebagai berikut:
-

Ciri induk jantan yaitu terdapatnya bintik-bintik bulat menonjol pada sirip da

da dan jika diraba terasa kasar, pada induk yang telah matang gonad jika diurut
perlahan dari perut ke arah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih.

Ciri induk betina yaitu terdapat bintik-bintik pada sirip dada namun terasa
halus jika diraba, jika diurut perlahan dari perut ke arah lubang genital akan
keluar cairan kuning bening, dan pada induk yang telah matang perutnya terasa
lembek juga lubang genital berwarna kemerah-merahan (Derri 2010).

2.2

Karakteristik Sperma

2.2.1

Sperma
Sperma adalah gamet jantan yang dihasilkan oleh testis dan merupakan

suatu sel kecil, kompak yang tidak bertumbuh dan tersimpan dalam cairan sperma
dalam testis. Cairan sperma adalah larutan spermatozoa yang berada dalam cairan
seminal dan dihasilkan oleh hidrasi testis. Campuran antara seminal plasma
dengan spermatozoa disebut semen. Dalam setiap testis semen terdapat jutaan
spermatozoa (Hoar 1969).

Sperma terdiri dari kepala yang membawa materi keturunan paternal dan
ekor yang berperan sebagai alat penggerak. Fungsi utama sperma pada individu
parental adalah sebagai pembawa sebagian materi genetik dalam proses
pembuahan untuk membentuk individu baru (Effendi 1997).
2.2.2

Morfologi Sperma
Struktur spermatozoa secara umum pada ikan yang sudah matang terdiri

dari kepala, leher, dan ekor flagella. Inti spermatozoa terdapat pada bagian kepala
(Lagler 1977). Middle piece merupakan penghubung atau penyambung antara
leher dan ekor yang mengandung mitokondria dan berfungsi dalam metabolisme
sperma.

Spermatozoa mempunyai struktur yang sederhana dan ukuran yang


hampir sama. Umumnya ukuran panjang kepala sperma antara 2-3 mikron (m)
dan panjang total dari spermatozoa antara 40-60 m.

Gambar 1. Sperma dan Bagian-bagiannya


(Sumber:www.google.com)
2.3

Karakteristik Telur
Telur merupakan asal mula suatu makhluk hidup. Telur mengandung

materi yang sangat dibutuhkan sebagai nutrien bagi perkembangan embrio. Proses
pembentukan telur sudah dimulai pada fase differensiasi dan oogenesis, yaitu
terjadinya akumulasi vitelogenin ke dalam folikel yang lebih dikenal dengan
vitelogenesis. Telur juga dipersiapkan untuk dapat menerima spermatozoa sebagai
awal perkembangan embrio. Sehingga anatomi telur sangat berkaitan dengan
anatomi spermatozoa.
Pada telur yang belum dibuahi, bagian luarnya dilapisi oleh selaput yang
dinamakan selaput kapsul atau khorion. Di bawah khorion terdapat lagi selaput
yang kedua dinamakan selaput vitelin. Selaput yang mengelilingi plasma telur
dinamakan selaput plasma. Ketiga selaput ini semuanya menempel satu sama lain
dan tidak terdapat ruang diantaranya. Bagian telur yang terdapat sitoplasma
biasanya berkumpul di sebelah telur bagian atas dinamakan kutub anima. Bagian
bawahnya yaitu pada kutub yang berlawanan terdapat banyak kuning telur.
Kuning telur pada ikan hampir mengisi seluruh volume sel. Kuning telur
yang ada di bagian tengah keadaanya lebih padat daripada kuning telur yang ada
pada bagian pinggir karena adanya sitoplasma. Selain dari itu sitoplasma banyak
terdapat pada sekeliling inti telur.
Khorion telur yang masih baru bersifat lunak dan memiliki sebuah
mikrofil yaitu suatu lubang kecil tempat masuknya sperma ke dalam telur pada
waktu terjadi pembuahan. Ketika telur dilepaskan ke dalam air dan dibuahi,
alveoli kortek yang ada di bawah khorion pecah dan melepaskan material koloidmukoprotein ke dalam ruang perivitelin, yang terletak antara membran telur dan
khorion. Air tersedot akibat pembengkakan mucoprotein ini. Khorion mula-mula
menjadi kaku dan licin, kemudian mengeras dan mikrofil tertutup. Sitoplasma
menebal pada kutub telur yang terdapat inti, ini merupakan titik dimana embrio
berkembang. Pengerasan khorion akan mencegah terjadinya pembuahan
polisperma. Dengan adanya ruang perivitelin di bawah khorion yang mengeras,
maka telur dapat bergerak selama dalam perkembangannya.

Gambar 2. Sel Telur dan Bagiannya


(Sumber: google.com)
2.3.1

Membran telur
Selama oogenesis pada teleostei, salah satu proses yang paling menyolok

adalah pembentukan sebuah zona tebal yang sangat berdiferensiasi (membran


telur, membran vitelin, zona radiata, zona pelusida) yang terletak diantara lapisanlapisan granulosa dan oosit. Bergantung pada spesies maupun tahap pertumbuhan
oosit, membran telur bervariasi dalam hal ketebalan, tebalnya 7-8 mikron pada
oosit telur ikan mas koki dan sekitar 30 mikron pada rainbow trout.
Pada Chichlasoma nigrofasciata badan-badan rekat yang mengelilingi zona
pelucida, yang terdiri dari filamen dan selubung lendir yang kental, disintesis
dalam sel folikel selama vitelogenesis, struktur ini nampaknya disekresi secara
langsung dari retikulum endoplasma granular. Pada Cichlasoma dan Fundulus
struktur ini berfungsi sebagai alat untuk merekatkan telur pada subsrat dan pada
Cynolebias berfungsi sebagai sistem respirasi khorionik (Nagahama 1983).
2.4

Hubungan Panjang Berat


Menghitung Hubungan panjang dan berat (Length-weight relationship

/LWR) dilakukan selama proses budidaya ikan agar kenormalan pertumbuhan


ikan dapat diketahui sedini mungkin.karena hal ini memberikan informasi
parameter-parameter populasi. Pertama, sebuah perubahan berat dan panjang
memperlihatkan umur dan kelas kelompok tahun ikan, hal ini sangat penting
dalam perikanan. Kedua, data panjang berat tersebut dapat digunakan untuk

menaksirkan daya dukung stock perikanan tangkap. Selain itu, data panjang dan
berat dapat juga menggambarkan petunjuk penting tentang perubahan iklim dan
lingkungan. Tingkat pertumbuhan ikan juga dipengaruhi oleh ketersediaan
makanan di lingkungan hidupnya (Poernomo 2002 ).
2.5

