Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PEMELIHARAAN INDUK IKAN GURAMI


(Osphronemus gouramy)DENGAN PEMBERIAN PAKAN
TAMBAHAN BERBEDA TERHADAP JUMLAH TELUR
DI UNIT PELAKSANA TEKNIS BUDIDAYA AIR TAWAR
(UPTBAT) KUTASARI,
KABUPATEN PURBALINGGA – JAWA TENGAH

dilaksnakan dan disusun sebagai salah satu Tugas Akhir


dalam
memperoleh gelar Sarjana Perikanan, Universitas Jendral
Soedirman

Oleh :
Pradikta Bayu Aji
J1A005043

JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2008
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTEK

PEMELIHARAAN INDUK IKAN GURAMI


(Osphronemus gouramy)DENGAN PEMBERIAN PAKAN
TAMBAHAN BERBEDA TERHADAP JUMLAH TELUR
DI UNIT PELAKSANA TEKNIS BUDIDAYA AIR TAWAR
(UPTBAT) KUTASARI,
KABUPATEN PURBALINGGA – JAWA TENGAH

Oleh :
Pradikta Bayu Aji
J1A005043

Disetujui :

...............................

Mengetahui :
Ketua Jurusan Perikanan dan Kelautan Pembimbing
Fakultas Sains dan Teknik
Universitas Jendral Soedirman

Dr. Ir. Isdy Sulistyo, DEA Dr. Ir. P. Hary Tjahja,


MS
NIP : 131569041 NIP : 131484887
DAFTAR ISI
halaman

Halaman Judul ................................................................. i


Lembar Pengesahan ........................................................ ii
Daftar Isi ......................................................................... iii
Daftar Tabel .................................................................... v
Daftar Gambar ................................................................. vi
Daftar Lampiran .............................................................. vii
Kata Pengantar ............................................................... viii
Ringkasan ....................................................................... ix
Summary ......................................................................... x

Bab I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ........................................ 3
1.3. Tujuan ............................................................ 4
1.4. Manfaat .......................................................... 4

Bab II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Biologi Ikan Gurami ......................................... 5
2.1.1. Klasiikasi Ikan ......................................... 5
2.1.2. Morfologi Ikan ......................................... 5
2.2. Kebiasaan Hidup ............................................. 7
2.3. Kolam Pemeliharaan Induk Ikan Gurami ........... 7
2.4. Induk Ikan Gurami ........................................... 8
2.5. Jenis Ikan Gurami ............................................ 8
2.6. Kualitas Air ..................................................... 9
2.7. Pakan Tambahan ............................................ 10
2.7.1. Pellet ..................................................... 10
2.7.2. Keong Emas ............................................ 11
2.7.3. Jangkrik .................................................. 11
2.8. Hama dan Penyakit ......................................... 12
2.8.1. Hama ...................................................... 12
2.8.2. Penyakit ................................................. 13

Bab III. MATERI DAN METODE


3.1. Materi ............................................................ 14
3.1.1. Objek Kerja Praktek ................................ 14
3.1.2. Alat Kerja Praktek ................................... 15
3.2. Metode ........................................................... 15
3.3. Prosedur Kerja Praktek ................................... 16
3.3.1. Persiapan Tempat ................................... 16
3.3.2. Pengadaan Hewan Uji .............................. 16
3.3.3. Pakan Uji ................................................ 16
3.3.4. Pemberian Pakan Uji ............................... 17
3.4. Waktu dan Tempat .......................................... 17
3.5. Pengumpulan Data .......................................... 18
3.5.1. Jumlah Telur Yang Dihasilkan ................... 18
3.5.2. Presentase Penetasan Telur ..................... 18
3.6. Analisis Data .................................................. 18

Bab IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. HASIL ............................................................. 19
4.1.1. Jumlah Telur Yang Dihasilkan .................... 19
4.1.2. Persentase Penetasan Telur ...................... 20
4.1.3. Kualitas Air Media .................................... 22
4.2. PEMBAHASAN ................................................. 23
4.2.1. Pemeliharaan Induk Ikan Gurami ............... 23
4.2.2. Pengelolaan Kualitas Air ........................... 29
4.2.3. Pengelolaan Air Limbah Hasil Produksi ...... 29
4.2.4. Kendala Yang Dihadapi Dalam Proses
Pemeliharaan .................................................... 31

Bab V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan ..................................................... 32
5.2. Saran ............................................................. 32

DAFTAR PUSTAKA ............................................................ 33


LAMPIRAN ....................................................................... 35
UCAPAN TERIMA KASIH .................................................... 48
RIWAYAT HIDUP PENULIS ................................................. 51

DAFTAR TABEL
halaman

Tabel 1.
Kandungan gizi pakan buatan (Pellet) per 100 g . . . 11
Tabel 2.
Kandungan gizi keong emas per 100 g .................. 11
Tabel 3.
Kandungan gizi serangga (Jangkrik) per 100 g ...... 12
Tabel 4.
Kombinasi Antar Perlakuan dan Jumlah Ulangan .... 15
Tabel 5.
Jumlah telur yang dihasilkan oleh induk ikan gurami
19
Tabel 6.
Persentase penetasan telur (HR) ikan gurami ....... 20
Tabel 7.
Kualitas air ......................................................... 22
Tabel 8.
Ciri – ciri induk yang siap memijah ........................ 25
Tabel 9.
Jumlah Telur Yang Dihasilkan ............................... 39
Tabel 10.
Telur menetas dan tidak menetas ......................... 39
Tabel 11.
Data hasil analisis ............................................... 41
DAFTAR GAMBAR

halaman

Gambar 1. Grafik rerata telur yang dihasilkan induk ikan


gurami 20
Gambar 2. Grafik persentase penetasan telur ikan gurami . 21
Gambar 3. Struktur Organisasi UPTBAT Kabupaten
Purbalingga ..................................................................... 38
Gambar 4. UPTBAT Kutasari ............................................. 45
Gambar 5. Kolam Pemeliharaan Induk Ikan Gurami ............ 45
Gambar 6. Pakan Tambahan berupa Pellet ........................ 46
Gambar 7. Pakan Tambahan berupa Jangkrik ..................... 46
Gambar 8. Pakan Tambahan berupa Keong Mas ................. 47
Gambar 9. Perhitungan Jumlah Telur Ikan Gurami .............. 47
DAFTAR LAMPIRAN

halaman

Lampiran 1. Keadaan Umum UPTBAT Kutasari ................... 35


Lampiran 2. Data Hasil Pemeliharaan Induk Ikan Gurami .... 39
Lampiran 3. Perhitunngan Data Yang Diperoleh ................. 41
Lampiran 4. Gambar Pelaksanaan Kerja Praktek ................ 45
KATA PENGANTAR

Perkembangan Budidaya ikan Gurami (Osphronemus gouramy)

harus diimbangi dengan ketersediaan benih ikan Gurami yang secara

kontinyu di pusat-pusat pembenihan. Produksi ikan akan berlangsung

secara berkesinambungan jika ditunjang dengan beberapa aspek

manajemen, diantaranya adalah induk ikan dan bahan pangan yang

berkualitas.

Laporan Kerja Praktek dengan judul ”Pemeliharaan Induk

Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Dengan Pemberian

Pakan Berbeda Terhadap Jumlah Telur Di Unit Pelaksana

Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Kutasari, Kabupaten

Purbalingga”. Penulis susun karena selama ini informasi tentang

pemberian pakan tambahan yang murah dan cocok terhadap

pemeliharaan induk ikan gurami untuk menghasilkan benih ikan yang

berkualitas untuk kegiatan budidaya ikan gurami.

Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat dan

memperkaya informasi terhadap mahasiswa serta masyarakat pada

umumnya yang telah membaca laporan ini.

Purwokerto, Oktober 2008


Penulis

RINGKASAN

Kerja Praktek tentang pengaruh pakan tambahan berbeda


terhadap telur yang dihasilkan oleh induk ikan gurami telah dilakukan
dengan judul ”Pemeliharaan Induk Ikan Gurami (Osphronemus
gouramy) Dengan Pemberian Pakan Berbeda Terhadap Jumlah
Telur Di Unit Pelaksana Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT)
Kutasari, Kabupaten Purbalingga” di UPTBAT Kutasari, Kabupaten
Purbalingga mulai bulan Juli sampai September 2008.
Tujuan dilakukannya kerja praktek adalah untuk mengetahui
jenis pakan tambahan yang berkualitas bagi induk ikan gurami serta
untuk mengetahui jumlah telur yang dihasilkan dan yang menetas
dari pemberian pakan tambahan yang berbeda di Unit Pelaksana
Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Kutasari.
Metode yang digunakan dalam Kerja Praktek adalah Rancangan
Acak Lengkap (RAL) 3 perlakuan dan 4 ulangan. Adapun
perlakuannya adalah pakan tambahan Pellet, pakan tambahan
Jangkrik, dan pakan tambahan Keong Mas.
Ketiga perlakuan tersebut didapatkan hasil daya tetas paling
tinggi pada perlakuan pakan tambahan Pellet dengan daya tetasnya
sebesar 94,5 %, sedangkan dengan menggunakan pakan tambahan
Jangkrik sebesar 89,5 % dan daya tetas telurnya kecil pada pakan
tambahan Keong Mas sebesar 83,5 %.

