Anda di halaman 1dari 31

BAB 3

ANALISA KASUS
Kasus
Seorang perempuan berumur 68 tahun tinggal bersama keluarganya, klien
mengalami fraktur panggul 2 tahun yang lalu sehingga berjalan dengan pincang
sambil berpegangan pada dinding sekitarnya. Hasil pengkajian perawat yang
datang berkunjung ke rumah klien di dapatkan data kaki kiri atropi dan kontraktur,
kaki kanan lebih panjang 5 cm dari kaki kiri, kekuatan otot klien adalah
5555
5555
5555
4344
Lingkungan rumah tampak berantakan dan gelap. Keluarga mengatakan klien
beberapa kali jatuh saat berjalan, tapi tetap tidak mau diam, semua aktivitas ingin
dilakukan secara mandiri.
.1. Pengkajian (Friedman)
I.
Data Umum
1. Nama Kepala Keluarga (KK) : Bapak T
2. Usia Kepala Keluarga
: 49 tahun
3. Alamat
: Jln. SM Raja No. 80, Tiga Baru,
Kecamatan Pegagan Hilir, Kabupaten Dairi
4. Pendidikan Kepala Keluarga : SMA
5. Pekerjaan Kepala Keluarga
6. Komposisi Keluarga
No
.

Nam
a

Jenis
Kelamin

1.

Ibu R

Perempua
n

2.

Anak
S

Perempua
n

3.

Anak
E

Perempua
n

4.

Anak
IS

Laki-laki

: PNS

Hubunga Usia
n dengan
KK
Istri
49
tahu
n
Anak
26
pertama
tahu
n
Anak
21
kedua
tahu
n
Anak
18
ketiga
tahu
n

31

Pendidika
n

Pekerjaan

SPK

Ibu
Rumah
Tangga
Belum
kerja

S1
SMA

Mahasisw
a

SMP

Pelajar

32

5.

Anak
IA

Laki-laki

Anak
keempat

15
tahu
n

SD

Pelajar

Genogram:
Bapak T, 49 th

An S, 26 th

An E, 21th

Ibu R, 49 th

An In, 18 th

An IA, 15 th
Keterangan
: Laki-laki
: Perempuan

Anak D, 10 th

7. Tipe Keluarga
Keluarga inti (Nuclear Family). Dengan ayah, ibu, dua orang anak
perempuan dan dua orang anak laki-laki.
8. Suku
Keluarga Bapak T berasal dari suku Batak. Saat ii bapak T tinggal
bersama istri dan dua orang anaknya, yaitu Anak IS dan Anak IA.
Sementara untuk Anak S dan Anak E telah meninggalkan rumah
untuk kepentingan pendidikan. Bapak T dan keluarganya biasa
menggunakan bahasa Batak dan Indonesia saat berkomunikasi
dengan orang lain.
9. Agama
Kepercayaan yang dianut keluarga Bapak T adalah Kristen
Protestan sehingga nilai-nilai yang diyakini dalam keluarga ini
adalah nilai-nilai kekristenan. Bapak T dan keluarganya biasanya
beribadah setiap hari Minggu di Gereja Kristen Protestan
Simalungun. Ibu R aktif mengikuti kegiatan keagamaan di
lingkungan sekitarnya. Anak IA setiap hari Rabu mengikuti ibadah
kebaktian bersama dengan anak-anak Sekolah Minggu. Sementara
Anak IS kurang aktif dalam mengikuti kegiatan beribadah.
10. Status Sosial Ekonomi Keluarga.

33

Keluarga Bapak T merupakansalah satu keluarga dengan status


ekonomi mengengah ke atas, dengan penghasilan suami Rp.
4.230.000,00. Bapak T bekerja di Puskesmas Tiga Baru dan selalu
pulang pukul 14.00-15.00 WIB. Untuk menambah penghasilan
keluarga Ibu R membuka toko grosir, khususnya menjual sembako.
Selain itu, Ibu R juga membuka jasa catering nasi dan kue untuk
acara-acara tertentu. Ibu R bertanggung jawab mengelola keuangan
dalam keluarga. Keluarga Bapak T mempunyai tabungan. Rumah
keluarga yang ditempati saat ini adalah rumah sendiri, dengan luas
120m2, dengan tiga kamar tidur, dua kamar mandi, satu ruang
tamu. Berlantai keramik. Ventilasi baik. Oleh karena itu, keluarga
tidak ingin berpindah tempat tinggal karena sudah merasa nyaman.
11. Aktivitas Rekreasi Keluarga.
Keluarga biasanya suka menonton TV di rumah untuk menghibur
diri atau mengurangi kepenatan yang dialami oleh masing-masing
keluarga. Keluarga juga kadang-kadang pergi ke tempat hiburan
atau wisata pada akhir tahun. Komunikasi keluarga selama ini
berjalan cukup baik dan terbuka antar anggota keluarga. Selain itu,
arisan keluarga dan perkumpulan keluarga juga menjadi ajang
untuk mengurangi stress dalam keluarga.
II.

Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini: Keluarga berada pada tahap
perkembangan keluarga dengan anak meninggalkan rumah.
1. Tahap Perkembangan Keluarga yang belum terpenuhi:
Menurut Friedman (1998), tugas perkembangan yang ditempuh
keluarga adalah:
a. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan.
Seluruh anggota keluarga Bapak T dapat melakukan aktivitas
secara mandiri seperti memasak, pergi ke tempat kerja, pergi
sekolah, dan lain-lain. Anggota keluarga kadang-kadang tidak

34

mau hanya diam di rumah dan ingin melakukan semua


aktivitas secara mandiri.
b. Penyesuaian terhadap pendapatan yang menurun
Penghasilan dari toko grosir Ibu R tergantung dari hasil panen
masyarakat sekitar yang mayoritas bekerja sebagai petani. Jiak
hasil panen masyarakat petani menurun maka penghasilan Ibu
R pun juga menurun. Namun hal ini tidak menjadi masalah
karena Bapak T mempunyai gaji yang tetap untuk memenuhi
kebutuhan keluarga. Bapak T, Ibu R, Anak S dan Anak IA
memiliki kartu BPJS yang akan digunakan untuk meringankan
biaya perawatan di pelayanan kesehatan.
c. Mempertahankan hubungan perkawinan
Keluarga

Bapak

masih

utuh

karena

masih

dapat

mempertahankan status perkawinan.


d. Pemeliharaan ikatan keluarga
Hubungan Bapak T dan Ibu R dengan anak IS kurang baik
karena Anak IS sulit untuk dibina. Sementara hubungan
dengan Anak IA terjalin baik. Untuk hubungan dengan kedua
anaknya yang merantau yaitu Anak S dan Anak E terjalin
dengan baik. Anak S dan Anak E pulang ke rumah ketika
liburan semester.
2. Riwayat Keluarga Inti.
Keluarga ini terbentuk saat Bapak T menikahi istrinya, yaitu Ibu R.
Menurut Ibu R, pertemuan Ibu R dan Bapak T terjadi ketika
keduanya bekerja di suatu instansi rumah sakit yang sama. Setelah
menikah, Ibu R berhenti dari pekerjaannya dan membuka bisnis,
yaitu toko grosir dan jasa katering. Dari pernikahannya, Ibu R
dikaruniai empat orang anak, yatu dua orang anak perempuan
berusia 26 tahun dan 21 tahun dan dua anak laki-laki yang berusia
18 tahun dan 15 tahun. Dari awal pernikahan sampai sekarang
keluarga bertempat tinggal dirumah sendiri, dan akan terus

35

menetap disana. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa dengan


demikian dapat mengurangi biaya hidup setiap bulannya.
3. Riwayat Keluarga Sebelumya (Pihak Suami dan Istri)
Menururt Ibu R, riwayat keluarga dari Bapak T atau dari Ibu R
sebelumnya tidak pernah ada penyakit yang serius.
III.

Lingkungan
1. Karakteristik Rumah.
Rumah Bapak T yang ditempati adalah rumah pribadi pada lahan
berukuran

120 m2 dengan jenis rumah permanen. Rumah ini

terdiri dari beberapa ruangan, yaitu ruang tamu, ruang keluarga,


tiga kamar tidur, dua toilet dan dapur. Atap rumah terbuat dari
genteng.

Penerangan

dengan

listrik.

Lantai

berkeramik.

Lingkungan rumah tampak bersih dan terang. Sumber api yang


digunakan sehari-hari berasal dari tabung gas. Sumber air yang
digunakan berasal dari PAM. Jarak tempat penampungan air
dengan septikteng lebih dari 10 meter. Di depan rumah Bapak T
terdapat jalan yang cukup ramai. Di kampung ini, antara rumah
penduduk tidak memiliki jarak sehingga saling menempel.

Denah Rumah:
Toilet

dapur

amar

kamar
ruang keluarga

halaman
kamar

ruang tamu

Keterangan:
: Pintu
: Jendela

36

2. Karakteristik Tetangga dan Komunitas.


Rumah keluarga Bapak T terletak di pemungkiman yang agak
padat. Antara rumah penduduk tidak ada jarak dan menempel
antara rumah. Warga biasanya menggunakan fasilitas kesehatan
seperti