Tingkat Kematangan Gonad (TKG)


Tingkat kematangan gonad merupakan pengelompokan kematangan gonad

ikan berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada gonad. Dasar yang


dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi
adalah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang
dapat dilihat. Perkembangan gonad ikan betina lebih banyak diperhatikan
daripada ikan jantan karena perkembangan diameter telur yang terdapat dalam
gonad lebih mudah dilihat dari pada sperma di dalam testis (Effendie 2002).
Keterangan tentang kematangan gonad ikan diperlukan untuk mengetahui
perbandingan ikan yang matang gonad dan yang belum matang dari suatu stok
ikan, ukuran atau umur ikan pertama kali memijah, apakah ikan sudah memijah
atau belum, kapan terjadi pemijahan, berapa lama saat pemijahan, berapa kali
memijah dalam satu tahun dan sebagainya. Perubahan gonad ikan berupa
meningkatnya ukuran gonad dan diameter telur dinyatakan dengan tingkat
kematangan gonad (TKG) (Kordi 2010).
Perkembangan

gonad pada

ikan pada

umumnya

selain dengan

pertambahan umur ikan, yaitu semakin dewasa seekor ikan maka perkembangan
gonadnya akan semakin sempurna untuk mengadakan pembentukan dan
pemasakan telur. Tiap-tiap spesies ikan pada waktu pertama kali gonadnya
menjadi masak tidak sama ukurannya. Demikian pula ikan yang sama spesiesnya.
Lebih-lebih bila ikan yang sama spesiesnya itu tersebar pada lintang yang
perbedaannya lebih dari lima derajat, maka terdapat perbedaan ukuran dan umur
ketika mencapai kematangan gonad untuk pertama kalinya.
Tingkat kematangan gonad menurut Kesteven (Bagenal dan Braum 1968)
yaitu:

1. Dara, organ seksual masih sangat kecil dan berada di bawah tulang punggung,
testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai berwarna abu-abu.
Telur tidak bisa dilihat dengan mata biasa.
2. Dara Berkembang, testes dan ovarium jernih, abu-abu merah, panjangnya
setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur sudah dapat
dilihat dengan menggunakan kaca pembesar.
3. Perkembangan I, testes dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna kemerahmerahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira setengah ruang
kebagian bawah. Telur dapat dilihat seperti serbuk putih.
4. Perkembangan II, testes berwarna putih kemerah-merahan. Tidak ada sperma
kalu perut ditekan. Ovarium berwarna orange kemerah-merahan. Telur jelas
dapat dibedakan, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisi kira-kira 2/3 ruang
bawah.
5. Bunting, organ seksual mengisi ruang bawah. Testes berwarna putih, keluar
tetesan sperma jika ditekan perutnya. Telur berbentuk bulat, beberapa
diantaranya jernih dan masak.
6. Mijah, telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan ke perut. Kebanyakan
telur berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur tinggal di
dalam ovarium.
7. Mijah/Salin, gonad belum kosong sama sekali. Tidak ada telur yang bulat telur.
8. Salin, testes dan ovarium kosong dan berwara merah. Beberapa telur sedang
dalam keadaan dihisap kembali.
9. Pulih Salin, testes dan ovarium berwarna jernih, abu-abu sampai merah.
Perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap
perkembangan utama, yaitu tahap perkembangan pertumbuhan gonad hingga ikan
mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk
seksual (gamet). Tahap pertama berlangsung sejak telur menetas atau lahir hingga
mencapai dewasa kelamin dan tahap kedua berlangsung setelah ikan dewasa.
Proses kedua akan terus berlangsung dan berkesinambungan selama fungsi
reproduksi berjalan normal (Kordi 2010).

Semakin tinggi tingkat kematangan gonad, semakin besar diameter telur,


di dalam ovarium. Berdasarkan penelitian pada setiap tingkat kematangan gonad
(dari TKG I sampai TKG V) tertentu, diameter telur didalam ovarium mempunyai
kisaran ukuran tertentu dan ada ukuran diameter yang paling banyak frekuensinya
(Kordi 2010).
2.6

Indeks Kematangan Gonad (IKG)


Menurut Nikolsky (1969), tanda utama digunakan untuk membedakan

kematangan gonad berdasarkan beratnya dan secara alamiah hal ini berhubungan
dengan ukuran dan berat tubuh ikan. Dengan penentuan berat gonad dibandingkan
dengan berat tubuh ikan akan didapatkan Indeks Kematangan Gonad yang
dinyatakan dalam persen. Percobaan kondisi gonad ini dapat dinyatakan sebagai
berat gonad dibagi berat tubuh ikan (termasuk gonad) dikalikan 100 % (Effendie
2002).
IG = x 100 %
Keterangan:
IKG
Bg
Bt

= Indeks Kematangan Gonad (%)


= Berat Gonad Ikan (gram)
= Berat tubuh Ikan (gram)

Ikan yang siap memijah mempunyai kisaran IKG mulai dari 19 % keatas
sudah yang sanggup mengeluarkan telurnya dan dianggap matang, kemudian
sesudah memijah indeknya turun menjadi 3 4 %.
2.7

Fekunditas
Fekunditas adalah jumlah telur yang terdapat pada ovari ikan betina yang

telah matang gonad dan siap untuk dikeluarkan pada waktu memijah.
Pengetahuan tentang fekunditas dibidang budidaya perikanan sangatlah penting
artinya untuk memprediksi berapa banyak jumlah larva atau benih yang akan
dihasilkan oleh individu ikan pada waktu mijah sedangkan dibidang biologi