Kata Kunci : Telur Ikan Gurami (Osphronemus gouramy),


Pakan Tambahan, Hatching Rate.
SUMMARY

The technical work about the influences of different extra


amount woof for eggs that is produced by gurami adult has been
done by entitle “Pemeliharaan Induk Ikan Gurami (Osphronemus
gouramy) Dengan Pemberian Pakan Berbeda Terhadap Jumlah Telur
Di Unit Pelaksana Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Kutasari,
Kabupaten Prbalingga”, which held in Kutasari, Purbalingga regency
on July until September 2008.
The purpose of technical work are to know the kind of extra
amount woof that has certain quality for gurami adult and to know
the amount of eggs that is produced dan the eggs which hatch from
the different extra amount woof giving in Pelaksana Teknis Budidaya
Air Tawar (UPTBAT) Kutasari.
The method that used on activity of this intership are Complete
Random Design (CRD) with 3 treatment and 4 replicated. As for
treatment are with add food Pellet, add food Jangkrik, and add food
Keong Mas.
the third treatment resulted average of highest hatching rate at
add food Pellet treatment with hatching rate equal to 94,5 %, while
add food Jangkrik treatment equal to 89,5 % and smallest hatching
rate at add food Keong Mas treatment equal to 83,5 %.

Key words : Spawn Carp Fish (Osphronemus gouramy), Add


Food, Hatching Rate.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan ikan asli

perairan Indonesia yang sudah menyebar ke wilayah Asia Tenggara

dan Cina. Merupakan salah satu ikan yang mempunyai alat

penapasan labirinth dan secara taksonomi termasuk famili

Osphronemidae. Ikan gurami adalah salah satu komoditas yang

banyak dikembangkan oleh para petani, hal ini dikarenakan

permintaan pasar cukup tinggi (Anonimous, 2000).

Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang sudah

cukup dikenal dan banyak diminati di Indonesia. Hal ini karena ikan

gurami memiliki kelebihan yaitu rasa daging yang enak,

pemeliharaan mudah serta harga relatif stabil. Ikan ini sudah lama

dikenal orang dan telah banyak dibudidayakan. Namun usaha-usaha

yang dilakukan untuk menunjang ke arah budi daya yang intensif

belum banyak dilaksanakan (Jangkaru Z, 1975).


Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan dari suatu usaha

budidaya ikan sangat ditentukan oleh tersedianya benih yang tepat

jumlah, tepat waktu dan mutunya. Dan untuk memperoleh benih-

benih ikan gurami yang berkualitas diperlukan induk yang

berkualitas. Telur merupakan salah satu yang menjadi kendala dalam

menghasilkan benih-benih ikan gurami yang berkualitas. Dengan

jumlah telur yang sedikit yang dihasilkan oleh induk ikan gurami akan

menyebabkan berkurangnya pemilihan bibit unggul dalam

memperoleh ikan gurami yang berkualitas (Rusdi T, 1988).

Telur ikan gurami dalam jumlah dan daya tetas yang besar,

maka kita dapat dengan mudah menyeleksi benih-benih ikan gurami

yang berkualitas. Dimana benih-benih tersebut nantinya akan

dijadikan sebagai induk unggulan untuk memperoleh benih-benih

ikan gurami yang lebih berkualitas dan begitu seterusnya.

Induk ikan yang menghasilkan jumlah telur yang sedikit dan

kurang berkualitas dapat diakibatkan adanya pemberian pakan yang

masih biasa. Pada saat ini pakan induk ikan gurami masih berupa

daun sente dan untuk pakan tambahannya juga masih berupa pellet.

Semakin berkembangnya zaman maka semakin berkembang pula

ilmu pengetahuan untuk mendapatkan pakan tambahan (alternatif)

yang terbaik bagi ikan gurami khususnya bagi individu.

Pada kerja praktek ini menggunakan pakan tambahan berupa

Pellet, Keong Mas, dan Jangkrik. Pakan tambahan Pellet digunakan

sebagai “kontrol” yang akan dibandingkan hasil telur yang dihasilkan


dan telur yang menetas dengan pakan tambahan Keong Mas serta

pakan tambahan Jangrik. Pakan tambahan Keong Mas dan Jangkrik

digunakan karena pakan tambahan tersebut mudah didapat

dilingkungan sekitar (seperti sawah, kolam, dll) serta mempunyai

harga yang relative lebih murah apabila membeli ditoko. Pakan

tambahan Keong Mas dan Jangkrik juga mempunyai kandungan

protein yang cukup besar.

Adanya pakan tambahan bagi induk ikan gurami diharapkan

kualitas telur dari induk ikan gurami akan semakin meningkat. Hal ini

dapat dilihat dari banyaknya jumlah telur yang dihasilkan dan jumlah

telur yang menetas dari induk ikan gurami.

Mengingat pertumbuhan gurami yang lambat, maka sebaiknya

menggunakan induk yang sudah berumur 4 tahun. Pada masa ini

induk gurami telah mencapai kematangan telur. Batas puncak

produksi induk betina antara 5-10 tahun. Lewat dari umur itu,

produksinya sudah mulai menurun (Sitanggang M dkk, 2000).

1.2 Perumusan Masalah

Ikan gurami mempunyai nilai ekonomis yang tinggi serta

merupakan komoditas unggulan. Hasilnya masih belum memuaskan,

hal tersebut dikarenakan ketersediaan benih yang masih belum

mencukupi serta kualitasnya yang masih kurang. Salah satu cara

untuk menghasilkan benih ikan yang baik adalah dengan

mendapatkan induk ikan yang berkualitas. Oleh karena itu diperlukan

mutu yang baik, sehingga perlu penaganan dan pengelolaan yang


baik pula agar tidak terjadi kematian atau kualitas induk yang kurang

berkualitas. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana jumlah telur yang dihasilkan dan menetas di Unit

Pelaksana Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Kutasari ?

2. Jenis pakan tambahan apa yang diberikan kepada induk ikan

gurami yang menghasilkan telur paling banyak di Unit Pelaksana

Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Kutasari ?

1.3 Tujuan

Kerja Praktek yang dilakukan di Unit Pelaksana Teknis Budidaya

Air Tawar (UPTBAT) Kutasari, bertujuan :

1. Untuk mengetahui jumlah telur yang dihasilkan dan menetas di

Unit Pelaksana Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Kutasari ?

2. Untuk mengetahui jenis pakan tambahan yang menghasilkan

telur paling banyak di Unit Pelaksana Teknis Budidaya Air Tawar

(UPTBAT) Kutasari ?

1.4 Manfaat

Manfaat dari kerja praktek yang dilakukan di Unit Pelaksana

Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Kutasari adalah memperoleh

tambahan pengetahuan dan keterampilan dalam kegiatan budidaya

ikan gurami, khususnya pemeliharaan induk ikan gurami dengan


pemberian pakan tambahan yang berbeda agar dapat menghasilkan

benih atau keturunan yang berkualitas.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi ikan Gurami

2.1.1. Klasifikasi ikan

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu

jenis ikan air tawar yang dibudidayakan di kolam dan merupakan ikan

asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta salah

satu jenis ikan yang senang tinggal diperairan yang tenang,

terbenam, dan dalam seperti kolam, rawa, telaga, danau serta waduk

(Djuhanda, 1981; Rusdi, 1988).

Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut :

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Labirintichi

Subordo : Anabantoide

Famili : Anabantidae

Genus : Osphronemus

Species : Osphronemus gouramy (Susanto, 1989)

2.1.2. Morfologi ikan

Secara morfologi, ikan ini memiliki garis lateral tunggal, lengkap

dan tidak terputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang

bawah. Sirip ekor membulat. Jari-jari lemah pertama sirip perut

merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.


Tinggi badan 2,0 s/d 2,1 kali dari panjang standar. Pada ikan muda

terdapat garis-garis tegak berwarna hitam berjumlah 8 sampai 10

buah dan pada daerah pangkal ekor terdapat titik hitam bulat (Balai

Budidaya Air Tawar Sukabumi, 2002).

Gurami juga memiliki bentuk fisik khas badannya pipih, agak

panjang dan lebar. Badan itu tertutup sisik yang kuat dengan tepi

agak kasar. Mulutnya kecil, letaknya miring tidak tepat dibawah ujung

moncong. Bibir bawah terlihat menonjol sedikit dibandingkan bibir

atas. Ujung mulut dapat disembulkan sehingga tampak monyong.

Penampilan gurame dewasa berbeda dengan yang masih muda.

Perbedaan itu dapat diamati berdasarkan ukuran tubuh, warna,

bentuk kepala dan dahi. Warna dan perilaku gurami muda jauh lebih

menarik dibandingkan gurami dewasa (Sitanggang dan Sarwono,

2001). Sedangkan pada ikan muda terdapat delapan buah garis

tegak. Bintik gelap dengan pinggiran berwarna kuning atau

keperakan terdapat pada bagian tubuh diatas sirip dubur dan pada

dasar sirip dada terdapat bintik hitam (Susanto, 2001).

