Anda di halaman 1dari 4

TERAPI

Penatatalaksanaan sindrom nefrotik (SN) terdiri atas terapi spesifik (glukokortikoid) dan suportif
(misalnya diet, diuretik, obat antihipertensi). Berikut ini adalah tatalaksana awal yang dapat
dilakukan pada SN tipe Minimal Change Nefrotic Syndrome (MCNS), yaitu:
a. Terapi glukokrtikoid
Terapi glukokrtikoid (steroid) telah mengubah morbiditas SN, sehingga
membuatnya hampir spesifik. Dosis prednisone yang lazim adalah 2 mg/kg/hari dibagi
menjadi tiga atau empat dosis, dan diberikan setiap hari selama 4 minggu. Dosis ini
kemudian dikurangi sampai 1,5 mg/kg/hari sebagai dosis tunggal setiap pagi, dengan
pemberian selang-sehari, selama sekurang-kurangnya 4 minggu.
Sekitar 92% pasien dengan MCNS berespon terhadap terapi ini. Tetapi pada anak
dengan

glomerulosklerosis

segmental

fokal

(FSGS)

dan

glomerulonefritis

membranoproliperatif (MPGN), hanya terjadi remisi sebesar 20% dan 7% pasien. Remisi
disini didefiniskan sebagai hilang totalnya proteinuria. Pasien-pasien dengan kategori
histologik lain, sekitar sepertiganya menunjukkan remisi klinis penyakit.
Dosis steroid yang lebih tinggiatau waktu pemberian yang lebih panjang tidak
secara signifikan mengubah angka respon MCNS, tetapi menambah toksisitas steroid.
Anak yang tidak menunjukkan respon sampai akhir periode minggu kedelapan harus
dirujuk ke ahli nefrologi pediatric untuk biopsy ginjal perkutan serta rencana alternatif
untuk pengobatan.
b. Upaya non spesifik
Penanganan infeksi
Anak dengan nefrosis memiliki reiko besar terkenan infeksi. Bila hal tersebut sampai
terjadi, kemungkinan infeksi akan menyebar cepat, terutama apabila pemberian
steroid dilakukan tanpa perhitungan. Dengan demikian anak harus diamati secara
ketat selama beberapa hari, sembari melakukan pemeriksaan yang lebih spesifik dan
sesuai. Anak dari lingkungan yang kondusif untuk TB harus diperiksa. Jika dirawat
inap, anak harus ditempatkan di ruang isolasi reverse relative. Infeksi yang jelas
terbukti harus diobati secara aktif, tetapi biasanya tidak diindikasikan pemberian
antibiotic profilaksis. Pneumovaks dapat diindikasikan bagi semua pasien yang
sesudah mengalami remisi, dan jelas diindikasikan bagi pasien-pasien yang

mengalami eksaserbasi dini.


Diet

Anak dengan SN aktif memiliki mekanisme penghematan natrium tubular yang


normal. Jadi jika akan dilakukan terapi prednisone, ekskresi natrium ginjal
diperkirakan minimal. Karena asupan garam yang tidak dibatasi diketahui dapat
meningkatkan edema, asupan garam dari diet harus dikurangi. Pembatasan asupan
cairan belum pernah menjadi bagian dari rencana terapeutik yang lazim, walaupun
terkadang rasa haus anak dapat menjadi sedemikian terstimulasinya sehingga dapat
terjadi asupan berlebihan, pembatasan ringan kemungkinan dapat bermanfaat.

Selebihnya, diet harus normal.


Diuretik
Terapi diuretic mungkin bermanfaat, terutama pada anak dengan edema simtomatik.
Loop diuretic (furosemide atau asam etakrinat) yang dieberikan per oral dalam jumlah
biasa ( 1-2 mb/kgBB) tetap aman dan cukup efektif. Namun pemberian obat ini harus
dilakukan secara hati-hati karena volume plasma telah berkurang dan sudah pernah
terjadi syok hipovolemia. Jika salah satu agen ini harus diberikan per IV, sebaiknya
diberikan infuse albumin sedikit garam secara bersamaan. Diuretic selain loop
diuretic (tiazid, spironolakton, metolazon, dan sebagainya) biasanya tidak cukup kuat
untuk mempengaruhi diuretic jika digunakan sebagai terapi tunggal. Metolazon
(dengan atau tanpa spironolakton) mungkin akan bermanfaat jika diberikan dalam
kombinasi dengan furosemide untuk edema yang resisten. Pasien yang mendapat

regimen ini harus dipantau secara ketat.


Obat antihipertensi
Obat antihipertensi harus diberikan bila terdapat hipertensi berat, tetapi dengan hatihati. Pada beberapa pasien, hipertensi akan berespon terhadap diuretic, tetapi dalam
frekuensi yang sama pula, terapi seperti itu dapat tidak efektif atau bahkan dapat
menaikkan tekanan darah. kaitannya adalah kemungkinan terjadi pengurangan perfusi

ginjal serta respon regulatorik yang diakibatkannya.


