Anda di halaman 1dari 10

BAB.

I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia sangat
membutuhkan oksigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan oksigen selama
4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tak dapat diperbaiki dan
bisa menimbulkan kematian. Kalau penyediaan oksigen berkurang akan
menimbulkan kacau pikiran dan anoksia serebralis, misalnya orang bekerja pada
ruangan yang sempit, tertutup, ruang kapal, ketel uap, dan lain-lain. Bila oksigen
tidak mencukupi maka warna darah merahnya hilang berganti kebiru-biruan
misalnya yang terjadi pada bibir, telinga, lengan, dan kaki (disebut sianosis).
Jadi pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung
oksigen serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida
sebagai sisa dari oksigen keluar dari tubuh. Dalam paru-paru terjadi pertukaran zat
antara oksigen yang ditarik dari udara masuk ke dalam darah dan CO 2 dikeluarkan
dari darah secara osmosis.
B. Tujuan
Mengetahui resistensi dan jalan napas
Mengetahui aliran laminar dan turbulen pada pernapasan
Mengetahui elastisitas recoil paru
Mengetahui tonus otot pada bronkus
BAB. II
PEMBAHASAN
A. Resistensi Jalan Pernapasan

Aliran udara pada paru tidak hanya bergantung pada gradien tekanan, namun
juga resistensi jalur pernapasan yang ditimbulkan, sesuai dengan rumus F = P/R.
(F adalah laju aliran udara, delta P adalah perbedaan antara tekanan atmosfer dan
udara alveolus, dan R adalah resistensi saluran pernapasan yang ditentukan oleh
jari-jari).
Penentu utama resistensi terhadap aliran udara adalah jari-jari saluran
pernapasan. Pada sistem pernapasan yang sehat, jari-jari saluran pernapasan cukup
besar, sehingga resistensinya rendah. Dengan demikian, normalnya, gradien
tekanan merupakan faktor utama yang menentukan kecepatan aliran udara.
Gradien tekanan yang sangat kecil (1-2 mmHg) saja dapat menghasilkan laju
aliran udara masuk-keluar paru.
Simulasi parasimpatis akan menyebabkan kebutuhan aliran udara tidak tinggi,
sehingga menyebabkan kontraksi otot polos bronkiolus. Sebaliknya, simpatis akan
menyebabkan bronkodilatasi. Sehingga terjadi penurunan resistensi otot polos
Resistensi ini menjadi penting jika muncul berbagai penyakit. PPOM
merupakan penyakit yang memiliki resistensi saluran napas bawah yang tinggi,
sehingga pasiennya membutuhkan usaha ekstra untuk bernapas. Sementara, pada
asma, obstruksi yang terjadi pada jalan napas dapat disebabkan oleh kontraksi
berlebihan saluran pernapasan halus (spasme otot polos pada saluran juga dapat
diinduksi alergi), atau penyumbatan saluran napas oleh mukus dan peradangan
akibat histamin.

B. Tonus Otot Bronkus


Dinding bronkus dan bronkiolus terdiri dari otot. Di semua bagian trakea dan
bronkus yang tidak ditempati oleh lempeng tulang rawan,dinding terutama terdiri
dari otot polos.Dinding bronkiolus hampir seluruhnya terdiri dari otot polos,
kecuali bronkiolus paling terminal (bronkiolus respiratorik) yang hanya memiliki
beberapa serat otot polos. Banyak penyakit paru obstruktif terjadi akibat
penyempitan bronkus kecil dan bronkiolus, sering karena kontraksi berlebih otot
polos itu sendiri.
Resistensi terbesar terhadap aliran udara terjadi di bronkus besar, bukan di
bronkiolus terminal yang kecil. Penyebab tingginya resistensi ini adalah bahwa
terdapat relatif sedikit bronkus dibandingkan sekitar 65.000 bronkiolus terminal
paralel, yang harus dilalui oleh udara dalam jumlah sedikit.
Epineprin

dan

Norepinefrin

menyebabkan

dilatasi

selama

inspirasi

bronkiolus.kontrol langsung bronkiolus oleh serat saraf simpatis relative lemah


karena hanya sedikit serat kebagian setral paru. Namun , percabangan bronkus
terpajan ke norephineprin dan epineprin darah yang dikeluarkan oleh medulla
kelenjar adrenal. Kedua hormone ini, terutama epineprin karena lebih besarnya
stimulusnya, menyebabkan dilatasi bronkus.
Sistem

saraf

parasimpatis

menyebabkan

kontriksi

selama

ekspirasi

bronkiolus.beberapa serat saraf parasimpatis yang berasl dari saraf fagus


menembus parenkim paru. Saraf ini mengeluarkan asetilkolin, menyebabkan
kontriksi ringan sampai sedang bronkiolus.
3

Rangsangan pada reseptor sensorik di saluran napas oleh iritan dan zat kimia
seperti sulfur dioksida menimbulkan refleks bronkokonstriksi yang dihantarkan
melalui jaras kolinergik. Bronkokonstriksi juga dapat ditimbulkan oleh udara
dingin dan juga aktivitas jasmani, mungkin karena peningkatan respirasi saat
berolahraga akan mendinginkan saluran napas. Tonus bronkus memiliki irama
sirkadian, yaitu konstriksi maksimal terjadi sekitar pukul 6.00 pagi dan dilatasi
maksimal terjadi sekitar pukul 6.00 sore.

