Anda di halaman 1dari 17

Pemeriksaan Diagnostik dan

Pemeriksaan Fisik pada Klien


dengan Stenosis Mitral
Tiara Rahmah Dini Hanjari

Pemeriksaan Fisik
Menurut (Gleadle, 2007), Yang kita harus perhatikan dalam
pemeriksaan fisik klien stenosis mitral diantaranya :
Cari adanya fasies mitral
Periksa fibrilasi atrium
Apakah terdapat ketukan (tapping) apeks (bunyi jantung pertama
teraba)?
Apakah bunyi jantung pertama keras?
Apakah bunyi jantung kedua keras?
Adakah opening snap?
Auskultasi untuk mencari murmur mid-diastolik, rumble bernada
rendah (paling jelas terdengar di apeks dan dalam posisi lateral kiri)
Apakah murmur lebih mudah terdengar saat beraktivitas
Pasien juga mungkin mengalami heave parasternal akibat hipertensi
pulmonal dan hipertrofi ventrikel kanan

Temuan yang biasanya didapatkan pada stenosis mitral adalah

opening snap dan bising diastol kasar (diastolic rumble) pada daerah
mitral. Tetapi pada pemeriksaan rutin sulit menemukan bahkan tidak
ditemukan rumble diastol dengan nada rendah, apalagi bila tidak
dilakukan dengan hati hati. Pada kasus ringan harus dicurigai
stenosis mitral jika teraba dan terdengar S1 yang keras. Peningkatan
S1 disebabkan pengisian yang lama sehingga membuat tekanan
ventrikel kiri meningkat dan menutup katup sebelum katup itu kembali
ke posisinya. (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati, 2009)
Katup mitral ditutup dengan tekanan yang keras secara mendadak.
Pada keadaaan dimana katup mengalami kalsifikasi dan kaku maka
penutupan katup mitral tidak menimbulkan bunyi S1 yang keras.
Demikian pula bila terdengar bunyi P1 yang mengeras sebagai
petunjuk adanya hipertensi pulmonal, harus dicurigai adanya bising
diastol pada mitral. (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati,
2009)

Beberapa teknik khusus harus dilakukan untuk mendengar

bising diastol antara lain memberikan posisi lateral, gerakan


gerakan ringan, menahan napas dan menggunakan bell
dengan meletakkan pada dinding dada tanpa tekanan keras.
(Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati, 2009)
Derajat dari bising diastol tidak menggambarkan beratnya
stenosis tetapi waktu atau lamanya bising dapat
menggambarkan derajat stenosis. Pada stenosis ringan bising
halus dan pendek, sedangkan pada yang berat lebih tinggi.
Waktu juga dapat menggambarkan berat ringannya stenosis,
bila pendek stenosis lebih berat. Bising diastol pada stenosis
mitral dapat menjadi halus oleh karena obesitas, PPOM,
edema paru, atau status curah jantung yang rendah. (Sudoyo,
Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati, 2009)

Pemeriksaan Diagnostik
Foto Toraks

Menurut (Gray, Dawkins, Simpson, dan

Morgan, 2005) Pada stenosis mitral murni,


ukuran jantung pada radiografi toraks normal
kecuali hipertensi paru yang lama
menyebabkan dilatasi ruang sisi kanan.
Atrium kiri menyebar, menyebabkan dilatasi
pada bronkus utama kiri. Bila tekanan atrium
kiri meningkat, terdapat distensi vena
pulmonalis diikuti oleh adanya darah pada

Secara lebih spesifik lagi dijelaskan dalam (Sudoyo,

Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati, 2009) bahwa terjadi


pula aorta yang relatif kecil pada klien dewasa dan fase lanjut
serta pembesaran ventrikel kanan. Kadang kadang terlihat
pengkapuran di daerah katup mitral atau perikardium. Pada
paru paru juga bisa nampak tanda tanda dari bendungan
vena. (Mansjoer dkk, 2009) Hal tersebut diatas sangat
dipengaruhi oleh hubungan antara besarnya ukuran pembuluh
darah dan resistensi vaskuler pulmonal. Edema interstisial
berupa garis Kerley terdapat pada 30 % pasien dengan
tekanan atrium kiri <20 mmHg, pada 70 % bila tekanan
atrium kiri >20 mmHg. Temuan lain dapat berupa garis kerley
A serta kalsifikasi pada daerah katup mitral. (Sudoyo,
Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati, 2009)