puskesmas

untuk

berobat

atau

ke

rumah

sakit

langganannya. Di pemukiman ini terdapat lapangan yang biasanya


digunakan untuk kegiatan warga seperti lomba-lomba pada hari
tertentu.
3. Mobilitas Geografis Keluarga.
Keluarga Bapak T memiliki satu motor. Motor tersebut digunakan
Bapak T untuk bekerja dan mengantar anak ke sekolah dan istrinya
ke tempat usaha. Selain dwngan menggunakan sepeda motor,
keluarga Bapak T juga menggunakan jasa angkutan umum.
4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat.
Anggota keluarga berkumpul pada malam hari setelah Bapak T
pulang bekerja dan Anak IA pulang ibadah, khususnya pada hari
Rabu. Selain itu, keluarga dengan keluarga yang lain biasanya
berkumpul setiap hari akibat rumah antar keluarganya saling
berdekatan. Interaksi keluarga dengan masyarakat juga cukup baik
karena masing-masing menjalani perannya dengan baik di
lingkungan sosial. Perkumpulan yang sering diikuti anggota
keluarga adalah arisan marga di sekitar rumah, juga latihan paduan
suara dari Gereja.
5. Sistem Pendukung Keluarga.
Anak S dan Anak E tinggal terpisah dengan Bapak T untuk urusan
pendidikan. Apabila memerlukan bantuan kesehatan, tetangga atau
keluarga jauh yang tinggal di perkampungan tersebut juga akan
senang hati akan membantu. Jarak fasilitas kesehatan terdekat,
yaitu klinik dan rumah sakit yang dibuka 24 jam sekitar 1 km.
IV.

Struktur Keluarga
1. Pola Komunikasi Keluarga.

37

Masing-masing

anggota

keluarga

dapat

dengan

bebas

berkomunikasi satu dengan yang lain, tanpa perlu menunggu waktu


tertentu. Antar anggota keluarga terbina hubungan yang kurang
harmonis khususnya dengan Anak IS. Dalam menghadapi suatu
permasalahan biasanya dilakukan semacam musyawarah kecil
sebelum memutuskan suatu permasalahan. Komunikasi dilakukan
dengan terbuka. Keluarga biasanya menggunakan bahasa batak
saat berkomunikasi didalam keluarga. Hal ini dikarenakan seluruh
anggota keluarga berasal dari suku batak.
2. Struktur Kekuatan Keluarga.
Pengambil keputusan dalam keluarga ini adalah Bapak T. Namun
Bapak T juga sering terlebih dahulu menceritakan hal-hal yang
perlu diputuskan tersebut kepada Ibu R dan Ibu R biasanya sepakat
dengan keputusan yang diambil Bapak T.
3. Struktur Peran (Formal dan Informal)
a. Bapak T berperan sebagai kepala keluarga, pencari nafkah, dan
pengambil keputusan.
b. Ibu R berperan sebagai pencari nafkah, pengambil keputusan,
dan pengatur rumah tangga.
4. Nilai atau Norma Keluarga.
Nilai dan norma budaya keluarga ini sesuai dengan nilai dari suku
dan agama yang mereka anut. Selain itu sesuai juga dengan nilai
dan norma masyarakat sekitarnya. Peraturan-peraturan yang
terdapat dalam keluarga ini, diantaranya adalah adanya acara
makan malam bersama dan adanya peraturan untuk anak terkait
dengan jam keluar malam, yaitu jam sepuluh malam.
V.

Fungsi Keluarga
1. Fungsi Afektif.
Keluarga cukup rukun. Ibu R tampak sangat memperhatikan
keseluruhan kondisi keluarga. Masing-masing anggota keluarga
saling memperhatikan kebutuhan anggota yang lain.
2. Fungsi Sosialisasi.

38

Fungsi sosialisasi dalam keluarga Bapak T berjalan dengan baik.


Bapak T dan keluarga sering mengikuti kegiatan yang dibuat oleh
RT setempat. Keluarga ini juga merupakan orang yang senang
mengobrol dengan tetangga-tetangganya. Adik Ibu R sering datang
berkunjung ke rumah Ibu R.
3. Fungsi Perawatan Keluarga.
Keluarga sudah cukup memahami masalah-masalah kesehatan pada
keluarga. Menurut Ibu R, kondisi mobilisasi Anak IS merupakan
hal yang umum terjadi pada remaja. Keluarga belum memutuskan
untuk merawat anggota keluarga dengan masalah kesehatan.
Karena anggota keluarga cukup sehat. Keluarga juga belum pernah
melakukan modifikasi lingkungan pada anggota keluarga dengan
masalah kesehatan. Keluarga akan membawa anggota keluarga
yang sakit ke fasilitas pelayanan kesehatan. Tingkat ekonomi dan
transportasi yang dimiliki keluarga Bapak T mencukupi untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan.
4. Fungsi Ekonomi.
Penghasilan keluarga berasal dari Bapak T yang bekerja di
puskesmas dan penghasilan Ibu R dari usaha toko dan kateringnya.
Keluarga mempunyai dana khusus untuk kesehatan. Apabila ada
anggota keluarga yang sakit, keluarga menggunakan dana yang ada
dan menggunakan kartu BPJS.
5. Fungsi Reproduksi.
Bapak T danIbu R memiliki dua anak perempuan dan dua orang
laki-laki.
VI.

Stres dan Koping Keluarga


1. Stressor yang Dimiliki.
Stressor yang dimiliki Bapak T dan Ibu R adalah kondisi anak IS
yang susah dibina.
2. Kemampuan Keluarga Berespons terhadap Situasi/Stresor.