10

perikanan untuk memprediksikan berapa jumlah stok suatu populasi ikan dalam
lingkungan perairan (Heriyanto 2011).
Banyaknya telur yang belum dikeluarkan sesaat sebelum ikan memijah
atau biasa disebut dengan fekunditas memiliki nilai yang bervariasi sesuai dengan
spesies. Jumlah telur yang dihasilkan merupakan hasil dari pemijahan yang
tingkat kelangsungan hidupnya di alam sampai menetas dan ukuran dewasa sangat
ditentukan oleh faktor lingkungan. Dalam pendugaan stok ikan dapat diketahui
dengan tingkat fekunditasnya. Tingkat fekunditas ikan air laut biasanya relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar. Secara sederhana Fekunditas
dapat diartikan oleh jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan. Terdapat beberapa
jenis Fekunditas diantaranya:
1. Fekunditas individu adalah jumlah telur yang dikeluarkan dari generasi tahun
itu dan akan dikeluarkan pada tahun itu pula.
2. Fekuindita relatif adalah jumlah telur per atuan panjang dan berat.
3. Fekunditas total adalah jumlah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama
hidupnya.
Fekunditas secara langsung dapat memberi penaksiran jumlah anak ikan
yang akan dihasilkan dan kan menentukan jumlah ikan dalam suatu kelas umur.
Fekunditas merupakan suatu subyek yang dapat menyesuaikan terhadap beberapa
macam kondisi terutama respon terhadap makanan (Effendie 1997).
Nikolsky selanjutnya menyatakan bahwa fekunditas individu adalah
jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan tahun itu pula. Dalam
ovari biasanya ada dua macam ukuran telur, yang besar dan yang kecil. Telur yang
besar akan dikeluarkan pada tahun itu dan yang kecil akan dikeluarkan pada tahun
berikutnya. Namun apabila kondisi baik, telur yang kecilpun akan dikeluarkan
menyusul telur yang besar.
Dalam analisis fekunditas metode yang digunakan adalah metode
gabungandari beberapa metode yang ada yaitu :
1. Mengitung langsung satu persatu telur ikan
2. Metode volumetrik yaitu dengan pengenceran telur X : x = V : v
Keterangan :

11

: Jumlah telur yang akan dicari

: Jumlah telur contoh

: Volume seluruh gonad

: Volume gonad contoh

3. Metode gravimetrik, prinsipnya sama dengan volumetrik, bedanya hanya pada


ukuran volume diganti dengan ukuran berat.
4. Metode gabungan (hitung gravimetrik dan volumetrik).
Fekunditas total ialah jumlah telur yang dihasilkan ikan selama hidupnya
(Royce 1972). Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau
panjang. Fekunditas inipun sebenarnya mewakili fekunditas individu kalau tidak
diperhatikan berat atau panjang ikan. Penggunaan fekunditas relatif dengan satuan
berat lebih mendekati kepada kondisi ikan itu sendiri dari pada dengan panjang.
Bahkan menurut Nikolsky (1969) lebih mencerminkan status ikan betina dan
kualitas dari telur kalau berat yang dipakai tanpa berat alat-alat pencernaan
makanannya. Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas
relatif lebih kecil. Umumnya fekunditas relatif lebih tinggi dibanding dengan
fekunditas individu. Fekunditas relatif akan menjadi maksimum pada golongan
ikan yang masih muda (Heriyanto 2011).
2.8

Diameter dan Posisi Inti Telur


Diameter telur adalah garis tengah atau ukuran panjang dari suatu telur

yang diukur dengan mikrometer berskala yang sudah ditera. Semakin meningkat
tingkat kematangan gonad garis tengah telur yang ada dalam ovarium semakin
besar. Masa pemijahan setiap spesies ikan berbeda-beda, ada pemijahan yang
berlangsung singkat (total leptolepisawner), tetapi banyak pula pemijahan dalam
waktu yang panjang (partial leptolepisawner) ada pada ikan yang berlangsung
beberapa hari. Semakin meningkat tingkat kematangan, garis tengah telur yang
ada dalam ovarium semakin besar pula (Arief 2009).
Diameter telur ada hubungannya dengan fekunditas. Makin banyak telur
yang dipijahkan (fekunditas), maka ukuran diameter telurnya makin kecil,
demikian pula sebaliknya (Tang dan Affandi 2001). Ikan yang memiliki diameter

12

telur lebih kecil biasanya mempunyai fekunditas yang lebih banyak, sedangkan
yang memiliki diameter telur yang besar cenderung memiliki fekunditas rendah.
Semakin besar ukuran diameter telur akan semakin baik, karena dalam telur
tersebut tersedia makanan cadangan sehingga larva ikan akan dapat bertahan lebih
lama.

12

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1

Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum Biologi Perikanan dengan judul Analisis Aspek Biologi


(Pertumbuhan dan Reproduksi) Ikan Komet (Carassius auratus) dilakukan pada
hari Selasa, 24 Maret 2015. Berlokasi di Laboratorium Fisiologi Hewan Air
(FHA) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.

3.2

Alat dan Bahan

3.2.1

Alat

Adapun alat-alat yang digunakan saat praktikum sebagai berikut:

1. Wadah plastik, sebagai tempat untuk menyimpan ikan.

2. Cawan petri, sebagai tempat untuk menyimpan isi perut ikan.

3. Mikroskop, sebagai alat untuk melihat dan mengamati gonad ikan.

4. Gunting, sebagai alat untuk membedah ikan.

5. Penggaris, sebagai alat untuk mengukur SL, TL, dan FL.

13

6. Pinset, sebagai penjepit.

7. Timbangan, sebagai alat untuk menghitung bobot tubuh, gonad dan hati ikan.

3.2.2

Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan saat praktikum sebagai berikut:

1. Ikan Komet, sebagai sampel ikan yang akan diuji.

2. Larutan sera, sebagai larutan untuk memperjelas letak inti telur.

3. Asetokarmin, sebagai larutan untuk memperjelas gonad.

3.3

Prosedur Kerja

14

ikan di matikan terlebih dahulu


dengan penusuk

Siapkan alat dan Bahan

timbang bobot ikan

Ikan dibedah dengan gunting dari bagian urogenital melingkar


menuju bagian rongga perut

gonad ikan di ambil dalam perut, hingga terpisah dari organ lain

gonad ikan diamati (gonad ditimbang, panjang gonad


diukur, dan gonad dianalisis)

14

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Pengamatan

4.1.1

Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Ratio Kelamin Kelompok

Kelompok

: 1 (Satu)

Hari, Tanggal : Selasa, 24 Maret 2015


Spesies Ikan : Ikan Komet (Carassius auratus)
Asal Ikan

: Kolam Ciparanje

Tabel 1. Data Pertumbuhan dan Ratio Kelamin Kelompok 1


Berat
Hati

Pertumbuhan
TL

SL

FL

Berat

Berat
Gonad

95 mm

65 mm

80 mm

9 gr

0,13 gr

Kelamin

0,08 gr

Jantan

Betina

4.1.2 Hasil Pengamatan Reproduksi Kelompok


Tabel 2. Data Reproduksi Kelompok 1
TKG

IKG

Dara
Berkemba
ng

1,46 %

Feku
ndita
s

Diameter
telur

Letak
Inti
Tengah

Menuju
Kutub

Melebur

Perhitungan :
a. IKG

=
`

IKG

Wg
x 100
W

0,13gr
= 9 - 0,13 gr
= 1,46 %

x 100 %

Dorman

HSI

0,9 %

15

b. HSI

Berat Hati
= Berat Total-Berat Hati x 10 0

=
HSI

0,08 gr
x 100
9- 0,08 gr

= 0,9 %

4.1.3 Hasil Pengamatan Pertumbuhan dan Ratio Kelamin Angkatan


Hari, Tanggal : Selasa, 24 Maret 2015
Spesies Ikan : Ikan Komet (Carassius auratus)
Asal Ikan

