Anda di halaman 1dari 3

HUBUNGAN TINGKAT PARITAS DAN KEJADIAN LETAK SUNGSANG

PADA IBU BERSALIN DI RSUD


dr. R. KOESMA TUBAN TAHUN 2008
Nurul Kartika Sari
STIKES NU Tuban
PRODI S1 Keperawatan

ABSTRAK
Penurunan AKI yang lambat merupakan fenomena dibeberapa negara berkembang. Penyebab AKI berkaitan dengan komplikasi
kehamilan dan persalinan adalah kejadian letak sungsang pada ibu dengan paritas tinggi (multigravida) yang mempunyai kemungkinan 10 kali lebih
besar daripada primigravida. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat paritas dan kejadian letak sungsang pada
ibu bersalin di RSUD dr. R. Koesma Tuban Tahun 2008.
Desain penelitian ini bersifat analitik, dengan teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Pada penelitian ini
populasinya adalah semua ibu bersalin di RSUD dr. R. Koesma Tuban selama tahun 2008. Dan sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu
bersalin dengan letak sungsang di RSUD dr. R. Koesma Tuban selama tahun 2008. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan data sekunder,
yaitu pengambilan data dari rekam medik. Analisis data menggunakan uji chi square dengan perhitungan manual.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa

2 hitung (4,21) lebih kecil 2 tabel (9,488) dengan =0,05, df = 4, maka didapatkan H1

ditolak artinya tidak terdapat hubungan tingkat paritas dan kejadian letak sungsang di RSUD dr. R. Koesma Tuban selama tahun 2008.
Dari hasil penelitian ini disarankan agar tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin, namun sudah dimulai sejak ibu
hamil dengan melakukan antenatal care yang baik.

Kata kunci : Paritas, Letak Sungsang

PENDAHULUAN
Pembangunan nasional ditujukan untuk membawa
umat manusia ke arah tingkat kehidupan yang lebih
baik. Dewasa ini bangsa-bangsa di dunia berusaha
mencapai tujuan tersebut sebagai negara yang
tergolong sedang berkembang. Indonesia juga terlibat
secara aktif dalam arus kesehatan. Memasuki abad ke
dua puluh satu, 189 negara menyerukan Millennium
Declaration
dan
menyepakati
Millennium
Development Goals. Salah satu Tujuan Pembangunan
Millennium (MDG's) 2015 adalah perbaikan kesehatan
maternal. Millennium Declaration menempatkan
kematian maternal sebagai prioritas utama yang harus
ditanggulangi melalui upaya sistematik dan tindakan
yang nyata untuk meminimalisasi risiko kematian
(Adriaansz, 2005).
Berdasarkan hasil Sensus tahun 2000, Angka
Kematian Ibu (AKI) di Jawa Timur pada tahun 2003
kasus 446, tahun 2004 menurun menjadi 393, tahun
2005 sebesar 413, dan tahun 2006 2007 menurun lagi
masing masing sebesar 364 dan 349 per 100.000
kelahiran hidup. Penurunan AKI yang lambat
merupakan fenomena dibanyak negara berkembang.
Penyebab AKI antara lain berkaitan dengan komplikasi
kehamilan dan persalinannya (Arifin, 2003).
Faktor yang berperan pada komplikasi persalinan
yang menyebabkan kematian ibu salah satunya adalah
kelainan letak (sungsang). Letak sungsang terjadi
dalam 3-4% dari persalinan yang ada di Indonesia.
Mortalitas perinatal 13 kali lebih tinggi dari pada
kematian perinatal pada presentasi kepala. Sedangkan
morbiditas perinatal 5-7 kali lebih tinggi dari pada
presentasi kepala (Wahid, 2008).
Persalinan dengan letak sungsang merupakan
persalinan yang memiliki risiko. Hal ini dikaitkan