Ikan gurami tergolong dalam ordo Labirynthici yang memiliki

alat pernapasan tambahan yang disebut labirin, yaitu lipatan-lipatan

epitelium pernapasan yang merupakan turunan dari lembar insang

pertama, sehingga ikan dapat mengambil oksigen langsung dari

udara. Adanya alat pernapasan tambahan ini memungkinkan ikan

gurami dapat hidip dalam perairan yang kadar oksigennya rendah

(Departemen pertanian, 1999).


2.2 Kebiasaan Hidup

Di alam, gurami mendiami perairan yang tenang dan tergenang

seperti rawa, situ, dan danau. Di sungai yang berarus deras, jarang

dijumpai ikan gurami. Kehidupannya yang menyukai perairan bebas

arus itu terbukti ketika gurami sangat mudah dipelihara di kolam-

kolam tergenang.

Walau gurami dapat dibudidayakan di dataran rendah dekat

pantai, perairan yang paling otimal untuk budidaya adalah yang

terletak pada ketinggian 50 - 40 m diatas permukaan laut seperti di

Bogor, Jawa Barat. Ikan ini masih bertoleransi sampai pada ketinggian

600 m diatas permukaan laut seperti di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Yang jadi patokan adalah suhu air dilingkungan hidupnya. Suhu ideal

untuk ikan gurami adalah 24 – 28 0C (Sitanggang dan Sarwono, 2001).

2.3. Kolam Pemeliharaan Induk Ikan Gurami

Bila dihubungkan dengan lingkungan hidupnya, ikan gurami

merupakan ikan yang senang mendiami badan perairan yang relatif

tenang. Kolam sebagai media pemeliharaan ikan gurami juga salah

satu hal yang sangat penting. Dalam pemeliharaan induk ikan

gurami, keberadaan kolam hendaknya dekat dengan sumber air yang

berupa mata air, sungai atau pompa air. Tempat yang paling ideal

adalah lembah yang dasarnya mendatar di kaki kedua lereng sungai

yang berlenggak-lenggok ditengah dataran (Tim Lentera, 2002).


Sebagai ikan yang senang mendiami perairan yang tenang,

keberadaan arus hendaknya tidak terlalu mendominasi. Namun

menurut Asmawi (1983), arus dapat digunakan dalam pemeliharaan

induk dengan syarat debit airnya tidak terlalu deras. Arus air yang

terlalu deras akan mengganggu aktivitas gurami yang memiliki badan

pipih, sehingga berenangnya yang memang sudah lambat akan

semakin lebih lambat. Gurami yang terganggu ketenangannya akan

menjadi stress, marah, dan mengamuk serta mengacak-acak dasar

kolam.

Air yang mengalir ke dalam kolam sebaiknya diendapkan

terlebih dahulu, karena dikhawatirkan air yang masuk banyak

mengandung bahan-bahan atau unsur-unsur kimia yang dapat

mengganggu metabolisme ikan serta dapat menyebabkan timbulnya

hama dan penyakit pada kolam yang pada akhirnya akan menyerang

induk ikan gurami. Selain itu, sumber air yang terlalu banyak

mengandung bahan kimia juga akan menganggu keinginan induk ikan

gurami untuk memijah.

2.4 Induk Ikan Gurami

Pada ikan gurami perbedaan kelamin jantan dengan betina bisa

dilihat dari perbedaan bentuk dahi, warna dasar sirip dada, warna

dagu dan kepekaan pangkal ekor (Susanto, 1989).

2.5 Jenis Ikan Gurami

Peternak gurami membedakan ada 6 macam varietas atau

strain gurami berdasarkan daya produksi telur, kecepatan tumbuh,


ukuran/bobot maksimal gurami dewasa. Masing-masing adalah Angsa

(soang, geese gourami), Jepun (jepang, japonica), Blausafir, Paris,

Bastar (pedaging), dan Porselan.

Selain 6 strain diatas, berdasarkan warna terdapat gurami

Hitam, Albino (putih), dan Belang. Gurami hitam paling banyak

dijumpai, sedangkan yang lain jarang. Hal tersebut disebabkan

gurami albino dan belang kurang disukai, karena pertumbuhannya

yang sangat lambat (Sitanggang dan Sarwono, 2001).

Gurami Angsa/Soang bisa mencapai panjang maksimal 65 cm

dengan total berat 6-12 kg. Sedangkan gurami Jepun hanya mampu

tumbuh hingga mencapai berat total 3,5 kg dengan panjang hanya 45

cm (Susanto, 1989). Gurami Porselin unggul dalam menghasilkan

telur, per sarang mampu menghasilkan 10.000 butir. Gurami ini oleh

para pembenih dijuluki top of the pop alias gurami pilihan. Untuk

gurami dengan kategori produksi telur kurang adalah gurami Bastar.

Per sarang hanya menghasilkan 2.000-3.000 telur, akan tetapi gurami

ini memiliki keunggulan yaitu tumbuh lebih cepat dari warietas

lainnya.

2.6. Kualitas Air

Air untuk mengairi komplek kolam harus tersedia setiap saat,

kalau perlu tersedia sepanjang tahun. Volume air jangan berlebihan,

karena dapat mengakibatkan banjir. Debit air merupakan jumlah air

yang mengalir dalam saluran dihitung dengan ukuran liter per detik.

Untuk pemeliharaan gurami secara tradisional pada kolam khusus,


debit air yang diperkenankan adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk

pemeliharaan secara polikultur (semi intensif) debit air yang paling

ideal adalah antara 6-12 liter/detik (Sitanggang dan Sarwono, 2001).

Kehidupan organisme akuatik termasuk ikan sangat

dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti : suhu, oksigen terlarut,

karbondioksida bebas, derajat keasaman (pH), dan salinitas. Oleh

karena itu, faktor-faktor tersebut harus dikendalikan dalam budidaya

ikan (Wardoyo, 1981).

2.7. Pakan Tambahan

Upaya untuk mencarikan pengganti daun-daun yang disukai

gurami sekaligus merupakan kunci untuk membongsorkan tubuh

gurami, yang dianggap cukup efektif dewasa ini ada dengan

menyediakan makanan tambahan yang mempunyai kandungan

protein yang cukup tinggi. Pada kegiatan Kerja Praktek ini ada 3 jenis

makanan tambahan, yaitu Pellet, Keong Emas, dan Serangga

(Jangkrik).

2.7.1. Pellet

Pellet merupakan pakan tambahan bagi gurami yang sudah

dikenal. Bahan pembentuk pellet tidak lain adalah campuran dari

berbagai bahan makanan seperti tepung ikan, tepung darah, tepung

daging, tepung daun, tepung dedak, dan lain sebagainya. Antara

bahan yang tinggi kandungan proteinnya dicampurkan dengan bahan

pakan yang rendah dengan perbandingan tertentu, sehingga


didapatkan kandungan protein seperti yang dikehendaki. Dan bentuk

pellet seperti butiran-butiran kapur tulis namun ukurannya lebih kecil.

Tabel 1. Kandungan gizi pakan buatan (Pellet) per 100 g


Komponen Jumlah
Protein 15 – 19 %
Lemak 5%
Abu 15%
Serat kasar 9%
Kadar air 10%
(www.ristek.go.id)

2.7.2. Keong Emas

Keong Emas (Pomacea sp.) merupakan salah satu hama

penting pada pertanaman padi sawah. Sebagai hewan yang menyukai

habitat perairan, maka kehidupan dan pergerakan (mobilitas) keong

emas sangat dipengaruhi oleh keadaan air pada habitatnya. Dengan

tersedianya keong emas dalam jumlah yang banyak pada alam

khususnya pada area persawahan, maka keong emas dapat

dimanfaatkan sebagai pakan tambahan untuk ikan selain hanya

berperan sebagai hama padi

Tabel 2. Kandungan gizi keong emas per 100 g


Komponen Jumlah
Protein 12%
Lemak 3,34%
Serat besar 2,05%
Abu 13,8%
Kalsium 1,58%
Phospor 1,48%
(www.ristek.go.id)
2.7.3. Jangkrik

Sebagai pakan tambahan gurami bisa juga memanfaatkan

potensi serangga yang suka berkeliaran dimalam hari. Pada

kenyataannya, sekalipun gurami termasuk ikan herbivora (pemakan

tumbuhan), mereka tidak menolak apabila suatu ketika (tanpa

disengaja) ada serangga yang terjatuh ke dalam kolam. Untuk dan

karena itulah maka kita bisa memanfaatkan jangkrik yang banyak

disekitar kita sebagai pakan gurami yang murah, namun tinggi

kandungan proteinnya.

Tabel 3. Kandungan gizi Jangkrik per 100 g


Komponen Jumlah
Energi 117 K
Protein 13,7 %
Lemak 5,3 %
Karbohidrat 2,9 %
Air 76,0 %
Serat 2,9 %
(www.ristek.go.id)

2.8. Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit pada budidaya ikan gurami sering

menimbulkan kegagalan serta kerugian besar. Adapun beberapa hal

yang menyebabkan timbulnya penyakit berupa kesuburan kolam

dampak dari pemupukan, makanan, kepadatan ikan yang tinggi serta

kualitas air yang buruk (Kabata, 1995).