: Kolam Ciparanje

Jumlah Ikan

: 66 ekor

Tabel 3. Data Angkatan Pertumbuhan dan Rasio Kelamin Ikan Komet


Kel
-

Nama
Praktikan

Pertumbuhan
Panjang (mm)
SL
FL
TL

Ichfar Jaffar
Silfi Nur
Aulia
Jason Tri

70

85

65

Kelamin
Berat

Jantan

Betina

95

10

80

92

64

80

100

68

80

110

10

80

100

125

20

70

100

115

15

Annisa Nur
2

Desi Triyani
M. Rizky
Nurma W
M. Yogi A.
Rian R.
Sheila A.
Riani A.
Rambo
Safira A
Ira S.
Susetyo
Rizka Dwi
Raka
Gilang N

16

Kel
-

Nama
Praktikan

Jihan Refli
Debora H
Andi M
Yulida

10

11

12

13

14

15

16

17

18
19

Endah
Syafarudin
Elisah F
Jamaludin
Rionaldhie
Desinta
Rian Nur.
Suci F
Cyntia K
Guntur H
Indri
Roury A
Ai Siti
Aida
Asep S
Alan A.
Setyo W
Adinda
Bella M
Rifki
Jamil
Dony
Dwiki
Tanti K
Mia
Siti S
Rahmat D
Fikri K
T Alwie
Elsa
Eifa
Eka
Hana
Ade
Tia

Pertumbuhan
Panjang (mm)
SL
FL
TL

Kelamin
Berat

Jantan

Betina

59

76

91

100

115

125

46

75

90

120

22

60

70

95

82

100

130

21

60

75

80

10

68

83

105

15

70

85

90

11

60

70

90

66

87

92

60

85

97

60

73

95

65

80

90

17

Kel
-

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31
32

Nama
Praktikan
Yuyun Y
Rahmat
Annisa
Firhan
Leni M
Jian
Angga
Iqbal
Nielam
Abduyana
Ganisa
Dea F
Refky
Fauziah
Erik
Luthfan
Taufiq
Puty
Fevi
Zais
Zelikha
Rifki GP
Teguh
Dyah
Wahyu
Rika
Esti Mutia
Muammar
Rahman
R. Nadya
Angga
Ridwan
Sofie
Fadhil
Ina
Raka
Indah
Anggi
Nawang

Pertumbuhan
Panjang (mm)
SL
FL
TL

Kelamin
Berat

Jantan

Betina

60

75

100

80

90

120

20

65

85

90

10

67

85

107

13

95

115

135

26

75

100

115

15

85

105

120

25

65

75

90

10

70

80

90

10

65

80

95

60

80

105

75

90

105

13

60

70

100

18

Kel
-

Nama
Praktikan

Pertumbuhan
Panjang (mm)
SL
FL
TL

Kelamin
Berat

Jantan

Betina

Rocela
Sarimanah
33

Reka
Novitasari
Bastian

85

105

135

22

34

Sheillawati
Satria
Adhar
Nuraya
Demas
Detrik
Cleovanya
Gulam
Aliyah
Aldwin
Arisca
Yuliana
Candra
Nurul
Ayu T
Elisa
Agung Rio
Widi
Eki
Mediana
Nabila
Hasbi
Dehan
Santi
Riza
Fauzi
Dea Hari
Satrio
Gun Gun
Sintia
Thesar
M. Aditya
Ayu Nfs
Dzaki

70

85

95

55

75

90

65

80

87

67

85

105

10

65

85

110

12.60

70

85

100

13.70

85

108

130

22.74

85

105

125

22.82

65

84

95

10.68

70

90

110

13.08

60

78

90

9.65

110

130

140

52.56

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44
45

19

Kel
-

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

Nama
Praktikan
Zulfikar
Melinda
Dini Maliha
Rayana
Adli M.
Rury R
Fahri . F
Risa
Mawadatu
M. Musa DZ
Dita Tania
Windi A.
Rizal Firdaus
Aisyah Dwi
Syarifudin
Fathin A.
Dhita Hapsari
Syifa Zahidah
Dicky D.
Riana Faosa
Hilman H.
Ardiansyah
Zahra Imma
Dyah Hafizha
Bagus
Rahmahwati
M. Aulia R.
M. Galdio N.
Ali Aji Adi
M. Rakhman
Ruth Maria
Hanna M
Bayu . R
M. Ryan K.
Choki S. D.

Pertumbuhan
Panjang (mm)
SL
FL
TL

Kelamin
Berat

Jantan

Betina

65

80

95

65

80

90

63

79

90

60

70

90

14

70

90

115

10

70

80

90

12

60

75

94

64

79

90

75

88

116

13

185

210

230

248

56

Ayu M

82

98

130

18

57

Deni S
Aisyah A. M.
M. Salsabil

70

85

100

12

20

Kel
-

Nama
Praktikan

Pertumbuhan
Panjang (mm)
SL
FL
TL

Kelamin
Berat

Jantan

Betina

Fachri A. M.
Resna Ajeng
58

R Rahmadi
Christoper R.
Kalysta F.
Jumaidi E
Yuki Aditya.
Dwi Muthiah
Fadhillah A.
Agung Fuadi
Kartika Irta
Rosa H.
Taufik Ikhsan
M. Fahmi I
Logica I. B.
Ruth Mawar
Gilang T.
Geugeuh G.
Dina Arifiah
Kelana Putra
Takbir S.
Silmi Fitriani
Sona Y. D.
Reyhan Alif
Eva Amalia
Shafwan H

59

60

61

62

63

64

65

66

Fahira Nur A.
Chervin

70

80

85

14

75

92

122

14

72

83

103

10,8

75

90

105

16,04

65

70

100

11,48

70

93

110

11,65

67

77

98

13,37

65

85

100

9,97

100

115

145

38,48

Tabel 4. Interval Rasio Kelamin Ikan Komet


Kelas
ke

Batas bawah

Batas atas

frekuensi

1
2
3
4

54.5
73.5
92.5
111.5

73.5
92.5
111.5
130.5

47
14
4
0

Jantan
10
6
1
0

Betin
a
37
8
3
0

%
Jantan
15.15
9.09
1.52
0

%
Betina
56.06
12.12
4.55
0

21

5
6
7

130.5
149.5
168.5

149.5
168.5
187.5

0
0
1
66

0
0
0
17

0
0
1
49

0
0
0
25.76

0
0
1.52
74.24

Jumlah Ikan Komet per Skala

Jumlah

40
35
30
25
20
15
10
5
0

37

10

Jantan

68

13

1
00

00

00

Betina

Interval SL (mm)

Gambar 3. Grafik Jumlah Ikan Komet per Skala

Rasio Kelamin Ikan Komet

26%

Jantan
Betina

74%

Gambar 4. Diagram Ratio Kelamin Ikan Komet


Tabel 5. Rasio Kematangan Gonad Ikan Komet

22

No.