39

Keluarga memiliki kemampuan yang baik untuk merespon


berbagai masalah yang terjadi di rumahnya. Keluarga memiliki
empati yang besar antara satu anggota keluarga dengan anggota
keluarga lainnya. Menurut Keluarga, mereka sudah menasehati
anak IS untuk berperilaku baik.
3. Strategi Koping yang Digunakan.
Bapak T dan Ibu R merasa kondisi anak IS ini merupakan kondisi
yang diakibatkan oleh pergaulan. Keluarga akan menasehati Anak
IS.
4. Strategi Adaptasi Disfungsional: Tidak ditemukan adanya cara-cara
penyelesaian masalah selain musyawarah dan mediasi.
VII.

Harapan Keluarga
Dengan hadirnya perawat, keluarga berharap dapat lebih tahu tentang
kesehatan, dan anggota keluarganya bisa lebih sehat dengan
berperilaku sehat. Dan dengan adanya perawat dapat membantu

41

menyelesaika masalah pada Anak IS.


3.2.

Pemeriksaan Fisik

No Pemeriksaan
Bapak T
.
Fisik
1. TTV
TD: 120/80 mmHg
R: 20x/menit
N: 87x/menit
S: 37oC
2. Kondisi
Kesadaran kompos
Umum
mentis
Kondisi umum baik
3. Kepala
Rambut hitam
Mata konjungtiva tidak
anemis, penglihatan
jelas
Hidung tidak ada
sumbatan
Telinga bersih,
pendengaran baik
Bibir lembab

Ibu R
TD: 120/80 mmHg
R: 20x/menit
N: 87x/menit
S: 37oC
Kesadaran kompos
mentis
Kondisi umum baik
Rambut hitam
Mata konjungtiva tidak
anemis, penglihatan
jelas
Hidung tidak ada
sumbatan
Telinga bersih,
pendengaran baik
Bibir lembab

Anak IS

TD: 120/80 mmHg


R: 16x/menit
N: 72x/menit
S: 37oC
Kesadaran komp
mentis
Kondisi umum b
Rambut hitam
Mata konjungtiv
anemis, pengliha
jelas
Hidung tidak ada
sumbatan
Telinga bersih,
pendengaran bai
Bibir lembab

40

4.

Leher

5.

Dada

6.

Abdomen

7. Genitalia
9. Rektal
10. Ekstremitas

Mulut tidak ada


kelainan
Lidah merah muda,
permukaan berbintik
Gigi bersih
Tidak ada
pembengkakan kelenjar
tyroid
Teraba denyut vena
jugularis
Tidak terlihat adanya
peningkatan tekanan
vena jugularis
Pergerakan dada terlihat
simetris
Suara jantung S1 dan
S2, murmur (-)
Suara napas vesikuler,
ronchi (-), wheezing (-)
Perut terlihat bersih
Warna kulit kecoklatan
Tidak ada pembesaran
organ
Suara bising usus
normal
Normal
Tidak ada impaksi fekal
Warna kulit kecoklatan
Tangan kanan dan kiri
simetris.
Kaki kanan dan kiri
simetris
Tidak terdapat varises
di kaki
Teraba arteri brakhialis.
Tidak terdapat edema
Kulit lembab dan elastis
Tidak menderita
kelumpuhan (kekuatan
otot baik)

Mulut tidak ada


kelainan
Lidah merah muda,
permukaan berbintik
Gigi bersih
Tidak ada
pembengkakan kelenjar
tyroid
Teraba denyut vena
jugularis
Tidak terlihat adanya
peningkatan tekanan
vena jugularis
Pergerakan dada terlihat
simetris
Suara jantung S1 dan
S2, murmur (-)
Suara napas vesikuler,
ronchi (-), wheezing (-)
Perut terlihat bersih
Warna kulit kecoklatan
Tidak ada pembesaran
organ
Suara bising usus
normal
Normal
Tidak ada impaksi fekal
Warna kulit kecoklatan
Tangan kanan dan kiri
simetris.
Kaki kanan dan kiri
simetris
Tidak terdapat varises
di kaki
Teraba arteri brakhialis.
Tidak terdapat edema
Kulit lembab dan elastis
Tidak menderita
kelumpuhan (kekuatan
otot baik)

Mulut tidak ada


kelainan
Lidah merah mu
permukaan berbi
Gigi bersih
Tidak ada
pembengkakan k
tyroid
Teraba denyut ve
jugularis
Tidak terlihat ada
peningkatan teka
vena jugularis
Pergerakan dada
simetris
Suara jantung S1
S2, murmur (-)
Suara napas vesi
ronchi (-), wheez
Perut terlihat ber
Warna kulit keco
Tidak ada pembe
organ
Suara bising usu
normal
Normal
Tidak ada impaksi f
Warna kulit keco
Tangan kanan da
simetris.
Kaki kanan dan k
simetris
Tidak terdapat va
di kaki
Teraba arteri brak
Tidak terdapat ed
Kulit lembab dan
Tidak menderita
kelumpuhan (kek
otot baik)

41

44

3.3.

Analisa Data

No
.
1.

Data

Masalah Keperawatan

DS: Nenek N mengatakan bahwa ingin

Ganggungan mobilitas

melakukan seluruh aktivitas secara mandiri.

fisik pada keluarga

Keluarga mengatakan klien beberapa kali jatuh

Bapak B, khususnya

saat berjalan.

