Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Terkait dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat akan

penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan transparan, Pemerintah dituntut

untuk terus meningkatkan kinerjanya di segala lini dan sektornya.

Pemerintah Kelurahan sebagai ujung tombak pemerintahan yang bersentuhan

langsung dengan masyarakat amat diharapkan dapat menjadi contoh

penyelenggaraan pemerintahan yang diharapkan oleh masyarakat dengan

meningkatkan kinerjanya.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mereformasi tubuh birokrasi

(pemerintahan) dengan meihat sector privat dalam melakukan inovasi dan kretifitas

sehingga produktivitas, efesiensi dan efektivitasnya jauh lebih berkembang dari

sector publik, maka paradigma baru pengelolaan organisasi sector public banyak

dipengaruhi kondisi tersebut.

Perwujudan nyata dari sikap aparatur negara dalam menjalankan tugas dan

fungsinya sesuai dengan Ketetapan MPR-RI Nomor XI/MPR/1998 tentang

Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

(KKN) yang mengamanatkan agar aparatur negara mampu menjalankan tugas dan

fungsinya secara profesional, produktif, transparan dan bebas KKN, antara lain

tercermin dari penyelenggaraan pelayanan publik. Oleh karena itu, upaya untuk

meningkatkan kinerja aparatur dalam penyelenggaraan pelayanan publik perlu terus

dilakukan.
Berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah, diharapkan memberikan dampak nyata yang luas terhadap

peningkatan pelayanan terhadap masyarakat. Pelimpahan wewenang dari Pemerintah

Pusat ke Daerah memungkinkan terjadinya penyelenggaraan pelayanan dengan jalur

birokrasi yang lebih ringkas dan membuka peluang bagi Pemerintah Daerah untuk

melakukan inovasi dalam pemberian dan peningkatan kualitas pelayanan.

Upaya pembaharuan penampilan kinerja pelayanan publik termasuk aparatur

pemerintah, tidak terlepas dari berbagai hambatan antara lain kebiasaan-kebiasaan

buruk aparatur pemerintah yang berakibat buruk pada penampilan pelayanannya.

Dalam perspektif administrasi publik Indonesia dikenal berbagai macam patologi,

Menurut Bambang Noorsetyo (dalam Surjadi 2009 : 86) bahwa patologi birokrasi dapat

dikelompokkan ke dalam 5 (lima) kelompok yaitu : (1) Persepsi dan gaya manajerial

pejabat birokrasi, (2) rendahnya pengetahuan dan keterampilan petugas pelaksana, (3)

pelaku birokrasi yang melanggar hukum, (4) Perilaku birokrasi yang bersifat

disfungsional dan negatif, (5) situasi instansi/birokrasi. Patologi birokrasi tersebut yang

membuat birokrat atau aparat tidak profesional dalam menjalankan tugas dan

fungsinya.

Baik buruknya pelayanan yang diberikan oleh birokrasi sangat terkait dengan

kemampuan dan kualitas dari birokrasi itu sendiri. Kemampuan birokrat pemerintahan

selain dibentuk melalui pengembangan dan peningkatan pengetahuan dan keahlian

individu juga sangat dipengaruhi oleh sistem organisasi tersebut seperti orientasi kerja,

struktur organisasi, model kepemimpinan serta renumerasi yang diterima oleh aparatur.

Dengan melandaskan pemikiran terhadap permasalahan yang dihadapi oleh

aparatur birokrasi Indonesia maka sebagai upaya untuk memperbaiki berbagai

kelemahan dan mengantisipasi perubahan lingkungan diperlukan sebuah pemikiran


untuk membangun aparatur birokrasi Indonesia yang handal, profesional dan

menjunjung tinggi nilai kejujuran serta etika profesi dalam menjalankan tugas dan

fungsinya sebagai penyelenggara kegiatan pembangunan dan penyelenggara

pelayanan publik khususnya pelayanan masyarakat

Mengingat pentingnya peran aparatur dalam menyelenggarakan peran dan

fungsinya, perlu kiranya dicari dan dirumuskan suatu pendekatan strategis untuk

membangun wajah baru aparatur profesional yang handal, tanggap, inovatif fleksibel

dalam memberikan pelayanan dan penyelenggaraan pembangunan.

Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia adalah Daerah Provinsi

yang memiliki ciri tersendiri, berbeda dengan Daerah Provinsi lainnya dari segi beban

tugas, tanggung jawab dan tantangan yang lebih kompleks. Kompleksitas

permasalahan itu juga berkaitan erat dengan keberadaannya sebagai pusat

pemerintahan negara, faktor luas wilayah yang terbatas, jumlah dan populasi penduduk

yang tinggi dengan segala dampak yang ditimbulkannya terhadap aspek-aspek

pemukiman, penataan wilayah, transportasi, komunikasi, dan faktor-faktor lainnya.