Ekokarfiografi Doppler

Pemeriksaan ekokardiografi M mode dan 2D- Doppler sangat penting

dalam penegakkan diagnosis. (Mansjoer dkk, 2009) ekokardiografi dapat


dengan baik menentukan apakah prosedur misalnya valvotomi atau
perbaikan katup cocok dilakukan. (Gray, Dawkins, Simpson, dan Morgan,
2005) Sebelum era ekokardiografi, kateterisasi jantung merupakan suatu
keharusan dalam diagnosis. (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan
Setiati, 2009)
Dengan ekokardiografik dapat dilakukan evaluasi struktur dari katup,
pliabilitas dari daun katup, ukuran dari area katup dengan planimetri
(mitral valve area), struktur dari aparatus subvalvular, juga dapar
ditentukan fungsi ventrikel. (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan
Setiati, 2009) Baik ekokardiografi M- mode maupun ekokardiografi
potongan melintang menunjukkan penebalan katup dan penurunan laju
penutupan mid diastolik pada daun katup anterior. Daun katup posterior
juga mengalami tethering dan bergerak ke anterior selama diastol. Waktu
paruh tekanan merupakan indeks derajat keparahan stenosis mitral yang
lebih nyata. (Gray, Dawkins, Simpson, dan Morgan, 2005)

Sedangkan dengan doppler dapat ditentukan gradien dari mitral,

serta ukuran dari area mitral dengan cara mengukur pressure half
time terutama bila struktur katup sedemikian jelek karena
kalsifikasi, sehingga pengukuran dengan planimetri tidak
dimungkinkan. Selain dari pada itu dapat diketahui juga adanya
regurgitasi mitral yang sering menyertai stenosis mitral. (Sudoyo,
Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati, 2009)
Derajat berat ringannya stenosis mitral berdasarkan eko doppler
ditentukan antara lain oleh gradien transmitral, area katup mitral,
serta besarnya tekanan pulmonal. Selain itu dapat juga ditentukan
perubahan hemodinamik pada latihan atau pemberian beban
dengan dobutamin, sehingga dapat ditentukan derajat stenosis
pada kelompok pasien yang tidak menunjukkan beratnya stenosis
pada saat istirahat. (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan
Setiati, 2009)

Ekokardiografi Transesofageal
Pemeriksaan ekokardiografi dengan menggunakan

tranduser endoskop, sehingga jendela ekokardiografi


akan lebih luas, terutama untuk struktur katup, atrium
kiri atau apendiks atrium. Dari data kami dengan
ekokardiografi transesofagus lebih sensitif dalam deteksi
trombus pada atrium kiri atau terutama sekali apendiks
atrium kiri. (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, dan
Setiati, 2009)
Selama ini eko transesofageal bukan merupakan
prosedur rutin pada stenosis mitral, namun ada prosedur
valvulotomi balon atau pertimbangan antikoagulan
sebaiknya dilakukan. (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi,
Simadibrata, dan Setiati, 2009)

Kateterisasi
Kateterisasi merupakan standar baku untuk diagnosis

dan menentukan berat ringan stenosis mitral. Walaupun


demikian pada keadaan tertentu masih dikerjakan
setelah suatu prosedur eko yang lengkap. Saat ini
kateterisasi dipergunakan secara primer untuk suatu
prosedur pengobatan intervensi non bedah yaitu
valvulotomi dengan balon. (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi,
Simadibrata, dan Setiati, 2009) Penilaian invasif dengan
kateterisasi jantung hanya untuk pasien tertentu yang
nantinya berfungsi untuk menggambarkan anatomi
koroner, dan tidak lagi merupakan keharusan sebelum
pembedahan katup mitral. (Gray, Dawkins, Simpson,
dan Morgan, 2005)

EKG
Pada kasus ringan, EKG mungkin hanya akan memperlihatkan

gambaran P mitral berupa takik (notching) gelombang P dengan


gambaran QRS yang masih normal. Pada tahap lebih lanjut, akan
terlihat perubahan aksis frontal yang bergeser ke kanan dan kemudian
akan terlihat gambaran rs atau RS pada hantaran prekordial kanan.
Bila terjadi perputaran jantung karena dilatasi/hipertrofi ventrikel
kanan, gambaran EKG prekordial kanan dapat menyerupai gambaran
kompleks intrakaviter kanan atau infark dinding anterior (qR atau qr di
V1). Pada keadaan ini, biasanya sudah terjadi regurgitasi trikuspid
yang berat karena hipertensi pulmonal yang lanjut. EKG normal jika
terjadi keseimbangan listrik karena stenosis aorta yang menyertainya.
Pada stenosis mitral reumatik, sering dijumpai adanya fibrilasi/flutter
atrium. (Mansjoer, 2009) Jika klien memiliki irama sinus, gelombang P
bifasik yang lebar didapatkan pada 90% pasien stenosis mitral.
Morfologi gelombang P berikatan dengan dilatasi atrium kiri bukannya
hipertropi. (Gray, Dawkins, Simpson, dan Morgan, 2005)

Laboratorium
Tidak ada yang khas, biasanya dipergunakan

hanya untuk penentuan adanya reaktivasi


reuma. (Mansjoer, 2009)