Nenek N.

DO: Nenek N memiliki riwayat fraktur panggul


2 tahun yang lalu. Kaki kiri Nenek N
mengalami atrofi dan kontrkatur. Kaki kanan
lebih panjang 5 cm dari kaki kiri. Kekuatan otot
2.

ekstrimitas kiri bawah menurun.


DS: Keluarga mengatakan tidak melakukan

Ketidakefektifan

modifikasi lingkungan atau perawatan khusus

pemeliharaan kesehatan

untuk Nenek N. Keluarga mengatakan klien

pada keluarga Bapak B,

beberapa kali jatuh saat berjalan.

khususnya Nenek N.

DO: Nenek N memiliki riwayat fraktur panggul


3.

2 tahun yang lalu.


DS: Nenek N mengaku malu untuk beraktivitas

Gangguan citra tubuh

di luar rumah karena Nenek N berjalan dengan

keluarga Bapak B,

pincang.

khususnya Nenek N.

DO: Nenek N hanya mengobrol dengan


4.

tetangga di depan rumahnya.


DS: Keluarga mengatakan klien beberapa kali

Resiko jatuh pada

jatuh saat berjalan.

keluarga Bapak B,

DO: Nenek N melakukan semua aktivitas ingin

khususnya Nenek N.

melakukan secara mandiri. Rumah Nenek N


tampak gelap dan berantakan.

42

3.4.

Skoring Masalah Keperawatan

Diagnose keperawatan 1:
Ganggungan mobilitas fisik pada keluarga Bapak B, khususnya Nenek N
(NANDA, 2012).
No.
1.

Kriteria
Sifat masalah

Bobot
3/3 x 1 = 1

Pebenaran
Nenek N berjalan dengan berpincang

2.

Skala: aktual
Kemungkinan masalah

2/2 x 2 = 2

dambil berpegangan pada dinding.


Nenek N masih memiliki anak-anak

dapat diubah: mudah

dan seorang cucu. Anak pertama


sekarang tinggal bersama Nenek N di
rumah Nenek N. Rumah Nenek N tidak

3.

Potensial masalah untuk

3/3 x 1 =1

dicegah
4.

Skala: tinggi
Menonjolkan masalah

jauh dari fasilitas kesehatan.


Nenek N masih mau melakukan
aktivitas secara mandiri.

2/2 x 1 = 1

Kondisi Nenek N saat ini berdampak

Skala: masalah berat,

negative terhadap kualitas hidupnya

harus segera ditangani

sehingga Nenek N tidak mampu


melakukan aktivitas yang bermanfaat
lagi.

Diagnose keperawatan 2:
Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan pada keluarga Bapak B, khususnya
Nenek N (NANDA, 2012).
No.
1.

Kriteria
Sifat masalah

Bobot
3/3 x 1 = 1

2.

Skala: aktual
Kemungkinan masalah

Pebenaran
Kaki kiri Nenek N mengalami atrofi
dan kontraktur.

2/2 x 2 = 2

Nenek N masih memiliki anak-anak


dan seorang cucu. Anak pertama
sekarang tinggal bersama Nenek N di
rumah Nenek N. Rumah Nenek N tidak
jauh dari fasilitas kesehatan.
Kondisi Nenek N sudah berlangsung
sejak 2 tahun yang lalu dan keluarga
tidak melakukan perawatan.

dapat diubah: mudah

3.

Potensial masalah untuk


dicegah

2/3 x 1 =2/3

43

4.

Skala: tinggi
Menonjolkan masalah

1/2 x 1 = 1/2

Skala: ada masalah, tetapi

Menurut keluarga masalah belum perlu


segera ditangani.

tidak perlu segera


ditangani
Diagnosa keperawatan 3:
Gangguan citra tubuh keluarga Bapak B, khususnya Nenek N (NANDA, 2012).
No
.
1.

2.

Kriteria
Sifat masalah

Bobot
3/3 x 1 = 1

Pebenaran
Nenek N lebih sering berada di

Skala: actual

dalam rumah dari pada di luar

Kemungkinan

rumah.
Anak yang tinggal bersama Nenek

1/2 x 2 = 1

masalah dapat diubah:

N di rumah hanya berada di

sebagian

rumah sibuk bekerja. Tingkat


ekonomi Nenek N dan anakanaknya cukup untuk melakukan

3.

Potensial masalah

1/3 x 1 =1/3

untuk dicegah
4.

Skala: sedang
Menonjolkan masalah

perawatan.
Nenek N sudah 2 tahun jarang
keluar rumah.

0/2 x 1 = 1

Skala: Masalah tidak

Keluarga tidak melihat masalah


tersebut

dirasakan.

Diagnosa keperawatan 4:
Resiko jatuh pada keluarga Bapak B, khususnya Nenek N.
No
.
1.

Kriteria
Sifat masalah
Skala: resiko

Bobot

Pebenaran

2/3 x 1 = 2/3

Rumah keluarga Nenek N tampak


gelap dan berantakan. Anak
terakhir Nenek N menyadari hal
ini namun tidak memiliki waktu

44

yang cukup untuk melakukan


2.