dengan abnormalitas janin dan ibu. Frekuensi dari letak


sungsang ditemukan kira-kira 4,4 % di Rumah Sakit Dr.
Pirngadi Medan dan 4,6 % di Rumah Sakit Hasan
Sadikin Bandung. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan letak sungsang, salah satunya adalah
paritas ibu. Angka kejadian letak sungsang jika
dihubungkan dengan paritas ibu maka kejadian
terbanyak adalah pada ibu dengan multigravida
dibanding pada primigravida (Ballas, 2007). Wanita
dengan paritas tinggi mempunyai kemungkinan 10 kali
lebih besar mengalami persalinan dengan letak
sungsang (Wahid, 2008).
Di RSUD dr. R. Koesma Tuban, selama tahun
2006 didapatkan 91 kasus letak sungsang dari 942
persalinan, dan selama tahun 2007 ditemukan 98 kasus
letak sungsang dari 987 persalinan. Dari hasil survei
awal yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa angka
kejadian letak sungsang semakin meningkat.
Faktor predisposisi dari letak sungsang adalah
prematuritas, abnormalitas uterus, abnormalitas janin,
overdistensi
uterus
(kehamilan
ganda,
polihidramnion), multipara dan obstruksi pelvis.
Abnormalitas uterus sebagai penyebab sungsang
pada kasus ini mungkin dapat kita singkirkan
mengingat riwayat kelahiran sebelumnya tidak
pernah sungsang. Abnormalitas janin, overdistensi
uterus serta obstruksi pelvis juga tidak ditemukan.
Keadaan yang mungkin memberikan kontribusi
adalah karena multipara (Anonim, 2007).
Letak sungsang tentunya dapat mempengaruhi
proses persalinan. Jika yang terjadi adalah presentasi
bokong murni, maka persalinan normal masih relatif
mudah pada multipara. Sedangkan jika yang terjadi
adalah presentasi kaki, pada saat ketuban pecah
spontan mungkin saja tali pusat ikut keluar (prolapsus
tali pusat). Jika tidak segera dilakukan persalinan, janin

mungkin tidak terselamatkan. Untuk mencegahnya,


persalinan dapat dilakukan dengan cara caesaria.
Walaupun demikian, terapi terbaik adalah pencegahan.
Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga
adalah penting. Tindakan pencegahan tidak saja
dilakukan sewaktu bersalin, namun sudah dimulai
sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal care yang
baik (Patu, 2008).
Berdasarkan data dan faktor faktor di atas maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
Hubungan Tingkat Paritas dan Kejadian Letak
Sungsang pada Ibu Bersalin di RSUD dr. R. Koesma
Tuban Tahun 2008.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan metode
penelitian secara Analitik yaitu analisa ditujukan untuk
mengetahui hipotesa hipotesa dan mengadakan
interpretasi yang lebih dalam tentang hubungan
hubungan (Arikunto,2002), dengan menggunakan
pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk
mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor
efek dengan cara pendekatan observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point
time approach) artinya, tiap subjek penelitian hanya
diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan
terhadap status karakteristik atau variabel subjek pada
saat pemeriksaan hal ini berarti bahwa semua subjek
penelitian diamati pada waktu yang sama
(Notoatmodjo, 2002).
Penelitian ini menggunakan desain korelasi
merupakan penelitian yang dimaksud untuk
mengetahui hubungan tingkat paritas dengan kejadian
letak sungsang pada ibu bersalin.
Pada penelitian ini populasinya adalah semua ibu
bersalin di RSUD dr. R. Koesma Tuban selama tahun
2008. Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah
purposive sampling, dimana pengambilan elemenelemen yang dimaksud dalam sampel didasarkan atas
ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang
mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri
populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Sugiyono,
2006).
Instrumen penelitian yang digunakan adalah
lembar pengumpulan data. Setelah data terkumpul,
peneliti menganalisis data dengan menggunakan uji
Chi Square, dimana untuk mencari pengaruh antara
variabel independen dan variabel dependen dengan
nilai kemaknaan = 0,05, artinya bila hasil uji
statistik > 0,05 berarti Ho diterima dan tidak ada
pengaruh antara kedua variabel yang diukur.
Perhitungan menggunakan rumus :
b

2 =
i =1 j =1

(n

eij )

HASIL DAN ANALISA DATA


Data Paritas
Tabel 1 Distribusi tingkat paritas responden di RSUD
dr. R. Koesma Tuban tahun 2008.
No.
1.
2.
3.

