Anda di halaman 1dari 17

PERCOBAAN IV

ABSORPSI PERKUTAN OBAT SECARA IN VIVO


I. TUJUAN
Percobaan ini ingin mengetahui absoprsi perkutan dan fungsi stratum korneum sebagai
penghalang fisik dalam absorpsi perkutan obat.
II. DASAR TEORI
Berbagai macam pemakaian obat telah kita kenal, seperti cara oral, intravena,
intramuskular, intraperitoneal, subkutan, rectal, dan nasal. Pemakaian obat yang
dioleskan pada permukaan kulit sering disebut sebagai pengobatan secara topical. Pada
obat yang digunakan secara topical, untuk dapat memberikan aksinya obat harus dapat
dilepaskan dari pembawa. Selanjutnya, obat dapat berada pada permukaan kulit dan atau
menembus sampai ke dalam epidermis serta mungkin dapat sampai peredaran darah.
Penetrasi obat ke dalam kulit ditentukan oleh berbagai faktor, seperti sifat fisikokimia
obat dan bahan pembawa. Selain faktor fisikokimia tersebut, faktor kulit juga tidak kalah
pentingnya.
Anatomi dan fisiologi kulit
Kulit merupakan organ tubuh terbesar yang tidak hanya berfungsi sebagai
pembungkus tubuh dan terdapat saraf perasa, tetapi kulit berfungsi untuk menjaga tubuh
dari pengaruh luar, seperti tekanan, suhu, senyawa kimia, dan menahan masuknya kuman
kedalam tubuh. Kulit manusia tersusun secara berlapis-lapis dengan struktur dan fungsi
yang kompleks. Kulit dapat dibagi secara umum, menjadi 3 lapis yang berbeda, yaitu
epidermis, dermis, dan jaringan subdermis yang berlemak.
Epidermis merupakan lapisan terluar kulit yang pada umumnya berfungsi sebagai
penghalang terpenting dari hilangnya air, elektrolit, dan atau nutrien tubuh , serta penahan
masuknya senyawa asing dari luar. Epidermis terdiri dari stratum korneum, stratum
lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basal (germinativum).
Kehidupan jaringan epidermis dimulai dai sel-sel stratum germinativum ke arah
luar yang kemudian berkembang menjadi sel-sel bersegi banyak dan membentuk lapisan-

lapisan yang disebut sebagai stratum spinosum. Sel-sel itu ke arah luar membentuk
lapisan-lapisan menjadi stratum granulosum. Lapisan terluar epidermis adalah stratum
korneum yang terdiri dari sel-sel mati yang rata (flat) dan mengandung sekitar 65%
keratin, yaitu suatu protein yang dihasilkan selama proses diferensiasi. Sel-sel stratum
korneum saling berdempet satu dengan yang lain dan bagian epidermis ini merupakan
penghalang yang paling penting dari kulit terhadap masuknya benda-benda asing.
Umumnya stratum korneum mempunyai 10-15 lapis sel dan ketebalanya dalam keadaan
kering sekitar 10 mikrometer, tetapi bila kena air akan mengembang sampai beberapa
kalinya. Sel-sel stratum korneum mempunyai bobot jenis 1,5 g/cm 3 dengan ketebalan
tiap-tiap selnya 0,5-1,5 mikro meter stratum korneum ini memegang peranan penting
dalam mengontrol absoprsi perkutan molekul-molekul obat. Permeabilitas selektif
stratum korneum merupakan tema sentral dalam berbagai aspek untuk studi
biofarmasetika produk-produk topical.
Dermis
Dermis adalah lapisan kulit yang terletak antara epidermis dan jaringan lemak
subkutan. Tebal lapisan ini sekitar 3-5mm. Dermis mengandung jaringan padat dari
serabut protein, seperti kolagen, retikulum, dan elastin yang disimpan dalam subtansi
dasar amorf dari mukopolisakarida.
Fungsi dermis ini terutama melindungi tubuh dari luka, menjadikan epidermis
lebih fleksibel, penghalang tehadap infeksi, dan sebagai organ penyimpan air. Dalam
dermis terdapat pembuluh-pembuluh darah, sayaraf limpatik, kelenjar eksrin, kelenjar
apokrin, folikel rambut, dan kelenjar sebasea.
Kelenjar keringat ditemukan disleuruh permukaan tubuh dan mensekresi suatu
larutan encer garam dan beberapa kompinen lain (95% keringat berupa air). Keringat
mempunyai pH 4,5-5,5. Fungsi utama kelenjar ini untuk mengontrol panas dan
sekresinya diransang oleh temperature luar (yang tinggi) dan atau proses dalam tubuh
yang menghasilkan panas. Kelenjar keringat merupakan bagian kecil dari pembuluh
tubuh, yaitu 1/10.000 total permukaan tubuh.
Kelenjar sebasea terdapat pada bagina leher tiap folikel rambut dengan diameter
2000-2000 mikro meter . Kelenjar ini mensekresikan material minyak dengan komposisi :
trigliserida 57,5%, ester-ester lilin 26%, squalence 12%, ester-ester kolesterol 3%, dan