Tingkat Kematangan
Gonad

Dara

Dara Berkembang

No.

Jumlah

Jantan

24

Tingkat Kematangan
Gonad

12
Jumlah

Betina

% Betina

6.06%

30.30
%

4.55%

13.64
%

% Jantan

% Betina

20

3
Jantan

% Jantan

9
Betina

Perkembangan I

1.52%

9.09%

Perkembangan II

1.52%

10.61
%

Bunting

4.55%

Mijah
Jumlah

11

12.12
%

0.00%

6.06%

49

25.76
%

74.24
%

66

17

Persentase Tingkat kematangan Gonad

Persen

35.00%
30.00%
25.00%
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%

%jantan
%betina

fase

Gambar 5. Grafik Persentase TKG Ikan Komet


4.1.4 Hasil Regresi Pertumbuhan Angkatan
Tabel 6. Data Angkatan Regresi Pertumbuhan Ikan Komet

23

Kel-

SL

Bobot

1
2
3
4
5
6
7
8
9

70
65
64
68
80
70
59
100
75

10
9
9
10
20
15
8
46
22

Kel-

SL

Bobot

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

60
130
60
68
70
60
66
60
60
65
60
80
65
67
95
75
85
90
70
65
60
75
60
85
70
55
65
67
65
70
85

8
21
10
15
11
9
8
9
8
8
8
20
10
13
26
15
25
10
10
9
8
13
9
22
9
6
8
10
12,6
13,7
22,74

Log L
(X)
1,8451
1,8129
1,8062
1,8325
1,9031
1,8451
1,7709
2,0000
1,8751
Log L
(X)
1,7782
2,1139
1,7782
1,8325
1,8451
1,7782
1,8195
1,7782
1,7782
1,8129
1,7782
1,9031
1,8129
1,8261
1,9777
1,8751
1,9294
1,9542
1,8451
1,8129
1,7782
1,8751
1,7782
1,9294
1,8451
1,7404
1,8129
1,8261
1,8129
1,8451
1,9294

Log
W(Y)
1,0000
0,9542
0,9542
1,0000
1,3010
1,1761
0,9031
1,6628
1,3424
Log
W(Y)
0,9031
1,3222
1,0000
1,1761
1,0414
0,9542
0,9031
0,9542
0,9031
0,9031
0,9031
1,3010
1,0000
1,1139
1,4150
1,1761
1,3979
1,0000
1,0000
0,9542
0,9031
1,1139
0,9542
1,3424
0,9542
0,7782
0,9031
1,0000
1,1004
1,1367
1,3568

(Log L)2

Log L.Log W

3,4044
3,2867
3,2623
3,3581
3,6218
3,4044
3,1359
4,0000
3,5159

1,8451
1,7300
1,7235
1,8325
2,4760
2,1700
1,5992
3,3255
2,5171

(Log L)2

Log L.Log W

3,1618
4,4688
3,1618
3,3581
3,4044
3,1618
3,3107
3,1618
3,1618
3,2867
3,1618
3,6218
3,2867
3,3345
3,9114
3,5159
3,7227
3,8191
3,4044
3,2867
3,1618
3,5159
3,1618
3,7227
3,4044
3,0289
3,2867
3,3345
3,2867
3,4044
3,7227

1,6058
2,7951
1,7782
2,1552
1,9215
1,6968
1,6432
1,6968
1,6058
1,6372
1,6058
2,4760
1,8129
2,0341
2,7984
2,2052
2,6972
1,9542
1,8451
1,7300
1,6058
2,0887
1,6968
2,5901
1,7607
1,3543
1,6372
1,8261
1,9949
2,0974
2,6178

24

Korelasi Panjang dan Berat Ikan


2.5000
f(x) = 2.61x - 3.73
1.5000
R = 0.81Linear ()
Berat
0.5000
Linear ()
2.5000
1.5000
Panjang

Gambar 6. Grafik Relasi Panjang dan Berat Pada Ikan Komet


Dari perhitungan regresi pertumbuhan didapat nilai b adalah 2,6096
Hubungan Panjang Berat dengan Pola Pertumbuhan:
b = 3 (Isometrik), dimana pertumbuhan panjang dan berat seimbang
b 3 (Alometrik); b < 3 = alometrik negatif (pertumbuhan berat < panjang)
b > 3 = alometrik positif (pertumbuhan berat > panjang)

4.1.5 Hasil Pengamatan Reproduksi Angkatan


Tabel 7. Data Angkatan Reproduksi Ikan Komet
PG
TKG
KelBw
BGd
d
Dara
1
10
0,12
28
Berkembang
2
Dara
9
0,01
10
3
Dara
9
0,12
25
4
Dara
10
0,16
14
5
Bunting
20
0,76
35
Dara
6
15
0,3
27
Berkembang
7
Dara
8
0,03
15
8
Mijah
46
3,24
85
9
Mijah
22
3,5
60
10
Perkembangan I
8
0,16
31

IKG

BHt

PH
t

HSI

1,21%

0,02

16

0,20%

0,11%
1,35%
1,63%
3,95%

0,09
0,01
0,06
0,04

12
1
2
10

1,01%
0,11%
0,60%
0,20%

2,04%

0,02

0,13%

0,38%
7,58%
18,92%
2,04%

0,05
0,24
0,05
0,05

10
20
15
15

0,63%
0,52%
0,23%
0,63%

25

11
12

21
10

3,46
0,00

56
0,03

19,73%
0,01%

0,02
0,02

2
22

0,10%
0,20%

15

0,12

2,2

0,81%

0,02

0,13%

11
9
8

0,28
0,26
0,15

35
2,5
49

2,61%
2,97%
1,91%

0,2
0,11
0,05

7
1
4

1,85%
1,24%
0,63%

0,1

10

1,12%

0,06

0,67%

0,15

30

1,91%

0,1

0,3

1,27%

8
8
20

0,07
0,22
2,68

15
45
49

0,88%
2,83%
15,47%

0,04
0,06
0,08

2
3
4

0,50%
0,76%
0,40%

10

0,14

1,42%

0,03

0,30%

13

0,66

30

5,35%

0,03

0,23%

24

Bunting
Dara
Dara
Berkembang
Dara
Bunting
Perkembangan I
Dara
Berkembang
Dara
Berkembang
Perkembangan II
Bunting
Bunting
Dara
Berkembang
Dara
Berkembang
Bunting