2.8.1. Hama

Hama adalah hewan yang berukuran lebih besar dan mampu

menimbulkan gangguan pada ikan. Beberapa pemangsa utama ikan

gurami dari jenis hama yang sering ditemukan pada usaha budidaya
ikan gurami adalah ular, belut, katak, dan burung pemakan ikan.

Dilihat dari jenis pemangsa air menurut Heinz dan Kline (1973),

musuh utama ikan gurami terbagi atas ikan liar pemangsa dan

beberapa jenis ikan pemelihara. Untuk menghindarai ikan gurami dari

ikan-ikan pemangsa, pada pipa pemasukan air dipasang serumbung

dan saringan ikan agar hama tidak masuk ke dalam kolam.

2.8.2. Penyakit

Jenis penyakit yang sering mengganggu dalam budidaya ikan

gurami adalah penyakit bintik putih (White spot) yang disebabkan

jenis protozoa Ichthyopthirius multifilis yang menyerang benih dan

induk ikan gurami. Protozoa ini menjadi parasit yang sulit diberantas

karena kehadirannya sering kali diliputi oleh lendir yang sulit

ditembus oleh larutan obat (Kabata, 1985). Mereka menyerang ikan

dibawah selaput lendir ikan yang merupakan benteng pertahanan

utama bagi ikan (Kabata, 1985).

Selain itu, jenis penyakit yang juga sering menyerang induk

ikan gurami adalah Argulus indicus. Parasit ini tergolong Crustacea

tingkat rendah yang hidup sebagai ektoparasit. Menurut Radiopoetro

(1983), Argulus indicus menempel pada sirip atau sisik pada induk

ikan gurami.
BAB III

MATERI DAN METODE

3.1 Materi

3.1.1 Objek Kerja Praktek

Objek yang digunakan dalam Kerja Praktek adalah Induk ikan

gurami yang terdapat di Unit Pelaksana Teknis Budidaya Air Tawar

(UPTBAT) Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Untuk induk jantan

berumur 4 tahun dengan panjang baku 35 cm dan bobot badan 2,87

kg, induk jantan memiliki ciri-ciri yaitu dahi menonjol, dasar sirip dada

terang keputihan, dagu kuning, jika diletakan pada tempat datar ekor

akan naik, dan jika perut distriping akan mengeluarkan cairan sperma

berwarna putih. Induk jantan ini pernah memijah sebanyak 3 kali.

Induk betina berumur rata-rata 4,2 tahun dengan panjang baku

42 cm dan bobot badan 3,23 kg, induk betina memiliki ciri-ciri yaitu

dahi menonjol, dasar sirip dada terang gelap kehitaman, jika

diletakan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak, dan jika

perut distriping mengeluarkan cairan benih atau bahkan tidak

mengeluarkan cairan. Induk betina ini pernah memijah sebanyak 3

kali.

3.1.2 Alat Kerja Praktek


Alat yang digunakan dalam kerja praktek adalah kolam

pemeliharaan induk, wadah tempat telur, alat penghitung telur (hand

counter), dan sarang induk ikan gurami.

3.2. Metode

Data yang diperoleh dalam Kerja Praktek yang dilakukan

menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan menggunakan

3 perlakuan yang berbeda dan 4 kali ulangan sehingga semuanya ada

12 tempat.

Tabel 4. Kombinasi Antar Perlakuan dan Jumlah Ulangan


Perlakua Jumlah Ulangan
n I II III IV
A A.I A.II A.III A.IV
B B.I B.II B.III B.IV
C C.I C.II C.III C.IV

Keterangan :

Perlakuan A : Jenis pakan yang diberikan adalah Pellet

Perlakuan B : Jenis pakan yang diberikan adalah Keong Emas

Perlakuan C : Jenis pakan yang diberikan adalah Jangkrik

Dengan ukuran kolam yang digunakan adalah (20 x 5 x 1,5) m,

dengan jumlah ikan sebanyak 5 ekor (1 jantan dan 4 betina) untuk

semua kolam petak yang ada, dan jumlah pakan yang diberikan 20%

dari bobot induk ikan gurami serta diberikan pakan daun sente.

3.3. Prosedur Kerja Praktek


3.3.1. Persiapan Tempat

Wadah yang digunakan adalah kolam besar yang berbahan

dasar semen yang sudah dipetak menjadi kolam kecil dengan ukuran

(20 x 5 x 1,5) m sebanyak 12 buah. Untuk petak terbuat dari bahan

bambu, sarang induk ikan gurami terbuat dari bahan bambu yang

sudah dirangkai dan didalamnya diisi dengan ijuk sebagai tempat

meletakan telur.

Kolam sudah tersedia dan siap untuk digunakan dengan

ketinggian air 1 m. Air yang digunakan adalah air yang dialirkan dari

sungai yang sudah mengalami beberapa kali penyaringan.

3.3.2. Pengadaan Hewan Uji

Hewan uji yang digunakan adalah induk ikan Gurami yang telah

disediakan di Unit Pelaksana Teknis Budidaya Air Tawar (UPTBAT)

Kutasari dengan bobot tubuh 3 – 4 kg.

3.3.3. Pakan Uji

Pakan yang digunakan berupa pakan utama, yaitu daun Sente

dan 3 jenis pakan tambahan, yaitu Pellet, Keong Emas, dan Jangkrik.

Untuk pakan tambahan Pellet dan Jangkrik diperoleh dari toko pakan

untuk ikan, sedangkan pakan tambahan Keong Emas diperoleh dari

petani disekitar daerah Unit Pelaksana Teknis Budidaya Air Tawar

(UPTBAT) Kutasari.
3.3.4. Pemberian Pakan Uji

Pemberian pakan sebanyak 20% dari bobot induk ikan gurami

per hari. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu

pada pagi hari pukul 09.00 WIB dan sore hari pukul 15.00 WIB.

Untuk pakan tambahan Pellet dilakukan penebaran secara

merata pada area kolam. Pemberian pakan berupa Keong Emas

dilakukan dengan cara merebus lebih dahulu dagingnya selama 15 –

20 menit yang kemudian dipotong sesuai dengan atau lebih kecil dari

ukuran bukaan mulut dari induk ikan gurami. Dan untuk pemberian

pakan tambahan berupa Jangkrik dilakukan cara yang sama seperti

pada perlakuan pemberian pakan berupa Keong Emas akan tetapi

tidak perlu dilakukan perebusan, karena daging Jangkrik sudah lunak.

Pemberian pakan tambahan berupa Keong Emas dan Jangkrik

dilakukan penyebaran secara merata diarea kolam seperti pemberian

pakan tambahan berupa Pellet.

3.4. Waktu dan Tempat

Kerja praktek ini dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis

Budidaya Air Tawar (UPTBAT) Kutasari Kabupaten Purbalingga pada

bulan Juli sampai September 2008.

3.5. Pengumpulan Data


3.5.1. Jumlah Telur Yang Dihasilkan

Pengolahan data dilakukan dengan cara menghitung terlebih

dahulu jumlah telur yang dihasilkan oleh masing-masing induk ikan

gurami dengan pakan yang berbeda.

3.5.2. Persentase Penetasan Telur

Pengolahan data dilakukan dengan cara menghitung terlebih

dahulu persentase telur yaitu dengan cara jumlah telur menetas

dibagi dengan jumlah telur terbuahi dikalikan 100%. Perhitungan

persentase dilakukan menggunakan rumus, sebagai berikut (Susilo

dan Heriyadi, 1988):

HR =
∑telurmenet as
×100 0 0
∑telurdibua hi

Keterangan :

HR : Hatching Rate (Persentase Penetasan)

3.6. Analisis Data

Data yang diperoleh merupakan jumlah telur yang dihasilkan

dan jumlah telur yang berhasil menetas yang dianalisis menggunakan

analisis ragam (ANOVA). Apabila terjadi perbedaan yang nyata maka

dilanjutkan dengan uji BNT untuk membandingkan antar perlakuan

tersebut.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. HASIL

4.1.1. Jumlah Telur Yang Dihasilkan

Hasil pengamatan dari jumlah telur yang dihasilkan oleh

masing-masing induk ikan gurami dengan pemberian pakan

tambahan berbeda dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5. Jumlah telur yang dihasilkan oleh induk ikan gurami

Ulangan Total Rerata


Perlakua 1 2 3 4 Perlakua Perlaku
n (butir (butir (butir (butir n an
) ) ) ) (butir) (butir)
A 6700 5800 6200 5700 24400 6100
B 6000 5500 4900 5100 21500 5375
C 5400 4800 4500 5000 19700 4925
1710 1610 1560
Total
0 0 0
Rerata 5700 5367 5200

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengamatan,

menunjukan bahwa perlakuan dengan pemberian pakan tambahan

yang berbeda mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan oleh induk

ikan gurami yang lebih baik dibandingkan tanpa pemberian pakan

tambahan yang telah dilakukan di UPTBAT Kutasari. Perlakuan

dengan pemberian pakan tambahan Pellet menunjukan jumlah telur

yang tinggi sebesar 6100 dibandingkan dengan perlakuan dengan

pemberian pakan Jangkrik sebesar 5375 dan pakan Keong Mas

menunjukan jumlah yang paling sedikit sebesar 4925.