kolesterol 1,5%. Komposisi sebum ini bervariasi tergantung umur , jenis kelamin, dan
bangsa. Sebum ini menyebabkan terbentuknya lapisan tipis diskontinue bahan lipofil
pada beberapa permukaan kulit, karenanya sebum dapat merupakan absorpsi obat untuk
obat obat yang larut lemak.
Absoprsi perkutan
Absorpsi perkutan dapat didefinisikan sebagai absoprsi obat ke dalam stratum
korneum (lapisan tanduk) dan berlanjut obat menembus lapisan dibawahnya serta
akhirnya obat masuk dalam sirkulasi darah.
Kulit merupakan perintang yang efektiv terhadap penetrasi perkutan obat atau
senyawa eksternal. Absoprsi obat perkutan dipengaruhi oleh sifat fisikokimia obat dan
pembawa serta kondisi kulit. Pada pemakaian obat secara topikal, obat berdifusi dalam
pembawanya dan kontak dengan permukaan kulit (stratum korneum dan sebum ) serta
obat selanjutnya menembus epidermis.
Penetrasi obat melalui kulit dapat terjadi dengan 2 cara:
1. Rute transepidermal : yaitu difusi obat menembus stratum korneum
2. Rute tranfolikular : yaitu difusi obat melewati pori kelenjar keringat .
Proses absorpsi perkuatn terdiri dari tahap-tahap partisi obat kedalam stratum
korneum dan sebum. Rute yang merupakan rute penting adalah rute transepidermal
sebab permukaan epidermis mempunyai luas beberapa klai luas rute transfolikular.
Difusi obat melalui membran
Sebelum obat dapat memberikan efek, obat perlu dilepaskan dari basisnya.
Setelah obat kontak dengan stratum korneum maka obat akan menembus epidermis
dan masuk dalam sirkulasi sistemik secara difusi pasif.
Difusi pasif adalah proses perpindahan massa dari tempat yang berkonmsetrari
tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi itu merupakan
daya dorong (druving force) sebagai penyebab terjadinya perpindahan massa. Untuk
difusi dengan melewati embran molekul obat harus masuk dan melarut dulu dalam
membarn itu. Selanjutnya, obat berdifusi meninggalkan membran dan masuk kedalam
medium reseptor.

Difusi pasif mengkuti hukum Fick, yaitu teori yang menggambarkan hubungan
antara fluks obat melewati membran sebagai fungsi perbedaan konsentrasi,
persamaan Fick dapat dituliskan sebagai berikut :
J = (K D / h) (Cs C)
Dengan J = Fluks persatuan luas, K = Koefisien partisi obat dalam pembawa, h =
Tebal membran; D = Koefisien difusi obat, C = Konsentrasi obat dalam medium
reseptor. Bila harga Cs>>>>C maka persamaan diatas dapat disederhanakan :
J = (K D / h)Cs
Cs>>>> C sering disebut sebagai kondisi sink, Term (K D / h) sering disebut
sebagai koefisien permeabilitas (P).