Paritas responden
1
23
>3
Total

n
11
53
38
102

%
10,8
52
37,3
100

Berdasarkan tabel 1 dapat memberikan gambaran


bahwa mayoritas responden adalah paritas 2 3
sebanyak 53 responden (52%). Jumlah paritas
responden minoritas adalah paritas 1 sebanyak 11
responden (10,8%).
Kejadian Letak Sungsang
Tabel 2 Distribusi kejadian letak sungsang di RSUD
dr. R. Koesma Tuban tahun 2008.
No
.
1.
2.
3.

Kejadian Letak
Sungsang
Letak bokong murni
Letak kaki
Letak bokong kaki
Total

68
6
28
102

66,6
5,9
27,5
100

berdasarkan tabel 2 dijelaskan bahwa dari 102


responden sebanyak 68 responden (66,6%) sebagai
kelompok terpapar letak sungsang dengan letak bokong
murni.
Hubungan tingkat paritas dan kejadian letak sungsang
Tabel 3 Tabel perhitungan chi square hubungan tingkat
paritas dan kejadian letak sungsang di RSUD dr.
R. Koesma Tuban tahun 2008.
S
el

n ij

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

9
37
22
0
4
2
2
12
14

e ij
6,7
35,3
25,3
0,65
3,1
2,2
3
14,5
10,4

2
nij e (nij eij ) (nij eij )

2,3
1,7
-3,3
-0,65
0,9
-0,2
-1
-2,5
3,6

5,29
2,89
10,89
0,42
0,81
0,04
1
6,25
12,96

eij

0,79
0,08
0,43
0,65
0,26
0,02
0,3
0,43
1,25

2 hit = 4,21

ij

eij

Keterangan :
b : banyak baris
k : banyak kolom
n ij : frekuensi observasi baris ke-i, kolom ke-j

e ij : frekuensi ekspektasi baris ke-i, kolom ke-j

Berdasarkan dari hasil penelitian dan perhitungan


dengan menggunakan chi square dapat diketahui
bahwa hitung (4,21) < tabel (9,488) dengan
=0,05, df = 4, maka didapatkan H1 ditolak artinya tidak
terdapat hubungan antara tingkat paritas dan kejadian
letak sungsang di RSUD dr. R. Koesma Tuban selama
tahun 2008.
2

