Anda di halaman 1dari 20

38

BAB III
NERACA MASSA SISTIM DENGAN REAKSI KIMIA
3.1 Neraca Massa Komponen Sistim Reaksi Tunggal
Pada sistim dengan reaksi kimia akan melibatkan konversi molekul
membentuk molekul lain, atau penyusunan suatu atom dalam suatu molekul menjadi
molekul lain. Akibatnya laju alir molar masuk dan keluar dari masing-masing
komponen dalam sistim dengan reaksi kimia tidak selalu setara. Sehingga:
N sin N sout

(3.1)

tidak selamanya berlaku.


Perbedaan antara laju alir keluar dengan laju alir masuk merupakan laju
pembentukan molar komponen S (Rs).
R s N sout N sin

(3.2)

Fsout Fsin
Ms

(3.3)

Rs

dimana:
Ms = Berat molekul komponen S
Ns = Laju alir molar komponen S
Fs = Laju alir massa komponen S
Contoh 3.1:
Pada proses sinambung sintesa amoniak, 40 mol/jam H 2 dan 12 mol/jam N2 diumpankan ke sebuah
reaktor berkatalis untuk menghasilkan keluaran dengan laju 8 mol N 2/jam, 28 mol H2/jam dan 8 mol
NH3/jam. Berapakah laju produksi masing-masing komponen apabila reaksi yang terjadi adalah
N2 + 3H2

2 NH3

Penyelesaian:
out
in
RNH 3 N NH
N NH
8 0 8 mol/jam
3

out
in
RN 2 N N
NN
8 12 4 mol/jam
2

out
in
RH 2 N H
NH
28 40 12 mol/jam
2

39
Untuk reaktan laju produksi bernilai negatif, sedangkan untuk produk bernilai positif.

Dengan memperkenalkan laju pembentukan komponen, neraca bahan dalam


sistim dengan reaksi kimia menjadi:
N sout N sin Rs

(3.4)

Fsout Fsin M s Rs

(3.5)

atau:

Dari rumusan di atas terlihat bahwa dalam sistim dengan reaksi kimia, satu variabel
yaitu laju produksi (Rs) diperlukan untuk masing-masing komponen. Menurut Hukum
Dalton, laju produksi atau laju penguraian tidak independen melainkan proporsional
satu dengan lainnya menurut koefisien stoikiometri reaksi. Apabila laju satu reaksi
ditentukan, maka laju reaksi komponen lain dapat dihitung.
Contoh 3.2:
Dari stoikiometri reaksi sintesa amoniak
N2 + 3H2

2 NH3

dapat ditentukan:

RNH 3
RN 2

RH 2

2
,
1

3
,
RN 2 1

RNH 3
RH 2

2
3

Misalkan laju alir umpan N 2, H2 dan NH3 ditentukan berturut-turut sebesar 12, 40 dan 0 mol/jam dan
laju konsumsi N2 adalah sebesar 4 mol/jam, tentukan laju alir masing-masing produk.
Penyelesaian:
Laju produksi NH3 dan konsumsi H2 dapat dihitung dari laju konsumsi N2:

RNH 3 2( RN 2 ) = 8 mol jam


RH 2 3( R N 2 ) = 12 mol/jam
Maka laju alir masing-masing produk:
out
in
N NH
N NH
RNH 3 0 8 8 mol/jam
3

out
in
NN
NN
RN 2 12 4 8 mol/jam
2

out
in
NH
NH
RH 2 40 12 28 mol/jam
2

40
Dari contoh di atas, dengan kehadiran sebuah reaksi kimia yang melibatkan S
komponen, dapat disimpulkan bahwa:
1. Jika salah satu laju produksi komponen diketahui, telah mencukupi untuk
menentukan laju produksi sebanyak (S-1) komponen yang lain.
2. Persamaan neraca massa, disamping variabel alur alir, mengandung satu variabel
independen tambahan, yaitu laju produksi salah satu komponen yang dipilih
sebagai acuan.
3.1.1 Konsep Laju Reaksi
Dalam merumuskan neraca komponen lebih diinginkan menggunakan laju
produksi yang bukan merupakan laju reaksi salah satu komponen yang dipilih sebagai
acuan.
Contoh 3.3:
Tinjau ulang Contoh 3.2:

RNH 3
RN 2

RH 2

2
,
1

3
,
RN 2 1

RNH 3
RH 2

2
3

atau:

RNH 3
2

RH 2
3

RN 2
1

dari Contoh 3.2 diperoleh RNH 3 = 8 mol/jam, RH 2 = 12 mol/jam sehingga:

RNH 3 / 2 = 8/2 = 4,
RH 2 / 3 = 12/3 = 4, dan
RN 2 / 1 = 4/1 = 4

Konsep laju reaksi dapat digeneralkan dengan memperkenalkan sebuah notasi


umum untuk koefisien stoikiometri sebuah reaksi kimia s. Koefisien stoikiometri ini
berharga negatif untuk reaktan dan berharga poositif untuk produk. Laju reaksi r dapat
didefinisikan sebagai:

Rs
s

s = 1, 2,, S

(3.6)

41
Dari definisi di atas, laju produksi komponen S yang terlibat dalam suatu reaksi dapat
diperoleh dari persamaan:
Rs s r

s = 1, 2,, S

(3.7)

Sehingga persamaan neraca mol dan massa komponen (Pers. 3.4 dan 3.5) menjadi:
N sout N sin s r

s = 1, 2,, S

(3.8)

Fsout Fsin s M s r

s = 1, 2,, S

(3.9)

dan

Dalam bentuk umum dapat disimpulkan bahwa dalam menyusun neraca komponen
sistim dengan satu reaksi kimia, hanya diperlukan sebuah variabel tambahan yaitu laju
reaksi r.
Contoh 3.4:
Tinjau kembali Contoh 3.2 dengan laju N2, H2 dan NH3 berturut-turut adalah 12, 40 dan 0 mol/jam
diumpankan ke sebuah reaktor sintesa amoniak melalui reaksi:
N2 + 3 H2

2 NH3

Apabila laju alir molar N2 keluar reaktor sebesar 8 mol/jam, hitung laju alir molar komponen yang lain.
Penyelesaian:
Dari persamaan reaksi diperoleh:

N 2 1,

H 2 3,

NH 3 2

Neraca mol komponen:


out
in
NN
2 N N 2 r 12 r 8

(1)

N Hout2 N Hin 2 3r 40 3r

(2)

out
in
N NH
3 N NH 3 2r 0 2r

(3)

dari Pers. (1) diperoleh:

r = 4 mol/jam.

dari Pers. (2) diperoleh:

out
NH
2 40 - 3(4) = 28 mol/jam

dari Pers. (3) diperoleh:

out
N NH
3 0 + 2(4) = 8 mol/jam

42
Dari contoh di atas, harga numerik dari laju reaksi, meskipun independen dari
setiap komponen dalam reaksi tetapi juga sebagai fungsi dari nilai koefisien
stoikiometri reaksi.
Contoh 3.5:
Misalkan perhitungan pada Contoh 3.4 diulang menurut reaksi:
N2 + 3/2 H2

NH3

Penyelesaian:
Dalam kasus ini:

1
N2 ,
2

3
H2 ,
2

NH 3 1

Sehingga:
N Nout2 12 1 / 2 r 8

r 8 mol / jam

out
NH
2 40 3 / 2 r
out
N NH
3 0r

r yang diperoleh dari contoh ini = 8 mol/jam, 2 kali harga r pada Contoh 3.4, akan tetapi:

N Hout2 40 3/2 (8) = 28 mol/jam


out
N NH
3 0 + 1 (8) = 8 mol/jam

(sama dengan Contoh 3.4)

(sama dengan Contoh 3.4)

Dari contoh ini dapat disimpulkan bahwa:


1.

Meskipun harga r tergantung pada harga koefisien stoikiometri, laju keluaran


tidak berubah karena harganya hanya tergantung pada perbandingan koefisien
stoikiometri.

2.

Pada persamaan neraca komponen (Pers. 3.8) atau (Pers. 3.9) bahwa laju
reaksi r biasanya berperan sebagai variabel intermediate (antara) di dalam
perhitungan.

3.

Setelah r diketahui dan dengan mengetahui salah satu laju aliran masuk atau
keluar, maka laju alir komponen lain yang tidak diketahui dapat dihitung.

4.

Dalam kinetika reaksi r seringkali dihitung dari temperature, tekanan,


komposisi dan profil aliran bahan di dalam reaktor, tidak tergantung pada
persamaan neraca komponen.