26

0,55

40

2,16%

0,22

25

Perkembangan I

15

0,94

20

6,69%

0,16

15

0,85%
1,08%

PG
d

IKG

BHt

PH
t

16

2,25%
8,70%
1,63%
1,93%
2,04%
3,59%
1,58%
2,80%
0,56%
0,84%
1,78%
3,31%
2,36%

0,07
0,1
0,13
0,01
0,04
0,08
0,02
0,05
0,1
0,01
0,07
0,03
0,04

0,28%
12 1,01%
1,32%
0,11%
5
0,50%
0,62%
7
0,22%
1,21 0,23%
10
1,12%
0,17%
10 0,88%
0,30%
10 0,32%

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Kel-

TKG

Bw

BGd

26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

Bunting
Dara
Perkembangan II
Dara
Dara
Perkembangan II
Dara
Bunting
Dara
Dara
Dara
Perkembangan II
Perkembangan II
Dara
Berkembang
Dara
Bunting
Dara
Berkembang
Perkembangan II
Dara
Berkembang
Mijah

25
10
10
9
8
13
9
22
9
6
8
10
12,6

0,55
0,8
0,16
0,17
0,16
0,45
0,14
0,6
0,05
0,05
0,14
0,32
0,29

13,7

0,02

35

0,15%

0,02

10

0,15%

22,7
22,8

0,4
1,01

16
60

1,79%
4,63%

0,16
0,18

13
20

0,71%
0,80%

10,6

0,8

10

8,10%

0,6

30

5,95%

13,0

0,25

20

1,95%

0,02

10

0,15%

9,65

0,17

25

1,79%

0,09

23

0,94%

52,5

7,87

50

17,61%

0,09

10

0,17%

39
40
41
42
43
44
45

12

15
25
10
20
15

HSI

26

57
58
59
60
61
62

Dara
Berkembang
Dara
Perkembangan I
Mijah
Dara
Dara
Perkembangan II
Dara
Dara
Perkembangan 2
Dara
Berkembang
Dara
Dara
Perkembangan 1
Perkembangan I
Dara
Dara

Kel-

TKG

46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56

63
64
65
66

Perkembangan I
Bunting
Dara
Bunting

0,13

75

1,47%

0,08

12

0,90%

9
7
14
10
12
8
8
13
248

0,1
0,07
1,65
0,18
0,21
0,16
0,02
0,35
25

20
25

0,04
0,12
0,23
0,05
0,09
0,11
0,02
0,04
0,19

10
32

15
20
15
20
22
130

1,12%
1,01%
13,36%
1,83%
1,78%
2,04%
0,25%
2,77%
11,21%

5
5
15
10
7
32

0,45%
1,74%
1,67%
0,50%
0,76%
1,39%
0,25%
0,31%
0,08%

18

0,34

20

1,93%

0,11

0,61%

12
14
14
10,8
16,0
11,4

0,2
0,47
1,09
0,14
0,25
0,27

1,69%
3,47%
8,44%
1,31%
1,58%
2,41%

0,05
0,04
0,02
0,04
0,09
0,04

BGd

IKG

BHt

11,6
13,7
9,97
38,4

0,4
1,82
0,2
6,55

3,56%
15,28%
2,05%
20,51%

0,02
0,13
0,01

5
20
10
8
10
10
PH
t
10
10
5

0,42%
0,29%
0,14%
0,37%
0,56%
0,35%

Bw

38
45
65
35
18
13
PG
d
35
24
38

HSI
0,17%
0,96%
0,10%
0,00%

Tabel 8. Data Angkatan Tingkat Kematangan Gonad Ikan Komet


No

Tipe TKG

Jantan

Presentase
jantan

Betina

Presentase
betina

Dara

20 %

Dara berkembang

17 %

Perkembangan I

3%

Perkembangan II

6%

9,0 %

Bunting

10

30 %

54,5 %

Mijah

17%

27,5 %

Mijah/salin

Salin

3%

Putih salin

6%

9,0 %

33

100 %

11

100 %

Jumlah

27

4.2

Pembahasan

4.2.1

Pembahasan Pertumbuhan dan Ratio Kelamin


Ada beberapa indikator yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu faktor

jumlah dan ukuran makanan yang tersedia, suhu, oksigen terlarut, kualitas air,
umur dan ukuran oksigen serta kematangan gonad. Selanjutnya dikatakan pula
bahwa ikan-ikan yang berumur mudah lebih cepat pertumbuhan panjangnya dari
ikan-ikan yang berumur tua (Effendie 1997).
Pendugaan pertumbuhan ikan dapat diduga dengan menganalisis data
frekuensi panjang atau bobot, dimana pertumbuhan ikan pada setiap umur
berbeda. Ikan muda memiliki pertumbuhan yang cepat, sedangkan akan terhenti
pada saat mencapai panjang asimptotnya (Nikolsky 1963).
Ikan yang pertumbuhannya lambat dari satu kelas umur lebih tinggi, akan
bertumpuk atau mempunyai ukuran yang sama dengan ikan yang pertumbuhannya
lebih cepat pada umur yang lebih rendah (Sparre et al 1999).
(Everthart et al 1975) mengemukakan bahwa terdapat beberapa metode
yang mengestimasi komposisi umur berdasarkan frekuensi panjang. Diantaranya
adalah metode Bhattachrya, dimana dasar dari metode ini yaitu pemisahan
kelompok umur yang mempunyai distribusi normal, dan masing-masing
kelompok umur tersebut mempunyai kohor. Cara lain untuk mengetahui umur
ikan dengan menggunakan metode Petersen, yaitu dengan menggunakan frekuensi
panjang ikan.
Telah dilakukan pengamatan mengenai pertumbuhan dan rasio ikan dari
ikan komet (Carassius auratus) yang berasal dari perairan ciparanje. Ikan yang
telah diamati sebanyak 66 ikan komet yang diamati oleh 66 kelompok. Berikut
uraian hasil pengamatan yang telah dilakukan. Pengukuran laju pertumbuhan ikan
dilakukan berdasarkan pertambahan (besarnya) bobot tubuh ikan. Dari hasil
pengamatan kelompok 1 (Tabel 1) yaitu ikan yang kami amati, ikan komet
(Carassius auratus) memiliki bobot tubuh sebesar 9 gram. Dilihat dari data