Grafik jumlah telur yang dihasilkan oleh induk ikan gurami

dengan pemberian pakan tambahan yang berbedadapat dilihat pada

gambar berikut :

8000
6100
6000 5375
4952
Reratatelur
yang 4000
dihasilkan
(butir) 2000

0
A B C
Perlakuan

Gambar 1. Grafik rerata telur yang dihasilkan induk ikan


gurami

4.1.2. Persentase Penetasan Telur

Hasil pengamatan penetasan telur (HR) ikan gurami dengan

menggunakan 3 perlakuan menggunakan pemberian pakan

tambahan yang berbeda dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6. Persentase penetasan telur (HR) ikan gurami

Ulangan Total Rerata


Perlakua Perlaku Perlaku
1 2 3 4
n an an
% % % %
% %
Pellet 96 94 96 92 378 94,5
Jangkrik 92 90 88 88 358 89,5
Keong Mas 84 82 82 86 334 83,5
Total 272 266 266 266 1070
Rerata 90,67 88,67 88,67 88,67 267,5
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengamatan,

menunjukan bahwa perlakuan dengan pemberian pakan tambahan

yang berbeda pada masing-masing induk ikan gurami mempengaruhi

daya tetas telur ikan gurami yang baik dibandingkan tanpa

pemberian pakan tambahan yang telah dilakukan di UPTBAT Kutasari.

Perlakuan dengan pemberian pakan Pellet menunjukan persentase

penetasan yang tinggi sebesar 94,5%, pemberian pakan Jangkrik

menunjukan persentase penetasan yang sedang sebesar 89,5%, dan

pemberian pakan Keong Mas menunjukan persentase penetasan telur

terkecil sebesar 83,5%.

Grafik persentase penetasan telur ikan gurami menetas dapat

dilihat pada gambar berikut :

94,5
95

89,5
90
Rerata
persentase 85 83,5
penetasan
telur 80
(%)
75
A B C
Perlakuan

Gambar 2. Grafik persentase penetasan telur ikan gurami


4.1.3. Kualitas Air Media

Kualitas air media selama pemeliharaan induk ikan gurami pada

kerja praktek ini diamati meliputi suhu dan pH air. Hasil pengukuran

kualitas air yang dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7. Kualitas air

Kelayak
Parameter Hasil
an
240 –
Suhu 290C
300C
pH air
7 6,5 – 8,5
kolam
4.2. PEMBAHASAN

4.2.1. Pemeliharaan Induk Ikan Gurami

1. Persiapan Tempat

Wadah yang digunakan adalah kolam semen besar yang sudah

dipetak menjadi kolam kecil dengan ukuran (20 x 5 x 1,5) m

sebanyak 12 buah. Kolam sudah tersedia dan siap untuk digunakan

dengan ketinggian air 1 m. Air yang digunakan adalah air yang

dialirkan dari sungai yang sudah mengalami beberapa kali

penyaringan.

Persiapan wadah dilakukan dengan terlebih dahulu dengan

mengeringkan kolam induk dan membiarkannya dalam beberapa hari

agar kering sempurna. Kemudian membersihkan dinding serta dasar

kolam dengan sikat pembersih sehingga kotoran dan lumut

terangkat, hal ini bertujuan untuk membunuh hama dan penyakit

serta member rangsangan terhadap induk gurami yang akan

dipijahkan.

Tahap akhir persiapan tempat pemeliharaan yaitu pengisian air

setinggi 1 m dengan cara membuka saluran pemasukan air melalui

pipa inlet. Kemudian induk yang telah ditampung dalam tempat

penampungan sementara dipindahkan pada kolam pemeliharaan

induk yang sudah disiapkan. Proses pemindahan induk ke kolam

pemeliharaan dilakukan dengan hati-hati agar tidak menyebabkan


luka atau goresan pada tubuh induk gurami yang akan dipelihara

serta agar terhindar dari stress.

2. Pengadaan Hewan Uji

Berhasilnya usaha pemeliharaan ikan gurami untuk

menghasilkan benih yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh seleksi

induk ikan gurami yang berkualitas pula. Ikan Gurami yang dipilih

sebagai induk harus diseleksi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam

keadaan sehat, tidak sedang menderita penyakit tertentu, pada

bagian sirip harus mulus, artinya kondisi fisiknya terlihat baik,

mempunyai gerakan yang gesit, badan gemuk serta mengkilap. Jika

kurang hati-hati dalam memilih induk, keturunan yang dihasilkan

jumlahnya akan sedikit, serta dari segi kualitas benih yang dihaslikan

tidak akan maksimal.

Ikan jantan yang siap menjadi induk memiliki ciri-ciri: panjang

standar 30 - 35 cm, berumur 24 - 30 bulan dan bobot 3,5 – 4,0 kg.

Sedangkan induk betina memiliki ciri-ciri: panjang standar 30 - 35 cm,

berumur 30 - 36 bulan dan bobot 4,0 - 4,5 kg (Anonimous, 2000).

Namun demikian, dalam pemijahan sebaiknya menggunakan induk

yang sudah mencapai berat sekitar 4 kg (betina) dan 3 – 4 kg

(jantan). Induk betina dapat menghasilkan telur sebanyak 1.500 –

2.500 butir/kg induk.


Induk ikan gurami yang dipergunakan dalam kerja praktek

adalah induk ikan gurami yang telah disediakan oleh UPTBAT

Kutasari, Purbalingga yang berumur 2 – 5 tahun dengan bobot rata-

rata 3,2 kg. Induk yang dipelihara dalam kerja praktek berjumlah 60

ekor dengan induk jantan berjumlah 12 dan induk betina berjumlah

48 serta gurami jenis gurami yang dipelihara adalah gurami jenis

lokal.

Tabel 8. Ciri – ciri induk yang siap memijah.


No Jantan Betina
Alat kelamin berwarna Bagian perut agak
1.
putih bersih. membulat besar
Apabila bagian perut
Perut akan terasa lembek
2. distriping maka akan
bila diraba
keluar cairan putih.
Lubang kelamin agak
Warna tubuhnya cerah berwarna kemerahan,
3. dan tampak bercahaya apabila distriping bagian
serta sangat agresif. perut maka akan keluar
telur.

3. Pakan Uji

Pakan yang diberikan sebaiknya nutrisi yang seimbang serta

cukup jumlahnya. Hal ini sangat penting agar ikan Gurami yang

dipelihara terpenuhi kebutuhan nutrisinya sehingga sehat dan

mengandung telur yang baik (Hernowo, 2001). Pakan yang digunakan

berupa pakan utama, yaitu daun Sente dan 3 jenis pakan tambahan,

yaitu Pellet, Keong Emas, dan Jangkrik. Untuk pakan tambahan Pellet

dan Jangkrik dperoleh dari toko pakan untuk ikan dan pakan untuk

serangga, sedangkan pakan tambahan Keong Emas diperoleh dari

petani disekitar daerah UPTBAT Kutasari.


Dalam penyediaan pakan harus diperhatikan beberapa faktor,

yaitu jumlah dan kualitas pakan. Menurut NRC (1977) dalam Susilo

(1988), jumlah pakan yang terlalu sedikit akan mengakibatkan

pertumbuhan ikan lambat, sebaliknya pakan yang terlalu banyak

tidak efisien dan dapat menyebabkan polusi lingkungan.

4. Pemberian Pakan Uji

Pemberian pakan sebanyak 20% dari bobot induk ikan gurami

per hari. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu

pada pagi hari pukul 09.00 WIB dan sore hari pukul 15.00 WIB.

Untuk pakan tambahan Pellet dilakukan penebaran secara

merata pada area kolam. Pemberian pakan berupa Keong Emas

dilakukan dengan cara merebus lebih dahulu dagingnya selama 15 –

20 menit yang kemudian dipotong sesuai dengan atau lebih kecil dari

ukuran bukaan mulut dari induk ikan gurami. Dan untuk pemberian

pakan tambahan berupa Jangkrik dilakukan cara yang sama seperti

pada perlakuan pemberian pakan berupa Keong Emas akan tetapi

tidak perlu dilakukan perebusan, karena daging Jangkrik sudah lunak.

Pemberian pakan tambahan berupa Keong Emas dan Jangkrik

dilakukan penyebaran secara merata diarea kolam seperti pemberian

pakan tambahan berupa Pellet.

5. Jumlah Telur Yang Dihasilkan


Telur yang dihasilkan oleh masing-masing induk ikan gurami

dengan pemberian pakan yang berbeda memiliki jumlah yang

berbeda pula. Untuk induk gurami menghasilkan rata-rata jumlah

telur dengan pemberian Pellet sebesar 6100 butir, untuk Keong Mas

5375 butir, dan untuk Jangkrik sebesar 4925 butir. Perbedaan jumlah

telur yang dihasilkan dengan pakan yang berbeda dapat diakibatkan

oleh adanya perbedaan jumlah nutrient yang terkandung dalam

masing-masing pakan yang diberikan.