43

3.1.2 Konversi dan Reaktan Pembatas


Suatu hal yang lazim dan umum digunakan untuk mengukur keberlangsungan
reaksi kimia adalah dengan konversi komponen. Konversi reaktan S (XS) didefinisikan
sebagai:
Xs

N sin N sout
N sin

(3.10)

Konversi suatu komponen, memberikan hubungan antara laju alir masuk dan
keluar dari komponen yang bersangkutan. Hubungan ini dapat digunakan untuk
menghitung laju reaksi:
N sout N sin s r

(3.11)

dan dari definisi konversi komponen S:


N sin X s N sin N sout

(3.12)

Dengan mensubstitusikan ke dua persamaan di atas diperoleh:

N sin X s
s

(3.13)

Dari Pers. (3.13) terlihat bahwa apabila konversi suatu komponen diketahui,
maka laju reaksi dapat dihitung dan perhitungan neraca bahan dapat diselesaikan
dengan laju tersebut.
Contoh 3.6:
Proses modern untuk produksi asam nitrat didasarkan pada oksidasi amoniak melalui reaksi Haber.
Tahap pertama reaksi adalah oksidasi NH3 pada katalis platina untuk menghasilkan NO melalui reaksi:
4 NH3 + 5 O2

4 NO + 6 H2O

Pada kondisi reaksi tertentu, dengan laju umpan 40 mol/jam NH3 dan 60 mol/jam O2 diperoleh konversi
NH3 sebesar 90%. Hitung laju aliran keluar reaktor untuk semua komponen.

44
Penyelesaian:
Dari Pers. 3.13: r

N NH 3in X NH 3 40 0,9

9 mol/jam
NH 3
4

Laju alir komponen keluar reaktor adalah:


out
in
N NH
3 N NH 3 4r 40 4 9 4 mol/jam
out
in
NO
2 N O 2 5r 60 5 9 15 mol/jam
out
in
N NO
N NO
4r 0 4 9 36 mol/jam
out
in
NH
2O N H 2O 6r 0 6 9 54 mol/jam

Kesimpulan yang dapat diambil dari contoh soal di atas:

Konversi didefinisikan hanya untuk reaktan tertentu.

Apabila konversi tidak disebutkan atas dasar reaktan tertentu, maka konversi
didasarkan pada reaktan pembatas (limiting reactan).

Reaktan pembatas didefinisikan sebagai reaktan yang terlebih dahulu habis


bereaksi (terbatas) dengan berlangsungnya reaksi.
Tinjau neraca komponen untuk reaktan S:
N sout N sin s r

(3.14)

Komponen S merupakan reaktan dengan nilai s berharga negatif, maka laju reaksi
pada saat reaksi selesai:
N sout 0

(3.15)

Sehingga persamaan laju reaksinya:

N sin X s
s

(3.16)

Dari persamaan di atas yang menjadi reaktan pembatas adalah reaktan yang memiliki
nilai perbandingan N sin / s yang paling kecil.
Contoh 3.7:

45
Tinjau kembali Contoh 3.6, apabila umpan amoniak dan oksigen yang diumpankan ke reaktor dengan
laju mol yang sama (equimolar) = 100 mol/jam diperoleh konversi 80%. Hitung laju aliran keluar
reaktor semua komponen.
Penyelesaian:
Konversi pada contoh soal ini tidak didasarkan pada salah satu reaktan, karena itu harus dianggap atas
dasar reaktan pembatas.
in
NO
2 50 10
O2
5
in
N NH
3 50 12,5
NH 3
4

NH3 = 50 mol/jam
O2 50 mol/jam

4NH3 + 5O2

4NO + 6H2O

NH3
NO
H 2O

Gambar 3.1 Blok diagram proses oksidasi amoniak


Sebagai reaktan pembatas adalah O2, karena memiliki nilai:

N Oin2
N in
NH 3
O 2 NH 3
Dari Pers. 3.13, laju reaksi:

r
maka:

in
X O2 NO
2 0,8 50 8 mol/jam
O2
5

out
in
N NH
3 N NH 3 4r 50 4 8 18 mol/jam
out
in
NO
2 N O 2 5r 50 5 8 10 mol/jam
out
in
N NO
N NO
4r 0 4 8 32 mol/jam
out
in
NH
2O N H 2O 6r 0 6 8 48 mol/jam

3.1.3 Analisa Derajat Kebebasan


Seperti telah dijelaskan pada sub Bab 2.2.1 bahwa analisis derajat kebebasan
pada dasarnya merupakan suatu tertib mekanisme untuk menghitung semua variabel,
persamaan neraca, dan hubungan-hubungan lain yang berkaitan dengan persoalan
yang dikaji. Derajat kebebasan dari suatu sistim neraca massa dengan reaksi kimia
juga didefinisikan sebagai mana yang terdapat dalam Pers. (2.13).

46
1.