28

angkatan (Tabel 3) dari 66 ikan komet yang diamati, bobot ikan terbesar yaitu 46
gram dan bobot ikan komet terkecil adalah 6 gram.
Pada dasarnya penentuan jenis kelamin ikan dapat diperoleh berdasarkan
karakter seksual primer dan sekunder. Pemeriksaan gonad ikan dilakukan dengan
diamatinnya perbedaan ciri-ciri morfologi, tetapi hal ini hanya dapat dilakukan
pada ikan dewasa berumur lebih dari 6 bulan. Oleh sebab itu pengamatan kelamin
ikan yang dilakukan kami dengan cara histologis, yaitu dibedahnya tubuh ikan
untuk memperoleh gonad dan selanjutnya akan diidentifikasi (Secara seksual
primer). Dari hasil pengamatan kelompok, ikan yang kami amati, ikan komet
(Carassius auratus) merupakan ikan betina. Selain itu dari data hasil pengamatan
angkatan didapatkan hasil bahwa dari 66 ekor ikan komet yang diamati, ada 12
ekor ikan jantan dan 54 ekor ikan betina. Maka rasio nya adalah 1 : 4. Ikan
Komet betina lebih mendominasi pada perairan Ciparanje ini.
Pengukuran perubahan berat dan panjang dapat digunakan dengan
menggunakan dengan model allometric linear dengan menggunakan parameter a
dan b. Koreksi biar pada perubahan berat rata-rata dari unit logaritma digunakan
untuk memprediksi berat pada parameter panjang sesuai dengan persamaan
logaritma allometric berikut, (DeRobertis dan William 2008):
W = a Lb
Dimana W adalah berat dari ikan (g) dan L adalah panjang total ikan (mm)
sedangkan nilai a dan b merupakan parameter. Berat dapat dianggap sebagai suatu
fungsi dari panjang. Hubungan panjang dengan berat hampir mengikuti hukum
kubik yaitu bahwa berat ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Tetapi
hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan
panjang ikan berbeda-beda.
Untuk mengatahui tipe pertumbuhan apa yang dimiliki oleh ikan-ikan
yang diamati ini, dapat dilambangkan dengan huruf (b). Mengatahui hasilnya
dapat dihitung manual dengan cara penghitungan rumus pertumbuhan (W), atau
dapat juga menggunakan Microsoft Excel dengan cara penghitungan regresi dari

29

data yang diamati terlebih dahulu. Dari hasil penghitungan menggunakan Ms.
Excel didapatkan hasil bahwa ikan-ikan yang berasal dari perairan ciparanje
memiliki pertumbuhan Allometrik. Dibuktikan dengan hasil nilai b 3 .
Pengamatan yang dilakukan pada ikan komet menghasilkan nilai b = 3.3229 dan
pengamatan pada ikan nilem yaitu nilai b = 2.8923. Itu artinya b < 3 atau
allometrik negatif, yaitu pertumbuhan berat ikan lebih besar dibandingkan
pertumbuhan panjang ikan. Oleh sebab itu, dapat dilihat di tabel 4, bahwa bobotbobot ikan tersebut lebih besar daripada total panjang (TL) ikan-ikan itu.

4.2.2 Pembahasan Reproduksi Pada Ikan Komet


Dari pengamatan yang telah dilakukan untuk mendapatkan atau
mengetahui mengenai data reproduksi ikan perlu dilakukan beberapa perhitungan.
Dilakukan perhitungan Standard Length (SL) yaitu pengukuran ikan mulai dari
posterior operkulum hingga pakal ekor. Dengan mendapatkan hitungan SL
tersebut, maka dapat dihitung tingkat kematangan gonad (TKG), Indeks
kematangan gonad (IKG), dan Hepato Somatic Index (HSI). Jika didapatkan ikan
betina maka dihitung fekunditas dan letak inti telur.
Untuk mengetahui reproduksi ikan, dapat dilakukan identifikasi morfologi
pada tubuh juga dilakukan identifikasi morfologi gonad. Setelah ikan dimatikan
dengan cara ditusuk kepalanya, diamati morfologi tubuh ikannya. Ikan yang kami
amati merupakan ikan komet albino, karena tidak adanya warna yang muncul
pada tubuh ikan komet tersebut. Sehinnga tidak dapat mengidentifikasi kelamin
berdasarkan warna tubuh. Ikan komet berukuran lebih lonjong, terdapat tonjolan
pada lubang urogenital. Hipotesa kami ikan yang diamati adalah ikan betina.
Untuk lebih yakinnya lagi perlu dilakukan pembedahan dan identifikasi gonad
ikan.
Ikan dibedah, untuk mengetahui Indeks Kematangan Gonad (IKG) maka
dihitung gonad ikan komet tersebut. Ikan komet kami memiliki berat gonad
sebesar 0,13 gram dengan bobot ikan sebesar 9 gram. Maka didapatkan IKG
sebesar 1,46%. Lalu dilakukan penghitungan berat hati, didapatkan berat hati