Protein merupakan unsure yang paling penting dalam

penyusunan formulais pakan karena usaha budidaya mengharapkan

pertumbuhan ikan yang cepat, jumlah telur yang banyak, dan kualitas

benih yang baik. Dalam hal ini, protein mempunyai 3 fungsi bagi

tubuh induk ikan gurami, yaitu :

a) Sebagai zat Pembangun, yang membentuk berbagai jaringan

baru untuk pertumbuhan, mengganti jaringan yang rusak maupun

reproduksi.

b) Sebagai zat Pengatur, yang berperan dalam pembentukan

enzim dan hormone penjaga dan pengatur berbagai proses

metabolism didalam tubuh ikan.

c) Sebagai zat Pembakar, karena unsure karbon yang terkandung

didalamnya dapat difungsikan sebagai sumber energi pada saat

kebutuhan energy tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak.

6. Persentase Penetasan Telur


Telur ikan yang dihasilkan oleh masing-masing induk gurami

dengan pemberian pakan yang berbeda yaitu Pellet (kontrol), Keong

Mas, dan Jangkrik memiliki perbedaan daya tetas dan kualitasnya.

Dari kerja praktek yang telah dilakukan daya tetas telur yang

memiliki kualitas baik yaitu pada telur yang dihasilkan dari induk

dengan pakan tambahan Pellet yang daya tetasnya sebesar 94,5%,

sedangkan yang diberi pakan tambahan Jangkrik sebesar 89,5%, dan

daya tetas telurnya terkecil dengan pemberian pakan tambahan

Keong Mas sebesar 83, 5%.

Hasil pengamatan kemudian dianalisis menggunakan

Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan mendapatkan kesimpulan bahwa

semua perlakuan memiliki sangat beda nyata (highly significant),

sehingga dilanjutkan pada uji BNT (Beda Nyata Terkecil) dan didapat

kesimpulan bahwa perlakuan dengan pemberian pakan tambahan

Pellet memberikan pengaruh sangat nyata terhadap telur yang

dihasilkan oleh induk gurami. Dan didapat kesimpulan bahwa

perlakuan dengan protein 2% memberikan pengaruh sangat nyata

terhadap daya tetas telur ikan gurami.

Pakan yang terbaik dalam pemeliharaan induk gurami untuk

meningkatkan jumlah telur yang dihasilkan adalah dengan pakan

berupa Pellet yang mengandung protein sebesar 15-19 %. Protein

merupakan molekul kompleks yang terdiri dari asam-asam amino,

baik esensial maupun non-esensial (NRC, 1983). Asam amino esensial


tidak dapat disintesis dalam tubuh, sehingga asam amino tersebut

perlu diberikan melalui pakan. Protein dengan kandungan asam-asam

aminonya diperlukan untuk pertumbuhan, pemeliharaan jaringan

tubuh, pembentukan enzim dan beberapa hormon serta antibodi

dalam tubuh, disamping itu juga berfungsi sebagai sumber energi.

Kebutuhan protein untuk ikan berbeda-beda menurut spesiesnya dan

pada umumnya berkisar antara 30 sampai 40% (Jobling, 1994).

Protein merupakan komponen esensial yang dibutuhkan untuk

reproduksi. Protein merupakan komponen dominan kuning telur,

sedangkan jumlah dan komposisi telur menentukan besar kecil

ukuran telur dan ukuran telur merupakan indikator kualitas telur

(Kamler, 1992). Sedangkan komposisi kimia kuning telur bergantung

kepada status nutrien yang diberikan dan kondisi induk itu sendiri.

4.2.2. Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan air yang dilakukan di UPTBAT Kutasari yaitu

dengan sistem air mengalir, karena sistem ini merupakan sistem

pemeliharaan yang terbaik bagi ikan gurami, sehingga air jernih dan

sehat. Disamping itu, bisa menghemat tenaga dan mencegah

terjadinya kontaminasi penyakit. Sistem ini memanfaatkan air

seminimal mungkin dengan metode pendaur ulangan air.

Penggantian air dimaksudkan untuk mengganti air yang hilang akibat

penguapan dan perembasan. Sistem ini disebut Close Flow System

(CFS).
Menurut Sitanggang (2001) kolam pemeliharaan dapat diisi

dengan air sumur ataupun air ledeng yang sudah terbebas dari

kandungan klorin sisa bahan penjernih air di pengelolaan air bersih

PDAM. Jika menggunakan air sumur, harus dipastikan air tidak

mengandung bibit penyakit dan tidak tercemar. Sebaiknya air sumur

diendapkan lebih dahulu sehari semalam.

4.2.3. Pengelolaan Air Limbah Hasil Produksi

Air limbah adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga

dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta

buangan lainnya, dengan demikian air buangan ini merupakan hal

yang bersifat kotoran umum (Azrul, 1995). Sesuai dengan batasan air

limbah yang merupakan benda sisa, maka sudah barang tentu bahwa

air limbah merupakan benda yang sudah tidak dipergunakan lagi.

Akan tetapi tidak berarti bahwa air limbah tersebut tidak perlu

dilakukan pengelolaan, karena apabila limbah tersebut tidak dikelola

secara baik akan dapat menimbulkan gangguan, baik terhadap

lingkungan maupun terhadap kehidupan yang ada.

Sebagaimana halnya teknologi proses produksi yang terdiri dari

berbagai macam jenis demikian juga halnya dengan teknologi

pengolahan limbah. Menurut Ginting (2007), bahwa walaupun sama –

sama limbah cair karena bukan berasal dari limbah produksi dengan

bahan baku yang sama tapi karena volume limbahnya berbeda maka

teknologi pengolahannya pun berbeda. Dengan demikian teknologi

pengolahan limbahnya ini sangat erat kaitannya dengan kualitas


limbah dan parameter limbah. Limbah yang mengandung suspensi

padatan berbeda cara pengolahannya dengan limbah yang

mengandung kekeruhan.

Air yang berada pada kolam-kolam yang ada di UPTBAT

Kutasari, Purbalingga merupakan air yang berasal dari sungai kecil

yang bernama sungai Kebambangan. Untuk mencegah adanya polusi

pada air yang akan digunakan di kolam-kolam UPTBAT Kutasari, maka

diambil tindakan dengan cara menggunakan bak-bak pengendapan

pada air yang akan masuk.

Pada proses produksi hasil pemeliharaan induk ikan Gurami

pada di UPTBAT Kutasari, Purbalingga tidak dilakukan pengelolaan air

limbah secara nyata, hanya melewati beberapa saluran pembuangan

saja dan tidak ada penanganan khusus untuk mengelola limbah

tersebut. Limbah dibuang langsung ke sawah yang berada tepat

bersebelahan dengan UPTBAT Kutasari Purbalingga. Buangan limbah

hasil produksi mengandung banyak materi organic yang berguna bagi

tumbuhan padi yang kemudian menjadikannya sebagai suplai

nutrient bagi tanaman padi tersebut.

4.2.4. Kendala Yang Dihadapi Dalam Proses Pemeliharaan

Ada berbagai macam kendala yang dihadapi dalam proses

pemeliharaan induk ikan Gurami. Salah satu kendala yang dialami

dalam usaha pemeliharaan induk ikan Gurami di UPTBAT Kutasari

adalah faktor alam dan pengelolaan yang kurang tepat. Serta adanya

pengontrolan yang kurang intensif, dimana dalam artian bahwa


semua pekerja atau pegawai tidak terfokus untuk menangani satu

kewajiban saja. Namun mereka terpecah untuk menangani semua

kegiatan di UPTBAT Kutasari terlebih lagi pada kegiatan yang harus

didahulukan, seperti kegiatan pemanenan benih ikan.

Didalam kolam juga ditemukan beberapa jenis hama seperti

Yuyu atau Kepiting dan ikan-ikan kecil yang sering memakan telur

ikan Gurami. Penanggulangan yang dilakukan terhadap hama

tersebut adalah dengan cara mekanis yang berarti harus membunuh

dan menghilangkan tempat-tempat hama tersebut bersembunyi serta

kontrol secara langsung.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil kerja praktek yang dilakukan padaUPTBAT

Kutasari mengenai pemberian pakan tambahan yang diberikan


kepada induk ikan gurami terhadap jumlah telur yang dihasilkan,

maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Pemberian pakan tambahan dengan perbedaan jumlah protein

yang terkandung didalam pakan memberikan pengaruh berbeda

sangat nyata terhadap jumlah telur yang dihasilkan oleh induk

ikan gurami serta daya tetas telur.

2. Pemberian pakan tambahan berupa Pellet menghasilkan jumlah

telur yang lebih banyak serta daya tetas yang lebih besar

dibandingkan dengan pakan tambahan Keong Mas dan Jangkrik.