Apabila derajat kebebasan positif, dikatakan bahwa rumusan permasalahannya


kurang terdefinisi.

2.

Apabila derajat kebebasan negatif, memiliki arti bahwa rumusan persoalannya


kelebihan spesifikasi.

3.

Untuk derajat kebebasan nol, dikatakan bahwa rumusan persoalan telah tepat
terspesifikasikan, artinya jumlah persamaan tepat sama dengan jumlah variabel
yang tidak diketahui.
Berdasarkan persamaan neraca komponen untuk semua komponen yang tidak

terlibat dalam reaksi maka s 0. Sebuah persamaan neraca dapat dituliskan untuk
masing-masing komponen dan penjumlahan semua komponen S merupakan neraca
total.
S

N out N in r s
s 1

(3.17)

atau:
S

F out F in r s M s
s 1

(3.18)

Neraca massa total dapat ditambahkan pada neraca komponen, sehingga


terdapat (S+1) persamaan neraca dan hanya S buah persamaan yang independen.

Jumlah persamaan independen yang tersedia untuk penyelesaian sama dengan


jumlah komponen.

Dalam sistim dengan satu reaksi kimia, pada perhitungan derajat kebebasan
harus ditambahkan satu variabel tambahan yaitu r (laju reaksi kimia).

Contoh 3.8:
Untuk membuat gas sintesa (H2 dan N2) dengan komposisi 75% H2 dan 25% N2 dilakukan dengan cara
mencampur producer gas (78% N2, 20% CO, 2% CO2) dengan water gas (50% H2, 50 % CO). Gas
CO yang bersifat dapat meracuni katalis dihilangkan dengan mereaksikan campuran gas dengan kukus
untuk membentuk CO2 dan H2. Reaksi yang terjadi:

CO + H2O

CO2 + H2

CO2 yang terbentuk selanjutnya dihilangkan dengan cara penyerapan dengan media penyerap yang
sesuai. Komposisi dinyatakan dalam % mol. Kukus diumpankan ke dalam reaktor dengan laju yang

47
tepat agar semua CO terkonversi. Tentukan perbandingan laju alir producer dan water gas yang harus
dicampurkan dan laju alir di semua alur alir.
Penyelesaian:
Neraca komponen:
CO

: 0 = 0,2N1 + 0,5N2 - r

H2O

: 0 = N3 - r

CO2

: N4 = 0,02N1 + r

H2

: 0,75N5 = 0,5N2 + r
Water gas
H2 = 50%
CO =50%
2

Producer gas
N2 = 78%
CO = 2%
CO2 =20%

4
CO + H2O

CO2

CO2 + H2

Gas sintesa
H2 = 75%
N2 = 25%

Kukus
(H2O)
Gambar 3.2 Blok diagram proses penghilangan CO
Ambil dasar perhitungan pada aliran 1 = 100 mol/jam. Gas N2 adalah gas inert (gas yang tidak terlibat
dalam reaksi) sehingga:
NN21 = NN25 = (0,78) (100) = 78 mol/jam
XN25N5 = NN25
0,25N5 = 78
N5 = 312 mol/jam
Penjumlahan neraca komponen CO dan H2 diperoleh:
0,75N5 = 0,2N1 + N2
N2 = 0,75N5 0,2N1
= (0,75)(312) 0,2(100) = 214 mol/jam
Dari neraca CO:
r = 0,2N1 + 0,5N2
= 0,2(100) + 0,5(214) = 127 mol/jam
Dari neraca H2O:
N3 = r = 127 mol/jam
Dari neraca CO2:
N4 = 0,02(100) + 127 = 129 mol/jam
Sehingga:
N1/N2 = 100/214 = 0,467

48

Contoh 3.9:
Untuk memastikan konversi CO benar-benar sempurna, sehingga keracunan katalis dapat dihindari,
reaksi berikut ini:
CO + H2O

CO2 + H2

biasanya dilakukan pada dua buah reaktor unggun tetap yang masing-masing mengandung jenis katalis
yang berbeda. Campuran producer gas dengan komposisi 78% N2, 20% CO dan 2% CO2 dan water gas
yang terdiri dari 50% H2 dan 50% CO direaksikan dengan kukus untuk mendapatkan gas hasil yang
mengandung H2:N2 = 3:1. Apabila laju alir kukus diatur sehingga 2 kali laju gas kering total (producer
gas + water gas) dan jika 80% konversi terjadi pada reaktor pertama. Hitung komposisi produk antara.
Penyelesaian:

Pada Reaktor 1 dan 2 terjadi reaksi yang sama, sehingga untuk masing-masing reaktor terlibat 1
reaksi, sehingga keseluruhan proses harus melibatkan kedua variabel tersebut.