Kemungkinan

1/2 x 2 = 1

pemeliharaan rumah.
Anak yang tinggal bersama Nenek

masalah dapat diubah:

N di rumah hanya berada di

sebagian

rumah sibuk bekerja. Tingkat


ekonomi Nenek N dan anakanaknya cukup untuk melakukan

3.

Potensial masalah

2/3 x 1 =1/3

perawatan.
Kondisi rumah Nenek N yang

untuk dicegah

gelap dan tidak terawat belum

Skala: sedang

dicoba untuk diatasi oleh keluarga


di rumah Nenek N. Masalah ini

4.

Menonjolkan masalah

2/2 x 1 = 1

Skala: masalah berat,

berlangsung sudah lama.


Keluarga mengatakan klien
beberapa kali jatuh saat berjalan.

harus segera ditangani

3.5.

48

Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KELUARGA


BAPAK B
KHUSUSNYA NENEK N DENGAN MASALAH PEMENUHAN
KEBUTUHAN MOBILISASI
Diagnosa
Keperawatan
Ganggungan mobilitas
fisik pada keluarga
Bapak B, khususnya
Nenek N

Tujuan Umum
Setelah dilakukan
pertemuan 3x30
menit, Nenek N
melaporkan
pengontrolan
tingkat nyeri yang
adekuat dan
menunjukkan
peningkatan

Tujuan Khusus
Setelah dilakukan
pertemuan 1x30 menit,
keluarga:
1. Mampu mengenal
masalah fraktur
panggul dengan:
Menyebutkan
pengertian.

Kriteria Evalu
Kriteria
St

Respon
verbal

Frkatur
adalah t
struktur

45

kemampuan
fungsional
mobilisasi.

tulang p

Menyebutkan
penyebab timbulnya
fraktur panggul.

Respon
verbal

Keluarg
menyeb
3 penye
panggul
Oste
Jatuh
tubru
kuat
Kura
kalsi
vitam

Menyebutkan tanda
dan gejala fraktur
panggul.

Respon
verbal

Keluarg
menyeb
4 tanda
fraktur p
yaitu:
Tidak
berge
jatuh
Nyer
pingg
paha
Keka
mem
pemb
di dae
pingg
Kaki
pingg
terluk

46

pende
Mengidentifikasi
anggota keluarga
yang terkena
fraktur panggul.

2. Mampu mengambil
keputusan dalam
merawat anggota
keluarga dengan
masalah kesehatan
fraktur panggul,
dengan:
Menyebutkan akibat
fraktur panggul.

Mengambil
keputusan untuk
mengatasi fraktur
panggul.

3. Mampu melakukan
perawatan
sederhana anggota
keluarga dengan
fraktur panggul,
dengan:
Menyebutkan cara
pencegahan fraktur
panggul.

Respon
verbal

Keluarg
mengide
Nenek N
fraktur p
berdasa
dan geja

Respon
verbal

Keluarg
menyeb
dari 4 ak
panggul
Bek
di k
tulan
Luk
Infe
urin
Pneu

Respon
verbal

Keluarg
mengata
mengata
panggul

Respon
verbal

Keluarg
menyeb
minimal
cara pen

47

Menyebutkan
perawatan anggota
keluarga yang
mengalami

Setelah dilakukan
pertemuan kedua
selama 1x30menit,
anggota keluarga
mampu melakukan:
Kompres Dingin

Respon
verbal

Respon
psikomotor

fraktur p
yaitu:
Olah
yang
(mis
cepa
jogg
mini
men
3 ka
sem
Kura
kons
kafe
Tida
dan
alko
Atur
di ru
tidak
tersa
Past
tidak
Keluarg
menyeb
3 cara p
fraktur p
Kom
Lati
of
(RO
Peng
alat
(wal

Anggota
mampu
kompres
untuk m
nyeri ak
pemben
akibat c
tiba, yai

48

Kompres Hangat

Respon
psikomotor

Guna
kanto
es ba
atau
yang
ke da
dingi
Kom
deka
nyeri
tubuh
berla
tetap
berhu
deng
nyeri
dilok
terlet
otak
nyeri
Laku
wakt
meni
meni
meni
setiap
sekal
terga
tingk
dan
pemb

Anggota
mampu
kompres
untuk m
nyeri kr
merelak
otot akib
lama, ya
Tem
kanto
boto
beris
atau
yang
dicel

49

Latihan Range of
Motion (ROM)
Pasif

Respon
psikomotor

dalam
deng
temp
50C
samp
pana
sesua
pana
deng
keny
yang
diko
bagia
yang
Pera
digu
untu
meng
agar
terla
Laku
kom
selam
15-2
atau
diper
Seba
diiku
latiha
perge
pemi

Anggota
mampu m
latihan R
untuk me
kekuatan
kelentura
mencega
kontraktu
kekakuan
persendi
a. Berb
dala
yang
b. Anju

50

Setelah dilakukan
Respon
pertemuan kedua
psikomotor
selama 1x30menit,
anggota keluarga
mampu melakukan:
Penggunaan alat
bantu jalan (walker)

bern
norm
latih
c. Laku
gera
(men
pers
ekste
(mel
pers
abdu
angg
kear
men
tubu
(satu
tubu
men
tubu
(mem
men
satu
meli
aksis
pron
(mem
baw
supi
(mem
atas)
(gera
dala
ever
ke lu

Anggota
mampu
penggun
bantu ja
yaitu:
a. Wal
selal
keem
saat
b. Posi
yang
haru
dipe

51

Melakukan cara
perawatan fraktur
panggul.