III. ALAT DAN BAHAN


Alat :

Alat-alat gelas

Sentrifuga

Spektrofotometer

Timbangan

Stripper

Bahan :
-

Salep asam salisilat basis vaselin

EDTA

Larutan TCA 10 %

IV. CARA KERJA


Pengambilan sampel darah

darah diambil dari vena dibagian telinga sebanyak 2 m l


Darah ditampung dalam tabung yang telah diisi dengan
EDTA dan sebentar-sebentar digoyang-goyangkan
Darah disentrifugasi dengan kecepatan medium selama
15 menit
Bagian plasmanya dipisahkan dari bagian sel-sel darah
merahnya dan diambil sebanyak 1 m l
Plasma dalam tabung ditambah dengan 1m l larutan TCA
!0% dan camp disentrifugasi selama kira-kira 15 air
Sebanyak 3 m l ditambahkan pada beninan itu.
Beningan dari camp itu diambil sebanyak 1 m l dan
air ebanyak 3 m l ditambahkan pada beningn itu
Konsentrasi obat dalam camp dapat ditentukan dengan

spektorfotometer.
Penentuan Recovery asam salisilat
dalam plasma

Sampel darah yang telah diambil ( I m l) ditambah


Lart asam salisilat 300 mikro gram /l, 2 m l
Camp diperlakukan seperti pada langkah
pengambilan sampel darah

Perlakuan pada kelinci

Kelinci dicukur bulunya pada daerah punggung


seluas sekitar 20 c m 2 dengan panjang 5 c m dan
lebar 4 c m
Pada bagian yang telah dicukur itu dioleskan salep
asam salisilat sebanyak 2 gram
Pada kelinci yang lain, stratum korneum dikurangi
jumlah lapisanya dengan jalan stripping (dengan cara
menempelkan kertas isolasi pada kulit yang telah dicukur
bulunya beberapa kali)
Stripping dilakukan 5kali, 10 kali, 15 kali, 20 kali
atau 25 kali.
Salep ditutuip dengan Alumunium Foil dan dabalut
dengan kain kasa
Pengambilan sampel darah dilakukan pada jam ke
0,5 , 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 dan ditentukan konsentrasi

Analisis hasil

Hasil perconan dianalisis luas daerah bawah kurva dari

kurva hubungan anatar konsentrasi obat dalam plasma dan


waktu.
V. DATA PERCOBAAN
Nama Bahan Obat

: Asam Salisilat

Bentuk Sediaan

: Salap

Bahan Pembawa

: Vaselin-propilen glikol

Bobot sample

: 2 gram

Obat yang diberikan : Salap asam salisilat


Hewan percobaan

: Kelinci

Berat kelinci

gram

Luas Permukaan kulit yang diobati

: 20 cm2

Percobaan dilakukan pada max = 250 nm


Kurva baku dengan persamaan garis : y = 4.71 .10-2 x + 7.15 .10-03 , harga x dalam g/ ml.
Kadar awal asam salisilat

: 300 g /ml.

Perolehan kembali Obat dalamPlasma


Absorbansi
0.651

Pengenceran
10

Kadar obat
136.699

Kadar Obat mula-mula


300

Absoprsi Perkutan

waktu, jam
0
0.5
1
2
2.5

Absorbansi
0.322
0.486
0.762
0.647
0.450

Pengenceran
5
5
5
2.5
2.5

Perhitungan

Recovery

kadar obat terukur


x 100%
kadar obat mula-mula

kadar
33.424
50.833
80.133
33.962
23.506

Recovery
45.57

Recovery

136.699 g / ml
x 100% 45.57 %
300 g / ml

Perhitungan kadar obat


jam ke 0
y - 7.15 x103
kadar asam salisilat
x faktor pengenceran
4.71x102

kadar asam salisilat

0.322 - 7.15 x103


x 5 33.424 g/ml
4.71x102

jam ke 0.5
y - 7.15 x103
kadar asam salisilat
x faktor pengenceran
4.71x102

kadar asam salisilat

0.486 - 7.15 x103


x 5 50.833 g/ml
4.71x102

jam ke 1
kadar asam salisilat

y - 7.15 x103
x faktor pengenceran
4.71x102

kadar asam salisilat

0.762 - 7.15 x103


x 5 80.133 g/ml
4.71x102

jam ke 2
kadar asam salisilat

y - 7.15 x103
x faktor pengenceran
4.71x102

kadar asam salisilat

0.647 - 7.15 x103


x 2.5 33.962 g/ml
4.71x102

jam ke 2.5
y - 7.15 x103
kadar asam salisilat
x faktor pengenceran
4.71x102
0.450 - 7.15 x103
kadar asam salisilat
x 2.5 23.506 g/ml
4.71x102
Perhitungan AUC
AUC1