Dalam mengkaji neraca keseluruhan, keseluruhan sistim dipandang segagai reaktor tunggal dimana
reaksi itu terjadi. Neraca keseluruhan hanya mengandung satul laju reaksi yang terlibat.

Masukan lain sama dengan menentukan derajat kebebasan pada sistim tanpa reaksi kimia.

N2 = 78%
CO = 20%
CO2 = 2%

Reaktor 1
2

H2 = 50%
CO = 50%

5
Reaktor 2

N2
H2
CO
CO2
H 2O

3
H2O (g)

N2
H2
CO2
H 2O

Gambar 3.3 Blok diagram proses penghilangan CO dua tahap


Tabel DK
Varibel alur-alir (+ reaksi)
Neraca independen
Variabel independen yang ditetapkan
- Komposisi
Hubungan pendukung
Kukus berlebih
Konversi
Perbandingan
H2:N2
Basis perhitungan
DK

Reaktor 1
12
5

Reaktor 2
10
5

Proses
17
10

Keseluruhan
11
5

1
1
-

1
1
1

1
1

-10
2

+ -

-6
2

-17
0

+ 1

-11
0

49
Dari tabel derajat kebebasan di atas, proses telah terspesifikasikan dengan lengkap dan persoalan dapat
diselesaikan dari neraca keseluruhan. Dengan meletakkan dasar perhitungan pada aliran 1 dengan laju
100 mol/jam, persamaan neraca komponen adalah:
N2

5
: NN
2 (0,78)(100) = 78 mol/jam

CO

: 0 = (0,2)(100) + 0,5 N2 - r

H2O

5
3
: N H 2O N r

CO2

5
: N CO
2 0,02(100) + r

H2

5
2
NH
2 0,5 N r

Perbandingan H2:N2 pada aliran keluar sistim = 3:1


5
5
NH
2 3 N N 2 3 78 234 mol/jam

Kukus umpan = 2 x total gas kering umpan


N3 = 2(N1 + N2)
Eliminasi r dari penjumlahan neraca H2 dan CO.
5
2
NH
2 20 N

N 2 234 20 214 mol/jam

Dari neraca CO diperoleh:


0 = 0,2 (100) + 0,5 (214) r
r = 20 + 107 = 127 mol/jam
(r keseluruhan) = 127 mol/jam
Dari persamaan (1):
N3 = 2 (100 + 214) = 628 mol/jam
Dari neraca CO2:
5
N CO
2 127 129 mol/jam
2

Dari neraca H2O:


5
NH

2O

628 127 501 mol/jam

DK pada Reaktor 1 = 2, sehingga perhitungan selanjutnya dipilih pada Reaktor 1.


Konversi pada Reaktor 1= 0,8
in
N CO
0,2100 0,5 214

127
CO
1
in
NH
501
2O

501
H 2O
1

Maka sebagai reaktan pembatas adalah CO, sehingga:

r1

in
X CO N CO
0,8 0,2 100 0,5 214
CO

= 101,6 mol/jam (pada Reaktor 1)

(1)

50
Dengan diperolehnya r pada Reaktor 1, maka laju alir komponen yang keluar Reaktor 1 dapat dihitung
dari neraca komponen.
N2

4
: NN
2 (0,78)(100) = 78 mol/jam

CO

4
: N CO
(0,2) 100 0,5 214 r 25,4 mol/jam

H2O

4
3
: N H 2O N r 628 101,6 526,4 mol/jam

CO2

4
: N CO2 0,02 100 r 2 101,6 103,6 mol/jam

H2

4
2
: NH
2 0,5 N r 0,5 214 101,6 208,6 mol/jam

4
4
4
N4 NN
2 N CO N H

2O

4
4
N CO
NH
2 942 mol/jam
2

Komposisi (fraksi mol) aliran 4 adalah:


4
XN
2 78 / 942 0,083
4
X CO
25,4 / 942 0,027
4
XH

2O

526,4 / 942 0,559

4
X CO
103,6 / 942 0,11
2

4
xH
2 208,6 / 942 0,221

Dari neraca CO pada reaktor 2:


5
4
N CO
N CO
r2

0 = 25,4 r

= 25,4 mol/jam

r1 = 101,6 mol/jam
r keseluruhan = 127 mol/jam

Berdasarkan hubungan di atas dapat disimpulkan bahwa laju reaksi


keseluruhan merupakan jumlah dari laju reaksi pada masing-masing reaktor.
Catatan: Apabila dalam sistim yang terdiri dari beberapa unit terdapat sebuah reaksi
yang sama dalam beberapa unit, maka laju reaksi keseluruhan sistim
merupakan jumlah laju reaksi pada masing-masing unit.
3.2 Neraca Massa Komponen Sistim Reaksi Kimia Banyak.
3.2.1 Tingkat Perolehan
Konversi untuk sistim dengan multi reaksi:

51
R

Xs

sr rr

(3.19)

r 1

N sin

Perolehan fraksional (Ypq) produk p dari reaktan q didefinisikan sebagai rasio laju
produksi netto (p) dengan laju produksi yang mungkin diperoleh jika seluruh laju
pengurangan reaktan q semuanya terkonversi menjadi p saja.

Y pq

Rp

(3.20)

R max
p

Rpmax = laju produski maksimum produk p dari reaktan q.


Jika produk p diharapkan keluar proses. Yield mendekati 100% menunjukkan bahwa
semua reaktan terkonversi menjadi produk yang diinginkan. Yield lebih kecil 50%
menunjukkan banyak terbentuk reaksi samping.
Contoh 3.10:
Polyglycol diproduksi melalui proses hidrasi katalitik oksida etilen dengan penambahan oksida
berturut-turut menghasilkan glycol
Reaksi yang terjadi:
H2O + C2H4

C2H4(OH)2

C2H4(OH)2 + C2H4O (C2H4OH)2O


(C2H4OH)2O + C2H4O (C2H3OH)3 (H2O)
Dispersikan 100 mol/jam etilen oxida bereaksi sempurna dengan kelebihan H 2O 10 moll/jam, mono 30
mol/jam, didalam 10 mol/jam glycol diperoleh. Tentukan yield diglycol dari oksida.
Penyelesaian:
Jika tidak ada digycol diumapankan ke reaktor, laju produksi diglycol 30 mol/jam. Jika 100 mol oxida
habis digunakan untuk diproduksi diglycol saja. Kemudian laju produksi digycol seharusnya 50
mol/jam. Untuk mengkonversi ini, mari cek r1-r2-r3 -ke tiga reaksi diatas untuk ditabelkan.
Kemudian jika laju keluaran mono-and diglycol dibuat nol diperoleh:
Neraca oksida:

0 = 100-r1-r2-r3

Neraca mono:

0 = 0- r1-r2

Neraca tri:

0 = 0+ r3

Dari neraca ini


r3 = 0 dan r1= r2 = 50 mol/jam
akibatnya jika laju produksi diglycol diberikan Rdi = r2-r1
ini megikuti:

52
Rdimax = 50 mol/jam
Jadi: yield diglycol dari oxida adalah:
Y = 30/50 = 0,6 atau 60%
Dalam berbagai aplikasi, yield sebagai fungsi reaktan mula-mula. Sebagai contoh: yield produk dapat
mengikat sebanding dengan pengurangan reaktan. Akibatnya kedua quantitas ini menggambarkan
ferformance reaktor dimana reaksi ganda terjadi.

Contoh 3.11:
Etylen oksida yang digunakan untuk memproduksi glycol dibuat melalui oksidasi parsial etilen dengan
udara berlebih pada katalis perak. Reaksi utamanya:
2C2H4 + O2

2C2H4O

Sangat disayangkan, etylen juga dapat teroksidasi sempurna membentuk CO2 dan H2O melalui rekasi:
C2H4 + 3O2

2CO2 + 2H2O

Jika umpan mengandung 10% ethylen dan konversi ethylen 25%, 80% yield oksida diperoleh dari
reaktan ini. Tentukan komposisi aliran keluaran reaktor?
Penyelesain:
C2H4O
CO2
H2O
C2H4
O2
N2

C2H4 10%
O2
N2
Reaktor katalitik

Disini terdapat dua reaksi dan 2 laju reaksi. Ada 5 komponen yang terlibat dalam proses ini dan 1inert
(N2), sehingga ada 6 neraca. Karena tidak ada laju alir yang ditetapkan, maka basis untuk perhitungan
dapat ditentukan secara bebas.
Derajat kebebasan:
Jumlah variabel

9+2

Jumlah persa. neraca

Jumlah komposisi

Jumlah hubungan pendukung

Basis

1
- 11

Derajad kebebasan
Diasumsikan basis perhitungan 1000 mol/jam umpan, maka:
Dari komposisi masuk:
Nin C2H4 = 0,1 (1000) = 100 mol/jam
Sisa = 1000-100= 900 mol/jam umpan
21% dan 79%, maka:

53
NinO2 = 0,21 (900) = 189 mol/Jam
NinO2 = 0,79 (900) = 189 mol/Jam
Jika konversi ditetapkan 25%, itu mengikuti:
0,25 =

N in C2H4 - N out C2H4


N in C 2 H 4

0,25 = (Nin C2H4) Nin C2H4


NoutC2H4 = 100 0,25 N1 C2H4
Nout C2H4 = 100 25
V=

75 mol/Jam

Yield ditentukan = 80 %
Jadi: 0,8 =

Re 2 H 4 O
Re 2 Max H 4 O

N Out C 2 H O N In C 2 H 4
Re Max H 4O

Maksimum laju produksi C2H4 dihasilkan jika selama 25 mol/jam C2H4 yang dimonversi seluruhnya
membentuk oksida, Jika tidak terbentuk CO2 sebagai produk samping
0 = 0 + r2
Jadi r2 = 0
Sehingga dari neraca C2H4, 75 = 100 2 r1 - r2 = 100 r1
R1 = 12,5 mol/jam
Re2maxH4O = 2r1 = 25 mol/jam
Hubungan pengurangan yield untuk:
0,8 =

NC 2 H 4 O 0
25

N2outC2H4O = 20 mol/Jam
Diperoleh:
Neraca C2H4O
C2 H 4

20 = 0 + 2 r1
75 = 100 2 r2 r2
NoutO2 = 189 r1 3 r2

O2

NoutH2O = O + 2 r2

H2O
CO2

NoutCO2 = O + 2r2

N2

NoutN2 = 711

Dari neraca C2H4O:


r1= 10 mol/jam
dari neraca C2H4:
r2 = 5 mol/jam
Laju reaksi ini dapat digunakan untuk menentukan sisa laju aliran keluar.

3.2.2 Analisis Derajat Kebebasan Unit Banyak dengan Sistim Reaksi Banyak

54
Sebagaimana halnya pada sistim tanpa reaksi, himpunan neraca dapat dibuat
untuk masing-masing unit dan juga untuk keseluruhan proses. Perbedaan utama
adalah apabila satu dari unit proses adalah reaktor, ketika membuat neraca
keseluruhan, proses keseluruhan harus dipandang sebagai sebuah reaktor dan laju
reaksi keseluruhan harus diperhitungkan sebagai variabel.

Contoh 3.12:
Reduksi Fe3O4 dilakukan di dalam sistim aliran dua tahap sebagaimana ditunjukkan pada
gambar berikur ini. Reaksi yang terjadi adalah:
Fe3O4 + H2 3 FeO + H2O

.........(1)

FeO + H2

.(2)

Fe + H2O

Reaksi pertama dan kedua terjadi pada tahap I dan hanya reaksi yang kedua terjadi pada tahap II. 10
mol reducing gas yang mengandung (% mol) 30 % H2, 66 % N2 dan 1 % H2O masuk ke tahap kedua
per 1 mol produk dengan kandungan 98 % mol Fe. Gas yang keluar dari tahap kedua dialirkan ke tahap
pertama. Produk Fe yang keluar dari tahap pertama mengandung 2 % Fe. Apabila 10 % gas yang keluar
tahap pertama dibuang dan aliran keluar Condenser yang di daur ulang mengandung 0,5 % mol air.
Hitung komposisi pada semua alur alir.

Pembagi Aliran
Gas Buang

Condenser

6
5

Fe3O4

Tahap I
9

Fe = 2%
FeO =98%
Tahap II

N2
H2
H2O

Reducing Gas

Penyelesaian:

Produk
Fe = 98%
FeO

Sistim terdiri dari 5 unit dengan reaktor 2 unit

Pada reaktor I terjadi reaksi 1 dan 2

Pada reaktor II terjadi reaksi 2 saja

N2 = 66 %
H2 = 33 %
H2O

N2
H2
H2O=0,5

10

11

Pencampur

N2
H2
H2O

55

Tahap I perlu dua variabel reaksi

Tahap II perlu satu variabel reaksi

Untuk neraca keseluruhan terlibat 2 variabel reaksi

Himpunan reaksi independent 2 reaksi

Jumlah persamaan neraca komponen pada neraca keseluruhan = 6


(Fe3O4, FeO, Fe, H2, H2O, N2)

