Anda di halaman 1dari 2

Mencermati Isu Penonaktifan Wapres dan Menkeu

Oleh : Dinoroy Aritonang

Amat menarik mencermati perkembangan kasus bank Century pasca terbentuknya


Pansus Hak Angket DPR. Bagaimana tidak, selain multidimensional, perkembangan isu-
isunya sudah memasuki wilayah yang sangat krusial dalam bidang ketatanegaraan.
Beberapa waktu lalu pansus mengusulkan untuk mengundang (untuk menggantikan
terminologi ‘memanggil’ yang menjadi debatable) pihak-pihak terkait termasuk Wapres
dan Menkeu. Isu ini bergulir ke tahap yang lebih tinggi yaitu usul penonaktifan Wapres
dan Menkeu. Ada apa dengan anggota Pansus, sehingga begitu cepatnya memberikan
usulan seperti itu?. Adakah hal tersebut memang sangat diperlukan untuk mengurangi
kecanggungan politik atau ada maksud politis lain? Untuk menilik kemungkinan ini, perlu
kiranya untuk mencermatinya, paling tidak dari ‘hitung-hitungan’ ketatanegaraan.
Kedudukan Wapres dan Menteri
Usulan Pansus DPR untuk turut mengundang Wapres Boediono dan Menkeu Sri
Mulyani memang cukup tepat. Peran keduanya memang cukup menonjol berkenaan
dengan pengucuran dana talangan pemerintah untuk bank Century. Apalagi setelah
mencermati bukti-bukti dan penjelasan yang disampaikan oleh PPATK dan BPK dalam
setiap kesempatan. Dari segi kemanfaatan dan efektifitas pelaksanaan konsultasi dan
pemeriksaan, kehadiran keduanya akan sangat membantu. Setidaknya untuk melihat
kasus ini secara objektif melalui penjelasan dan pandangan menurut versi dari keduanya.
Hal yang menjadi lebih krusial untuk dicermati adalah usulan penonaktifan
keduanya. Sebab hal ini tidak lazim dalam ‘adat istiadat’ ketatanegaraan Indonesia.
Apalagi, jika melihat sosok Boediono saat ini sebagai Wapres dari partai pemerintah yang
cukup mendominasi parlemen. Serta Sri Mulyani, sebagai sosok Menteri yang cukup
mempunyai reputasi dan prestasi dalam kabinet yang dipimpin oleh SBY. Bahkan,
dipandang sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam kabinet. Lantas, bagaimana
peluangnya ditinjau dari sisi ketatanegaraan?
Kedudukan Wapres dan Menkeu sebenarnya sangat berbeda dalam konteks
ketatanegaraan. Perbedaan tersebut membuat kedua jenis jabatan ini berbeda pula
secara perlakuan. Salah satu perbedaan perlakuan tersebut adalah pada wacana
pemberhentian dan pemberhentian sementara (non aktif). Meskipun, UUD 1945 memang
menyatakan bahwa peran Wapres dan Menteri adalah sama yaitu membantu Presiden
dalam melaksanakan tugas pemerintahannya. Namun, kedudukan Wapres dan Menteri
berbeda, sebab kedudukan Wapres adalah untuk mendampingi dan sederajat dengan
Presiden. Itu sebabnya, UUD 1945 menyatakan keduanya sebagai satu pasangan calon
dalam pemilihan Presiden dan Wapres. Sedangkan Menteri adalah pembantu Presiden
yang membidangi urusan tertentu. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat
(2) UU No, 39 Tahun 2008 tentang KeMenterian Negara.
Penonaktifan Wapres
Perbedaan perlakukan Wapres dan Menteri juga juga berbeda dalam hal
pemberhentiannya. Untuk jabatan Wapres, UUD 1945 tidak mengatur mengenai opsi
penonaktifan atau menonaktifkan sendiri. Ada dua alasan. Pertama, apabila ditafsirkan
secara sederhana, opsi untuk jabatan Wapres hanya ada dua yaitu memegang jabatan
atau berhenti sama sekali. Hal ini dapat dicermati dalam Pasal 7A UUD 1945.
Memang dalam UUD 1945 tidak diatur secara tegas penyebab berhentinya
seseorang sebagai Wapres. Namun apabila mengikuti logika rasional dan mencermati
Pasal 8 ayat (3), dapatlah ditafsirkan bahwa, penyebab seseorang berhenti sebagai
Wapres dikarenakan 4 (empat) hal, yaitu karena mangkat, berhenti (mengundurkan diri),
diberhentikan dan tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya. Artinya