5.2. Saran

Dalam kerja praktek ini diketahui bahwa selain Pellet juga

masih banyak pakan tambahan/pakan alternatif yang bias diberikan

kepada induk ikan gurami. Sehingga dapat menghemat biaya dalam

pemberian pakan. Serta juga masih banyak pakan yang masih perlu

dicoba untuk pakan tambahan terhadap induk ikan gurami agar

menghasilkan telur yang lebih banyak dan mempunyai daya tetas

yang besar/baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2002. Informasi Teknik Perikanan. Balai Budidaya Air Tawar


Sukabumi. Sukabumi.
Anonimous, 2000. Standar Nasional Indonesia Induk Ikan Gurami
(Osphronemus goramy, Lac.) Kelas Induk Pokok (Parent
Stock). Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.
Asmawi, S. 1983. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Gramedia,
Jakarta.
Azrul, A. 1995. Pengantar Imu Kesehatan Lingkungan. Mutiara
Sumber Widya, Jakarta.
Departemen Pertanian. 1986. Budidaya Gurami. Balai Informasi
Pertanian Jawa Barat. Bandung.
Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Armico, Bandung.
Ginting, P. 2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah
Industri. Yrama Widya. Bandung.
Heinz, H. R. and Kline. 1973. Fish Panthology. FFA Publication Inc.
West Sylvania Aveneu, Neptune, New Jersey. 512 pp.
Hernowo. 2001. Pembenihan Patin. Penebar Swadaya. Depok
http://bankdata.depkes.go.id/kompas/Kabupaten%20Purbalingga.pdf.
http://jabar.litbang.deptan.go.id/pdf/gurame_inten.pdf.
http://smkn1nabire.com/modul/budidaya_ikan/5%20membuat_pakan_
ikan_buatan.pdf.
http://www.ebookpangan.com/ARTIKEL/SERANGGA%20SEBAGAI
%20BAHAN%20PANGAN.pdf
http://www.iptekda.lipi.go.id/root/files/Buletin_Vol1no2.pdf.
http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/jwbr0208.pdf.
http://www.pusri.co.id/budidaya/perikanan/budidaya_ikan_gurame.pdf
.
http://www.ristek.go.id.
http://www.smecda.com/TTG/gurame.pdf.
http://www.warintek.ristek.go.id/pangan/umum/tanaman_penghasil_p
ati.pdf
Jangkaru, Z. 1975. Makan Ikan. Lembaga Penelitian Ikan Darat. Bogor.
Kabata, Z. 1985. Parasit and Diseases Fish Culture in The Tropic.
Taylor and Francis, London.
Murtidjo, A.B. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar.
Kanisius. Yogyakarta.
Radiopoetro. 1983. Zoology Vertebrata. Erlangga, Jakarta. 56 pp.
Rusdi, T. 1988. Usaha Budidaya Gurami. Simplek, Jakarta. 73 pp.
Sitanggang, M dkk. 2000. Budidaya Gurami. Penebar Swadaya.
Jakarta
Sitanggang, M. dan Sarwono, B. 2001. Budidaya Gurami (Edisi Revisi).
Penebar Swadaya. Jakarta
Susanto, Heru. 1989. Budidaya Ikan Gurame. Penebar swadaya.
Jakarta
Susanto, Heru. 2001. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar swadaya.
Jakarta.

Susilo, U. dan Heriyadi, B. 1988. Studi Efisiensi Penggunaan Pakan


pada Ikan Gurami untuk Evaluasi Kebiasaan Makan. Biosfera
Majalah Biologi. Vol. 9. Fakultas Biologi Unsoed. Purwokerto. Hal.
25.
Tim Lentera. 2002. Cermat dan Tepat Memasarkan Gurami.
Agromedia Pustaka, Jakarta.
Wardoyo, S.T. 1981. Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan
Perikanan. Analisis Dampak Lingkungan, Bogor
Wootton, R.J. 1990. Ecology Of Teleosts Fisher. First Edition. Chapman
and Hall, London.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Keadaan Umum UPTBAT Kutasari

1. Letak Geografis

Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu dari 35

kabupaten di jawa tengah yang memiliki luas 77.764,12ha.


Terletak di posisi antara 109º13´-109º35´BT dan 7º10´-7º29 LS.

Luas wilayah dari utara ke selatan sejauh 34 km dan 38,30 km

dari barat ke timur.

Curah hujan di Kabupaten Purbalingga yaitu 1.832-4,411

mm/th dan suhu udara ± 25º-30ºC. Ikan gurami hidup pada

kisaran suhu yang lebar antara 14º -38ºC, akan tetapi suhu yang

baik untuk penetasan dan pertumbuhan, perkembangbiakan

berkisar antara 25º-28ºC. Pada suhu kurang dari 14ºC atau lebih

dari 38ºC kehidupan mulai terganggu.

2. Sejarah Singkat UPTBAT Kutasari

Kondisi Balai Benih Ikan Kutasari pada tahun 1978 masih

belum memadai. Pada tahun 1980 BBI Kutasari mulai di perbaiki

dan di resmikan sebagai salah satu UPTD dari Dinas Perikanan

dan Peternakan Kabupaten Purbalingga.pada waktu itu belum ada

penampungan ikan hasil panen dan tempat penampungan benih

sebelum di pasarkan. Selain itu fasilitas seperti : gedung, tempat

parker, dan asrama juga belum tersedia.

Penambahan dan perbaiakan di UPTBAT mulai di tingkatkan

dari tahun 1998 – 2004 .berdasarkan hasil wawancara, pada tahun

2006 UPTBAT Kutasari memiliki fasilitas yang cukup

lengkap.fasilitas tersebut mulai dari kolam yang berjumlah 25

unit, kantor, rumah jaga, gudang, tempat parkir, dapur dan kamar

mandi, pada tahun 2007, UPTBAT kutasari berencana membangun

asrama dan menambah kolam.


3. Kedudukan UPTBAT Kutasari

UPTBAT Kutasari Kabupaten Purbalingga merupakan

pelaksana teknis dari Dinas Peternakan dan Perikanan

(DISKANAKKAN) Kabupaten Purbalingga. Dan resmi berdiri pada

bulan april 2003 di desa Kutasari Kecamatan Kutasari Kabupaten

Purbalingga. Luas arealnya adalah 14,787 m² dengan luas kolam

± 9,662m² dan luas bangunan 5,125 m² .batas wilayah UPTBAT

Kabupaten Purbalingga adalah :

Sebelah utara : Desa Kutasari

Sebelah Barat : Desa Munjul

Sebelah Selatan : Desa Karangbanjar

Sebelah Timur : Desa Karangbanjar

4. Struktur Organisasi UPTBAT Kutasari

Struktur organisasi adalah gambaran secara sistematis

dalam hubungan satu pekerjaan untuk membedakan antara batas

wewenang dalam menjalankan tugas. Struktur organisasi

berfungsi untuk mengetahui tugas yang harus dilaksanakan dalam

masing-masing jabatan, tujuan struktur organisasi adalah untuk

memeperlancar jalannya kegiatan suatu organisasi. UPTBAT

Kutasari di resmikan pada tahun 1990 dan merupakan lembaga

Agribisnis yang bergerak dibidang produksi benih ikan. Jenis-jenis

ikan yang di budidayakan di BBI kutasari antra lain ikan gurami,

bawal, tawes, nila putih, nilem, karper, koi, nilagift, nila merah,

grasscarp, patin dan lele sangkuriang.


Hubungan UPTBAT Kutasari dengan dinas peternakan dan

perikanan Kabupaten Purbalingga dapat di lihat dari struktur

organisasi dan tata kerja Dinas Peternakan dan Perikanan

berdasarkan perda No, 27 tahun 2002 Kepala Dinas, Kepala

UPTBAT, urusan administrasi satuan pasca panen dan

pemaasaran, satuan kerja UPTBAT, dan satuan kerja

pengembangan dan pengujian.

Kepala Dinas
Peternakan dan
Perikanan
Kepala UPTD
Kabupaten
Purbalingga

Kepala UPTBAT Kutasari


Kabupaten Purbalingga

Bagian
Administrasi

Satuan Kerja Satuan Kerja Satuan Kerja


Pasca Panen Dan UPTBAT Pengembangan dan
Pemasaran Pengujian

Gambar 3. Struktur Organisasi UPTBAT Kabupaten


Purbalingga
(UPTBAT Kutasari, 2008).