Analisa DK
Jumlah

Pencampu
r

Tahap
II

Tahap
I

Pembagi
aliran

Cond
enser

Proses

Keseluruh
an

Variabel
Neraca Independent
Komposisi independen
Hubungan pembantu:
- Kendala pembagi
- Fraksi
gas
yang
dibuang
- Perbd. Gas dan produk
Derajat kebebasan
Dasar perhitungan
Derajat kebebasan

9
3
3

10+1=11
5
4

9+2=11
6
1

9
3
0

7
3
1

30
20
5

10+2=12
6
1

0
0
0

0
0
1

0
0
0

2
1
0

0
0
0

2
1
1

0
0
0

1
1
0

1
-1
0

Diperlukan dasar perhitungan pada tahap ke dua dan dari analisa derajat kebebasan dimulai
perhitungan pada tahap ke dua.
NII= 1000 mol/jam,

NII / NI = 10

100 mol/jam

Dari reaksi pada tahap ke dua:


FeO + H2

Fe + H2O

Neraca massa komponen di Tahap II:


N2

H2

3
NN

0,66 1000 660 mol / jam

N H3 0,331000 r2 "
2

H2O

N H3 O 0,011000 r2 "
2

Fe

0,98 (100) = 0,02 N2 + r2

FeO

0,02 (100) = 0,98 N2 r2

Catatan: r2 = r2 pada tahap ke dua.


N2 = 100 mol/jam

Dari neraca Fe dan FeO diperoleh :

r2 = 96 mol/jam
Dari neraca N2 diperoleh :

3
NN
660 mol / jam
2

56
Dari neraca H2O deperoleh

N H3 2O 106 mol / jam

Derajat kebebasan mula-mula pada tahap I = 4, setelah dihitung dari neraca pada tahap II
diperoleh,

N N3 2 , N H3 2 , N H3 2O , N 2 , maka derajat kebebasan pada tahap I menjadi nol.

Derajat kebebasan pada alat pencampur menjadi 3-1 (dasar perhitungan) = 2.

Derajat kebebasan keseluruhan = 5 1 (N1) = 4.

Perhitungan selanjutnya dilakukan untuk tahap I.

Reaksi yang terjadi pada tahap I:

1.

Fe3O4 + H2

2.

FeO + H2

3 FeO + H2O
Fe + H2O

Neraca massa komponen:


N2

5
3
NN
NN
660 mol / jam

H2

5
3
NH
NH
r1 r2 234 r1 r2 mol / jam

H2O

5
NH

Fe

2O

3
NH

2O

r1 r2 mol / jam

0,02 N2 = 0 + r2

0,02 (100) = r2 mol/jam

r2 = 2 mol/jam
FeO

0,98 N2 r2 = 0 + 3 r1 r2
0,98 (100) = 3 r1 r2

Fe3O4

Dari neraca FeO :

0 = N4 r1
98 = 3 r1 r2 = 3 r1 2
r1 = 100/3 mol/jam

Dari neraca Fe3O4:

0 = N 100/3
N4 = 100/3 mol/jam

Dari neraca H2 diperoleh :

5
NH

Dari neraca H2O diperoleh :

5
NH

2O

Dari neraca N2 diperoleh :

198,67 mol / jam


141,33 mol / jam

5
NN
660

mol / jam

N 5 1000

mol / jam

5
5
5
Dengan diketahuinya N H 2 , N H 2O , N N 2 maka derajat kebebasan pada alat pembagi aliran menjadi : 3

3 = 0.

Selanjutnya dihitung neraca massa pada alat pembagi aliran.

Dari hubungan : 10 % gas yang keluar tahap pertama dibuang diperoleh:


6
5
NN
0,10 N N
66
2

6
NH

5
0,10 N H

mol / jam

19,867 mol / jam

57
N H6 2 0,10 N H5 2 14,133 mol/jam

N 6 100 mol/jam
N 7N2 =N 5N2 -N 6N 2 =660-66=594 mol/jam
N 7H2 =N 5H 2 -N 6H2 =198,67-19,867=178,803 mol/jam

Neraca massa pada kondenser :

N2

:N 9N 2 N 7H 2 = 594 mol/jam

H2

:N9H2 N 7H 2 = 178,803 mol/jam

H 2 O : N9H2O N8H 2O = N 7H 2O
N9H2O N8 =127,2 mol/jam
N9 N9N2 + N9H2 + N9H2 O = 594 + 178,803 +N9H2O
N9H2O 0,005 N9
N9 772,808 + 0,005N9
N9 776,68 mol/jam
N9H2O =0,005(776,68) =3,88 mol/jam