memang tidak ada ruang untuk berhenti sementara, meskipun sang Wapres sakit. Hal ini
mendukung alasan kedua, yaitu tidak ada satupun Pasal dalam UUD 1945 yang secara
tegas-tegas atau samar-samar mengatur mengenai pengangkatan kembali Wapres yang
berhenti sementara. Sebab dalam Pasal 8 ayat (2) pun dinyatakan bahwa, pemilihan
untuk mengganti Wapres yang lama adalah diambil dari dua calon yang diusulkan oleh
Presiden. Terminologi calon dalam Pasal tersebut menandakan, bahwa yang boleh
diusulkan hanyalah seseorang yang memang secara tetap tidak memegang jabatan
sebagai Wapres. Dalam hal ini, ada peluang bagi seseorang yang telah berhenti tetap
untuk bisa diusulkan kembali.
Oleh karena itu, usulan Pansus DPR agar Wapres Boediono berhenti sementara tidak
sesuai dengan aturan-aturan dalam konstitusi (inkonstitusional). Apalagi, usulan Pansus
DPR untuk meminta atau menghimbau kepada Wapres Boediono menonaktifkan dirinya
sendiri. Opsi ini hanya akan berujung pada pemberhentian tetap. Apalagi UUD 1945 tidak
mengatur mengenai pengunduran diri secara individual bagi seorang Wapres. Sebab
Pasal 8 ayat (3) hanya mengatur apabila Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti,
diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara
bersamaan
Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa, berhentinya Wapres hanya didasarkan pada
dua mekanisme. Pertama, karena meninggal dunia. Kedua, karena diberhentikan melalui
pengunduran diri atau melalui mekanisme pemakzulan atau impeachment sebagaimana
diatur dalam Pasal 7A UUD 1945.
Penonaktifan Menteri
Untuk seorang Menteri, pemberhentian sementara sangat dimungkinkan. Hal ini
sebagaimana diatur dalam UU No. 39 Tahun 2009 tentang KeMenterian Negara.
Meskipun pengangkatan Menteri merupakan hak prerogatif Presiden namun UU
KeMenterian Negara sepertinya hanya memberikan kewajiban kepada Presiden dalam
hal pemberhentian Menteri. UU KeMenterian Negara menyatakan bahwa Presiden
memberhentikan tetap seorang Menteri apabila telah memenuhi ketentuan dalam Pasal
2 ayat (2) dan memberhentikan sementara apabila telah memenuhi Pasal 2 ayat (3). Hal
ini berarti memang tidak ada pilihan bagi Presiden untuk tetap mempertahankan
Menterinya apabila telah memenuhi unsur-unsur Pasal di atas.
Pasal 24 ayat (3) menyatakan bahwa, Presiden memberhentikan sementara Menteri
yang didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima)
tahun atau lebih. Dalam hal ini mau tidak mau Presiden harus memberhentikan
sementara Menteri yang bersangkutan. Namun, hal ini pun bukan atas dasar usulan DPR,
melainkan karena alasan hukum. Sebaliknya, Apabila Pasal 24 ayat (3) belum terpenuhi,
maka secara konstitusional Presiden berhak untuk mempertahankan seorang Menteri
tetap dalam jabatannya.
Koridor Konstitusional
Semua elemen masyarakat kiranya sangat sepakat bahwa kasus bank Century
memang perlu diselidiki lebih dalam. Oleh karena itu, wajar apabila Pansus DPR ingin
agar kecanggungan politis atas diundangnya Wapres dan menkeu diharapkan tidak akan
terjadi. Namun, Pansus DPR juga tetap harus menghormati aturan-aturan dalam
konsitusi dan hukum yang berlaku. Jangan sampai, langkah-langkah yang diambil malah
menimbulkan perdebatan-perdebatan yang masih diragukan keabsahannya secara
yuridis. Hal ini bisa merusak tatanan hukum dan ketatanegaraan yang sudah dibangun.
Pelaksanaan fungsi pengawasan DPR dalam rangka check and balances pun harus
tetap berada dalam koridor yang konstitusional. Hukum harus tetap dihormati. Hal ini
akan membantu untuk mereduksi nafsu-nafsu politik yang bisa saja tidak terkendali.
Sehingga Pansus DPR dan lembaga-lembaga terkait bisa menjalankan niat dan
kewenangannya dengan benar.

****

Dipublikasikan dalam Harian Sinar Harapan, 29 Desember 2009