50.833 33.424
(0.5 0) 21.06 g . jam / ml
2

AUC2

80.133 50.833
(1 0.5) 32.74 g . jam / ml
2

AUC3

33.962 80.133
(2 1) 57.05 g. jam / ml
2

AUC4

23.506 33.962
(2.5 2) 14.37 g. jam / ml
2

AUC AUC1 AUC2 AUC3 AUC4


AUC 21.06 32.74 57.05 14.37 125.22 g.jam/ml
Perhitungan koefisien permeabilitas
J

AUC
S x dt

125.22 g.jam/ml
2.5504 g.ml-1.cm -2
20 cm 2 x 2.5 jam

2.5504 g.ml-1.cm-2
0.008348 cm -2
-1
300 g.ml

VI. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar absorpsi
secara perkutan dan fungsionalitas dari stratum korneum yang mana bisa bersifat sebagai
penghalang fisik dalam abosrpsi perkutan suatu obat. Karena pada umumnya, absorbsi
perkutan dari bahan obat yang ada pada preparat dermatologi seperti salep, tidak hanya
tergantung pada sifat kimia dan sifat fisika dari bahan obat saja, Namun juga bergantung
pada sifat apabila dimasukkan ke dalam pembawa farmasetika dan pada kondisi dari
kulit. Meskipun pembawa farmasetika tak dapat menembus kulit, atau membawa bahan
obat melalui kulit. Untuk mengetahui absorbsi perkutan suatu sediaan farmasi, juga
pengaruh stratum korneum sebagai barrier fisiknya dapat dilakukan suatu percobaan in
vivo, sebagaimana percobaan 4 praktikum biofarmasetika pada kali ini.
Pertama kali kita siapkan seluruh alat dan bahan yg akan dipakai. Alat-alat yang
digunakan terdiri dari alat-alat gelas, Sentrifuga, Spektrofotometer,Timbangan,dan
Stripper. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Salep asam salisilat basis vaselin,
EDTA, Larutan TCA 10 %. hewan uji yang dipakai adalah kelinci. Ada dua perlakuan di
mana satu ekor kelinci langsung diolesi salep setelah dicukur rambutnya, sedangkan
kelinci yang lain distripping terlebih dahulu sebelum diolesi salep. Stripping dilakukan
dengan menggunakan selotip yang ditempelkan pada kulit kelinci yang telah dicukur
bersih, kemudian dilepas lagi. Fungsi stripping di sini adalah untuk menghilangkan
lapisan stratum korneumnya. Untuk menguji apakah lapisan stratum korneum
berpengaruh signifikan terhadap absorbsi perkutan, dapat dilakukan seri pengujian,
kemudian membandingkan hasil obat yang diabsorbsi antara kelinci yang diperlakukan
dengan stripping dan tanpa stripping dengan menggunakan uji t. Atau dengan melakukan
variasi jumlah stripping yang dilakukan. Misalnya, lima kali, sepuluh kali dan
sebagainya. Namun, pada praktikum kali ini, tidak dilakukan percobaan dengan stripping
karena keterbatasan hewan uji pada laboratorium sehingga hanya dilakukan percobaan
dengan dicukur untuk satu kelinci.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penetrasi kulit pada dasarnya sama dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi pada saluran cerna dengan laju difusi yang

sangat tergantung pada sifat fisika kimia obat, dan hanya sedikit tergantung pada zat
pembawa, pH, dan konsentrasi. Perbedaan fisiologis melibatkan kondisi kulit, yakni
apakah kulit dalam keadaan baik (tanpa stripping) atau terluka (dengan stripping), umur
kulit, daerah kulit yang diobati, ketebalan fase pembatas kulit, perbedaan spesies, dan
kelembaban yang dikandung oleh kulit.
Salep asam salisilat yang dipakai menggunakan vaselinium album sebagai
pembawa. Dan setelah selesai diolesi ditutup dengan aluminium foil dan diikat dengan
kassa. Vaselin merupakan suatu pembawa lipofilik yang oklusif, membentuk suatu
lapisan yang menutup kulit sehingga menyebabkan hidrasi melalui penimbunan keringat
pada antarmuka kulit-pembawa. Sedangkan pemakaian aluminium foil dan kain kassa
juga akan meningkatkan hidrasi tersebut. Kedua hal ini akan membantu penetrasi obat
agar lebih cepat dalam menembus kulit. Keadaan hidrasi dari stratum korneum tersebut
merupakan faktor fisika-kimia utama dalam penetrasi kulit.
Setelah pengolesan salep secara topikal, konsentrasi obat yang telah diabsorbsi
dapat diperhitungkan dengan pengambilan sampel darah dari vena marginalis di bagian
telinga kelinci pada selang waktu tertentu. Dari sampel darah tadi, diambil plasmanya
untuk dianalisis dengan spektrofotometer. Saat pengambilan darah, tabung diberi EDTA
terlebih dahulu agar darah tidak menjendal. Darah selanjutnya disentrifugasi untuk
mendapatkan bagian plasma. Plasma darah ini lalu ditambah TCA untuk menggumpalkan
protein plasma yang mungkin mengikat obat yang akan dianalisis. Kemudian
disentrifugasi lagi untuk memisahkan endapannya.
Dari pengukuran secara spektrofotometri, diperoleh data yang berupa absorbansi.
Untuk mengkonversikan absorbansi menjadi konsentrasi, maka diperlukan kurva baku
yang merupakan hubungan antara absorbansi (Y) dengan seri kadar obat yang telah
diketahui (X). Dari percobaan diadapatkan :
waktu, jam
0
0.5
1
2
2.5