PEMBAHASAN
Berdasarkan pada hasil penelitian di dapatkan
bahwa dari 102 responden dengan kejadian letak
sungsang di RSUD dr. R. Koesma Tuban, didapatkan
53 responden (52%) dengan paritas 2 3.
Paritas adalah jumlah ibu dalam melahirkan.
Paritas 1 merupakan paritas paling aman ditinjau dari
sudut kelainan letak yang dapat mengakibatkan
kematian maternal. Paritas 2 3 dan paritas tinggi
(lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian letak
sungsang lebih tinggi. Pada paritas yang tinggi, ibu
telah melahirkan banyak anak sehingga rahimnya
sudah sangat elastis dan membuat janin berpeluang
besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan
seterusnya (Jenis, 2006)
Dari identifikasi tersebut, terlihat bahwa sebagian
besar kasus letak sungsang terjadi pada ibu dengan
paritas 2 3 (52%), diikuti oleh ibu dengan paritas >3
(37,3%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Ballas
(2007) bahwa angka kejadian letak sungsang jika
dihubungkan dengan paritas ibu maka kejadian
terbanyak adalah pada ibu dengan multigravida
dibanding pada primigravida. Pernyataan tersebut
tidak berbeda jauh dengan Wahid (2008) yang
menyatakan bahwa wanita dengan paritas tinggi
mempunyai kemungkinan 10 kali lebih besar
mengalami persalinan dengan letak sungsang.
5.2.2
Identifikasi kejadian letak sungsang di RSUD
dr. R. Koesma Tuban
Berdasarkan dari tabel perhitungan chi square
menunjukkan bahwa kejadian letak sungsang di RSUD
dr. R. Koesma Tuban tahun 2008 sebanyak 102
responden dari jumlah populasi sebesar 928 persalinan.
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin
terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan
bokong berada di bagian bawah kavum uteri
(Wiknjosastro, 2002).
Letak sungsang dalam persalinan terdapat 3 %
dari kehamilan. Letak sungsang dibagi menjadi letak
bokong murni (Frank breech) : bokong didepan,
tungkai kaki lurus atas letak bokong kaki (complete
breech) : samping bokong teraba kaki baik kedua kaki
maupun satu letak lutut : presentasi lutut
letak kaki : presentasi kaki (Miriam, 2009).
Letak sungsang merupakan komplikasi persalinan
yang relatif umum dan dapat secara serius
membahayakan keadaan ibu. Letak sungsang juga
cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan
mortalitas bayi baru lahir. Dari data yang diperoleh
dapat diketahui bahwa kejadian letak sungsang di
RSUD dr. R. Koesma Tuban tahun 2008 yaitu 102
responden dari jumlah populasi sebesar 928 persalinan.
Berdasarkan dari hasil penelitian dan perhitungan
dengan menggunakan chi square dapat diketahui
bahwa hitung (4,21) < tabel (9,488) dengan
=0,05, df = 4, maka didapatkan H1 ditolak artinya tidak
terdapat hubungan antara tingkat paritas dan kejadian
letak sungsang di RSUD dr. R. Koesma Tuban.
Hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor faktor lain
yang kemungkinan mempunyai distribusi yang lebih
besar daripada paritas. Terdapat beberapa faktor yang
2

berperan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya


adalah prematuritas, abnormalitas uterus (fibroid),
abnormalitas janin (hidrosephalus, anensephalus),
overdistensi uterus (kehamilan ganda, polihidramnion),
dan obstruksi pelvis (plasenta previa, panggul sempit).
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan pernyataan
bahwa keadaan yang mungkin memberikan
kontribusi dari letak sungsang adalah karena
multipara (Anonim, 2007). Pendapat yang berbeda
juga diungkapkan oleh Miriam (2009), yang
menyatakan bahwa frekuensi letak sungsang lebih
banyak pada multigravida daripada primigravida.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh
peneliti maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak
terdapat hubungan tingkat paritas dan kejadian letak
sungsang.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim (2007). Presentasi Bokong. Selasa, 17 Februari 2009.
Arifin, Syamsul (2003). Penanganan Kasus Kedaruratan Obstetri.
Selasa, 17 Februari 2009. http://id.wikipedia.org.
Arikunto, Suharsimi (2002). Posedur Penelitian suatu Pendekatan
Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.
Ballas S, et al (2007). Deflexion of the fetal head in breech
Selasa,
17
Februari
2009.
presentation.
http://www.greenjournal.org.
Caterini, et al (2007). Fetal risk in hyperextension of the fetal
head in breech presentation. Selasa, 17 Februari 2009.
http://www.greenjournal.org.
Jenis, A (2006). Pregnancy, Breech delivery. Selasa, 17 Februari
2009. http://www.emedicine.com.
Notoatmodjo, Soekidjo (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan.
Rineka Cipta. Jakarta.
Nursalam (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian
Ilmu Keperawatan. Salemba Medika. Surabaya.
Patu, Ilham (2008). Letak Sungsang. Selasa, 17 Februari 2009.
http://cpddokter.com
Prawirohardjo, Sarwono (2006). Ilmu Kandungan. YBP-SP. Jakarta.
Saifuddin, A. B (2002). Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Sugiyono (2006). Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung.
Wahid, Dian Ibnu (2008). Obstetric dan Ginekology. Selasa, 17
Februari 2009. http://diyoyen.com.
Westgren, et al (2007). Hyperextension of the fetal head in breech
presentation.
Selasa,
17
Februari
2009.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov.
Wiknjosastro, Hanifa (2002). Ilmu Kebidanan. YBP-SP. Jakarta.