Dalam rangka memenuhi tuntutan pertumbuhan dan perkembangan Jakarta

sebagai Ibukota Negara sesuai dengan pasal 227 Undang-undang Nomor 32 tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa Provinsi Daerah Khusus Ibukota

Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia, yang kedudukannya diatur

dengan Undang-undang tersendiri, oleh karena itu ditetapkan Undang-undang Nomor

29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sesuai dengan pasal 7 Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 Wilayah Provinsi

DKI Jakarta dibagi menjadi beberapa tingkatan, dan tingkatan yang paling kecil adalah
Kelurahan. Pemerintah Kelurahan merupakan organisasi pemerintahan terendah yang

langsung berhadapan dengan masyarakat, merupakan front terdepan dalam

penyelenggaraan pemerintahan, terutama dalam memberdayakan, melayani dan

mengendalikan masyarakat.

Mengingat kedudukan kelurahan sebagai ujung tombak dalam penyelenggaraan

pemerintahan Republik Indonesia yang langsung berhadapan dengan masyarakat, tentunya

kualitas pelayanan yang baik sangat diharapkan dengan menampilkan perilaku aparatur

yang profesional dan komunikasi birokrasi yang efektif. Kantor Kelurahan sebagai salah

satu instansi publik bertugas menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat berupa

pelayanan perizinan dan non perizinan yang dilimpahkan dari Gubernur. Berikut ini

ditampilkan rekapitulasi data pegawai negeri sipil di lingkungan Kantor Kelurahan.

Tabel 1

Rekapitulasi Data Pegawai Kelurahan Makasar

Tahun 2009

No Golongan Tingkat Pendidikan Jenis

/Ruang Kelamin

SD SMP SMA D-3 D-4 S-1 S-2 Lk Pr

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 IV/a - - - - - - - - -

2 III/a – III/d - - 20 1 - 15 3 23 16

3 II/a – II/d 1 4 18 - - - - 15 8

4 I/a – I/d - - - - - - - - -

Jumlah 1 4 38 1 - 15 3 38 24

Sumber : Kantor Kelurahan Makasar (2009)


Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar pegawai negeri

sipil di lingkungan Kantor Kelurahan Makasar berlatar belakang pendidikan Sekolah

Menengah Atas, sedangkan yang berpendidikan S 1 sebagai bentuk standar untuk

dapat dianggap mampu menganalisis dinamika lingkungan kerja dan eksternal seperti

perubahan kebutuhan masyarakat dan kemajuan teknologi hanya berjumlah 40 %

(persen) dari total pegawai negeri sipil yang berpendidikan SMA. Hal tersebut menjadi

tantangan tersendiri bagi Kantor Kelurahan Makasar. untuk membangun aparatur yang

profesional guna menjalankan fungsinya sebagai salah satu instansi penyelenggara

pelayanan publik. Berbagai bentuk peningkatan sumber daya aparatur melalui

pelatihan dan pendidikan telah ditempuh oleh Provinsi DKI Jakarta yang disesuaikan

dengan kebutuhan tugas (job-need) dan aspirasi masyarakat mendesak untuk

ditempuh dan dilakukan. Namun perubahan pada tingkat kemampuan pengetahuan

dan keahlian aparatur saja tidak cukup untuk membangun birokrasi Pemerintah

Kelurahan yang profesional.

Kantor Kelurahan sebagai salah satu instansi yang menyelenggarakan

pelayanan masyarakat khususnya yang berkaitan dengan pelayanan yang bersentuhan

langsung dengan masyarakat, dituntut bekerja secara profesional serta mampu secara

cepat merespon aspirasi dan tuntutan publik dan perubahan lingkungan lainnya dengan

cara kerja yang lebih bersahaja dan berorientasi kepada masyarakat daripada

berorientasi kepada atasan seperti yang terjadi selama ini dalam lingkungan birokrasi

publik.

Berbagai hal yang telah dipaparkan diatas, telah mendorong penulis untuk

melakukan pengkajian yang lebih dalam dan mencoba untuk menyusun thesis dengan

judul “Upaya peningkatan kinerja pegawai di kantor kelurahan makasar kecamatan


makasar kota administrasi Jakarta timur”, sebagai wujud sumbangsih pemikiran

terhadap peningkatan kinerja di unit kerja tempat penulis mengabdi selama ini.