Absorbansi
0.322
0.486
0.762
0.647
0.450

Pengenceran
5
5
5
2.5
2.5

kadar
33.424
50.833
80.133
33.962
23.506

Validitas dari metode ini diuji dengan menghitung nilai recovery-nya. Pada suatu
metode, semakin tinggi recovery-nya, maka metode tersebut makin baik. Penghitungan
recovery dilakukan dengan memasukkan obat dengan konsentrasi tertentu ke dalam darah
yang diambil sebelum kelinci diolesi salep. Dengan preparasi sampel yang sama,
absorbansinya diukur dengan spektrofotometer untuk kemudian dihitung berapa
konsentrasinya. Konsentrasi yang diperoleh ini lalu dibandingkan dengan konsentrasi
obat mula-mula yang ditambahkan. Pada kali ini recovery yang didapatkan :
Absorbansi
0.651

Pengenceran
10

Kadar obat
136.699

Kadar Obat mula-mula


300

Recovery
45.57

Dari nilai recovery yang didapatkan sekitar 45,57%, Recovery yang sangat baik
antara 70-95%. Kemudian kita evaluasi dengan AUC yg dianggap sebagai jumlah obat yg
terdapat dalam sirkulasi sistemik didapatkan nilai AUC pada kali ini 125,22 . dan
didapatkan permeabilitasnya 0,008348

.Biasanya pada percobaan sering terjadi

hemolisis, hal ini dapat disebabkan karena pecahnya sel darah merah. Pecahnya sel darah
ini bisa terjadi karena dalam preparasi sampel kurang hati-hati, atau EDTA maupu TCA
yang ditambahkan menyebabkan plasma menjadi hipotonis dan cairan dalam sel darah
menjadi hipertonis, sehingga terjadi lisisnya sel darah.
Pada penetrasi perkutan, yakni perjalanan melalui kulit, meliputi :
-

disolusi suatu obat dalam pembawanya

difusi obat terlarut (solut) dari pembawa ke permukaan kulit

penetrasi obat melalui lapisan-lapisan kulit, terutama lapisan stratum korneum.


Oleh karena itu, ini merupakan laju yang membatasi atau mengontrol permeasi.

Stratum korneum dianggap sebagai suatu lapisan homogen yang padat. Nonelektrolit
polar yang kecil berpenetrasi ke dalam bulk dari stratum korneum dan berikatan kuat
dengan komponen-komponennya. Difusi kebanyakan zat melalui batas ini agak lambat.
Sebagian besar difusi adalah transelular bukan terjadi melalui saluran antarsel atau
melalui pori sebasea dan saluran keringat. Stratum korneum merupakan membran
biologis yang impermeable (tidak dapat ditembus), ini salah satu segi penting dalam
sistem kehidupan.

Pada penetrasi perkutan, setelah kondisi steady state mantap, difusi transepidermik
melalui stratum korneum umumnya mendominasi (lebih banyak berperan). Walaupun
dalam tahap penetrasi awal, difusi melalui organ tambahan (folikel rambut, saluran
sebasea, dan saluran keringat) mungkin bermakna. Hal tersebut dikarenakan karena luas
permukaan organ-organ tambahan tersebut lebih kecil dibanding dengan daerah kulit
yang tidak mengandung elemen anatomi ini.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi penetrasi dari suatu obat ke dalam kulit adalah
:
-

Konsentrasi obat terlarut Cs, karena laju penetrasi sebanding dengan konsentrasi.