4. Memodifikasi
lingkungan yang
sesuai untuk
penderita fraktur
panggul, dengan:
Menyebutkan cara
memodifikasi
lingkungan untuk
penderita fraktur
panggul.

Respon
afektif

Respon
verbal

yaitu
tega
sedi
men
perg
tang
mem
dan
c. Sepa
kuat
dan
haru
d. Wal
kaki
cede
pind
bers
e. Was
deng
sepe
perm
yang
atau
basa
Keluarg
melakuk
perawat
panggul

Anggota
mampu
menyeb
minimal
modifik
lingkung
sesuai u
penderit
panggul
Men
karp
untu
men

52

lanta
Men
penc
ruan
men
lamp
Mem
pega
tang
yang
perlu
misa
kam
Men
bara
yang
mem
terpe
jalan
untu
Keluarg
mendem
cara mo
lingkung
peningk
pencaha
ruangan
menamb
lampu.

Mendemonstrasikan
peningkatkan
pencahayaan
ruangan dengan
menambahkan
lampu.
.

Respon
psikomotor

Melakukan cara
modifikasi
lingkungan.

Respon
afektif

5. Mampu
menggunakan
fasilitas kesehatan
yang ada untuk
melakukan
perawatan fraktur
panggul, dengan:
Menyebutkan

Keluarg
melakuk
modifik
lingkung

53

Diagnosa
Keperawatan
Ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan
pada keluarga Bapak B,
khususnya Nenek N

Tujuan Umum
Setelah dilakukan
pertemuan 2x30
menit, Nenek N
mengkonsumsi
kebutuhan diet dan
mendemonstrasika
n modifikasi gaya
hidup untuk
mengurangi resiko
dampak
osteoporosis.

tempat pelayanan
kesehatan untuk
dirujuk.

Respon
verbal

Menyebutkan
manfaat fasilitas
kesehatan.

Respon
verbal

Mengunjungi
fasilitas pelayanan
kesehatan untuk
memeriksa penyakit
fraktur panggul.

Respon
afektif

Tujuan Khusus
Setelah dilakukan
pertemuan 1x30 menit,
keluarga:
1. Mampu mengenal
masalah
osteoporosis
dengan:
Menyebutkan
pengertian.

Keluarg
menyeb
fasilitas
yang da
dikunju
Pus
Rum
Klin
Keluarg
menyeb
manfaat
ke fasili
kesehata
mendap
pemerik
mendap
perawat
mendap
penyulu
pendidik
kesehata
Keluarg
memanf
pelayan
kesehata
pemerik
pengoba
panggul
menunju
kesehata

Kriteria Evalu
Kriteria
St

Respon
verbal

Osteopo
adalah p
bertahap
kehilang
tulang y
mempen
semua o

54

dewasa
berbaga
dan mer
faktor p
lansia u
mengala

Menyebutkan
penyebab timbulnya
osteoporosis.

Respon
verbal

Menyebutkan tanda
dan gejala
osteoporosis

Respon
verbal

Keluarg
menyeb
5 penye
osteopo
Penu
horm
estro
Perta
usia
Riwa
kelua
Diet
kalsi
vitam
Mero
minu
Keluarg
menyeb
6 tanda
osteopo
Nyer
tulan
Kelai
tulan
Patah
Peny
patah
lamb
Postu
Kelel

55

Mengidentifikasi
anggota keluarga
yang terkena
osteoporosis.

2. Mampu mengambil
keputusan dalam
merawat anggota
keluarga dengan
masalah kesehatan
osteoporosis,
dengan:
Menyebutkan akibat
osteoporosis.

Mengambil
keputusan untuk
mengatasi
osteoporosis

3. Mampu melakukan
perawatan
sederhana anggota
keluarga dengan
osteoporosis,
dengan:
Menyebutkan cara
pencegahan
osteoporosis.