C. Sifat Elastik Paru


Sifat elastik paru disebabkan oleh adanya serat-serat jaringan ikat elastik dan
tegangan permukaan alveolus. Elastisitas ini melibatkan dua konsep yang saling
berkaitan: recoil elastik dan compliance.

Recoil elastik mengacu pada seberapa mudah paru kembali ke


bentuknya setelah diregangkan. Sifat ini menentukan kembalinya paru
ke volume prainspirasinya sewaktu otot-otot inspirasi melemas di akhir

respirasi.
Compliance mengacu pada seberapa besar usaha yang diperlukan untuk
meregangkan atau mengembangkan paru. Spesifiknya, compliance
adalah ukuran tingkat perubahan volume paru yang ditimbulkan oleh
gradien tekanan transmural tertentu. Dengan kata lain, semakin rendah
compliance paru, semakin besar gradien tekanan transmural yang
dibutuhkan untuk mengembangkan paru secara normal. Gradien tekanan

transmural dapat dicapai dengan membuat tekanan intrapleura lebih


subatmosferik, seperti dengan ekspansi dinding toraks yang lebih besar
serta kontraksi otot inspirasi yang lebih kuat. Compliance dapat
menurun karena beberapa faktor, seperti digantikannya jaringan paru
normal oleh jaringan ikat fibrosa akibat inhalasi serta serat asbestos atau
iritan serupa.
Sifat elastik paru bergantung pada dua faktor: jaringan ikat paru yang sangat
elastik dan tegangan permukaan alveolus. Jaringan ikat paru mengandung
sejumlah besar serat elastin. Selain itu, jaringan ini tersusun dalam struktur yang
memperkuat serat elastin tersebut, seperti benang pada selembar kain rajutan yang
dapat diregangkan.

D. Kerja Pernapasan
Otot pernapasan melakukan kerja untuk meregangkan jaringan elastis dinding
dada dan paru (kerja elastis), menggerakkan jaringan non-elastis (tahanan
viskositas), serta menggerakkan udara melalui jalan pernapasan. Komponen yang
menimbulkan kerja pernapasan selama inspirasi tenang terdiri dari komponen
nonelastik (35%) dan elastik (65%). Kerja nonelastik terdiri atas tahanan
viskositas (7%) dan tahanan saluran napas (28%).
Karena tekanan dikali volume memiliki besaran yang sama dengan kerja
(gaya x jarak), kerja pernapasan dapat dihitung dari kurva tekanan relaksasi.
Intinya, kerja elastik yang dibutuhkan untuk mengembangkan seluruh sistem
5

pernapasan lebih kecil dibanding jumlah kerja yang dibutuhkan untuk


mengembangkan jaringan paru saja, karena sebagian energi kerja berasal dari
energi elastik yang tersimpan di rongga dada.
Selama ventilasi tenang, tahanan gesekan akibat gerakan udara cukup relatif,
namun cukup untuk menimbulkan perubahan volume paru selama inspirasi dan
ekspirasi, sehingga terbentuk suatu lengkung histeresis pada diagram perubahan
tekanan dan volume selama inspirasi.
Perkiraan kerja total selama pernapasan tenang berkisar antara 0,3 sampai 0,8
kg-m/menit. Nilai ini meningkat dengan jelas selama aktivitas fisik, namun
kebutuhan energi untuk pernapasan pada individu normal kurang dari 3%
kebutuhan energi total selama aktivitas fisik.
Otot pernapasan menunjukkan hubungan panjang-tegangan seperti halnya otot
rangka lain, dan bila otot pernapasan teregang secara berlebihan, kekuatan
kontraksinya akan berkurang. Otot-otot ini juga dapat menjadi lelah dan
mengalami kegagalan pemompaan dan inadekuasi ventilasi.
E. Aliran Laminer dan Turbulen dalam Fluida
Fluida adalah zat yang dapat mengalir termasuk didalamnya zat cair dan
gas.Berdasarkan karakteristik struktur internal aliran, aliran fluida dapat dibedakan
menjadi dua macam yaitu aliran laminer dan turbulen.
Sifat-sifat fluida ideal berdasarkan prinsip Bernouli :

Fluida mengalir tanpa ada gesekan dalam (tidak mempunyai

viskositas)
Fluida mengalir secara stationer dalam hal kecepatan, arah maupun

besarnya
Fluida mengalir tidak termampatkan melalui sebuah pembuluh

(volumenya tidakberubah karena tekanan)


Fluida mengalir secara Streamline, artinya garis alirannya membentuk
kurva yang tetap berkesinambungan.