Koefisien partisi K antara kulit dan pembawa yang merupakan ukuran afinitas
relatif dari obat tersebut untuk kulit dan pembawanya.

Koefisien difusi yang menggambarkan tahanan pergerakan molekul obat melalui


barrier pembawa dan pembatas kulit. Besaran relatif dari kedua koefisien difusi
menentukan apakah pelepasan dari pembawa atau perjalanan melalui kulit
merupakan tahap penentu laju.

Begitu zat melalui stratum korneum, tampaknya tidak ada gangguan penetrasi selanjutnya
yang berarti pada lapisan epidermis dan korium, kemudian segera masuk ke sirkulasi
melalui kapiler. Penurunan konsentrasi pada dasarnya berakhir pada lapisan dermis pada
awal sirkulasi. Sirkulasi sistemik bertindak sebagai gudang atau tempat obat. Pada
sirkulasi umum, obat diencerkan dan didistribusikan dengan cepat dengan sedikit
penimbunan sistemik.
Apabila kita lihat pada contoh percobaan dengan menggunakan stripping biasanya
pada proses stripping, lapisan stratum korneum kulit terluka (rusak) sehingga barrier
permeasi melalui kulit berkurang. Maka obat yang dapat memasuki aliran darah perkutan
lebih banyak dan kadar obat dalam sirkulasi sistemik lebih besar bila dibandingkan pada
perlakuan yang hanya dicukur bulunya yang tidak menyebabkan kerusakan pada stratum
korneum. Luka pada kulit atau dalam keadaan dimensi yang berbeda akan menyebabkan
perbedaan dalam absorbsi obat. Jelas sekali bahwa kulit yang telah dipotong secara
dirusak atau dipecah akan memungkinkan obat dan bahan asing lainnya mendapat jalan
langsung ke jaringan subkutan.

Jadi, perbedaan fisiologi yang melibatkan kondisi kulit, yakni apakah kulit dalam
keadaan terluka atau baik, umur kulit, daerah kulit yang diobati, ketebalan fase pembatas
kulit, perbedaan spesies dan perbedaan kelembaban yang dikandung oleh kulit.
Penyimpangan teori seing terjadi,banyak hal yang dapat menyebabkan penyimpangan
dari teori di antaranya :
-

proses pembacaan serapan yang tidak teliti sehingga didapatkan jumlah kadar
yang salah.

nilai recovery yang merupakan tolok ukur efisiensi suatu analisis kecil, yaitu
hanya 45,57%, sehingga kesalahan sistematiknya besar. Padahal kesalahan
sistematik merupakan tolok ukur inakurasi penetapan kadar. Kesalahan ini dapat
berupa kesalahan konstan atau proporsional.

KESIMPULAN
1. Nilai permeabilitas salap asam salisilat dalam vaselin-PEG untuk kulit normal
kelinci adalah 0,008348
2. Nilai recovery dari percobaan ini adalah 45,57% dan kesalahan sistematiknya
54,43% Jika dilihat dari recoverynya maka analisis dianggap tidak efisien, dan
karena kesalahan sistematiknya lebih besar maka akurasi dalam penetapan
kadarnya kecil dan kemungkinan besar terjadi kesalahan data. Hal tersebut yang
menyebabkan hasil percobaan tidak sesuai dengan fakta.
3. Seharusnya, jika lapisan stratum korneum telah rusak maka akan makin mudah
zat-zat asing masuk ke dalam tubuh.
4. Absorbsi obat secara kutan dipengaruhioleh sifat fisika kimia obat dan perbedaan
fisiologi yang melibatkan kondisi kulit, yakni apakah kulit dalam keadaan terluka
atau baik, umur kuli, daerah kulit yang diobati, ketebalan fase pembatas kulit,
perbedaan spesies dan perbedaan kelembaban yang dikandung oleh kulit.

DAFTAR PUSTAKA
Ansel,c,howart. 1989.pengantar Bentuk sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta;
Universitas Indonesia
Lachman,Leon. 1989, Teori dan Praktek Farmasi Industr, edsi kedua,Jakarta,
Universitas Indonesia
Martin,alvred. 19993, Farmasi Fisik, Dasar-daar Farmasi fisik dalam ilmu farmasetik,
Jakarta,Universitas Indonesiasss