Respon
verbal

Keluarg
mengide
Nenek N
osteopo
berdasa
dan geja

Respon
verbal

Keluarg
menyeb
dari 4 ak
osteopo
Tula
pata
Rasa
Rad
Defo

Respon
verbal

Keluarg
mengata
mengata
osteopo

Respon
verbal

Keluarg
menyeb
minimal
cara pen
osteopo

56

Menyebutkan
perawatan anggota
keluarga yang
mengalami

Setelah dilakukan
pertemuan kedua
selama 1x30menit,
anggota keluarga
mampu melakukan:
Diet tinggi kalsium
dan vitamin D

Respon
verbal

Respon
psikomotor

Olah
yang
(mis
cepa
jogg
mini
men
3 ka
sem
Kura
kons
kafe
Tida
dan
alko
Jaga
bada
Laku
pem
kepa
tulan
(BM
Min
Den
Keluarg
menyeb
4 cara p
osteopo
Sup
kals
Diet
puri
kkal
Diet
kals
mg)
vitam
Tera

Anggota
mampu
diet ting
dan vita

57

untuk m
kebutuh
kebutuh
dan vita
yaitu:
Sarap
tumis
camp
meda
tahu,
Snac
isi sa
Maka
nasi,
(kom
broko
dll),
papa
Maka
nasi,
bakso
nana
Diet rendah purin

Melakukan cara
perawatan
osteoporosis.

Respon
psikomotor

Respon
afektif

Anggota
mampu
diet rend
yaitu:
Sara
telur
tumi
wort
susu
Snac
Sian
baka
gore
sawi
Mala
semu
pepe
tumi
pisan
Keluarg
melakuk
perawat
osteopo

58

4. Memodifikasi
lingkungan yang
sesuai untuk
penderita
osteoporosis,
dengan:
Menyebutkan cara
memodifikasi
lingkungan untuk
penderita
osteoporosis.

Respon
verbal

Mendemonstrasikan
mengatur jadwal
harian (activity
daily living/ADL).

Respon
psikomotor

Melakukan cara
modifikasi
lingkungan.

Respon
afektif

5. Mampu
menggunakan
fasilitas kesehatan
yang ada untuk
melakukan
perawatan
osteoporosis,
dengan:

Anggota
mampu
menyeb
minimal
modifik
lingkung
sesuai u
penderit
osteopo
Men
jadw
(acti
livin
Olah
3 ka
Keluarg
mendem
cara me
jadwal h
(activity
living/A

Keluarg
melakuk
modifik
lingkung

59

Menyebutkan
tempat pelayanan
kesehatan untuk
dirujuk.

Respon
verbal

Menyebutkan
manfaat fasilitas
kesehatan.

Respon
verbal

Mengunjungi
fasilitas pelayanan
kesehatan untuk
memeriksa penyakit
osteoporosis.

Respon
afektif

Keluarg
menyeb
fasilitas
yang da
dikunju
Pus
Rum
Klin
Keluarg
menyeb
manfaat
ke fasili
kesehata
mendap
pemerik
mendap
perawat
mendap
penyulu
pendidik
kesehata
Keluarg
memanf
pelayan
kesehata
pemerik
pengoba
osteopo
dengan
menunju
kesehata

60

BAB 4
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Mobilisasi merupakan salah satu aspek yang paling penting dari fungsi
fisiologis karena hal tersebut merupakan hal pokok untuk memelihara
kemandirian. Pada lansia, mobilisasi dipengaruhi oleh perubahan akibat proses
menua dan faktor risiko. Perubahan anatomis dan fisiologis akibat prosesn
penuaan antara lain sistem skeletal yaitu berkurangnya kekuatan otot,
keterbatasan dalam gerak persendian dan menurunnya sistem pendukung lain
yang menambah resiko jatuh dan fraktur pada lansia seperti penurunan
penglihatan dan sistem saraf. Selain perubahan tersebut terdapat beberapa
gangguan mobilisasi yang umum terjadi pada lansia yakni fraktur dan jatuh,
osteoporosis, dan arthritis. Pengkajian sistem muskuloskletal diawali
menanyakan riwayat kesehatan lansia, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan
diagnostik. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan
kebutuhan mobilisasi lansia antara lain kompres, ROM, penggunaan alat bantu
jalan, serta diet rendah purin dan tinggi kalsium & vitamin D.
Pada kasus Nenek N (68) yang mengalami gangguan mobilisasi akibat
sebelumnya mengalami fraktur panggul sehingga berjalan dengan pincang,
kaki kiri atropi dan kontraktur serta kaki kanan lebih panjang 5 cm dari kaki
kiri. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah kompres hangat
didaerah nyeri akibat fraktur, latihan rentang pergerakan sendi, diet tinggi
kalsium rendah purin serta modifikasi lingkungan untuk mengurangi risiko
jatuh seperti menambah pencahayaan, membuat pegangan tangan, serta
menmbahkan karpet anti slip agar tidak licin.
4.2. Saran
Imobilitas merupakan salah satu masalah yang paling sering terjadi pada
lansia yang dapat mendorong kearah konsekuensi fisiologis dan psikolgis yang

61

serius. Perawat harus mengkaji perubahan yang terjadi pada mobilisasi lansia
akibat proses penuaan normal atau kondisi patologis. Perawat juga perlu
mengidentifikasi dan memasukan hal-hal yang secara fisik dan struktural akan
membatasi mobilisasi ke dalam pendidikan kesehatan. Pengkajian secara hatihati pada sistem muskuloskeletal dengan tetap menjaga privasi klien penting
bagi perawat untuk membantu lansia mendapatkan tingkat fungsional yang
optimal.

69

Anda mungkin juga menyukai