Edukasi
Segera setelah SN didiagnosis, anak beserta keluarganya harus diedukasi mengenai
penyakitnya, pengelolaannya, serta perkiraan perjalanan penyakitnya. Pasien harus
mematuhi regimen medis yang ditetapkan dan pasien beserta keluarganya harus
berperan serta dalam mengambil keputusan terapeutik. Kerjasama dapat meningkat
jika diberikan perhatian yang cukup untuk mendidik pasien beserta keluarganya.

Sebagaimana semua penyakit kronis, terdapat beragam isu psikososial yang harus
dijawab.
Aspek lain Pengelolaan
Sikap
Meskipun dokter harus menunjukkan sikap optimis kepada keluarga anak penderita
SN, keluarga harus memahami bahwa SN merupakan suatu penyakit kronis. Hal ini
merupakan konsep yang sulit bagi pasien beserta keluarganya, dan kegagalan untuk
memahami hal tersebut turut bertanggung jawab atas kurangnya ketaatan pada

regimen medis, serta bisa menyebabkan bergantinya dokter yang menanganai pasien.
Aktivitas
Biasanya anak dengan NS merupakan penentu konsentrasi aktifitas terbaik bagi
dirinya sendiri. Tirah baring tidak diperlukan, dan aktifita spenuh biasanya dapat

dilakukan kecuali terdapat edema signifikan yang mengganggu.


Imunisasi
Pada anak dengan SN yang berada dalam masa remisi, agen imunisasi rutin (tetanus,
difteri, campak, dan sebagainya) dapat memicu eksaserbasi. Dengan demikian,
imunisasi tersebut sebaiknya ditunda sampai anak telah mengalami remisi dan
berhenti terapi selama 6 bulan. Pencegahan ini mungkin perlu dihapus pada anak nonperespon atau yang sering kambuh, karena mereka berada pada resiko yang lebih
tinggi untuk infeksi pneumokokkus serta infeksi lain, dan vaksin pneumokokkus

mungkin akan berguna.


Penentuan protein urine
Pemantauan protein urine yang dilakukan sendiri merupakan bagian dari oengelolaan
medis yang sangat penting dan dapat dilakukan menggunakan dipstick atau metode
kekeruhan asam sulfosalisilat. Pengujian harus dilakukan setiap hari oleh anak
tersebut atau orang tuanya, dan urine yang paling tepat adalah urine pagi pertama.
Pengawasan ini terutama penting bila anak berada dalam masa remisi karena
memungkinkan dokter serta keluarga anak tersebut mendeteksi eksaserbasi sebelum
edema berulang dan untuk memulai kembali terapi dengan harapan mencegah edema.
Pemantauan harus diteruskan sampai anak mengalami remisi Selama 1 tahun; setelah
itu pemantauan yang diubah menjadi sekali seminggu hingga jangka waktu 5 tahun

cukup memadai.
Rekam medis

Perjalanan pengobatan dapat menjadi rumit sehingga perlu penyimpanan rekam


medic yang ermat. Orang tua harus diajarkan cara menyimpan rekaman (pemeriksaan
urine, obat yang diberikan, situasi yang berhubungan dnegan eksaserbasi), guna
melengkapi pernatatan yang dilakukan oleh dokter.
PROGNOSIS
Hasil akhir pada pasien SN dipengaruhi oleh sejumlah factor, tetapi factor terpenting
nampaknya adalah gambaran histologist glomerulus dan respon awal terhadap terapi steroid.
Pasien dengan MCNS biasanya berespon baik terhadap perjalanan awal pemberian prednisone
dan biasanya paling sering memperlihatkan respon seperti itu dalam 2-3 minggu terapi harian.
Kurang dari 10% anak yang ternyata menderita MCNS pada pemeriksaan mikroskop cahaya,
serta tidak mempunyai endapan immunoglobulin di mesangium melalui mikroskop
imunofluoresens, gagal berespon terhadap pengobatan awal. Pada pasien MCNS yang
mengalami perubahan IgM-mesangium terdapat angka respon awal yang cukup tinggi: 75-80%.
Sebaliknya, pada pasien dengan FSGS angka respon awal kurang lebih 50%, dan pada MPGN
<10%.
Oleh karena itu, untuk MCNS, <15% pasien gagal berespon dalam 8 minggu pertama
terapi. Untuk mereka yang berespon, perjalanan berikutnya berbeda-beda: sekitar 20%
mendapatkan remisi permanen, namun sekitar 80% pasien cenderung mengalami eksaserbasi
rekuren.
SUMBER: BUKU AJAR PEDIATRI RUDOLPH!!!