Lampiran 2. Data Hasil Pemeliharaan Induk Ikan Gurami

Tabel 9. Jumlah Telur Yang Dihasilkan


Perlakuan Jumlah Telur
Pellet 1 6700
2 5800
3 6200
4 5700
Jangkrik 1 6000
2 5500
3 4900
4 5100
Keong Mas 1 5400
2 4800
3 4500
4 5000

Tabel 10. Telur menetas dan tidak menetas


Tidak
Perlakuan Awal Menetas
menetas
Pellet 1 50 48 2
2 50 47 3
3 50 48 2
4 50 46 4
Jangkrik 1 50 46 4
2 50 45 5
3 50 44 6
4 50 44 6
Keong Mas 1 50 42 8
2 50 41 9
3 50 41 9
4 50 43 7

• HR Jangkrik :

46
HR Keong Mas :
• 1= x100 % = 92
Perhitungan Daya Tetas Telur (HR) : 50
42 45
dayatetast elur 1= x100 % = 84 2= x100 % = 90
HR = x100 % 50 50
jumlahtota l
41 44
2= x100 % = 82 3= x100 % = 88
50 50
41 44
3= x100 % = 82 4= x100 % = 88
50 50
43
4= x100 % = 86
• HR Pellet :

48
1= x100 % = 96%
50
47
2= x100 % = 94%
50
48
3= x100 % = 96%
50
46
4= x100 % = 92%
50

Lampiran 3. Perhitunngan Data Yang Diperoleh

Tabel 11. Data hasil analisis


Perlakua Ulangan Total Rerata
n 1 2 3 4 Perlaku Perlaku
% % % % an an
% %
Pellet 96 94 96 92 378 94,5
Jangkrik 92 90 88 88 358 89,5
Keong Mas 84 82 82 86 334 83,5
Total 272 266 266 266 1070
Rerata 90,67 88,67 88,67 88,67 267,5

∑Yij2 = (96)2 + (94)2 + (96)2 + (92)2 + (92)2 + (90)2 + (88)2 + (88)2 +

(84)2 + (82)2 +

(82)2 + (86)2

= 9216 + 8836 + 9216 + 8464 + 8464 + 8100 + 7744 + 7744

+ 7056 + 6724 +

6724 + 7396

= 95684

N = 12
(totalperla kuan ) 2 2
1144900
1) FK = = (1070 ) = = 95408,33
∑ulangan 12 12

2) JK total = ∑ Yij – FK = 95684 – 95408,33 = 275,67

∑Y
2
(378 ) 2 + (358 ) 2 + (334 ) 2
3) JK perlakuan = - FK = - 95408,33
r 4

382604
= - 95408,33 = 95651 – 95408,33 = 242,67
4

4) JK galat = JK total – JK perlakuan = 275,67 – 242,67 = 33

5) db perlakuan = t – 1 = 3 – 1 = 2

6) db total = N – 1 = 12 – 1 = 11

7) db galat = (N - 1) – (t - 1) = 11 – 2 = 9

JKPerlakua n 242 ,67


8) KT Perlakuan = = = 121,34
dbPerlakua n 2

JKGalat 33
9) KT Galat = = = 3,67
dbGalat 9

KTPerlakua n 121 ,34


10) F Hitung = = = 33,06
KTGalat 3,67

Analisis Variansi
Sumber F F Tabel
db JK KT
Variansi Hitung 0,05 0,01
Perlakua
2 242,67 121,34 33,06* 4,26 8,02
n
Galat 9 33 3,67
Total 11 275,67
Hasil :
• F Hit > F Tab (5 %) 33,06 > 4,26 → highly significant (**)

• F Hit > FTab (1 %) 33,06 > 8,02 → highly significant (**)

Kesimpulan :
Pemberian pakan tambahan yang berbeda pada masing-masing

induk gurami memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap

jumlah telur yang dihasilkan.

Dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) untuk

membandingkan selisih nilai tengah (rata-rata) perlakuan terhadap

nilai BNT 5% dan BNT 1%.

378
A= = 94,5
4

358
B= = 89,5
4

334
C= = 83,5
4

Perlakua
A B C
n
A - 5 11**
B - - 6*
C - - -

(2)( 3,67 )
BNT (0,05) = 2,262
4
= 2,262 x 1,355 = 3,065
( 2)( 3,67 )
BNT (0,01) = 3,250
4
= 3,250 x 1,355 = 4,404

Kesimpulan :
1. Pemberian pakan tambahan Pellet pada induk ikan gurami
memberikan pengaruh sangat nyata terhadap jumlah telur
yang dihasilkan.
2. Pemberian pakan tambahan Jangkrik pada induk ikan gurami
memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah telur yang
dihasilkan.
3. Pemberian pakan tambahan Keong Mas pada induk ikan
gurami memberikan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah
telur yang dihasilkan.

Lampiran 4. Gambar Pelaksanaan Kerja Praktek


Gambar 4. UPTBAT Kutasari
Gambar 5. Kolam Pemeliharaan Induk Ikan Gurami

Gambar 6. Pakan Tambahan berupa Pellet


Gambar 7. Pakan Tambahan berupa Jangkrik

Gambar 8. Pakan Tambahan berupa Keong Mas


Gambar 9. Perhitungan Jumlah Telur Ikan Gurami

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur alhamdulliah penulis atas kehadirat Allah SWT yang

telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya dan Nabi Muhammad saw

sebagai pembawa wahyuNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan


laporan Kerja Praktek yang berjudul “PEMELIHARAAN INDUK IKAN

GURAMI (Osphronemus gouramy) DENGAN PEMBERIAN PAKAN

TAMBAHAN BERBEDA TERHADAP JUMLAH TELUR DI UNIT

PELAKSANAAN TEKNIS BUDIDAYA AIR TAWAR (UPTBAT)

KUTASARI, PURBALINGGA”. Penyusunan laporan ini tidak lepas

dari bantuan beberapa pihak yang telah ikut membantu. Oleh karena

itu, karya kecil ini dipersembahkan untuk kedua orang tuaku yang

telah memberikan batin dan jiwanya kepada anaknya ini dan adiku.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih

kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan Kerja

Praktek :

1. Orang tuaku yang tercinta, yang always kasih dorongan

semangat biar ga’ cepat menyerah dalam mengerjakan apapun

serta telah memberikan “dana segar” dalam Kerja Paktek ini…

2. Bapak Dr. Ir. Petrus Hary Tjahja, MS, selaku dosen pembimbing

atas petunjuk dan arahannya serta telah memberikan dorongan

dan bantuan (terima kasih karena telah meluangkan banyak

waktu untuk saya).

3. Bapak Dr. Ir. Isdy Sulistyo, DEA, selaku ketua jurusan Perikanan

dan Kelautan yang telah memberikan ijin untuk melakukan kerja

praktek.

4. Bapak Drs. Setijanto, M.Sc., St., selaku dosen pembimbing

akademik.
5. Bapak Warto (Kepala UPTBAT Kutasari), terima kasih telah

member ijin ke kami buat kerja praktek di tempat bapak. Terima

kasih buat Bu Ning, Mba Eni (yang sering aku repotin), Mba Uji,

Pak Ryo… makasih atas segala informasi dan arahannya

mengenai kegiatan budidaya. Truz buat mas Dayat (paling rajin

lhoo + semangat truz yaaa), mas Yatno (dah banyak bantu-

bantu), pak Rajim “and many more”….

6. Thank’S to temen seperjuangan Kerja Praktek yang telah “jatuh

bangun” bareng. Matur kesuwun buat Tetra yang sering kasih

bantuan dalam pelaksanaan kerja praktek, bantuan Anda tidak

akan saya lupakan. Buat Didit, thank’s dah sering “mondar-

mandir” bareng gue dari kampus ke BBI dan sebaliknya, ya

lumayan panas pantatnya sih… Terima kasih to Hana. Han, qta

masih tunggu kapan mau bakar-bakar ikan nie…. Masakan ibumu

uuuueeeennnaaakkk tenan mas…. Thank’s for all help alias matur

kesuwun bangeeeeettt nggiiiihhhh…

7. Truz buat anak-anak kosku, thank’s buat mas Yayan (sekarang

dah lulus + dah dapet gelar “SKM”, keren lho truz klo aku kapan

dapat gelar’y yaaa?) yang sering aku pinjemin komputer +

printer’y “sekalian minta kertas’y ya….” Buat mas Dadenk yang

sering kasih masukan yang kadang-kadang meragukan, tapi Ok

juga sih…. Buat Danank, temen dari 1 kota (Purbalingga), thank’s

dah sering buat qta semua “tertawa terbahak-bahak” + yang

sering gangguin aku….


8. Buat anak2 MSP 05 + BDP 05, keep kompak truzzz ya…. Kapan

qta futsal lagi ni : Big Match “MSP 05 vs BDP 05”? klo aku maen,

dijamin dah belakang’y “rapet” lhoooo….. pengen bukti kan. He…

he…

9. Buat anak2 yang sering dengerin lagu’y Netral + Pas band…

tetep semangat brooo + keep kompak + keep “play your

music”…. Buat ShYmpOni… ayo qta latihan+ “ngulik” lagu lagi….

10. Terakhir, terima kasih + matur kesuwun + thank’S a lot

buat semua pihak yang dah bantu + dukung gue/aku yang

orang’y banyak banget yang ga bias disebutin……


RIWAYAT HIDUP PENULIS

Terlahir dengan nama Pradikta Bayu Aji yang menjadi karunia

yang melimpah dari Allah SWT. Putra pertama dari dua bersaudara.

Ayah bernama Ali Khaya dan Ibu bernama Siti Khofiyah. Dilahirkan di

Purbalingga tanggal 13 April 1988.

Penulis mengenyam Taman Kanak-kanak (TK) di TK Pertiwi 1

Bukateja. Melanjutkan ke pendidikan dasar di SD N 3 Bukateja.

Kemudian melanjutkan ke pendidikan tingkat menengah pada tahun

1999 di SLTP N 1 Bukateja. Kemudian melanjutkan ke tingkat

menengah atas di SMU N 1 Bukateja pada tahun 2002. Penulis

berhasil diterima di Universitas Jendral Soedirman (UNSOED) di

Fakultas Sains dan Teknik, di Jurusan Perikanan dan Kelautan, dan

memilih program studi Manajemen Sumberdaya Perikanan pada

tahun 2005. Pada saat ini penulis masih menjadi civitas akademik di

Jurusan Perikanan dan Kelautan.