30

sebesar 0,08 gram sehingga nilai Hepato Somatic Index (HSI) nya sebesar 0,9%.
Setelah itu diamati gonad ikan tersebut, diidentifikasi morfologi gonadnya. Gonad
yang kami amati berwarna abu-abu agak kemerahan tetapi merahnya belum
dominan, selain itu telurnya dapat dilihat dengan menggunakan kaca pembesar.
Agar lebih jelas maka digunakan larutan acetokarmin, dan gonad dicacah terlebih
dahulu. Dari hasil pengamatan gonad didapatkan hasil bahwa ternyata ikan komet
yang kami amati berjenis kelamin betina, dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG)
berada pada fase dara berkembang.
Dari hasil data angkatan, dari 66 ikan komet yang diamati, ikan yang
memiliki tingkat kematangan gonad (TKG) pada fase mijah dan bunting hanya 10
ekor ikan saja. Sisanya memiliki tingkat kematangan gonad (TKG) pada fase dara,
dara berkembang, ataupun perkembangan II. Fekunditas yang paling tinggi dari
10 ikan komet tersebut sebesar 5952 dan TKG nya pada fase perkembangan II.
Adapun dari 66 ekor ikan sampel yang diamati, kelompok 66 memiliki
nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) yang tinggi, yaitu sebesar 20,51% berada
pada tingkat kematanga gonad (TKG) fase bunting. Dari data diatas dapat dilihat
bahwa ikan betina memiliki IKG yang relatif lebih besar dibandingkan dengan
ikan jantan. Menurut Effendi (1987) bahwa nilai indeks ini akan sejalan dengan
perkembangan gonad dan akan mencapai batas maksimum pada saat ikan
mengalami pemijahan. Ikan betina memiliki IKG lebih tinggi dibandingkan ikan
jantan sebab ikan betina memiliki gonad yang lebih besar dibandingkan dengan
gonad jantan jadi meskipun ada pada tahap dibawah jantan tapi bobot gonadnya
akan relatif lebih besar.
4.2.3 Pembahasan Regresi Pertumbuhan pada Ikan Komet
Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat.
Pertumbuhan di pengaruhi faktor genetik, hormon dan lingkungan. Meskipun
secara umu, faktor lingkungan yang memegang peranan sangat penting adalah
nutrient pakan dan suhu lingkungan, namun di daerah tropis nutrient lebih penting
di bandingkan suhu lingkungan. Menurut Saputra (2008). Dari hasil grafik di atas
yaitu hubungan panjang dan berat pada ikan komet (carassius auratus)

31

menujukan nilai y = 2.6096x - 3.7291, R = 0.813 maka dapat di simpulkan bahwa


nilai b yaitu 2,6096 dan masuk kepada kategori nilai b < 3 yang di berarti
pertumbuhan ikan bersifat alometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih
cepat dibandingkan pertumbuhan bobot. Sehingga bentuk tubuh ikan tampak
cenderung memanjang ketika tumbuh.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil praktikum yang dilakukan adalah:

Ikan Komet (Carassius auratus) termasuk jenis ikan air tawar.

Bobot yang dimiliki ikan dan panjang yang dimiliki ikan saling berkaitan.
Karena perubahan berat dan panjang memperlihatkan umur dan kelas
kelompok tahun ikan.

Tingkat pertumbuhan ikan juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan


dilingkungan hidupnya.

Panjang dan berat diketahui dengan cara pengukuran secara manual. Lalu
dilakukan perhitungan dengan rumus tertentu.

Pertumbuhan ikan yang diamati termasuk kedalam pertumbuhan allometric


dimana pertumbuhan antara panjang dan berat tidak seimbang.

Pengamatan rasio kelamin ikan yang dilakukan secara primer, karena dengan
cara membedah ikan dan mengamati gonad ikan.

Ciri seksual primer ditandai dengan adanya testis pada ikan jantan dan
ovarium pada ikan betina.

Pertumbuhan bobot ikan dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan gonad


ikan, dimana semakin tinggi tingkat kematangan gonad (sampai fase bunting)
maka ikan tersebut akan memiliki bobot yang relatif lebih besar.

33

Bobot yang semakin besar dikarenakan adanya proses vitelogenesis yang


terjadi di hati.

Semakin sempuran proses vitelogenesis maka nilai hepato somatic indexs


(HSI) maka akan semakin tinggi.

Fekunditas adalah jumlah telur yang terdapat pada ovari ikan betina yang
telah matang gonad dan siap untuk dikeluarkan pada waktu memijah.

5.2 Saran
Melalui praktikum yang telah dilaksanakan, ada beberapa saran yang akan
menunjang praktikan untuk melakukan praktikum dengan lebih baik lagi, berikut
beberapa saran yang diberikan:

Pengamatan yang dilakukan praktikan harus lebih cermat lagi agar


meminimalisir kesalahan.

Pembedahan ikan harus baik, agar organ-organ dalam pada ikan tidak
mengalami kerusakan sehingga lebih mudah untuk diidentifikasi.

Pengamatan gonad ikan harus lebih cermat menentukan rasio kelamin, dan
tingkat kematangan gonad ikan dalam di fase apa.

34

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, I. dan Liviawati, E. (1998) Beberapa Metode Budidaya Ikan. Yogyakarta
: Kanisesis (Anggota IKAPI).
Arief, F. A., 2009. Aspek Biologi Pertumbuhan, Reproduksi, Dan Kebiasaan
Makan Ikan Selar Kuning. Diakses pada http://scribd.com [5 Maret 2015]
Effendie, I.M., 1979. Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan IPB, Bogor.
Effendi. 1997. Metode Biologi Perikanan, Bagian Perikanan, Bagian I. Yayasan
Dwi Sri Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Effendi, M,I. 2002. Biologi perikanan. Edisi revisi, Yayasan Pustaka Nusantara
163 hal
Effendi, I. 2004. Biologi Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Fujaya, Y., 1999. Fisiologi ikan. Rineka Cipta; Jakarta.
Herawati, Titin. 2014. Modul Praktikum Biologi Perikanan. Universitas
Padjajaran. Bandung
Kottelat, M., Whitten, A. J., et al. (1993). "Freshwater fishes of Western Indonesia
and Sulawesi" Hong Kong: Periplus.
Kusrini, E et al .2007.Peranan Faktor Lingkungan dalam Pemuliaan
Ikan.Bogor,Pusat Riset Perikanan Budidaya vol 2:1.
Suminto, et al. 2010. Prosentase Perbedaan Pengaruh Tingkat Kematangan Gonad
Terhadap Fertilitas dan Daya Tetas Telur Dalam Pembenahan Buatan
Abalone (Haliotis asinina).
Susanto, R. D., A. L. Gordon, J. Sprintall and B. Herunadi, 2000: Intraseasonal
variability and tides in Makassar Strait. Geophysical Research
Letters, 27(10): 1499-1502.
Wahyuningsih, H dan Barus. 2006. Buku Ajar Ikhtiologi. Universitas Sumatera
Utara : Meda

35

LAMPIRAN

Gambar 1. Ikan komet


(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 3. Panjang gonad


(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 5. Hati ikan saat di timbang


(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 2. Menimbang Ikan komet


(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 4. Menimbang gonad


(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 6. Ikan komet


(Sumber:Dokumen Pribadi)

36

Gambar 7. Kelamin betina


(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 8. Sistem pencernaan


(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 9. Hati ikan komet


Gambar 10. Hati dan gonad ikan
(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 11. Gonad ditambahkan


Asetokarmin
(Sumber:Dokumen Pribadi)

(Sumber:Dokumen Pribadi)

Gambar 12. Telur ikan


Perkembangan satu
(Sumber:Dokumen Pribadi)

37