Aliran Laminer adalah aliran fluida yang bergerak dengan kondisi lapisanlapisan (lanima-lamina) membentuk garis-garis alir yang tidak berpotongan satu
sama lain. Hal tersebut d tunjukkan oleh percobaan Osborne Reynold. Pada laju
aliran rendah, aliran laminer tergambar sebagai filamen panjang yang mengalir
sepanjang aliran. Aliran ini mempunyai Bilangan Reynold lebih kecil dari 2300.

Aliran Turbulen adalah aliran fluida yang partikel-partikelnya bergerak


secara acak dan tidak stabil dengan kecepatan berfluktuasi yang saling interaksi.
Akibat dari hal tersebut garis alir antar partikel fluidanya saling berpotongan. Oleh
Osborne Reynold digambarkan sebagai bentuk yang tidak stabil yang bercampur
dalam waktu yang cepat yang selanjutnya memecah dan menjadi tak terlihat.
Aliran turbulen mempunyai bilangan reynold yang lebih besar dari 4000. Aliran
yang mempunyai bilangan reynold antara 2300 4000 ada yang menyebut sebagai
7

aliran dalam keadaan transisi. Perubahan dari kondisi laminer menuju aliran
turbulen.

Mekanisme Paru-Paru
Udara merupakan Gas yang termasuk zat alir/fluida. Komponen udara terdiri
dari N2, O2, H2O dsb. Udara yang dihirup pada waktu inspirasi terdiri dari :
sekitar 80 % N2, 20 % O2, dan 0,04% CO2(kadar ini dapat diabaikan) Udara
yang dikeluarkan lewat pernapasan pada waktu ekspirasi terdiri dari : sekitar 80%
N2, 16 % O2, dan 4 % CO2.
Paru-paru merupakan komponen utama pernapasan yang diselimuti selaput
yang disebutpleura viseralis yang tumbuh menjadi satu dengan jaringan paruparu.Di luar pleura viseralis terdapat selaput pleura parietalis. Ruang antara
viseralis dan parietalis disebut ruang intrapleural berisi cairan yang tipis. Saat
menarik nafas, ruang dada berkembang dan ikut berkembang pula pleura
viseralisdan pleura parietalis, sedangkan tekanan dalam ruangan intrapleural akan
mengalami penurunan.

Pada saat inspirasi volume paru paru meningkat sedangkan tekanan


intrapleuramengalami penurunan

Pada waktu inspirasi jumlah volume udara dalam paru paru meningkat
sedangpada waktu ekspresi jumlah volume udara paru paru menurun.

BAB. III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aliran udara pada paru tidak hanya bergantung pada gradien tekanan, namun
juga resistensi jalur pernapasan yang ditimbulkan.Simulasi parasimpatis akan
menyebabkan kebutuhan aliran udara tidak tinggi, sehingga menyebabkan
kontraksi otot polos bronkiolus. Sebaliknya, simpatis akan menyebabkan
bronkodilatasi. Sehingga terjadi penurunan resistensi otot polos.

Epineprin dan Norepinefrin menyebabkan dilatasi selama inspirasi bronkiolus


sedangkan Sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontriksi selama ekspirasi
bronkiolus.Bronkokonstriksi juga dapat ditimbulkan oleh udara dingin dan juga
aktivitas jasmani, mungkin karena peningkatan respirasi saat berolahraga akan
mendinginkan saluran napas.
Sifat elastik paru (1) Recoil elastik mengacu pada seberapa mudah paru
kembali ke bentuknya setelah diregangkan.Sifat ini menentukan kembalinya paru
ke volume prainspirasinya sewaktu otot-otot inspirasi melemas di akhir respirasi.
(2) Compliance mengacu pada seberapa besar usaha yang diperlukan untuk
meregangkan atau mengembangkan paru.
Aliran Laminer adalah aliran fluida yang bergerak dengan kondisi lapisanlapisan (lanima-lamina) membentuk garis-garis alir yang tidak berpotongan satu
sama lain.Aliran Turbulen adalah aliran fluida yang partikel-partikelnya bergerak
secara acak dan tidak stabil dengan kecepatan berfluktuasi yang saling interaksi.
B. Saran
Kepada yang membaca makalah ini kami harapkan dapat dengan baik
mengerti apa yang telah kami bahasa, dan jika terdapat kekurangan kami meminta
bantuan untuk menambahkankan. Semoga apa yang kami bahas dapat bermanfaat
bagi perkuliahan system pernapasan.

10